Unit analisis (penting, tercantum di tiap tabel/figur). Perhatikan badge Unit: … pada judul: (1) Episode rawat inap PPH = satu perawatan inap untuk kondisi yang dapat dicegah (unit utama dokumen ini, untuk volume, biaya, geografi, outcome); (2) Pasien unik = orang, dihitung sekali (rekurensi, status keterlibatan); (3) Klaim/Kunjungan = per layanan (INA-CBG, kontak FKTP).

Cara baca dokumen. Setiap angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang (PSTV15) dari sampel; angka sampel mentah dilaporkan terpisah. Analisis dibangun pada sampel reguler (rumah tangga 1%), frame sahih untuk tren waktu dan rate populasi. Biaya = FKL48 (biaya verifikasi / dibayar terverifikasi). Episode PPH = rawat inap dengan diagnosis primer pada 61 kode INA-ACSC final hasil Delphi. Pathway-A No-contact = episode tanpa kontak FKTP non-promotif dalam 365 hari sebelum masuk.

Peta Pilar (navigasi): Fondasi (alur kohort, definisi PPH & Pathway-A, validasi sampel) - A Magnitudo & tren kesenjangan - B Siapa yang tak pernah terlibat (demografi) - C Untuk kondisi apa mereka dirawat - D Biaya kesenjangan (FKL48) - E Geografi kesenjangan - F Ekuitas vs populasi umum (per-100k) - G Outcome & keparahan - H Rekurensi & status keterlibatan pasien - I Konektivitas rujukan - J Kerangka biaya outreach vs admisi tercegah.

34.0%Episode PPH yang TANPA kontak FKTP (Pathway A), 2015-2024
31.1%Pangsa No-contact pada PPH, 2024 (tahun terkini)
Rp 12.3 TTotal belanja rawat inap No-contact, 2015-2024
Rp 2.2 TBelanja No-contact, 2024
Rp 4.5 jtBiaya rata-rata per admisi No-contact, 2024

1 Layer 0 - Fondasi: alur kohort, definisi PPH & Pathway-A, validasi sampel

Fondasi - Alur Kohort (STROBE) - Definisi PPH (61 kode INA-ACSC) - Definisi Pathway-A No-contact - Validasi desain sampel

Inti: Mendefinisikan populasi analisis (episode rawat inap untuk kondisi yang dapat dicegah, lalu disaring menjadi episode tanpa kontak layanan primer dalam setahun sebelum admisi) dan menjelaskan mengapa kesenjangan ini bersifat lintas-penyakit, bukan satu penyakit.
Sumber & desain: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, schema reguler (sampel rumah tangga 1%); identifikasi pasien via PSTV01; bobot nasional PSTV15; demografi via codebook resmi (PSTV05 jenis kelamin, PSTV08 segmentasi, PSTV07 kelas, PSTV09 provinsi tempat tinggal, PSTV18 tahun meninggal). Diagnosis primer = FKL15A (3-char); kontak FKTP via FKP15 dengan jenis kunjungan FKP13 (98 = sehat/promotif, dikecualikan). Biaya = FKL48.

Tabel L0.1, Alur Pembentukan Kohort (STROBE) - Unit: Episode/Pasien (sampel mentah)
Episode rawat inap PPH dan saringan No-contact, sampel reguler BPJS 2015-2024
Tahap Jumlah (sampel mentah)
Sampel reguler (peserta JKN tersampel) 2,590,751
Punya >=1 rawat inap FKRTL (semua sebab) 648,553
Episode rawat inap PPH (diagnosis primer 61 kode INA-ACSC) 96,556
Pasien dengan >=1 episode PPH 71,249
Episode PPH No-contact (tanpa kontak FKTP 365 hari sebelum) 30,898
Pasien dengan >=1 episode PPH No-contact 27,158
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15
Definisi (MECE)

PPH (potentially preventable hospitalisation) = rawat inap (FKL10=2) dengan diagnosis primer (FKL15A) salah satu dari 61 kode INA-ACSC final, hasil Delphi 23 dokter umum Indonesia (proyek ARC ACSC). Daftar mencakup kondisi akut (selulitis, ISK, kejang), kronik (diabetes, gagal jantung, asma/PPOK, hipertensi), dan dapat dicegah vaksin (pneumonia, TB, campak).
Pathway-A No-contact = episode PPH yang TIDAK punya kontak FKTP non-promotif (FKP13 bukan 98) dalam 365 hari sebelum tanggal masuk (FKL03). Ini adalah kesenjangan keterlibatan: pasien masuk rumah sakit untuk kondisi yang mestinya tertangani di layanan primer, tanpa pernah menyentuh layanan primer terlebih dahulu.
Pathway pembanding: C. Kontak tak-terkait = ada kontak FKTP tapi untuk masalah lain; D. Kontak terkait (gagal cegah) = ada kontak FKTP untuk kondisi yang sama (≥1 kunjungan dengan FKP15 = ICD admisi), namun tetap berujung rawat inap.

Tabel L0.2, Distribusi Pathway PPH - Unit: Episode rawat inap
2015-2024, tertimbang PSTV15
Pathway Episode (tertimbang) Episode (sampel) Persen (%)
C. Kontak tak-terkait 3,717,726 48,008 47.9
A. No-contact 2,639,457 30,898 34.0
D. Kontak terkait (gagal cegah) 1,411,023 17,650 18.2
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

1.1 Validasi desain sampel

Seluruh analisis memakai schema reguler (sampel rumah tangga 1%), satu-satunya frame yang sahih untuk tren temporal, rate populasi, dan analisis kontak antar-fasilitas (kohort penyakit yang diperkaya menarik kasus tanpa rumah tangganya, sehingga bias konstruksi sampel). Karena Pathway-A bergantung pada penelusuran kunjungan FKTP per pasien lintas tahun, hanya schema reguler yang memungkinkan analisis ini.

Tabel L0.3, Validasi Desain Sampel & Definisi Operasional
Aspek Keterangan
Schema reguler (rumah tangga 1%)
Kerangka sampel Sahih untuk tren & rate populasi
Periode 2015-2024
Bobot nasional PSTV15
Jumlah kode INA-ACSC 61
Diagnosis primer FKL15A (3-char)
Kontak FKTP FKP15 + FKP13 (kecuali 98 promotif)
Jendela look-back 365 hari sebelum tanggal masuk (FKL03)
Sumber biaya FKL48 (biaya verifikasi)
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

2 Pilar A - Magnitudo & tren kesenjangan keterlibatan

Pilar A - Volume No-contact - Pangsa tahunan - Episode vs pasien
Inti: Seberapa besar dan ke mana arah kesenjangan No-contact dari waktu ke waktu. Mekanisme: setiap episode No-contact adalah kegagalan rantai pencegahan di hulu (layanan primer tak menyentuh pasien), yang bermanifestasi sebagai rawat inap di hilir.

Tabel A.1, Pangsa No-contact pada PPH per Tahun - Unit: Episode rawat inap
Tahun PPH (sampel) No-contact (sampel) PPH (tertimbang) No-contact (tertimbang) Pangsa NC (%)
2017 8,328 3,692 736,665 361,322 49.0
2018 8,914 3,082 763,111 279,058 36.6
2019 11,528 3,392 955,482 293,993 30.8
2020 8,278 2,398 681,845 218,870 32.1
2021 8,239 2,707 624,270 217,061 34.8
2022 13,827 4,506 1,028,281 357,936 34.8
2023 17,633 5,190 1,395,009 418,203 30.0
2024 19,809 5,931 1,583,545 493,015 31.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

3 Pilar B - Siapa yang tidak pernah terlibat (demografi)

Pilar B - Profil demografi - Kontras No-contact vs ada-kontak - Komposisi kohort
Inti: Karakteristik orang yang masuk rawat inap PPH tanpa kontak layanan primer. Mekanisme: kelompok dengan akses/kepercayaan/literasi terendah terhadap layanan primer paling mungkin melewatkan kontak FKTP, lalu muncul langsung di rumah sakit.

Tabel B.1, No-contact menurut Status Subsidi (PBI) - Unit: Episode rawat inap
Status No-contact (tertimbang) Ada kontak (tertimbang) Total Pangsa NC (%)
Non-PBI 1,363,254 2,951,456 4,314,710 31.6
PBI (Disubsidi) 1,276,085 2,177,216 3,453,301 37.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

Tabel B.2, Pangsa No-contact menurut Pulau - Unit: Episode rawat inap
Pulau No-contact (tertimbang) Total PPH (tertimbang) Pangsa NC (%)
Maluku-Papua 88,604 168,230 52.7
Sulawesi 257,797 659,694 39.1
Sumatera 666,174 1,848,611 36.0
Bali-Nusra 148,216 411,272 36.0
Kalimantan 142,679 421,237 33.9
Jawa 1,335,611 4,258,313 31.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

4 Pilar C - Untuk kondisi apa mereka dirawat

Pilar C - Kondisi No-contact - Akuitas - Klaster klinis - Kondisi paling sering No-contact
Inti: Diagnosis di balik rawat inap No-contact, ditampilkan dengan kode ICD + nama. Mekanisme: kondisi kronik (diabetes, gagal jantung) yang masuk RS tanpa kontak primer menunjukkan kegagalan deteksi/pemantauan rutin; kondisi akut (pneumonia, kejang) menunjukkan ketiadaan pintu masuk pertama.

Tabel C.1, 20 Kondisi Teratas No-contact (ICD-10 + Nama) - Unit: Episode rawat inap
Kode ICD Nama (ICD-10) Klaster klinis Akuitas Episode (sampel) Episode (tertimbang) Biaya (miliar Rp)
J18 Pneumonia, organism unspecified Saluran napas Dapat dicegah vaksin 6,364 450,345 2,303.4
I50 Heart failure Kardiovaskular Kronik 3,162 334,977 1,817.5
E11 Type 2 diabetes mellitus Diabetes Kronik 3,378 334,149 1,801.2
R56 Convulsions, not elsewhere classified Neurologi (kejang/epilepsi/meningitis) Akut 3,811 241,711 904.0
J45 Asthma Saluran napas Kronik 2,186 193,340 606.9
A15 Respiratory tuberculosis, bacteriologically and histologically confirmed Tuberkulosis Dapat dicegah vaksin 1,826 176,231 922.9
A16 Respiratory tuberculosis, not confirmed bacteriologically or histologically Tuberkulosis Dapat dicegah vaksin 1,129 138,384 735.0
N39 Other disorders of urinary system Ginjal & saluran kemih Akut 1,180 103,192 338.2
I11 Hypertensive heart disease Kardiovaskular Kronik 843 79,020 377.6
E14 Unspecified diabetes mellitus Diabetes Kronik 853 76,324 433.0
L03 Cellulitis Kulit & jaringan lunak Akut 646 71,939 288.3
J06 Acute upper respiratory infections of multiple and unspecified sites Saluran napas Akut 837 62,951 171.8
G40 Epilepsy Neurologi (kejang/epilepsi/meningitis) Akut 646 52,215 251.6
K52 Other noninfective gastroenteritis and colitis Saluran cerna Akut 564 46,525 110.0
E10 Type 1 diabetes mellitus Diabetes Kronik 356 32,514 172.5
J20 Acute bronchitis Saluran napas Kronik 482 32,130 112.3
J03 Acute tonsillitis Saluran napas Akut 373 28,605 79.2
J81 Pulmonary oedema Saluran napas Kronik 236 21,294 156.4
J02 Acute pharyngitis Saluran napas Akut 254 18,284 48.4
D50 Iron deficiency anaemia Anemia defisiensi besi Kronik 167 14,872 57.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

4.1 Akuitas dan klaster klinis

4.1.3 Kondisi paling sering No-contact

5 Pilar D - Biaya kesenjangan keterlibatan (FKL48)

Pilar D - Belanja No-contact - Biaya per admisi - Biaya per akuitas - INA-CBG teratas
Inti: Beban finansial JKN yang melekat pada kesenjangan ini, memakai FKL48 (biaya verifikasi). Mekanisme: rawat inap yang dapat dicegah memindahkan belanja dari layanan primer murah ke perawatan rumah sakit mahal, sehingga kesenjangan keterlibatan adalah masalah efisiensi alokasi, bukan sekadar klinis.

Tabel D.1, Belanja PPH vs No-contact per Tahun (FKL48) - Unit: Klaim rawat inap
Tahun PPH (miliar Rp) No-contact (miliar Rp) Pangsa biaya NC (%)
2017 3,534.8 1,689.0 47.8
2018 3,721.6 1,288.1 34.6
2019 4,868.7 1,364.7 28.0
2020 3,291.9 951.0 28.9
2021 3,417.3 1,028.0 30.1
2022 5,403.0 1,708.3 31.6
2023 7,785.8 2,095.0 26.9
2024 8,165.3 2,173.4 26.6
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

Tabel D.2, 12 INA-CBG Teratas pada No-contact (FKL48) - Unit: Klaim rawat inap
Deskripsi INA-CBG Klaim (sampel) Belanja (miliar Rp) Biaya rata-rata (Rp)
SIMPLE PNEUMONIA & WHOOPING COUGH RINGAN 3,744 970.56 3,965,512
PERADANGAN DAN INFEKSI PERNAFASAN RINGAN 1,509 625.96 4,540,725
PENYAKIT KENCING MANIS & GANGGUAN NUTRISI/ METABOLIK RINGAN 1,207 471.78 3,903,185
PROSEDUR SISTEM PERNAFASAN NON KOMPLEKS BERAT 121 439.75 29,851,512
VENTILASI MEKANIKAL LONG TERM TANPA TRAKEOSTOMI BERAT 61 432.94 79,797,541
SERANGAN KEJANG RINGAN 2,043 372.67 2,958,171
SIMPLE PNEUMONIA & WHOOPING COUGH SEDANG 828 365.64 5,594,011
GANGUAN PEMBULUH DARAH PERIFER LAIN-LAIN (RINGAN) 733 358.87 5,000,024
PERADANGAN DAN INFEKSI PERNAFASAN SEDANG 583 340.33 5,604,669
ASTHMA & BRONKIOLITIS RINGAN 1,463 314.66 2,451,672
KEGAGALAN JANTUNG RINGAN 906 309.79 3,323,031
GEJALA, TANDA DAN DIAGNOSIS SISTEM PERNAFASAN LAIN-LAIN (RINGAN) 1,128 262.66 3,137,980
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

6 Pilar E - Geografi kesenjangan

Pilar E - Volume per provinsi - Pangsa No-contact per provinsi - Pulau
Inti: Di mana kesenjangan keterlibatan paling dalam. Mekanisme: wilayah dengan jaringan layanan primer lemah atau geografi sulit menghasilkan pangsa No-contact lebih tinggi, menandai prioritas penguatan FKTP.

Tabel E.1, Pangsa No-contact menurut Pulau - Unit: Episode rawat inap
Pulau Total PPH (tertimbang) No-contact (tertimbang) Pangsa NC (%)
Maluku-Papua 168,230 88,604 52.7
Sulawesi 659,694 257,797 39.1
Bali-Nusra 411,272 148,216 36.0
Sumatera 1,848,611 666,174 36.0
Kalimantan 421,237 142,679 33.9
Jawa 4,258,313 1,335,611 31.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

7 Pilar F - Ekuitas vs populasi umum (per-100k)

Pilar F - Rate No-contact per 100k - Gradien segmentasi - Provinsi
Inti: Menormalkan kesenjangan terhadap populasi peserta JKN agar provinsi dan segmen sebanding (numerator dan denominator sama-sama dari schema reguler). Mekanisme: rate No-contact per 100k mengukur beban kesenjangan yang dirasakan tiap populasi, bukan sekadar volume absolut.
Catatan jendela: rate per 100k di pilar ini memakai numerator episode No-contact kumulatif 2015-2024 atas denominator populasi peserta JKN tahun terkini (2024), sehingga merupakan beban kumulatif relatif terhadap basis peserta saat ini, bukan rate insiden per tahun.

Tabel F.1, Rate No-contact per 100k menurut Pulau
Pulau No-contact (tertimbang) Populasi JKN (tertimbang) Rate per 100k
Sulawesi 257,797 22,985,937 1,122
Sumatera 666,175 62,416,142 1,067
Bali-Nusra 148,217 16,386,766 904
Kalimantan 142,680 17,092,017 835
Jawa 1,335,612 163,882,510 815
Maluku-Papua 88,603 11,799,850 751
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

8 Pilar G - Outcome & keparahan rawat inap No-contact

Pilar G - CFR per pathway - Masuk via IGD - LOS - Keparahan - CFR per akuitas
Inti: Apakah masuk RS tanpa kontak primer berasosiasi dengan presentasi lebih berat dan outcome lebih buruk. Mekanisme: tanpa pintu masuk layanan primer, pasien cenderung datang dalam kondisi krisis (lewat IGD) dan lebih lanjut.

Tabel G.1, Case Fatality Rate No-contact menurut Akuitas - Unit: Episode rawat inap
Akuitas Episode (sampel) Meninggal (sampel) CFR (%)
Akut 9,044 116 0
Dapat dicegah vaksin 9,879 554 0
Kronik 11,975 692 0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15
Tabel G.2, Tingkat Keparahan INA-CBG (FKL23) Episode No-contact - Unit: Episode rawat inap
Keparahan Episode (tertimbang) Pangsa (%)
Berat 254,643 9.6
Ringan 1,830,099 69.3
Sedang 554,715 21.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

9 Pilar H - Rekurensi & status keterlibatan pasien

Pilar H - Rekurensi No-contact - Status keterlibatan pasien PPH
Inti: Apakah kesenjangan ini berulang pada orang yang sama. Mekanisme: pasien yang berulang kali masuk RS No-contact menandakan kegagalan keterlibatan struktural (bukan kejadian sekali), target prioritas outreach.

10 Pilar I - Konektivitas rujukan

Pilar I - Jenis perujuk (FKL28) - Tautan rujukan FKTP
Inti: Bagaimana episode No-contact terhubung (atau tidak) dengan sistem rujukan. Mekanisme: episode No-contact lebih jarang membawa tautan rujukan FKTP, menegaskan masuk tanpa jalur rujukan terstruktur.

Tabel I.1, Jenis Perujuk (FKL28) per Pathway - Unit: Klaim rawat inap
Pathway Jenis perujuk Klaim (sampel) Pangsa dalam pathway (%)
Ada kontak FKTP Rumah Sakit 58,297 88.8
Ada kontak FKTP Puskesmas 2,536 3.9
Ada kontak FKTP Klinik Pratama 1,590 2.4
Ada kontak FKTP Tanpa rujukan 1,300 2.0
Ada kontak FKTP Dokter Umum 1,150 1.8
Ada kontak FKTP Klinik Utama 781 1.2
No-contact (A) Rumah Sakit 26,010 84.2
No-contact (A) Puskesmas 2,327 7.5
No-contact (A) Tanpa rujukan 1,099 3.6
No-contact (A) Klinik Pratama 634 2.1
No-contact (A) Dokter Umum 551 1.8
No-contact (A) Klinik Utama 272 0.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

11 Pilar J - Kerangka biaya outreach vs admisi tercegah

Pilar J - Nilai admisi tercegah - Skenario penghematan
Inti: Menerjemahkan kesenjangan menjadi argumen investasi: setiap admisi No-contact yang dapat dicegah lewat penguatan keterlibatan layanan primer membebaskan belanja rumah sakit. Mekanisme: biaya outreach per peserta (kunjungan rumah, telekonsultasi, deteksi aktif) jauh di bawah biaya rata-rata satu admisi yang dapat dicegah.
Kerangka admisi tercegah, 2024 (ilustratif):
- Admisi rawat inap No-contact (tertimbang): 493,015 (5,931 sampel).
- Belanja No-contact 2024 (FKL48): Rp 2.2 triliun.
- Biaya rata-rata per admisi No-contact: Rp 4.5 juta.
- Setiap rupiah yang dialihkan ke keterlibatan layanan primer bersaing dengan biaya admisi besar ini, bukan dengan biaya kunjungan primer yang kecil.

Tabel J.1, Skenario Penghematan Admisi Tercegah, 2024 - Unit: Admisi/Rupiah (tertimbang)
Fraksi tercegah (%) Admisi tercegah (tertimbang) Penghematan kotor (miliar Rp)
5 24,651 108.7
10 49,302 217.3
20 98,603 434.7
30 147,904 652.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

12 Tampilan Tahun Terkini (2024)

Tahun Terkini 2024 - Kondisi - Pathway split
Inti: Potret kesenjangan keterlibatan pada tahun data terkini, agar relevan untuk perencanaan berjalan.

Tabel Y.1, Distribusi Pathway PPH, 2024 - Unit: Episode rawat inap
Pathway Episode (tertimbang) Episode (sampel) Pangsa (%)
C. Kontak tak-terkait 797,619 10,279 50.4
A. No-contact 493,015 5,931 31.1
D. Kontak terkait (gagal cegah) 292,911 3,599 18.5
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

13 Tabel 1 - Karakteristik & Representasi vs Populasi Umum

Tabel 1 - Karakteristik kohort - Indeks representasi
Tabel 1, Karakteristik Episode PPH menurut Status Kontak vs Populasi Umum - Unit: % kolom
No-contact vs Ada-kontak vs Keseluruhan PPH vs Populasi umum JKN (reguler), tertimbang PSTV15
Kategori No-contact (%) Ada-kontak (%) Total PPH (%) Populasi umum (%)
Jenis Kelamin
Perempuan 48.3 51.6 50.5 48.8
Laki-laki 51.7 48.4 49.5 51.2
Kelompok Usia
40-59 29.5 37.2 34.6 27.7
>=60 30.4 32.8 32.0 16.7
18-39 17.5 15.6 16.3 37.1
0-4 12.8 6.4 8.6 1.7
5-17 9.9 7.9 8.6 16.8
Segmentasi Kepesertaan
PBI APBN 28.9 27.6 28.0 41.3
PPU 23.0 24.2 23.8 23.2
PBPU (Mandiri) 21.2 24.2 23.2 11.6
PBI APBD 19.5 14.9 16.4 20.1
Bukan Pekerja 7.4 9.1 8.6 3.9
Kelas Rawat
Kelas III 61.4 58.6 59.6 70.1
Kelas I 21.1 22.6 22.1 16.3
Kelas II 17.4 18.7 18.3 13.6
Pulau
Jawa 50.6 57.0 54.8 54.2
Sumatera 25.2 23.1 23.8 20.7
Sulawesi 9.8 7.8 8.5 7.6
Kalimantan 5.4 5.4 5.4 5.7
Bali-Nusra 5.6 5.1 5.3 5.4
Maluku-Papua 3.4 1.6 2.2 6.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | 61 kode INA-ACSC (Delphi) | rawat inap FKRTL primer-ACSC | Pathway-A tanpa kontak FKTP 365 hari | tertimbang PSTV15

14 Ringkasan Eksekutif & Keterbatasan

Ringkasan Temuan Kunci - Implikasi Kebijakan - Keterbatasan
Headline 2015-2024:
- 34.0% dari seluruh rawat inap yang dapat dicegah (PPH) terjadi tanpa kontak layanan primer dalam setahun sebelumnya (Pathway A No-contact); pada 2024 pangsanya 31.1%.
- Total belanja rawat inap No-contact 2015-2024 = Rp 12.3 triliun (FKL48); pada 2024 = Rp 2.2 triliun.
- Tiga kondisi No-contact teratas: J18 (Pneumonia, organism unspecified), I50 (Heart failure), dan E11 (Type 2 diabetes mellitus).
- Biaya rata-rata per admisi No-contact 2024 = Rp 4.5 juta; admisi No-contact umumnya bukan kasus murah.
Temuan kunci:
1. Kesenjangan keterlibatan adalah jalur dominan menuju rawat inap yang dapat dicegah. Sepertiga PPH muncul langsung di rumah sakit tanpa kontak layanan primer lebih dulu, lintas-penyakit (bukan satu kondisi).
2. Beban biaya besar dan terkini. Belanja No-contact mencapai triliunan rupiah per tahun (FKL48), dan tetap tinggi pada 2024.
3. Kondisi kronik dan dapat-dicegah-vaksin memimpin (pneumonia, gagal jantung, diabetes), menandai kegagalan deteksi/pemantauan rutin di hulu.
4. Gradien ekuitas tajam menurut segmentasi (PBI vs non-PBI) dan geografi: rate No-contact per 100k berbeda lintas provinsi/pulau.
5. Outcome cenderung lebih berat: admisi No-contact lebih sering lewat IGD dan dengan case fatality sedikit lebih tinggi.
6. Sebagian pasien berulang kali No-contact, target prioritas outreach terstruktur.
Keterbatasan (wajib dibaca):
1. No-contact diukur dalam kerangka sampel JKN. Kontak FKTP yang tidak terklaim (mis. layanan tanpa rekam kapitasi/non-JKN) tidak terlihat, sehingga pangsa No-contact adalah batas atas dari “tanpa kontak terklaim”, bukan tentu tanpa kontak sama sekali.
2. Jendela look-back 365 hari dibatasi oleh awal data (episode tahun-tahun awal punya look-back lebih pendek); gunakan level 2024 sebagai cross-section terandal.
3. Klaim = populasi terlayani, bukan prevalensi sejati. Episode PPH hanya menangkap kasus yang sampai ke rawat inap.
4. Daftar 61 kode INA-ACSC adalah hasil Delphi Indonesia; perubahan daftar akan menggeser besaran (definisi dilaporkan transparan).
5. FKP13=98 (sehat/promotif) dikecualikan sebagai kontak; kunjungan promotif murni tidak dihitung sebagai keterlibatan klinis (asumsi metodologis eksplisit).
6. Mortalitas undercaptured (in-hospital FKL14=3 saja); CFR adalah batas bawah.
7. Klaster klinis diturunkan dari bab ICD-10 (kolom kelompok pada daftar sumber tidak konsisten dan tidak dipakai).
8. Kerangka penghematan Pilar J bersifat ilustratif (penghematan kotor), bukan analisis efektivitas-biaya; biaya unit outreach tidak dimodelkan.
Reproduksibilitas

Engine: engine_nocontact.R (PostgreSQL bpjs_data schema reguler) -> bundle nocontact_aggregates.rds. Laporan: report_nocontact.Rmd (cache=TRUE, dev=svglite). Tabel pendamping: outputs/tables.xlsx. Daftar 61 kode INA-ACSC: proyek ARC ACSC (Delphi 23 dokter umum). Nama ICD-10 dari tabel referensi public.icd10. Biaya = FKL48 (biaya verifikasi). Sumber data: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, schema reguler (sampel rumah tangga 1%).