Unit analisis (tercantum di tiap tabel/figur). Perhatikan badge Unit: …. (1) Tenaga = headcount posisi per faskes (DREAMS, bisa ganda); kepadatan per 100.000 penduduk. (2) Rumah sakit = unit RS (SIRS), ketersediaan layanan yang dideklarasikan. (3) Kabupaten/kota = cakupan wilayah (n=514). (4) Klaim/episode = layanan dengue JKN (FKRTL+FKTP), tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN). Biaya nasional (tertimbang) = jumlah(FKL48 x PSTV15); miliar = biaya / 1e9, triliun = biaya / 1e12. Biaya sampel mentah (FKL48 saja, sekitar 1 persen peserta) ditampilkan terpisah sebagai pembanding, bukan angka nasional.

Tentang laporan ini. Analisis sisi pasokan (kapasitas sistem kesehatan) untuk dengue di Indonesia, pelengkap analisis sisi permintaan (klaim JKN). Dengue bersifat akut, musiman, dan ditularkan nyamuk, dengan beban tertinggi pada anak dan dewasa muda. Manajemen klinis bertumpu pada deteksi dini, perawatan suportif, pemantauan laboratorium (trombosit/hematokrit), dan pada kasus berat (DBD/dengue shock syndrome) perawatan intensif dan transfusi produk darah. Kerangka: enam pilar sistem kesehatan WHO + sintesis Ketersediaan, Keterjangkauan, Mutu (AAQ), ditambah lapisan tata kelola program pengendalian vektor yang sebagian besar berada di luar data klinis.

Peta pilar (navigasi): Fondasi (kerangka, denominator, beban) - 1 Penyediaan layanan - 2 Tenaga kesehatan - 3 Sistem informasi & surveilans - 4 Obat & produk darah - 5 Pembiayaan - 6 Tata kelola & vektor - lalu Beban terlayani (klaim) & Skor AAQ.

1 Fondasi: kerangka, denominator, beban

0 Fondasi - Kerangka Enam Pilar - Denominator - Beban Dengue Terlayani
Inti: Mendefinisikan kerangka analisis, denominator populasi, dan besaran beban dengue yang terlihat di sistem JKN sebagai konteks untuk menilai kecukupan kapasitas sisi pasokan.
Sumber & desain: SDM = DREAMS/SI-SDMK 2025 (headcount per faskes); fasilitas = SIRS 2025-10 (3,275 RS); denominator = BPS proyeksi 2025 (284,438,930 jiwa, 514 kabupaten/kota); beban/pembiayaan = klaim dengue (ICD-10 A90/A91) pada Sampel BPJS reguler 2015-2024, tertimbang PSTV15.
Kode & cakupan dengue

Dengue diidentifikasi dari diagnosis utama berkode A90 (demam dengue klasik) dan A91 (demam berdarah dengue/DBD). Kode A95-A99 (demam virus arbovirus lain) ditampilkan terpisah pada profil diagnosis namun dikecualikan dari angka headline dengue. Dengue terutama dikelola lewat gawat darurat, rawat inap, dokter penyakit dalam/anak, dan laboratorium, bukan satu subspesialisasi tunggal. Pencegahan (pengendalian vektor, surveilans entomologi) berada di program kesehatan masyarakat non-klaim, tidak terlihat di data klaim/fasilitas RS, dan dilaporkan sebagai senjang.

1.1 Beban dengue terlayani per tahun

Tabel F.1: Klaim, Biaya Nasional Tertimbang, Rawat Inap & CFR Dengue per Tahun - Unit: Klaim FKRTL
Tahun Klaim (sampel) Klaim (tertimbang) Biaya nasional (miliar Rp) Biaya sampel (miliar Rp) % rawat inap CFR rawat inap (%)
2015 3,208 316,581 716 7.11 87.4 0.92
2016 6,697 657,909 1,490 14.69 89.2 0.74
2017 2,123 181,480 328 3.95 65.4 0.40
2018 1,820 156,055 282 3.31 69.4 0.66
2019 3,425 314,068 539 5.93 72.4 0.33
2020 2,152 199,909 362 3.82 75.3 0.41
2021 1,459 134,045 249 2.61 72.6 1.52
2022 3,126 261,485 509 5.82 76.0 0.58
2023 2,362 229,041 446 4.84 71.1 0.82
2024 5,440 496,291 966 10.88 71.9 0.21
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024 | Biaya nasional = jumlah(FKL48 x PSTV15); biaya sampel = FKL48 saja (sekitar 1 persen). CFR = % rawat inap dengan status meninggal (FKL14=3), denominator rawat inap, undercount

1.2 Profil diagnosis arbovirus

Tabel F.2: Ringkasan Beban Dengue Terlayani JKN (2015-2024) - Unit: campuran (lihat baris)
Indikator Nilai
Pasien dengue unik (sampel, 2015-2024) 27,470
Total klaim FKRTL dengue (sampel) 31,812
Total klaim FKRTL dengue (tertimbang, proyeksi nasional) 2,946,864
Total biaya FKRTL dengue nasional (miliar Rp, tertimbang) 5,887
Total biaya FKRTL dengue nasional (triliun Rp, tertimbang) 5.89
Total biaya sampel mentah (miliar Rp, FKL48 saja) 63
CFR rawat inap dengue (%) 0.62
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024 | biaya nasional = jumlah(FKL48 x PSTV15)

1.3 Letalitas rumah sakit (CFR) per tahun

1.4 Musim klaim dengue (pola bulanan)

Tabel F.3: Distribusi Bulanan Klaim Dengue (gabungan 2015-2024) - Unit: klaim FKRTL
Bulan Klaim (sampel) Klaim (tertimbang) % tahunan
Jan 3,304 290,342 9.9
Feb 3,496 312,819 10.6
Mar 3,588 352,783 12.0
Apr 3,276 349,045 11.8
Mei 3,179 303,751 10.3
Jun 2,600 238,032 8.1
Jul 2,165 196,203 6.7
Agu 1,871 164,243 5.6
Sep 1,653 155,736 5.3
Okt 1,870 175,367 6.0
Nov 2,135 179,481 6.1
Des 2,675 229,061 7.8
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024 | bulan = bulan masuk (FKL03)
Inti Fondasi: Beban dengue terlayani JKN sangat musiman dan berfluktuasi, dengan lonjakan pada tahun wabah (puncak 657,909 klaim tertimbang) dan palung pada tahun pandemi. Secara bulanan, klaim memuncak pada Mar (12.0% beban tahunan) dan terendah pada Sep, mencerminkan siklus musim hujan; selisih puncak-palung sekitar 197,047 klaim tertimbang. Sekitar 75.1% klaim rata-rata adalah rawat inap, menegaskan bahwa beban kuratif dengue terkonsentrasi di rumah sakit. Fluktuasi beban inilah yang harus diserap kapasitas sisi pasokan (gawat darurat, tempat tidur, ICU, transfusi) secara surge-capable, bukan steady-state.

2 Pilar 1, Penyediaan layanan

1 Penyediaan Layanan - Gawat Darurat - Anak - Infeksi/Tropis - ICU/PICU - Bank Darah
Pertanyaan: Apakah rumah sakit memiliki kapasitas untuk mengelola dengue, dari gawat darurat dan rawat anak hingga perawatan intensif dan transfusi untuk kasus berat, dan seberapa merata antar wilayah, antara kota dan kabupaten, serta antar pulau.

2.1 Ketersediaan layanan nasional

Tabel 1.1: Ketersediaan Layanan Relevan-Dengue Nasional - Unit: rumah sakit (n=3.275)
Layanan RS menyediakan % RS
Penyakit dalam 2,954 90.2
Infeksi & penyakit tropis 582 17.8
Penyakit dalam tropik infeksi 198 6.0
Kesehatan anak 2,992 91.4
Gawat darurat 24 jam 3,166 96.7
Intensive care (ICU) 842 25.7
Intensif anak (PICU) 1,192 36.4
Bank darah 901 27.5
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024

2.2 Cakupan menurut kabupaten

Tabel 1.2: Cakupan Layanan menurut Kabupaten/Kota - Unit: kabupaten (n=514)
Layanan Kab ada % kab ada % kab nihil % pop tercakup
Penyakit dalam 455 88.5 11.5 97.0
Kesehatan anak 455 88.5 11.5 97.0
Infeksi dan Penyakit Tropis 226 44.0 56.0 71.7
Intensive care 287 55.8 44.2 81.3
Bank darah 358 69.6 30.4 87.2
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024

2.3 Kota vs kabupaten (urban-rural)

Tabel 1.3: Ketersediaan Layanan RS Kota vs Kabupaten - Unit: rumah sakit
Tipe wilayah Jumlah RS % GD 24 jam % anak % ICU % bank darah
Kabupaten (rural) 1,918 97.0 92.1 26.3 27.8
Kota (urban) 1,357 96.2 90.3 24.8 27.0
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024 | Kota = kode BPS kab 2 digit terakhir >=71

2.4 Layanan kasus berat menurut pulau

2.5 Lama rawat (LOS) menurut keparahan

Tabel 1.4: Lama Rawat Inap Dengue menurut Keparahan - Unit: hari per episode
Keparahan Episode (sampel) Episode (tertimbang) LOS rerata (hari) LOS median (hari)
Ringan (mild) 20,385 1,875,392 3.65 3
Sedang (moderate) 2,259 219,458 4.25 4
Berat (severe) 1,832 189,328 4.50 4
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024 | LOS dibatasi 0-60 hari; FKL23 2=Ringan,3=Sedang,4=Berat
Inti Pilar 1: Lini depan kuat, 96.7% RS punya gawat darurat 24 jam dan 91.4% punya layanan anak. Namun kapasitas untuk kasus berat (DBD/syok) jauh lebih tipis: ICU di 25.7% RS, PICU 36.4%, dan bank darah hanya 27.5% RS (30.4% kabupaten tanpa bank darah). Layanan infeksi/tropis terkonsentrasi (56.0% kab nihil). Sebaran per-RS antar pulau dan kota-kabupaten relatif setara, sehingga ketimpangan terutama berbentuk jumlah RS per penduduk, bukan jenis layanan per RS.

3 Pilar 2, Tenaga kesehatan

2 Tenaga - Penyakit Dalam/Anak - Infeksi/Tropik - Emergensi - Patologi Klinik - Pelayanan Darah - Intensif
Pertanyaan: Apakah tersedia tenaga klinis yang dibutuhkan untuk mengelola dengue dari deteksi hingga kasus berat, bagaimana kepadatannya per 100.000 penduduk, dan seberapa timpang sebarannya antar provinsi, pulau, dan antara kota dan kabupaten.

3.1 Kepadatan tenaga nasional

Tabel 2.1: Tenaga Relevan-Dengue Nasional (2025) - Unit: tenaga
Tenaga Headcount SIP per 100k 1 tenaga melayani (jiwa)
Penyakit Dalam (Sp.PD) 4,970 11,573 1.747 57,231
Anak (Sp.A) 4,712 10,486 1.657 60,365
Subsp. Infeksi & Imunologi 40 64 0.014 7,110,973
Kedaruratan Medik (Sp.EM) 65 109 0.023 4,375,984
Patologi Klinik (Sp.PK) 2,078 4,851 0.731 136,881
Teknisi Pelayanan Darah 1,820 1,948 0.640 156,285
Subsp. Bank Darah 8 12 0.003 35,554,866
Subsp. Emergensi & Rawat Intensif Anak (ERIA) 52 115 0.018 5,469,979
Penata Anestesi (dukungan ICU) 4,814 5,791 1.692 59,086
Subsp. Intensive Care 249 502 0.088 1,142,325
Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) 330 553 0.116 861,936
Radiologi (Sp.Rad) 2,057 5,370 0.723 138,279
Perawat Kesehatan Anak 19,400 20,502 6.820 14,662
Subsp. Infeksi & Penyakit Tropik 42 77 0.015 6,772,355
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024 | headcount = posisi per faskes (bisa ganda); SIP = izin praktik

3.2 Sebaran & ketimpangan (Gini)

Tabel 2.2: Cakupan Kabupaten & Ketimpangan Tenaga - Unit: tenaga / kabupaten
Tenaga % kab ada % kab nihil % di Jawa Gini kab
Subsp. Bank Darah 1.4 98.6 50.0 0.988
Subsp. Infeksi & Imunologi 3.3 96.7 67.5 0.980
Subsp. Infeksi & Penyakit Tropik 4.3 95.7 61.9 0.971
Subsp. Emergensi & Rawat Intensif Anak (ERIA) 5.4 94.6 61.5 0.963
Kedaruratan Medik (Sp.EM) 6.2 93.8 76.9 0.961
Subsp. Intensive Care 15.6 84.4 69.9 0.927
Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) 26.3 73.7 61.8 0.870
Teknisi Pelayanan Darah 62.5 37.5 55.5 0.755
Radiologi (Sp.Rad) 78.4 21.6 61.8 0.715
Penata Anestesi (dukungan ICU) 87.4 12.6 47.8 0.642
Patologi Klinik (Sp.PK) 87.7 12.3 54.1 0.660
Anak (Sp.A) 92.8 7.2 59.4 0.708
Penyakit Dalam (Sp.PD) 93.4 6.6 56.5 0.681
Perawat Kesehatan Anak 96.5 3.5 61.8 0.699
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024

3.3 Kota vs kabupaten (kepadatan)

Tabel 2.3: Kepadatan Tenaga Inti Kota vs Kabupaten - Unit: tenaga
Tenaga Wilayah Headcount per 100k
Anak (Sp.A) Kabupaten (rural) 1,977 0.884
Anak (Sp.A) Kota (urban) 2,735 4.502
Patologi Klinik (Sp.PK) Kabupaten (rural) 970 0.434
Patologi Klinik (Sp.PK) Kota (urban) 1,108 1.824
Penyakit Dalam (Sp.PD) Kabupaten (rural) 2,196 0.982
Penyakit Dalam (Sp.PD) Kota (urban) 2,774 4.566
Teknisi Pelayanan Darah Kabupaten (rural) 955 0.427
Teknisi Pelayanan Darah Kota (urban) 865 1.424
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024

3.4 Kepadatan per provinsi (Sp.A & Sp.PD)

3.5 Bauran tempat praktik tenaga inti

Inti Pilar 2: Tulang punggung klinis dengue tersedia luas, 4,970 Sp.PD dan 4,712 Sp.A (dengue banyak pada anak), didukung 2,078 Sp. Patologi Klinik dan 1,820 teknisi pelayanan darah untuk pemantauan trombosit/hematokrit dan transfusi. Namun tenaga untuk kasus berat sangat langka: subspesialis infeksi-imunologi hanya 40, infeksi-tropik 42, kedaruratan medik 65, subspesialis intensive care 249, ERIA (intensif anak) 52, dan subspesialis bank darah hanya 8. Sebaran sangat timpang (Gini Sp.PD 0.681, subsp infeksi 0.98) dan Jawa-sentris, dengan kepadatan kota jauh di atas kabupaten.

4 Pilar 3, Sistem informasi & surveilans

3 Sistem Informasi - Registrasi Tenaga - Surveilans Dengue (SKDR) - Integrasi Data
Pertanyaan: Apakah sistem informasi mampu mendukung kewaspadaan dini, perencanaan kapasitas, dan tata laksana dengue secara terpadu, atau terfragmentasi antara data klinis, surveilans, dan vektor.
Tabel 3.1: Komponen Sistem Informasi & Surveilans Dengue - Unit: komponen sistem
Komponen Status Senjang
Registrasi tenaga (SIP/STR) Tercatat di SI-SDMK/DREAMS Headcount per faskes bisa ganda; tak menangkap ketersediaan jam-nyata
Surveilans kasus dengue SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini & Respons), pelaporan mingguan Terpisah dari data klaim; sinyal alert tak terhubung kapasitas RS
Surveilans entomologi/vektor Angka Bebas Jentik (ABJ), survei jentik berkala Data komunitas non-klaim; tak terintegrasi dengan beban klinis
Data tempat tidur & ICU riil SIRS layanan dideklarasikan Jumlah TT/ICU riil hanya sampel parsial (senjang)
Registri kasus tingkat individu Belum tersedia lintas-sumber Tak ada penautan klinis-surveilans-vektor untuk perencanaan surge
Data klaim (beban terlayani) Sampel BPJS reguler (A90/A91) Hanya peserta JKN yang sampai ke faskes & terklaim
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024
Inti & senjang Pilar 3. Pencatatan tenaga (SIP) dan surveilans kasus (SKDR) berjalan, namun ini sistem program kesehatan masyarakat yang terpisah dari data klaim dan data kapasitas RS. Integrasi data klinis-surveilans-vektor belum padu, sehingga sinyal kewaspadaan dini (lonjakan kasus, peningkatan ABJ) tidak otomatis terhubung dengan kesiapan kapasitas (tempat tidur, ICU, stok darah) di RS rujukan. Registri kasus dengue tingkat individu lintas-sumber belum tersedia untuk perencanaan kapasitas surge musiman.

5 Pilar 4, Obat & produk darah

4 Obat & Produk - Tata Laksana Suportif - Produk Darah - Vaksin Dengue
Pertanyaan: Apakah komoditas yang dibutuhkan untuk tata laksana dengue tersedia, terutama produk darah untuk kasus berat dan vaksin untuk pencegahan.

5.1 Ketergantungan pada kapasitas transfusi

Tabel 4.1: Kapasitas Bank Darah & ICU per Provinsi (terendah) - Unit: rumah sakit per 1 juta penduduk
Provinsi Pulau RS total RS bank darah per 1 juta ICU per 1 juta
PAPUA Maluku-Papua 0 0 0.00 0.00
KEPULAUAN RIAU Sumatera 13 1 0.45 1.36
LAMPUNG Sumatera 82 12 1.26 2.00
SULAWESI BARAT Sulawesi 16 2 1.31 0.66
KALIMANTAN UTARA Kalimantan 11 1 1.33 1.33
JAWA BARAT Jawa 436 108 2.13 2.64
BANTEN Jawa 135 27 2.15 3.19
JAWA TIMUR Jawa 444 103 2.45 2.71
SULAWESI TENGAH Sulawesi 41 8 2.53 1.90
KALIMANTAN BARAT Kalimantan 58 16 2.77 2.25
SULAWESI TENGGARA Sulawesi 40 8 2.82 2.47
RIAU Sumatera 81 20 2.94 2.94
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024

5.2 Kerangka komoditas

Tabel 4.2: Komoditas Tata Laksana & Pencegahan Dengue - Unit: komoditas
Komoditas Peran dalam dengue Status pasokan
Cairan kristaloid/koloid Tulang punggung resusitasi (manajemen kebocoran plasma) Tersedia luas; komoditas generik dasar
Antipiretik (parasetamol) Suportif demam (NSAID/aspirin dihindari, risiko perdarahan) Tersedia luas
Trombosit & plasma (FFP) Kasus berat dengan perdarahan/trombositopenia kritis Tergantung bank darah (hanya sebagian RS)
Antivirus spesifik Tidak ada (tata laksana suportif) Tidak relevan, bukan kendala
Vaksin dengue (TAK-003/Qdenga) Pencegahan primer Terbatas/mandiri, belum program imunisasi nasional rutin
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024
Inti Pilar 4. Tidak ada obat antivirus spesifik untuk dengue; tata laksana bersifat suportif (manajemen cairan/elektrolit, antipiretik) sesuai PNPK/pedoman tata laksana dengue, sehingga “akses obat” bukan kendala utama. Yang kritis adalah produk darah (trombosit, plasma) untuk kasus berat, yang bergantung pada ketersediaan bank darah (hanya 27.5% RS, 30.4% kabupaten nihil), dengan provinsi terendah hanya 0.00 RS bank darah per 1 juta penduduk. Vaksin dengue tersedia terbatas/mandiri dan belum masuk program imunisasi nasional rutin, menjadi senjang pencegahan sisi-pasokan.

6 Pilar 5, Pembiayaan

5 Pembiayaan - Belanja JKN Dengue - Komposisi Setting - Biaya per Usia - Kuratif vs Preventif
Pertanyaan: Berapa besar belanja JKN untuk dengue, bagaimana komposisinya antara rawat jalan dan rawat inap serta antar kelompok usia, dan apa implikasinya bagi keseimbangan kuratif-preventif.

6.1 Belanja per tahun

6.2 Komposisi setting (rawat jalan vs inap)

Tabel 5.2: Komposisi Setting Klaim Dengue per Tahun - Unit: klaim
Tahun Setting Klaim (sampel) Klaim (tertimbang) % tahun
2015 Rawat inap 2,779 276,793 87.4
2015 Rawat jalan 429 39,788 12.6
2016 Rawat inap 5,948 586,628 89.2
2016 Rawat jalan 749 71,281 10.8
2017 Rawat inap 1,420 118,671 65.4
2017 Rawat jalan 703 62,808 34.6
2018 Rawat inap 1,293 108,342 69.4
2018 Rawat jalan 527 47,713 30.6
2019 Rawat inap 2,447 227,469 72.4
2019 Rawat jalan 978 86,599 27.6
2020 Rawat inap 1,521 150,541 75.3
2020 Rawat jalan 631 49,368 24.7
2021 Rawat inap 1,055 97,383 72.6
2021 Rawat jalan 404 36,662 27.4
2022 Rawat inap 2,290 198,702 76.0
2022 Rawat jalan 836 62,782 24.0
2023 Rawat inap 1,729 162,933 71.1
2023 Rawat jalan 633 66,108 28.9
2024 Rawat inap 3,995 356,759 71.9
2024 Rawat jalan 1,445 139,532 28.1
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024

6.3 Biaya per pasien menurut usia

Tabel 5.3: Biaya Dengue per Pasien menurut Usia - Unit: pasien unik
Kelompok usia Pasien (sampel) Total biaya (miliar Rp) Biaya/pasien (Rp)
0-4 3,155 7.21 2,284,926
5-14 8,429 18.85 2,236,381
15-24 6,105 13.72 2,246,845
25-44 6,745 15.18 2,250,032
45-64 2,700 6.45 2,387,449
65+ 552 1.57 2,853,182
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024
Inti Pilar 5: Belanja rumah sakit JKN untuk dengue (proyeksi nasional tertimbang) berkisar Rp 0.249 sampai Rp 1.491 triliun per tahun (puncak pada tahun wabah), dengan total kumulatif 2015-2024 sekitar Rp 5.89 triliun, dan mayoritas dari rawat inap, mencerminkan beban kuratif akut yang berfluktuasi mengikuti musim/wabah. Biaya per pasien tertinggi pada usia ekstrem. Pembiayaan ini bersifat kuratif; pencegahan (pengendalian vektor) dibiayai terpisah lewat APBD/program, sebagian besar di luar JKN, sehingga keseimbangan investasi kuratif-preventif tidak terlihat dalam satu kerangka pembiayaan.

7 Pilar 6, Tata kelola & pengendalian vektor

6 Tata Kelola - Strategi Nasional - Pengendalian Vektor - Surveilans - Integrasi
Pertanyaan: Apakah kerangka tata kelola pengendalian dengue lengkap dan terintegrasi antara pencegahan berbasis vektor/komunitas dan layanan klinis.
Tabel 6.1: Komponen Tata Kelola Pengendalian Dengue - Unit: komponen kebijakan
Komponen Instrumen Status / senjang
Strategi nasional Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025 Ada; target nol kematian dengue
Pengendalian vektor PSN 3M Plus, Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik Berbasis komunitas; cakupan & ABJ bervariasi antar daerah
Inovasi vektor Wolbachia (Yogyakarta & kota pilot) Bukti efikasi kuat lokal; perluasan nasional bertahap
Surveilans SKDR pelaporan mingguan + surveilans entomologi Terpisah dari data klinis/kapasitas RS
Pedoman klinis PNPK/pedoman tata laksana dengue Kemenkes Ada; mutu implementasi bervariasi antar faskes
Vaksinasi Vaksin dengue (TAK-003) Belum program nasional rutin
Pembiayaan pencegahan APBD/Dana Desa, program Kemenkes Di luar JKN; sulit dipantau dalam satu kerangka
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024
Inti Pilar 6. Kerangka pengendalian dengue relatif mapan: Strategi Nasional Penanggulangan Dengue, pengendalian vektor (PSN 3M Plus, jumantik, Wolbachia pada beberapa kota), surveilans SKDR, dan pedoman tata laksana klinis. Senjang utama sisi-pasokan: (1) kapasitas kasus berat (ICU/PICU/bank darah) tidak merata; (2) pencegahan berbasis komunitas/vektor berada di luar sistem klaim dan integrasinya dengan layanan klinis lemah; (3) vaksin dengue belum terprogram nasional; (4) pembiayaan pencegahan terpisah dari pembiayaan kuratif sehingga sulit menilai keseimbangan investasi.

8 Beban terlayani: keparahan, demografi & ekuitas

7 Beban Terlayani - Keparahan - Usia/Jenis Kelamin - Geografi - Segmen (SES) - Hasil Rawat
Pertanyaan: Siapa yang terlayani untuk dengue, seberapa berat kasusnya, dan apakah utilisasi serta hasil rawat merata antar wilayah dan antar segmen sosial-ekonomi, sebagai cermin permintaan yang harus diserap kapasitas sisi pasokan.

8.1 Keparahan rawat inap

Tabel 7.1: Keparahan Rawat Inap Dengue - Unit: episode rawat inap
Keparahan Episode (sampel) Episode (tertimbang) %
Ringan (mild) 20,385 1,875,392 82.1
Sedang (moderate) 2,260 219,502 9.6
Berat (severe) 1,832 189,328 8.3
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024 | FKL23 2=Ringan, 3=Sedang, 4=Berat

8.2 Usia & jenis kelamin

8.3 Keparahan menurut usia

Tabel 7.3: Komposisi Keparahan menurut Usia (tertimbang) - Unit: episode rawat inap
Kelompok usia Keparahan Episode (sampel) Episode (tertimbang) % dalam usia
0-4 Ringan 2,251 157,234 82.5
0-4 Sedang 267 21,157 11.1
0-4 Berat 176 12,220 6.4
15-24 Ringan 4,745 448,687 85.3
15-24 Sedang 440 40,581 7.7
15-24 Berat 356 36,794 7.0
25-44 Ringan 4,908 490,311 81.7
25-44 Sedang 598 62,914 10.5
25-44 Berat 418 47,162 7.9
45-64 Ringan 1,850 172,952 76.6
45-64 Sedang 306 33,644 14.9
45-64 Berat 172 19,122 8.5
5-14 Ringan 6,314 577,447 82.8
5-14 Sedang 558 54,283 7.8
5-14 Berat 646 66,029 9.5
65+ Ringan 317 28,762 65.8
65+ Sedang 91 6,923 15.8
65+ Berat 64 8,001 18.3
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024 | FKL23 2=Ringan,3=Sedang,4=Berat; share tertimbang PSTV15

8.4 Geografi (pulau & provinsi)

Tabel 7.4: 15 Provinsi dengan Klaim Dengue Terbanyak - Unit: klaim
Provinsi Pulau Klaim (sampel) Klaim (tertimbang) Biaya (miliar Rp) % rawat inap
Jawa Barat Jawa 5,605 644,966 11.31 75.5
Jawa Timur Jawa 4,436 425,948 9.18 77.5
Jawa Tengah Jawa 3,567 324,022 6.46 73.4
DKI Jakarta Jawa 1,722 288,697 3.70 77.8
Banten Jawa 1,205 159,656 2.37 82.6
Bali Bali-Nusra 2,186 146,123 4.03 74.9
Sumatera Utara Sumatera 1,643 120,627 3.50 83.6
Sumatera Barat Sumatera 882 81,418 1.63 78.3
Lampung Sumatera 723 72,816 1.45 81.5
Sumatera Selatan Sumatera 1,095 66,543 2.00 75.2
Kalimantan Timur Kalimantan 817 59,270 1.74 82.7
Sulawesi Selatan Sulawesi 761 58,490 1.62 82.8
DI Yogyakarta Jawa 615 57,932 0.99 75.4
Aceh Sumatera 485 48,000 1.08 78.9
Riau Sumatera 569 43,107 1.10 85.2
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024

8.5 Laju terlayani per 100.000 penduduk menurut provinsi

Tabel 7.6: Laju Klaim Dengue Terlayani per 100.000 Penduduk (15 provinsi tertinggi) - Unit: klaim per 100k
Provinsi Pulau Klaim (tertimbang) per 100k penduduk % rawat inap
Bali Bali-Nusra 146,123 3275.4 74.9
DKI Jakarta Jawa 288,697 2703.7 77.8
Kep. Riau Sumatera 36,601 1653.6 80.2
DI Yogyakarta Jawa 57,932 1532.0 75.4
Kalimantan Utara Kalimantan 11,224 1497.8 73.3
Kalimantan Timur Kalimantan 59,270 1388.8 82.7
Sumatera Barat Sumatera 81,418 1376.6 78.3
Banten Jawa 159,656 1273.4 82.6
Jawa Barat Jawa 644,966 1270.6 75.5
Jawa Timur Jawa 425,948 1012.0 77.5
Sulawesi Utara Sulawesi 26,807 985.0 69.5
Kep. Bangka Belitung Sumatera 14,208 916.2 68.3
Sulawesi Tengah Sulawesi 28,825 913.3 83.1
Aceh Sumatera 48,000 853.2 78.9
Jawa Tengah Jawa 324,022 847.5 73.4
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024 | penyebut = BPS proyeksi 2025; laju terlayani kumulatif, proksi gabungan beban + akses

8.6 Segmen (SES) & hasil rawat

Tabel 7.5: Hasil Rawat Inap Dengue (FKL14) - Unit: episode rawat inap
Hasil rawat Episode (sampel) Episode (tertimbang) %
Pulang (sembuh/atas izin) 23,888 2,234,134 97.81
Pulang paksa (APS) 208 17,195 0.75
Dirujuk 195 15,027 0.66
Meninggal di RS 135 13,884 0.61
Lain-lain 51 3,981 0.17
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024 | FKL14: status pulang; meninggal di RS = undercount kematian dengue sebenarnya
Inti beban terlayani: Dengue terlayani memuncak pada anak usia sekolah (5-14) dan dewasa muda, mayoritas kasus rawat inap ringan, namun porsi kasus berat lebih besar pada usia ekstrem yang membutuhkan ICU dan transfusi. Beban terkonsentrasi di Jawa (64.5% klaim). Profil ini menegaskan bahwa kapasitas sisi pasokan harus surge-capable musiman, dengan penguatan PICU/ICU dan bank darah di wilayah rawan-wabah di luar Jawa, dan deteksi dini di layanan primer untuk mencegah perburukan.

9 Layanan primer (FKTP) & deteksi dini

8 Layanan Primer - Volume Dengue FKTP - Peran Deteksi Dini
Pertanyaan: Seberapa besar peran layanan primer dalam mendeteksi dan mengelola dengue sebelum perburukan ke rumah sakit.

Tabel 8.1: Kunjungan Dengue FKTP (A90/A91) per Periode & Laju Tahunan - Unit: kunjungan FKTP
Periode Cakupan Kunjungan (sampel) Kunjungan (tertimbang) Laju/tahun (tertimbang)
2015-16 Rata-rata 2 tahun 5,013 362,678 181,339
2017-18 Rata-rata 2 tahun 4,615 348,762 174,381
2019-20 Rata-rata 2 tahun 5,296 430,675 215,338
2021 Tahunan 1,761 115,739 115,739
2022 Tahunan 2,526 190,522 190,522
2023 Tahunan 2,548 179,874 179,874
2024 Tahunan 3,836 311,054 311,054
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024 | FKTP dengue = FKP14A IN (A90,A91); 2015-16 pakai FKP15. Laju tahunan = total / jumlah tahun periode
Inti layanan primer: Layanan primer menangani kontak dengue awal dalam jumlah signifikan (laju puncak 311,054 kunjungan tertimbang per tahun), berperan dalam deteksi dini dan triase sebelum rujukan. Catatan: angka FKTP dibatasi dengue A90/A91 (bukan seluruh arbovirus A9x) agar setara dengan FKRTL, dan periode dua-tahunan dinormalisasi ke laju tahunan untuk perbandingan yang adil. Penguatan kapasitas FKTP untuk mengenali tanda bahaya dengue (warning signs) dan merujuk tepat waktu adalah pengungkit penting untuk menurunkan keparahan dan kematian, melengkapi kapasitas rujukan kasus berat di RS.

10 Skor AAQ (Ketersediaan-Keterjangkauan-Mutu)

Skor AAQ Sistem Dengue Indonesia (2025) - sintesis enam pilar
Pilar Ketersediaan Keterjangkauan Mutu
1 Layanan GD 24 jam 96.7%; anak 91.4% RS ICU 25.7% RS; 30.4% kab tanpa bank darah Kapasitas kasus berat (ICU/PICU/transfusi) tipis & timpang per penduduk
2 Tenaga Sp.PD 4,970, Sp.A 4,712 Subsp infeksi 40; bank darah 8; ICU subsp 249 Lini depan luas; spesialisasi kasus berat langka (Gini Sp.PD 0.681)
3 Informasi SIP tercatat; SKDR surveilans mingguan Pelaporan kasus & entomologi Integrasi klinis-surveilans-vektor lemah; registri individu nihil
4 Obat/produk Tata laksana suportif (tanpa antivirus) Tergantung bank darah utk kasus berat Vaksin dengue belum terprogram nasional
5 Pembiayaan JKN menanggung kuratif Rp 0.25-1.49 T/tahun (nasional tertimbang), mayoritas inap Pencegahan/vektor dibiayai terpisah (APBD), tak terlihat dalam satu kerangka
6 Tata kelola Strategi nasional + vektor (PSN/Wolbachia) SKDR + pedoman klinis Integrasi pencegahan-pengobatan lemah; vaksin belum nasional
Sumber: DREAMS/SI-SDMK 2025, SIRS 2025-10 (n=3.275 RS), BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS Kesehatan reguler (dengue A90/A91) 2015-2024
Sintesis. Sistem dengue Indonesia kuat di lini depan (gawat darurat, dokter penyakit dalam/anak, laboratorium) yang sesuai dengan beban yang sebagian besar akut dan dapat dikelola suportif. Senjang sisi-pasokan ada pada (1) kapasitas kasus berat (ICU/PICU dan terutama bank darah/transfusi yang tidak merata per penduduk), (2) tenaga subspesialistik (infeksi, intensif) yang sangat langka dan Jawa-sentris, dan (3) keterputusan antara sistem klinis dan sistem pencegahan (vektor/surveilans) yang berada di luar pembiayaan dan data klaim. Penguatan perlu fokus pada distribusi kapasitas transfusi/intensif ke kabupaten rawan-wabah, deteksi dini di layanan primer, dan integrasi data klinis-surveilans-vektor untuk kesiapan surge musiman.

11 Kerangka indikator & rujukan

Kerangka indikator yang dipakai

Indikator dalam laporan ini dipetakan ke kerangka yang diakui internasional: WHO Health Systems Framework (enam building blocks) sebagai struktur pilar; WHO Dengue Guidelines (2009) & SEARO Comprehensive Guidelines untuk klasifikasi keparahan (dengue, dengue with warning signs, severe dengue) dan jalur tata laksana; WHO Global Strategy for Dengue Prevention and Control 2012-2020 dan Global Arbovirus Initiative (2022) untuk pencegahan, surveilans, dan kesiapsiagaan; serta sintesis Ketersediaan-Keterjangkauan-Mutu (AAQ). Konteks Indonesia: Strategi Nasional Penanggulangan Dengue, pendekatan PSN 3M Plus dan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, intervensi Wolbachia, sistem SKDR, serta Permenkes pelayanan darah dan standar pelayanan RS. Catatan kode: BPJS memakai ICD-10 versi WHO; dengue = A90 (klasik) dan A91 (DBD).

Rujukan utama

WHO. Dengue Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control (2009). - WHO. Global Strategy for Dengue Prevention and Control 2012-2020 (2012). - WHO. Global Arbovirus Initiative (2022). - WHO. Everybody’s Business: Strengthening Health Systems (Six Building Blocks, 2007). - WHO SEARO. Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue (2011). - Kemenkes RI. Strategi Nasional Penanggulangan Dengue. - Kemenkes RI. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian DBD; Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik. - Utarini A et al. Efficacy of Wolbachia-Infected Mosquito Deployments for the Control of Dengue. N Engl J Med 2021;384:2177-2186. - BPS. Proyeksi Penduduk Indonesia 2020-2035.

12 Keterbatasan & langkah lanjut

Keterbatasan utama. 1. DREAMS headcount = posisi per faskes (tenaga di >1 faskes terhitung ganda); SIP = izin praktik, bukan ketersediaan jam-nyata.
2. Layanan SIRS = layanan yang dideklarasikan RS; jumlah tempat tidur dan ICU riil hanya sampel parsial (senjang besar untuk perencanaan surge).
3. Klaim dengue dari Sampel BPJS reguler (A90/A91) hanya menangkap peserta JKN yang sampai ke faskes dan terklaim, bukan seluruh kasus dengue; kasus tanpa akses atau ditangani di luar JKN tidak terlihat.
4. CFR dari status pulang (FKL14=3) hanya menangkap kematian di RS, undercount kematian dengue sebenarnya.
5. Pengendalian vektor, jumantik, surveilans SKDR, dan kegiatan komunitas berada di luar data fasilitas/klaim, sehingga tulang punggung pencegahan dengue tidak terukur di sini.
6. Kepadatan tenaga & fasilitas dihitung atas populasi total; dengue tidak memiliki denominator subkelompok tunggal yang dipakai.

Langkah lanjut. 1. Penautan data klinis-surveilans (SKDR)-entomologi (ABJ) tingkat kabupaten untuk kesiapan kapasitas surge musiman.
2. Inventarisasi tempat tidur & ICU/PICU riil dan stok produk darah di RS rujukan wilayah rawan-wabah.
3. Penguatan kapasitas FKTP mengenali warning signs dengue dan jalur rujukan cepat.
4. Evaluasi keseimbangan investasi kuratif (JKN) vs preventif (APBD/vektor) dalam satu kerangka analisis biaya.
5. Pemetaan kabupaten untuk service desert bank darah & ICU sebagai prioritas distribusi kapasitas.


Analisis sisi pasokan sistem kesehatan untuk dengue, pelengkap analisis sisi permintaan (klaim JKN). Pencegahan berbasis vektor/komunitas berada di luar data klinis dan dilaporkan sebagai senjang.