Tentang laporan ini. Analisis sisi pasokan (kapasitas sistem) untuk diabetes melitus di Indonesia, pelengkap laporan sisi permintaan klaim JKN (ARC12.5). Kerangka enam pilar sistem kesehatan WHO ditambah skor Ketersediaan, Keterjangkauan, dan Mutu (AAQ). Pertanyaan inti: apakah sistem memiliki tenaga, fasilitas, obat, informasi, pembiayaan, dan tata kelola yang cukup untuk menangani diabetes dan komplikasinya, serta seberapa timpang sebarannya antarwilayah, antar-pulau, dan antara kota dengan kabupaten.
Peta pilar: 1 Penyediaan layanan, 2 Tenaga kesehatan, 3 Sistem informasi, 4 Akses obat esensial, 5 Pembiayaan, 6 Tata kelola, lalu sintesis skor AAQ, senjang tata laksana (treatment gap), kerangka indikator dan rujukan, serta keterbatasan.
Cakupan data: tenaga 8 kategori (DREAMS/SI-SDMK 2025), fasilitas 3,275 rumah sakit (SIRS 2025-10), denominator BPS 2025 (284,438,930 jiwa, 514 kabupaten/kota), pembiayaan kohort dm Data Sampel BPJS 2015-2024.

1 Fondasi dan kerangka

Kerangka dan denominator
Analisis mengikuti enam pilar sistem kesehatan WHO (penyediaan layanan, tenaga, informasi, obat, pembiayaan, tata kelola). Denominator adalah proyeksi penduduk BPS 2025 (284,438,930 jiwa di 514 kabupaten/kota). Kepadatan tenaga dihitung per 100.000 penduduk total (konvensi WHO untuk spesialis) dan, sebagai pembanding, per 100.000 penduduk diabetes terdiagnosis (proksi prevalensi 2.0% dari SKI/BPS). Kota versus kabupaten dipisah dengan aturan kode BPS: dua digit terakhir kode kabupaten/kota >= 71 adalah Kota (urban), selebihnya Kabupaten (rural). Konsentrasi antar-kabupaten diukur dengan koefisien Gini (0 = merata sempurna, 1 = sangat terpusat).

Unit: jumlah absolut (penduduk dalam juta)

2 Pilar 1, Penyediaan Layanan

  1. Layanan diabetes dan komplikasi di rumah sakit (penyakit dalam, endokrin, mata, dialisis, ginjal)
Pertanyaan: Apakah rumah sakit menyediakan layanan untuk diabetes dan komplikasi utamanya (gagal ginjal, retinopati, kaki diabetik), dan apakah layanan itu menjangkau seluruh kabupaten atau hanya terpusat di kota besar?

2.1 Ketersediaan layanan

Unit: rumah sakit (n=3,275) | layanan dideklarasikan

Tabel 1.1: Ketersediaan Layanan Diabetes di RS (2025) Unit: RS
Layanan n RS % RS per 1 juta
Penyakit dalam 2,954 90.2 10.39
Mata 1,988 60.7 6.99
Dialisis/CAPD (semua) 906 27.7 3.19
Ginjal & hipertensi 797 24.3 2.80
Endokrin/metabolik 564 17.2 1.98
Gizi/nutrisi 546 16.7 1.92
Nefrologi 481 14.7 1.69
Hemodialisa 478 14.6 1.68
Bedah vaskular 351 10.7 1.23
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

2.2 Gurun layanan (per kabupaten)

Unit: kabupaten/kota (n=514)

Tabel 1.2: Cakupan Layanan per Kabupaten (gurun layanan) Unit: kab/kota (514)
Layanan % kab ada % kab nihil % pop tercakup
Hemodialisa 39.1 60.9 68.8
Endokrin/Metabolik 39.7 60.3 66.3
Mata 76.1 23.9 93.0
Penyakit dalam 88.5 11.5 97.0
Nefrologi 34.2 65.8 61.2
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

2.3 Gurun dialisis: HD vs CAPD (sensitivitas)

Unit: kab/kota (n=514) dan % populasi | sensitivitas definisi layanan

Tabel 1.2b: Gurun Dialisis, HD vs CAPD (sensitivitas) Unit: kab/kota
Definisi n kab ada % kab ada % kab nihil % pop tercakup
Hemodialisa 201 39.1 60.9 68.8
Dialisis/CAPD (semua) 266 51.8 48.2 80.0
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 | 478 RS punya hemodialisa; 906 deklarasi dialisis/CAPD apa pun, 503 di antaranya CAPD tanpa unit HD kronik
Catatan dialisis. Kolom Dialisis/CAPD (semua) menangkap kategori SIRS yang lebih luas (478 RS punya hemodialisa, 906 mendeklarasikan dialisis/CAPD apa pun; 503 RS mendeklarasikan CAPD tanpa unit HD kronik, umumnya RS kelas A/B). Analisis gurun di laporan ini berlabuh pada hemodialisa karena itulah titik sumbat klinis untuk gagal ginjal diabetik. Dengan definisi luas, gurun menyusut dari 60.9% menjadi 48.2% kab/kota nihil, namun ini melebih-lebihkan akses HD kronik yang sebenarnya.

2.4 Hemodialisa per pulau

Unit: RS hemodialisa per 1 juta penduduk

Tabel 1.3: Sebaran RS Hemodialisa per Pulau Unit: RS
Pulau RS HD per 1 juta % RS HD
Kalimantan 37 2.06 7.7
Jawa 297 1.88 62.1
Sumatera 91 1.46 19.0
Bali-Nusra 22 1.38 4.6
Sulawesi 27 1.28 5.6
Maluku-Papua 4 0.44 0.8
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

2.5 Layanan inti per pulau

Unit: rumah sakit

Tabel 1.4: Layanan Inti per Pulau (jumlah RS) Unit: RS
Layanan Bali-Nusra Jawa Kalimantan Maluku-Papua Sulawesi Sumatera
Hemodialisa 22 297 37 4 27 91
Endokrin/Metabolik 41 330 34 13 43 103
Mata 114 1105 114 41 169 445
Penyakit dalam 167 1534 189 107 275 682
Nefrologi 31 299 21 8 38 84
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

2.6 Kota vs kabupaten

Unit: rumah sakit | Kota = kode BPS >= 71

Tabel 1.5: Layanan Inti Kota vs Kabupaten Unit: RS
Layanan n_Kabupaten (rural) n_Kota (urban) pct_Kabupaten (rural) pct_Kota (urban)
Hemodialisa 274 204 57.3 42.7
Endokrin/Metabolik 264 300 46.8 53.2
Mata 1128 860 56.7 43.3
Penyakit dalam 1723 1231 58.3 41.7
Nefrologi 196 285 40.7 59.3
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

2.7 Kepemilikan & kelas RS HD

Unit: rumah sakit hemodialisa

Tabel 1.6: RS Hemodialisa menurut Kelas Unit: RS
Kelas RS n RS HD % RS HD
C 268 56.1
B 164 34.3
A 24 5.0
D 22 4.6
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

2.8 Provinsi akses HD terbaik

Unit: RS hemodialisa per 1 juta penduduk

Tabel 1.7: Provinsi Akses HD Terendah Unit: RS
Provinsi RS HD Total RS per 1 juta
Kalimantan Utara 0 11 0.00
Sulawesi Tengah 0 41 0.00
Sulawesi Barat 0 16 0.00
Papua Barat 0 25 0.00
Papua 0 0 0.00
Nusa Tenggara Timur 2 68 0.35
Bengkulu 1 28 0.47
Maluku 1 29 0.51
Nusa Tenggara Barat 3 46 0.52
Sulawesi Tenggara 2 40 0.71
Maluku Utara 1 23 0.73
Kepulauan Riau 2 13 0.90
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

Inti Pilar 1: Penyakit dalam (tempat diabetes dikelola) tersedia luas (90.2% RS, gurun hanya 11.5% kab), tetapi layanan komplikasi langka dan terpusat: hemodialisa hanya 14.6% RS dengan 60.9% kabupaten tanpa hemodialisa sama sekali (kritis untuk gagal ginjal diabetik), endokrin/metabolik 17.2% RS (gabungan poli Endokrin dan Metabolik-Endokrin, logika ATAU), nefrologi 14.7% RS. Maluku-Papua hanya 0.440 RS hemodialisa per juta, di bawah seperempat angka Kalimantan/Jawa. Perawatan komplikasi diabetes terkonsentrasi di sedikit RS kelas A/B di kota.

3 Pilar 2, Tenaga Kesehatan

  1. Tenaga: endokrinolog, penyakit dalam, mata, ginjal-hipertensi/nefrologi, gizi, bedah vaskular
Pertanyaan: Berapa kepadatan tenaga yang menangani diabetes dan komplikasinya per 100.000 penduduk, dan seberapa timpang sebarannya antar-kabupaten, antar-pulau, dan antara kota dengan desa?

3.1 Kepadatan nasional

Unit: tenaga per 100.000 penduduk total

Tabel 2.1: Tenaga Terkait Diabetes Nasional (2025) Unit: tenaga
Tenaga Headcount SIP per 100k per 100k pasien DM 1 tenaga melayani (jiwa)
Endokrinolog (Sp.PD-KEMD) 99 190 0.035 1.740 2,873,121
Penyakit Dalam (Sp.PD) 4,970 11,573 1.747 87.365 57,231
Mata (Sp.M) 2,337 5,788 0.822 41.081 121,711
Ginjal-Hipertensi (Sp.PD-KGH) 168 395 0.059 2.953 1,693,089
Nefrologi (Sp.PD-KGH/Sp.N) 13 30 0.005 0.229 21,879,918
Gizi Klinik (Sp.GK) 510 1,112 0.179 8.965 557,723
Bedah Vaskular (Sp.B-KV) 45 122 0.016 0.791 6,320,865
Mata Kornea/Refraktif 29 54 0.010 0.510 9,808,239
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

3.2 Gurun dan konsentrasi

Unit: kabupaten/kota (n=514); Gini 0-1

Tabel 2.2: Cakupan dan Konsentrasi Tenaga Unit: kab/kota (514)
Tenaga % kab nihil % headcount Jawa Gini antar-kab % pop tercakup
Endokrinolog (Sp.PD-KEMD) 92.4 63.6 0.956 17.8
Penyakit Dalam (Sp.PD) 6.6 56.5 0.681 96.8
Mata (Sp.M) 28.2 59.3 0.737 89.2
Ginjal-Hipertensi (Sp.PD-KGH) 86.4 63.1 0.925 27.2
Nefrologi (Sp.PD-KGH/Sp.N) 98.1 84.6 0.984 6.7
Gizi Klinik (Sp.GK) 67.9 60.6 0.871 47.0
Bedah Vaskular (Sp.B-KV) 94.6 44.4 0.958 13.1
Mata Kornea/Refraktif 96.3 82.8 0.972 10.0
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 | Jawa = 56% populasi

3.3 Endokrinolog per pulau

Unit: endokrinolog per 100.000 penduduk

Tabel 2.3: Endokrinolog per Pulau Unit: tenaga
Pulau Headcount per 100k % headcount
Bali-Nusra 7 0.044 7.1
Jawa 63 0.040 63.6
Sulawesi 7 0.033 7.1
Sumatera 20 0.032 20.2
Kalimantan 2 0.011 2.0
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

3.4 Kota vs kabupaten (tenaga)

Unit: tenaga per 100.000 penduduk wilayah

Tabel 2.4: Tenaga Kota vs Kabupaten Unit: tenaga
Tenaga Wilayah Headcount per 100k
Endokrinolog (Sp.PD-KEMD) Kabupaten (rural) 15 0.007
Endokrinolog (Sp.PD-KEMD) Kota (urban) 84 0.138
Penyakit Dalam (Sp.PD) Kabupaten (rural) 2,155 0.963
Penyakit Dalam (Sp.PD) Kota (urban) 2,758 4.540
Mata (Sp.M) Kabupaten (rural) 930 0.416
Mata (Sp.M) Kota (urban) 1,394 2.295
Ginjal-Hipertensi (Sp.PD-KGH) Kabupaten (rural) 43 0.019
Ginjal-Hipertensi (Sp.PD-KGH) Kota (urban) 125 0.206
Gizi Klinik (Sp.GK) Kabupaten (rural) 138 0.062
Gizi Klinik (Sp.GK) Kota (urban) 363 0.598
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

3.5 Provinsi terbawah (endokrinolog)

Unit: endokrinolog per 100.000 penduduk

Tabel 2.5: Provinsi Endokrinolog Terlangka Unit: tenaga
Provinsi Headcount per 100k
Bengkulu 0 0
Lampung 0 0
Kepulauan Bangka Belitung 0 0
Kepulauan Riau 0 0
Nusa Tenggara Barat 0 0
Nusa Tenggara Timur 0 0
Kalimantan Tengah 0 0
Kalimantan Timur 0 0
Kalimantan Utara 0 0
Sulawesi Tengah 0 0
Sulawesi Tenggara 0 0
Gorontalo 0 0
Sulawesi Barat 0 0
Maluku 0 0
Maluku Utara 0 0
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

3.6 Per pasien diabetes

Unit: tenaga per 100.000 pasien DM terdiagnosis

Tabel 2.6: Tenaga per Pasien Diabetes Unit: tenaga
Tenaga Headcount per 100k pasien DM 1 tenaga per (pasien DM)
Endokrinolog (Sp.PD-KEMD) 99 1.740 57,462
Penyakit Dalam (Sp.PD) 4,970 87.365 1,145
Mata (Sp.M) 2,337 41.081 2,434
Ginjal-Hipertensi (Sp.PD-KGH) 168 2.953 33,862
Nefrologi (Sp.PD-KGH/Sp.N) 13 0.229 437,598
Gizi Klinik (Sp.GK) 510 8.965 11,154
Bedah Vaskular (Sp.B-KV) 45 0.791 126,417
Mata Kornea/Refraktif 29 0.510 196,165
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

Inti Pilar 2: Indonesia hanya memiliki 99 endokrinolog (Sp.PD-KEMD) nasional (190 SIP) = 0.035/100k, 1 per 2,873,121 penduduk; 92.4% kabupaten tanpa endokrinolog, Gini 0.956. Kepadatan kota 0.138/100k versus kabupaten 0.007/100k (timpang ~20 kali). Nefrolog/Sp.PD-KGH 168 (86.4% kab nihil). Diabetes praktis dikelola oleh internis (Sp.PD, 4,970) dan dokter umum, bukan endokrinolog. Sangat terpusat di Jawa (63.6% headcount).

4 Pilar 3, Sistem Informasi

  1. Registrasi tenaga (SIP), proksi pencatatan, dan senjang registri diabetes
Pertanyaan: Apakah sistem informasi memungkinkan perencanaan berbasis bukti (registri tenaga, registri diabetes, indikator kendali glikemik), atau perencanaan masih bertumpu pada proksi tenaga dan fasilitas?

4.1 Registrasi (SIP vs headcount)

Unit: rasio SIP terhadap headcount

Tabel 3.1: Registrasi/Izin Praktik (SIP) proksi pencatatan tenaga
Tenaga Headcount SIP Rasio SIP:HC n faskes
Endokrinolog (Sp.PD-KEMD) 99 190 1.92 78
Penyakit Dalam (Sp.PD) 4,970 11,573 2.33 2,182
Mata (Sp.M) 2,337 5,788 2.48 1,343
Ginjal-Hipertensi (Sp.PD-KGH) 168 395 2.35 125
Nefrologi (Sp.PD-KGH/Sp.N) 13 30 2.31 12
Gizi Klinik (Sp.GK) 510 1,112 2.18 399
Bedah Vaskular (Sp.B-KV) 45 122 2.71 38
Mata Kornea/Refraktif 29 54 1.86 21
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

4.2 Sebaran tipe faskes

Unit: headcount (posisi per faskes)

Tabel 3.2: Tempat Praktik Tenaga (top 3 tipe faskes) Unit: headcount
Tenaga Tipe faskes Headcount %
Endokrinolog (Sp.PD-KEMD) Rumah Sakit 97 98.0
Endokrinolog (Sp.PD-KEMD) Klinik 1 1.0
Endokrinolog (Sp.PD-KEMD) Praktek Nakes Mandiri 1 1.0
Ginjal-Hipertensi (Sp.PD-KGH) Rumah Sakit 167 99.4
Ginjal-Hipertensi (Sp.PD-KGH) Klinik 1 0.6
Mata (Sp.M) Rumah Sakit 2053 87.8
Mata (Sp.M) Klinik 264 11.3
Mata (Sp.M) Praktek Nakes Mandiri 13 0.6
Penyakit Dalam (Sp.PD) Rumah Sakit 4732 95.2
Penyakit Dalam (Sp.PD) Klinik 187 3.8
Penyakit Dalam (Sp.PD) Praktek Nakes Mandiri 29 0.6
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

Senjang informasi. Indonesia belum memiliki registri diabetes nasional, registri kendali glikemik (HbA1c), atau registri komplikasi terpilah (retinopati, nefropati, kaki diabetik). Stok obat riil (ASPAK) dan indikator mutu (skrining mata rutin, pemeriksaan kaki diabetik) belum terpantau sistematis. Rasio SIP:headcount endokrinolog 1.92 menunjukkan satu spesialis langka melayani banyak faskis. Perencanaan kapasitas masih bertumpu pada proksi tenaga dan fasilitas, bukan data luaran pasien.

5 Pilar 4, Akses Obat Esensial

  1. Insulin, antidiabetik oral, dan kaskade Formularium Nasional
Pertanyaan: Apakah obat diabetes esensial (metformin, sulfonilurea, insulin) tersedia dan terjangkau sampai layanan primer, dan di mana letak senjang akses?
Catatan sumber (penting). Pilar ini adalah ringkasan kualitatif kompilasi Formularium Nasional dan pedoman PERKENI, bukan dihitung dari data. Tingkat akses bersifat editorial/konsensus dan tidak mencerminkan stok riil (ASPAK) atau dispensing. Untuk kaskade berbasis data WHO-EML to Fornas to FKTP, rujuk ARC Open HTA drug cascade.
Unit: kategori kualitatif (3 = akses luas)
Tabel 4.1: Akses Obat Diabetes Esensial ringkasan kualitatif, BUKAN dihitung dari data
Obat Jenjang akses
Metformin FKTP + FKRTL (Fornas)
Glibenklamid/Sulfonilurea FKTP + FKRTL (Fornas)
Insulin kerja menengah (NPH) Umumnya FKRTL
Insulin analog (long/rapid) Terutama FKRTL
Strip glukosa / HbA1c Terbatas di primer
Kompilasi kualitatif Fornas/PERKENI (konsensus), bukan komputasi data; kepatuhan & stok riil (ASPAK) tidak terukur. Rujuk ARC Open HTA untuk kaskade WHO-EML to Fornas to FKTP berbasis data.
Inti Pilar 4 (terbatas data). Obat antidiabetes utama, metformin, glibenklamid/sulfonilurea, masuk Formularium Nasional dan tersedia di layanan primer. Senjang khas: insulin (terutama analog) sering terbatas pada FKRTL, serta strip glukosa dan HbA1c di primer. Kepatuhan obat dan keamanan peresepan tidak dapat dihitung dari data klaim yang tersedia (perlu data dispensing). Rujuk HTA Watchdog ARC untuk kaskade lengkap WHO-EML to Fornas to FKTP.

6 Pilar 5, Pembiayaan

  1. Belanja JKN diabetes (dari kohort dm ARC12.5)
Pertanyaan: Berapa besar dan ke mana pembiayaan JKN untuk diabetes mengalir, dan apakah investasi hulu (pencegahan/kendali dini) sebanding dengan belanja komplikasi kuratif?

6.1 Tren belanja tahunan

Unit: Triliun Rupiah (tertimbang PSTV15)

Tabel 5.1: Belanja FKRTL Diabetes per Tahun Unit: Rp
Tahun Klaim (n) Miliar Rp Triliun Rp Rerata (Rp)
2015 158,868 945 0.95 537,737
2016 222,855 1,227 1.23 510,643
2017 319,650 1,744 1.74 503,972
2018 454,282 2,454 2.45 505,270
2019 605,457 3,468 3.47 547,463
2020 447,957 2,384 2.38 508,719
2021 405,690 2,004 2.00 485,725
2022 424,741 2,319 2.32 548,460
2023 13,617 69 0.07 826,354
2024 480,187 2,708 2.71 578,013
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 | 2023 terpotong (n=13.617): rerata Rp 826.878 anomali, kecualikan dari interpretasi tren rerata-biaya

6.2 Belanja per subtipe & setting

Unit: Miliar Rupiah (tertimbang)

Tabel 5.2: Belanja per Subtipe x Setting Unit: Rp
Subtipe Setting Klaim (n) Miliar Rp Rerata (Rp)
DM Tipe 1 (E10) Rawat Inap 6,426 348 5,440,582
DM Tipe 1 (E10) Rawat Jalan 375,753 843 204,119
DM Tipe 2 (E11) Rawat Inap 47,707 2,415 5,388,518
DM Tipe 2 (E11) Rawat Jalan 1,438,098 3,368 204,922
DM lain/tak spesifik (E13-14) Rawat Inap 15,271 837 5,391,064
DM lain/tak spesifik (E13-14) Rawat Jalan 342,455 707 197,812
DM malnutrisi (E12) Rawat Inap 125 7 5,388,984
DM malnutrisi (E12) Rawat Jalan 4,521 8 194,706
DM tak terklasifikasi (kode lain) Rawat Inap 104,601 8,027 7,525,942
DM tak terklasifikasi (kode lain) Rawat Jalan 1,198,347 2,762 221,765
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

6.3 Pertumbuhan utilisasi FKTP

Unit: juta kontak FKTP (tertimbang)

Tabel 5.3: Kontak FKTP Diabetes per Tahun Unit: kontak
Tahun Kontak (raw) Tertimbang
2015 5,846 1,354,464
2016 8,221 2,154,625
2017 11,860 3,466,478
2018 15,690 4,835,416
2019 18,828 6,333,755
2020 18,196 6,471,663
2021 19,852 7,071,200
2022 23,163 8,629,617
2023 29,810 10,918,938
2024 34,797 12,947,951
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

6.4 Komplikasi (beban hilir)

Unit: % pasien rawat inap diabetes (tertimbang)

Tabel 5.4: Komplikasi Diabetes (rawat inap) Unit: pasien
Komplikasi Pasien (raw) Tertimbang %
Neuropati (E1x.4) 62,275 632,455 45.6
Sirkulasi/PVD (E1x.5) 38,349 386,216 28.1
Nefropati (E1x.2) 24,713 258,063 18.1
DM dengan koma (E1x.0) 22,973 244,655 16.8
Penyakit ginjal kronik (N18) 19,510 200,326 14.3
Retinopati (E1x.3) 18,452 191,936 13.5
Ketoasidosis (E1x.1) 6,485 68,647 4.7
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

6.5 Belanja INA-CBG teratas

Unit: Miliar Rupiah (tertimbang)

Tabel 5.5: INA-CBG Belanja Tertinggi Unit: Rp
INA-CBG Klaim (n) Miliar Rp Rerata (Rp)
Penyakit Kronis Kecil Lain-Lain 2,803,893 5,915 193,196
Penyakit Kencing Manis & Gangguan Nutrisi/ Metabolik Ringan 17,544 639 3,859,538
Penyakit Kronis Kecil Lainlain 121,498 272 193,643
Prosedur Dialisis 20,761 186 868,945
Perawatan Luka 82,230 165 194,532
Prosedur Ultrasound Lain-Lain 20,477 125 567,174
Prosedur Therapi Fisik Dan Prosedur Kecil Muskuloskletal 70,236 102 124,099
Prosedur Lain-Lain Pada Mata 31,501 92 264,477
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

6.6 Gradien biaya menurut beban komplikasi

Unit: Rerata Rupiah (juta) per pasien | menurut jumlah komplikasi

Tabel 5.6: Biaya per Pasien menurut Jumlah Komplikasi Unit: Rp
Beban komplikasi Pasien (n) Rerata biaya (Rp) % rawat inap
Tanpa komplikasi 47,039 7,756,884 47.8
1 komplikasi 49,519 12,919,006 54.3
2+ komplikasi 39,991 23,913,148 69.7
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

6.7 Keterjangkauan per pulau (biaya vs kontak)

Unit: rerata kunjungan per pasien dan % rawat inap, per pulau

Tabel 5.7: Keterjangkauan Diabetes per Pulau Unit: pasien
Pulau Pasien (n) Rerata kunjungan % rawat inap Rerata biaya (Rp)
Jawa 75,642 29.7 54.0 15,353,499
Sumatera 30,547 22.3 60.7 13,918,812
Sulawesi 11,111 17.5 62.3 13,479,040
Kalimantan 9,589 20.4 56.8 13,636,955
Bali-Nusra 7,051 26.1 53.9 14,940,429
Maluku-Papua 2,606 13.0 63.0 12,287,327
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024

Inti Pilar 5: Belanja FKRTL diabetes (kohort) ~Rp 19.3 triliun kumulatif 2015-2024, naik tajam dari tahun ke tahun. Belanja didominasi rawat inap berbiaya tinggi (komplikasi), dan hanya ~79,802 pasien DM terjaring Prolanis di FKTP. JKN menanggung perawatan kuratif diabetes dan komplikasinya (dialisis adalah salah satu beban INA-CBG terbesar JKN), tetapi investasi pada pencegahan dan kendali dini (Prolanis, skrining) jauh lebih kecil daripada belanja komplikasi, padahal komplikasi yang dapat dicegah (ACSC) menyumbang 39.9% rawat inap diabetes.

7 Pilar 6, Tata Kelola

  1. Prolanis, regulasi PTM, Fornas, PERKENI, dan senjang insentif
Pertanyaan: Apakah instrumen tata kelola (program, regulasi, pedoman, insentif) mengarahkan sistem ke pencegahan dan kendali dini, atau ke pengobatan komplikasi?
Catatan sumber (penting). Tabel berikut adalah ringkasan kualitatif instrumen kebijakan (Prolanis, Permenkes PTM, Fornas, PERKENI, akreditasi), bukan dihitung dari data. Kolom Status mencerminkan pemetaan kebijakan, bukan ukuran cakupan atau mutu yang terhitung.
Tabel 6.1: Instrumen Tata Kelola Diabetes ringkasan kualitatif kebijakan, BUKAN dihitung dari data
Instrumen Fokus Status
Prolanis (BPJS) Pengelolaan kronis DM tipe 2 & hipertensi di FKTP Berlaku, cakupan & mutu bervariasi
Permenkes PTM / Posbindu Deteksi dini & pengendalian PTM di komunitas Berlaku (sebagian non-klaim)
Fornas Obat antidiabetes esensial Berlaku, akses insulin di primer terbatas
PNPK/PERKENI DM Standar tata laksana klinis Ada, penerapan bervariasi
Akreditasi FKTP/RS Mutu fasilitas Berlaku, indikator DM-spesifik terbatas
Insentif pencegahan vs kuratif Insentif hulu (skrining/kendali) Senjang: belanja didominasi komplikasi kuratif
Kompilasi kualitatif kebijakan kunci (Prolanis, Permenkes PTM, Fornas, PERKENI), bukan komputasi data. Status = pemetaan kebijakan, bukan ukuran cakupan/mutu.
Inti Pilar 6: Kerangka tata kelola (Prolanis, Posbindu, Fornas, PERKENI) ada dan menyeluruh, tetapi insentif finansial dan operasional masih berat ke hilir: belanja JKN didominasi komplikasi kuratif, sementara Prolanis menjangkau sebagian kecil pasien DM. Penguatan tata kelola perlu menggeser insentif ke deteksi dini, kendali glikemik di FKTP, dan distribusi tenaga/dialisis yang lebih merata.

8 Senjang Tata Laksana dan Tolok Ukur

Treatment gap: kapasitas pasokan vs beban diabetes (SKI 2023 / WHO)
Pertanyaan: Bagaimana kapasitas pasokan dibandingkan beban penyakit diabetes dan tolok ukur internasional?

Unit: campuran (lihat label indikator)

Tabel 7.1: Senjang Kapasitas vs Tolok Ukur ilustratif
Indikator Indonesia Acuan
Endokrinolog per 100k 0.035 0.5
RS hemodialisa per 1 juta (nasional) 1.680 10.0
Internis per 100k 1.747 5.0
Acuan ilustratif dari literatur/WHO; bukan target resmi nasional.
Inti senjang: SKI 2023 memperkirakan prevalensi diabetes dewasa tinggi (sekitar 11,7% toleransi glukosa terganggu dan diabetes; ~2% terdiagnosis), sehingga estimasi penduduk DM terdiagnosis ~5,688,779 jiwa. Terhadap beban itu, 99 endokrinolog berarti 1 spesialis untuk ~57,462 pasien DM terdiagnosis. Beban diabetes dikelola hampir seluruhnya oleh internis dan dokter umum di FKTP, sementara komplikasi (gagal ginjal, retinopati) menghadapi gurun layanan yang luas di luar Jawa.

9 Skor AAQ

Ketersediaan, Keterjangkauan, Mutu menurut Pilar
Tabel 8.1: Skor AAQ Sistem Diabetes Indonesia (2025) sintesis enam pilar
Pilar Ketersediaan Keterjangkauan Mutu
1 Layanan Penyakit dalam 2,954 RS; hemodialisa 478 RS 60.9% kab tanpa hemodialisa Layanan komplikasi (ginjal/mata) terpusat di kota
2 Tenaga 99 endokrinolog (0.035/100k) 92.4% kab tanpa endokrinolog; Gini 0.956 Bertumpu Sp.PD (4,970) & dokter umum
3 Informasi SIP tercatat per kategori Data per kab tersedia Tak ada registri DM/HbA1c; stok obat parsial
4 Obat Metformin/sulfonilurea di Fornas Sebagian di primer Insulin sering RS-only; strip/HbA1c terbatas
5 Pembiayaan JKN tanggung kuratif ~Rp 19.3 T kumulatif Belanja didominasi komplikasi; hulu kecil
6 Tata kelola Prolanis + Fornas + PERKENI Cakupan Prolanis bervariasi Insentif pencegahan lemah
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024
Sintesis. Kerangka (Prolanis, Fornas, PERKENI) dan pembiayaan kuratif ada, tetapi kapasitas spesialistik untuk diabetes dan komplikasinya langka dan Jawa-sentris (99 endokrinolog; hemodialisa absen di 60.9% kabupaten), dan sistem berorientasi mengobati komplikasi, bukan mencegahnya. Penguatan perlu bergeser ke deteksi dini dan kendali glikemik di layanan primer (Prolanis diperkuat), distribusi tenaga dan dialisis yang lebih merata, serta registri diabetes nasional.

10 Kerangka indikator dan rujukan

Indikator dan sumber
Kepadatan tenaga: headcount DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025 / proyeksi penduduk BPS 2025, per 100.000 penduduk (konvensi WHO untuk spesialis). Ketersediaan layanan: deklarasi layanan SIRS Kemenkes 2025-10. Gurun layanan/tenaga: kabupaten tanpa fasilitas/tenaga (peta kode BPS). Konsentrasi: koefisien Gini antar-kabupaten. Pembiayaan: kohort dm Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15, ARC12.5; biaya = FKL48 biaya verifikasi/verified-paid, lingkup klaim FKRTL ber-kode E10-E14 pada FKL15A atau SDX, konsisten dengan laporan permintaan). Rujukan kerangka: WHO Health System Building Blocks (2010); WHO Global Report on Diabetes (2016); PERKENI Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan DM Tipe 2; Formularium Nasional; SKI 2023 (prevalensi DM). Kaskade obat WHO-EML to Fornas to FKTP dirinci di HTA Watchdog ARC.

11 Keterbatasan

  1. DREAMS headcount = posisi per faskes; tenaga yang praktik di lebih dari satu faskes dapat terhitung ganda (lihat rasio SIP:headcount). SIP = jumlah izin praktik.
  2. Layanan SIRS = dideklarasikan RS, bukan akreditasi, volume, atau mutu aktual.
  3. Denominator utama per 100.000 penduduk total; per-100k pasien-DM memakai proksi prevalensi terdiagnosis 2.0% (SKI/BPS), bukan denominator pasien-DM aktual per kabupaten.
  4. Obat: kepatuhan, stok riil (ASPAK), dan akses insulin di primer tidak terukur dari data ini.
  5. Pembiayaan = kohort dm enriched ARC12.5 (tertimbang), bukan proyeksi belanja nasional penuh.
  6. Tolok ukur internasional bersifat ilustratif (WHO/literatur), bukan target resmi nasional.
  7. Pemisahan kota/desa memakai aturan kode BPS (>=71 = Kota); tidak menangkap heterogenitas dalam satu kabupaten.
  8. 81 RS SIRS (termasuk 8 ber-hemodialisa) memiliki kode kabupaten yang belum ada di tabel penduduk BPS, akibat pemekaran provinsi pasca-2022 (kode 92 Papua Barat Daya, 20, 64, 14), dan terkecualikan dari hitung cakupan/gurun; angka per-juta wilayah timur dapat sedikit lebih tinggi dari yang tertera.
  9. Pilar 4 (obat) dan Pilar 6 (tata kelola) adalah ringkasan kualitatif kompilasi Fornas/PERKENI/kebijakan, BUKAN dihitung dari data; tidak boleh dibaca sebagai ukuran cakupan/stok terukur.
  10. Proksi prevalensi DM 2,0% adalah angka nasional tunggal; prevalensi terdiagnosis perkotaan lebih tinggi (~3-4% DKI) dan perdesaan lebih rendah, sehingga per-100k pasien-DM TIDAK valid untuk perbandingan antar-kabupaten.
  11. Klaim 2023 pada kohort dm terpotong (n=13.617 vs ~400-600 ribu tahun lain); dikecualikan dari interpretasi tren rerata-biaya (Tabel 5.1, batang abu).

12 Catatan revisi (tinjauan dua model)

Tentang revisi ini
Versi ini disusun dengan menggabungkan dua tinjauan model independen atas analisis yang ada (Opus = Tinjauan A, Sonnet = Tinjauan B), lalu memperbaiki temuan yang terkonfirmasi terhadap data dan menambah analisis bernilai tinggi. Temuan yang diangkat kedua model atau terverifikasi ulang terhadap bundle dikerjakan lebih dulu.
Tabel 9.1: Ringkasan Perubahan Tinjauan Dua Model transparansi revisi
Perubahan Jenis Pengusul
Poli Endokrin & Metabolik-Endokrin digabung jadi satu kolom (logika ATAU): 564 RS / 17,2%, bukan dua baris 451+452 yang tumpang tindih 339 RS Perbaikan data (HIGH) Sonnet (B)
Tolok ukur RS hemodialisa pakai angka NASIONAL (1,68/juta), bukan angka Jawa (1,88) yang memperkecil senjang semu Perbaikan nilai (MEDIUM) Sonnet (B)
Klaim 2023 ditandai terpotong (n=13.617; rerata Rp 826.878 anomali): batang abu + catatan kaki, dikecualikan dari interpretasi tren Perbaikan hasil (HIGH) Sonnet (B)
Sensitivitas gurun dialisis HD vs Dialisis/CAPD (semua) ditambahkan; HD 60,9% kab nihil vs CAPD-luas 48,2% Analisis baru Sonnet (B)
81 RS (8 ber-HD) dengan kode kab pemekaran (92/20/64/14) di luar tabel BPS dicatat + masuk keterbatasan Perbaikan cakupan (MEDIUM) Sonnet (B)
Caveat proksi prevalensi DM 2,0% diperkuat: per-100k pasien-DM bukan untuk perbandingan antar-kabupaten Penajaman interpretasi (MEDIUM) Sonnet (B)
Pilar 4 (obat) & Pilar 6 (tata kelola) diberi disclaimer eksplisit: ringkasan kualitatif, BUKAN dihitung dari data Transparansi (LOW) Sonnet (B)
Gradien biaya menurut jumlah komplikasi (tanpa to 2+ komplikasi) menautkan gurun layanan komplikasi ke pendorong belanja Analisis baru Konsensus dua model
Keterjangkauan per pulau (intensitas kontak vs % rawat inap) sebagai lapisan ekuitas Jawa-sentris Analisis baru Konsensus dua model
Palet multi-warna ARCBR colorblind-aware (teal/coral/amber/indigo) menggantikan navy/abu monokrom; ramp viridis/mako untuk heat Peningkatan visual Permintaan pengguna
Tinjauan A (Opus) menyoroti kebutuhan penajaman denominator/visual; Tinjauan B (Sonnet) memberi temuan kode terperinci (dedup poli, tolok ukur HD, truncation 2023). Semua perbaikan diverifikasi ulang terhadap bundle dan basis data sebelum diterapkan.
Perbandingan model. Tinjauan B (Sonnet) menangkap mayoritas temuan kode terperinci yang dapat diverifikasi (duplikasi poli Endokrin/Metabolik, tolok ukur HD memakai angka Jawa, truncation klaim 2023, kode kabupaten pemekaran). Tinjauan A (Opus) tidak mengembalikan butir spesifik pada putaran ini, sehingga adjudikasi bersandar pada verifikasi ulang Tinjauan B terhadap data aktual (semua dikonfirmasi benar). Dua analisis baru (gradien biaya per komplikasi, ekuitas per pulau) adalah pengembangan konsensus dari arah kedua tinjauan.

Analisis sisi pasokan sistem kesehatan untuk diabetes melitus. Pelengkap laporan klaim JKN ARC12.5. ARC12 Aging and Chronic Disease Institute.