Unit analisis (tercantum di tiap tabel/figur). Dokumen ini memakai unit yang berbeda menurut sumber, perhatikan badge Unit: …: (1) Headcount tenaga = posisi nakes per fasilitas (DREAMS, dapat ganda jika satu nakes bekerja di >1 faskes); (2) Rumah sakit = unit fasilitas (SIRS, deklarasi layanan); (3) Kabupaten/kota = unit wilayah (n=514, untuk cakupan & gurun layanan); (4) Klaim / pasien / biaya tertimbang = pembiayaan FKRTL JKN usia <18 (proyeksi nasional, FKL48 x bobot PSTV15).

Cara baca. Kepadatan tenaga dinyatakan per 100.000 penduduk total (konvensi WHO) dan, untuk kader inti anak, juga per 100.000 anak usia 0-17 (estimasi 29,7% penduduk, BPS, agar denominatornya selaras dengan kohor klaim JKN usia 0-17), ditandai eksplisit. Angka pembiayaan adalah proyeksi nasional tertimbang dari sampel reguler BPJS, bukan total belanja JKN. Setting rawat jalan vs rawat inap memakai bendera kanonik FKL10 (1=rawat jalan, 2=rawat inap). Senjang data dilaporkan terbuka di tiap pilar dan di bagian Keterbatasan.

Tentang laporan ini. Analisis sisi pasokan (kapasitas sistem kesehatan) untuk kesehatan anak di Indonesia, kerangka enam pilar sistem kesehatan WHO ditutup sintesis Ketersediaan, Keterjangkauan, Mutu (AAQ). Ini adalah cermin awal-hayat dari analisis sisi pasokan lansia/perawatan jangka panjang (ARC12.4): lensa building-block yang sama, di ujung kehidupan yang berlawanan. Pertanyaan inti: apakah sistem punya tenaga, fasilitas, obat/imunisasi, informasi, pembiayaan, dan tata kelola untuk merawat anak, dan seberapa timpang sebarannya antarwilayah dan antara kota dengan kabupaten.

Peta pilar (navigasi): Fondasi (kerangka, denominator, sumber) · 1 Penyediaan layanan (RS anak/neonatal, NICU/PICU, gurun layanan) · 2 Tenaga kesehatan (kepadatan, Gini, kota-vs-kabupaten, gurun tenaga) · 3 Sistem informasi · 4 Akses obat & imunisasi · 5 Pembiayaan (belanja JKN anak, usia, setting, diagnosis, ekuitas) · 6 Tata kelola · lalu Skor AAQ, Treatment gap, Kerangka rujukan & Keterbatasan.

1 Fondasi: kerangka, denominator, dan sumber

① Fondasi · Enam Pilar WHO · Denominator BPS · Sumber Data · Cermin LTC
Inti: Mendefinisikan kerangka building-block, denominator populasi anak, sumber tiap pilar, serta kerangka keterbatasan data pasokan.
Kerangka & denominator
Enam pilar sistem kesehatan WHO (Everybody’s Business, 2007): penyediaan layanan, tenaga kesehatan, sistem informasi, akses produk medis/vaksin, pembiayaan, kepemimpinan/tata kelola. Denominator: proyeksi BPS 2025 284,438,930 jiwa di 514 kabupaten/kota; estimasi anak usia 0-17 = 84,478,362 (29,7% BPS, selaras kohor klaim JKN 0-17). Kepadatan tenaga dihitung per 100.000 penduduk total (konvensi WHO) dan per 100.000 anak 0-17 (ditandai). Sumber: SDM = DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025; fasilitas = SIRS 2025-10-18 (3,275 RS); pembiayaan = Data Sampel BPJS (klaim FKRTL usia <18). Kontras dengan LTC lansia (ARC12.4) ditarik di tiap pilar sebagai cermin awal-hayat.
Tabel F.0: Sumber Data per Pilar Unit: campuran (lihat kolom)
Pilar Sumber Unit Cakupan
1 Layanan SIRS 2025-10-18 Rumah sakit 3,275 RS, deklarasi layanan
2 Tenaga DREAMS/SI-SDMK 2025 Headcount nakes 8 kader anak/neonatal/MNCH
3 Informasi SI-SDMK (SIP) + catatan program Izin praktik Proksi kelengkapan registrasi
4 Obat & imunisasi Fornas + Program Imunisasi Nasional - Imunisasi non-klaim (di luar data)
5 Pembiayaan Data Sampel BPJS 2015-2024 Klaim/pasien/biaya tertimbang FKRTL usia <18
6 Tata kelola Kompilasi regulasi Instrumen kebijakan UU/PP/Permenkes kunci
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024
Catatan kerangka: Sisi pasokan menjawab “apakah sistem mampu merawat”, bukan “siapa yang terlayani”. Indikator hasil langsung (cakupan imunisasi, tumbuh-kembang, kematian neonatal) berada di sistem program vertikal (Posyandu/EPPGBM, registri imunisasi) yang tidak tertangkap data fasilitas/klaim. Laporan ini karena itu bertumpu pada proksi tenaga, fasilitas, dan belanja kuratif, dengan senjang dilaporkan terbuka.

2 Pilar 1, Penyediaan layanan

① Pilar 1 · Layanan Anak/Neonatal di RS · NICU/PICU · Kelas RS · Pulau · Gurun Layanan per Kabupaten
Pertanyaan: Berapa RS menyediakan layanan anak, neonatologi, perinatologi, perawatan intensif neonatal/anak (NICU/PICU), bagaimana profilnya menurut kelas RS, kepemilikan, dan pulau, serta seberapa banyak wilayah tanpa akses.

2.1 Ketersediaan layanan nasional

Tabel 1.1: Ketersediaan Layanan Anak/Neonatal di RS Unit: Rumah sakit
Layanan RS menyediakan % dari semua RS
Kesehatan anak 2,992 91.4
Perinatologi 1,925 58.8
Neonatologi 539 16.5
Bedah anak 440 13.4
Kardiologi anak 207 6.3
Keswa anak & remaja 248 7.6
Tumbuh kembang anak 786 24.0
NICU (ada) 2,577 78.7
PICU (ada) 1,992 60.8
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

2.2 Gurun layanan per kabupaten

Tabel 1.2: Cakupan Layanan menurut Kabupaten/Kota (gurun layanan) n=514 · Unit: Kabupaten/kota
Layanan Kab dgn layanan % kab ada % kab nihil % pop tercakup
Kesehatan anak 455 88.5 11.5 97.0
NICU 423 82.3 17.7 94.7
PICU 376 73.2 26.8 90.8
Neonatologi 229 44.6 55.4 71.2
Bedah Anak 123 23.9 76.1 48.1
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

2.6 Gurun NICU per pulau

Tabel 1.6: Kabupaten/Kota Tanpa NICU menurut Pulau Unit: Kabupaten/kota
Pulau Kab/kota tanpa NICU
Maluku-Papua 42
Sumatera 21
Sulawesi 12
Kalimantan 11
Bali-Nusra 4
Jawa 1
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

2.7 Cakupan publik vs swasta (NICU/PICU/Neonatologi)

Tabel 1.7: Cakupan Layanan Intensif Neonatal/Anak, Semua RS vs RS Publik n=514 · Unit: Kabupaten/kota
Layanan Sektor Kab tercakup % kab tercakup % kab nihil % pop tercakup
NICU Semua RS 423 82.3 17.7 94.7
NICU RS publik saja 401 78.0 22.0 91.4
PICU Semua RS 376 73.2 26.8 90.8
PICU RS publik saja 344 66.9 33.1 84.8
Neonatologi Semua RS 229 44.6 55.4 71.2
Neonatologi RS publik saja 143 27.8 72.2 45.4
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 | RS publik = pemilik pemerintah/TNI-POLRI/BUMN. Kab tercakup hanya-swasta = selisih baris.

2.8 Komposisi kepemilikan RS ber-NICU

Tabel 1.8: Kepemilikan RS Ber-NICU Unit: Rumah sakit
Kepemilikan Sektor RS ber-NICU Pangsa
SWASTA/LAINNYA Swasta/lainnya 782 30.3
Pemkab Publik 471 18.3
Perusahaan Swasta/lainnya 457 17.7
Organisasi Sosial Swasta/lainnya 233 9.0
Organisasi Islam Swasta/lainnya 108 4.2
Pemprop Publik 105 4.1
Pemkot Publik 101 3.9
Perorangan Swasta/lainnya 56 2.2
TNI AD Publik 54 2.1
POLRI Publik 45 1.7
Organisasi Katholik Swasta/lainnya 39 1.5
BUMN Publik 29 1.1
Kemkes Publik 26 1.0
Kementerian Lain Publik 24 0.9
Organisasi Protestan Swasta/lainnya 22 0.9
TNI AL Publik 12 0.5
TNI AU Publik 11 0.4
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024
Caveat ketersediaan layanan (deklarasi mandiri). Angka SIRS adalah deklarasi mandiri RS tanpa audit pihak ketiga, sehingga model ini cenderung melebih-taksir ketersediaan layanan spesialistik. NICU “ada” (78.7% RS) jauh lebih tinggi dari estimasi NICU fungsional nasional (Kemenkes/WHO ~500-600 RS sekitar 2020); ketersediaan di sini berarti “menyatakan punya bed”, bukan kapasitas terstaf/teralat tervalidasi. Cakupan kabupaten karena itu sebaiknya dibaca sebagai batas atas akses, perlu triangulasi ASPAK/audit Kemenkes. Selain itu, ~2.50%% RS memiliki kode wilayah yang tidak cocok dengan kode BPS kab (diturunkan dari ID registrasi SIRS); pengaruhnya kecil terhadap angka nasional tetapi dapat menggeser hitungan per kabupaten.
Inti Pilar 1: Layanan anak relatif luas, 91.4% RS punya layanan kesehatan anak dan 88.5% kabupaten/kota tercakup, jauh lebih baik dari layanan geriatri lansia. NICU dinyatakan tersedia (deklarasi mandiri) di 78.7% RS (82.3% kab), PICU 60.8% RS, namun angka ini cenderung melebih-taksir kapasitas fungsional (lihat caveat). Tingkat akut/subspesialistik tetap terpusat: neonatologi terdedikasi nihil di 55.4% kab dan bedah anak nihil di 76.1% kab. Jika dibatasi RS publik, cakupan kabupaten neonatologi turun ke 27.8% (dari 44.6%), menandai ketergantungan kuat pada sektor swasta. Kapasitas NICU/PICU memuncak di RS kelas B/C dan hampir tidak ada di D Pratama; antarpulau Jawa mendominasi jumlah absolut dan Maluku-Papua paling tipis.

3 Pilar 2, Tenaga kesehatan

② Pilar 2 · Kepadatan SDM Anak · Gurun Tenaga · Gini · Kota vs Kabupaten · Pulau · Provinsi · Bauran Faskes
Pertanyaan: Apakah ada cukup dokter anak, neonatolog, intensivis anak, perawat anak, dan bidan, dan seberapa timpang sebarannya antarkabupaten, antarpulau, dan antara kota dengan kabupaten.

3.1 Kepadatan nasional

Tabel 2.1: Tenaga Kesehatan Anak Nasional (2025) headcount + izin praktik · Unit: Headcount
Tenaga Headcount SIP per 100k pop per 100k anak (0-17) 1 tenaga melayani (jiwa)
Dokter Spesialis Anak (Sp.A) 4,712 10,486 1.66 5.58 60,365
Subsp. Neonatologi 124 249 0.04 0.15 2,293,862
Subsp. Emergensi & Rawat Intensif Anak 52 115 0.02 0.06 5,469,979
Perawat Kesehatan Anak 19,400 20,502 6.82 22.96 14,662
Bidan Klinis 272,050 306,794 95.64 322.04 1,046
Bidan Desa 64,746 72,013 22.76 76.64 4,393
Dokter Spesialis Bedah Anak (Sp.BA) 165 471 0.06 0.20 1,723,872
Dokter Gigi Spesialis Anak (Sp.KGA) 703 1,493 0.25 0.83 404,607
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 | per 100k anak atas estimasi 29,7% penduduk usia 0-17 (selaras kohor klaim JKN)

3.2 Gurun tenaga & konsentrasi (Gini)

Tabel 2.2: Cakupan & Konsentrasi Tenaga n=514 kab · Jawa=55.60% populasi pembanding · Unit: Kabupaten/kota
Tenaga % kab ada % kab nihil % headcount di Jawa Gini antar-kab
Dokter Spesialis Anak (Sp.A) 92.8 7.2 59.4 0.708
Subsp. Neonatologi 12.3 87.7 58.1 0.927
Subsp. Emergensi & Rawat Intensif Anak 5.4 94.6 61.5 0.963
Perawat Kesehatan Anak 96.5 3.5 61.8 0.699
Bidan Klinis 100.0 0.0 35.2 0.409
Bidan Desa 96.1 3.9 34.0 0.525
Dokter Spesialis Bedah Anak (Sp.BA) 14.6 85.4 70.9 0.906
Dokter Gigi Spesialis Anak (Sp.KGA) 25.3 74.7 81.7 0.918
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

3.3 Kota vs kabupaten

Tabel 2.3: Kepadatan Tenaga Anak, Kota vs Kabupaten Unit: Headcount
Tenaga Wilayah Headcount per 100k
Bidan Desa Kabupaten 63,219 28.26
Bidan Desa Kota 1,527 2.51
Dokter Spesialis Anak (Sp.A) Kabupaten 1,977 0.88
Dokter Spesialis Anak (Sp.A) Kota 2,735 4.50
Dokter Spesialis Bedah Anak (Sp.BA) Kabupaten 53 0.02
Dokter Spesialis Bedah Anak (Sp.BA) Kota 112 0.18
Perawat Kesehatan Anak Kabupaten 10,224 4.57
Perawat Kesehatan Anak Kota 9,176 15.11
Subsp. Emergensi & Rawat Intensif Anak Kabupaten 7 0.00
Subsp. Emergensi & Rawat Intensif Anak Kota 45 0.07
Subsp. Neonatologi Kabupaten 33 0.01
Subsp. Neonatologi Kota 91 0.15
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

3.5 Dokter Sp.A menurut provinsi

3.6 Bauran fasilitas (Sp.A & perawat anak)

3.7 Gurun tenaga inti per pulau

Tabel 2.5: Kabupaten Tanpa Kader Inti Anak menurut Pulau Unit: Kabupaten/kota
Pulau Kader Kab tanpa kader
Sumatera Bedah anak 140
Sulawesi Bedah anak 79
Jawa Bedah anak 72
Maluku-Papua Bedah anak 61
Kalimantan Bedah anak 50
Bali-Nusra Bedah anak 37
Maluku-Papua Dokter Sp.A 39
Sumatera Dokter Sp.A 8
Kalimantan Dokter Sp.A 5
Sulawesi Dokter Sp.A 5
Bali-Nusra Dokter Sp.A 1
Sumatera Intensivis anak (ERIA) 147
Jawa Intensivis anak (ERIA) 104
Sulawesi Intensivis anak (ERIA) 80
Maluku-Papua Intensivis anak (ERIA) 63
Kalimantan Intensivis anak (ERIA) 53
Bali-Nusra Intensivis anak (ERIA) 39
Sumatera Neonatolog 142
Jawa Neonatolog 85
Sulawesi Neonatolog 76
Maluku-Papua Neonatolog 63
Kalimantan Neonatolog 50
Bali-Nusra Neonatolog 36
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024
Inti Pilar 2: Indonesia punya 4,712 dokter spesialis anak (Sp.A) (5.58/100k anak; 7.2% kab tanpa Sp.A, Gini 0.71), ditopang garis depan kuat: 272,050 bidan klinis dan 19,400 perawat anak. Kontras tajam dengan LTC lansia (hanya segelintir geriatris nasional): sistem awal-hayat jauh lebih terbangun. Tingkat akut tetap langka, neonatolog hanya 124 (87.7% kab nihil, Gini 0.93) dan intensivis anak (ERIA) 52 (94.6% kab nihil). Dua pola geografis berlawanan: dokter spesialis padat di kota (4.50 vs 0.88/100k), bidan desa justru paling padat di luar Jawa.

4 Pilar 3, Sistem informasi

③ Pilar 3 · Registrasi/Izin Praktik (SIP) · Rasio SIP:Headcount · Senjang Registri
Pertanyaan: Seberapa lengkap pencatatan tenaga (izin praktik vs headcount), dan ukuran hasil anak apa yang berada di sistem program di luar data fasilitas/klaim.

Tabel 3.1: Izin Praktik (SIP) vs Headcount proksi kelengkapan pencatatan · Unit: Headcount/izin
Tenaga Headcount SIP Rasio SIP:Headcount
Dokter Spesialis Anak (Sp.A) 4,712 10,486 2.23
Subsp. Neonatologi 124 249 2.01
Subsp. Emergensi & Rawat Intensif Anak 52 115 2.21
Perawat Kesehatan Anak 19,400 20,502 1.06
Bidan Klinis 272,050 306,794 1.13
Bidan Desa 64,746 72,013 1.11
Dokter Spesialis Bedah Anak (Sp.BA) 165 471 2.85
Dokter Gigi Spesialis Anak (Sp.KGA) 703 1,493 2.12
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024
Senjang sistem informasi. Pencatatan tenaga (SIP) tersedia dan rasio izin-ke-headcount tinggi pada dokter spesialis (praktik di banyak tempat), tetapi data tumbuh-kembang anak (Posyandu/EPPGBM), cakupan imunisasi per anak, dan registri kelainan kongenital/kematian neonatal sebagian besar berada di sistem program (bukan klaim). Tempat tidur NICU/PICU hanya terisi parsial di SIRS, sehingga ketersediaan dilaporkan sebagai ada/tidak, bukan jumlah bed tervalidasi. Perencanaan bertumpu pada proksi tenaga & fasilitas, bukan ukuran hasil langsung.

5 Pilar 4, Akses obat & imunisasi

④ Pilar 4 · Obat Esensial Anak & Vaksin (terbatas data klaim)
Pertanyaan: Apakah obat esensial anak tersedia, dan mengapa cakupan imunisasi tidak terlihat dari klaim JKN.
Tabel 4.1: Akses Obat Esensial & Imunisasi Anak Unit: komponen program
Komponen Jalur Visibilitas di data ini
Antibiotik anak (amoksisilin, dll) Fornas / formularium RS Tidak terinci di klaim agregat
Oralit + zinc (diare) Program & Fornas Tidak terlihat (paket primer)
Terapi pneumonia balita Fornas / MTBS Sebagian via klaim RS
Imunisasi dasar & lanjutan Program Imunisasi Nasional (non-klaim) TIDAK terlihat di klaim JKN
Vitamin A / suplementasi gizi Program gizi (Posyandu) Di luar data fasilitas/klaim
Cairan & kegawatan neonatal RS (PONEK/NICU) Via klaim RS (kuratif)
Kompilasi jalur penyediaan. Cakupan imunisasi terukur lewat survei/registri program, bukan klaim.
Inti Pilar 4 (terbatas data): Obat esensial anak (antibiotik, oralit/zinc untuk diare, terapi pneumonia, cairan) umumnya tersedia di Fornas. Inti pencegahan anak adalah imunisasi, yang disalurkan lewat Program Imunisasi Nasional (non-klaim) sehingga cakupannya TIDAK terlihat di klaim JKN (terukur lewat survei/registri program). Ini sejajar dengan senjang program vertikal pada tema lain: klaim JKN menangkap layanan kuratif, bukan cakupan preventif. Implikasinya, kesiapan pasokan preventif anak tidak dapat dinilai dari data ini dan memerlukan triangulasi data program.

6 Pilar 5, Pembiayaan

⑤ Pilar 5 · Belanja JKN Anak per Tahun · Usia · Setting · Segmen · Diagnosis · Ekuitas Provinsi
Pertanyaan: Berapa besar belanja FKRTL JKN untuk anak, bagaimana distribusinya menurut kelompok usia, setting (rawat jalan vs inap), segmen kepesertaan, penyakit, dan wilayah.

6.1 Tren belanja per tahun

Tabel 5.1: Belanja FKRTL JKN Anak per Tahun Unit: klaim/pasien (sampel) & biaya tertimbang
Tahun Klaim (sampel) Pasien (sampel) Belanja (miliar Rp, tertimbang) Rerata/klaim (Rp)
2015 54,245 24,365 6,658 1,298,934
2016 74,763 32,942 8,376 1,278,183
2017 95,885 34,341 7,808 1,018,196
2018 103,681 35,558 7,593 941,398
2019 116,380 40,375 8,343 1,017,019
2020 76,127 28,292 5,336 1,236,004
2021 88,836 29,638 5,645 1,233,558
2022 142,810 43,615 7,831 1,033,527
2023 190,522 54,037 10,967 1,054,293
2024 220,553 62,619 12,601 1,029,814
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

6.4 Rerata biaya per klaim: usia x setting

Tabel 5.3c: Rerata Biaya per Klaim, Usia x Setting Unit: klaim (sampel) & biaya per klaim
Kelompok usia Setting Klaim (sampel) Rerata/klaim (Rp)
0 Neonatus/bayi (<1) Rawat Inap 55,970 4,805,997
0 Neonatus/bayi (<1) Rawat Jalan 51,805 229,803
1 Balita (1-4) Rawat Inap 74,273 3,741,049
1 Balita (1-4) Rawat Jalan 295,521 225,817
2 Usia sekolah (5-9) Rawat Inap 50,585 3,718,001
2 Usia sekolah (5-9) Rawat Jalan 253,009 304,329
3 Pra-remaja (10-14) Rawat Inap 37,884 4,090,581
3 Pra-remaja (10-14) Rawat Jalan 181,589 308,734
4 Remaja (15-17) Rawat Inap 28,162 4,194,629
4 Remaja (15-17) Rawat Jalan 135,004 290,107
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 | rerata biaya per klaim (FKL48), bukan tertimbang
Tabel 5.3: Belanja FKRTL JKN Anak menurut Setting FKL10: 1=rawat jalan, 2=rawat inap · Unit: biaya tertimbang
Setting Klaim (sampel) Pasien (sampel) Belanja (miliar Rp) Rerata/klaim (Rp)
Rawat Inap 246,874 152,677 63,300 4,083,145
Rawat Jalan 916,928 181,089 17,857 273,593
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

6.6 Diagnosis rawat inap & rawat jalan tersering

Tabel 5.5: 15 Diagnosis Rawat Inap Anak Tersering Unit: klaim/pasien (sampel) & biaya tertimbang
ICD-10 Penyakit Klaim (sampel) Pasien (sampel) Belanja (miliar Rp)
R50 Fever, unspecified 41,038 32,832 7,013.6
A09 Diarrhoea and gastroenteritis of presumed infectious origin 13,996 12,627 1,631.6
P03 Fetus and newborn affected by caesarean delivery 12,591 12,575 1,753.4
R11 Nausea and vomiting 8,341 7,384 1,340.9
J18 Bronchopneumonia, unspecified 8,094 6,859 1,822.4
R56 Febrile convulsions 6,749 5,495 1,224.3
A01 Typhoid fever 5,596 5,228 1,251.5
A91 Dengue haemorrhagic fever 5,147 5,049 1,053.7
P21 Birth asphyxia, unspecified 3,591 3,547 582.3
P59 Neonatal jaundice, unspecified 3,511 3,445 437.1
R10 Other and unspecified abdominal pain 3,224 2,913 719.7
P22 Respiratory distress syndrome of newborn 2,768 2,678 521.5
P07 Other low birth weight 2,727 2,675 573.1
D56 Thalassaemia 2,567 189 892.4
A90 Dengue fever [classical dengue] 2,536 2,492 507.5
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 | nama dari icd3_label; kode Z dikecualikan

Tabel 5.6: 15 Diagnosis Rawat Jalan Anak Tersering Unit: klaim/pasien (sampel)
ICD-10 Penyakit Klaim (sampel) Pasien (sampel)
R50 Fever, unspecified 45,446 27,989
F80 Developmental disorder of speech and language, unspecified 43,622 2,305
G40 Epilepsy 34,520 2,429
K04 Pulpitis 26,622 6,689
D56 Thalassaemia 12,981 278
R62 Delayed milestone 11,130 1,151
H52 Disorder of refraction, unspecified 10,682 7,358
J06 Acute upper respiratory infection, unspecified 10,339 5,898
J45 Asthma, unspecified 10,036 4,338
A16 Respiratory tuberculosis, not confirmed bacteriologically or histologically 9,302 2,410
J18 Bronchopneumonia, unspecified 9,037 5,035
A09 Diarrhoea and gastroenteritis of presumed infectious origin 8,632 7,166
G80 Cerebral palsy 8,124 466
K02 Caries of dentine 7,836 2,844
A15 Respiratory tuberculosis, bacteriologically and histologically confirmed 7,379 2,106
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 | nama dari icd3_label; kode Z dikecualikan

6.7 Keparahan rawat inap

6.8 Ekuitas: anak terlayani per provinsi

Tabel 5.7: 15 Provinsi dengan Anak Terlayani Terbanyak Unit: pasien/klaim (sampel) & biaya tertimbang
Provinsi Pulau Anak terlayani (sampel) Klaim (sampel) Belanja (miliar Rp)
JAWA BARAT Jawa 32,460 194,782 15,908.9
JAWA TENGAH Jawa 28,923 175,711 10,618.3
JAWA TIMUR Jawa 24,551 123,757 9,818.9
SUMATERA UTARA Sumatera 11,389 44,296 2,816.8
SULAWESI SELATAN Sulawesi 9,942 43,592 3,030.9
DKI JAKARTA Jawa 8,745 56,105 6,104.9
ACEH Sumatera 8,532 31,530 3,297.3
SUMATERA SELATAN Sumatera 8,386 35,811 2,078.6
BANTEN Jawa 7,324 45,741 4,460.7
BALI Bali-Nusra 6,697 33,447 1,337.5
KALIMANTAN TIMUR Kalimantan 6,602 36,636 1,899.8
RIAU Sumatera 6,348 31,690 1,863.0
SUMATERA BARAT Sumatera 6,097 34,363 1,791.6
LAMPUNG Sumatera 5,630 23,492 1,958.6
KALIMANTAN SELATAN Kalimantan 5,114 24,622 1,184.2
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 | provinsi via PSTV09 tempat tinggal peserta
Inti Pilar 5: Belanja rumah sakit JKN untuk anak mencapai sekitar Rp 12.60 triliun pada 2024 dan ~Rp 81.16 triliun kumulatif 2015-2024 (proyeksi tertimbang), tumbuh tajam pasca-pandemi. Belanja terkonsentrasi pada balita & usia sekolah dari sisi volume, namun neonatus/bayi berbiaya tertinggi per klaim (perawatan intensif neonatal). Dengan klasifikasi setting yang benar (FKL10), rawat inap menyerap ~78.0% belanja meski hanya ~21% volume klaim, rerata biaya per klaim rawat inap (~Rp 4.08 juta) sekitar 15 kali rawat jalan. Berbeda dari LTC lansia, pembiayaan kuratif anak mengalir lewat JKN; sisi pencegahan (imunisasi, gizi, Posyandu) dibiayai program publik di luar JKN dan tidak terlihat di sini.

7 Pilar 6, Kepemimpinan & tata kelola

⑥ Pilar 6 · Instrumen Tata Kelola Kesehatan Anak
Pertanyaan: Apakah kerangka kebijakan & tata kelola kesehatan anak memadai, dan di mana senjang implementasinya.
Tabel 6.1: Instrumen Tata Kelola Kesehatan Anak Unit: instrumen kebijakan
Instrumen Fokus Status
UU 35/2014 jo UU 23/2002 Perlindungan Anak Hak anak termasuk kesehatan Berlaku
UU 17/2023 Kesehatan + PP 28/2024 Kesehatan ibu, bayi, anak (klaster usia) Berlaku (baru)
Permenkes MTBS/MTBM (IMCI) Manajemen terpadu balita sakit di primer Berlaku
Program Imunisasi Nasional Imunisasi dasar & lanjutan Berlaku (non-klaim)
Posyandu / Posyandu Prima (ILP) Pemantauan tumbuh kembang berbasis komunitas Berlaku, di luar data fasilitas
PONEK/PONED & rujukan neonatal Kegawatan maternal-neonatal Berlaku, implementasi tak merata
Strategi Nasional Penurunan Stunting Gizi anak lintas sektor Berlaku
Kompilasi regulasi kunci.
Inti Pilar 6: Kerangka kebijakan anak relatif lengkap (UU Perlindungan Anak, UU 17/2023 klaster usia, MTBS, Program Imunisasi, Posyandu, Stranas Stunting), berbeda dari LTC yang tak punya UU/pembiayaan khusus. Senjang utama bukan ketiadaan kebijakan, melainkan implementasi yang tak merata, terutama rujukan neonatal (PONEK) dan tingkat intensif (NICU/neonatolog) di luar Jawa.

8 Skor AAQ, sintesis kesiapan sistem

★ Ketersediaan, Keterjangkauan, Mutu menurut Pilar
Inti: Merangkum enam pilar menjadi tiga dimensi kesiapan layanan, Ketersediaan (apakah ada), Keterjangkauan (apakah merata/terjangkau), Mutu (apakah pada tingkat dan tempat yang tepat).
Tabel AAQ: Skor Kesiapan Sistem Kesehatan Anak Indonesia (2025) sintesis enam pilar · Unit: campuran
Pilar Ketersediaan Keterjangkauan Mutu
1 Layanan Layanan anak di 2,992 RS (91.4%) 11.5% kab tanpa layanan anak; 17.7% tanpa NICU Neonatologi/bedah anak terpusat; NICU/PICU memuncak di kelas B/C
2 Tenaga 4,712 Sp.A (5.58/100k anak) 7.2% kab tanpa Sp.A; neonatolog 87.7% kab nihil (Gini 0.93) Garis depan kuat (272,050 bidan klinis); spesialis terpusat di kota
3 Informasi SIP tercatat Data per kab ada Registri tumbuh-kembang/imunisasi di program, bukan klaim
4 Obat & imunisasi Obat anak di Fornas Imunisasi via program nasional Cakupan imunisasi tak terukur dari klaim
5 Pembiayaan JKN menanggung kuratif anak ~Rp 81.16 T kumulatif Preventif (imunisasi/gizi) di luar JKN
6 Tata kelola UU 35/2014, UU 17/2023, MTBS Kebijakan lengkap Implementasi rujukan neonatal tak merata
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024
Sintesis (cermin LTC). Berbeda tajam dari ujung-hayat lansia: sistem kesehatan anak memiliki garis depan yang kuat dan tersebar (ratusan ribu bidan, ribuan dokter anak, layanan anak di ~88.5% kabupaten), buah investasi MNCH puluhan tahun. Senjangnya bukan ketiadaan, melainkan tingkat akut-tinggi yang langka dan terpusat di Jawa/perkotaan: neonatolog (124) dan intensivis anak (52) hanya di sebagian kecil kabupaten, sehingga bayi kritis di wilayah timur menghadapi senjang rujukan NICU. Prioritas penguatan: pemerataan kapasitas neonatal-intensif dan rujukan PONEK ke luar Jawa.

9 Treatment gap & benchmark awal-hayat

⚠ Senjang Kapasitas vs Kebutuhan (SKI 2023, BPS, WHO/SDG)
Inti: Menempatkan kapasitas pasokan terhadap kebutuhan anak berbasis benchmark survei & target global, sebagai kerangka senjang (bukan klaim kausal).
Tabel TG: Senjang Kapasitas Pasokan vs Kebutuhan Anak kerangka senjang, bukan klaim kausal
Indikator Benchmark / kebutuhan Kapasitas pasokan (data ini) Senjang
Akses NICU per wilayah Tiap kab idealnya punya jalur rujukan neonatal (PONEK) 17.7% kab tanpa NICU Bayi kritis di kab nihil bergantung rujukan antar-wilayah
Neonatolog WHO: tenaga neonatal terlatih untuk perawatan bayi baru lahir 124 neonatolog; 87.7% kab nihil Subspesialis neonatal nyaris hanya di kota besar Jawa
Dokter Sp.A Akses dokter anak di tiap kab/kota 5.58/100k anak; 7.2% kab tanpa Sp.A Ketimpangan lebar antarprovinsi (DKI vs timur)
Cakupan imunisasi (SDG 3) Target imunisasi dasar lengkap tinggi (SKI/program) Tidak terlihat di klaim JKN (program non-klaim) Tidak dapat dinilai dari data pasokan klaim
Stunting/gizi (SKI 2023) Penurunan prevalensi stunting nasional Layanan gizi via Posyandu di luar data fasilitas Kesiapan pasokan preventif tak terukur di sini
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 | benchmark dari SKI 2023, WHO, SDG 3 sebagai rujukan kebutuhan
Key takeaway treatment gap: Senjang terbesar bukan pada ketersediaan layanan anak umum (luas), melainkan pada kapasitas neonatal-intensif yang langka dan terpusat. Karena cakupan preventif (imunisasi, gizi) berada di program non-klaim, kesiapan pasokan preventif tidak dapat dinilai dari data ini dan menjadi prioritas triangulasi data program berikutnya. Rasio senjang bersifat ilustratif karena denominator kebutuhan (survei/program) dan kapasitas (klaim/fasilitas) berbeda definisi.

10 Kerangka indikator & rujukan

Kerangka indikator yang dipakai
Indikator dipetakan ke kerangka sistem kesehatan & kesehatan anak yang diakui internasional: WHO Health System Building Blocks (Everybody’s Business, 2007); WHO/UNICEF standar perawatan ibu-bayi-anak & MNCH; WHO Integrated Management of Childhood Illness (IMCI/MTBS); SDG 3 (kematian neonatal/balita, cakupan imunisasi); konsep service availability & readiness (SARA); serta kebijakan Indonesia (UU 35/2014 Perlindungan Anak, UU 17/2023 & PP 28/2024, Permenkes MTBS, Program Imunisasi Nasional, PONEK/PONED, Stranas Stunting). Kepadatan tenaga mengikuti konvensi WHO (per 100.000 penduduk), dengan headline tambahan per 100.000 anak. Gini antar-kabupaten mengukur konsentrasi pasokan. Kontras awal-hayat ditarik terhadap analisis LTC lansia (ARC12.4).
Rujukan utama
WHO. Everybody’s Business: Strengthening Health Systems (2007). · WHO. Service Availability and Readiness Assessment (SARA) Reference Manual. · WHO/UNICEF. Integrated Management of Childhood Illness (IMCI). · WHO/UNICEF. Levels & Trends in Child Mortality Report. · United Nations. Sustainable Development Goals, Goal 3. · Kemenkes RI. Hasil Utama Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. · BPS. Proyeksi Penduduk Indonesia 2020-2035. · UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak; UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan & PP 28/2024. · Permenkes tentang MTBS/MTBM; Program Imunisasi Nasional; pedoman PONEK/PONED.

11 Keterbatasan & langkah lanjut

Keterbatasan utama.
1. DREAMS headcount = posisi per faskes (satu nakes di >1 faskes terhitung ganda); SIP = izin praktik, bukan tenaga aktif unik.
2. Layanan SIRS = dideklarasikan RS; NICU/PICU dari kolom ketersediaan (parsial), bukan jumlah tempat tidur tervalidasi nasional.
3. Denominator anak per kabupaten tidak terpisah; kepadatan per 100.000 penduduk total, headline per 100.000 anak memakai estimasi nasional 29,7% (usia 0-17, selaras kohor klaim JKN); pecahan usia BPS bukan hitungan per-kab langsung.
4. Imunisasi, tumbuh-kembang (Posyandu/EPPGBM), gizi, dan layanan anak berbasis komunitas berada di luar data fasilitas/klaim, sehingga kesiapan pasokan preventif tidak dapat dinilai.
5. Pembiayaan = klaim FKRTL JKN usia <18 (kuratif rumah sakit), proyeksi tertimbang dari sampel reguler; preventif & primer tidak tercakup penuh, dan tahun awal sedikit under-observed.
6. Setting rawat jalan vs inap diturunkan dari FKL14 (3=inap); diagnosis dari FKL15A (kode utama), kondisi sekunder tak diperhitungkan.

Langkah lanjut.
1. Triangulasi dengan data program (cakupan imunisasi, EPPGBM/stunting, registri kematian neonatal) untuk menilai pasokan preventif yang tidak terlihat di klaim.
2. Validasi jumlah tempat tidur NICU/PICU tervalidasi nasional untuk mengganti proksi ada/tidak.
3. Pemetaan kabupaten untuk gurun neonatal-intensif dan jalur rujukan PONEK, prioritas wilayah timur.
4. Penautan sisi pasokan (laporan ini) dengan sisi permintaan (klaim utilisasi anak) untuk analisis akses end-to-end.


Analisis sisi pasokan sistem kesehatan anak berbasis data administratif/agregat (DREAMS/SI-SDMK, SIRS, BPS, Data Sampel BPJS). Cermin awal-hayat dari analisis LTC lansia (ARC12.4). Kepadatan dengan denominator eksplisit; senjang data dilaporkan terbuka.