Unit analisis (penting, tercantum di tiap tabel/figur). Dokumen ini memakai beberapa unit, perhatikan badge Unit: … pada judul: (1) Pasien unik = orang, dihitung sekali (prevalensi terlayani, demografi, peta, mortalitas, Pareto, ekuitas); (2) Kunjungan/Klaim = per layanan, satu pasien bisa banyak (volume utilisasi, biaya, INA-CBG, komorbiditas); (3) Episode rawat inap = per perawatan inap (LOS, CFR).

Cara baca dokumen. Setiap angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang (PSTV15) dari sampel. Analisis dibangun pada sampel reguler (rumah tangga 1%), frame yang sahih untuk tren waktu dan rate populasi. Definisi kasus anemia gizi = kode ICD-10 D50 (anemia defisiensi besi) + D64 (anemia gizi / tak spesifik) pada diagnosis masuk/primer/sekunder. Data klaim hanya menggambarkan populasi yang terlayani sebagai diagnosis anemia, BUKAN prevalensi sejati. Anemia adalah kondisi yang sangat jarang dikode sebagai diagnosis primer (umumnya sekunder pada kehamilan / penyakit kronik), sehingga angka klaim adalah lantai (floor) yang jauh di bawah prevalensi komunitas berbasis Hb terukur (lihat Treatment Gap).

1 Ringkasan Eksekutif

4,828 ribuPasien terlayani diagnosis anemia gizi (tertimbang, 2015-2024)
17.4%Prevalensi anemia komunitas (Hb terukur, SKI 2023, semua umur)
17.9%Anemia pada WUS 15-49 th (Hb terukur, SKI 2023)
26.2%Anemia pada balita (Hb terukur, SKI 2023)
65%Pasien terlayani berjenis kelamin perempuan
Rp 4.7 TBiaya klaim FKL48 anemia (diagnosis primer, 2015-2024)

Temuan utama. (1) Jurang deteksi sangat lebar. Anemia menyerang sekitar 17.4% penduduk yang diperiksa Hb pada SKI 2023, namun hanya 184 ribu orang yang tercatat sebagai diagnosis ANEMIA PRIMER di JKN pada 2024 (kira-kira 310 per 100.000 peserta untuk semua kode anemia). Beban biokimia di komunitas berkali lipat di atas yang ditangkap sistem klaim sebagai diagnosis anemia. (2) Beban menumpuk pada perempuan dan kelompok gizi-sensitif. 65% pasien terlayani perempuan; 1,758 ribu adalah Wanita Usia Subur (15-49), inti agenda gizi/stunting nasional. (3) Keparahan nyata. 18.3% pasien anemia di FKRTL menerima klaim yang memuat transfusi darah, penanda anemia berat yang seharusnya bisa dicegah lebih dini di hulu. (4) Biaya yang terkait anemia besar tapi harus dibaca hati-hati. Klaim FKL48 yang MEMUAT kode anemia (sering sebagai diagnosis sekunder pada episode besar seperti kanker/CKD) berjumlah Rp 34.8 triliun; bila dibatasi pada anemia sebagai diagnosis PRIMER, biayanya Rp 4.7 triliun, angka yang lebih sahih untuk biaya yang dapat diatribusikan.

2 Pertanyaan yang Dijawab Laporan Ini

  1. Berapa banyak orang yang terlayani JKN dengan diagnosis anemia gizi (D50/D64), dan bagaimana trennya 2015-2024 dan posisi 2024?
  2. Seberapa jauh jurang antara prevalensi anemia komunitas (Hb terukur) dan yang tertangkap sistem klaim sebagai diagnosis?
  3. Siapa yang terlayani, perempuan, WUS, balita, lansia, dan bagaimana sebaran geografi serta ekuitasnya?
  4. Seberapa berat anemia yang sampai ke rumah sakit (rawat inap, transfusi, LOS, mortalitas)?
  5. Penyakit penyerta apa yang mendampingi anemia, dan apa implikasinya untuk pencegahan di hulu?
  6. Berapa biaya JKN terkait anemia (FKL48), dan bagaimana konsentrasinya?

3 A. Fondasi: Definisi Kasus dan Alur Kohort

Definisi kasus dan sumber data

Kasus anemia gizi = peserta dengan >=1 klaim ber-ICD-10 D50 (anemia defisiensi besi) atau D64 (anemia gizi lain / anemia tak dispesifikkan) pada diagnosis utama/sekunder (FKL15A/16/17A/18) atau pada daftar diagnosis sekunder SDX di FKRTL, atau FKP15 D50/D64 di FKTP. Sumber: bpjs_data schema reguler (sampel rumah tangga 1% - frame tak bias untuk tren & rate populasi). Biaya: Biaya = FKL48 (biaya verifikasi / verified-paid), scope klaim FKRTL berkode anemia (FKL15A/SDX). Tertimbang PSTV15. /1e9 = miliar IDR. Periode: 2015-2024. Pembobotan: PSTV15 (proyeksi nasional).

Penting, anemia sebagai “lantai” bukan prevalensi. Anemia jarang dikode sebagai diagnosis PRIMER (umumnya sekunder ke kehamilan/penyakit kronik); angka klaim ini adalah LANTAI yang sangat di bawah prevalensi komunitas (lihat triangulasi Riskesdas). Untuk prevalensi sejati, lihat triangulasi Hb terukur SKI 2023 di bagian Treatment Gap.

3.1 Alur kohort (STROBE)

Tabel A1. Alur seleksi kohort anemia gizi (STROBE)
Tahap kohort Jumlah (sampel mentah)
Kohort peserta (member reguler) 2,590,751
Punya >=1 klaim FKRTL 976,214
Pasien anemia (D50/D64, segala posisi) 47,232
Anemia sbg diagnosis primer 10,782
Kontak FKTP anemia 13,094
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3.2 Distribusi kelompok diagnostik

Tabel A2. Pasien menurut kelompok diagnostik (D50 vs D64)
Kelompok diagnostik Pasien (tertimbang) Sampel mentah %
Anemia Gizi/Tak Spesifik (D64) 4,095,648 48,351 84.8
Anemia Defisiensi Besi (D50) 732,385 8,875 15.2
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3.3 Subtipe ICD anemia (kode + nama)

Tabel A3. Subtipe anemia menurut kode 4-karakter (diagnosis primer)
Subtipe ICD-10 (kode + nama) Klaim (tertimbang) Sampel mentah %
Anemia gizi/lain (D64) 1,556,456 18,017 91.3
Anemia defisiensi besi (D50) 148,840 1,986 8.7
Subtipe dari FKL15A 4-karakter; hanya klaim dengan anemia sebagai diagnosis primer. D64.9 (anemia tak dispesifikkan) mendominasi, ciri khas pencatatan anemia yang non-spesifik.

4 B. Prevalensi Terlayani, Insidensi, dan Tren

4.1 Tren pasien terlayani per tahun

Tabel B1. Pasien terlayani anemia gizi per tahun
Tahun Pasien terlayani (tertimbang) Sampel mentah
2015 425,602 4,877
2016 428,685 5,350
2017 526,180 6,242
2018 558,404 6,556
2019 602,399 6,980
2020 487,990 6,141
2021 497,178 6,224
2022 604,905 7,684
2023 756,534 9,001
2024 860,776 9,724
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

4.2 Anemia sebagai diagnosis primer, lantai konservatif

Tabel B2. Anemia sebagai diagnosis primer per tahun
Tahun Diagnosis primer (tertimbang) Sampel mentah
2017 96,460 1,067
2018 107,604 1,246
2019 144,810 1,614
2020 114,905 1,371
2021 100,102 1,331
2022 140,664 1,743
2023 165,742 2,044
2024 184,329 2,102
Hanya klaim dengan FKL15A (diagnosis utama) D50/D64. Inilah representasi paling konservatif dari beban anemia yang ditangani sistem.

4.3 Insidensi (pasien anemia baru)

Tabel B3. Insidensi pasien anemia gizi (kontak pertama)
Tahun Pasien baru (tertimbang) Sampel mentah
2016 397,894 4,958
2017 464,583 5,502
2018 474,736 5,547
2019 497,964 5,733
2020 392,211 4,898
2021 397,036 4,931
2022 487,228 6,140
2023 612,365 7,087
2024 678,414 7,553
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

4.4 Kohort stabil (debias akrual)

Tabel B4. Kohort stabil anemia per tahun
Tahun Pasien (tertimbang) Sampel mentah
2015 8,271 104
2016 13,038 154
2017 5,157 56
2018 3,893 51
2019 3,984 52
2020 2,943 46
2021 3,666 46
2022 4,787 59
2023 12,893 159
2024 10,716 125
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5 C. Demografi: Perempuan, WUS, Balita, dan Lansia

5.1 Piramida usia dan jenis kelamin

Tabel C1. Pasien anemia menurut usia dan jenis kelamin
Kelompok usia Jenis kelamin Pasien (tertimbang) Sampel mentah
Balita (<5) Laki-laki 112,654 2,096
Balita (<5) Perempuan 69,999 1,364
Anak 5-11 Laki-laki 61,379 729
Anak 5-11 Perempuan 45,787 526
Remaja 12-18 Laki-laki 58,575 707
Remaja 12-18 Perempuan 179,647 1,820
WUS/Dewasa 19-49 Laki-laki 494,006 6,117
WUS/Dewasa 19-49 Perempuan 1,636,726 19,631
50-59 Laki-laki 345,889 4,050
50-59 Perempuan 489,316 5,499
>=60 Laki-laki 597,818 6,890
>=60 Perempuan 674,645 7,167
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.2 Kelompok prioritas program gizi

Tabel C2. Kelompok prioritas gizi di antara pasien anemia terlayani
Kelompok prioritas Pasien (tertimbang) % dari total
Total pasien anemia 4,828,033 100.0
Perempuan (semua umur) 3,096,119 64.1
WUS 15-49 1,758,320 36.4
Balita (<5 th) 182,654 3.8
WUS = Wanita Usia Subur 15-49 th, sasaran utama program TTD (tablet tambah darah) dan agenda stunting.

5.3 Tren porsi WUS per tahun

Tabel C3. Porsi WUS per tahun
Tahun WUS (tertimbang) Semua pasien (tertimbang) % WUS
2015 140,151 425,602 35.1
2016 140,595 428,685 34.4
2017 204,000 526,180 39.4
2018 219,778 558,405 39.3
2019 232,094 602,399 38.7
2020 185,990 487,990 38.7
2021 179,743 497,178 37.9
2022 173,018 604,906 28.3
2023 259,989 756,535 32.2
2024 287,428 860,776 32.2
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.4 Keterkaitan kehamilan

Tabel C4. Anemia yang ko-terjadi dengan kode kehamilan/persalinan (O)
Indikator Nilai
Pasien anemia dengan ko-kode kehamilan/persalinan (O) 7,605
Klaim terkait 18,803
Anemia pada kehamilan (mis. O99.0) adalah penyebab penting morbiditas maternal; angka ini menggambarkan irisan anemia-maternal yang tertangkap di FKRTL.

6 D. Treatment / Diagnosis Gap: Triangulasi Hemoglobin Terukur (SKI 2023)

Jurang antara anemia di komunitas (Hb terukur) dan yang tertangkap sebagai diagnosis di JKN
Triangulasi ini memakai hemoglobin yang diukur langsung pada subsampel SKI 2023 (n=36,492 responden, bobot weight_hb), dibandingkan ambang anemia WHO per umur/jenis kelamin. Ini adalah prevalensi biokimia sejati, bukan self-report, dan menjadi acuan emas untuk mengukur berapa besar anemia yang TIDAK terdeteksi sebagai diagnosis di sistem klaim.
Ambang anemia WHO yang dipakai
WHO Hb cut-off: balita <11.0; anak 5-11 <11.5; 12-14 <12.0; perempuan dewasa <12.0; laki dewasa <13.0; hamil <11.0

6.1 Prevalensi komunitas menurut kelompok rentan

Tabel D1. Prevalensi anemia komunitas (Hb terukur, SKI 2023)
Kelompok Prevalensi anemia Hb terukur (%)
Balita (<5) 26.2
Perempuan >=15 19.2
WUS 15-49 17.9
Semua umur 17.4
Remaja 12-18 17.1
Laki-laki >=15 14.2
Balita dan WUS adalah kelompok dengan beban anemia tertinggi, persis kelompok sasaran program gizi.

6.2 Jurang deteksi: komunitas vs terlayani sebagai diagnosis

Tabel D2. Beban anemia komunitas pada kelompok prioritas (proyeksi nasional)
Kelompok Prevalensi Hb terukur (%) Estimasi kasus komunitas (proyeksi nasional)
WUS 15-49 17.9 13,182,216
Balita (<5) 26.2 5,895,633
Bandingkan dengan ratusan ribu yang terlayani sebagai diagnosis anemia di JKN: sebagian besar anemia komunitas tidak pernah tercatat sebagai diagnosis anemia di klaim.

6.3 Tren prevalensi komunitas 2018 -> 2023

Tabel D3. Prevalensi anemia komunitas menurut perkotaan/perdesaan (SKI 2023)
Wilayah Prevalensi anemia Hb terukur (%) Sampel (n)
Perkotaan 16.7 6,026
Perdesaan 17.5 30,466
Anemia adalah masalah yang merata di perkotaan dan perdesaan, bukan semata isu daerah tertinggal.

6.4 Provinsi dengan prevalensi komunitas tertinggi

Tabel D4. Provinsi prevalensi anemia komunitas tertinggi (SKI 2023)
Provinsi Prevalensi (%) Sampel (n)
Papua Selatan 44.8 190
Papua Barat 38.7 200
Papua 32.0 158
Nusa Tenggara Barat 25.6 1,062
Aceh 25.3 1,108
Maluku 25.0 477
Sulawesi Utara 24.6 667
Maluku Utara 24.1 502
Papua Barat Daya 23.7 185
Kalimantan Utara 23.6 368
Nusa Tenggara Timur 23.5 1,599
Lampung 23.2 1,311
Sulawesi Tenggara 23.1 549
Kalimantan Barat 22.3 921
Sumatera Utara 22.1 1,243
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

7 E. Layanan Primer (FKTP)

7.1 Kontak FKTP per tahun

Tabel E1. Kontak FKTP anemia per tahun
Tahun Kunjungan FKTP (tertimbang) Sampel mentah
2015 88,657 1,085
2016 115,214 1,566
2017 190,505 2,284
2018 175,143 2,120
2019 190,391 2,205
2020 133,489 1,683
2021 122,697 1,547
2022 145,196 1,615
2023 172,812 1,825
2024 190,938 1,930
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

7.2 Cakupan jalur layanan (FKTP vs FKRTL)

Tabel E2. Cakupan jalur layanan pasien anemia
Jalur layanan Pasien (tertimbang) Sampel mentah %
FKRTL saja 3,700,510 44,132 76.6
FKTP saja 858,507 9,994 17.8
FKTP + FKRTL 269,015 3,100 5.6
Anemia yang muncul hampir hanya di FKRTL menandakan deteksi dini di FKTP yang lemah, anemia baru tertangkap saat episode rumah sakit.

8 F. Layanan Rujukan (FKRTL): Keparahan, Setting, Transfusi

8.1 Volume utilisasi per tingkat layanan

Tabel F1. Utilisasi menurut tingkat layanan dan tahun
Tahun Tingkat layanan Kunjungan (tertimbang) Sampel mentah
2015 FKRTL Rawat Inap 374,800 4,180
2015 FKRTL Rawat Jalan 117,556 1,186
2015 FKTP (Primer) 88,657 1,085
2016 FKRTL Rawat Inap 343,963 4,181
2016 FKRTL Rawat Jalan 106,044 1,277
2016 FKTP (Primer) 115,214 1,566
2017 FKRTL Rawat Inap 419,609 4,820
2017 FKRTL Rawat Jalan 205,036 2,173
2017 FKTP (Primer) 190,505 2,284
2018 FKRTL Rawat Inap 471,276 5,399
2018 FKRTL Rawat Jalan 224,418 2,488
2018 FKTP (Primer) 175,143 2,120
2019 FKRTL Rawat Inap 503,558 5,862
2019 FKRTL Rawat Jalan 268,640 3,018
2019 FKTP (Primer) 190,391 2,205
2020 FKRTL Rawat Inap 405,363 5,336
2020 FKRTL Rawat Jalan 252,437 2,849
2020 FKTP (Primer) 133,489 1,683
2021 FKRTL Rawat Inap 419,492 5,501
2021 FKRTL Rawat Jalan 259,944 3,150
2021 FKTP (Primer) 122,697 1,547
2022 FKRTL Rawat Inap 572,982 6,891
2022 FKRTL Rawat Jalan 329,506 4,296
2022 FKTP (Primer) 145,196 1,615
2023 FKRTL Rawat Inap 689,089 8,145
2023 FKRTL Rawat Jalan 462,458 5,743
2023 FKTP (Primer) 172,812 1,825
2024 FKRTL Rawat Inap 772,519 8,516
2024 FKRTL Rawat Jalan 628,562 7,682
2024 FKTP (Primer) 190,938 1,930
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

8.2 Setting rawat (jalan vs inap) dan kepemilikan RS

Tabel F2. Setting rawat dan kepemilikan fasilitas
Kategori Level Klaim (tertimbang) Sampel
Setting Rawat Inap (RITL) 4,972,650 58,831
Setting Rawat Jalan (RJTL) 2,854,603 33,862
Kepemilikan Publik 4,434,662 53,808
Kepemilikan Swasta 3,392,244 38,877
Kepemilikan Lainnya 347 8
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

8.3 Transfusi darah: penanda anemia berat

Tabel F3. Klaim anemia yang memuat transfusi darah per tahun
Tahun Klaim transfusi (tertimbang) Pasien (sampel) Klaim (sampel)
2015 0 0 0
2016 0 0 0
2017 120,723 1,044 1,336
2018 129,372 1,169 1,507
2019 162,098 1,432 1,850
2020 125,878 1,265 1,660
2021 130,189 1,293 1,695
2022 177,521 1,710 2,196
2023 217,276 1,983 2,600
2024 277,716 2,235 2,990
Proxy keparahan via INA-CBG yang memuat 'TRANSFUSI/DARAH'. Anemia berat yang membutuhkan transfusi umumnya dapat dicegah dengan deteksi dan suplementasi besi lebih dini.

8.4 Lama rawat inap (LOS) menurut kelompok

Tabel F4. Lama rawat inap menurut kelompok diagnostik
Kelompok Episode inap (sampel) Rata-rata LOS (hr) Median LOS (hr) Q1 Q3
Anemia Defisiensi Besi (D50) 2,850 5.4 4 3 6
Anemia Gizi/Tak Spesifik (D64) 55,979 5.2 4 3 6
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

8.5 Pemanfaatan IGD

Tabel F5. Pemanfaatan IGD per tahun
Tahun Klaim IGD (tertimbang) % via IGD Total FKRTL (sampel)
2015 13,698 2.3 5,366
2016 14,777 2.9 5,458
2017 16,002 2.6 6,993
2018 24,099 2.8 7,887
2019 26,750 3.2 8,880
2020 20,500 2.9 8,185
2021 17,305 2.2 8,651
2022 12,729 1.9 11,187
2023 19,304 1.7 13,888
2024 24,137 1.8 16,198
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

9 G. Konektivitas Rujukan

9.1 Tingkat rujukan via FKTP

Tabel G1. Jenis fasilitas perujuk (rawat inap)
Jenis perujuk Klaim (sampel) %
Rumah Sakit 136,388 83.5
Puskesmas 15,659 9.6
Klinik Pratama 5,535 3.4
Dokter Umum 4,952 3.0
Klinik Utama 718 0.4
Apotik 36 0.0
Lainnya 11 0.0
Lainnya 7 0.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

9.2 Geografi rujukan

Tabel G2. Kesesuaian geografi peserta-fasilitas
Indikator Persen
Peserta dengan faskes di provinsi sama 96%
Peserta dengan faskes di kab/kota sama 88.4%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

10 H. Penyakit Penyerta (Komorbiditas)

10.1 Komorbiditas utama

Tabel H1. Penyakit penyerta pada pasien anemia gizi
Komorbiditas (kode ICD-10) Pasien (sampel) % pasien anemia
Gangguan Saluran Cerna/perdarahan (K20-92) 12,226 21.4
Diabetes (E10-14) 9,444 16.5
Kehamilan/Persalinan (O) 8,351 14.6
Penyakit Ginjal Kronik (N17-19) 8,339 14.6
Gagal Jantung (I50) 5,626 9.8
Kanker (C00-97) 5,269 9.2
Tuberkulosis (A15-19) 4,473 7.8
Gangguan Menstruasi/Ginekologi (N92-95) 2,511 4.4
Penyakit Autoimun/Reumatik (M05-06) 572 1.0
Anemia sering merupakan manifestasi penyakit lain (perdarahan saluran cerna, keganasan, gagal ginjal, kehamilan). Pola ini menegaskan anemia sebagai penanda yang menuntun ke penyakit hulu.

10.2 Beban komorbiditas

Tabel H2. Beban komorbiditas pasien anemia
Jumlah komorbiditas Pasien (sampel) %
0 13,740 29.1
1 18,993 40.2
2 7,570 16.0
3+ 6,929 14.7
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

11 I. Ekonomi Pembiayaan (FKL48)

Cara membaca biaya anemia. Biaya memakai FKL48 (biaya verifikasi / verified-paid). Karena anemia sering menjadi diagnosis SEKUNDER pada episode besar (kanker, gagal ginjal, operasi), total FKL48 untuk klaim yang MEMUAT kode anemia (Rp 34.8 triliun) melebih-lebihkan biaya yang dapat diatribusikan ke anemia. Angka yang lebih sahih untuk biaya anemia adalah klaim dengan anemia sebagai diagnosis PRIMER: Rp 4.7 triliun (2015-2024). Kedua angka dilaporkan transparan di bawah.

11.1 Tren biaya: anemia sebagai diagnosis primer

Tabel I1. Biaya FKL48 anemia (diagnosis primer) per tahun
Tahun Biaya primer (miliar IDR) Klaim (sampel) Rata-rata/klaim (IDR)
2017 382.76 1,593 2,590,883
2018 461.07 1,853 2,678,190
2019 618.76 2,653 2,590,557
2020 469.31 2,153 2,749,642
2021 410.38 2,081 2,877,038
2022 606.37 2,721 2,822,380
2023 812.62 3,410 2,984,045
2024 962.45 3,539 2,939,769
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

11.2 Tren biaya: semua klaim ber-kode anemia

Tabel I2. Biaya FKL48 semua klaim ber-kode anemia per tahun
Tahun Biaya any-coded (miliar IDR) Klaim (sampel) Rata-rata/klaim (IDR) Median/klaim (IDR)
2015 2363.7 5,366 4,658,092 3,696,200
2016 2380.3 5,458 4,781,674 3,480,750
2017 2773.0 6,993 4,436,281 2,985,500
2018 3159.7 7,887 4,522,212 2,934,800
2019 3256.2 8,880 4,129,888 2,790,400
2020 2459.6 8,185 4,100,226 2,733,600
2021 2939.4 8,651 4,302,086 2,674,500
2022 3892.9 11,187 4,152,863 2,531,300
2023 5378.3 13,888 4,516,145 2,538,600
2024 6207.4 16,198 4,300,251 2,168,300
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

11.3 Biaya menurut kategori layanan

Tabel I3. Biaya FKL48 menurut kelompok diagnostik
Kelompok diagnostik Biaya (miliar IDR) Klaim (sampel) Rata-rata/klaim (IDR)
Anemia Gizi/Tak Spesifik (D64) 33514.6 85,690 4,516,725
Anemia Defisiensi Besi (D50) 1295.9 7,003 2,431,811
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

11.4 INA-CBG dengan biaya tertinggi (kode + deskripsi)

Tabel I4. 15 INA-CBG dengan biaya tertinggi (klaim ber-kode anemia)
INA-CBG (deskripsi) Biaya (miliar IDR) Klaim (sampel) Rata-rata/klaim (IDR)
GANGGUAN SEL DARAH MERAH SELAIN KRISIS ANEMIA SEL SICKLE RINGAN 1694.57 6,971 2,890,916
VENTILASI MEKANIKAL LONG TERM TANPA TRAKEOSTOMI BERAT 1303.07 190 78,641,039
PROSEDUR SISTEM PERNAFASAN NON KOMPLEKS BERAT 1007.29 270 32,238,940
PROSEDUR PADA SENDI TUNGKAI/ANGGOTA TUBUH BAGIAN BAWAH MAYOR (SEDANG) 983.40 224 41,121,496
OPERASI PEMBEDAHAN CAESAR SEDANG 972.14 2,179 5,988,766
PROSEDUR PADA RAHIM & ADNEKSA SEDANG 945.97 1,033 10,481,860
TUMOR GINJAL & SALURAN URIN & GAGAL GINJAL SEDANG 877.70 2,782 4,029,857
GANGGUAN SEL DARAH MERAH SELAIN KRISIS ANEMIA SEL SICKLE SEDANG 639.39 1,821 4,107,745
GANGGUAN SEL DARAH MERAH SELAIN KRISIS ANEMIA SEL SICKLE RINGAN 629.53 2,501 2,938,428
PROSEDUR PAHA DAN SENDI PANGGUL SELAIN SENDI MAYOR SEDANG 572.41 217 18,215,101
GANGUAN PEMBULUH DARAH PERIFER LAIN-LAIN (SEDANG) 562.87 912 6,893,870
PROSEDUR SISTEM PERNAFASAN NON KOMPLEKS SEDANG 537.50 212 23,361,624
DIAGNOSIS SISTEM PENCERNAAN LAIN-LAIN (SEDANG) 490.41 2,350 2,351,944
PENYAKIT KENCING MANIS & GANGGUAN NUTRISI/ METABOLIK SEDANG 458.61 1,058 5,614,550
PROSEDUR SALURAN URIN ATAS SEDANG 449.85 246 15,577,368
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

11.5 Konsentrasi biaya (Pareto)

Tabel I5. Konsentrasi biaya (Pareto)
Kelompok pasien termahal % total biaya
Top 1% 12.1
Top 5% 31.9
Top 10% 45.1
Top 20% 61.5
Konsentrasi biaya pada sebagian kecil pasien anemia berat menegaskan nilai pencegahan di hulu (suplementasi besi, deteksi dini) untuk mencegah eskalasi mahal.

12 J. Mortalitas

Tabel J1. Ringkasan mortalitas pasien anemia
Indikator Nilai
Pasien anemia (sampel) 57,226
Kematian tercatat (PSTV18, sampel) 6,938
Kematian tercatat (tertimbang) 613,972
Crude mortality (%) 12.12%
Episode rawat inap anemia (sampel) 58,831
CFR rawat inap (%) 6.52%
Mortalitas pasien dengan anemia mencerminkan beban penyakit hulu yang menyertainya, bukan kematian akibat anemia gizi semata.

13 K. Geografi dan Ekuitas

13.1 Sebaran pulau

13.2 Provinsi: rate terlayani per 100.000 peserta

Tabel K1. Rate terlayani anemia per 100.000 peserta (20 provinsi)
Provinsi Pulau Pasien terlayani (tertimbang) Per 100.000 peserta
DKI Jakarta Jawa 328,910 2,487
DI Yogyakarta Jawa 94,306 2,214
Aceh Sumatera 135,013 2,205
Sulawesi Barat Sulawesi 32,089 2,040
Kalimantan Utara Kalimantan 14,028 1,949
Kalimantan Timur Kalimantan 83,129 1,941
Kepulauan Riau Sumatera 43,341 1,876
Sulawesi Utara Sulawesi 56,132 1,861
Sulawesi Tengah Sulawesi 62,986 1,847
Papua Barat Maluku-Papua 30,499 1,838
Jawa Tengah Jawa 711,565 1,801
Jawa Timur Jawa 735,739 1,722
Sulawesi Tenggara Sulawesi 53,295 1,722
Sulawesi Selatan Sulawesi 174,091 1,698
Kalimantan Selatan Kalimantan 68,501 1,673
Nusa Tenggara Barat Bali-Nusra 99,574 1,669
Gorontalo Sulawesi 26,670 1,628
Nusa Tenggara Timur Bali-Nusra 99,671 1,538
Sumatera Barat Sumatera 94,108 1,536
Bali Bali-Nusra 59,537 1,511
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 D50 + D64 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

13.3 Gradien sosial-ekonomi (segmentasi kepesertaan)

Tabel K2. Gradien sosial-ekonomi rate terlayani
Segmen Kategori Pasien (tertimbang) Per 1.000 peserta
PBPU (Mandiri) Non-PBI 1,083,006 31.00
Bukan Pekerja Non-PBI 310,508 26.29
PPU Non-PBI 1,077,489 15.37
PBI APBN PBI (disubsidi) 1,637,846 13.14
PBI APBD PBI (disubsidi) 657,479 10.84
Rate terlayani per segmen mencerminkan campuran beban penyakit dan akses; baca bersama gradien prevalensi komunitas (perdesaan/perkotaan) di bagian Treatment Gap.

13.4 Representasi vs populasi umum

Tabel K3. Karakteristik pasien anemia vs populasi umum JKN
Karakteristik Level FKTP FKRTL Overall Populasi Umum
Jenis Kelamin Perempuan 70.1% 63.5% 65% 48.8%
Jenis Kelamin Laki-laki 29.9% 36.5% 35% 51.2%
Kelompok Usia WUS/Dewasa 19-49 57.3% 41.2% 44.7% 51.1%
Kelompok Usia >=60 16% 29.5% 26.7% 16.7%
Kelompok Usia 50-59 13.4% 18.6% 17.5% 12.1%
Kelompok Usia Remaja 12-18 8.9% 4% 5% 11.3%
Kelompok Usia Balita (<5) 2% 4.4% 3.8% 1.7%
Kelompok Usia Anak 5-11 2.3% 2.2% 2.2% 7.2%
Segmentasi (Membership) PBI APBN 48% 30.8% 34.4% 41.3%
Segmentasi (Membership) PBPU (Mandiri) 12.1% 25.5% 22.7% 11.6%
Segmentasi (Membership) PPU 25.1% 22.2% 22.6% 23.2%
Segmentasi (Membership) PBI APBD 12.1% 14.2% 13.8% 20.1%
Segmentasi (Membership) Bukan Pekerja 2.8% 7.3% 6.5% 3.9%
Kelas Rawat Kelas III 69.7% 61.8% 63.3% 70.1%
Kelas Rawat Kelas I 13.2% 20.6% 19.2% 16.3%
Kelas Rawat Kelas II 17.1% 17.6% 17.5% 13.6%
Pulau Jawa 55.4% 60.1% 58.8% 54.2%
Pulau Sumatera 17.2% 18.6% 18.6% 20.7%
Pulau Sulawesi 12.7% 7.4% 8.5% 7.6%
Pulau Kalimantan 5.6% 5.7% 5.7% 5.7%
Pulau Bali-Nusra 6.9% 5.1% 5.4% 5.4%
Pulau Maluku-Papua 2.2% 3% 3% 6.4%
Kelompok Diagnostik Anemia Gizi/Tak Spesifik (D64) 58.7% 90.7% 84.8% -
Kelompok Diagnostik Anemia Defisiensi Besi (D50) 41.3% 9.3% 15.2% -
Tertimbang PSTV15. n peserta umum (tertimbang) = 302,106,337. Perhatikan dominasi perempuan dan kelompok usia produktif dibanding populasi umum.

14 L. Sintesis, Benchmark, dan Keterbatasan

14.1 Benchmark internasional

WHO Global Anaemia Estimates 2023. WHO memperkirakan prevalensi anemia global pada WUS sekitar 30% dan pada balita sekitar 40%; Indonesia (SKI 2023, Hb terukur) berada pada 17.9% (WUS) dan 26.2% (balita), masih merupakan masalah kesehatan masyarakat tingkat sedang-berat menurut klasifikasi WHO (>=20% = berat). Target Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDG 2.2) dan WHA Global Nutrition Target menetapkan penurunan 50% anemia WUS pada 2025/2030, target yang menuntut intervensi gizi-sensitif lintas sektor, bukan layanan kuratif semata.

14.2 Mekanisme dan rantai sebab (non-blackbox)

Rantai sebab dan titik ungkit kebijakan. (1) Hulu (gizi-sensitif): asupan besi rendah + kehilangan darah (menstruasi, cacingan, perdarahan saluran cerna) -> defisiensi besi -> anemia. Titik ungkit: tablet tambah darah (TTD) untuk WUS/remaja putri, fortifikasi pangan, MBG (makan bergizi gratis), air-sanitasi (menekan cacingan). (2) Deteksi: mayoritas anemia komunitas (17.4% Hb terukur) tidak pernah tercatat sebagai diagnosis di FKTP; anemia baru muncul di FKRTL saat sudah berat. Titik ungkit: skrining Hb rutin di Posyandu/Puskesmas, ANC, dan skrining remaja sekolah. (3) Hilir (kuratif mahal): anemia berat -> rawat inap + transfusi (18.3% pasien FKRTL) -> biaya tinggi dan terkonsentrasi (top 10% = 45.1% biaya). Setiap rupiah pencegahan di hulu menghindari eskalasi mahal di hilir.

14.3 Keterbatasan

Keterbatasan
  1. Anemia adalah “lantai”, bukan prevalensi. Klaim hanya menangkap anemia yang dikode sebagai diagnosis; sebagian besar anemia komunitas (Hb terukur) tidak pernah tercatat. Jangan tafsirkan angka terlayani sebagai prevalensi.
  2. Atribusi biaya. FKL48 adalah biaya verifikasi seluruh klaim; pada klaim di mana anemia adalah diagnosis sekunder, biaya tidak dapat diatribusikan sepenuhnya ke anemia. Karena itu kami melaporkan biaya diagnosis-primer sebagai angka utama.
  3. Pencatatan non-spesifik. Dominasi D64.9 (anemia tak dispesifikkan) membatasi analisis etiologi (besi vs B12/folat vs penyakit kronik).
  4. Self-report vs biokimia. Triangulasi memakai Hb terukur SKI 2023 (kuat), namun subsampel Hb (n=36,492) lebih kecil dari sampel utama; estimasi provinsi dengan n kecil dibaca hati-hati.
  5. Sampel 1%. Estimasi tertimbang mengandung ketidakpastian sampling, terutama untuk subkelompok kecil dan kabupaten.

Lampiran data. Seluruh tabel pendamping figur diekspor ke outputs/anemia_jkn_tables.xlsx (42 sheet). Bundle agregat: anemia_jkn_aggregates.rds; triangulasi: anemia_riskesdas.rds. Dibangun: 2026-06-21 19:16:00.423127.


ARC Institute - Health System Center | Analisis Data Sampel BPJS Kesehatan + SKI 2023 | ICD-10 D50 + D64 | Biaya FKL48 (verified-paid)