Unit analisis (penting, tercantum di tiap tabel/figur). Dokumen ini memakai beberapa unit, perhatikan badge Unit: … pada judul: (1) Pasien unik = orang, dihitung sekali (prevalensi terlayani, demografi, peta, mortalitas, Pareto, ekuitas); (2) Kunjungan/Klaim = per layanan, satu pasien bisa banyak (volume utilisasi, biaya, INA-CBG, komorbiditas); (3) Episode rawat inap = per perawatan inap (LOS, eksaserbasi/ACSC, readmisi, CFR).

Cara baca dokumen. Setiap angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang (PSTV15) dari sampel; angka sampel mentah dilaporkan terpisah bila relevan. Analisis dibangun pada sampel reguler (rumah tangga 1%), frame yang sahih untuk tren waktu dan rate populasi. Definisi kasus PPOK = kode ICD-10 J44 (inti) ditambah J40-J43 (bronkitis kronik dan emfisema) pada diagnosis masuk/primer/sekunder. Asma (J45-J46) dikecualikan karena merupakan unit analisis tersendiri. Biaya memakai FKL48 (biaya verifikasi, verified-paid). Data klaim menggambarkan populasi yang terlayani, bukan prevalensi sejati (lihat Triangulasi Faktor Risiko).

1 Ringkasan Eksekutif

55,472Pasien PPOK FKRTL (sampel, 2015-2024) 1,316 rbTerlayani 2024 (proyeksi nasional) 376 rbAdmisi eksaserbasi 2024 (ACSC) 4.5%Mortalitas rawat inap (CFR) Rp 14 TTotal biaya PPOK 2015-2024 (FKL48) 3%Cakupan uji fungsi paru (proxy)

Temuan utama. (1) Dalam sampel rumah tangga 1% BPJS Kesehatan 2015-2024, 55,472 pasien memiliki klaim FKRTL dengan diagnosis PPOK/bronkitis kronik/emfisema (J40-J44); 27,292 di antaranya berkode J44 (PPOK murni). Proyeksi nasional pasien terlayani pada 2024 mencapai 1,315,927 orang (474 per 100.000 peserta JKN). (2) Admisi eksaserbasi (ACSC, dapat dicegah) naik dari 1,703 (2015) menjadi 4,114 (2024) klaim sampel, dengan proyeksi nasional 376,399 admisi pada 2024. (3) Mortalitas rawat inap (CFR) sebesar 4.5% keseluruhan, namun naik tajam menurut usia hingga 8.5% pada usia >=75 tahun. (4) Readmisi 30 hari setelah rawat inap PPOK = 5.2% (90 hari 9.6%). (5) Komorbiditas kardiometabolik tinggi: hipertensi 24.4%, gagal jantung dan penyakit jantung iskemik masing-masing >12%. (6) Diagnostik fungsi paru sangat rendah: hanya 3% pasien memiliki klaim uji fungsi paru (spirometri, proxy INA-CBG), menunjuk gap diagnosis objektif.

Peringatan interpretasi. Data klaim hanya mencerminkan PPOK yang terdiagnosis dan terlayani dalam JKN, bukan prevalensi komunitas. PPOK sangat under-diagnosed di Indonesia (mayoritas tidak pernah spirometri). Faktor risiko utama, merokok tembakau, tidak terekam di klaim, sehingga ditriangulasi dengan beban merokok komunitas Riskesdas/SKI (lihat bagian Triangulasi). Severitas INA-CBG dan proxy spirometri/oksigen adalah penanda administratif (honest proxy), bukan klasifikasi GOLD klinis.

2 Fondasi: Definisi Kasus dan Kohort

Definisi kasus dan sumber data

Sumber: bpjs_data schema reguler (sampel rumah tangga 1% - frame tak bias untuk tren & rate populasi).
Definisi kasus PPOK: Pasien PPOK = >=1 klaim J44 (PPOK) atau J40-J43 (bronkitis kronik/emfisema) di FKL15A/16/17A/18/SDX. EXCLUDE J45-J46 (asma). FKTP: FKP15 J40-J44.
Eksaserbasi / ACSC: Eksaserbasi/ACSC: J44.0/J44.1 atau rawat inap dengan diagnosis PPOK (proxy admisi yang dapat dicegah, OECD ACSC).
Biaya: Biaya = FKL48 (biaya verifikasi / verified-paid), tertimbang PSTV15, /1e9 = miliar Rupiah. Scope biaya penyakit = klaim FKRTL ber-ICD PPOK (FKL15A/SDX).
Proxy administratif: Spirometri = INA-CBG ‘UJI FUNGSI PARU’ (proxy diagnostik); oksigen/nebulisasi = ‘TERAPI SALURAN PERNAFASAN’/rehabilitasi (proxy, honest); merokok = faktor risiko utama namun TIDAK terekam di klaim.
Periode: 2015-2024 · Bobot: PSTV15 (proyeksi nasional).

Tabel 1. Alur pembentukan kohort PPOK (STROBE)
Tahap N (sampel)
Kohort peserta (member, reguler) 2,590,751
Peserta dengan >=1 klaim FKRTL 976,214
Pasien dengan diagnosis PPOK/bronkitis/emfisema (J40-J44, FKRTL) 55,472
di antaranya berkode J44 (PPOK murni) 27,292
Pasien dengan admisi eksaserbasi (ACSC) 19,387
Pasien terdeteksi di FKTP (J40-J44) 38,188
Kohort analitik final (FKTP + FKRTL) 77,508
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Tabel 2. Distribusi kelompok diagnostik (pasien unik)
Kelompok diagnostik Tertimbang (nasional) Sampel Persen
PPOK (J44) 2,912,773 32,625 46.8%
Bronkitis NOS (J40) 2,641,544 35,284 42.4%
Bronkitis Kronik (J41-J42) 634,915 9,158 10.2%
Emfisema (J43) 40,140 441 0.6%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3 Pillar A: Prevalensi Terlayani, Insidensi, dan Geografi

3.1 Tren prevalensi dan insidensi terlayani

3.1.1 Prevalensi terlayani per tahun

Tabel A1. Prevalensi PPOK terlayani per tahun
Tahun Sampel Tertimbang Per 100rb peserta JKN
2015 5,765 459,408 293
2016 7,412 549,227 319
2017 10,777 862,996 459
2018 11,304 925,141 445
2019 12,671 1,024,048 457
2020 9,280 749,806 337
2021 8,387 644,537 273
2022 12,259 947,747 381
2023 14,911 1,199,279 449
2024 15,965 1,315,927 474
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3.1.2 Insidensi (kasus terlayani baru)

Tabel A2. Insidensi PPOK terlayani baru per tahun
Tahun Sampel Tertimbang
2016 6,509 477,214
2017 8,986 727,919
2018 8,446 696,008
2019 9,029 744,469
2020 5,886 485,127
2021 5,286 407,264
2022 8,103 625,137
2023 9,620 776,566
2024 9,878 830,259
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3.1.3 Komposisi diagnostik per tahun

Tabel A3. Total pasien-tahun per kelompok diagnostik
Kelompok Total tertimbang
PPOK (J44) 4,401,740
Emfisema (J43) 51,911
Bronkitis Kronik (J41-J42) 826,098
Bronkitis NOS (J40) 3,398,367
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3.2 Geografi prevalensi terlayani

3.2.1 Per pulau

Tabel A4. Distribusi pasien PPOK per pulau
Pulau Sampel Tertimbang Persen
Jawa 35,342 3,388,357 55.5%
Sumatera 21,557 1,614,931 26.4%
Sulawesi 7,361 463,342 7.6%
Kalimantan 4,363 265,139 4.3%
Bali-Nusra 4,189 261,118 4.3%
Maluku-Papua 2,991 113,263 1.9%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3.2.2 Provinsi (top 15)

Tabel A5. 15 provinsi teratas (pasien PPOK terlayani)
Provinsi Pulau Sampel Tertimbang Persen
Jawa Barat Jawa 9,868 998,685 16.0%
Jawa Tengah Jawa 11,907 962,975 15.5%
Jawa Timur Jawa 8,441 803,672 12.9%
Sumatera Utara Sumatera 5,694 422,921 6.8%
Aceh Sumatera 3,126 306,351 4.9%
DKI Jakarta Jawa 1,702 238,152 3.8%
Banten Jawa 1,809 229,841 3.7%
Sulawesi Selatan Sulawesi 2,874 215,652 3.5%
Sumatera Barat Sumatera 2,428 210,154 3.4%
Riau Sumatera 2,350 166,006 2.7%
Lampung Sumatera 2,150 164,673 2.6%
DI Yogyakarta Jawa 1,615 155,031 2.5%
Sumatera Selatan Sumatera 2,503 142,978 2.3%
Bali Bali-Nusra 1,774 103,953 1.7%
Kalimantan Timur Kalimantan 1,173 88,427 1.4%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3.2.3 Served-rate per 100rb peserta (per tahun)

Tabel A6. Tingkat terlayani per 100rb peserta JKN
Tahun Terlayani (tertimbang) Peserta JKN (juta) Per 100rb
2015 459,408 156.8 293
2016 549,227 171.9 319
2017 862,996 188.0 459
2018 925,141 208.1 445
2019 1,024,048 224.2 457
2020 749,806 222.5 337
2021 644,537 235.7 273
2022 947,747 248.8 381
2023 1,199,279 267.3 449
2024 1,315,927 277.9 474
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

4 Pillar B: Struktur Usia, Jenis Kelamin, dan Severitas

4.1 Usia dan jenis kelamin

4.1.1 Distribusi usia

Tabel B1. Distribusi usia pasien PPOK
Kelompok usia Sampel Tertimbang Persen
<40 29,174 2,155,701 35.3%
40-54 16,740 1,337,166 21.9%
55-64 14,269 1,207,896 19.8%
65-74 10,542 929,503 15.2%
>=75 5,090 476,705 7.8%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

4.1.2 Jenis kelamin

Tabel B2. Distribusi jenis kelamin pasien PPOK
Jenis kelamin Sampel Tertimbang Persen
Laki-laki 42,098 3,403,960 55.7%
Perempuan 33,717 2,703,011 44.3%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

4.1.3 Usia x jenis kelamin

Tabel B3. Usia x jenis kelamin
Usia Jenis kelamin Tertimbang Persen (dlm usia)
<40 Laki-laki 1,090,519 50.6%
<40 Perempuan 1,065,182 49.4%
40-54 Laki-laki 689,396 51.6%
40-54 Perempuan 647,771 48.4%
55-64 Laki-laki 709,450 58.7%
55-64 Perempuan 498,445 41.3%
65-74 Laki-laki 604,574 65.0%
65-74 Perempuan 324,929 35.0%
>=75 Laki-laki 310,021 65.0%
>=75 Perempuan 166,684 35.0%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

4.2 Severitas (proxy INA-CBG) dan diagnostik fungsi paru

4.2.1 Severitas INA-CBG

Tabel B4. Severitas PPOK (proxy INA-CBG)
Severitas Sampel Tertimbang Persen
Berat (INA-CBG) 490 51,120 8.7%
Sedang (INA-CBG) 1,118 105,511 19.9%
Ringan (INA-CBG) 4,003 371,606 71.3%
Catatan: hanya pada klaim dengan INA-CBG 'PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS RINGAN/SEDANG/BERAT'; proxy administratif, bukan GOLD klinis.

4.2.2 Cakupan uji fungsi paru (spirometri, proxy)

Tabel B5. Klaim uji fungsi paru per tahun (proxy)
Tahun Klaim spirometri (sampel) Tertimbang Pasien unik
2015 0 0 0
2016 0 0 0
2017 220 16,560 120
2018 305 24,080 216
2019 437 39,109 275
2020 227 16,441 138
2021 265 16,054 111
2022 421 36,795 256
2023 888 85,974 666
2024 1,456 128,135 1,100
Proxy = INA-CBG 'PROSEDUR UJI FUNGSI PARU'; sangat under-utilised vs standar PPOK.

5 Pillar C: Eksaserbasi, Rawat Inap, dan ACSC

5.1 Admisi eksaserbasi (Ambulatory Care Sensitive Condition)

5.1.1 Tren admisi eksaserbasi

Tabel C1. Admisi eksaserbasi PPOK per tahun (ACSC)
Tahun Admisi (sampel) Admisi (tertimbang) Pasien Admisi/pasien
2015 1,703 155,710 1,545 1.10
2016 2,038 180,567 1,809 1.13
2017 2,705 244,466 2,325 1.16
2018 2,724 251,062 2,307 1.18
2019 3,042 268,970 2,636 1.15
2020 1,818 153,163 1,615 1.13
2021 1,317 111,726 1,183 1.11
2022 2,634 229,458 2,257 1.17
2023 3,328 285,053 2,933 1.13
2024 4,114 376,399 3,709 1.11
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.1.2 Pasien dengan eksaserbasi per tahun

Tabel C2. Pasien dengan admisi eksaserbasi per tahun
Tahun Sampel Tertimbang
2015 1,545 140,711
2016 1,809 161,023
2017 2,325 211,981
2018 2,307 215,589
2019 2,636 232,528
2020 1,615 141,038
2021 1,183 102,649
2022 2,257 194,111
2023 2,933 250,605
2024 3,709 338,635
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.2 Lama rawat dan setting pelayanan

5.2.1 LOS per kelompok diagnostik

Tabel C3. Lama rawat per kelompok diagnostik
Kelompok Episode RI LOS rata2 Median IQR
PPOK (J44) 14,364 4.6 4 3-6
Emfisema (J43) 311 6.1 4 3-7
Bronkitis Kronik (J41-J42) 1,586 4.1 3 3-5
Bronkitis NOS (J40) 9,162 3.8 3 2-4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.2.2 LOS per kelas rumah sakit

Tabel C4. Lama rawat per kelas rumah sakit
Kelas RS Episode RI LOS rata2 Median
RS Kelas C 13,138 4.0 3
RS Kelas B 6,645 5.0 4
RS Kelas D 4,164 3.6 3
RS Khusus/Lain 826 3.7 3
RS Kelas A 650 8.0 6
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.2.3 Rawat jalan vs rawat inap (RJ vs RI)

Tabel C5. Rawat jalan vs rawat inap (volume)
Setting Sampel Tertimbang
Rawat Jalan (RJTL) 186,531 16,128,105
Rawat Inap (RITL) 25,423 2,256,573
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.3 Utilisasi multilevel dan kepemilikan

5.3.1 Utilisasi per level per tahun

Tabel C6. Utilisasi per level per tahun
Tahun Level Sampel Tertimbang
2015 FKRTL Rawat Inap 1,703 155,710
2015 FKRTL Rawat Jalan 4,760 418,325
2015 FKTP (Primer) 3,149 208,002
2016 FKRTL Rawat Inap 2,038 180,567
2016 FKRTL Rawat Jalan 6,386 542,408
2016 FKTP (Primer) 4,861 309,732
2017 FKRTL Rawat Inap 2,705 244,466
2017 FKRTL Rawat Jalan 13,340 1,151,460
2017 FKTP (Primer) 7,453 557,672
2018 FKRTL Rawat Inap 2,724 251,062
2018 FKRTL Rawat Jalan 17,067 1,459,139
2018 FKTP (Primer) 8,254 626,928
2019 FKRTL Rawat Inap 3,042 268,970
2019 FKRTL Rawat Jalan 20,360 1,751,656
2019 FKTP (Primer) 10,308 794,892
2020 FKRTL Rawat Inap 1,818 153,163
2020 FKRTL Rawat Jalan 16,481 1,391,130
2020 FKTP (Primer) 8,757 664,254
2021 FKRTL Rawat Inap 1,317 111,726
2021 FKRTL Rawat Jalan 16,573 1,365,390
2021 FKTP (Primer) 8,516 624,995
2022 FKRTL Rawat Inap 2,634 229,458
2022 FKRTL Rawat Jalan 23,682 2,043,673
2022 FKTP (Primer) 11,386 917,376
2023 FKRTL Rawat Inap 3,328 285,053
2023 FKRTL Rawat Jalan 31,671 2,797,265
2023 FKTP (Primer) 13,736 1,134,146
2024 FKRTL Rawat Inap 4,114 376,399
2024 FKRTL Rawat Jalan 36,211 3,207,658
2024 FKTP (Primer) 14,469 1,207,848
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.3.2 Kepemilikan fasilitas dan IGD

Tabel C7. Kepemilikan fasilitas (klaim FKRTL)
Kepemilikan Sampel Tertimbang
Swasta 106,917 9,575,986
Publik 104,993 8,806,339
Lainnya 44 2,352
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

6 Pillar D: Readmisi dan Mortalitas Rawat Inap

6.1 Readmisi pasca-eksaserbasi

6.1.1 Readmisi 30 hari per tahun

Tabel D1. Readmisi pasca rawat inap PPOK (keseluruhan)
Indikator Nilai
Admisi indeks (sampel) 25,398
Readmisi 30 hari 5.2%
Readmisi 90 hari 9.6%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

6.2 Mortalitas rawat inap (CFR)

6.2.1 CFR menurut usia

Tabel D2. CFR rawat inap menurut usia
Kelompok usia Episode RI Meninggal CFR
40-54 4,216 134 3.18%
55-64 6,052 272 4.49%
65-74 6,173 362 5.86%
<40 5,171 46 0.89%
>=75 3,811 324 8.50%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

6.2.2 CFR per tahun

Tabel D3. Kematian rawat inap PPOK per tahun
Tahun Kematian RI (sampel) Tertimbang CFR perkiraan
2015 139 16,241 10.43%
2016 112 11,518 6.38%
2017 130 16,464 6.73%
2018 101 10,748 4.28%
2019 174 17,792 6.61%
2020 81 8,906 5.81%
2021 66 4,889 4.38%
2022 98 9,148 3.99%
2023 111 13,889 4.87%
2024 156 14,711 3.91%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

6.2.3 CFR menurut jenis admisi

Tabel D4. CFR menurut jenis admisi
Jenis admisi Episode RI Meninggal CFR
Eksaserbasi (J44.0/.1 / RI PPOK) 25,423 1,138 4.48%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

7 Pillar E: Komorbiditas dan Multimorbiditas

7.1 Profil komorbiditas

7.1.1 Komorbiditas utama

Tabel E1. Komorbiditas pasien PPOK (ICD-10)
Komorbiditas Pasien (sampel) Persen
Hipertensi (I10-15) 18,899 24.4%
Pneumonia (J12-18) 13,342 17.2%
Tuberkulosis (A15-19) 11,977 15.5%
Gagal Jantung (I50) 9,997 12.9%
Penyakit Jantung Iskemik (I20-25) 9,939 12.8%
Diabetes (E10-14) 9,171 11.8%
Anemia (D60-64) 4,766 6.1%
Stroke (I60-69) 4,419 5.7%
Kanker Paru (C34) 633 0.8%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

7.1.2 Jumlah komorbiditas (multimorbiditas)

Tabel E2. Distribusi jumlah komorbiditas
Jumlah komorbid Pasien (sampel) Persen
0 22,849 41.2%
1 13,482 24.3%
2 7,269 13.1%
3+ 11,872 21.4%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

7.1.3 Diagnosis sekunder teratas (ICD-10)

Tabel E3. Diagnosis sekunder teratas (ICD-10)
Kode ICD-10 Nama Klaim (sampel)
N185 Chronic kidney disease 51,576
I10 Essential (primary) hypertension 50,133
E119 Type 2 diabetes mellitus 42,613
I119 Hypertensive heart disease 34,567
J459 Asthma 32,962
I500 Heart failure 31,236
K30 Functional dyspepsia 28,155
I251 Chronic ischaemic heart disease 27,302
M545 Dorsalgia 22,302
A162 Respiratory tuberculosis, not confirmed bacteriologically or histologically 21,172
M179 Gonarthrosis [arthrosis of knee] 17,024
N189 Chronic kidney disease 16,687
I110 Hypertensive heart disease 14,128
B909 Sequelae of tuberculosis 12,396
I259 Chronic ischaemic heart disease 11,615
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

8 Pillar F: Konektivitas, Rujukan, dan Geografi Member-Faskes

8.1 Rujukan dan akses geografis

8.1.1 Rujukan via FKTP dan jenis perujuk

Tabel F1. Jenis fasilitas perujuk (rawat inap PPOK)
Perujuk Klaim (sampel) Persen
Rumah Sakit 105,661 83.0%
Puskesmas 10,695 8.4%
Klinik Pratama 5,520 4.3%
Dokter Umum 4,256 3.3%
Klinik Utama 1,089 0.9%
Apotik 25 0.0%
Lainnya 8 0.0%
Lainnya 5 0.0%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

8.1.2 Geografi rujukan dan member-faskes

Tabel F2. Geografi rujukan dan member-faskes
Indikator Nilai
Rujukan dalam kab/kota yang sama 94.7%
Rujukan lintas kab/kota (dalam provinsi) 4.3%
Rujukan lintas provinsi 1.0%
Member-faskes provinsi sama 96.0%
Member-faskes kab/kota sama 87.4%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

9 Pillar G: Ekonomi dan Pembiayaan (FKL48)

9.1 Biaya dan konsentrasi pengeluaran

9.1.1 Tren biaya per tahun

Tabel G1. Biaya PPOK per tahun (FKL48)
Tahun Klaim (sampel) Total (miliar Rp) Rata2/klaim (Rp) Median (Rp)
2015 6,463 790.4 1,280,896 185,500
2016 8,424 880.3 1,138,637 186,700
2017 16,045 1306.3 902,216 190,400
2018 19,791 1459.3 790,739 190,400
2019 23,402 1583.3 764,458 190,400
2020 18,299 899.2 601,426 190,400
2021 17,890 780.1 510,032 190,400
2022 26,316 1440.4 609,736 190,400
2023 34,999 2070.9 655,642 196,100
2024 40,325 2448.3 680,325 198,000
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

9.1.2 Biaya per kategori layanan

Tabel G2. Biaya per kategori layanan
Kategori Klaim (sampel) Total (miliar Rp) Rata2/klaim (Rp)
Rawat inap eksaserbasi (ACSC) 25,423 10214.59 4,422,880
Rawat jalan PPOK 186,531 3444.00 214,439
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

9.1.3 INA-CBG dengan biaya tertinggi

Tabel G3. INA-CBG biaya tertinggi (PPOK)
INA-CBG Klaim Total (miliar Rp) Rata2 (Rp)
Penyakit Kronis Kecil Lain-Lain 134,210 2316.83 193,621
Penyakit Paru Obstruktif Kronis Ringan 3,651 1157.39 3,546,575
Gejala, Tanda Dan Diagnosis Sistem Pernafasan Lain-Lain (Ringan) 4,139 1081.86 3,179,520
Penyakit Paru Obstruktif Kronis Ringan 2,383 736.89 3,399,194
384 1,265 337.63 2,919,413
Penyakit Paru Obstruktif Kronis Sedang 798 324.63 4,326,862
Ventilasi Mekanikal Long Term Tanpa Trakeostomi Berat 33 309.28 74,664,632
Gejala, Tanda Dan Diagnosis Sistem Pernafasan Lain-Lain (Sedang) 681 301.38 5,062,111
Prosedur Terapi Saluran Pernafasan 11,210 278.50 327,258
Prosedur Sistem Pernafasan Non Kompleks Berat 68 275.87 33,899,013
Penyakit Paru Obstruktif Kronis Sedang 564 231.91 4,422,234
Peradangan Dan Infeksi Pernafasan Sedang 378 218.38 5,532,284
Penyakit Paru Obstruktif Kronis Berat 321 206.49 6,128,039
Simple Pneumonia & Whooping Cough Sedang 399 191.02 5,534,208
Prosedur Uji Fungsi Paru 4,219 190.41 519,343
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

9.1.4 Konsentrasi biaya (Pareto)

Tabel G4. Konsentrasi biaya (Pareto)
Top % pasien Pangsa biaya
1% 16.7%
5% 37.2%
10% 50.8%
20% 68.4%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

10 Pillar H: Ekuitas dan Representasi vs Populasi Umum

10.1 Gradien sosioekonomi dan geografis

10.1.1 Gradien segmentasi kepesertaan

Tabel H1. Tingkat terlayani per segmen kepesertaan
Segmen Kategori Terlayani (tertimbang) Per 1.000 peserta
Bukan Pekerja Non-PBI 488,277 41.34
PBPU (Mandiri) Non-PBI 1,262,371 36.13
PPU Non-PBI 1,809,939 25.83
PBI APBN PBI (disubsidi) 1,824,923 14.64
PBI APBD PBI (disubsidi) 721,272 11.89
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

10.1.2 Served-rate per pulau dan provinsi

Tabel H2. Served-rate per 100rb (15 provinsi teratas)
Provinsi Pulau Terlayani Per 100rb
Aceh Sumatera 306,351 5003
DI Yogyakarta Jawa 155,031 3639
Sumatera Barat Sumatera 210,154 3431
Sumatera Utara Sumatera 422,921 2754
Bali Bali-Nusra 103,953 2638
Jawa Tengah Jawa 962,975 2438
Kepulauan Riau Sumatera 55,862 2419
Riau Sumatera 166,006 2354
Sulawesi Tengah Sulawesi 78,604 2305
Sulawesi Utara Sulawesi 68,608 2275
Jambi Sumatera 75,436 2128
Sulawesi Selatan Sulawesi 215,652 2103
Kalimantan Timur Kalimantan 88,427 2065
Jawa Barat Jawa 998,685 1956
Bengkulu Sumatera 42,063 1892
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

10.1.3 Indeks representasi (vs populasi umum)

Tabel H3. Indeks representasi pasien PPOK vs populasi umum
Indeks > 1 = lebih terwakili pada kelompok PPOK
Karakteristik Level PPOK (%) Pop umum (%) Indeks representasi
Jenis Kelamin Laki-laki 55.7 51.2 1.09
Jenis Kelamin Perempuan 44.3 48.8 0.91
Kelompok Usia <40 35.3 55.6 0.63
Kelompok Usia 40-54 21.9 22.1 0.99
Kelompok Usia 55-64 19.8 10.4 1.90
Kelompok Usia 65-74 15.2 6.4 2.37
Kelompok Usia >=75 7.8 5.6 1.39
Segmentasi (Membership) PBI APBN 29.9 41.3 0.72
Segmentasi (Membership) PPU 29.6 23.2 1.28
Segmentasi (Membership) PBPU (Mandiri) 20.7 11.6 1.78
Segmentasi (Membership) PBI APBD 11.8 20.1 0.59
Segmentasi (Membership) Bukan Pekerja 8.0 3.9 2.05
Kelas Rawat Kelas III 56.3 70.1 0.80
Kelas Rawat Kelas I 22.0 16.3 1.35
Kelas Rawat Kelas II 21.7 13.6 1.60
Pulau Jawa 55.5 54.2 1.02
Pulau Sumatera 26.4 20.7 1.28
Pulau Sulawesi 7.6 7.6 1.00
Pulau Bali-Nusra 4.3 5.4 0.80
Pulau Kalimantan 4.3 5.7 0.75
Pulau Maluku-Papua 1.9 6.4 0.30
Indeks = pangsa kelompok pada pasien PPOK dibagi pangsa pada populasi peserta umum.

11 Tabel 1: Karakteristik Sampel (FKTP / FKRTL / Overall / Populasi Umum)

Tabel 1. Karakteristik pasien PPOK menurut titik layanan (persen tertimbang)
FKTP % FKRTL % Overall % Pop umum %
Jenis Kelamin
Laki-laki 56.2 56.8 55.7 51.2
Perempuan 43.8 43.2 44.3 48.8
Kelompok Usia
<40 37.5 30.8 35.3 55.6
40-54 23.0 21.7 21.9 22.1
55-64 19.7 21.5 19.8 10.4
65-74 13.8 17.2 15.2 6.4
>=75 6.0 8.9 7.8 5.6
Segmentasi (Membership)
PBI APBN 32.3 27.9 29.9 41.3
PPU 29.2 28.4 29.6 23.2
PBPU (Mandiri) 19.8 22.6 20.7 11.6
PBI APBD 12.6 11.9 11.8 20.1
Bukan Pekerja 6.1 9.3 8.0 3.9
Kelas Rawat
Kelas III 60.1 55.6 56.3 70.1
Kelas I 18.7 23.4 22.0 16.3
Kelas II 21.2 21.0 21.7 13.6
Pulau
Jawa 53.0 57.9 55.5 54.2
Sumatera 30.9 23.7 26.4 20.7
Sulawesi 6.6 7.4 7.6 7.6
Bali-Nusra 4.1 4.4 4.3 5.4
Kalimantan 4.2 4.5 4.3 5.7
Maluku-Papua 1.2 2.0 1.9 6.4
Kelompok Diagnostik
PPOK (J44) 53.8 53.3 46.8 -
Bronkitis NOS (J40) 33.9 37.1 42.4 -
Bronkitis Kronik (J41-J42) 11.8 8.9 10.2 -
Emfisema (J43) 0.6 0.7 0.6 -
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | N tertimbang: FKTP=2,983,988, FKRTL=4,609,837, Overall=6,229,372, Pop umum=302,106,337

12 Triangulasi Faktor Risiko: Beban Merokok Komunitas (Riskesdas/SKI)

Faktor Risiko PPOK: Merokok di Komunitas vs Pelayanan PPOK di JKN

PPOK tidak ditanyakan dalam Riskesdas/SKI, sehingga prevalensi komunitas PPOK tidak dapat dibandingkan langsung. Namun faktor risiko dominan PPOK, merokok tembakau (menyumbang ~70-80% kasus PPOK), terekam dengan baik. Bagian ini menriangulasi beban merokok komunitas (Riskesdas 2018 dan SKI 2023, dewasa >=15 tahun, tertimbang) terhadap pelayanan PPOK di JKN, sebagai pengukur tekanan faktor risiko di hulu.

Tabel TR1. Prevalensi merokok per provinsi (SKI 2023)
Provinsi Prevalensi merokok Sampel
Jawa Barat 35.1% 37,561
Nusa Tenggara Barat 35.0% 13,548
Papua Selatan 34.7% 2,943
Banten 32.4% 11,227
Lampung 32.3% 20,828
Sumatera Barat 31.4% 24,910
Sulawesi Tengah 31.0% 14,440
Gorontalo 30.9% 7,076
Jawa Tengah 30.8% 55,311
Bengkulu 30.8% 12,520
Jawa Timur 29.4% 59,219
Sumatera Selatan 29.2% 24,669
Aceh 28.3% 26,681
Nusa Tenggara Timur 28.2% 25,349
Maluku Utara 27.9% 10,137
Sumber: SKI 2023 (ARC AMALGAM); perokok aktif dewasa >=15 th, tertimbang.
Tabel TR2. Prevalensi merokok menurut jenis kelamin
Tahun Jenis kelamin Prevalensi
Sumber: Riskesdas 2018 + SKI 2023 (ARC AMALGAM); dewasa >=15 th, tertimbang.

Implikasi. Dengan prevalensi merokok dewasa 29.7% (sekitar 63 juta perokok aktif, SKI 2023), beban faktor risiko PPOK di hulu sangat besar dan terkonsentrasi pada laki-laki. Pelayanan PPOK di JKN yang terdokumentasi (1,315,927 pasien terlayani 2024) hanyalah puncak gunung es. Pengendalian tembakau (cukai, kawasan tanpa rokok, layanan berhenti merokok di FKTP) adalah intervensi hulu paling berdampak untuk menahan pertumbuhan beban PPOK.

13 Snapshot Tahun Terkini (2024)

Tabel 2024. Indikator PPOK kunci tahun terkini (2024)
Indikator Nilai 2024
Pasien PPOK terlayani 1,315,927 (proyeksi nasional)
Tingkat per 100rb peserta JKN 474 per 100rb
Admisi eksaserbasi (ACSC) 376,399 (proyeksi nasional)
Mortalitas rawat inap (CFR) 3.72%
Readmisi 30 hari 3.6%
Klaim uji fungsi paru (spirometri) 1,456 klaim (sampel)
Total biaya (FKL48) Rp 2448.3 miliar
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 J44 (inti) + J40-J43, tanpa asma | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Relevansi tahun terkini. Pada 2024, PPOK menjangkau proyeksi nasional 1,315,927 pasien terlayani (474 per 100rb peserta JKN, tertinggi dalam periode). Admisi eksaserbasi (ACSC, dapat dicegah) mencapai 376,399 dan terus naik, sementara mortalitas rawat inap tetap signifikan (3.72%). Biaya PPOK tahun terkini Rp 2448.3 miliar (FKL48). Kombinasi admisi yang dapat dicegah, readmisi, dan diagnostik fungsi paru yang minim menandai ruang besar untuk penguatan manajemen PPOK di layanan primer.

14 Keterbatasan

Keterbatasan dan catatan metodologis

(1) Populasi terlayani, bukan prevalensi. Angka mencerminkan PPOK yang terdiagnosis dan diklaim dalam JKN; PPOK sangat under-diagnosed di Indonesia (mayoritas tanpa spirometri).
(2) Faktor risiko merokok tidak di klaim. Triangulasi memakai beban merokok komunitas (Riskesdas/SKI) sebagai proksi tekanan faktor risiko, bukan riwayat merokok individu.
(3) Severitas dan diagnostik adalah proxy administratif. Tag severitas dan uji fungsi paru berasal dari INA-CBG, bukan klasifikasi GOLD atau hasil spirometri klinis.
(4) ACSC sebagai proxy eksaserbasi. Eksaserbasi diidentifikasi via J44.0/J44.1 atau rawat inap PPOK, mengikuti definisi OECD Ambulatory Care Sensitive Conditions; tidak menangkap eksaserbasi yang ditangani rawat jalan.
(5) CFR rawat inap. Berasal dari status pulang FKL14=3 (meninggal); mortalitas luar rumah sakit tidak tertangkap di sini (dilengkapi PSTV18 tahun kematian).
(6) Sampel rumah tangga 1%. Frame sahih untuk tren dan rate populasi; estimasi provinsi kecil/kab dengan sampel rendah perlu kehati-hatian.
(7) Biaya FKL48. Biaya verifikasi yang dibayarkan; scope biaya = klaim FKRTL ber-ICD PPOK.

Tabel pendamping master tersedia: outputs/copd_jkn_companion_tables.xlsx (38 sheet). Setiap figur memiliki tabel pendamping. Dibangun 2026-06-21 13:57:40.387916.


ARC Institute - Health System Center · Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dalam JKN Indonesia, 2015-2024 · Data Sampel BPJS Kesehatan, schema reguler · ICD-10 J44 (inti) + J40-J43 (tanpa asma) · biaya FKL48 (verified-paid) · tertimbang PSTV15