Unit analisis (tercantum di tiap tabel/figur). Dokumen ini memakai tiga unit, perhatikan badge · Unit: …: (1) Pasien unik = orang, dihitung sekali (beban, demografi, ekuitas, klasifikasi MI akut/berulang per pasien); (2) Kunjungan/Klaim = per layanan (volume utilisasi, biaya, INA-CBG, diagnosis); (3) Episode rawat inap = per perawatan inap (LOS, keparahan FKL23, fatalitas/CFR, revaskularisasi).

Cara baca. Setiap angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang (PSTV15) dari sampel reguler BPJS; angka sampel mentah dilaporkan terpisah. Kasus AMI didefinisikan dari kode ICD-10 I21 (infark miokard akut) dan I22 (infark miokard berulang/subsequent) pada diagnosis masuk (FKL15A) atau diagnosis sekunder (SDX) di FKRTL. Demografi diambil dari penggabungan ke berkas kepesertaan (member-join), bukan dari diagnosis per-klaim.

Penting (kerangka interpretasi). Angka di sini adalah kasus serangan jantung yang mencapai fasilitas rujukan (FKRTL) dan diklaimkan ke JKN. Ini menggambarkan beban klinis/rumah sakit yang terlayani, BUKAN insidens AMI nasional. Sebagian besar kematian AMI terjadi pra-rumah-sakit (mendadak, di rumah/perjalanan) dan tidak pernah menghasilkan klaim, sehingga laju terlayani maupun fatalitas in-hospital adalah batas bawah dari beban sesungguhnya. AMI adalah kondisi time-critical, sehingga akses dan kecepatan rujukan menentukan keselamatan.

Peta Pilar (navigasi): Fondasi (kohort, definisi I21/I22, sorotan 2024) · A Beban, Demografi & Geografi · B Layanan Primer (FKTP) · C Keparahan, Lama Rawat & Setting RS · D Rujukan & Konektivitas · E Geografi Peserta-Faskes · F Proses & Luaran (Fatalitas, Mortalitas 30-hari, Readmisi) · G Komorbiditas · H Ekonomi (Pareto, INA-CBG) · I Ekuitas vs Populasi Umum · ★ AMI-spesifik (Revaskularisasi, Mortalitas 30-hari, MI berulang, ICCU) · S Uji Sensitivitas · Triangulasi Riskesdas (treatment-gap) · Indikator & rujukan · Keterbatasan.

1 Fondasi: kohort, definisi & sorotan terkini

0 Fondasi · Pembentukan Kohort · Definisi MI Akut (I21) vs MI Berulang (I22) · Sorotan Tahun Terkini (2024)

Inti: Mendefinisikan populasi analisis (peserta JKN dengan minimal satu klaim FKRTL berkode AMI I21/I22, 2017-2024), pembagian MI akut vs MI berulang, serta menampilkan sorotan tahun terkini (2024) sebagai lensa paling relevan untuk kebijakan.
Sumber & desain (STROBE-ringkas): Studi potong-lintang berulang berbasis klaim administratif. Populasi sumber = peserta JKN pada sampel reguler (sampel rumah tangga ~1%). Identifikasi via PSTV01, bobot nasional PSTV15. Demografi via member-join (PSTV03 lahir, PSTV05 jenis kelamin, PSTV07 kelas rawat, PSTV08 segmentasi, PSTV09 provinsi); tahun kematian = maks(PSTV18) atas seluruh baris kepesertaan. Keparahan FKL23, fatalitas in-hospital FKL14=3, biaya FKL48 (biaya verifikasi/dibayar), revaskularisasi via deskripsi INA-CBG (FKL19A).

1.1 Sorotan 2024 (paling relevan kebijakan)

Tahun terkini, 2024 (proyeksi nasional tertimbang).
170,168 pasien AMI terlayani JKN  |  10.63% fatalitas rumah sakit (CFR in-hospital)  |  14.8% menjalani revaskularisasi (PCI/CABG)  |  Rp 1.63 T belanja FKRTL AMI
Sampel 2024: 2,033 pasien unik · 1,213 episode rawat inap · LOS rata-rata 4 hari. Sekitar 1 dari 9 pasien AMI yang dirawat meninggal di rumah sakit, dan hanya ~1 dari 7 memperoleh tindakan reperfusi invasif, menandai kesenjangan akses kardiologi intervensi.

1.2 Alur kohort

Tabel F.0: Pembentukan Kohort AMI Terlayani JKN · Unit: Pasien/klaim
Sampel reguler BPJS 2017-2024, FKRTL
Indikator Nilai
Klaim FKRTL AMI (I21/I22 di FKL15A atau SDX) 23,177
Pasien unik (sampel) 7,933
Pasien unik (tertimbang, proyeksi nasional) 696,385
Pasien pernah rawat inap (%) 59.5%
Pasien dengan MI berulang/I22 (%) 4.0%
Pasien menjalani revaskularisasi (%) 9.2%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)
Definisi MI Akut (I21) vs MI Berulang (I22)

Mengikuti ICD-10 versi WHO: I21 = infark miokard akut (serangan jantung; mencakup STEMI dan NSTEMI), I22 = infark miokard berulang/subsequent (serangan kedua dalam 28 hari atau berikutnya). Klasifikasi per pasien: pasien yang pernah terkode I22 digolongkan “MI berulang”; sisanya “MI akut”. STEMI vs NSTEMI tidak dapat dipisahkan secara andal dari kode 3-karakter I21 pada data ini (subkode I21.0-I21.4 tidak konsisten tersedia), sehingga keduanya digabung sebagai I21. I20-I25 (penyakit jantung iskemik luas) dipakai sebagai konteks saja, tidak masuk denominator AMI aktif. Kode administratif Z09 (tindak-lanjut) yang hanya membawa AMI di diagnosis sekunder dikeluarkan dari kohort.

1.3 Konteks: AMI dalam spektrum penyakit jantung iskemik (I20-I25)

Tabel F.0b: Spektrum Penyakit Jantung Iskemik (I20-I25) · Unit: Klaim
ICD-10 Penyakit / kondisi Klaim (sampel) Klaim (tertimbang)
I25 Chronic ischaemic heart disease 135,946 12,356,990
I20 Angina pectoris, unspecified 26,306 2,147,553
I21 Acute myocardial infarction, unspecified 16,679 1,360,726
I24 Acute ischaemic heart disease, unspecified 9,137 839,026
I23 Atrial septal defect as current complication following acute myocardial infarction 830 62,006
I22 Subsequent myocardial infarction 696 50,955
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | fokus laporan = I21+I22
Keterbatasan utama (berlaku di seluruh dokumen). Angka adalah kasus AMI yang sampai ke FKRTL dan diklaimkan, bukan seluruh serangan jantung. Kematian mendadak pra-rumah-sakit (porsi besar pada AMI), kasus tanpa klaim, dan AMI yang tidak terdiagnosis tidak tertangkap. STEMI/NSTEMI tidak terpisahkan; door-to-balloon time TIDAK ada dalam klaim. Revaskularisasi dan ICCU diukur via deskripsi INA-CBG (proksi), bukan rekaman prosedur langsung.

2 Pilar A, Beban, Demografi & Geografi

A Pilar A · Beban Tahunan & Laju Terlayani · MI Berulang · Usia x Tahun · Piramida · Jenis Kelamin · Geografi
Pertanyaan: Seberapa besar dan seberapa cepat tumbuh beban AMI terlayani JKN, bagaimana laju terlayani per 100.000 peserta, bagaimana profil usia-jenis kelamin (AMI klasik laki-laki paruh baya), dan bagaimana sebaran wilayahnya.

2.1 Beban tahunan (kumulatif & per tahun)

2.1.1 Total per tahun

Tabel A.1: Pasien AMI Terlayani per Tahun · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Tahun Pasien (sampel) Pasien (tertimbang) MI berulang/I22 (tertimbang) Pernah inap (tertimbang)
2017 677 64,818 3,218 36,049
2018 870 78,651 3,455 34,984
2019 1,060 89,392 5,639 42,396
2020 975 81,999 3,445 45,930
2021 990 79,416 1,976 42,692
2022 1,343 112,597 3,524 62,288
2023 1,735 153,762 4,270 79,612
2024 2,033 170,168 5,802 90,623
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

2.1.2 Laju terlayani per 100k JKN (per tahun)

Tabel A.2: Laju AMI Terlayani per 100k Peserta JKN · Unit: Pasien per 100k
Tahun Pasien (tertimbang) Peserta JKN (DJSN) Laju per 100k
2017 64,818 187,980,000 34.48
2018 78,651 208,050,000 37.80
2019 89,392 224,150,000 39.88
2020 81,999 222,460,000 36.86
2021 79,416 235,720,000 33.69
2022 112,597 248,770,000 45.26
2023 153,762 267,310,000 57.52
2024 170,168 277,860,000 61.24
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | denominator peserta JKN nasional per tahun (DJSN); 2020-21 terdampak COVID-19

2.1.3 Insidens terlayani (pasien baru per tahun)

2.2 Usia menurut tahun

Tabel A.4: Pasien AMI menurut Tahun x Kelompok Usia · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Tahun 40-54 55-64 65-74 75+ <40
2017 19,162 19,744 13,773 7,366 4,773
2018 26,570 26,706 12,752 8,224 4,400
2019 29,944 29,607 15,940 7,514 6,386
2020 29,157 28,257 16,974 4,432 3,179
2021 30,950 25,399 13,743 4,736 4,589
2022 36,798 38,512 20,762 9,418 7,107
2023 44,686 45,433 39,030 16,030 8,584
2024 51,130 56,860 37,229 10,879 14,070
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

2.3 Piramida usia-jenis kelamin

Tabel A.5: Pasien AMI menurut Usia x Jenis Kelamin · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Kelompok usia Laki-laki Perempuan
<40 29,589 15,165
40-54 152,073 69,290
55-64 144,616 73,657
65-74 94,924 54,445
75+ 34,770 27,857
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

2.4 Jenis kelamin & rasio

2.5 Geografi (pulau & provinsi)

Tabel A.7: 15 Provinsi dengan Pasien AMI Terbanyak · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Provinsi Pulau Sampel Tertimbang %
Jawa Tengah Jawa 1,487 126,516 18.2
Jawa Barat Jawa 1,089 122,300 17.6
Jawa Timur Jawa 1,091 94,616 13.6
DKI Jakarta Jawa 284 56,890 8.2
Banten Jawa 216 28,200 4.0
DI Yogyakarta Jawa 296 27,215 3.9
Sumatera Utara Sumatera 336 25,962 3.7
Sumatera Barat Sumatera 248 22,740 3.3
Sulawesi Selatan Sulawesi 216 17,692 2.5
Riau Sumatera 218 17,138 2.5
Aceh Sumatera 166 14,754 2.1
Sumatera Selatan Sumatera 248 14,115 2.0
Kalimantan Timur Kalimantan 145 12,871 1.8
Bali Bali-Nusra 222 12,725 1.8
Lampung Sumatera 172 12,122 1.7
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)
Key takeaway Pilar A: Beban AMI terlayani JKN tumbuh tajam sepanjang 2017-2024, terutama sejak 2022, dengan laju terlayani per 100.000 peserta meningkat (dengan dip pandemi 2020-2021). Profil klasik: dominan laki-laki usia 55-74, dengan perempuan menyusul pada usia lanjut. Sebaran absolut mengikuti populasi Jawa-Sumatera, namun (lihat Pilar I & Triangulasi) laju terlayani justru rendah di wilayah dengan prevalensi penyakit jantung komunitas tinggi, menandai kesenjangan akses geografis.

3 Pilar B, Layanan Primer (FKTP)

B Pilar B · Kontak AMI di FKTP · Konteks Iskemik Kronik · Cakupan FKTP vs FKRTL
Pertanyaan: Sejauh mana AMI muncul di layanan primer (FKTP)? AMI adalah kondisi akut yang seharusnya langsung ke IGD/RS, sehingga kontak FKTP berkode AMI rendah, tetapi penyakit jantung iskemik kronik (I20-I25) membebani layanan primer untuk pemantauan jangka panjang.

3.1 Kontak AMI di FKTP per tahun

Tabel B.1: Kontak AMI di FKTP per Tahun · Unit: Kontak (sampel)
Tahun Kontak FKTP AMI (sampel)
2015 206
2016 219
2017 429
2018 574
2019 674
2020 637
2021 624
2022 712
2023 902
2024 1,108
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | FKTP: FKP15 (2015-2016) / FKP14A (2017+)

3.2 Cakupan layanan (rawat inap vs rawat jalan saja)

Tabel B.2: Pola Layanan FKRTL Pasien AMI · Unit: Pasien unik
Pola layanan Pasien (sampel) Pasien (tertimbang) %
Pernah rawat inap 4,717 415,032 59.6
Hanya rawat jalan FKRTL 3,216 281,353 40.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | AMI didominasi episode rawat inap
Key takeaway Pilar B: AMI hampir tidak melewati FKTP sebagai titik diagnosis (hanya 6,085 kontak FKTP sepanjang 10 tahun) karena merupakan kegawatdaruratan yang langsung ke IGD rumah sakit; sebaliknya 59.6% pasien pernah rawat inap. Beban layanan primer untuk jantung sebenarnya berada pada iskemik kronik (I20-I25) untuk pencegahan sekunder, yang jauh lebih besar (95,252 kontak FKTP).

4 Pilar C, Keparahan, Lama Rawat & Setting RS

C Pilar C · Tingkat Layanan & Tren · Keparahan FKL23 · Lama Rawat (LOS) · Kelas RS · Kepemilikan · Diagnosis
Pertanyaan: Bagaimana spektrum keparahan AMI yang dirawat, berapa lama dirawat (LOS) menurut usia dan tahun, di RS kelas dan kepemilikan apa pasien dirawat, dan diagnosis penyerta apa yang menyertai klaim.

4.1 Tingkat layanan & tren

4.1.1 Komposisi

Tabel C.1: Tingkat Layanan FKRTL AMI · Unit: Kunjungan
Tingkat layanan Kunjungan (sampel) Kunjungan (tertimbang) %
Rawat Jalan 17,850 1,395,112 74.8
Rawat Inap 5,327 471,011 25.2
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

4.1.2 Tren rawat jalan vs inap

4.2 Keparahan INA-CBG (FKL23)

4.2.1 Distribusi

4.2.2 Keparahan menurut usia

Tabel C.3: Keparahan Rawat Inap (FKL23) menurut Usia · Unit: Episode, %% per baris
Kelompok usia 2 Ringan 3 Sedang 4 Berat
<40 63.1 9.9 27.0
40-54 49.7 18.1 32.2
55-64 40.3 23.6 36.1
65-74 37.5 19.8 42.7
75+ 27.8 16.5 55.7
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | FKL23: 2=Ringan, 3=Sedang, 4=Berat

4.3 Lama rawat (LOS)

4.3.1 LOS menurut usia

4.3.2 LOS per tahun & per tipe

Tabel C.4: Tren Lama Rawat Inap AMI per Tahun · Unit: Episode rawat inap
Tahun Episode (sampel) LOS rata-rata LOS median
2017 353 5.2 5
2018 430 4.5 4
2019 539 4.2 4
2020 505 4.3 4
2021 505 4.3 4
2022 787 4.0 4
2023 994 4.1 4
2024 1,213 4.0 3
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)
Tabel C.4b: Lama Rawat menurut Tipe (MI akut/berulang) · Unit: Episode rawat inap
Tipe Episode (sampel) LOS rata-rata LOS median
MI akut (I21) 5,217 4.2 4
MI berulang (I22) 109 4.0 3
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

4.4 Kelas RS, kepemilikan & diagnosis

4.4.1 Kelas & kepemilikan RS

Tabel C.5b: Kepemilikan RS pada Rawat Inap AMI · Unit: Episode
Kepemilikan RS Episode (sampel) Episode (tertimbang) %
Publik 3,204 279,274 59.3
Swasta 2,123 191,738 40.7
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

4.4.2 Diagnosis tersering (kode + nama)

Tabel C.6: 15 Diagnosis Tersering pada Klaim AMI (kode + nama) · Unit: Klaim
ICD-10 Penyakit / kondisi Klaim (sampel) Klaim (tertimbang)
I21 Acute myocardial infarction, unspecified 16,679 1,360,726
I25 Chronic ischaemic heart disease 1,360 95,241
I50 Congestive heart failure 1,211 97,953
I22 Subsequent myocardial infarction 696 50,955
I11 Hypertensive heart disease 397 22,518
I20 Angina pectoris, unspecified 277 20,153
R07 Chest pain, unspecified 205 16,436
I51 Cardiomegaly 175 10,730
E11 Non-insulin-dependent diabetes mellitus with unspecified complications 138 9,179
Z03 Observation for other suspected diseases and conditions 136 8,014
R06 Dyspnoea 132 10,692
I24 Acute ischaemic heart disease, unspecified 128 8,767
N18 Chronic kidney disease, stage 5 80 8,208
Z00 General medical examination 73 6,161
I64 Stroke, not specified as haemorrhage or infarction 54 4,558
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | diagnosis masuk FKL15A; I21/I22 = AMI, lainnya = penyerta/diagnosis bersama
Key takeaway Pilar C: AMI yang sampai ke FKRTL didominasi rawat inap berkeparahan sedang-berat (FKL23), dengan LOS median 4 hari, dirawat terutama di RS kelas A/B yang berkapasitas kardiologi. LOS rata-rata menurun dari ~5 hari (2017) ke ~4 hari (2024), menandai efisiensi rawat akut yang membaik; namun pada AMI, LOS pendek harus dibaca hati-hati karena dapat mencerminkan baik perbaikan jalur reperfusi maupun kematian/pulang dini, sehingga selalu dipasangkan dengan CFR. Pertumbuhan kunjungan rawat jalan menandai akumulasi penyintas yang membutuhkan pencegahan sekunder. Diagnosis penyerta tersering konsisten dengan beban kardiometabolik (gagal jantung, hipertensi, diabetes).

5 Pilar D, Rujukan & Konektivitas

D Pilar D · Jalur Rujukan FKTP · Tipe Perujuk · Geografi Rujukan (lintas kab/prov)
Pertanyaan: Bagaimana pasien AMI mencapai RS, apakah melalui rujukan berjenjang atau langsung IGD, siapa perujuk utamanya, dan seberapa jauh pasien harus melintasi batas wilayah, indikator penting untuk kondisi time-critical seperti serangan jantung.

5.1 Tipe perujuk

5.2 Geografi rujukan (lintas wilayah)

Tabel D.2: Geografi Rujukan Rawat Inap AMI · Unit: Episode rawat inap
Kategori Episode (sampel) %
Dalam kab/kota sama 5,129 93.8
Lintas kab/kota (dalam provinsi) 287 5.2
Lintas provinsi 52 1.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | perbandingan provinsi/kab faskes pelayan (FKL05/06) vs perujuk (FKL25/26)

5.3 Rujukan via FKTP per tahun

Key takeaway Pilar D: Sebagian besar pasien AMI mencapai RS melalui RS lain dan Puskesmas sebagai perujuk, namun sebagai kegawatdaruratan banyak yang masuk langsung via IGD (tautan rujukan FKTP rendah). Sekitar 6.2% episode memerlukan perpindahan lintas kab/kota atau provinsi, jarak yang berbahaya untuk kondisi time-critical dan menegaskan perlunya jaringan layanan jantung regional (sistem rujukan STEMI).

6 Pilar E, Geografi Peserta-Faskes

E Pilar E · Kesesuaian Domisili Peserta dengan Faskes Terdaftar
Pertanyaan: Seberapa dekat faskes terdaftar peserta dengan domisilinya, proksi struktural keterjangkauan layanan dasar yang menjadi pintu pertama saat gejala jantung muncul.
Tabel E.1: Kesesuaian Geografis Peserta-Faskes Terdaftar · Unit: Peserta
Indikator %
Peserta dengan faskes terdaftar di provinsi domisili 94.5
Peserta dengan faskes terdaftar di kab/kota domisili 86.6
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | basis 15,674,893 peserta dengan data lengkap PSTV09/13
Key takeaway Pilar E: Mayoritas peserta JKN terdaftar pada faskes di kab/kota domisilinya (86.6%), sehingga pintu masuk layanan dasar relatif dekat. Tantangan AMI bukan pada faskes primer, melainkan pada ketersediaan RS berkapasitas kardiologi intervensi (cath-lab) yang terkonsentrasi di kota besar (lihat Pilar D & AMI-spesifik).

7 Pilar F, Proses & Luaran

F Pilar F · Fatalitas Rumah Sakit (CFR) · Mortalitas 30-hari · menurut Usia/Jenis Kelamin/Keparahan · Readmisi · Mortalitas Semua-Sebab
Pertanyaan: Berapa proporsi pasien AMI rawat inap yang meninggal di rumah sakit, bagaimana mortalitas 30-hari (indikator unggulan OECD HCQI), kelompok mana yang paling berisiko, dan berapa readmisi. CFR/mortalitas in-hospital = batas bawah (kematian pra-RS tidak tertangkap).

7.1 Fatalitas rumah sakit (CFR)

7.1.1 CFR menurut usia

Tabel F.1: CFR Rawat Inap AMI menurut Usia · Unit: Episode rawat inap
Kelompok usia Episode inap Kematian CFR (%)
<40 332 28 8.43
40-54 1,709 125 7.31
55-64 1,770 208 11.75
65-74 1,061 144 13.57
75+ 455 98 21.54
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | hanya kematian in-hospital FKL14=3, undercount kematian pra-RS

7.1.2 CFR menurut jenis kelamin & tipe

Tabel F.1b: CFR menurut Jenis Kelamin · Unit: Episode rawat inap
Jenis kelamin Episode inap Kematian CFR (%)
Perempuan 1,544 227 14.70
Laki-laki 3,783 376 9.94
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)
Tabel F.1c: CFR menurut Tipe (MI akut/berulang) · Unit: Episode rawat inap
Tipe Episode inap Kematian CFR (%)
MI akut (I21) 5,218 593 11.36
MI berulang (I22) 109 10 9.17
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

7.1.3 CFR menurut keparahan

7.2 Kematian in-hospital dalam 30 hari rawat (proksi indikator OECD)

Konteks: indikator unggulan OECD AMI 30-day mortality (dan mengapa angka ini hanya proksi)

OECD Health Care Quality Indicators menetapkan mortalitas 30-hari pasca-admisi AMI sebagai indikator mutu sistem jantung akut. Indikator OECD baku bersifat berbasis admisi, lintas-setting (termasuk kematian setelah pulang melalui tautan registri kematian), dan distandarisasi umur-jenis kelamin agar dapat dibandingkan antarnegara. Angka pada laporan ini BUKAN indikator OECD itu: ia didekati sebagai kematian in-hospital (FKL14=3) pada episode dengan lama rawat <= 30 hari, sehingga sebenarnya hampir setara CFR in-hospital keseluruhan (kematian yang terjadi setelah pulang tidak tertangkap dan tidak ada standarisasi umur-jenis kelamin). Karena itu angka ini tidak dapat dibandingkan langsung dengan angka OECD age-sex-standardized; ia adalah proksi berbasis klaim dan batas bawah, disajikan untuk konteks dan tren internal, bukan untuk benchmarking lintas-negara yang ketat.

7.2.1 Mortalitas 30-hari menurut usia

Tabel F.3: Mortalitas 30-Hari In-Hospital AMI menurut Usia · Unit: Episode rawat inap
Kelompok usia Episode inap Kematian <=30 hari Mortalitas 30-hari (%)
<40 332 28 8.43
40-54 1,709 125 7.31
55-64 1,770 206 11.64
65-74 1,061 144 13.57
75+ 455 98 21.54
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | proksi OECD: FKL14=3 & LOS<=30 hari; batas bawah (tanpa kematian pasca-pulang)
Tabel F.3b: Mortalitas 30-Hari menurut Jenis Kelamin · Unit: Episode rawat inap
Jenis kelamin Episode inap Kematian <=30 hari Mortalitas 30-hari (%)
Perempuan 1,544 226 14.64
Laki-laki 3,783 375 9.91
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

7.3 Tren fatalitas & readmisi

7.3.1 CFR per tahun

7.3.2 Readmisi & mortalitas semua-sebab

Tabel F.5: Readmisi Rawat Inap Pasca-AMI · Unit: Episode/pasien
Indikator %
Readmisi rawat inap 30 hari 2.5
Readmisi rawat inap 90 hari 4.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | basis 5,327 discharge inap
Tabel F.5b: Mortalitas Semua-Sebab Pasien AMI (PSTV18) · Unit: Pasien
Indikator Nilai
Pasien AMI (sampel) 7,933
Kematian tercatat (PSTV18, sampel) 2,324
Kematian (tertimbang) 207,439
Mortalitas kasar tercatat (%) 29.3%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | PSTV18 hanya terisi untuk tahun snapshot; undercount
Key takeaway Pilar F: Fatalitas rumah sakit AMI tinggi: CFR keseluruhan 11.32% dan kematian in-hospital dalam 30 hari rawat 11.28% (proksi berbasis klaim, BUKAN indikator OECD age-sex-standardized dan tak dibanding-langsungkan). Catatan penting definisi kasus: CFR gabungan 11.32% ini dipengaruhi pencampuran jalur diagnosis. CFR jalur AMI diagnosis utama (klinis bersih) hanya 8.50%, sedangkan jalur AMI hanya-SDX 23.87% (kematian sering didorong kondisi utama, bukan AMI); lihat Pilar S, Tabel S.2. Sebagai konteks kasar, tolok ukur OECD 30-hari berbasis registri umumnya ~7-9%, namun perbandingan ketat memerlukan standarisasi umur-jenis kelamin dan tautan registri kematian yang tidak tersedia di sini. Fatalitas meningkat curam dengan usia (lansia 75+ jauh lebih tinggi) dan dengan keparahan. Tren CFR menurun perlahan, menandai perbaikan tata laksana, namun celah terhadap negara maju mencerminkan keterlambatan presentasi dan rendahnya reperfusi (lihat AMI-spesifik). Angka ini adalah batas bawah karena kematian mendadak pra-RS tidak tertangkap.

8 Pilar G, Komorbiditas

G Pilar G · Profil Komorbiditas Kardiometabolik · Jumlah Komorbiditas per Pasien
Pertanyaan: Penyakit penyerta apa yang membebani pasien AMI (faktor risiko & komplikasi kardiometabolik), dan berapa banyak kondisi yang ditanggung tiap pasien, penting untuk strategi pencegahan sekunder terpadu.

8.1 Profil komorbiditas

Tabel G.1: Komorbiditas Pasien AMI · Unit: Pasien unik
Komorbiditas Pasien (sampel) % pasien AMI
Hipertensi (I10-15) 5,156 65.0
Gagal Jantung (I50) 4,621 58.3
Diabetes (E10-14) 2,617 33.0
Dislipidemia (E78) 1,645 20.7
Penyakit Pernapasan Kronik (J40-47) 1,591 20.1
Penyakit Ginjal Kronik (N17-19) 1,362 17.2
Stroke (I60-69) 1,360 17.1
Obesitas/Metabolik (E65-68) 83 1.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | scan FKL15A + SDX seluruh klaim pasien; scope any-claim

8.2 Jumlah komorbiditas per pasien

Key takeaway Pilar G: Pasien AMI sangat multimorbid: hipertensi (65.0%), gagal jantung (58.3%), dan diabetes (33.0%) mendominasi, menegaskan AMI sebagai puncak akut dari kontinum kardiometabolik. Sebagian besar pasien membawa beberapa komorbiditas sekaligus, sehingga pencegahan sekunder harus terpadu (kendali tekanan darah, gula, lipid) dan bukan penyakit-tunggal.

9 Pilar H, Ekonomi

H Pilar H · Tren Biaya · per Usia · per Setting · per Pulau · Revaskularisasi vs Tidak · INA-CBG · Pareto · Klaim Biaya Sangat Tinggi
Pertanyaan: Berapa besar belanja JKN untuk perawatan AMI, bagaimana trennya, bagaimana terdistribusi menurut usia/setting/wilayah, seberapa mahal revaskularisasi, dan seberapa terkonsentrasi belanja pada sedikit pasien (Pareto).

9.1 Tren biaya & per usia

9.1.1 Tren tahunan

Tabel H.1: Belanja FKRTL AMI per Tahun · Unit: Klaim (biaya tertimbang)
Tahun Klaim (sampel) Total (triliun Rp) Biaya rata-rata/klaim (Rp) Median (Rp)
2017 1,329 0.576 3,674,697 192,400
2018 1,811 0.462 3,077,866 192,400
2019 2,550 0.716 2,873,769 190,400
2020 2,353 0.613 2,929,753 190,400
2021 2,348 0.712 2,994,790 192,100
2022 3,153 0.934 3,210,436 192,400
2023 4,288 1.393 3,543,960 201,500
2024 5,345 1.631 3,263,172 203,900
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

9.1.2 Biaya per usia

Tabel H.2: Biaya AMI menurut Kelompok Usia · Unit: Klaim
Kelompok usia Klaim (sampel) Biaya rata-rata (Rp) Total (miliar Rp)
<40 1,331 2,719,193 246
40-54 7,681 3,242,233 2,567
55-64 8,284 3,131,075 2,092
65-74 4,646 3,181,434 1,416
75+ 1,235 4,235,084 715
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

9.2 Biaya per setting, revaskularisasi & pulau

9.2.1 Setting & revaskularisasi

Tabel H.3: Biaya AMI menurut Setting · Unit: Klaim
Setting layanan Klaim (sampel) Biaya rata-rata (Rp) Total (miliar Rp)
Rawat Inap 5,327 13,171,460 6,688
Rawat Jalan 17,850 241,320 349
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)
Tabel H.3b: Biaya Rawat Inap AMI dengan vs tanpa Revaskularisasi · Unit: Episode
Kelompok Episode (sampel) Biaya rata-rata (Rp) Total (miliar Rp)
Dengan revaskularisasi 751 41,651,530 3,199
Tanpa revaskularisasi 4,576 8,497,392 3,489
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | revaskularisasi (PCI/CABG) jauh lebih mahal per episode

Interpretasi (nilai ekonomi cath-lab). Episode AMI dengan revaskularisasi berbiaya rata-rata sekitar Rp 41.7 juta per episode, jauh di atas episode tanpa revaskularisasi (~Rp 8.5 juta). Biaya per episode yang lebih tinggi adalah konsekuensi wajar dari intensitas sumber daya tindakan invasif, BUKAN inefisiensi: reperfusi tepat waktu menurunkan fatalitas dan komplikasi jangka panjang (gagal jantung pasca-infark) yang biayanya jauh lebih besar. Karena akses revaskularisasi masih rendah (14.1% episode), perluasan kapasitas kardiologi intervensi berpotensi menggeser belanja dari perawatan komplikasi yang mahal ke tindakan akut yang menyelamatkan, dengan catatan pembandingan biaya ini bersifat deskriptif (bukan analisis efektivitas-biaya formal).

9.2.2 Belanja per pulau

9.3 INA-CBG, Pareto & klaim biaya sangat tinggi

9.3.1 INA-CBG tertinggi

Tabel H.4: 12 INA-CBG dengan Klaim AMI Terbanyak · Unit: Klaim
INA-CBG Klaim (sampel) Biaya rata-rata (Rp) Total (miliar Rp)
Penyakit Kronis Kecil Lain-Lain 14,196 207,648 222
Infark Myokard Akut Ringan 1,056 4,608,911 397
Prosedur Ekokardiografi 818 402,067 31
Infark Myokard Akut Sedang 511 7,808,747 322
Penyakit Kronis Besar Lain-Lain 509 287,934 10
Infark Myokard Akut Berat 441 11,402,552 441
Konsultasi Atau Pemeriksaan Lain-Lain 390 146,220 5
Infark Miokard Akut Dan Aritmia 340 627,056 18
Prosedur Kardiovaskular Perkutan Ringan 335 26,502,038 890
Angina Pektoris Dan Nyeri Dada Ringan 321 4,300,973 114
Penyakit Kronis Kecil Lainlain 233 198,436 4
Prosedur Kardiovaskular Perkutan Berat 218 60,438,437 1,337
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

9.3.2 Konsentrasi biaya (Pareto) & klaim sangat tinggi

Tabel H.5: Ambang Klaim AMI Biaya Sangat Tinggi · Unit: Klaim
Indikator Biaya (Rp)
Ambang klaim biaya tinggi (persentil 95) 14,520,300
Ambang klaim biaya sangat tinggi (persentil 99) 57,108,100
Klaim AMI termahal (maks) 201,344,200
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | klaim mahal umumnya melibatkan revaskularisasi & perawatan intensif
Key takeaway Pilar H: Belanja rumah sakit JKN untuk AMI tumbuh tajam, total kumulatif ~Rp 7.0 triliun (2017-2024), mencapai Rp 1.63 triliun pada 2024 saja. Episode dengan revaskularisasi jauh lebih mahal (mengonfirmasi nilai investasi cath-lab terhadap biaya komplikasi). Belanja terkonsentrasi: top 5.0%% pasien menyerap 34.9%% biaya. Lonjakan belanja menegaskan nilai ekonomi pencegahan primer & sekunder (kendali faktor risiko) untuk menahan beban kuratif yang mahal.

10 Pilar I, Ekuitas vs Populasi Umum

I Pilar I · Laju Terlayani per Segmen (SES) · per Pulau · per Provinsi · per Usia · Kelas Rawat · Indeks Representasi
Pertanyaan: Apakah AMI terlayani merata antarsegmen sosial-ekonomi, antarwilayah, dan antarjenis kelamin, atau mencerminkan pola akses (inverse-care-law) di mana wilayah/kelompok dengan kebutuhan tinggi justru terlayani rendah.

10.1 Laju terlayani per segmen (SES) & pulau

10.1.1 Per segmen

Tabel I.1: Laju AMI Terlayani menurut Segmen · Unit: Pasien per 100k peserta
Segmen Kelompok Terlayani (tertimbang) Peserta segmen (tertimbang) per 100k peserta
Bukan Pekerja Non-PBI 105,841 11,810,805 896
PBPU (Mandiri) Non-PBI 163,185 34,935,923 467
PPU Non-PBI 139,969 70,083,930 200
PBI APBN PBI (disubsidi) 194,784 124,622,388 156
PBI APBD PBI (disubsidi) 92,606 60,647,931 153
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | PBI vs Non-PBI = gradien SES; pola < genpop dapat menandai under-served pada miskin

10.1.2 Per pulau

10.2 Laju per provinsi & usia

10.2.1 Per provinsi (20 tertinggi)

10.2.2 Per usia & kelas rawat

Tabel I.4: Laju AMI Terlayani menurut Kelompok Usia · Unit: Pasien per 100k peserta usia
Kelompok usia Terlayani (tertimbang) Peserta usia (tertimbang) per 100k
<40 44,754 187,603,002 24
40-54 221,363 58,928,261 376
55-64 218,272 25,111,181 869
65-74 149,369 13,963,294 1,070
75+ 62,627 11,345,133 552
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | denominator usia diankor ke pertengahan periode (2019)
Tabel I.4b: Pasien AMI menurut Kelas Rawat (proksi SES) · Unit: Pasien unik
Kelas rawat (hak peserta, PSTV07) Pasien (tertimbang) %
Kelas III 389,169 55.9
Kelas I 200,070 28.7
Kelas II 106,567 15.3
Tidak diketahui 579 0.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

10.3 Indeks representasi (jenis kelamin)

Tabel I.5: Indeks Representasi Jenis Kelamin (AMI vs Populasi Umum) · Unit: Pasien
Jenis kelamin % pasien AMI % populasi umum Indeks representasi
Laki-laki 65.50 51.20 1.28
Perempuan 34.50 48.80 0.71
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | indeks >1 = terwakili lebih dari proporsi populasinya (laki-laki over-represented pada AMI)
Key takeaway Pilar I: Laju AMI terlayani sangat timpang secara geografis: tinggi di Jawa dan perkotaan (akses RS kardiologi & cath-lab terkonsentrasi), jauh lebih rendah di kawasan timur, pola yang terbalik dari prevalensi penyakit jantung komunitas (lihat Triangulasi Riskesdas) dan mencerminkan inverse-care-law geografis. AMI sangat over-represented pada laki-laki (indeks representasi 1.28). Populasi sasaran prioritas: provinsi timur dan kelompok PBI di wilayah dengan beban tinggi namun terlayani rendah.

11 AMI-spesifik: Revaskularisasi, Mortalitas 30-hari, MI Berulang & Perawatan Intensif

★ Bagian Khusus AMI · Revaskularisasi (PCI/CABG) · ICCU/Intensif · MI Berulang (I22) · Sorotan 2024
Pertanyaan klinis-spesifik AMI: Berapa banyak pasien AMI memperoleh reperfusi/revaskularisasi (PCI/CABG), indikator akses kardiologi intervensi OECD; bagaimana variasinya menurut usia, wilayah, dan segmen (ekuitas akses); seberapa besar penggunaan perawatan intensif (ICCU); dan berapa beban MI berulang. Catatan: STEMI vs NSTEMI tidak terpisahkan dari kode 3-karakter, dan door-to-balloon time TIDAK tersedia dalam klaim.

11.1 Revaskularisasi (akses kardiologi intervensi)

Akses revaskularisasi (rawat inap AMI, 2017-2024).
14.1% episode menjalani revaskularisasi (PCI atau CABG)  |  PCI 14.1%  |  CABG 0.02%  |  kateterisasi diagnostik 216 episode  |  perawatan intensif 1.0%
Hanya sekitar 1 dari 7 pasien AMI rawat inap memperoleh tindakan reperfusi invasif, jauh di bawah standar negara maju (PCI primer adalah baku emas STEMI). CABG hampir tidak ada (1 episode), menandai dominasi PCI dan keterbatasan bedah jantung. Sisanya dikelola konservatif/farmakologis, kemungkinan karena keterlambatan presentasi, jarak ke cath-lab, atau keterbatasan kapasitas.

Cara baca angka prosedur (PENTING, batas bawah). PCI, CABG, kateterisasi, dan perawatan intensif/ICCU di sini TIDAK berasal dari kode prosedur, melainkan diturunkan dari deskripsi paket INA-CBG (FKL19A) melalui pencocokan teks. Pendekatan ini hanya menangkap episode yang label paketnya secara eksplisit menyebut tindakan tersebut, sehingga menghitung-kurang (undercount) tindakan yang terkode di paket lain atau yang tidak tergambar pada deskripsi paket. Dampaknya paling besar pada CABG (sampel hanya 1 episode) dan ICCU/perawatan intensif (52 episode): angka-angka ini harus diperlakukan sebagai batas bawah dan tidak boleh ditafsirkan sebagai laju sebenarnya. Untuk CABG dan ICCU, interpretasi yang sahih terbatas pada pernyataan kualitatif (“jarang terkode pada deskripsi paket”), bukan estimasi laju. PCI dan revaskularisasi total lebih kokoh karena paketnya berlabel eksplisit (“PROSEDUR KARDIOVASKULAR PERKUTAN”), namun tetap merupakan proksi deskripsi, bukan rekaman prosedur langsung.

11.1.1 Tren revaskularisasi per tahun

Tabel ★.1: Tren Revaskularisasi Rawat Inap AMI · Unit: Episode rawat inap
Tahun Episode inap (sampel) Revaskularisasi (sampel) Laju revask (%)
2017 353 35 9.9
2018 430 48 11.2
2019 539 72 13.4
2020 505 70 13.9
2021 506 79 15.6
2022 787 118 15.0
2023 994 150 15.1
2024 1,213 179 14.8
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | PCI/CABG via deskripsi INA-CBG (FKL19A), proksi

11.1.2 Revaskularisasi menurut usia

11.1.3 Revaskularisasi menurut wilayah & segmen (ekuitas akses)

Tabel ★.3: Revaskularisasi menurut Segmen (PBI vs Non-PBI) · Unit: Episode rawat inap
Kelompok Episode inap Revaskularisasi Laju (%)
Non-PBI 3,839 591 15.4
PBI (Disubsidi) 1,488 160 10.8
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | selisih PBI vs Non-PBI = sinyal ekuitas akses prosedur

11.2 Luaran reperfusi & MI berulang

11.2.1 Fatalitas dengan vs tanpa revaskularisasi

11.2.2 MI berulang (I22) & ICCU

Tabel ★.5: MI Akut (I21) vs MI Berulang (I22) · Unit: Pasien unik
Tipe (per pasien) Pasien (sampel) Pasien (tertimbang) %
MI akut (I21) 7,618 670,752 96.3
MI berulang (I22) 315 25,634 3.7
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | I22 = serangan berulang, menandai kegagalan pencegahan sekunder
Tabel ★.5b: Penggunaan Perawatan Intensif (ICCU) & Kateterisasi · Unit: Episode rawat inap
Indikator Nilai
Episode rawat inap AMI (sampel) 5,327
Episode dengan perawatan intensif/ICCU (proksi INA-CBG) 52
Proporsi perawatan intensif (%) 1.0%
Episode dengan kateterisasi diagnostik 216
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | ICU/ICCU & kateterisasi via deskripsi INA-CBG (proksi, kemungkinan undercount)
Yang TIDAK dapat diukur dari klaim. Door-to-balloon time (waktu dari kedatangan ke reperfusi, indikator mutu STEMI kunci) tidak tercatat dalam klaim. STEMI vs NSTEMI tidak terpisahkan dari kode 3-karakter I21. Pemberian fibrinolitik (reperfusi farmakologis) tidak terlihat sebagai prosedur INA-CBG terpisah. Indikator-indikator ini memerlukan tautan ke registri klinis (mis. registri sindrom koroner akut) atau rekam medis, dan menjadi prioritas analisis sisi-suplai pelengkap.
Key takeaway AMI-spesifik: Akses reperfusi invasif rendah: hanya 14.1% episode AMI rawat inap menjalani revaskularisasi (didominasi PCI; CABG nyaris nihil), jauh di bawah standar negara maju di mana PCI primer adalah baku emas STEMI. Akses timpang antarwilayah (terkonsentrasi Jawa) dan menurun pada lansia yang justru paling fatal. Kematian in-hospital dalam 30 hari rawat 11.28% (proksi berbasis klaim, bukan OECD age-sex-standardized) konsisten dengan celah mutu, meski tidak dibanding-langsungkan dengan tolok ukur OECD. Kombinasi reperfusi rendah, jarak ke cath-lab, dan keterlambatan presentasi adalah sasaran kebijakan utama: penguatan jaringan STEMI regional, sistem rujukan cepat, dan perluasan kapasitas kardiologi intervensi di luar Jawa.

12 Pilar S, Uji Sensitivitas Definisi Kasus

S Pilar S · Jalur Definisi Kasus (FKL15A utama vs SDX sekunder vs Z09)
Pertanyaan: Seberapa sensitif beban dan fatalitas AMI terhadap pilihan field diagnosis (utama FKL15A vs sekunder SDX), dan berapa besar kontaminasi kode administratif Z09 yang sengaja dikeluarkan.

Tabel S.1: Sensitivitas Jalur Definisi Kasus AMI · Unit: Klaim/episode (sampel)
Jalur diagnosis Episode inap (sampel) Seluruh klaim (sampel) Kematian inap (sampel)
FKL15A diagnosis utama (I21/I22) 4,351 17,375 370
SDX diagnosis sekunder saja (utama bukan AMI) 976 5,802 233
Hanya Z09 administratif (dikeluarkan) 20 1,012 5
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | kohort utama = FKL15A atau SDX, di luar Z09
Pembacaan. Sebagian besar episode kohort bertumpu pada diagnosis utama FKL15A (AMI biasanya menjadi alasan utama rawat); tambahan SDX menangkap AMI sebagai komplikasi sekunder pada perawatan lain. Kontaminasi Z09 administratif kecil dan telah dikeluarkan. Untuk hitung-beban (jumlah pasien/episode), kohort relatif kokoh terhadap pilihan field diagnosis. Namun untuk luaran fatalitas, klaim kekokohan ini TIDAK berlaku: lihat CFR per jalur di bawah, jalur SDX-sekunder memiliki CFR jauh lebih tinggi sehingga memengaruhi angka CFR/30-hari gabungan.

12.1 CFR menurut jalur definisi kasus (utama vs SDX-sekunder)

Tabel S.2: CFR Rawat Inap AMI menurut Jalur Definisi Kasus · Unit: Episode rawat inap (sampel)
Jalur definisi kasus Episode inap (sampel) Kematian (sampel) CFR (%)
AMI diagnosis utama (FKL15A I21/I22) 4,351 370 8.50
AMI hanya diagnosis sekunder (SDX) 976 233 23.87
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2017-2024 (kohort FKRTL ter-member-join) | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | AMI I21/I22 (FKL15A atau SDX) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | jalur utama = FKL15A I21/I22; jalur SDX = AMI hanya diagnosis sekunder. CFR gabungan keduanya = 11.32%
Interpretasi (kontaminasi luaran fatalitas). CFR rawat inap pada jalur AMI diagnosis utama adalah 8.50% (370/4,351), sedangkan jalur AMI hanya diagnosis sekunder (SDX) mencapai 23.87% (233/976). Penggabungan keduanya menaikkan CFR headline menjadi 11.32%. Hal ini terjadi karena pada episode di mana AMI hanya muncul sebagai diagnosis sekunder, kematian sering disebabkan kondisi utama yang lain (mis. sepsis, gagal ginjal, kanker stadium lanjut) dan bukan murni serangan jantung, sehingga CFR jalur SDX tidak boleh dibaca sebagai fatalitas AMI yang sebenarnya. Untuk pembacaan klinis yang bersih, angka fatalitas AMI yang dianjurkan adalah CFR jalur diagnosis utama (8.50%); CFR/30-hari gabungan di Pilar F harus dibaca sebagai batas atas yang dipengaruhi pencampuran jalur diagnosis, bukan sebagai laju fatalitas AMI murni. Klaim kekokohan kohort di Tabel S.1 karena itu dibatasi pada hitung-beban, bukan luaran fatalitas.

13 Triangulasi treatment-gap: prevalensi komunitas Riskesdas vs terlayani JKN

▶ Triangulasi · Prevalensi Penyakit Jantung Komunitas (Riskesdas 2018) vs AMI Terlayani JKN
Pertanyaan: Bagaimana posisi beban AMI terlayani JKN relatif terhadap prevalensi penyakit jantung yang dilaporkan masyarakat dalam survei nasional (Riskesdas), dan di provinsi mana kesenjangan akses paling lebar. Dihitung ULANG dari microdata Riskesdas 2018 (bukan mengutip angka publikasi).
Tabel T.1: Prevalensi Jantung Komunitas vs AMI Terlayani JKN (Nasional) · Unit: per 1.000
Riskesdas 2018: B10B14 (pernah didiagnosis sakit jantung oleh dokter); n=1,017,290 responden, tertimbang
Indikator Per 1.000 penduduk/peserta
Prevalensi penyakit jantung komunitas (Riskesdas 2018, didiagnosis dokter) 14.63
AMI terlayani JKN, kumulatif 2017-2024 (per 1.000 peserta) 2.51
AMI terlayani JKN, tahun 2024 saja (per 1.000 peserta) 0.61
Sumber: Riskesdas 2018 microdata (Individu, tertimbang weight_final) + Data Sampel BPJS 2017-2024 (kohort FKRTL). | CAVEAT: penyakit jantung Riskesdas = SELURUH bentuk, dilaporkan-sendiri/didiagnosis-dokter, semua usia; JKN = AMI (I21/I22) terlayani-klaim spesifik. Definisi & denominator BERBEDA, gap bersifat INDIKATIF bukan eksak.

13.1 Kesenjangan antarprovinsi

Tabel T.2: Kesenjangan Jantung Komunitas vs AMI Terlayani per Provinsi · Unit: per 1.000
Provinsi Pulau Riskesdas jantung (per 1.000) AMI terlayani JKN (per 1.000) Rasio (komunitas/terlayani)
Kalimantan Utara Kalimantan 21.9 1.4 15.9
Gorontalo Sulawesi 20.0 1.2 16.8
DI Yogyakarta Jawa 19.6 6.4 3.1
Sulawesi Tengah Sulawesi 19.2 1.7 11.2
DKI Jakarta Jawa 19.0 4.3 4.4
Kalimantan Timur Kalimantan 18.8 3.0 6.3
Sulawesi Utara Sulawesi 17.7 1.9 9.3
Aceh Sumatera 16.2 2.4 6.7
Jawa Barat Jawa 16.2 2.4 6.7
Sumatera Barat Sumatera 15.8 3.7 4.3
Jawa Tengah Jawa 15.6 3.2 4.9
Sulawesi Barat Sulawesi 15.4 0.8 20.5
Kepulauan Riau Sumatera 15.1 3.0 5.0
Jawa Timur Jawa 15.0 2.2 6.8
Kep. Bangka Belitung Sumatera 14.8 3.0 4.9
Sulawesi Selatan Sulawesi 14.6 1.7 8.4
Maluku Maluku-Papua 14.6 1.2 12.2
Banten Jawa 13.9 2.1 6.5
Sulawesi Tenggara Sulawesi 13.9 0.8 16.8
Bali Bali-Nusra 13.3 3.2 4.1
Sumatera Utara Sumatera 13.3 1.7 7.9
Kalimantan Barat Kalimantan 13.1 1.5 8.7
Bengkulu Sumatera 13.0 1.7 7.5
Kalimantan Tengah Kalimantan 12.8 2.1 6.0
Kalimantan Selatan Kalimantan 12.7 2.2 5.8
Lampung Sumatera 11.9 1.3 9.3
Papua Barat Maluku-Papua 11.8 0.9 13.0
Sumatera Selatan Sumatera 11.8 1.6 7.3
Maluku Utara Maluku-Papua 11.3 0.9 12.1
Riau Sumatera 10.6 2.4 4.4
Nusa Tenggara Barat Bali-Nusra 9.0 1.4 6.2
Jambi Sumatera 8.9 2.3 3.8
Papua Maluku-Papua 8.7 0.5 17.3
Nusa Tenggara Timur Bali-Nusra 7.2 1.1 6.5
Riskesdas 2018 (tertimbang) vs BPJS 2017-2024 (kohort FKRTL). | Rasio tinggi = prevalensi komunitas tinggi tetapi AMI terlayani rendah (kesenjangan akses kardiologi akut). CAVEAT definisi berbeda.

Kerangka treatment-gap (interpretasi jujur). Riskesdas mengukur prevalensi penyakit jantung secara luas yang dilaporkan masyarakat (pernah didiagnosis dokter), nasional 2018 ~14.63 per 1.000. JKN menangkap AMI (I21/I22) spesifik yang terlayani dan diklaimkan (~2.51 per 1.000 kumulatif 2017-2024). Keduanya tidak setara langsung: (1) Riskesdas = semua bentuk penyakit jantung (gagal jantung, aritmia, jantung koroner kronik, bawaan), bukan hanya serangan jantung akut; (2) Riskesdas dilaporkan-sendiri, JKN berbasis koding klinis; (3) denominator berbeda (penduduk vs peserta JKN); (4) AMI fatal pra-RS tidak masuk klaim. Karena itu selisih besar di sini menggambarkan kombinasi perbedaan definisi DAN kesenjangan akses sesungguhnya, sehingga bersifat indikatif, bukan ukuran treatment-gap eksak. Yang paling bermakna kebijakan adalah pola lintas-provinsi: provinsi dengan prevalensi jantung komunitas tinggi namun AMI terlayani sangat rendah (rasio tinggi pada Tabel T.2, mis. kawasan Kalimantan-Sulawesi) menandai cardiac-care desert, di mana beban ada tetapi layanan kardiologi akut belum menjangkau.

14 Keterbatasan & langkah lanjut

Keterbatasan utama. 1. Klaim JKN = beban AMI terlayani di FKRTL, bukan insidens nasional; kematian mendadak pra-rumah-sakit (porsi besar pada AMI) tidak tertangkap, sehingga laju & fatalitas adalah batas bawah.
2. STEMI vs NSTEMI tidak terpisahkan dari kode 3-karakter I21; keduanya digabung.
3. Door-to-balloon time dan waktu iskemik tidak ada dalam klaim, sehingga ketepatan-waktu reperfusi tak terukur.
4. Revaskularisasi, kateterisasi, ICCU diukur via deskripsi INA-CBG (FKL19A) sebagai proksi, kemungkinan undercount (tindakan dapat terbungkus dalam grup CBG lain).
5. CFR & mortalitas 30-hari hanya kematian in-hospital (FKL14=3), tanpa kematian pasca-pulang; definisi OECD baku (berbasis registri kematian) lebih tinggi.
6. Komorbiditas dipindai dari FKL15A + SDX seluruh klaim pasien (scope any-claim), batas bawah karena koding sekunder tak lengkap.
7. Laju terlayani per usia memakai denominator usia diankor ke pertengahan periode (2019); numerator kumulatif sepanjang periode teramati (2017-2024).
8. Triangulasi Riskesdas membandingkan penyakit jantung komunitas luas (dilaporkan-sendiri) dengan AMI terlayani spesifik; perbedaan definisi/denominator membuat gap bersifat indikatif.
9. Cakupan tahun seri terlayani 2017-2024, bukan 2015-2024: klaim FKRTL AMI pada 2015 (341 sampel) dan 2016 (370 sampel) ada tetapi pasiennya tidak terhubung member-join (PSTV03 demografi tak tersedia pada tahun awal), sehingga tidak masuk kohort terlayani; tren tidak boleh dibaca mencakup 2015-2016.
10. CFR/30-hari headline (gabungan 11.32%) dipengaruhi jalur SDX: fatalitas pada episode di mana AMI hanya diagnosis sekunder jauh lebih tinggi (kematian sering didorong kondisi utama, bukan AMI). CFR klinis yang lebih bersih = jalur AMI diagnosis utama 8.50% (lihat Pilar S, Tabel S.2).

Langkah lanjut. 1. Tautan ke registri sindrom koroner akut / rekam medis untuk door-to-balloon, STEMI/NSTEMI, dan fibrinolitik.
2. Pemetaan kabupaten laju revaskularisasi & sebaran cath-lab (analisis sisi-suplai pelengkap) untuk mengidentifikasi cardiac-care desert.
3. Analisis ketepatan-waktu rujukan dan jaringan STEMI regional (sistem rujukan cepat).
4. Kajian ekonomi pencegahan primer/sekunder (kendali hipertensi, diabetes, lipid, merokok) terhadap biaya rawat inap & revaskularisasi yang dapat dihindari.
5. Analisis ekuitas revaskularisasi multivariabel (usia, segmen, wilayah) untuk menyasar disparitas akses prosedur.

15 Kerangka indikator & rujukan

Kerangka indikator yang dipakai

Indikator dipetakan ke kerangka mutu yang diakui: OECD Health Care Quality Indicators (HCQI), terutama AMI 30-day mortality dan revascularization/PCI access sebagai indikator mutu sistem jantung akut yang dapat dibandingkan antarnegara; klasifikasi WHO ICD-10 (I21 infark miokard akut termasuk STEMI/NSTEMI, I22 infark berulang); pedoman ESC/ACC-AHA untuk tata laksana sindrom koroner akut (reperfusi tepat-waktu, PCI primer baku-emas STEMI); serta kerangka pembiayaan JKN (INA-CBG, FKL48). Benchmark prevalensi komunitas dari Riskesdas 2018 (penyakit jantung dilaporkan-sendiri/didiagnosis-dokter, ~1,5%).

Rujukan utama

OECD. Health at a Glance 2023/2025 (Acute care: AMI 30-day mortality; cardiac revascularisation). · WHO. ICD-10 (I20-I25 Ischaemic heart diseases). · ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes (2023). · Kemenkes RI. Laporan Nasional Riskesdas 2018; Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. · Kemenkes RI. Pedoman tata laksana sindrom koroner akut & jejaring STEMI. · Permenkes terkait INA-CBG dan tata laksana pelayanan JKN.


Analisis sistem kesehatan berbasis data administratif agregat (Data Sampel BPJS Kesehatan) dan survei nasional (Riskesdas 2018). Seluruh angka populasi merupakan proyeksi tertimbang dari sampel dan menggambarkan beban infark miokard akut terlayani JKN, bukan insidens nasional.