Pos Prolanis, Puskesmas

Ada lho mbak yang lama enggak kontrol enggak kedengaran, kebetulan nomor telponnya di hubungi ternyata dia sudah meninggal.

Tenaga kesehatan, Puskesmas

Gulir ke bawah
30,5%
penduduk Indonesia
menderita hipertensi
11,3%
penduduk Indonesia
menderita diabetes

Setiap ikon di samping mewakili satu dari seratus orang yang hidup dengan penyakit ini. Bagaimana perjalanan mereka dalam sistem kesehatan?

Mari kita ikuti perjalanan 100 orang hipertensi, dari rumah mereka hingga ke layanan, dan lihat berapa yang akhirnya terkontrol penyakitnya.

Dari 100 orang hipertensi, hanya 68 yang pernah mengunjungi fasilitas kesehatan untuk check-up apapun dalam setahun terakhir.

Sisanya, tidak pernah. Bukan karena mereka tidak sakit, tapi karena mereka tidak tahu bahwa mereka sakit. Atau tahu, tapi tidak mampu datang.

"Kalau saya kan kenapa ngga ke puskesmas karena gini, maksudnya kan, waktu, karena jauh."

Pasien tidak terdiagnosis, Aceh Barat

"Nggak sakit apa-apa ngapain ke dokter, apa yang mau diperiksakan"

Pasien tidak terdiagnosis, Batam

"Tapi kalau selagi masih ke puskesmas kami belum berpikir ke sana karena masih gratis. Takutnya kalau misalnya rujukan. Dirujuk, wah penyakit ini harus rujuk ke Kupang. Itu yang kami pikir, biaya itu."

Pasien tidak terdiagnosis, TTS

Dari yang mengunjungi layanan, hanya 27 orang yang akhirnya terdiagnosis hipertensi.

Yang lain datang ke puskesmas, bertemu perawat, mengantre, tetapi pulang tanpa pernah dicek tekanan darahnya. Ada juga yang dicek, tapi hasilnya tidak ditindaklanjuti.

"Dua tahun ini, saya suka sakit kepala aja. Dibawa ke dokter kasih obat demam, nggak sehat-sehat. Habis itu saya coba bilang cek tensi, baru ketahuan."

Pasien hipertensi, Batam

"Kita gak ujuk-ujuk bilang dia hipertensi. Tapi biasanya harus dicek ulang di waktu yang berbeda. Nanti sehari yang berbeda."

Dokter klinik, Garut

22 orang akhirnya mendapatkan obat hipertensi.

Angka ini sudah meningkat dua kali lipat sejak 2013, kemungkinan besar berkat program JKN yang dimulai pada 2014. Tapi bagi banyak pasien, mendapatkan obat saja sudah perjuangan.

"Sudah lama sudah 5 tahun saya ingat itu, saya tidak ke apotik itu karena saya pikir begini: saya ke teman, kadang ke sana itu beli setengah, karena uang tidak cukup."

Pasien tidak terdiagnosis, TTS

"Beda-beda sih, kebanyakan memang punya BPJS, tapi misalnya ini yang perlu dirujuk, dia masih umum, dia tidak punya BPJS. Kata dia: saya mau bikin BPJS dulu."

Dokter Puskesmas, Garut

Dari 100 orang tadi, hanya 4 yang tekanan darahnya benar-benar terkontrol.

Artinya, dari 22 orang yang sudah mendapatkan obat, sebagian besar tetap tidak terkontrol. Apa yang terjadi?

8 orang tidak minum obat secara rutin.

Sebagian tidak pernah diberitahu bahwa obat ini harus diminum seumur hidup. Sebagian merasa sudah sehat, lalu berhenti. Ada yang takut ginjalnya rusak. Dan ada yang obatnya habis sebelum jadwal kontrol berikutnya, lalu mengganti dengan jamu, karena itu yang tersedia.

"Semua obat dari dokter saya minum. Tapi kadang obat untuk satu bulan habis dalam 15 hari. Karena belum bisa ambil lagi, saya gantikan dengan jamu."

Pasien hipertensi, Malang

"Terutama itu tuh menghindarkan mitos, lamun berobat teh rusak kana ginjal. Kebanyakan rata-rata di masyarakat yang beredar: sering minum obat akan rusak ginjal."

Dokter klinik, Garut

"Belum sakit. Jujur."

Pasien terdiagnosis, TTS

"Diabetes harus minum daun insulin."

Pasien terdiagnosis, Garut

Dan 10 orang lainnya? Mereka sudah berobat rutin, tapi tetap tidak terkontrol.

Ini bukan lagi salah pasien. Obat yang dibutuhkan tidak tersedia di puskesmas. Obat rujuk balik dari rumah sakit tidak ada di apotek jejaring. Dokter di FKTP ragu menaikkan dosis karena keterbatasan monitoring. Dan pasien yang seharusnya dirujuk ke spesialis, tidak bisa, karena ada batasan angka rujukan.

"Yang kedua, mungkin ada obat-obatan yang nggak ada. Kan kita PRB itu minta obatnya ke apotek jejaring. Kadang ada obat yang diresepkan dari rumah sakit itu kondisinya nggak ada. Nah itu kasihan pasiennya, karena nggak ada obat-obat itu, jadi harus nunggu satu minggu, dua minggu. Itu sih kendalanya."

Dokter klinik, Malang

"Kita kan juga harus lihat, ini pasien itu berat badannya gimana sih? Ketika berat badannya berlebih, kita tidak akan kasih obat-obatan yang menaikkan berat badan. Kalau obat ini tersedia, kita kasih obat yang dapat menurunkan berat badan juga, tapi biasanya tidak ada, dan tidak terkover BPJS."

Dokter Spesialis RS Swasta, Boyolali

"Bahkan mungkin sebenarnya yang harusnya dirujuk gak dirujuk, karena kan FKTP itu ada, ada tanda kutip, jangan terlalu sering merujuk."

Dokter Spesialis, Batam

"Kendalanya sebenarnya banyak. Kalau pasien BPJS, kami dibatasi merujuk hanya 13%."

Dokter Puskesmas, Malang

96 dari 100 orang hipertensi tidak terkontrol.

Hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol ini yang berujung pada berbagai penyakit tidak menular: stroke, penyakit jantung koroner, gagal ginjal, hingga kematian.

dihabiskan untuk klaim
penyakit tidak menular di JKN
orang berisiko penyakit
kardiovaskular dalam 10 tahun
"Tiba-tiba meninggal tiba-tiba meninggal oh serangan jantung selesai." Pasien tidak terdiagnosis, TTS

Lihat data selengkapnya di dashboard interaktif: