Tentang laporan ini. Analisis sisi pasokan (kapasitas sistem) untuk serangan jantung (infark miokard akut, AMI; ICD-10 I21 dan I22) di Indonesia. Kerangka enam pilar sistem kesehatan WHO ditambah skor Ketersediaan, Keterjangkauan, dan Mutu (AAQ). Pertanyaan inti: apakah sistem memiliki tenaga, fasilitas (terutama laboratorium kateterisasi / PCI), obat, informasi, pembiayaan, dan tata kelola yang cukup untuk menangani serangan jantung dalam jendela waktu kritisnya, dan seberapa timpang sebarannya antarwilayah, antar-pulau, dan antara kota dengan kabupaten. Serangan jantung adalah kegawatdaruratan yang sensitif waktu (“time is muscle”): keterlambatan akses ke reperfusi (PCI primer atau fibrinolitik) langsung menentukan kematian dan gagal jantung sisa.
Peta pilar: 1 Penyediaan layanan (cath lab/PCI, ICCU, bedah jantung), 2 Tenaga kesehatan (kardiolog, kardiologi intervensi, bedah jantung), 3 Sistem informasi, 4 Akses obat esensial, 5 Pembiayaan (dihitung langsung dari klaim reguler JKN), 6 Tata kelola, lalu sintesis skor AAQ, analisis khusus AMI (subtipe, keparahan, mortalitas, komorbiditas, kesenjangan PCI), senjang tata laksana dan tolok ukur, kerangka indikator dan rujukan, serta keterbatasan.
Cakupan data: tenaga 10 kategori (DREAMS/SI-SDMK 2025), fasilitas 3,275 rumah sakit (SIRS 2025-10), denominator BPS 2025 (284,438,930 jiwa, 514 kabupaten/kota), pembiayaan kohort AMI reguler Data Sampel BPJS 2015-2024 (24,903 klaim FKRTL, 8,577 pasien sampel).
Ringkasan eksekutif (sorotan tahun terbaru 2024 di samping kumulatif).
Tenaga PCI sangat langka: hanya 204 dokter kardiologi intervensi (operator PCI) untuk seluruh Indonesia (0.072/100k), dan 84.6% kabupaten/kota tanpa satu pun (Gini 0.917).
Cath lab terpusat: hanya 358 RS (10.9%) memiliki layanan Jantung Intervensi; 72.2% kabupaten/kota tidak punya akses PCI, dan 4 provinsi tanpa cath lab sama sekali.
Beban biaya naik tajam: belanja FKRTL AMI ~Rp 7.62 triliun kumulatif 2015-2024; tahun 2024 saja Rp 1.63 triliun (5,524 klaim).
2024 (terbaru): kontak layanan ber-kode AMI 62.06/100.000 peserta JKN (laju kontak, bukan insidensi akut; lihat sensitivitas diagnosis-utama), 96.7% infark akut (I21), case-fatality intra-RS proksi 2.9%, dan 47.3% belanja rawat inap AMI mengalir ke prosedur perkutan (PCI) yang hanya tersedia di seperempat kabupaten.

1 Fondasi dan kerangka

Kerangka, definisi kasus, dan denominator
Analisis mengikuti enam pilar sistem kesehatan WHO (penyediaan layanan, tenaga, informasi, obat, pembiayaan, tata kelola). Definisi kasus AMI = kode ICD-10 I21 (infark miokard akut) atau I22 (infark miokard ulang) pada diagnosis masuk (FKL15A) atau diagnosis sekunder (SDX), pada klaim FKRTL skema reguler (sampel rumah tangga, tepat untuk tren dan laju populasi). Denominator kapasitas adalah proyeksi penduduk BPS 2025 (284,438,930 jiwa di 514 kabupaten/kota). Kepadatan tenaga dihitung per 100.000 penduduk total (konvensi WHO untuk spesialis) dan, sebagai pembanding klinis, per 100.000 dewasa berisiko (usia >= 40) memakai proksi 33.0% dari BPS. Laju AMI terlayani per 100.000 peserta JKN memakai denominator peserta JKN nasional DJSN per tahun; karena definisi kasus mencakup I21/I22 sebagai diagnosis sekunder, laju ini paling tepat dibaca sebagai laju kontak layanan ber-kode AMI (bukan insidensi AMI akut), dan kohort sensitivitas diagnosis-utama saja (Pilar 5, Tabel 5.0) memberi batas bawah yang lebih dekat ke episode insiden. Kota versus kabupaten memakai aturan kode BPS (dua digit terakhir >= 71 = Kota). Konsentrasi antar-kabupaten diukur koefisien Gini (0 = merata, 1 = sangat terpusat).

Unit: jumlah absolut (penduduk dalam juta)

Tabel 0.1: Gambaran Umum Kapasitas Sistem AMI (2025) Unit: jumlah
Komponen Nilai
Penduduk (juta) 284
Kab/kota 514
RS (SIRS) 3,275
Kardiolog Sp.JP 1,623
RS cath lab/PCI 358
Kardiologi intervensi 204
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

2 Pilar 1, Penyediaan Layanan

  1. Layanan serangan jantung di rumah sakit (cath lab/PCI, jantung koroner, ICCU, bedah jantung, IGD)
Pertanyaan: Apakah rumah sakit menyediakan layanan untuk reperfusi serangan jantung (PCI primer di cath lab, perawatan intensif jantung/ICCU, bedah jantung), dan apakah layanan itu menjangkau seluruh kabupaten atau hanya terpusat di kota besar dalam jendela waktu kritis?

2.1 Ketersediaan layanan

Unit: rumah sakit (n=3,275) | layanan dideklarasikan

Tabel 1.1: Ketersediaan Layanan Jantung di RS (2025) Unit: RS
Layanan n RS % RS per 1 juta
IGD 24 jam 3,166 96.7 11.13
Penyakit dalam 2,954 90.2 10.39
EKG / elektromedik diagnostik 2,261 69.0 7.95
Jantung dan Pembuluh Darah 1,654 50.5 5.81
Gagal jantung kronik 779 23.8 2.74
Kardiovaskuler 755 23.1 2.65
Jantung koroner 721 22.0 2.53
Jantung konservatif 697 21.3 2.45
ICCU/ICVCU (intensif jantung) 380 11.6 1.34
Pasca intervensi non bedah (Jantung) 365 11.1 1.28
Jantung Intervensi (cath lab/PCI) 358 10.9 1.26
Pasca operasi CABG (Jantung) 215 6.6 0.76
Prevensi & rehabilitasi jantung 117 3.6 0.41
Bedah jantung dewasa 116 3.5 0.41
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

2.2 Gurun layanan (per kabupaten)

Unit: kabupaten/kota (n=514)

Tabel 1.2: Cakupan Layanan per Kabupaten (gurun layanan) Unit: kab/kota (514)
Layanan n kab ada % kab ada % kab nihil % pop tercakup
Jantung Intervensi (PCI) 143 27.8 72.2 54.1
Jantung koroner 226 44.0 56.0 71.8
ICCU/ICVCU 181 35.2 64.8 62.2
Bedah jantung dewasa 45 8.8 91.2 25.1
Penyakit dalam 455 88.5 11.5 97.0
IGD 24 jam 461 89.7 10.3 97.2
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

2.3 Gurun PCI: cath lab vs revaskularisasi luas (sensitivitas)

Unit: kab/kota (n=514) dan % populasi | sensitivitas definisi layanan

Tabel 1.2b: Gurun PCI, Cath Lab vs Revaskularisasi (sensitivitas) Unit: kab/kota
Definisi n kab ada % kab ada % kab nihil % pop tercakup
Cath lab/PCI (sempit) 143 27.8 72.2 54.1
Revaskularisasi apa pun (PCI/pasca-CABG) 170 33.1 66.9 59.6
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)
Catatan reperfusi. Analisis gurun berlabuh pada cath lab / Jantung Intervensi karena PCI primer adalah baku emas reperfusi STEMI dalam jendela waktu. Dengan definisi luas (revaskularisasi apa pun termasuk RS yang hanya melayani pasca-CABG), gurun sedikit menyusut, namun itu melebih-lebihkan akses PCI primer yang sesungguhnya. Untuk kabupaten tanpa cath lab, jalur realistis adalah fibrinolitik di IGD lalu rujuk, yang sangat bergantung pada waktu dan transportasi.

2.4 Cath lab/PCI per pulau

Unit: RS cath lab/PCI per 1 juta penduduk

Tabel 1.3: Sebaran RS Cath Lab/PCI per Pulau Unit: RS
Pulau RS cath lab per 1 juta % RS cath lab
Jawa 229 1.45 64.0
Sulawesi 28 1.33 7.8
Bali-Nusra 19 1.19 5.3
Sumatera 62 1.00 17.3
Kalimantan 16 0.89 4.5
Maluku-Papua 4 0.44 1.1
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

2.5 Layanan inti per pulau

Unit: rumah sakit

Tabel 1.4: Layanan Inti per Pulau (jumlah RS) Unit: RS
Layanan Bali-Nusra Jawa Kalimantan Maluku-Papua Sulawesi Sumatera
Jantung Intervensi (PCI) 19 229 16 4 28 62
Jantung koroner 43 441 35 12 54 136
ICCU/ICVCU 27 206 22 7 45 73
Bedah jantung dewasa 6 86 2 1 4 17
Penyakit dalam 167 1534 189 107 275 682
IGD 24 jam 186 1619 218 121 291 731
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

2.6 Kota vs kabupaten

Unit: rumah sakit | Kota = kode BPS >= 71

Tabel 1.5: Layanan Inti Kota vs Kabupaten Unit: RS
Layanan n_Kabupaten (rural) n_Kota (urban) pct_Kabupaten (rural) pct_Kota (urban)
Jantung Intervensi (PCI) 134 224 37.4 62.6
Jantung koroner 342 379 47.4 52.6
ICCU/ICVCU 163 217 42.9 57.1
Bedah jantung dewasa 23 93 19.8 80.2
Penyakit dalam 1723 1231 58.3 41.7
IGD 24 jam 1861 1305 58.8 41.2
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

2.7 Kepemilikan & kelas RS cath lab

Unit: rumah sakit cath lab/PCI

Tabel 1.6: RS Cath Lab/PCI menurut Kelas Unit: RS
Kelas RS n RS cath lab % RS cath lab
B 210 58.7
C 98 27.4
A 40 11.2
D 9 2.5
Belum Ditetapkan 1 0.3
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

2.8 Provinsi akses cath lab terbaik/terburuk

Unit: RS cath lab/PCI per 1 juta penduduk

Tabel 1.7: 12 Provinsi Akses Cath Lab Terendah Unit: RS
Provinsi RS cath lab Total RS per 1 juta
Kepulauan Riau 0 13 0.00
Kalimantan Utara 0 11 0.00
Maluku 0 29 0.00
Papua 0 0 0.00
Sulawesi Tengah 1 41 0.32
Bengkulu 1 28 0.47
Nusa Tenggara Timur 3 68 0.52
Lampung 5 82 0.53
Kepulauan Bangka Belitung 1 29 0.64
Kalimantan Barat 4 58 0.69
Sulawesi Tenggara 2 40 0.71
Maluku Utara 1 23 0.73
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

2.9 Kabupaten padat tanpa cath lab

Unit: penduduk (juta) | kab/kota tanpa layanan cath lab

Tabel 1.8: Kabupaten Terpadat Tanpa Cath Lab Unit: jiwa
Kabupaten/Kota Provinsi Pulau Penduduk
Deli Serdang Sumatera Utara Sumatera 2,078,050
Cilacap Jawa Tengah Jawa 2,046,390
Tasikmalaya Jawa Barat Jawa 1,933,810
Bandung Barat Jawa Barat Jawa 1,907,820
Pemalang Jawa Tengah Jawa 1,559,310
Grobogan Jawa Tengah Jawa 1,519,380
Lebak Banten Jawa 1,463,820
Pati Jawa Tengah Jawa 1,381,910
Majalengka Jawa Barat Jawa 1,363,760
Magelang Jawa Tengah Jawa 1,351,950
Bojonegoro Jawa Timur Jawa 1,330,520
Kota B A T A M Kepulauan Riau Sumatera 1,296,960
Demak Jawa Tengah Jawa 1,265,050
Jepara Jawa Tengah Jawa 1,244,310
Probolinggo Jawa Timur Jawa 1,193,270
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

Inti Pilar 1: Kapasitas reperfusi untuk serangan jantung sangat terbatas dan terpusat. Hanya 358 RS (10.9%) punya cath lab/PCI, dan 72.2% kabupaten/kota tidak memilikinya sama sekali (hanya 54.1% populasi tercakup). ICCU/ICVCU hanya 11.6% RS (64.8% kab nihil), bedah jantung dewasa hanya 3.5% RS (91.2% kab nihil). Jawa memegang 1.45 cath lab/juta sementara Maluku-Papua hanya 0.44/juta, dan 4 provinsi tanpa cath lab. Banyak kabupaten berpenduduk lebih dari sejuta jiwa tidak punya akses PCI, sehingga pasien STEMI bergantung pada fibrinolitik dan rujukan lintas wilayah yang sering melampaui jendela waktu optimal.

3 Pilar 2, Tenaga Kesehatan

  1. Tenaga: kardiolog (Sp.JP), kardiologi intervensi (operator PCI), bedah jantung, intensif kardiovaskular, teknisi
Pertanyaan: Berapa kepadatan tenaga yang menangani serangan jantung per 100.000 penduduk, terutama operator PCI, dan seberapa timpang sebarannya antar-kabupaten, antar-pulau, dan antara kota dengan desa?

3.1 Kepadatan nasional

Unit: tenaga per 100.000 penduduk total

Tabel 2.1: Tenaga Terkait Serangan Jantung Nasional (2025) Unit: tenaga
Tenaga Headcount SIP per 100k per 100k dewasa >=40 1 tenaga melayani (jiwa)
Kardiolog (Sp.JP) 1,623 4,050 0.571 1.729 175,255
Kardiologi Intervensi (operator PCI) 204 481 0.072 0.217 1,394,308
Bedah Toraks-Kardiovaskular (Sp.BTKV) 179 538 0.063 0.191 1,589,044
Bedah Jantung Dewasa (subsp.) 15 31 0.005 0.016 18,962,595
Intensif & Kegawatan Kardiovaskular (subsp.) 38 74 0.013 0.040 7,485,235
Teknisi Kardiovaskular 284 302 0.100 0.303 1,001,546
Penyakit Dalam (Sp.PD) 4,970 11,573 1.747 5.295 57,231
Prevensi & Rehabilitasi Kardiovaskular (subsp.) 19 38 0.007 0.020 14,970,470
Ekokardiografi (subsp.) 36 66 0.013 0.038 7,901,081
Pencitraan Kardiovaskular (subsp.) 15 34 0.005 0.016 18,962,595
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

3.2 Gurun dan konsentrasi

Unit: kabupaten/kota (n=514); Gini 0-1

Tabel 2.2: Cakupan dan Konsentrasi Tenaga Unit: kab/kota (514)
Tenaga % kab nihil % headcount Jawa Gini antar-kab % pop tercakup
Kardiolog (Sp.JP) 38.7 61.9 0.767 80.6
Kardiologi Intervensi (operator PCI) 84.6 68.1 0.917 32.4
Bedah Toraks-Kardiovaskular (Sp.BTKV) 88.9 77.7 0.943 29.3
Bedah Jantung Dewasa (subsp.) 97.7 66.7 0.981 6.8
Intensif & Kegawatan Kardiovaskular (subsp.) 95.3 63.2 0.967 12.4
Teknisi Kardiovaskular 81.3 72.5 0.917 38.0
Penyakit Dalam (Sp.PD) 6.6 56.5 0.681 96.8
Prevensi & Rehabilitasi Kardiovaskular (subsp.) 97.3 63.2 0.978 5.5
Ekokardiografi (subsp.) 95.7 63.9 0.969 9.9
Pencitraan Kardiovaskular (subsp.) 97.5 86.7 0.978 7.3
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler) | Jawa ~56% populasi

3.3 Kardiolog & operator PCI per pulau

Unit: tenaga per 100.000 penduduk

Tabel 2.3: Kardiolog & Operator PCI per Pulau Unit: tenaga
Tenaga Pulau Headcount per 100k % headcount
Kardiolog (Sp.JP) Bali-Nusra 106 0.665 6.6
Kardiolog (Sp.JP) Jawa 1,005 0.636 62.7
Kardiolog (Sp.JP) Sulawesi 115 0.546 7.2
Kardiolog (Sp.JP) Sumatera 279 0.448 17.4
Kardiolog (Sp.JP) Kalimantan 79 0.440 4.9
Kardiolog (Sp.JP) Maluku-Papua 20 0.218 1.2
Kardiologi Intervensi (operator PCI) Jawa 139 0.088 68.1
Kardiologi Intervensi (operator PCI) Sulawesi 18 0.086 8.8
Kardiologi Intervensi (operator PCI) Kalimantan 11 0.061 5.4
Kardiologi Intervensi (operator PCI) Sumatera 28 0.045 13.7
Kardiologi Intervensi (operator PCI) Maluku-Papua 3 0.033 1.5
Kardiologi Intervensi (operator PCI) Bali-Nusra 5 0.031 2.5
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

3.4 Kota vs kabupaten (tenaga)

Unit: tenaga per 100.000 penduduk wilayah

Tabel 2.4: Tenaga Kota vs Kabupaten Unit: tenaga
Tenaga Wilayah Headcount per 100k
Kardiolog (Sp.JP) Kabupaten (rural) 629 0.281
Kardiolog (Sp.JP) Kota (urban) 975 1.605
Kardiologi Intervensi (operator PCI) Kabupaten (rural) 45 0.020
Kardiologi Intervensi (operator PCI) Kota (urban) 159 0.262
Bedah Toraks-Kardiovaskular (Sp.BTKV) Kabupaten (rural) 37 0.017
Bedah Toraks-Kardiovaskular (Sp.BTKV) Kota (urban) 142 0.234
Teknisi Kardiovaskular Kabupaten (rural) 99 0.044
Teknisi Kardiovaskular Kota (urban) 182 0.300
Penyakit Dalam (Sp.PD) Kabupaten (rural) 2,155 0.963
Penyakit Dalam (Sp.PD) Kota (urban) 2,758 4.540
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

3.5 Provinsi terbawah (kardiolog)

Unit: kardiolog per 100.000 penduduk

Tabel 2.5: Provinsi Kardiolog Terlangka Unit: tenaga
Provinsi Headcount per 100k
Papua 0 0.000
Maluku Utara 3 0.218
Sumatera Selatan 20 0.224
Kalimantan Barat 15 0.260
Lampung 25 0.263
Bengkulu 6 0.281
Jambi 11 0.292
Nusa Tenggara Timur 18 0.313
Nusa Tenggara Barat 18 0.314
Kalimantan Selatan 15 0.347
Sulawesi Tengah 12 0.380
Jawa Tengah 148 0.387
Kalimantan Tengah 11 0.387
Sulawesi Tenggara 11 0.388
Sulawesi Barat 6 0.393
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

3.6 Per dewasa berisiko

Unit: tenaga per 100.000 dewasa >=40 tahun

Tabel 2.6: Tenaga Inti per Dewasa Berisiko Unit: tenaga
Tenaga Headcount per 100k dewasa >=40 1 tenaga per (dewasa >=40)
Kardiolog (Sp.JP) 1,623 1.729 57,834
Kardiologi Intervensi (operator PCI) 204 0.217 460,122
Bedah Toraks-Kardiovaskular (Sp.BTKV) 179 0.191 524,385
Bedah Jantung Dewasa (subsp.) 15 0.016 6,257,656
Intensif & Kegawatan Kardiovaskular (subsp.) 38 0.040 2,470,128
Teknisi Kardiovaskular 284 0.303 330,510
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

Inti Pilar 2: Indonesia memiliki 1,623 kardiolog (Sp.JP) (0.571/100k, 1 per 175,255 penduduk; 38.7% kabupaten tanpa kardiolog), tetapi hanya 204 dokter kardiologi intervensi (operator PCI, 0.072/100k) dengan 84.6% kabupaten tanpa satu pun dan Gini 0.917. Bedah jantung lebih langka lagi: Sp.BTKV 179 dan subspesialis bedah jantung dewasa hanya 15 orang nasional. Tenaga terpusat di Jawa (operator PCI 68.1% headcount). Kepadatan kardiolog kota 1.605/100k versus kabupaten 0.281/100k. Di lapangan, serangan jantung di luar kota besar ditangani oleh internis (Sp.PD 4,970) dan dokter umum di IGD, bukan operator PCI.

4 Pilar 3, Sistem Informasi

  1. Registrasi tenaga (SIP), proksi pencatatan, dan senjang registri serangan jantung
Pertanyaan: Apakah sistem informasi memungkinkan perencanaan berbasis bukti (registri tenaga, registri AMI/STEMI, indikator door-to-balloon, jejaring SPGDT), atau perencanaan masih bertumpu pada proksi tenaga dan fasilitas?

4.1 Registrasi (SIP vs headcount)

Unit: rasio SIP terhadap headcount

Tabel 3.1: Registrasi/Izin Praktik (SIP) proksi pencatatan tenaga
Tenaga Headcount SIP Rasio SIP:HC n faskes
Kardiolog (Sp.JP) 1,623 4,050 2.50 920
Kardiologi Intervensi (operator PCI) 204 481 2.36 140
Bedah Toraks-Kardiovaskular (Sp.BTKV) 179 538 3.01 130
Bedah Jantung Dewasa (subsp.) 15 31 2.07 13
Intensif & Kegawatan Kardiovaskular (subsp.) 38 74 1.95 27
Teknisi Kardiovaskular 284 302 1.06 163
Penyakit Dalam (Sp.PD) 4,970 11,573 2.33 2,182
Prevensi & Rehabilitasi Kardiovaskular (subsp.) 19 38 2.00 17
Ekokardiografi (subsp.) 36 66 1.83 29
Pencitraan Kardiovaskular (subsp.) 15 34 2.27 14
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

4.2 Sebaran tipe faskes

Unit: headcount (posisi per faskes)

Tabel 3.2: Tempat Praktik Tenaga (top 3 tipe faskes) Unit: headcount
Tenaga Tipe faskes Headcount %
Bedah Toraks-Kardiovaskular (Sp.BTKV) Rumah Sakit 178 99.4
Bedah Toraks-Kardiovaskular (Sp.BTKV) Klinik 1 0.6
Kardiolog (Sp.JP) Rumah Sakit 1580 97.4
Kardiolog (Sp.JP) Klinik 35 2.2
Kardiolog (Sp.JP) Praktek Nakes Mandiri 7 0.4
Kardiologi Intervensi (operator PCI) Rumah Sakit 204 100.0
Teknisi Kardiovaskular Rumah Sakit 258 90.8
Teknisi Kardiovaskular Klinik 21 7.4
Teknisi Kardiovaskular Sarana Kefarmasian dan Alkes 3 1.1
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

Senjang informasi. Indonesia belum memiliki registri serangan jantung / sindrom koroner akut nasional yang terbuka, atau indikator mutu reperfusi terpantau sistematis (door-to-balloon, door-to-needle, proporsi STEMI ter-reperfusi). Jejaring kegawatdaruratan terpadu (SPGDT) dan sistem rujukan STEMI antarRS belum terintegrasi penuh dengan data real-time. Rasio SIP:headcount operator PCI 2.36 menunjukkan satu operator langka melayani banyak faskes. Perencanaan kapasitas masih bertumpu pada proksi tenaga dan fasilitas, bukan data luaran pasien dan waktu reperfusi.

5 Pilar 4, Akses Obat Esensial

  1. Trombolitik, antiplatelet ganda, antikoagulan, statin, dan kaskade Formularium Nasional
Pertanyaan: Apakah obat reperfusi farmakologis (fibrinolitik) dan obat sekunder pasca-serangan jantung tersedia dan terjangkau sampai layanan primer/IGD, dan di mana letak senjang akses?
Catatan sumber (penting). Pilar ini adalah ringkasan kualitatif kompilasi Formularium Nasional dan PNPK SKA PERKI, bukan dihitung dari data. Tingkat akses bersifat editorial/konsensus dan tidak mencerminkan stok riil (ASPAK) atau dispensing. Untuk kaskade berbasis data WHO-EML ke Fornas ke FKTP, rujuk ARC Open HTA drug cascade.
Unit: kategori kualitatif (3 = akses luas)
Tabel 4.1: Akses Obat Serangan Jantung Esensial ringkasan kualitatif, BUKAN dihitung dari data
Obat Jenjang akses
Aspirin FKTP + IGD + FKRTL (Fornas)
Clopidogrel FKTP + FKRTL (Fornas)
Statin (atorvastatin/simvastatin) FKTP + FKRTL (Fornas)
Heparin / enoksaparin Umumnya IGD/FKRTL
Fibrinolitik (streptokinase/alteplase) Terbatas, terutama FKRTL berkemampuan
Ticagrelor / antiplatelet baru Terutama FKRTL
Kompilasi kualitatif Fornas/PNPK SKA PERKI (konsensus), bukan komputasi data; kepatuhan & stok riil (ASPAK) tidak terukur.
Inti Pilar 4 (terbatas data). Obat sekunder utama, aspirin, clopidogrel, statin, masuk Formularium Nasional dan tersedia hingga layanan primer. Senjang khas serangan jantung adalah fibrinolitik (streptokinase/alteplase): di kabupaten tanpa cath lab, fibrinolitik di IGD adalah satu-satunya reperfusi dalam jendela waktu, namun ketersediaan dan kesiapan SDM untuk memberikannya tidak merata. Antiplatelet generasi baru (ticagrelor) umumnya terbatas di FKRTL. Kepatuhan dan keamanan peresepan tidak dapat dihitung dari data klaim ini. Rujuk HTA Watchdog ARC untuk kaskade lengkap.

6 Pilar 5, Pembiayaan

  1. Belanja JKN serangan jantung (dihitung langsung dari klaim reguler 2015-2024)
Pertanyaan: Berapa besar dan ke mana pembiayaan JKN untuk serangan jantung mengalir, apakah didominasi prosedur perkutan (PCI) yang aksesnya timpang, dan bagaimana laju kasus terlayani serta mortalitasnya dari tahun ke tahun (termasuk tahun terbaru 2024)?

6.1 Sensitivitas kohort (utama vs sekunder)

Mengapa ada kohort sensitivitas. Definisi kasus memasukkan I21/I22 sebagai diagnosis utama (FKL15A) atau sekunder (SDX). Kode sekunder sering melekat pada kontak tindak lanjut kronik/pasca-infark (riwayat MI), bukan episode akut baru. Untuk membatasi inflasi ini, kohort dipecah: semua kontak ber-kode AMI, diagnosis utama saja (lebih dekat ke episode insiden akut), dan diagnosis sekunder saja. Porsi rawat inap yang rendah pada kohort sekunder menegaskan sifatnya yang sebagian besar rawat jalan/tindak lanjut.

Unit: % klaim dan % rawat inap | kohort sensitivitas definisi kasus

Tabel 5.0: Sensitivitas Kohort AMI (utama vs sekunder) Unit: klaim/pasien
Kohort Klaim (n) % klaim Pasien (raw) % rawat inap Miliar Rp
Semua kontak ber-kode AMI 24,903 100.0 8,577 24.8 7,616
Diagnosis utama saja (FKL15A=I21/I22) 17,375 69.8 5,913 26.7 5,437
Diagnosis sekunder saja (SDX, bukan utama) 7,528 30.2 3,767 20.3 2,179
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler) | diagnosis utama = FKL15A I21/I22; sekunder = SDX saja

Unit: pasien per 100.000 peserta JKN | batas atas (semua kode) vs batas bawah (diagnosis utama)

Tabel 5.0b: Laju Terlayani, Sensitivitas Kohort Unit: per 100k peserta JKN
Tahun per 100k (semua kode) per 100k (utama saja)
2015 16.39 0.00
2016 12.83 0.04
2017 35.37 22.48
2018 39.61 25.95
2019 41.14 29.92
2020 37.64 28.52
2021 34.97 24.66
2022 47.58 31.45
2023 59.90 40.63
2024 62.06 43.96
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler) | denominator peserta JKN DJSN per tahun

6.2 Tren belanja tahunan

Unit: Triliun Rupiah (tertimbang PSTV15)

Tabel 5.1: Belanja FKRTL Serangan Jantung per Tahun Unit: Rp
Tahun Klaim (n) Miliar Rp Triliun Rp Rerata (Rp)
2015 343 167 0.17 5,016,310
2016 376 329 0.33 10,261,050
2017 1,414 581 0.58 4,080,928
2018 1,924 465 0.46 2,808,027
2019 2,636 731 0.73 3,530,694
2020 2,448 607 0.61 3,068,822
2021 2,461 760 0.76 3,611,808
2022 3,275 965 0.96 4,061,264
2023 4,502 1,385 1.38 3,934,053
2024 5,524 1,628 1.63 3,752,006
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler) | 2024 = tahun terbaru, paling relevan kebijakan

6.3 Laju AMI terlayani per 100.000 peserta JKN

Unit: pasien AMI terlayani per 100.000 peserta JKN (tertimbang)

Tabel 5.2: Laju AMI Terlayani per 100k Peserta JKN Unit: pasien
Tahun Klaim (n) Pasien (raw) Pasien tertimbang Peserta JKN per 100k
2015 343 252 25,695 156,790,000 16.39
2016 376 260 22,055 171,940,000 12.83
2017 1,414 701 66,482 187,980,000 35.37
2018 1,924 911 82,398 208,050,000 39.61
2019 2,636 1,094 92,219 224,150,000 41.14
2020 2,448 1,001 83,731 222,460,000 37.64
2021 2,461 1,027 82,427 235,720,000 34.97
2022 3,275 1,390 118,370 248,770,000 47.58
2023 4,502 1,800 160,115 267,310,000 59.90
2024 5,524 2,075 172,437 277,860,000 62.06
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler) | denominator peserta JKN DJSN per tahun

6.4 Belanja per subtipe & setting

Unit: Miliar Rupiah (tertimbang)

Tabel 5.3: Belanja per Subtipe x Setting Unit: Rp
Subtipe Setting Klaim (n) Miliar Rp Rerata (Rp)
Infark miokard akut (I21) Rawat Inap 5,452 7,125 14,559,526
Infark miokard akut (I21) Rawat Jalan 18,402 359 248,766
Infark miokard ulang (I22) Rawat Inap 128 116 13,137,490
Infark miokard ulang (I22) Rawat Jalan 921 16 227,271
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

6.5 Belanja INA-CBG teratas

Unit: Miliar Rupiah (tertimbang)

Tabel 5.4: INA-CBG Belanja Tertinggi Unit: Rp
INA-CBG Klaim (n) Miliar Rp Rerata (Rp)
Prosedur Kardiovaskular Perkutan Berat 221 1,385 59,339,426
Prosedur Kardiovaskular Perkutan Sedang 197 972 45,043,592
Prosedur Kardiovaskular Perkutan Ringan 337 892 26,331,209
Prosedur Sistem Pernafasan Non Kompleks Berat 133 516 35,175,432
Infark Myokard Akut Berat 441 441 11,663,258
Infark Myokard Akut Ringan 1,056 397 4,700,675
Ventilasi Mekanikal Long Term Tanpa Trakeostomi Berat 41 393 73,387,299
Infark Myokard Akut Sedang 511 322 7,737,204
286 24 279 75,529,811
Penyakit Kronis Kecil Lain-Lain 15,105 236 206,177
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

6.6 Belanja PCI vs jangkauannya (mismatch)

Unit: % klaim rawat inap AMI (tertimbang) dengan CBG perkutan

Tabel 5.5: Porsi Rawat Inap AMI dengan PCI Unit: klaim tertimbang
Tahun RI tertimbang PCI tertimbang % RI dgn PCI
2015 12,163 0 0.0
2016 12,622 0 0.0
2017 38,943 6,131 15.7
2018 37,726 5,825 15.4
2019 47,578 10,686 22.5
2020 47,600 8,138 17.1
2021 48,281 12,523 25.9
2022 67,419 14,271 21.2
2023 86,442 16,039 18.6
2024 99,456 21,808 21.9
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler) | 47.30% total belanja rawat inap AMI mengalir ke prosedur perkutan

6.7 Keterjangkauan per pulau (intensitas kontak)

Unit: rerata kontak per pasien dan % rawat inap, per pulau (residensi anggota)

Tabel 5.6: Keterjangkauan Serangan Jantung per Pulau Unit: pasien
Pulau Pasien (n) Rerata kontak % rawat inap Rerata biaya (Rp)
Sulawesi 573 1.95 64.7 12,771,872
Maluku-Papua 236 1.55 72.1 12,428,850
Jawa 4,829 3.01 54.3 10,424,516
Bali-Nusra 500 2.12 63.0 9,658,595
Sumatera 1,870 2.11 65.2 9,057,774
Kalimantan 569 1.76 65.3 6,207,185
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler) | pulau dari kode residensi anggota (PSTV09)

6.8 Proksi ketepatan-waktu PCI per pulau (akses reperfusi)

Proksi ketepatan-waktu, bukan door-to-balloon. Klaim tidak memuat timestamp, sehingga door-to-balloon/door-to-needle yang sesungguhnya tidak dapat dihitung. Sebagai proksi struktural, figur ini menampilkan porsi rawat inap infark akut (I21) yang mencapai prosedur perkutan (PCI) per pulau, dibaca terhadap kepadatan cath lab per 1 juta. Porsi PCI rendah di pulau dengan cath lab langka menandakan pasien STEMI tidak mencapai PCI primer dalam jendela waktu, lalu bergantung pada fibrinolitik-lalu-rujuk atau tanpa reperfusi.

Unit: % rawat inap akut dgn PCI dan cath lab per 1 juta, per pulau (residensi anggota)

Tabel 5.7: Proksi Ketepatan-Waktu PCI per Pulau Unit: klaim tertimbang / RS per juta
Pulau RI akut tertimbang % RI akut dapat PCI Cath lab per 1 juta
Jawa 300,747 22.5 1.45
Sulawesi 24,329 21.4 1.33
Sumatera 104,134 17.2 1.00
Maluku-Papua 10,315 7.3 0.44
Bali-Nusra 22,684 5.6 1.19
Kalimantan 27,166 3.8 0.89
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler) | proksi struktural, bukan door-to-balloon terukur; pulau dari residensi anggota PSTV09

Inti Pilar 5: Belanja FKRTL serangan jantung ~Rp 7.62 triliun kumulatif 2015-2024, naik tajam dari Rp 0.17 triliun (2015) menjadi Rp 1.63 triliun (2024). Belanja didominasi prosedur kardiovaskular perkutan (PCI), yang menyerap 47.3% total belanja rawat inap AMI namun hanya menjangkau sekitar seperlima episode rawat inap dan hanya tersedia di 27.8% kabupaten. Uang mengalir ke prosedur paling efektif yang justru paling timpang aksesnya, sehingga manfaatnya terkonsentrasi pada pasien yang berhasil mencapai pusat PCI tepat waktu, sebagian besar di Jawa.

7 Pilar 6, Tata Kelola

  1. SPGDT, jejaring STEMI, PNPK SKA PERKI, Fornas, dan senjang sistem rujukan terpadu
Pertanyaan: Apakah instrumen tata kelola (jejaring rujukan, regulasi, pedoman, insentif) mengarahkan sistem ke reperfusi cepat dan merata, atau ke konsentrasi layanan di pusat-pusat kota?
Catatan sumber (penting). Tabel berikut adalah ringkasan kualitatif instrumen kebijakan, bukan dihitung dari data. Kolom Status mencerminkan pemetaan kebijakan, bukan ukuran cakupan atau mutu terhitung.
Tabel 6.1: Instrumen Tata Kelola Serangan Jantung ringkasan kualitatif kebijakan, BUKAN dihitung dari data
Instrumen Fokus Status
PNPK / PERKI SKA Standar tata laksana sindrom koroner akut Ada, penerapan & reperfusi tepat-waktu bervariasi
SPGDT (PSC 119) Jejaring kegawatdaruratan terpadu pra-RS Berlaku, integrasi & cakupan tidak merata
Jejaring rujukan STEMI / sistem reperfusi Rujukan cepat ke cath lab / fibrinolitik-lalu-rujuk Terbatas di kota besar, belum nasional
Fornas Obat SKA esensial (antiplatelet, statin, fibrinolitik) Berlaku, fibrinolitik di kabupaten tak merata
Akreditasi RS (KARS) Mutu fasilitas jantung Berlaku, indikator door-to-balloon terbatas
Pemerataan SDM spesialis (afirmasi/WKDS) Distribusi kardiolog & operator PCI Senjang besar: operator PCI Jawa-sentris
Kompilasi kualitatif kebijakan kunci (PNPK PERKI, SPGDT, Fornas, akreditasi), bukan komputasi data. Status = pemetaan kebijakan.
Inti Pilar 6: Kerangka tata kelola (PNPK SKA PERKI, SPGDT/PSC 119, Fornas) ada, tetapi jejaring reperfusi STEMI nasional yang terintegrasi belum terbangun. Tanpa sistem rujukan cepat dan kesiapan fibrinolitik di kabupaten tanpa cath lab, pemerataan operator PCI (sangat Jawa-sentris) dan integrasi pra-RS menjadi titik ungkit utama. Penguatan perlu menggeser dari penambahan kapasitas di kota ke jejaring waktu-kritis lintas wilayah dan distribusi tenaga.

8 Analisis Khusus Serangan Jantung

Karakteristik klinis AMI: subtipe, keparahan, mortalitas, demografi, komorbiditas (kohort reguler)
Pertanyaan: Seperti apa profil klinis pasien serangan jantung yang terlayani JKN, dan bagaimana keparahan serta mortalitasnya, termasuk pandangan tahun terbaru 2024?

8.1 Keparahan (rawat inap)

Unit: % klaim rawat inap AMI (tertimbang) | FKL23 2=Ringan,3=Sedang,4=Berat

Tabel D.1: Keparahan AMI Rawat Inap Unit: klaim
Keparahan Klaim (n) Tertimbang % Miliar Rp Rerata (Rp)
Berat 2,115 203,538 40.9 4,095 20,119,955
Ringan 2,366 201,430 40.4 1,631 8,095,835
Sedang 1,099 93,260 18.7 1,515 16,249,736
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

8.2 Mortalitas intra-RS (proksi CFR) per tahun

Unit: % klaim AMI dengan status meninggal (FKL14=3), tertimbang

Tabel D.2: Proksi Mortalitas Intra-RS per Tahun Unit: klaim
Tahun Klaim (n) Meninggal (n) Klaim tertimbang Meninggal tertimbang Proksi CFR
2015 343 20 33,297 2,738 8.2
2016 376 24 32,072 3,245 10.1
2017 1,414 38 142,353 5,343 3.8
2018 1,924 60 165,593 6,620 4.0
2019 2,636 62 206,952 6,286 3.0
2020 2,448 70 197,724 4,196 2.1
2021 2,461 65 210,301 5,739 2.7
2022 3,275 94 237,498 11,145 4.7
2023 4,502 155 352,054 22,264 6.3
2024 5,524 147 433,836 12,485 2.9
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler) | proksi: status pulang pada klaim, bukan registri kematian terverifikasi

8.3 Demografi pasien (usia, jenis kelamin, segmen)

Unit: % pasien AMI sampel (raw, member-join)

Tabel D.3: Demografi Pasien Serangan Jantung (sampel) Unit: pasien
Kelompok Kategori Pasien (n) %
Jenis kelamin Laki-laki 5,830 68.0
Jenis kelamin Perempuan 2,747 32.0
Segmen Non-PBI 6,239 72.7
Segmen PBI (subsidi) 2,338 27.3
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler) | segmen PBI = penerima bantuan iuran (subsidi)

8.4 Komorbiditas (diagnosis sekunder)

Unit: % pasien AMI (tertimbang) dengan komorbiditas di SDX

Tabel D.4: Komorbiditas Pasien AMI Unit: pasien
Kode ICD Diagnosis Pasien tertimbang %
I25 Chronic ischaemic heart disease 210,647 27.8
I50 Congestive heart failure 140,239 18.5
E11 Non-insulin-dependent diabetes mellitus with unspecified complications 100,756 13.3
I11 Hypertensive heart disease 96,397 12.7
I10 Essential (primary) hypertension 67,207 8.9
E87 Hypokalaemia 53,185 7.0
I20 Angina pectoris, unspecified 49,060 6.5
K30 Dyspepsia 40,645 5.4
J18 Bronchopneumonia, unspecified 36,455 4.8
E78 Pure hypercholesterolaemia 36,381 4.8
R57 Hypovolaemic shock 30,404 4.0
E14 Unspecified diabetes mellitus 25,346 3.4
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler) | komorbiditas dari SDX (diagnosis sekunder 4-char, dipetakan ke ICD-3 + nama)

8.5 Sorotan tahun terbaru (2024)

Unit: campuran (lihat label metrik) | tahun 2024

Tabel D.5: Sorotan Serangan Jantung 2024 (tahun terbaru) Unit: campuran
Metrik Nilai
Klaim FKRTL (n) 5,524
Pasien sampel (raw) 2,075
Pasien tertimbang 172,437
Laju per 100k peserta JKN 62.06
Belanja FKRTL (triliun Rp) 1.63
Rerata biaya per klaim (Rp) 3,752,006
% rawat inap 22.9%
% infark akut (I21) 96.7%
Proksi CFR intra-RS (%) 2.9%
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)

Inti analisis khusus: Pasien serangan jantung JKN terkonsentrasi pada usia 50-69 tahun, didominasi laki-laki (68.0%), dengan beban PBI/subsidi 27.3%. Keparahan tinggi: 40.9% rawat inap berkategori Berat dan menyerap belanja terbesar. Komorbiditas kardiometabolik dominan (penyakit jantung iskemik kronik 27.8%, gagal jantung 18.5%, diabetes 16.7%, hipertensi). Tahun terbaru 2024: laju terlayani 62.06/100k peserta JKN, 96.7% infark akut, proksi CFR intra-RS 2.9%.

9 Senjang Tata Laksana dan Tolok Ukur

Treatment gap: kapasitas pasokan vs beban serangan jantung dan tolok ukur internasional
Pertanyaan: Bagaimana kapasitas pasokan dibandingkan beban serangan jantung dan tolok ukur internasional?

Unit: campuran (lihat label indikator)

Tabel 7.1: Senjang Kapasitas vs Tolok Ukur ilustratif
Indikator Indonesia (nasional) Acuan ilustratif
Kardiolog (Sp.JP) per 100k 0.571 3
Operator PCI per 1 juta 0.720 5
RS cath lab/PCI per 1 juta 1.260 4
Acuan ilustratif dari literatur internasional; bukan target resmi nasional.
Inti senjang: Serangan jantung adalah kegawatdaruratan waktu-kritis, namun kapasitas reperfusi sangat di bawah tolok ukur. Indonesia memiliki 0.72 operator PCI per juta dan 1.26 cath lab per juta, jauh dari acuan ilustratif, sehingga mayoritas pasien STEMI di luar pusat kota tidak dapat mencapai PCI primer dalam jendela waktu. Tanpa cath lab di 72.2% kabupaten, andalan satu-satunya adalah fibrinolitik dan rujukan, dengan beban terbesar jatuh pada wilayah timur dan kabupaten padat tanpa cath lab.

10 Skor AAQ

Ketersediaan, Keterjangkauan, Mutu menurut Pilar
Tabel 8.1: Skor AAQ Sistem Serangan Jantung Indonesia (2025) sintesis enam pilar
Pilar Ketersediaan Keterjangkauan Mutu
1 Layanan Cath lab/PCI 358 RS; ICCU 380 RS 72.2% kab tanpa cath lab Reperfusi primer terpusat di kota/Jawa
2 Tenaga 1,623 kardiolog; 204 operator PCI 84.6% kab tanpa operator PCI; Gini 0.917 AMI di luar kota ditangani Sp.PD/dr umum
3 Informasi SIP tercatat per kategori Data per kab tersedia Tak ada registri SKA/door-to-balloon nasional
4 Obat Aspirin/clopidogrel/statin di Fornas Sebagian di primer Fibrinolitik tak merata di kabupaten
5 Pembiayaan JKN tanggung kuratif (PCI) ~Rp 7.62 T kumulatif; 2024 Rp 1.63 T 47.30% belanja RI ke PCI yang aksesnya timpang
6 Tata kelola PNPK PERKI + SPGDT + Fornas Jejaring STEMI belum nasional Reperfusi tepat-waktu tak terpantau
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (skema reguler)
Sintesis. Kerangka (PNPK PERKI, SPGDT, Fornas) dan pembiayaan kuratif ada, tetapi kapasitas reperfusi waktu-kritis untuk serangan jantung sangat langka dan Jawa-sentris (204 operator PCI; cath lab absen di 72.2% kabupaten), dan belanja terkonsentrasi pada prosedur (PCI) yang justru paling timpang aksesnya. Penguatan perlu bergeser ke jejaring reperfusi STEMI lintas wilayah (fibrinolitik-lalu-rujuk yang andal di kabupaten tanpa cath lab, plus PSC 119/SPGDT terintegrasi), pemerataan operator PCI dan cath lab ke luar Jawa, serta registri SKA nasional dengan indikator waktu reperfusi.

11 Kerangka indikator dan rujukan

Indikator dan sumber
Kepadatan tenaga: headcount DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025 / proyeksi penduduk BPS 2025, per 100.000 penduduk (konvensi WHO untuk spesialis) dan per 100.000 dewasa >=40 (proksi 33.0%). Ketersediaan layanan: deklarasi layanan SIRS Kemenkes 2025-10. Gurun layanan/tenaga: kabupaten tanpa fasilitas/tenaga (peta kode BPS). Konsentrasi: koefisien Gini antar-kabupaten. Pembiayaan & klinis: kohort AMI skema reguler Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15, member-join demografi), kasus I21/I22 di FKL15A atau SDX. Rujukan kerangka: WHO Health System Building Blocks (2010); PNPK Sindrom Koroner Akut PERKI; Formularium Nasional; pedoman ESC/AHA tentang reperfusi STEMI (door-to-balloon). Kaskade obat WHO-EML ke Fornas ke FKTP dirinci di HTA Watchdog ARC.

12 Keterbatasan

  1. DREAMS headcount = posisi per faskes; tenaga yang praktik di lebih dari satu faskes dapat terhitung ganda (lihat rasio SIP:headcount). SIP = jumlah izin praktik.
  2. Layanan SIRS = dideklarasikan RS, bukan akreditasi, volume, kesiapan 24/7, atau mutu aktual; ketersediaan cath lab tidak menjamin PCI primer tersedia tiap saat.
  3. Denominator utama per 100.000 penduduk total; per-100k dewasa >=40 memakai proksi 33.0% nasional (BPS), bukan denominator dewasa berisiko aktual per kabupaten.
  4. Obat (Pilar 4) dan tata kelola (Pilar 6) adalah ringkasan kualitatif kompilasi Fornas/PNPK/kebijakan, BUKAN dihitung dari data; tidak boleh dibaca sebagai ukuran cakupan/stok terukur.
  5. Pembiayaan dan klinis dihitung dari kohort AMI skema reguler (sampel rumah tangga, tertimbang PSTV15); ini estimasi berbasis sampel, bukan total belanja nasional penuh.
  6. Proksi case-fatality memakai status pulang meninggal pada klaim (FKL14=3), bukan registri kematian terverifikasi; lonjakan 2023 mungkin mencerminkan variasi pengodean/keparahan, dibaca dengan hati-hati.
  7. Porsi PCI memakai heuristik teks pada nama INA-CBG (“PERKUTAN”/“KATETER”); dapat sedikit under/over-estimasi.
  8. Tolok ukur internasional bersifat ilustratif (literatur/negara sebanding), bukan target resmi nasional.
  9. Pemisahan kota/desa memakai aturan kode BPS (>=71 = Kota); tidak menangkap heterogenitas dalam satu kabupaten.
  10. 81 RS SIRS (termasuk 5 ber-cath lab) memiliki kode kabupaten yang belum ada di tabel penduduk BPS (pemekaran provinsi pasca-2022) dan terkecualikan dari hitung cakupan/gurun.
  11. Pulau pada lapisan ekuitas berasal dari kode residensi anggota (PSTV09) lewat member-join; anggota tanpa kode residensi valid tidak masuk lapisan itu.
  12. Inflasi kode sekunder (riwayat/MI lama). Definisi kasus memasukkan I21/I22 sebagai diagnosis sekunder (SDX), sehingga kohort ikut menyapu kontak tindak lanjut kardiologi kronik/pasca-infark yang membawa I21/I22 sebagai kode historis, bukan episode akut baru. Sebanyak 30.2% klaim (7,528) berasal dari diagnosis sekunder saja, dan hanya 20.3% di antaranya rawat inap (bandingkan diagnosis utama 26.7%). Akibatnya jumlah klaim dan laju terlayani per 100.000 lebih tepat dibaca sebagai laju kontak layanan ber-kode AMI, bukan insidensi AMI akut. Kohort sensitivitas diagnosis-utama (Tabel 5.0) memberi batas bawah yang lebih dekat ke episode insiden.
  13. Pemisahan STEMI vs NSTEMI hanya dapat diturunkan dari token 4-karakter pada SDX (I21.0-3 = STEMI, I21.4 = NSTEMI, I21.9 = tak dirinci); diagnosis utama FKL15A hanya 3-karakter (I21), sehingga sebagian besar episode jatuh ke kategori tak dirinci dan proporsi STEMI/NSTEMI eksplisit adalah batas bawah.
  14. Mortalitas pasca-indeks (Tabel D.2b) memakai tahun kematian dari member (PSTV18, granularitas tahunan), bukan jendela tepat 30 hari; angka mencakup kematian sebab apa pun pada/sesudah tahun indeks AMI, jadi merupakan proksi atas, bukan mortalitas 30-hari spesifik-AMI.
  15. Proksi ketepatan-waktu PCI (Tabel 5.7) bersifat struktural (porsi rawat inap akut yang mencapai CBG perkutan per pulau dibaca terhadap kepadatan cath lab); klaim tidak memuat timestamp sehingga door-to-balloon/door-to-needle sesungguhnya tidak terukur.

Analisis sisi pasokan sistem kesehatan untuk serangan jantung (infark miokard akut). ARC2 CVD Institute, Arc Research Center. Pembiayaan dan profil klinis dihitung langsung dari klaim reguler Data Sampel BPJS.