Cara baca dokumen. Laporan ini menjawab satu pertanyaan
kebijakan: berapa beban dan biaya rawat inap JKN yang sebenarnya
berakar pada determinan di LUAR sistem kesehatan (air bersih dan
sanitasi, cakupan imunisasi, gizi, pengendalian vektor), dan
kementerian/lembaga mana yang paling efektif menanganinya dari
hulu. Setiap klaim diatribusikan ke satu sektor determinan berdasarkan
diagnosis primer (FKL15A) agar tidak salah-atribusi (mis. anemia
yang muncul sebagai diagnosis sekunder pada klaim katastropik). Semua
nominal populasi adalah proyeksi nasional tertimbang (PSTV15);
biaya memakai field FKL48 (biaya verifikasi/terbayar).
Peta dokumen (navigasi): Fondasi (kohort STROBE,
definisi atribusi, treatment-gap) · A Beban lintas-sektor (klaim,
admisi, biaya per bucket) · B Sub-kondisi (kode ICD + nama) ·
C Tren temporal & pandangan 2024 · D Demografi siapa
yang dirawat (balita, anak, dewasa) · E Geografi beban per
provinsi/pulau · F Ekonomi: konsentrasi biaya & INA-CBG ·
G Ekuitas (PBI vs Non-PBI) · H Overlay lintas-sektor
(cakupan determinan Riskesdas/SKI vs beban) · I Argumen investasi
antar-kementerian.
Layer 0 - Fondasi:
kohort, atribusi sektoral, dan kerangka
① Fondasi · Alur Kohort (STROBE) · Aturan Atribusi Determinan · Empat
Sektor · Treatment Gap
Inti: Konsep “Beyond-PHC” (melampaui layanan primer) berangkat
dari kenyataan bahwa banyak admisi rumah sakit yang dapat dicegah
(Ambulatory Care Sensitive Conditions, ACSC) bukan kegagalan layanan
primer semata, melainkan kegagalan determinan hulu: air kotor
menyebabkan diare dan tifoid; sanitasi buruk dan dehidrasi kronis
menyumbang batu saluran kemih; imunisasi yang tidak lengkap membuka
pintu campak, difteri, pertusis, tetanus, dan TB; gizi buruk dan anemia
melemahkan daya tahan; vektor yang tak terkendali menyebarkan dengue dan
malaria.
Sumber & desain: Data Sampel BPJS Kesehatan
2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1% sebagai frame
tak bias untuk tren dan rate populasi); identifikasi peserta via
PSTV01; bobot nasional PSTV15; demografi via member-join
(PSTV05 jenis kelamin, PSTV03 lahir, PSTV08 segmentasi, PSTV07 kelas,
PSTV09 provinsi); biaya FKL48.
| Tabel L0.1 - Alur Pembentukan Kohort (STROBE) · Unit: sampel mentah |
| Klaim/pasien sampel, schema reguler BPJS 2015-2024 |
| Tahap |
Jumlah (sampel) |
| Peserta tersampel (schema reguler) |
2,590,751 |
| Punya >=1 klaim FKRTL (semua sebab) |
976,214 |
| Klaim FKRTL dengan diagnosis primer determinan-ACSC |
345,037 |
| Di antaranya: admisi rawat inap (RITL) |
102,691 |
| KOHORT ANALISIS - pasien unik determinan-ACSC |
134,199 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1%) | atribusi diagnosis primer FKL15A | biaya FKL48 verified-paid | tertimbang PSTV15 |
Aturan atribusi:
empat sektor determinan dan kementerian penanggung jawab
Bagaimana sebuah admisi diatribusikan ke sektor determinan
Sebuah klaim FKRTL dimasukkan ke satu bucket sektoral bila
diagnosis primer (FKL15A, 3-karakter) termasuk kode ICD-10 sektor
tersebut. Pemilihan diagnosis primer (bukan sekunder/SDX) bersifat
konservatif: admisi memang KARENA kondisi determinan itu, bukan
kondisi determinan yang kebetulan menyertai penyakit lain. Sebuah lapis
sensitivitas primer+SDX (batas atas) dilaporkan terpisah dan diberi
label di Pilar F.
Empat sektor: · WASH (air,
sanitasi, higiene): diare dan gastroenteritis A00-A09, demam tifoid A01,
batu saluran kemih N20-N23. · Dapat dicegah imunisasi (VPD):
campak B05, difteri A36, pertusis A37, tetanus A33-A35, tuberkulosis
A15-A19. · Nutrisi: anemia D50-D64, malnutrisi energi-protein
E40-E46. · Vektor: demam berdarah dengue A90-A91, malaria
B50-B54.
| Tabel L0.2 - Peta Atribusi Sektor Determinan ke Kementerian/Lembaga |
| Sektor |
Kondisi (ICD-10) |
Kementerian/Lembaga penanggung jawab determinan |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
A00-A09 diare/tifoid, N20-N23 batu saluran kemih |
Kementerian PUPR (Cipta Karya: air minum & sanitasi), Bappenas, Pemda |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
D50-D64 anemia, E40-E46 malnutrisi |
Bappenas (RAN-PASTI/stunting), BKKBN, Kemensos, Kemenkes Gizi |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
B05 campak, A36 difteri, A37 pertusis, A33-A35 tetanus, A15-A19 TB |
Kemenkes Ditjen P2P (Imunisasi), Pemda (cakupan imunisasi) |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
A90-A91 DBD, B50-B54 malaria |
Kemenkes Ditjen P2P (vektor), Pemda (lingkungan, PSN) |
| Atribusi determinan -> K/L berdasarkan mandat program hulu (RPJMN, RAN-PASTI, program imunisasi nasional, program pengendalian vektor). |
Key takeaway L0: Kohort analisis mencakup 134,199 pasien
sampel dengan 345,037 klaim berdiagnosis-primer
determinan-ACSC, di antaranya 102,691 admisi rawat inap. Empat
sektor determinan ini bukan ranah Kemenkes semata: penanganan hulunya
tersebar di PUPR, Bappenas, BKKBN, Kemensos, dan Pemda. Inilah dasar
argumen investasi lintas-kementerian.
Treatment-gap: klaim
hanya menangkap yang sampai ke rumah sakit
Keterbatasan utama (wajib diingat). Angka di sini adalah kasus
yang sampai ke FKRTL dan diklaimkan ke JKN. Beban determinan
sejati di masyarakat jauh lebih besar: banyak diare/anemia/dengue ringan
ditangani di FKTP, di apotek, atau di rumah tanpa kontak sistem.
Klaim TIDAK mengukur insidensi komunitas. Justru itulah mengapa
overlay komunitas (Riskesdas/SKI, Pilar H) diperlukan: untuk
menghubungkan apa yang terlihat di klaim dengan cakupan determinan di
hulu.
Pilar A - Beban
lintas-sektor: klaim, admisi, dan biaya per sektor determinan
② Pilar A · Atribusi Beban · Biaya FKL48 per Sektor · Admisi yang Dapat
Dicegah
Pertanyaan: Dari seluruh admisi yang berakar pada determinan
non-kesehatan, berapa besar beban (admisi) dan biaya (FKL48)
masing-masing sektor, dan sektor mana yang menjadi prioritas investasi
hulu.

| Tabel A.1 - Beban dan Biaya per Sektor Determinan · Unit: klaim/admisi tertimbang; biaya FKL48 (miliar Rp) |
| Kumulatif 2015-2024, atribusi diagnosis primer |
| Sektor |
Klaim (tertimbang) |
Admisi (tertimbang) |
% admisi |
Biaya total (M Rp) |
Biaya rawat inap (M Rp) |
% biaya |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
13,168,005 |
4,532,770 |
53.5 |
19,898.5 |
15,954.3 |
47.9 |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
4,367,184 |
1,412,699 |
16.7 |
10,059.0 |
6,474.7 |
24.2 |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
10,315,148 |
1,016,126 |
12.0 |
7,581.6 |
5,623.5 |
18.3 |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
2,165,745 |
1,509,228 |
17.8 |
3,968.9 |
3,824.7 |
9.6 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1%) | atribusi diagnosis primer FKL15A | biaya FKL48 verified-paid | tertimbang PSTV15 |



Key takeaway A: Secara kumulatif 2015-2024, biaya FKRTL
determinan-ACSC mencapai Rp 41.5 T (rawat inap Rp 31.9 T).
WASH (air, sanitasi, higiene) adalah sektor terbesar: Rp 19.9
T atau 47.9% dari total. Artinya hampir separuh biaya rawat
inap yang dapat dicegah ini berakar pada masalah air dan sanitasi, ranah
PUPR dan Pemda, bukan rumah sakit.
Pilar B - Sub-kondisi:
kode ICD-10 dan biaya
③ Pilar B · Rincian Kondisi (ICD-10 + Nama) · Biaya per Kondisi
Pertanyaan: Di dalam setiap sektor, kondisi spesifik apa yang
paling membebani, dengan kode ICD-10 dan nama lengkap.
| Tabel B.1 - Rincian Sub-Kondisi per Sektor (kode ICD-10 + nama) · Unit: tertimbang; biaya FKL48 |
| Diurutkan dari biaya tertinggi, kumulatif 2015-2024 |
| Sektor |
Kondisi (ICD-10 + nama) |
Klaim (tertimbang) |
Admisi (tertimbang) |
Biaya (M Rp) |
Rata-rata biaya/klaim (Rp) |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
N20-N23 Batu saluran kemih (urolitiasis) |
6,830,678 |
1,016,137 |
10,308.97 |
1,524,274 |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
A15-A19 Tuberkulosis |
10,155,923 |
969,208 |
7,367.59 |
707,569 |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
A00-A09 Diare & gastroenteritis infeksi |
4,333,128 |
2,358,736 |
6,189.31 |
1,425,796 |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
D60-D64 Anemia aplastik & lain |
1,895,002 |
1,083,015 |
5,008.64 |
2,717,628 |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
D50-D59 Anemia gizi & hemolitik |
2,333,574 |
319,716 |
4,960.30 |
2,103,653 |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
A90-A91 Demam berdarah dengue |
1,968,697 |
1,417,124 |
3,672.52 |
1,879,225 |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
A01 Demam tifoid & paratifoid |
2,004,198 |
1,157,898 |
3,400.25 |
1,694,498 |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
B50-B54 Malaria |
197,048 |
92,104 |
296.38 |
1,462,880 |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
B05 Campak (measles) |
84,813 |
26,174 |
97.57 |
1,261,439 |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
E40-E46 Malnutrisi energi-protein |
138,608 |
9,969 |
90.01 |
525,666 |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
A33-A35 Tetanus |
30,680 |
15,120 |
85.94 |
3,387,379 |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
A37 Pertusis (batuk rejan) |
31,890 |
2,020 |
16.31 |
420,478 |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
A36 Difteri |
11,842 |
3,605 |
14.23 |
1,318,712 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1%) | atribusi diagnosis primer FKL15A | biaya FKL48 verified-paid | tertimbang PSTV15 |


Key takeaway B: Tiga lini biaya teratas: batu saluran kemih
(N20-N23, Rp 10,309.0 M), tuberkulosis (A15-A19, Rp 7,367.6
M), dan diare/gastroenteritis (A00-A09, Rp 6,189.3 M). Dua
dari tiga teratas adalah WASH; urolitiasis terkait dehidrasi kronis dan
kualitas air, diare terkait sanitasi.
Pilar C - Tren temporal
dan pandangan tahun terbaru (2024)
④ Pilar C · Tren Biaya & Admisi per Tahun · Pandangan 2024
Pertanyaan: Bagaimana beban determinan berubah selama 2015-2024,
dan seperti apa potret tahun terbaru (2024) yang paling relevan untuk
kebijakan.

| Tabel C.1 - Tren Tahunan Beban Determinan-ACSC · Unit: tertimbang; rate per 100k peserta JKN |
| Denominator: peserta JKN akhir tahun (BPJS Kesehatan/DJSN) |
| Tahun |
Klaim (tertimbang) |
Admisi (tertimbang) |
Biaya total (M Rp) |
Admisi /100k JKN |
Klaim /100k JKN |
| 2017 |
2,879,020 |
929,229 |
3,972.9 |
494.3 |
1,531.6 |
| 2018 |
3,192,080 |
945,391 |
4,370.5 |
454.4 |
1,534.3 |
| 2019 |
4,409,748 |
1,201,927 |
5,480.2 |
536.2 |
1,967.3 |
| 2020 |
2,947,873 |
753,610 |
3,716.2 |
338.8 |
1,325.1 |
| 2021 |
2,474,799 |
552,215 |
3,128.2 |
234.3 |
1,049.9 |
| 2022 |
3,650,616 |
1,040,730 |
5,252.1 |
418.4 |
1,467.5 |
| 2023 |
4,811,792 |
1,334,757 |
7,203.0 |
499.3 |
1,800.1 |
| 2024 |
5,650,155 |
1,712,965 |
8,384.8 |
616.5 |
2,033.5 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1%) | atribusi diagnosis primer FKL15A | biaya FKL48 verified-paid | tertimbang PSTV15 |

| Tabel C.4 - Biaya per Sektor per Tahun · Unit: biaya FKL48 (miliar Rp) |
| Tahun |
Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
Vektor (Dengue, Malaria) |
WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
| 2,017.0 |
732.6 |
923.8 |
377.4 |
1,939.0 |
| 2,018.0 |
896.3 |
1,033.7 |
319.3 |
2,121.2 |
| 2,019.0 |
1,047.6 |
1,254.4 |
569.9 |
2,608.4 |
| 2,020.0 |
631.9 |
1,096.9 |
382.6 |
1,604.8 |
| 2,021.0 |
490.2 |
1,026.4 |
270.5 |
1,341.0 |
| 2,022.0 |
1,023.2 |
1,248.2 |
536.3 |
2,444.3 |
| 2,023.0 |
1,449.0 |
1,587.3 |
487.6 |
3,679.2 |
| 2,024.0 |
1,310.8 |
1,888.2 |
1,025.3 |
4,160.5 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1%) | atribusi diagnosis primer FKL15A | biaya FKL48 verified-paid | tertimbang PSTV15 |
Pandangan 2024 (tahun
terbaru, paling relevan untuk kebijakan)

| Tabel C.2 - Beban Determinan-ACSC Tahun 2024 · Unit: tertimbang; biaya FKL48 |
| Sektor |
Admisi 2024 (tertimbang) |
Biaya 2024 (M Rp) |
Biaya rawat inap (M Rp) |
% biaya |
Rata-rata biaya/klaim (Rp) |
Kementerian utama |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
910,158 |
4,160.53 |
3,301.30 |
49.6 |
1,573,287 |
Kementerian PUPR (Cipta Karya: air minum & sanitasi), Bappenas, Pemda |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
247,638 |
1,888.18 |
1,193.44 |
22.5 |
2,116,884 |
Bappenas (RAN-PASTI/stunting), BKKBN, Kemensos, Kemenkes Gizi |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
180,915 |
1,310.85 |
987.02 |
15.6 |
821,972 |
Kemenkes Ditjen P2P (Imunisasi), Pemda (cakupan imunisasi) |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
374,254 |
1,025.28 |
991.07 |
12.2 |
1,936,120 |
Kemenkes Ditjen P2P (vektor), Pemda (lingkungan, PSN) |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1%) | atribusi diagnosis primer FKL15A | biaya FKL48 verified-paid | tertimbang PSTV15 |
| Tabel C.3 - 10 Sub-Kondisi dengan Biaya Tertinggi, 2024 · Unit: tertimbang; biaya FKL48 |
| Sektor |
Kondisi (ICD-10) |
Admisi 2024 |
Biaya 2024 (M Rp) |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
N20-N23 Batu saluran kemih (urolitiasis) |
211,766 |
2,208.65 |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
A00-A09 Diare & gastroenteritis infeksi |
510,938 |
1,391.33 |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
A15-A19 Tuberkulosis |
177,488 |
1,281.34 |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
D60-D64 Anemia aplastik & lain |
211,950 |
1,040.40 |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
A90-A91 Demam berdarah dengue |
356,759 |
965.51 |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
D50-D59 Anemia gizi & hemolitik |
34,435 |
816.14 |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
A01 Demam tifoid & paratifoid |
187,454 |
560.55 |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
B50-B54 Malaria |
17,496 |
59.77 |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
E40-E46 Malnutrisi energi-protein |
1,253 |
31.64 |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
A33-A35 Tetanus |
1,215 |
14.58 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1%) | atribusi diagnosis primer FKL15A | biaya FKL48 verified-paid | tertimbang PSTV15 |
Key takeaway C: Pada 2024, biaya determinan-ACSC mencapai
Rp 8.4 T dengan komposisi sektor yang stabil: WASH tetap dominan
(49.6%). Tren naik 2015-2024 sebagian besar mencerminkan
perluasan kepesertaan JKN dan kenaikan tarif, bukan semata
kenaikan insidensi. Stabilitas komposisi antar tahun memperkuat
keandalan prioritas WASH sebagai sasaran investasi.
Pilar D - Demografi:
siapa yang dirawat
⑤ Pilar D · Struktur Usia per Sektor · Beban Balita · Jenis Kelamin
Pertanyaan: Kelompok usia mana yang menanggung beban tiap sektor
determinan, dan seberapa besar beban pada balita dan anak, kelompok yang
paling sensitif terhadap WASH, imunisasi, dan gizi.

| Tabel D.1 - Distribusi Usia Pasien per Sektor · Unit: pasien unik tertimbang |
| Sektor |
Kelompok usia |
Pasien (tertimbang) |
% dalam sektor |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
<5 (balita) |
676,139 |
10.5 |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
5-14 (anak) |
734,766 |
11.4 |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
15-44 (dewasa muda) |
2,616,569 |
40.5 |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
45-64 |
1,828,910 |
28.3 |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
65+ |
608,204 |
9.4 |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
<5 (balita) |
103,540 |
4.7 |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
5-14 (anak) |
205,733 |
9.4 |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
15-44 (dewasa muda) |
894,254 |
41.0 |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
45-64 |
677,343 |
31.0 |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
65+ |
301,831 |
13.8 |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
<5 (balita) |
54,772 |
6.0 |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
5-14 (anak) |
47,393 |
5.2 |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
15-44 (dewasa muda) |
285,219 |
31.3 |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
45-64 |
330,649 |
36.3 |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
65+ |
191,901 |
21.1 |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
<5 (balita) |
83,165 |
5.4 |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
5-14 (anak) |
454,106 |
29.8 |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
15-44 (dewasa muda) |
790,792 |
51.8 |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
45-64 |
164,578 |
10.8 |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
65+ |
33,750 |
2.2 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1%) | atribusi diagnosis primer FKL15A | biaya FKL48 verified-paid | tertimbang PSTV15 |


Key takeaway D: Beban balita tertinggi ada di sektor WASH
(10.5% pasien adalah balita), menegaskan bahwa diare dan infeksi
air-borne menimpa anak terkecil, kelompok dengan risiko kematian dan
stunting tertinggi. Investasi air bersih dan sanitasi karenanya bukan
hanya penghematan biaya rawat inap, melainkan intervensi
tumbuh-kembang anak.
Pilar E - Geografi: di
mana beban terkonsentrasi
⑥ Pilar E · Admisi & Biaya per Provinsi/Pulau · Sektor Dominan per
Wilayah
Pertanyaan: Provinsi dan pulau mana yang menanggung beban
determinan tertinggi, dan determinan mana yang dominan di tiap wilayah,
untuk menargetkan investasi hulu secara geografis.


| Tabel E.1 - 15 Provinsi dengan Densitas Admisi Determinan-ACSC Tertinggi · Unit: admisi/100k peserta JKN |
| Rank |
Provinsi |
Pulau |
Admisi (tertimbang) |
Admisi /100k JKN |
| 1 |
Aceh |
Sumatera |
275,995 |
4,507 |
| 2 |
Bali |
Bali-Nusra |
171,631 |
4,356 |
| 3 |
DKI Jakarta |
Jawa |
503,009 |
3,803 |
| 4 |
Sulawesi Tengah |
Sulawesi |
119,114 |
3,494 |
| 5 |
Jawa Barat |
Jawa |
1,769,551 |
3,465 |
| 6 |
Kalimantan Utara |
Kalimantan |
24,731 |
3,436 |
| 7 |
Sulawesi Utara |
Sulawesi |
99,499 |
3,299 |
| 8 |
Banten |
Jawa |
409,252 |
3,123 |
| 9 |
Sumatera Utara |
Sumatera |
472,102 |
3,075 |
| 10 |
DI Yogyakarta |
Jawa |
126,885 |
2,978 |
| 11 |
Gorontalo |
Sulawesi |
47,884 |
2,923 |
| 12 |
Sumatera Selatan |
Sumatera |
253,741 |
2,920 |
| 13 |
Bengkulu |
Sumatera |
64,805 |
2,915 |
| 14 |
Kalimantan Timur |
Kalimantan |
123,616 |
2,886 |
| 15 |
Sulawesi Selatan |
Sulawesi |
293,270 |
2,860 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1%) | atribusi diagnosis primer FKL15A | biaya FKL48 verified-paid | tertimbang PSTV15 |

| Tabel E.2 - 20 Kabupaten/Kota dengan Admisi Determinan-ACSC Tertinggi · Unit: tertimbang; biaya FKL48 |
| Rank |
Kabupaten/Kota |
Provinsi |
Admisi (tertimbang) |
Biaya (M Rp) |
| 1 |
Kab. Bogor |
Jawa Barat |
202,685 |
1,043.94 |
| 2 |
Kab. Bekasi |
Jawa Barat |
181,337 |
772.87 |
| 3 |
Kota Jakarta Utara |
DKI Jakarta |
179,340 |
1,028.27 |
| 4 |
Kota Surabaya |
Jawa Timur |
157,366 |
890.77 |
| 5 |
Kab. Sukabumi |
Jawa Barat |
154,554 |
782.11 |
| 6 |
Kab. Bandung |
Jawa Barat |
150,427 |
945.58 |
| 7 |
Kota Bekasi |
Jawa Barat |
127,738 |
583.97 |
| 8 |
Kota Tangerang |
Banten |
124,991 |
593.90 |
| 9 |
Kab. Tangerang |
Banten |
120,069 |
874.96 |
| 10 |
Kota Binjai |
Sumatera Utara |
116,215 |
462.36 |
| 11 |
Kota Depok |
Jawa Barat |
114,927 |
722.37 |
| 12 |
Kota Jakarta Timur |
DKI Jakarta |
111,595 |
676.81 |
| 13 |
Kota Jakarta Pusat |
DKI Jakarta |
101,293 |
515.51 |
| 14 |
Kota Bandung |
Jawa Barat |
101,125 |
438.90 |
| 15 |
Kab. Karawang |
Jawa Barat |
98,504 |
424.04 |
| 16 |
Kota Semarang |
Jawa Tengah |
88,854 |
523.15 |
| 17 |
Kab. Sidoarjo |
Jawa Timur |
83,784 |
408.43 |
| 18 |
Kab. Cirebon |
Jawa Barat |
76,727 |
495.97 |
| 19 |
Kota Makassar |
Sulawesi Selatan |
76,221 |
278.61 |
| 20 |
Kab. Toba |
Sumatera Utara |
72,896 |
328.18 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1%) | atribusi diagnosis primer FKL15A | biaya FKL48 verified-paid | tertimbang PSTV15 | kabupaten/kota tempat tinggal (PSTV10) |
Key takeaway E: Densitas admisi (per 100k peserta) tertinggi di
Jawa (3,066/100k) dan terendah di Maluku-Papua
(1,663/100k). Angka Maluku-Papua yang rendah kemungkinan besar
mencerminkan akses terbatas ke FKRTL (under-served), bukan beban
determinan yang rendah, justru wilayah dengan cakupan WASH dan
imunisasi terendah. Komposisi sektor yang berbeda antar pulau
memungkinkan penargetan investasi hulu yang spesifik-wilayah.
Pilar F - Ekonomi:
konsentrasi biaya, INA-CBG, dan sensitivitas atribusi
⑦ Pilar F · Konsentrasi Biaya · INA-CBG · Biaya per Admisi ·
Sensitivitas Primer+SDX
Pertanyaan: Bagaimana biaya terkonsentrasi, paket INA-CBG apa
yang paling mahal, dan seberapa besar batas atas jika diagnosis sekunder
ikut diatribusikan.

| Tabel F.1 - Lama Rawat (LOS) per Sektor Determinan · Unit: hari per admisi |
| Sektor |
Admisi (n sampel) |
LOS rata-rata (hari) |
LOS median (hari) |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
10,786 |
4.8 |
4.0 |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
17,441 |
3.8 |
3.0 |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
17,508 |
3.6 |
3.0 |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
56,956 |
3.1 |
3.0 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1%) | atribusi diagnosis primer FKL15A | biaya FKL48 verified-paid | tertimbang PSTV15 |
| Tabel F.2 - 15 INA-CBG dengan Biaya Tertinggi (klaim determinan-ACSC) · Unit: biaya FKL48 |
| INA-CBG (paket) |
Klaim (sampel) |
Biaya (M Rp) |
Rata-rata biaya (Rp) |
| Penyakit Kronis Kecil Lain-Lain |
148,237 |
4,504.66 |
326,506 |
| Prosedur Pada Uretra Dan Transuretra Ringan |
3,490 |
2,388.64 |
8,205,932 |
| Nyeri Abdomen & Gastroenteritis Lain-Lain (Ringan) |
19,448 |
2,385.97 |
1,755,673 |
| Infeksi Non Bakteri Ringan |
12,368 |
2,252.82 |
2,020,088 |
| Gangguan Sel Darah Merah Selain Krisis Anemia Sel Sickle Ringan |
5,475 |
1,516.60 |
3,448,175 |
| Peradangan Dan Infeksi Pernafasan Ringan |
3,512 |
1,510.87 |
4,558,798 |
| Extracorporeal Shockwave Lithotripsy (Eswl) Pada Saluran Kemih |
3,640 |
1,496.35 |
4,438,385 |
| Penyakit Infeksi Bakteri Dan Parasit Lain-Lain Ringan |
7,195 |
1,455.75 |
2,591,668 |
| Prosedur Transfusi & Terapi Sumsum Tulang |
11,818 |
1,415.66 |
1,195,163 |
| Prosedur Saluran Urin Atas Ringan |
1,497 |
1,340.50 |
10,365,523 |
| Penyakit Infeksi Bakteri Dan Parasit Lain-Lain Ringan |
3,668 |
809.88 |
2,565,474 |
| Peradangan Dan Infeksi Pernafasan Sedang |
1,423 |
788.41 |
5,652,182 |
| Batu Urin Ringan |
2,292 |
765.02 |
3,899,171 |
| Gangguan Sel Darah Merah Selain Krisis Anemia Sel Sickle Ringan |
2,029 |
692.18 |
3,729,719 |
| Prosedur Ultrasound Lain-Lain |
12,138 |
579.61 |
578,538 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1%) | atribusi diagnosis primer FKL15A | biaya FKL48 verified-paid | tertimbang PSTV15 |
Sensitivitas
atribusi: diagnosis primer (basis) vs primer+sekunder (batas atas)
Mengapa dua angka
Angka basis (diagnosis primer) menjawab “berapa admisi yang
memang KARENA kondisi determinan”. Angka batas atas (primer ATAU
sekunder/SDX) menambahkan klaim di mana kondisi determinan menyertai
penyakit lain, mis. anemia pada pasien kanker. Batas atas membesar
terutama untuk nutrisi karena anemia adalah komorbiditas yang
sangat umum, sehingga biaya katastropik penyakit lain ikut tertangkap.
Untuk argumen investasi yang kredibel, gunakan basis; batas atas
hanya menunjukkan potensi maksimum.


Key takeaway F: Atribusi basis (primer) menempatkan biaya
rawat inap determinan-ACSC pada Rp 31.9 T kumulatif; batas
atas (primer+SDX) jauh lebih besar terutama karena anemia sebagai
komorbiditas pada klaim katastropik, sehingga laporan ini sengaja
memakai angka basis yang konservatif. Biaya terkonsentrasi: 52.4%
biaya ditanggung oleh 10% pasien termahal (kasus kronis seperti TB dan
batu saluran kemih berulang).
Pilar H - Overlay
lintas-sektor: cakupan determinan komunitas vs beban JKN
⑨ Pilar H · Riskesdas/SKI Cakupan Determinan · Korelasi Cakupan-Beban ·
Triangulasi
Pertanyaan: Apakah provinsi dengan cakupan determinan hulu yang
buruk (air tak layak, imunisasi rendah, anemia tinggi) juga memikul
beban admisi determinan yang lebih tinggi, jembatan empiris antara hulu
(Riskesdas/SKI komunitas) dan hilir (klaim JKN).
| Tabel H.1 - Cakupan Determinan Komunitas Nasional (Riskesdas 2018, SKI 2023) · Unit: % tertimbang |
| Cakupan hulu di masyarakat, bukan klaim; dasar overlay dengan beban JKN |
| Determinan |
Riskesdas 2018 (%) |
SKI 2023 (%) |
Sektor |
| Sumber air minum layak (improved) |
86.8 |
95.5 |
WASH |
| Cuci tangan setelah buang air (higiene) |
97.4 |
- |
WASH |
| Imunisasi BCG (anak) |
97.1 |
- |
VPD |
| Imunisasi DPT-HiB3 (anak) |
87.9 |
0.0 |
VPD |
| Imunisasi Polio4 (anak) |
83.9 |
- |
VPD |
| Imunisasi Campak/MR (anak) |
68.2 |
- |
VPD |
| Imunisasi Hepatitis B (anak) |
90.9 |
- |
VPD |
| Anemia (Hb < ambang WHO) |
22.7 |
17.0 |
Nutrisi |
| Sumber: ARC AMALGAM harmonized Riskesdas 2018 + SKI 2023 (Data Integrasi Stabil). Anemia dari hemoglobin terukur vs ambang WHO menurut umur/jenis kelamin. Sumber air layak mengikuti klasifikasi JMP (improved/unimproved). |




| Tabel H.2 - 12 Provinsi dengan Cakupan Air Minum Layak Terendah (Riskesdas 2018) · Unit: % komunitas tertimbang |
| Provinsi prioritas untuk investasi WASH hulu |
| Provinsi |
Air layak (%) |
Cuci tangan (%) |
DPT-HiB3 (%) |
Campak/MR (%) |
Anemia (%) |
| Papua Pegunungan |
56.8 |
77.9 |
- |
55.9 |
- |
| Papua Selatan |
62.4 |
88.5 |
93.3 |
58.1 |
- |
| Kepulauan Bangka Belitung |
64.9 |
99.1 |
93.2 |
71.2 |
- |
| Papua Barat |
67.7 |
96.2 |
87.7 |
70.7 |
- |
| Papua Tengah |
71.3 |
95.6 |
84.1 |
71.8 |
- |
| Riau |
75.1 |
98.0 |
84.0 |
69.7 |
27.3 |
| Sulawesi Barat |
77.4 |
98.0 |
78.5 |
57.3 |
- |
| Papua Barat Daya |
78.8 |
87.5 |
- |
59.4 |
- |
| Kalimantan Barat |
79.8 |
97.2 |
81.9 |
58.5 |
- |
| Sumatera Barat |
80.2 |
96.8 |
78.9 |
62.8 |
28.3 |
| Bengkulu |
81.4 |
98.1 |
91.4 |
78.8 |
- |
| Lampung |
81.7 |
97.6 |
93.8 |
72.0 |
18.3 |
| Sumber: ARC AMALGAM harmonized Riskesdas 2018. Cakupan rendah = sasaran investasi determinan prioritas. |
Key takeaway H: Nasional 2018: cakupan air minum layak
86.8%, imunisasi DPT-HiB3 87.9%, campak/MR 68.2%,
anemia 22.7%. Gradien perdesaan-perkotaan pada air layak
konsisten dengan beban WASH yang terkonsentrasi pada wilayah kurang
terlayani. Overlay provinsi menunjukkan hubungan yang tidak
sederhana (dipengaruhi akses FKRTL): provinsi maju punya cakupan
determinan baik DAN akses RS baik, sehingga klaim tinggi; provinsi
tertinggal punya determinan buruk tetapi klaim rendah karena
under-served. Karena itu, beban JKN menggambarkan batas bawah
beban determinan sejati di wilayah miskin.
Pilar I - Argumen
investasi antar-kementerian
⑩ Pilar I · Biaya yang Dapat Dihindari per Sektor · Routing K/L ·
Skenario
Pertanyaan: Berapa potensi penghematan rawat inap JKN bila
determinan hulu diperbaiki, dan ke kementerian/lembaga mana argumen
investasi itu ditujukan.
| Tabel I.1 - Argumen Investasi Antar-Kementerian: Biaya Rawat Inap yang Berakar Determinan · Unit: biaya FKL48 rawat inap (miliar Rp) |
| Kumulatif 2015-2024. Tiap rupiah ini berpotensi dihindari lewat investasi determinan hulu. |
| Sektor |
Admisi kumulatif (tertimbang) |
Biaya rawat inap kumulatif (M Rp) |
% biaya |
Kementerian/Lembaga penanggung jawab |
| WASH (Air, Sanitasi, Higiene) |
4,532,770 |
15,954.3 |
47.9 |
Kementerian PUPR (Cipta Karya: air minum & sanitasi), Bappenas, Pemda |
| Nutrisi (Anemia, Gizi Buruk) |
1,412,699 |
6,474.7 |
24.2 |
Bappenas (RAN-PASTI/stunting), BKKBN, Kemensos, Kemenkes Gizi |
| Dapat Dicegah Imunisasi (VPD) |
1,016,126 |
5,623.5 |
18.3 |
Kemenkes Ditjen P2P (Imunisasi), Pemda (cakupan imunisasi) |
| Vektor (Dengue, Malaria) |
1,509,228 |
3,824.7 |
9.6 |
Kemenkes Ditjen P2P (vektor), Pemda (lingkungan, PSN) |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (schema reguler, sampel rumah tangga 1%) | atribusi diagnosis primer FKL15A | biaya FKL48 verified-paid | tertimbang PSTV15 |

Rekomendasi routing antar-kementerian (berdasarkan basis biaya
primer kumulatif 2015-2024):
· WASH Rp 16.0 T rawat inap
-> Kementerian PUPR (air minum & sanitasi, Cipta Karya),
Bappenas, dan Pemda. Prioritas: provinsi dengan cakupan air layak
terendah (Tabel H.2).
· Nutrisi Rp 6.5 T rawat inap ->
Bappenas (RAN-PASTI/stunting), BKKBN, Kemensos,
Kemenkes Gizi. Fokus: anemia ibu/anak dan malnutrisi.
· VPD Rp
5.6 T rawat inap -> Kemenkes Ditjen P2P (Imunisasi) dan
Pemda. TB mendominasi; perkuat cakupan imunisasi rutin dan penemuan
kasus TB.
· Vektor Rp 3.8 T rawat inap -> Kemenkes
Ditjen P2P (vektor) dan Pemda (pengendalian lingkungan, PSN). Dengue
mendominasi.
Key takeaway I: Beban rawat inap determinan-ACSC Rp 31.9 T
(kumulatif 2015-2024, basis primer konservatif) adalah anggaran
kesehatan yang sebagian dapat dihindari oleh investasi di luar
Kemenkes. Bahkan skenario penghematan konservatif (20% admisi yang
dapat dihindari) menyiratkan penghematan tahunan ratusan miliar
hingga di atas satu triliun rupiah, pembenaran kuantitatif untuk
penganggaran lintas-sektor (PUPR untuk air, Bappenas/BKKBN untuk gizi,
P2P untuk imunisasi dan vektor) sebagai investasi pencegahan, bukan
biaya.
Keterbatasan
Keterbatasan yang harus dibaca bersama setiap angka.
1.
Klaim bukan insidensi komunitas. Hanya kasus yang sampai ke FKRTL
dan diklaimkan. Beban determinan sejati lebih besar, terutama di wilayah
under-served (Maluku-Papua).
2. Atribusi diagnosis primer
bersifat konservatif. Beban determinan yang muncul sebagai
komorbiditas (mis. anemia pada banyak penyakit) tidak dihitung dalam
angka basis; batas atas (Pilar F) menunjukkan potensi maksimumnya.
3. Tren naik dipengaruhi perluasan JKN dan tarif, bukan
semata kenaikan insidensi. Gunakan komposisi sektor dan level 2024,
bukan kemiringan tren.
4. Skenario penghematan bersifat
ilustratif, bukan estimasi kausal; pangsa admisi yang benar-benar
dapat dihindari memerlukan studi efektivitas intervensi determinan.
5. Overlay Riskesdas/SKI memakai self-report dan Hb terukur;
korelasi cakupan-beban per provinsi terdistorsi oleh perbedaan akses
FKRTL antar-wilayah.
6. Schema reguler adalah sampel 1%;
angka tertimbang adalah proyeksi nasional dengan ketidakpastian
sampling, lebih andal untuk agregat besar daripada sel kecil (mis.
difteri, tetanus).
Catatan reproduksibilitas
Engine: engine_beyondphc.R (PostgreSQL
bpjs_data, schema reguler, biaya FKL48). Overlay:
riskesdas_xsector.R (Riskesdas 2018 + SKI 2023 harmonized).
Bundle: beyondphc_aggregates.rds. Setiap figur menyimpan
tabel pendamping CSV di outputs/, plus master
beyondphc_master_tables.xlsx. Atribusi: diagnosis primer
FKL15A (basis) + sensitivitas primer+SDX (batas atas). Bobot PSTV15.
Dibangun 21 June 2026.