Unit analisis (tercantum di tiap tabel/figur). Tiga unit berbeda, perhatikan badge Unit: …: (1) Pasien unik = orang, dihitung sekali (prevalensi, demografi, peta, ekuitas, Pareto); (2) Kunjungan/Klaim = per layanan (volume utilisasi, biaya, rasio perforasi klaim-level, INA-CBG); (3) Episode rawat inap/discharge = per perawatan inap (LOS, case-fatality, akses bedah).

Cara baca. Setiap angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang (PSTV15) dari sampel; angka sampel mentah dilaporkan terpisah. Dokumen dibangun pada sampel reguler (sampel rumah tangga 1%), sehingga tren dan rate populasi bersifat tak-bias terhadap konstruksi sampel. Klaim hanya menggambarkan populasi yang terlayani JKN, bukan insidens sejati di komunitas.

Peta Pilar (navigasi): Fondasi (kohort, definisi kasus, validasi desain sampel) · ★ KPI Perforasi (rasio perforasi nasional, tren, geografi, jalur rujukan, ekuitas, biaya berlebih) · A Beban & Demografi · B FKTP (Primer) · C FKRTL (RS, severitas INA-CBG, LOS) · D Rujukan & Konektivitas · E Geografi Member-Faskes · F Proses & Outcome (case-fatality, akses bedah) · G Komorbiditas · H Ekonomi (FKL48, biaya berlebih perforasi) · I Ekuitas vs Populasi Umum.

Ringkasan eksekutif (angka utama).
Kohort analisis: 21,577 pasien apendisitis (sampel mentah), proyeksi nasional kumulatif 1,807,485 pasien terlayani 2015-2024.
KPI akses utama, rasio perforasi pada perawatan RAWAT INAP: 0.81% pada 2024 (kumulatif 2015-2024 0.93%), dihitung pada episode rawat inap apendisitis, di mana perforasi memang dikelola. Inilah indikator akses bedah-darurat yang valid secara klinis: apendisitis pecah yang sampai ke meja operasi terlambat.
Angka klaim-level (sekunder, konteks): bila perforasi dihitung pada SELURUH klaim apendisitis FKRTL (termasuk rawat jalan), rasionya 11.3% (2024). Angka ini jauh lebih tinggi karena 63.5% universe klaim adalah rawat jalan dan 95.6% klaim ber-kode perforasi muncul pada rawat jalan, yang secara klinis tidak lazim untuk apendiks pecah; karena itu angka klaim-level dilaporkan sebagai konteks, bukan KPI utama.
Tahun terkini 2024 (paling relevan kebijakan): 287,958 pasien apendisitis terlayani (≈ 103.6 per 100.000 peserta JKN); belanja klaim FKRTL 1,209.9 Miliar Rp (FKL48, biaya verifikasi).
Biaya berlebih perforasi: rerata klaim rawat inap kasus perforasi 11,220,781 Rp vs 4,829,651 Rp tanpa komplikasi (2.3x lebih mahal), sebagai konsekuensi ekonomi langsung dari rujukan yang terlambat.
Total belanja kumulatif (FKL48): 6,800.6 Miliar Rp untuk seluruh perawatan apendisitis terlayani 2015-2024.

1 Layer 0, Fondasi: kohort, definisi kasus & desain sampel

Definisi kasus dan KPI

Universe apendisitis = klaim dengan ICD-10 K35 (apendisitis akut), K36 (apendisitis lain), atau K37 (apendisitis tak-spesifik) pada diagnosis masuk/primer/sekunder (FKL15A/FKL17A/FKL16/FKL18) atau SDX; FKTP via FKP14A/FKP15.
Perforasi / komplikasi = klaim apendisitis yang diagnosis sekundernya (SDX) membawa K35.2 (peritonitis generalisata), K35.3 (peritonitis/abses lokal), atau K65 (peritonitis). Pada sampel ini diagnosis primer hanya tercatat 3-karakter (tanpa desimal), sehingga sinyal perforasi dibaca dari SDX 4-karakter. Lapisan severitas kedua yang independen = tier INA-CBG (PROSEDUR APPENDIK RINGAN/SEDANG/BERAT).
Rasio perforasi (KPI utama) = klaim perforasi dibagi seluruh klaim apendisitis pada perawatan RAWAT INAP. Pembatasan ke rawat inap penting: perforasi/peritonitis adalah kondisi yang dikelola dengan perawatan inap dan pembedahan, sehingga denominatornya harus episode inap. Apendisitis adalah kondisi bedah-akut yang dapat disembuhkan bila apendektomi dilakukan tepat waktu; perforasi menandakan pasien tiba terlambat, sehingga rasio perforasi rawat inap adalah indikator akses bedah & ketepatan rujukan yang lazim dipakai sebagai proxy mutu sistem layanan bedah darurat.
Rasio perforasi klaim-level (sekunder). Bila dihitung pada seluruh klaim apendisitis FKRTL (termasuk rawat jalan), rasio menjadi jauh lebih tinggi karena sebagian besar universe klaim adalah rawat jalan dan banyak kode perforasi muncul pada klaim rawat jalan, sebuah artefak pengkodean yang secara klinis tidak lazim untuk apendiks pecah. Angka klaim-level karena itu dilaporkan hanya sebagai konteks, bukan KPI akses.

Tabel 0.1. Alur pembentukan kohort apendisitis (Unit: Pasien unik)
Tahap Pasien (sampel mentah)
Peserta sampel (member, reguler) 2,590,751
Punya >=1 klaim FKRTL 2015-2024 976,214
Pasien dengan kode apendisitis di FKRTL 18,933
Pasien dengan kode apendisitis di FKTP 9,374
Kohort analitik apendisitis (gabungan) 21,577
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Catatan kunci. Dari 2,590,751 peserta sampel, 21,577 teridentifikasi dengan kode apendisitis 2015-2024 (proyeksi nasional 1,807,485 pasien). Karena dibangun di sampel reguler (rumah tangga), tren dan rate yang dilaporkan tak-bias terhadap desain sampel.

1.1 Komposisi tipe apendisitis (kode + nama ICD)

Tabel 0.2. Distribusi pasien menurut tipe apendisitis (Unit: Pasien unik)
Tipe (ICD-10) Tertimbang Sampel mentah % (tertimbang)
Apendisitis akut (K35) 1,473,323 17,739 81.5
Apendisitis tak-spesifik (K37) 177,104 2,082 9.8
Apendisitis lain (K36) 157,058 1,756 8.7
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

2 ★ KPI PERFORASI: Akses Bedah & Ketepatan Rujukan

KPI inti, rasio perforasi apendiks sebagai indikator akses bedah-darurat dan ketepatan rujukan
Logika. Apendisitis tanpa komplikasi adalah operasi rutin yang nyaris selalu sembuh. Apendisitis pecah/perforasi adalah hasil dari pasien yang sampai ke meja operasi terlambat, akibat keterlambatan mencari layanan, rujukan yang lambat/berlapis, atau jarak ke fasilitas bedah. Rasio perforasi yang tinggi atau meningkat menandakan ada hambatan akses bedah-darurat yang harus dibenahi sistem. KPI utama dihitung pada perawatan rawat inap (tempat perforasi sebenarnya dikelola); rasio klaim-level yang mencampur rawat jalan dilaporkan hanya sebagai konteks karena menggelembung secara artefaktual.

2.1 Tren rasio perforasi nasional

2.1.1 KPI utama: rasio perforasi rawat inap per tahun

2.1.2 Konteks: rasio klaim-level (termasuk rawat jalan)

2.1.3 Volume klaim perforasi vs total

2.1.4 Tabel lengkap

Tabel 1.1. Rasio perforasi apendiks per tahun, KPI rawat inap vs konteks klaim-level (Unit: Kunjungan/Klaim)
Tahun Perforasi inap Total klaim inap Rasio perforasi RAWAT INAP (%) Klaim-level (%, konteks) Total klaim (semua setting)
2015 5 1,060 0.47 0.4 2,071
2016 6 1,268 0.47 1.0 2,457
2017 19 1,459 1.30 4.6 3,613
2018 8 1,521 0.53 5.4 4,213
2019 9 1,537 0.59 5.1 4,436
2020 11 1,108 0.99 6.8 3,358
2021 21 1,159 1.81 10.5 3,555
2022 19 1,594 1.19 10.8 4,828
2023 22 1,963 1.12 10.5 5,866
2024 19 2,352 0.81 11.3 6,806
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Catatan kunci. KPI akses, rasio perforasi pada perawatan rawat inap, adalah 0.81% pada 2024 (kumulatif 0.93%), dengan puncak 1.81% pada 2021 yang konsisten dengan keterlambatan mencari layanan saat pandemi COVID-19. Angka klaim-level (11.3% pada 2024) jauh lebih tinggi karena denominatornya mencampur klaim rawat jalan; dilaporkan hanya sebagai konteks.

2.2 Geografi rasio perforasi (KPI akses spasial)

2.2.2 12 provinsi rasio perforasi tertinggi

2.2.3 Tabel provinsi (lengkap)

Tabel 1.2. Rasio perforasi apendiks menurut provinsi (Unit: Kunjungan/Klaim, >=30 klaim)
Provinsi Pulau Klaim perforasi Total klaim Rasio perforasi (%)
Papua Maluku-Papua 113 730 15.5
Maluku Utara Maluku-Papua 31 237 13.1
Maluku Maluku-Papua 54 426 12.7
Jawa Timur Jawa 441 3,868 11.4
Kalimantan Selatan Kalimantan 48 445 10.8
Kalimantan Tengah Kalimantan 37 358 10.3
Sulawesi Tenggara Sulawesi 72 745 9.7
Sumatera Selatan Sumatera 67 696 9.6
Kalimantan Timur Kalimantan 89 1,014 8.8
Jawa Barat Jawa 540 6,176 8.7
Bali Bali-Nusra 116 1,369 8.5
Nusa Tenggara Barat Bali-Nusra 56 670 8.4
Kepulauan Riau Sumatera 41 521 7.9
Jawa Tengah Jawa 359 4,622 7.8
Kalimantan Barat Kalimantan 43 586 7.3
Sumatera Barat Sumatera 87 1,204 7.2
Jambi Sumatera 43 625 6.9
Nusa Tenggara Timur Bali-Nusra 69 994 6.9
Riau Sumatera 107 1,568 6.8
Bengkulu Sumatera 26 394 6.6
DKI Jakarta Jawa 123 1,874 6.6
Papua Barat Maluku-Papua 32 514 6.2
Sulawesi Tengah Sulawesi 42 677 6.2
Sumatera Utara Sumatera 165 2,784 5.9
Gorontalo Sulawesi 11 185 5.9
DI Yogyakarta Jawa 54 960 5.6
Lampung Sumatera 48 860 5.6
Sulawesi Selatan Sulawesi 94 2,086 4.5
Banten Jawa 64 1,463 4.4
Kep. Bangka Belitung Sumatera 9 222 4.1
Sulawesi Barat Sulawesi 9 230 3.9
Aceh Sumatera 42 1,129 3.7
Sulawesi Utara Sulawesi 21 612 3.4
Kalimantan Utara Kalimantan 8 334 2.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Catatan kunci. Rasio perforasi paling tinggi di Maluku-Papua (11.9%) dan paling rendah di Sulawesi (5.5%). Variasi antar-provinsi yang lebar adalah sinyal ketimpangan akses bedah-darurat: provinsi dengan rasio tinggi memerlukan penguatan jalur rujukan dan kapasitas operasi.

2.3 Rasio perforasi menurut kelas rumah sakit

Tabel 1.3. Rasio perforasi menurut kelas RS (Unit: Kunjungan/Klaim)
Kelas RS Klaim perforasi Total klaim Rasio perforasi (%)
RS Kelas B 800 10,050 8.0
RS Kelas C 1,884 24,079 7.8
RS Kelas D 396 5,595 7.1
RS Kelas A 70 1,029 6.8
Lainnya/Missing 4 75 5.3
RS Khusus 7 375 1.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

2.4 Jalur masuk vs rasio perforasi (rujukan FKTP vs langsung/IGD)

Tidak dilaporkan, denominator terlalu kecil. Perbandingan rasio perforasi menurut jalur masuk (via rujukan FKTP vs langsung/IGD) tidak informatif pada sampel ini: jalur “via rujukan FKTP” hanya berisi 179 klaim inap dengan 0 kejadian perforasi, sehingga rasio tidak stabil dan tidak dapat dibandingkan secara bermakna dengan jalur langsung/IGD. Sebagian besar apendisitis memang masuk langsung ke IGD/RS tanpa nomor rujukan FKTP (sifat darurat penyakit). Data mentah tetap diekspor ke t06_perf_pathway.csv untuk transparansi, tetapi tidak dijadikan figur/KPI.

2.5 Rasio perforasi menurut segmentasi & status PBI (ekuitas)

Tabel 1.5. Rasio perforasi menurut segmentasi kepesertaan (Unit: Pasien unik)
Segmentasi Pasien perforasi Total pasien Rasio perforasi (%)
PBI APBD 262 2409 10.9
PBPU (Mandiri) 423 4179 10.1
Bukan Pekerja 68 808 8.4
PPU 727 9143 8.0
PBI APBN 376 5037 7.5
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

2.6 Biaya berlebih akibat perforasi (FKL48)

Tabel 1.6. Biaya berlebih perforasi, rawat inap (Unit: Kunjungan/Klaim, FKL48)
Status Klaim inap Rerata biaya (Rp) Median biaya (Rp)
Tanpa komplikasi 14,882 4,829,651 3,874,400
Perforasi 139 11,220,781 9,051,900
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Implikasi ekonomi. Kasus perforasi rata-rata 2.3x lebih mahal per klaim rawat inap. Setiap apendisitis yang dibiarkan pecah karena keterlambatan rujukan tidak hanya memperburuk outcome klinis, tetapi juga membebani JKN dengan biaya berlebih yang sebetulnya dapat dicegah dengan akses bedah-darurat yang lebih cepat.

3 Pilar A, Beban Penyakit & Demografi

3.1 Prevalensi & insidens terlayani per tahun

3.1.1 Pasien terlayani per tahun

3.1.2 Kasus baru (insidens terlayani)

3.1.3 Per 100k peserta JKN

Tabel A.1. Pasien apendisitis terlayani per tahun (Unit: Pasien unik)
Tahun Sampel mentah Tertimbang Per 100k JKN
2015 1,556 129,077 82.3
2016 1,882 138,422 80.5
2017 2,269 185,545 98.7
2018 2,438 208,300 100.1
2019 2,507 221,011 98.6
2020 1,808 155,181 69.8
2021 1,768 143,155 60.7
2022 2,467 201,461 81.0
2023 2,914 246,960 92.4
2024 3,323 287,958 103.6
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3.2 Distribusi geografis (provinsi tempat tinggal)

3.2.1 Per pulau

3.2.2 12 provinsi teratas

3.2.3 Served-rate per 100k per provinsi

Tabel A.2. Served-rate apendisitis per provinsi, 20 teratas (Unit: Pasien unik)
Provinsi Pulau Pasien (tertimbang) Per 100k JKN
Kalimantan Utara Kalimantan 8,921 1240
Kalimantan Timur Kalimantan 44,939 1049
Aceh Sumatera 63,346 1034
Sumatera Barat Sumatera 58,922 962
DI Yogyakarta Jawa 39,680 931
Kepulauan Riau Sumatera 21,220 919
DKI Jakarta Jawa 118,679 897
Sulawesi Selatan Sulawesi 91,494 892
Bali Bali-Nusra 34,849 885
Riau Sumatera 61,966 879
Sulawesi Tengah Sulawesi 29,593 868
Sumatera Utara Sumatera 119,848 781
Gorontalo Sulawesi 11,733 716
Kep. Bangka Belitung Sumatera 10,837 666
Jawa Barat Jawa 339,226 664
Nusa Tenggara Timur Bali-Nusra 42,965 663
Sulawesi Utara Sulawesi 19,922 661
Sulawesi Tenggara Sulawesi 20,023 647
Maluku Maluku-Papua 13,229 609
Nusa Tenggara Barat Bali-Nusra 35,951 603
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3.3 Struktur usia & jenis kelamin

Tabel A.3. Distribusi usia pasien apendisitis (Unit: Pasien unik)
Kelompok usia Tertimbang Sampel mentah %
<15 229,322 2,706 12.7
15–24 480,566 5,719 26.6
25–44 662,848 8,156 36.7
45–59 303,092 3,570 16.8
≥60 131,658 1,426 7.3
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

4 Tabel 1, Karakteristik Sampel (FKTP · FKRTL · Overall · Populasi Umum)

Tabel 1. Karakteristik pasien apendisitis vs populasi umum JKN (Unit: Pasien unik, % kolom tertimbang)
Kategori FKTP (%) FKRTL (%) Overall (%) Populasi Umum (%)
Jenis Kelamin
Perempuan 57.6 55.4 55.3 48.8
Laki-laki 42.4 44.6 44.7 51.2
Kelompok Usia
25–44 39.4 36.0 36.7 33.5
15–24 25.3 27.6 26.6 16.7
45–59 16.6 16.5 16.8 19.5
<15 12.8 12.5 12.7 13.6
≥60 6.0 7.4 7.3 16.7
Segmentasi (Membership)
PPU 40.5 38.1 38.5 23.2
PBI APBN 27.2 27.8 28.0 41.3
PBPU (Mandiri) 16.3 16.6 16.2 11.6
PBI APBD 12.5 14.0 13.7 20.1
Bukan Pekerja 3.5 3.5 3.5 3.9
Kelas Rawat
Kelas III 52.8 54.1 53.9 70.1
Kelas I 25.8 25.5 25.7 16.3
Kelas II 21.4 20.5 20.4 13.6
Pulau
Jawa 51.1 51.5 51.1 54.2
Sumatera 25.7 24.2 24.3 20.7
Sulawesi 9.9 9.6 10.0 7.6
Bali-Nusra 6.1 6.4 6.3 5.4
Kalimantan 5.0 5.7 5.5 5.7
Maluku-Papua 2.3 2.7 2.7 6.4
Status Perforasi
Tanpa komplikasi 90.5 89.1 90.3 -
Perforasi / komplikasi 9.5 10.9 9.7 -
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Tabel 1b. Penyebut tiap kolom Tabel 1
Kolom Tertimbang (n) Sampel mentah (n)
FKTP 761,681 9,374
FKRTL 1,606,313 18,933
Overall 1,807,485 21,577
GeneralPop 302,106,337 2,590,751
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5 Pilar B, FKTP (Layanan Primer)

Tabel B.1. Cakupan jenjang layanan (Unit: Pasien unik)
Jenjang layanan Tertimbang Sampel mentah %
FKRTL saja 1,045,804 12,203 57.9
FKTP + FKRTL 560,510 6,730 31.0
FKTP saja 201,172 2,644 11.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Catatan klinis. Apendisitis adalah kondisi bedah-akut yang umumnya melewati FKTP hanya sebentar (atau langsung ke IGD/RS). Dominasi jalur “FKRTL saja” konsisten dengan sifat darurat penyakit ini; peran FKTP lebih pada triase awal nyeri perut.

6 Pilar C, FKRTL: Severitas (INA-CBG), Lama Rawat, Setting

6.1 Severitas operasi menurut INA-CBG

6.1.1 Distribusi tier INA-CBG

6.1.2 Tren tier per tahun

Tabel C.1. Severitas prosedur apendiks (INA-CBG, Unit: Kunjungan/Klaim, FKL48)
Tier INA-CBG Sampel mentah Tertimbang Rerata biaya (Rp)
Ringan 8,514 729,443 4,696,728
Tidak tergrup / non-bedah 5,408 431,792 4,278,521
Sedang 639 63,013 6,702,096
Berat / Kompleks 460 42,311 13,099,420
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

6.2 Lama rawat (LOS) menurut status perforasi & kelas RS

Tabel C.2. LOS menurut status perforasi (Unit: Episode rawat inap)
Status Episode inap Rerata LOS Median LOS Q1 Q3
Tanpa komplikasi 12,177 3.9 3 2 5
Perforasi / komplikasi 49 5.7 5 3 7
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Catatan kunci. Kasus perforasi dirawat rata-rata 5.7 hari vs 3.9 hari tanpa komplikasi, beban kapasitas tempat tidur yang juga merupakan konsekuensi keterlambatan.

6.3 Setting & kepemilikan fasilitas

Tabel C.3. Distribusi setting perawatan (Unit: Kunjungan/Klaim)
Setting Tertimbang %
RS Kelas C 1,981,600 55.4
RS Kelas B 984,096 27.5
RS Kelas D 467,568 13.1
RS Kelas A 89,931 2.5
RS Khusus 46,945 1.3
Lainnya/Missing 7,385 0.2
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

7 Pilar D, Rujukan & Konektivitas Antar-Faskes

Tabel D.1. Geografi rujukan rawat inap apendisitis (Unit: Kunjungan/Klaim)
Cakupan rujukan Klaim inap %
Dalam kab/kota sama 13,347 93.7
Lintas kab/kota (prov sama) 728 5.1
Lintas provinsi 168 1.2
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Catatan kunci. 93.7% rujukan inap tertangani dalam kabupaten/kota yang sama; 1.2% memerlukan lintas provinsi. Untuk kondisi bedah-darurat seperti apendisitis, rujukan lintas wilayah memperpanjang waktu hingga operasi dan menaikkan risiko perforasi.

8 Pilar E, Geografi Member-Faskes (Akses Spasial)

Tabel E.1. Keselarasan member-faskes per provinsi, 20 terendah (Unit: Pasien unik)
Provinsi Member (sampel) % se-kab/kota
Tidak diketahui 39 0.0
Papua Barat 230 73.5
DKI Jakarta 687 76.6
DI Yogyakarta 424 80.9
Banten 648 81.0
Maluku Utara 159 82.4
Riau 852 82.5
Papua 410 82.9
Sumatera Barat 650 83.8
Jawa Barat 3,035 84.0
Lampung 514 84.2
Sumatera Utara 1,721 84.4
Jawa Tengah 2,129 84.5
Jawa Timur 1,717 85.2
Sulawesi Tengah 420 85.7
Bali 662 85.8
Sulawesi Utara 337 86.4
Jambi 373 86.6
Kalimantan Tengah 232 86.6
Kalimantan Barat 382 86.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

9 Pilar F, Proses, Akses Bedah & Outcome

Case-fatality TIDAK dilaporkan, kejadian terlalu sedikit. Pada seluruh sampel hanya terdapat 49 episode rawat inap apendisitis berkode perforasi dengan 0 kematian in-hospital; jumlah kejadian ini terlalu kecil untuk menghasilkan estimasi case-fatality yang stabil atau dapat dibandingkan, sehingga CFR menurut status perforasi tidak ditampilkan sebagai figur/tabel (data mentah tetap diekspor ke t28_cfr_perf.csv/t30_cfr_year.csv). Kematian apendisitis pada kohort terlayani JKN memang jarang secara absolut. Sinyal mutu yang jauh lebih informatif adalah rasio perforasi rawat inap (pencegahan komplikasi) dan biaya berlebih, bukan kematian.

10 Pilar G, Komorbiditas & Kondisi Penyerta

Tabel G.1. Kondisi penyerta pasien apendisitis (Unit: Pasien unik)
Kondisi (ICD-10) Pasien (sampel) % dari pasien apendisitis
Hipertensi (I10-15) 2,242 10.4
Infeksi saluran kemih (N39) 1,870 8.7
Gangguan lambung/duodenum (K25-29) 1,748 8.1
Diabetes (E10-14) 1,163 5.4
Anemia (D63-64) 1,149 5.3
Peritonitis (K65) 917 4.2
Ileus paralitik / obstruksi (K56) 765 3.5
Sepsis (A41) 411 1.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

11 Pilar H, Ekonomi Layanan Apendisitis (FKL48, biaya verifikasi)

11.1 Belanja & pendorong biaya

11.1.1 Per tahun

11.1.3 Konsentrasi (Pareto)

Tabel H.1. Belanja klaim FKRTL apendisitis per tahun (Unit: Kunjungan/Klaim, FKL48)
Tahun Klaim Belanja (Miliar Rp) Rerata (Rp) Median (Rp)
2015 2,071 485.0 2,708,738 2,221,300
2016 2,457 486.8 2,588,953 2,195,100
2017 3,613 599.5 2,015,755 211,300
2018 4,213 639.2 1,759,373 206,900
2019 4,436 717.6 1,764,575 201,200
2020 3,358 493.6 1,700,694 195,600
2021 3,555 490.2 1,766,262 196,100
2022 4,828 727.0 1,744,562 198,900
2023 5,866 951.7 1,944,634 205,900
2024 6,806 1,209.9 1,964,697 207,900
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

11.2 INA-CBG penyumbang biaya teratas (kode + deskripsi)

Tabel H.2. 15 grup INA-CBG teratas pada perawatan apendisitis (Unit: Kunjungan/Klaim, FKL48)
Deskripsi INA-CBG Klaim Belanja (Miliar Rp) Rerata (Rp)
PERAWATAN LUKA 9,416 166.11 196,370
PENYAKIT KRONIS KECIL LAIN-LAIN 7,856 138.34 197,050
PROSEDUR APPENDIK RINGAN 6,503 2,115.35 3,866,002
PROSEDUR ULTRASOUND LAIN-LAIN 2,146 97.89 572,421
GASTROINTESTINAL AKUT 2,097 26.52 145,521
PROSEDUR SISTEM PENCERNAAN LAIN-LAIN (RINGAN) 1,704 1,078.72 7,214,968
408 1,215 370.55 3,645,130
DIAGNOSIS SISTEM PENCERNAAN LAIN-LAIN (RINGAN) 938 105.11 1,469,314
730 683 11.55 173,310
903 656 10.95 191,409
711 499 5.42 139,665
ADHESIOLISIS PERITONEAL RINGAN 385 256.84 8,195,085
KONSULTASI ATAU PEMERIKSAAN LAIN-LAIN 373 4.60 142,310
PROSEDUR APPENDIK SEDANG 372 142.30 4,283,861
420 353 188.72 6,947,684
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

12 Pilar I, Ekuitas vs Populasi Umum

Tabel I.1. Ekuitas menurut status PBI (Unit: Pasien unik, FKL48)
Status PBI Sampel Tertimbang Rerata kunjungan % rawat inap % perforasi Median biaya total (Rp)
Missing 1 13 6 100.0 0.0 6,741,400
Non-PBI 14130 1,052,889 2 65.5 8.6 3,960,500
PBI (Disubsidi) 7446 754,582 2 68.2 8.6 3,340,000
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Tabel I.2. Indeks representasi pasien apendisitis vs populasi umum (Unit: Pasien unik)
Karakteristik Kategori Apendisitis (%) Populasi umum (%) Indeks representasi
Jenis Kelamin Perempuan 55.30 48.80 1.13
Jenis Kelamin Laki-laki 44.70 51.20 0.87
Kelompok Usia 25–44 36.70 33.50 1.10
Kelompok Usia 15–24 26.60 16.70 1.59
Kelompok Usia 45–59 16.80 19.50 0.86
Kelompok Usia <15 12.70 13.60 0.93
Kelompok Usia ≥60 7.30 16.70 0.44
Segmentasi (Membership) PPU 38.50 23.20 1.66
Segmentasi (Membership) PBI APBN 28.00 41.30 0.68
Segmentasi (Membership) PBPU (Mandiri) 16.20 11.60 1.40
Segmentasi (Membership) PBI APBD 13.70 20.10 0.68
Segmentasi (Membership) Bukan Pekerja 3.50 3.90 0.90
Kelas Rawat Kelas III 53.90 70.10 0.77
Kelas Rawat Kelas I 25.70 16.30 1.58
Kelas Rawat Kelas II 20.40 13.60 1.50
Pulau Jawa 51.10 54.20 0.94
Pulau Sumatera 24.30 20.70 1.17
Pulau Sulawesi 10.00 7.60 1.32
Pulau Bali-Nusra 6.30 5.40 1.17
Pulau Kalimantan 5.50 5.70 0.96
Pulau Maluku-Papua 2.70 6.40 0.42
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 K35-K37 apendisitis; K35.2/K35.3/K65 perforasi | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

13 Master tabel ringkasan & ekspor

Seluruh tabel companion diekspor: 42 berkas CSV + master workbook appendix_jkn_master_tables.xlsx (29 sheet) di folder outputs/.

14 Keterbatasan & Langkah Lanjut

Keterbatasan. (1) Klaim hanya menangkap apendisitis yang terlayani JKN, bukan insidens komunitas sejati; pasien yang tidak mencari layanan atau membayar mandiri tak tertangkap. (2) Dominasi rawat jalan pada universe klaim. Sebagian besar (63.5%) klaim apendisitis FKRTL adalah rawat jalan, dan 95.6% klaim ber-kode perforasi/peritonitis (K35.2/K35.3/K65 di SDX) justru muncul pada klaim rawat jalan, yang secara klinis tidak lazim untuk apendiks pecah (perforasi memerlukan perawatan inap dan pembedahan). Akibatnya rasio perforasi klaim-level (11.3% pada 2024) menggelembung secara artefaktual dan TIDAK boleh dibaca sebagai tingkat perforasi sebenarnya. KPI akses yang valid adalah rasio perforasi yang dibatasi pada perawatan rawat inap (0.81% pada 2024; kumulatif 0.93%). (3) Sinyal perforasi dibaca dari SDX (diagnosis sekunder 4-karakter K35.2/K35.3/K65) karena diagnosis primer pada sampel hanya 3-karakter; pengkodean SDX yang tidak lengkap dapat menyebabkan under-count perforasi pada perawatan inap, sehingga rasio rawat inap yang dilaporkan adalah batas bawah. (4) Cakupan FKRTL pada sampel efektif mulai 2017; angka 2015-2016 berbasis volume kecil dan harus dibaca hati-hati. (5) “Perforasi” di sini adalah proxy administratif, bukan temuan operatif terverifikasi. (6) Tier INA-CBG mengukur kompleksitas prosedur, bukan persis status perforasi; keduanya dilaporkan sebagai dua lapis severitas yang saling melengkapi. (7) Kematian apendisitis pada kohort terlayani sangat jarang sehingga case-fatality dan rasio perforasi menurut jalur masuk tidak dilaporkan sebagai KPI (kejadian/denominator terlalu kecil); data mentahnya tetap diekspor untuk transparansi.

Langkah lanjut kebijakan. (1) Jadikan rasio perforasi apendiks indikator mutu rutin akses bedah-darurat per provinsi/kab-kota. (2) Targetkan provinsi rasio tertinggi untuk penguatan jalur rujukan cepat dan kapasitas operasi bedah umum. (3) Audit jalur rujukan berlapis yang memperlambat sampai-ke-operasi pada kasus nyeri perut akut. (4) Hubungkan dengan analisis sisi-suplai (kapasitas bedah & sebaran dokter bedah) untuk menjelaskan variasi geografis rasio perforasi.

Reproduksibilitas. Engine: engine_appendix.R (PostgreSQL bpjs_data, skema reguler); bundle agregat: appendix_jkn_aggregates.rds; dokumen: report_appendix.Rmd. Biaya seluruhnya memakai FKL48 (biaya verifikasi/verified-paid), tertimbang PSTV15. Penyebut per-100k dari peserta JKN nasional (DJSN). Dibangun 21 June 2026 19:19.