Asma dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Tentang laporan ini
Asma adalah penyakit pernapasan kronis yang menyerang lintas usia, dengan tumpuan pada anak dan dewasa muda. Sebagian besar serangan asma dapat dicegah jika penyakit ini terkendali dengan baik di layanan primer, sehingga rawat inap karena asma menjadi penanda penting mutu pelayanan.
Laporan ini menggambarkan bagaimana penderita asma dilayani oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2015 sampai 2024. Cakupannya meliputi beban yang terlayani, struktur usia dan jenis kelamin, admisi eksaserbasi yang dapat dicegah, lama rawat dan mortalitas rumah sakit, komorbiditas, biaya pelayanan, serta keadilan akses antardaerah dan segmen kepesertaan.
Seluruh angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang dari sampel dan menggambarkan penderita yang terlayani oleh JKN, bukan prevalensi sebenarnya di seluruh masyarakat. Asma sering ditangani dengan obat bebas atau di luar JKN, sehingga jumlah yang terlayani merupakan batas bawah dari beban yang sesungguhnya. Sebagai konteks, disertakan perbandingan komunitas dari Survei Kesehatan Indonesia 2023, dan angka biaya merupakan nilai klaim terverifikasi, bukan realisasi anggaran resmi.
Pertanyaan yang dijawab laporan ini
- Berapa banyak penderita asma yang terlayani oleh JKN, dan bagaimana sebarannya menurut usia, jenis kelamin, dan wilayah?
- Seberapa sering terjadi admisi eksaserbasi yang sebenarnya dapat dicegah, dan bagaimana trennya dari waktu ke waktu?
- Berapa angka mortalitas rawat inap, dan bagaimana ia meningkat menurut usia?
- Berapa biaya asma bagi JKN, dan seberapa setara akses pelayanan antardaerah dan segmen kepesertaan?
Temuan utama
- Pada 2024 sekitar 1,209,379 orang dengan asma terlayani oleh JKN, setara dengan 435 per 100.000 peserta. Angka ini didasarkan pada 34,371 pasien asma yang memiliki klaim rumah sakit dalam sampel rumah tangga 1 persen sepanjang 2015 sampai 2024.
- Asma adalah beban lintas usia dengan tumpuan anak dan dewasa muda: sekitar 19 persen pasien berusia 0 sampai 14 tahun dan mayoritas selebihnya berusia 15 sampai 44 tahun, berbeda dari pola penyakit paru kronis lansia.
- Admisi eksaserbasi yang dapat dicegah meningkat tajam, dengan proyeksi nasional sekitar 252,421 admisi pada 2024, menandakan pengendalian asma di tingkat layanan rawat jalan yang belum optimal.
- Mortalitas rawat inap secara keseluruhan sekitar 1,7 persen, namun naik tajam menurut usia hingga sekitar 4,5 persen pada usia 65 tahun ke atas, dengan readmisi 30 hari sekitar 3,7 persen.
- Total biaya asma bagi JKN mencapai sekitar Rp 7 triliun selama 2015 sampai 2024, dengan pengeluaran yang terkonsentrasi pada sebagian kecil pasien.
- Triangulasi komunitas menunjukkan prevalensi asma terdiagnosis sekitar 1,6 persen (Survei Kesehatan Indonesia 2023, sekitar 5 juta orang), jauh melampaui jumlah yang terlayani di JKN, menandai adanya kesenjangan akses dan manajemen asma di tingkat populasi.