Unit analisis (penting, tercantum di tiap tabel/figur).
Dokumen ini memakai beberapa unit, perhatikan badge Unit: … pada
judul: (1) Pasien unik = orang, dihitung sekali (prevalensi,
demografi, peta, mortalitas, Pareto, ekuitas); (2)
Sesi/Kunjungan/Klaim = per layanan, satu pasien bisa banyak (sesi
dialisis, volume utilisasi, biaya, INA-CBG, komorbiditas); (3)
Episode rawat inap = per perawatan inap (LOS, CFR).
Cara
baca dokumen. Setiap angka populasi adalah proyeksi nasional
tertimbang (PSTV15) dari sampel; angka sampel mentah dilaporkan
terpisah bila relevan. Analisis dibangun pada sampel reguler (rumah
tangga 1%), frame yang sahih untuk tren waktu dan rate populasi.
Definisi kasus CKD = kode ICD-10 N17-N19 di diagnosis
masuk/primer/sekunder. Dialisis dideteksi via INA-CBG (FKL19A), bukan
diagnosis (lihat Fondasi). Data klaim hanya menggambarkan
populasi yang terlayani, bukan prevalensi sejati (lihat Treatment
Gap).
Peta Pilar (navigasi): Fondasi (kohort, definisi kasus,
definisi dialisis, treatment gap Riskesdas) - A Beban, Demografi,
Geografi, Stadium CKD, Dialisis (HD/CAPD, sesi, insiden/prevalen, biaya,
akses, transplan, progresi) - B FKTP (Layanan Primer) - C
FKRTL (Rujukan/RS, Severity/LOS/Setting) - D Inter, Rujukan &
Konektivitas - E Geografi Member-Faskes - F Proses &
Outcome (Mortalitas) - G Komorbiditas - H Ekonomi (Pareto
+ INA-CBG) - I Ekuitas vs Populasi Umum.
245 /100kPrevalensi CKD terlayani
JKN, 2024
143,143Pasien dialisis prevalen
(tertimbang), 2024
7.3 jtSesi dialisis (tertimbang),
2024
Rp 44.4 TTotal belanja dialisis
JKN, 2015-2024
44.8%Mortalitas pasien dialisis
(kohort)
Layer 0 - Fondasi:
kohort, definisi kasus, definisi dialisis, & treatment gap
Fondasi - Alur Kohort (STROBE) - Definisi CKD (N17-N19) - Definisi
Dialisis (INA-CBG) - Stratifikasi - Treatment Gap (Riskesdas)
Inti: Mendefinisikan populasi analisis (peserta sampel reguler
dengan >=1 klaim diagnosis ginjal N17-N19 atau >=1 klaim
dialisis), dan kerangka treatment gap, pengingat bahwa klaim JKN
hanya menangkap kasus yang sampai ke fasilitas.
Sumber &
desain: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, schema reguler
(sampel rumah tangga 1%, frame tak bias untuk tren & rate populasi);
identifikasi pasien via PSTV01; bobot nasional PSTV15; demografi via
codebook resmi (PSTV05 jenis kelamin, PSTV08 segmentasi, PSTV07 kelas,
PSTV09 provinsi tempat tinggal, PSTV18 tahun meninggal).
| Tabel L0.1, Alur Pembentukan Kohort (STROBE) - Unit: Pasien unik (sampel) |
| Angka sampel mentah (pasien unik), sampel reguler BPJS 2015-2024 |
| Tahap |
Pasien (sampel mentah) |
| Sampel reguler (peserta JKN tersampel) |
2,590,751 |
| Punya >=1 klaim FKRTL (semua sebab) |
976,214 |
| Pasien dengan >=1 diagnosis CKD/GGA (N17-N19) di FKRTL |
28,395 |
| Pasien dengan >=1 klaim dialisis (INA-CBG/Z49) |
5,441 |
| Pasien CKD dengan >=1 klaim N17-N19 di FKTP |
8,620 |
| KOHORT ANALISIS, CKD dan/atau dialisis (FKTP/FKRTL) |
29,705 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
Definisi kasus &
definisi dialisis (penting)
Bagaimana sebuah pasien disebut “kasus CKD” dan bagaimana “dialisis”
dideteksi
Kasus CKD/GGA = kode ICD-10 N18 (penyakit ginjal
kronik), N17 (gagal ginjal akut), atau N19 (gagal ginjal
tak spesifik) muncul di diagnosis masuk (FKL15A), primer (FKL17A),
sekunder (SDX), atau kode detail (FKL16/18). Diagnosis primer 3 digit,
SDX prefix 4 digit. Stadium CKD (N18.1-N18.5) diambil dari kode 4
karakter (FKL16) bila tersedia.
Dialisis dideteksi via
INA-CBG (FKL19A), BUKAN diagnosis. Dialisis adalah prosedur, bukan
penyakit, sehingga ia muncul sebagai grup pembiayaan (INA-CBG): kode
‘PROSEDUR DIALISIS’ (terverifikasi tarif median Rp 884 ribu per
klaim = paket per-sesi hemodialisis kanonik), kode akses vaskular
‘ALAT DIALISIS’, ditambah kode perawatan dialisis Z49 dan
ketergantungan dialisis Z99.2. Satu klaim ‘PROSEDUR DIALISIS’
= satu sesi. Modalitas: Hemodialisis (HD) = kode Z49.1 atau
paket HD generik; CAPD/dialisis peritoneal = kode Z49.2.
| Tabel L0.2, Distribusi Kelompok Diagnostik Ginjal - Unit: Pasien unik (tertimbang) |
| Tiap pasien diberi satu kelompok primer = diagnosis ginjal paling berat: N18 (kronik) > N17 (akut) > N19 (tak spesifik) |
| Kelompok Diagnostik Primer |
Pasien (tertimbang) |
Pasien (sampel) |
Proporsi (%) |
| CKD Kronik (N18) |
1,931,606 |
21,778 |
73.0 |
| Gagal Ginjal Akut (N17) |
524,151 |
5,552 |
19.8 |
| Gagal Ginjal Tak Spesifik (N19) |
169,030 |
2,089 |
6.4 |
| Lainnya |
22,777 |
286 |
0.9 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |

Treatment gap -
triangulasi Riskesdas (prevalensi komunitas) vs terlayani JKN
Keterbatasan utama (wajib diingat di seluruh dokumen). Angka
terlayani adalah kasus yang sampai ke fasilitas dan diklaimkan ke
JKN. Prevalensi CKD sejati di masyarakat lebih tinggi karena (1) CKD
tahap awal sering tanpa gejala dan tak terdiagnosis, (2) sebagian kasus
tak mengakses layanan, dan (3) survei Riskesdas memakai laporan-diri
(didiagnosis dokter), yang juga di bawah prevalensi biokimia (eGFR).
Klaim TIDAK dapat mengestimasi prevalensi sejati.
| Tabel L0.3, Triangulasi Treatment Gap CKD: Riskesdas vs JKN - Unit: Pasien (tertimbang) |
| Prevalensi komunitas laporan-diri (Riskesdas/SKI) vs terlayani JKN |
| Indikator |
Sumber |
Prevalensi komunitas |
Perkiraan kasus nasional |
Terlayani JKN (kumulatif/2024) |
| CKD (laporan-diri dewasa >=15 th) |
Riskesdas 2018 |
0.384% |
730,459 |
2,100,637 |
| CKD (laporan-diri dewasa >=15 th) |
SKI 2023 |
0.178% |
337,514 |
681,417 |
| Dialisis/HD (laporan-diri dewasa) |
SKI 2023 |
0.0376% |
71,346 |
143,143 |
| Benchmark: ARC AMALGAM harmonisasi Riskesdas 2018 + SKI 2023 (laporan-diri didiagnosis dokter, dewasa >=15 th, tertimbang). Penyebut & sifat (kumulatif vs titik) berbeda; rasio bersifat ilustratif. Laporan-diri < prevalensi biokimia (eGFR), sehingga gap sejati lebih besar. |

Key takeaway Fondasi: Kohort analisis mencakup 29,705 pasien
sampel dengan penyakit ginjal dan/atau dialisis; 5,441 di
antaranya menjalani dialisis. CKD kronik (N18) mendominasi (73%).
Triangulasi Riskesdas menunjukkan prevalensi komunitas CKD laporan-diri
0.384% (2018) dan 0.178% (2023); karena laporan-diri
sendiri di bawah prevalensi biokimia eGFR, treatment gap CKD tahap
dini besar, sementara untuk dialisis/ESRD, JKN justru menangkap
mayoritas kasus (dialisis hampir seluruhnya dibiayai JKN).
Pilar A - Beban
Penyakit, Demografi, Stadium CKD & Dialisis
Pilar A - Prevalensi & Insidensi Terlayani - Demografi - Geografi -
Stadium CKD - DIALISIS (pusat analisis)
Pertanyaan: Seberapa besar beban CKD yang terlayani JKN,
bagaimana trennya, profil demografi & sebaran geografisnya,
distribusi stadium CKD, dan, sebagai pusat analisis, gambaran lengkap
layanan dialisis (HD vs CAPD, sesi, insiden vs prevalen, biaya,
akses vaskular, transplan, progresi CKD ke dialisis).
A.1 Ukuran
epidemiologi dasar (prevalensi & insidensi terlayani)
Definisi & denominator
Prevalensi terlayani (tahunan) = pasien unik dengan >=1
klaim CKD/dialisis pada tahun tsb. - Insidensi terlayani = pasien
dengan kontak pertama pada tahun tsb (2015 left-censored). -
Denominator rate = jumlah peserta JKN per tahun (BPJS
Kesehatan/DJSN), rate per 100.000 peserta JKN. Annotasi dip 2020-2021 =
gangguan layanan masa COVID-19.
| Tabel 1.0, Ukuran Epidemiologi CKD/Dialisis Terlayani JKN - Unit: Pasien unik (tertimbang) |
| Tertimbang PSTV15; rate per 100.000 peserta JKN; 2015 left-censored |
| Tahun |
Prevalen terlayani (tertimbang) |
Kasus baru (tertimbang) |
Prevalensi /100k JKN |
Insidensi /100k JKN |
YoY prevalensi |
| 2015 |
221,464 |
tidak dapat diestimasi |
141.2 |
tidak dapat diestimasi |
- |
| 2016 |
219,442 |
171,631 |
127.6 |
99.8 |
-9.6% |
| 2017 |
260,748 |
195,667 |
138.7 |
104.1 |
+8.7% |
| 2018 |
331,949 |
236,666 |
159.6 |
113.8 |
+15.1% |
| 2019 |
373,247 |
259,517 |
166.5 |
115.8 |
+4.3% |
| 2020 |
361,242 |
225,348 |
162.4 |
101.3 |
-2.5% |
| 2021 |
356,185 |
218,384 |
151.1 |
92.6 |
-7% |
| 2022 |
456,923 |
301,417 |
183.7 |
121.2 |
+21.6% |
| 2023 |
588,259 |
391,185 |
220.1 |
146.3 |
+19.8% |
| 2024 |
681,417 |
426,285 |
245.2 |
153.4 |
+11.4% |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Baris 2015 disorot = left-censored (insidensi overestimate). |


Key takeaway A.1: Pada 2024, prevalensi CKD/dialisis
terlayani 245.2 per 100.000 peserta JKN. Beban terlayani naik
konsisten 2015-2024 dengan dip nyata pada 2020-2021 (gangguan
layanan COVID-19), lalu pulih. Karena analisis dibangun pada sampel
reguler (household, frame tak bias), tren ini lebih dapat dipercaya
daripada kohort penyakit yang seeded; tetap waspadai akrual frame,
gunakan level 2024 sebagai angka cross-sectional terandal.
A.2 Demografi:
struktur usia-jenis kelamin

A.3 Distribusi geografis
(provinsi & pulau tempat tinggal)
Per Pulau
| Tabel A.3, Sebaran pasien CKD/dialisis menurut pulau |
| island |
wt_pts |
raw_pts |
pct |
| Jawa |
1,712,169 |
15,753 |
65 |
| Sumatera |
447,945 |
6,033 |
17 |
| Sulawesi |
163,514 |
2,575 |
6 |
| Bali-Nusra |
134,849 |
2,103 |
5 |
| Kalimantan |
133,185 |
2,037 |
5 |
| Maluku-Papua |
50,516 |
1,115 |
2 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |

Per Provinsi (Top
12)
| Tabel 1.3, 12 Provinsi dengan Beban Terlayani Tertinggi - Unit: Pasien unik (tertimbang) |
| Rank |
Provinsi |
Pulau |
Pasien (tertimbang) |
Pasien (sampel) |
% |
| 1 |
Jawa Barat |
Jawa |
477,233 |
4,297 |
18.0 |
| 2 |
Jawa Tengah |
Jawa |
405,459 |
4,701 |
15.3 |
| 3 |
Jawa Timur |
Jawa |
400,748 |
3,876 |
15.1 |
| 4 |
DKI Jakarta |
Jawa |
234,501 |
1,276 |
8.9 |
| 5 |
Sumatera Utara |
Sumatera |
122,164 |
1,620 |
4.6 |
| 6 |
Banten |
Jawa |
118,117 |
909 |
4.5 |
| 7 |
DI Yogyakarta |
Jawa |
76,111 |
694 |
2.9 |
| 8 |
Lampung |
Sumatera |
73,316 |
854 |
2.8 |
| 9 |
Bali |
Bali-Nusra |
64,055 |
1,014 |
2.4 |
| 10 |
Sumatera Barat |
Sumatera |
58,705 |
647 |
2.2 |
| 11 |
Sulawesi Utara |
Sulawesi |
54,762 |
885 |
2.1 |
| 12 |
Sulawesi Selatan |
Sulawesi |
53,100 |
730 |
2.0 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
20
Kabupaten/Kota
| Tabel 1.4, 20 Kabupaten/Kota dengan Beban Terlayani Tertinggi - Unit: Pasien unik (tertimbang) |
| Rank |
Kabupaten |
Provinsi |
Pasien (tertimbang) |
Pasien (sampel) |
| 1 |
Kota Jakarta Utara |
DKI Jakarta |
83,226 |
406 |
| 2 |
Kota Surabaya |
Jawa Timur |
62,923 |
410 |
| 3 |
Kota Jakarta Pusat |
DKI Jakarta |
59,780 |
347 |
| 4 |
Kab. Bogor |
Jawa Barat |
53,781 |
373 |
| 5 |
Kab. Bandung |
Jawa Barat |
47,215 |
326 |
| 6 |
Kab. Sidoarjo |
Jawa Timur |
40,507 |
272 |
| 7 |
Kota Tangerang |
Banten |
37,127 |
217 |
| 8 |
Kota Jakarta Timur |
DKI Jakarta |
36,572 |
182 |
| 9 |
Kota Depok |
Jawa Barat |
36,241 |
274 |
| 10 |
Kota Jakarta Selatan |
DKI Jakarta |
34,451 |
214 |
| 11 |
Kota Semarang |
Jawa Tengah |
34,093 |
391 |
| 12 |
Kota Bandung |
Jawa Barat |
31,429 |
252 |
| 13 |
Kab. Sleman |
Daerah Istimewa Yogyakarta |
31,106 |
281 |
| 14 |
Kota Bekasi |
Jawa Barat |
30,419 |
248 |
| 15 |
Kab. Klaten |
Jawa Tengah |
29,317 |
291 |
| 16 |
Kab. Sukabumi |
Jawa Barat |
29,130 |
188 |
| 17 |
Kab. Cirebon |
Jawa Barat |
26,041 |
241 |
| 18 |
Kab. Banyumas |
Jawa Tengah |
23,619 |
181 |
| 19 |
Kab. Tangerang |
Banten |
21,336 |
184 |
| 20 |
Kab. Karawang |
Jawa Barat |
20,797 |
211 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | berdasarkan kabupaten/kota tempat tinggal (PSTV10) |
A.4 Stadium CKD
(N18.1-N18.5)
Stadium dari kode 4 karakter
Stadium diambil dari kode ICD-10 detail (FKL16): N18.1 (stadium 1)
hingga N18.5 (stadium 5 / ESRD, gagal ginjal terminal yang biasanya
butuh dialisis). Tiap pasien diberi stadium terberat yang
pernah tercatat. Banyak klaim hanya memakai kode N18 tanpa digit
stadium, sehingga “stadium tak tercatat” besar, ini keterbatasan koding,
bukan ketiadaan stadium.

Key takeaway stadium: Di antara pasien N18 dengan stadium
tercatat, stadium 5/ESRD (N18.5) mendominasi (35.2% dari yang
terkode), jauh di atas stadium awal. Ini mencerminkan deteksi
terlambat: CKD baru terlihat di klaim JKN saat sudah terminal dan
butuh dialisis, konsisten dengan progresi cepat ke dialisis (median
hanya 13 hari dari diagnosis CKD pertama ke dialisis pertama).
Pencegahan & deteksi dini CKD tahap 1-3 di layanan primer hampir tak
terlihat di klaim.
Pilar A (lanjutan) -
DIALISIS (pusat analisis)
DIALISIS - Modalitas (HD vs CAPD) - Sesi per Pasien - Insiden vs
Prevalen - Biaya - Akses Vaskular - Transplan - Progresi
A.5 Modalitas
dialisis: HD vs CAPD

Key takeaway modalitas: Hemodialisis (HD) sangat dominan
(79.1%); CAPD/dialisis peritoneal hanya 2.8% (sebagian dengan
kombinasi HD). Ini konsisten dengan dominasi HD di Indonesia dan
rendahnya pemanfaatan CAPD meski lebih hemat dan lebih sesuai untuk
wilayah dengan akses fasilitas HD terbatas. Catatan koding: paket
INA-CBG dialisis generik tak selalu mencantumkan modalitas
(Z49.1/Z49.2), sehingga proporsi CAPD adalah batas bawah.
A.6 Pasien dialisis prevalen
& insiden per tahun
Prevalen per
tahun

Insiden (mulai
dialisis) per tahun

A.7 Sesi dialisis: volume &
intensitas
Sesi per tahun
(total)

Sesi per pasien per
tahun (distribusi)

Key takeaway sesi: Volume sesi dialisis naik konsisten ke 7.3
juta sesi (tertimbang) pada 2024. Median 64 sesi/pasien-tahun
(persentil-90 104), pasien HD penuh menjalani ~104-156 sesi/tahun (2-3x
seminggu); rata-rata lebih rendah karena banyak pasien tahun-parsial
(memulai/meninggal/keluar sampel di tengah tahun). Beban sesi yang besar
inilah penggerak utama biaya (lihat Pilar H).
A.8 Akses vaskular
& transplantasi ginjal

Key takeaway akses & transplan: Prosedur akses vaskular
(fistula/graft/kateter, prasyarat HD) tercatat konsisten tiap tahun.
Transplantasi ginjal sangat langka dalam klaim JKN (20
pasien sepanjang 2015-2024), mencerminkan keterbatasan donor &
kapasitas transplan nasional, sehingga dialisis seumur hidup tetap
jadi terapi pengganti ginjal dominan, dengan konsekuensi biaya
jangka panjang yang besar.
A.9 Progresi CKD ke
dialisis
Dari 29,419 pasien dengan diagnosis CKD/GGA yang terdeteksi di
JKN, 5,155 (17.5%) tercatat sampai menerima dialisis. Median
selang dari diagnosis ginjal pertama ke dialisis pertama hanya 13
hari, menandakan banyak pasien sudah datang dalam kondisi terminal
(ESRD) saat pertama terlihat di klaim, bukan terdeteksi dini lalu
dipantau bertahap.
Pilar B - FKTP (Layanan
Primer)
Pilar B - Layanan Primer (FKTP/Kapitasi) - Diagnosis - Cakupan
Pertanyaan: Apa yang dilayani di tingkat primer dan seberapa
besar peran FKTP sebagai pintu masuk. Figur pertama = gambaran
lintas-tingkat (FKTP vs FKRTL).


Key takeaway B: Mayoritas beban CKD/dialisis berada di tingkat
rujukan (FKRTL); sebagian besar pasien dialisis tampil sebagai
rawat jalan FKRTL berulang (sesi HD). Peran FKTP sebagai pintu deteksi
dini CKD masih terbatas, hanya 2.8% pasien tampil di FKTP saja,
menegaskan bahwa CKD umumnya baru tertangkap saat sudah perlu layanan
spesialistik.
Pilar C - FKRTL
(Rujukan/Rumah Sakit): Setting, Severity, LOS
Pilar C - Rawat Jalan vs Inap - LOS - Kelas RS - Kepemilikan - IGD
Pertanyaan: Bagaimana layanan rumah sakit untuk CKD: komposisi
rawat jalan vs inap, lama rawat (LOS), kelas & kepemilikan RS, dan
beban gawat darurat.
C.1 Setting layanan & lama
rawat (LOS)
Rawat Jalan vs
Inap

C.2 Kepemilikan RS & beban
gawat darurat
Kepemilikan (Publik
vs Swasta)

Beban IGD per
tahun

Pilar D - Inter:
Rujukan & Konektivitas
Pilar D - Gerbang FKTP->FKRTL - Tipe Perujuk - Geografi Rujukan
Pertanyaan: Bagaimana pasien CKD berpindah antar tingkat layanan,
siapa yang merujuk, dan seberapa jauh rujukan rawat inap (lintas
kabupaten/provinsi).
D.1 Tipe perujuk & geografi
rujukan
Tipe perujuk (rawat
inap)
| Tabel D.1, Tipe fasilitas perujuk rawat inap CKD |
| code |
raw |
perujuk |
pct |
| 2 |
91,806 |
Rumah Sakit |
85 |
| 1 |
8,950 |
Puskesmas |
8 |
| 3 |
3,703 |
Klinik Pratama |
3 |
| 4 |
3,389 |
Dokter Umum |
3 |
| 5 |
533 |
Klinik Utama |
0 |
| 6 |
17 |
Apotik |
0 |
| 99 |
11 |
Lainnya |
0 |
| 12 |
9 |
Lainnya |
0 |
| 9 |
6 |
Pemerintah |
0 |
| 10 |
4 |
Lainnya |
0 |
| 8 |
4 |
Laboratorium |
0 |
| 7 |
3 |
Dokter Gigi |
0 |
| 11 |
1 |
Lainnya |
0 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |

Geografi rujukan
rawat inap
| Tabel D.1, Geografi rujukan rawat inap CKD |
| kategori |
n |
pct |
| Dalam kabupaten yang sama |
101,593 |
94 |
| Lintas kabupaten (dalam provinsi) |
5,410 |
5 |
| Lintas provinsi |
1,433 |
1 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |

Key takeaway D: Rujukan rawat inap CKD didominasi rumah sakit
& puskesmas sebagai perujuk; 93.7% tetap dalam kabupaten yang
sama, sementara sisanya lintas kabupaten/provinsi, indikasi bahwa
layanan ginjal/dialisis lanjut belum tersedia merata di tiap kabupaten
dan pasien harus menempuh jarak.
Pilar E - Geografi
Member-Faskes
Pilar E - Tempat Tinggal vs Faskes Terdaftar - Same-Kab %
Pertanyaan: Seberapa dekat pasien CKD terdaftar dengan fasilitas
di wilayahnya (proksi akses & service desert).
| Tabel E, Pendaftaran faskes sama-kabupaten per provinsi |
| prov |
members |
pct_same_kab |
| 99 |
1,101 |
0 |
| 74 |
2,157 |
91 |
| 71 |
5,813 |
91 |
| 82 |
2,164 |
96 |
| 34 |
4,408 |
83 |
| 51 |
6,629 |
90 |
| 52 |
2,357 |
92 |
| 53 |
4,590 |
93 |
| 32 |
27,038 |
86 |
| 63 |
3,913 |
90 |
| 35 |
23,774 |
90 |
| 15 |
2,331 |
87 |
| 12 |
10,292 |
85 |
| 72 |
2,171 |
88 |
| 81 |
1,499 |
88 |
| 19 |
1,008 |
94 |
| 61 |
2,332 |
91 |
| 36 |
5,851 |
80 |
| 94 |
2,052 |
88 |
| 31 |
8,799 |
78 |
| 21 |
1,432 |
85 |
| 14 |
4,270 |
88 |
| 17 |
1,736 |
91 |
| 33 |
29,654 |
92 |
| 13 |
4,100 |
87 |
| 76 |
737 |
95 |
| 65 |
839 |
96 |
| 18 |
5,326 |
87 |
| 64 |
3,705 |
91 |
| 16 |
5,114 |
88 |
| 62 |
2,210 |
91 |
| 75 |
1,159 |
94 |
| 91 |
1,372 |
84 |
| 73 |
4,667 |
88 |
| 11 |
2,590 |
86 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |

Pilar F - Proses,
Outcome & Mortalitas
Pilar F - Mortalitas (PSTV18 + FKL14) - CFR - Mortalitas Dialisis vs
Non-dialisis - Kontinuitas Dialisis
Pertanyaan: Bagaimana luaran pasien CKD/dialisis, terutama
mortalitas, dan apakah ada selisih mortalitas antara pasien dialisis dan
non-dialisis. Kematian undercaptured (in-hospital + tahun-meninggal
snapshot), perlakukan sebagai batas bawah.
F.1 Mortalitas: dialisis vs
non-dialisis
Selisih
mortalitas
| Tabel F.1, Mortalitas kohort: dialisis vs CKD non-dialisis |
| grp2 |
n_pts |
wt_pts |
deaths |
wt_deaths |
mort_pct |
| CKD tanpa dialisis |
24,264 |
2,201,353 |
5,199 |
459,979 |
21 |
| Dialisis |
5,441 |
446,211 |
2,437 |
196,483 |
45 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |

Kematian per tahun
(in-hospital)
| Tabel F.1, Kematian in-hospital pasien CKD/dialisis per tahun |
| yr |
raw_deaths |
wt_deaths |
| 2,015 |
422 |
48,671 |
| 2,016 |
461 |
43,176 |
| 2,017 |
360 |
38,915 |
| 2,018 |
466 |
46,070 |
| 2,019 |
524 |
49,620 |
| 2,020 |
495 |
46,582 |
| 2,021 |
452 |
37,165 |
| 2,022 |
705 |
56,787 |
| 2,023 |
969 |
81,488 |
| 2,024 |
1,057 |
104,853 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |

Case-fatality rawat inap (CFR): dari 43,075 episode rawat inap
dengan diagnosis ginjal/dialisis, 5,669 berakhir meninggal (CFR 13.16%).
Kontinuitas dialisis: median selang antar-sesi dialisis 4 hari
(sesuai jadwal HD ~2-3x/minggu); 0.1% selang >30 hari (jeda layanan
yang dapat menandakan putus-berobat atau rawat inap).
Key takeaway F: Mortalitas pasien dialisis jauh lebih tinggi
(44.8%) dibanding CKD non-dialisis (21.4%), konsisten dengan
tingginya mortalitas ESRD pada terapi pengganti ginjal. Karena kematian
undercaptured (hanya in-hospital + tahun-meninggal snapshot), angka
sebenarnya lebih tinggi. Beban mortalitas ESRD yang besar memperkuat
argumen pencegahan & deteksi dini CKD.
Pilar G -
Komorbiditas
Pilar G - Penyakit Penyerta (FKL15A + SDX) - Jumlah Komorbiditas
Pertanyaan: Penyakit penyerta apa yang menyertai CKD (penyebab
& konsekuensi). Komorbiditas dipindai di diagnosis masuk DAN
sekunder (SDX), karena umumnya dikode sekunder; ini batas bawah.
G.1 Komorbiditas utama &
jumlah penyerta
Komorbiditas
utama
| Tabel G.1, Komorbiditas utama pada pasien CKD/dialisis |
| komorbid |
n_pts |
pct |
| Hipertensi (I10-15) |
16,756 |
56 |
| Penyakit Pernapasan (J) |
11,728 |
40 |
| Anemia (D60-64) |
11,340 |
38 |
| Diabetes (E10-14) |
10,945 |
37 |
| Gagal Jantung (I50) |
8,096 |
27 |
| Penyakit Jantung Iskemik (I20-25) |
7,817 |
26 |
| Stroke (I60-69) |
4,803 |
16 |
| Tuberkulosis (A15-19) |
2,336 |
8 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |

Jumlah komorbiditas
per pasien
| Tabel G.1, Jumlah komorbiditas per pasien CKD |
| n_komorbid |
n_pts |
pct |
| 0 |
4,339 |
15 |
| 1 |
6,118 |
21 |
| 2 |
6,236 |
22 |
| 3+ |
11,997 |
42 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |

Key takeaway G: CKD adalah penyakit multimorbid:
hipertensi (56.4%) dan diabetes (36.8%), dua penyebab utama CKD, sangat
lazim, sementara anemia (38.2%) dan gagal jantung (27.3%) mencerminkan
konsekuensi CKD lanjut. Pengendalian hipertensi & diabetes di hulu
adalah strategi pencegahan CKD yang paling berdampak.
Pilar H - Ekonomi
(Biaya, Pareto, INA-CBG)
Pilar H - Tren Biaya - Biaya Dialisis vs CKD - Per Pasien Dialisis -
Pareto - INA-CBG Teratas
Pertanyaan: Berapa belanja JKN untuk CKD & dialisis,
bagaimana trennya, dan seberapa terkonsentrasi. Biaya = FKL48 (biaya
verifikasi / verified-paid), tertimbang PSTV15. Lingkup
biaya-penyakit (sama persis di laporan demand & supply): klaim
FKRTL ber-diagnosis N18 (FKL15A atau SDX) ditambah klaim dialisis
(INA-CBG FKL19A mengandung HEMODIALIS/DIALIS/CAPD). Miliar (1e9)
dan triliun (1e12) ditandai eksplisit.
H.1 Tren biaya: dialisis
sebagai penggerak utama
Biaya dialisis vs
total CKD per tahun

Biaya per pasien
dialisis per tahun

H.2 Komposisi &
konsentrasi biaya
Konsentrasi biaya
(Pareto)

12 INA-CBG biaya
tertinggi
| Tabel H.1, 12 INA-CBG dengan Belanja Tertinggi - Unit: Klaim & Rp miliar (tertimbang) |
| INA-CBG |
Klaim (sampel) |
Total (Rp miliar) |
Rata-rata/klaim (Rp) |
| Prosedur Dialisis |
559,460 |
38,253.2 |
863,375 |
| 621 |
25,103 |
2,921.3 |
976,948 |
| Membuat Baru, Merevisi Dan Memindahkan Alat Dialisis Sedang |
2,732 |
2,575.3 |
11,087,296 |
| Membuat Baru, Merevisi Dan Memindahkan Alat Dialisis Berat |
955 |
1,953.2 |
23,979,432 |
| Tumor Ginjal & Saluran Urin & Gagal Ginjal Sedang |
5,018 |
1,834.5 |
4,304,527 |
| Penyakit Kronis Kecil Lain-Lain |
76,318 |
1,367.3 |
211,412 |
| Membuat Baru, Merevisi Dan Memindahkan Alat Dialisis Ringan |
2,364 |
1,107.5 |
5,605,004 |
| Ventilasi Mekanikal Long Term Tanpa Trakeostomi Berat |
85 |
787.8 |
79,420,400 |
| Prosedur Sistem Pernafasan Non Kompleks Berat |
187 |
761.6 |
33,564,693 |
| Tumor Ginjal & Saluran Urin & Gagal Ginjal Berat |
1,081 |
538.6 |
6,737,225 |
| Tumor Ginjal & Saluran Urin & Gagal Ginjal Ringan |
1,976 |
530.8 |
3,557,183 |
| Prosedur Membuat Baru, Merevisi Dan Memindahkan Alat Dialisis |
1,585 |
377.1 |
2,949,337 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
Key takeaway H: Dialisis adalah penggerak biaya CKD JKN dan
salah satu cost-driver terbesar program JKN secara keseluruhan.
Total belanja dialisis 2015-2024 mencapai Rp 44,424 miliar (~Rp 44.4
triliun), mayoritas dari total belanja CKD Rp 61.3 triliun. Belanja
terkonsentrasi tajam: top 5% pasien menyerap 57% biaya. Karena dialisis
berlangsung seumur hidup dan transplan langka, biaya akan terus tumbuh,
memperkuat urgensi pencegahan CKD di hulu (kendali hipertensi &
diabetes).
Pilar I - Ekuitas
& Representasi vs Populasi Umum
Pilar I - Karakteristik vs Populasi JKN - Served-rate per Provinsi &
Segmen - Gradien SES (Inverse-care-law)
Pertanyaan: Siapa yang terlayani CKD/dialisis relatif terhadap
populasi JKN umum, dan apakah ada ketimpangan akses menurut wilayah
& status sosial-ekonomi (segmentasi). Populasi Umum = sampel
reguler BPJS (seluruh peserta JKN).
I.1 Tabel 1 -
Karakteristik vs Populasi Umum
| Tabel 1, Karakteristik Pasien CKD vs Populasi JKN Umum - Unit: Pasien unik (tertimbang), % per kolom |
| FKTP n=8,620 - FKRTL n=28,690 - Overall n=29,705 - Populasi Umum n=2,590,751 (peserta sampel) |
|
FKTP % |
FKRTL % |
Overall % |
Populasi Umum % |
| Jenis Kelamin |
| Laki-laki |
55.3 |
55.2 |
55.1 |
51.2 |
| Perempuan |
44.7 |
44.8 |
44.9 |
48.8 |
| Kelompok Usia |
| >=60 |
37.5 |
46.1 |
45.8 |
16.7 |
| 40-59 |
49.0 |
43.7 |
43.6 |
27.7 |
| 18-39 |
12.2 |
8.9 |
9.3 |
37.1 |
| <18 |
1.3 |
1.3 |
1.4 |
18.5 |
| Segmentasi (Membership) |
| PBPU (Mandiri) |
31.8 |
28.0 |
27.9 |
11.6 |
| PBI APBN |
23.5 |
27.0 |
27.2 |
41.3 |
| PPU |
21.9 |
18.1 |
18.2 |
23.2 |
| Bukan Pekerja |
11.3 |
13.6 |
13.4 |
3.9 |
| PBI APBD |
11.5 |
13.4 |
13.3 |
20.1 |
| Kelas Rawat |
| Kelas III |
55.5 |
57.6 |
57.7 |
70.1 |
| Kelas I |
27.7 |
26.3 |
26.1 |
16.3 |
| Kelas II |
16.8 |
16.1 |
16.2 |
13.6 |
| Pulau |
| Jawa |
67.4 |
65.0 |
64.8 |
54.2 |
| Sumatera |
16.6 |
16.9 |
17.0 |
20.7 |
| Sulawesi |
4.9 |
6.0 |
6.2 |
7.6 |
| Bali-Nusra |
6.0 |
5.1 |
5.1 |
5.4 |
| Kalimantan |
4.3 |
5.1 |
5.0 |
5.7 |
| Maluku-Papua |
0.8 |
1.9 |
1.9 |
6.4 |
| Kelompok Diagnostik |
| CKD Kronik (N18) |
92.8 |
73.1 |
73.0 |
- |
| Gagal Ginjal Akut (N17) |
5.9 |
19.6 |
19.8 |
- |
| Gagal Ginjal Tak Spesifik (N19) |
1.3 |
6.3 |
6.4 |
- |
| Lainnya |
- |
0.9 |
0.9 |
- |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N17-N19 + dialisis (INA-CBG) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Populasi Umum = sampel reguler BPJS; Overall = kohort CKD/dialisis |
I.2 Served-rate & gradien
SES
Served-rate per
provinsi

Gradien SES
(CKD)

Gradien SES
(DIALISIS)

Key takeaway I: Akses CKD/dialisis sangat timpang. Secara
geografis, served-rate tertinggi di Sulawesi Utara, DI Yogyakarta,
dan DKI Jakarta (provinsi dengan fasilitas HD padat), sementara
wilayah timur jauh lebih rendah, peta akses/deteksi, bukan beban sejati.
Secara sosial-ekonomi, gradien inverse-care-law tajam pada
dialisis: segmen mandiri/non-PBI memiliki served-rate dialisis jauh
di atas segmen PBI (disubsidi/miskin) (456.7 vs 67 per 100k), menandakan
peserta miskin kurang terjangkau layanan ginjal lanjut meski JKN
bertujuan menutup kesenjangan tersebut.
Ringkasan Eksekutif
& Keterbatasan
Ringkasan Temuan Kunci - Implikasi Kebijakan - Keterbatasan
Pandangan 2024 (angka paling relevan-kebijakan).
- Prevalensi
CKD/dialisis terlayani: 245 per 100.000 peserta JKN (681,417
pasien tertimbang).
- Pasien dialisis prevalen: 143,143
(tertimbang); pasien baru memulai dialisis: 64,912.
- Sesi
dialisis: 7.3 juta (tertimbang).
- Belanja CKD 2024: Rp
10,858 miliar; mortalitas kohort dialisis: 44.8%.
Temuan kunci:
1. Dialisis adalah pusat beban CKD JKN,
dominan HD (79.1%), CAPD minim, transplan hampir nihil (20 pasien),
sehingga terapi pengganti ginjal seumur hidup tak terhindarkan.
2.
Deteksi terlambat: ESRD (N18.5) mendominasi stadium terkode dan
median hanya 13 hari dari diagnosis CKD ke dialisis, CKD baru terlihat
saat sudah terminal.
3. Cost-driver besar: total belanja
dialisis ~Rp 44.4 triliun (2015-2024), terkonsentrasi pada sedikit
pasien.
4. Mortalitas tinggi pada pasien dialisis (44.8%,
batas bawah).
5. Ketimpangan akses tajam menurut provinsi
& segmentasi (inverse-care-law pada dialisis).
6. Treatment
gap CKD dini besar (prevalensi komunitas Riskesdas jauh di atas yang
terdeteksi di JKN tahap awal).
Keterbatasan (wajib dibaca):
1. Klaim = populasi
terlayani, bukan prevalensi sejati. CKD tahap dini sebagian besar
tak terdiagnosis; angka terlayani adalah batas bawah beban (lihat
treatment gap Riskesdas).
2. Modalitas dialisis (HD vs CAPD)
sebagian tak terkode. Paket INA-CBG dialisis generik tak selalu
memuat Z49.1/Z49.2, sehingga pangsa CAPD adalah batas bawah; klasifikasi
HD mengasumsikan paket generik = HD (didukung tarif per-sesi).
3.
Stadium CKD banyak tak tercatat (kode N18 tanpa digit stadium),
distribusi stadium hanya dari subset terkode.
4. Mortalitas
undercaptured (hanya in-hospital FKL14=3 + tahun-meninggal snapshot
PSTV18), angka sebenarnya lebih tinggi.
5. Sesi/pasien-tahun
dipengaruhi pasien tahun-parsial (insiden/meninggal/keluar sampel) dan
ukuran sampel 1%, gunakan median pasien penuh sebagai acuan klinis.
6. Benchmark Riskesdas adalah laporan-diri (didiagnosis dokter),
bukan eGFR, dan memakai penyebut/sifat berbeda, triangulasi bersifat
ilustratif, bukan estimasi gap presisi.
7. Frame sampel
reguler berbasis kepesertaan terkini, tahun-tahun awal dapat
under-observed (left-truncation), gunakan level 2024 sebagai
cross-section terandal.
8. Tarif/biaya = FKL48 (biaya
verifikasi / verified-paid), proyeksi nasional tertimbang, bukan
realisasi anggaran resmi BPJS. Lingkup biaya-penyakit dibatasi pada
klaim ber-diagnosis N18 plus klaim dialisis (definisi konsisten dengan
laporan supply), bukan seluruh klaim pasien CKD.
Reproduksibilitas
Engine: engine_ckd_dialysis.R (PostgreSQL
bpjs_data schema reguler) -> bundle
ckd_jkn_aggregates.rds. Triangulasi komunitas:
riskesdas_precompute.R ->
ckd_riskesdas.rds. Laporan:
report_ckd_dialysis.Rmd (cache=TRUE, dev=svglite). Tabel
pendamping: outputs/tables.xlsx. Sumber data: Data Sampel
BPJS Kesehatan 2015-2024; ARC AMALGAM harmonisasi Riskesdas 2018 + SKI
2023.