Unit analisis (tercantum di tiap tabel/figur). Dokumen ini memakai tiga unit, perhatikan badge · Unit: …: (1) Pasien unik = orang, dihitung sekali (beban, demografi, ekuitas, kaskade per pasien); (2) Kunjungan/Klaim = per layanan (volume utilisasi, biaya, INA-CBG, diagnosis); (3) Episode rawat inap = per perawatan inap (lama rawat, keparahan FKL23, fatalitas/CFR, dekompensasi, readmisi).

Cara baca. Setiap angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang (PSTV15) dari sampel reguler BPJS; angka sampel mentah dilaporkan terpisah. Kasus gagal jantung didefinisikan dari kode ICD-10 I50 (gagal jantung) pada diagnosis masuk (FKL15A, 3-karakter) atau diagnosis sekunder (SDX, 4-karakter), serta gagal jantung hipertensif I11.0 dan I13.0/I13.2 yang teridentifikasi pada SDX. Demografi diambil dari penggabungan ke berkas kepesertaan (member-join), bukan dari diagnosis per-klaim. Analisis pasien-tertaut mencakup periode 2017-2024 (baris FKRTL 2015-2016 tidak memiliki padanan kepesertaan dengan tanggal lahir, sehingga dikeluarkan dari analisis berbasis pasien).

Penting (kerangka interpretasi). Angka di sini adalah kasus gagal jantung yang terlayani di FKRTL dan diklaimkan ke JKN. Ini menggambarkan beban klinis yang terlayani, BUKAN prevalensi gagal jantung nasional. Gagal jantung adalah endpoint dari rantai hipertensi -> penyakit jantung koroner -> gagal jantung; banyak kasus tahap awal belum terdiagnosis atau dikelola di layanan primer, sehingga laju terlayani adalah batas bawah beban sesungguhnya. Inti tata kelola gagal jantung adalah terapi medis terpandu pedoman (GDMT) yang dititrasi dan pemantauan berkelanjutan untuk mencegah dekompensasi, rawat inap berulang, dan kematian.

Peta Pilar (navigasi): Fondasi (kohort, definisi kasus, sorotan 2024) · A Beban, Demografi & Geografi · B Layanan Primer (FKTP) · C Keparahan, Lama Rawat & Setting RS · D Rujukan & Konektivitas · E Geografi Peserta-Faskes · F Proses & Luaran (Fatalitas, Mortalitas 30-hari, Readmisi) · G Komorbiditas · H Ekonomi (Pareto, INA-CBG) · I Ekuitas vs Populasi Umum · ★ GJ-spesifik (Kaskade pencegahan dekompensasi, Readmisi, Dekompensasi INA-CBG, Perawatan intensif) · S Uji Sensitivitas · Indikator & rujukan · Keterbatasan.

1 Fondasi: kohort, definisi & sorotan terkini

0 Fondasi · Pembentukan Kohort · Definisi Kasus Gagal Jantung · Sorotan Tahun Terkini (2024)

Inti: Mendefinisikan populasi analisis (peserta JKN dengan minimal satu klaim FKRTL berkode gagal jantung I50/I11.0/I13, 2015-2024; analisis berbasis pasien 2017-2024), subtipe gagal jantung, serta menampilkan sorotan tahun terkini (2024) sebagai lensa paling relevan untuk kebijakan.
Sumber & desain (STROBE-ringkas): Studi potong-lintang berulang berbasis klaim administratif. Populasi sumber = peserta JKN pada sampel reguler (sampel rumah tangga ~1%). Identifikasi via PSTV01, bobot nasional PSTV15. Demografi via member-join (PSTV03 lahir, PSTV05 jenis kelamin, PSTV07 kelas rawat, PSTV08 segmentasi, PSTV09 provinsi); tahun kematian = maks(PSTV18). Keparahan FKL23, fatalitas in-hospital FKL14=3, biaya verifikasi FKL48 (terbayar), dekompensasi & perawatan intensif via deskripsi INA-CBG (FKL19A).

1.1 Sorotan 2024 (paling relevan kebijakan)

Tahun terkini, 2024 (proyeksi nasional tertimbang).
1,148,907 pasien gagal jantung terlayani JKN  |  6.52% fatalitas rumah sakit (CFR in-hospital)  |  6.6% readmisi rawat inap 30-hari  |  Rp 4.37 T belanja FKRTL gagal jantung
Sampel 2024: 12,983 pasien unik · 3,559 episode rawat inap · lama rawat rata-rata 4.4 hari. Sekitar 1 dari 15 pasien gagal jantung yang dirawat meninggal di rumah sakit, dan 1 dari 15 yang pulang kembali dirawat dalam 30 hari, penanda utama mutu pengelolaan gagal jantung yang dapat dicegah dengan titrasi GDMT dan tindak lanjut layanan primer.

1.2 Alur kohort

Tabel F.0: Pembentukan Kohort Gagal Jantung Terlayani JKN · Unit: Pasien/klaim
Sampel reguler BPJS 2015-2024, FKRTL
Indikator Nilai
Klaim FKRTL gagal jantung (I50/I11.0/I13 di FKL15A atau SDX) 308,829
Pasien unik (sampel) 42,877
Pasien unik (tertimbang, proyeksi nasional) 3,775,447
Pasien pernah rawat inap / dekompensasi (%) 38.6%
Pasien dengan GJ sistolik / I50.0 (%) 53.5%
Pasien dengan GJ hipertensif / I11-I13 (%) 36.2%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)
Definisi kasus gagal jantung

Mengikuti ICD-10 versi WHO: I50 = gagal jantung (I50.0 gagal jantung kongestif/sistolik, I50.1 gagal jantung kiri/diastolik, I50.9 gagal jantung tak dirinci). Karena kode diagnosis masuk (FKL15A) hanya 3-karakter, gagal jantung hipertensif I11.0 (penyakit jantung hipertensif dengan gagal jantung) dan I13.0/I13.2 (penyakit jantung dan ginjal hipertensif dengan gagal jantung) tidak dapat dipisahkan pada FKL15A (tersimpan sebagai ‘I11’/‘I13’); kode-kode ini hanya teridentifikasi pada diagnosis sekunder (SDX) 4-karakter. Sebuah klaim dimasukkan jika FKL15A diawali I50, ATAU SDX memuat I50/I11.0/I13.0/I13.2, ATAU FKL15A I11/I13 yang disertai I50 pada SDX. Klasifikasi per pasien: pasien yang pernah terkode I50.0 = “GJ sistolik (I50.0)”; lalu I50.1 = “GJ diastolik (I50.1)”; lalu I11/I13 = “GJ hipertensif”; sisanya “GJ tak dirinci (I50.9)”. Kode administratif Z09 (tindak-lanjut) yang hanya membawa gagal jantung di SDX dikeluarkan.

1.3 Konteks: gagal jantung dalam rantai kardiometabolik (I10-I52)

Tabel F.0b: Rantai Kardiometabolik (I10-I52) · Unit: Klaim
ICD-10 Penyakit / kondisi Klaim (sampel) Klaim (tertimbang)
I50 Gagal jantung (heart failure) 187,370 16,533,418
I11 Penyakit jantung hipertensif 157,289 13,714,430
I25 Penyakit jantung iskemik kronik 135,946 12,356,990
I15 (nama tidak tersedia) 45,102 3,375,672
I10 Hipertensi esensial (primer) 43,835 3,235,741
I20 Angina pektoris 26,306 2,147,553
I21 Infark miokard akut 16,679 1,360,726
I24 (nama tidak tersedia) 9,137 839,026
I49 Aritmia jantung lain 8,667 819,625
I48 Fibrilasi & flutter atrium 6,410 550,944
I12 (nama tidak tersedia) 4,099 226,399
I13 Penyakit jantung & ginjal hipertensif 2,286 165,653
I47 Takikardia paroksismal 2,111 174,118
I42 Kardiomiopati 1,751 135,239
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | fokus laporan = I50/I11/I13 (gagal jantung)
Keterbatasan utama (berlaku di seluruh dokumen). Angka adalah kasus gagal jantung yang terlayani di FKRTL dan diklaimkan, bukan seluruh penderita. Kasus tahap awal yang dikelola di layanan primer, kasus tanpa klaim, dan gagal jantung yang belum terdiagnosis tidak tertangkap. Adherensi dan titrasi GDMT (ACEi/ARB/ARNI, beta-blocker, MRA, SGLT2i) tidak terukur langsung dari klaim FKRTL. Fraksi ejeksi (HFrEF vs HFpEF) hanya didekati dari kode I50.0 vs I50.1, yang sering tak dirinci (I50.9). Perawatan intensif dan alat (pacu jantung/CRT/ICD) diukur via deskripsi INA-CBG (proksi), bukan rekaman prosedur langsung. Biaya memakai FKL48 (biaya verifikasi/terbayar).

2 Pilar A, Beban, Demografi & Geografi

A Pilar A · Beban Tahunan & Laju Terlayani · Insidens · Usia x Tahun · Piramida · Jenis Kelamin · Geografi
Pertanyaan: Seberapa besar dan seberapa cepat tumbuh beban gagal jantung terlayani JKN, bagaimana laju terlayani per 100.000 peserta, bagaimana profil usia-jenis kelamin (gagal jantung pada lanjut usia dengan beban hipertensi/iskemik), dan bagaimana sebaran wilayahnya.

2.1 Beban tahunan (per tahun & subtipe)

2.1.1 Total per tahun

Tabel A.1: Pasien Gagal Jantung Terlayani per Tahun · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Tahun Pasien (sampel) Pasien (tertimbang) GJ sistolik/I50.0 (tertimbang) Pernah inap (tertimbang)
2017 6,193 575,577 310,660 212,994
2018 8,220 742,019 404,805 223,617
2019 9,342 836,242 445,598 241,917
2020 8,736 749,885 405,685 184,913
2021 8,832 721,083 366,214 162,517
2022 10,580 882,701 439,731 207,653
2023 12,081 1,025,044 486,048 243,452
2024 12,983 1,148,907 542,763 286,907
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | analisis berbasis pasien 2017-2024 (member-link)

2.1.2 Laju terlayani per 100k JKN (per tahun)

Tabel A.2: Laju Gagal Jantung Terlayani per 100k Peserta JKN · Unit: Pasien per 100k
Tahun Pasien (tertimbang) Peserta JKN (DJSN) Laju per 100k
2017 575,577 187,980,000 306.19
2018 742,019 208,050,000 356.65
2019 836,242 224,150,000 373.07
2020 749,885 222,460,000 337.09
2021 721,083 235,720,000 305.91
2022 882,701 248,770,000 354.83
2023 1,025,044 267,310,000 383.47
2024 1,148,907 277,860,000 413.48
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | denominator peserta JKN nasional per tahun (DJSN); 2020-21 terdampak COVID-19

2.1.3 Insidens terlayani (pasien baru per tahun)

2.1.4 Subtipe gagal jantung

Tabel A.3: Subtipe Gagal Jantung · Unit: Pasien unik
Subtipe Pasien (sampel) Pasien (tertimbang) %
GJ sistolik (I50.0) 22,934 2,032,294 53.8
GJ tak dirinci (I50.9) 11,510 1,002,756 26.6
GJ hipertensif (I11/I13) 7,904 687,867 18.2
GJ diastolik (I50.1) 529 52,530 1.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | I50.0 sistolik (HFrEF), I50.1 diastolik (HFpEF), I50.9 tak dirinci

2.2 Usia menurut tahun

Tabel A.4: Pasien Gagal Jantung menurut Tahun x Kelompok Usia · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Tahun 40-54 55-64 65-74 75+ <40
2017 142,842 173,403 138,814 74,677 45,840
2018 188,161 243,313 168,871 92,248 49,426
2019 198,892 271,637 205,789 103,740 56,185
2020 184,108 254,600 184,748 84,088 42,341
2021 195,399 245,731 174,242 60,793 44,919
2022 230,178 290,164 224,022 81,207 57,129
2023 245,829 345,059 270,716 97,652 65,787
2024 263,727 407,029 303,144 107,486 67,521
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

2.3 Piramida usia-jenis kelamin

Tabel A.5: Pasien Gagal Jantung menurut Usia x Jenis Kelamin · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Kelompok usia Laki-laki Perempuan
<40 118,909 167,255
40-54 443,196 465,521
55-64 614,248 598,512
65-74 472,851 464,674
75+ 217,216 213,065
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

2.4 Jenis kelamin & rasio

2.5 Geografi (pulau & provinsi)

Tabel A.7: 15 Provinsi dengan Pasien Gagal Jantung Terbanyak · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Provinsi Pulau Sampel Tertimbang %
Jawa Barat Jawa 6,997 787,023 20.8
Jawa Tengah Jawa 8,098 681,243 18.0
Jawa Timur Jawa 6,007 557,810 14.8
DKI Jakarta Jawa 1,294 226,307 6.0
Sumatera Utara Sumatera 2,706 207,330 5.5
Banten Jawa 1,253 156,703 4.2
DI Yogyakarta Jawa 1,076 100,861 2.7
Aceh Sumatera 905 97,914 2.6
Lampung Sumatera 1,139 92,748 2.5
Sumatera Barat Sumatera 1,007 88,340 2.3
Sulawesi Selatan Sulawesi 1,127 85,922 2.3
Bali Bali-Nusra 1,202 75,337 2.0
Kalimantan Timur Kalimantan 767 64,756 1.7
Riau Sumatera 918 62,332 1.7
Sumatera Selatan Sumatera 919 54,011 1.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)
Key takeaway Pilar A: Beban gagal jantung terlayani JKN tumbuh tajam sepanjang 2017-2024 (dengan dip pandemi 2020-2021), mencapai 1,148,907 pasien pada 2024. Profil: terkonsentrasi pada usia lanjut (55-74 dan 75+), kedua jenis kelamin terwakili. Subtipe didominasi sistolik (I50.0) dan tak dirinci (I50.9). Sebaran absolut mengikuti populasi Jawa-Sumatera; namun laju terlayani per 100.000 (Pilar I) menunjukkan ketimpangan akses geografis.

3 Pilar B, Layanan Primer (FKTP)

B Pilar B · Kontak Gagal Jantung di FKTP · Konteks Kardiovaskular · Cakupan FKTP vs FKRTL
Pertanyaan: Sejauh mana gagal jantung dikelola di layanan primer (FKTP)? Layanan primer adalah lokus pemantauan, titrasi GDMT, dan deteksi dini dekompensasi, namun gagal jantung lanjut umumnya berakhir di rujukan rumah sakit.

3.1 Kontak gagal jantung di FKTP per tahun

Tabel B.1: Kontak Gagal Jantung di FKTP per Tahun · Unit: Kontak (sampel)
Tahun Kontak FKTP gagal jantung (sampel)
2015 1,800
2016 2,723
2017 4,588
2018 7,611
2019 10,888
2020 11,899
2021 12,922
2022 15,051
2023 16,578
2024 18,054
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | FKTP: FKP15 (2015-2016) / FKP14A (2017+)

3.2 Cakupan layanan (rawat inap vs rawat jalan saja)

Tabel B.2: Pola Layanan FKRTL Pasien Gagal Jantung · Unit: Pasien unik
Pola layanan Pasien (sampel) Pasien (tertimbang) %
Hanya rawat jalan FKRTL 26,345 2,271,156 60.2
Pernah rawat inap 16,532 1,504,291 39.8
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | rawat jalan = kontrol/titrasi GDMT; rawat inap = dekompensasi akut
Key takeaway Pilar B: Kontak gagal jantung berkode I50 di FKTP relatif terbatas (102,114 kontak), sementara 39.8% pasien pernah dirawat inap (dekompensasi). Beban pemantauan kardiovaskular di layanan primer sesungguhnya jauh lebih besar pada spektrum hipertensi-PJK-gagal jantung (1,459,696 kontak). Penguatan titrasi GDMT dan deteksi dini perburukan di FKTP adalah pengungkit utama untuk mencegah rawat inap dekompensasi yang mahal.

4 Pilar C, Keparahan, Lama Rawat & Setting RS

C Pilar C · Tingkat Layanan & Tren · Keparahan FKL23 · Lama Rawat (LOS) · Kelas RS · Kepemilikan · Diagnosis
Pertanyaan: Bagaimana spektrum keparahan gagal jantung yang dirawat, berapa lama dirawat (LOS) menurut usia dan tahun, di RS kelas dan kepemilikan apa pasien dirawat, dan diagnosis penyerta apa yang menyertai klaim.

4.1 Tingkat layanan & tren

4.1.1 Komposisi

Tabel C.1: Tingkat Layanan FKRTL Gagal Jantung · Unit: Kunjungan
Tingkat layanan Kunjungan (sampel) Kunjungan (tertimbang) %
Rawat Jalan 284,978 24,974,442 92.1
Rawat Inap 23,851 2,154,469 7.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

4.1.2 Tren rawat jalan vs inap

4.2 Keparahan INA-CBG (FKL23)

4.2.1 Distribusi

4.2.2 Keparahan menurut usia

Tabel C.3: Keparahan Rawat Inap (FKL23) menurut Usia · Unit: Episode, %% per baris
Kelompok usia 2 Ringan 3 Sedang 4 Berat
<40 28.2 51.5 20.3
40-54 25.7 47.3 27.0
55-64 28.2 45.4 26.4
65-74 26.7 43.2 30.1
75+ 26.0 42.4 31.5
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | FKL23: 2=Ringan, 3=Sedang, 4=Berat

4.3 Lama rawat (LOS)

4.3.1 LOS menurut usia

4.3.2 LOS per tahun & per subtipe

Tabel C.4: Tren Lama Rawat Inap Gagal Jantung per Tahun · Unit: Episode rawat inap
Tahun Episode (sampel) LOS rata-rata LOS median
2017 2,522 5.2 4
2018 3,012 5.0 4
2019 3,279 4.7 4
2020 2,623 4.5 4
2021 2,322 4.6 4
2022 3,052 4.5 4
2023 3,482 4.5 4
2024 3,559 4.4 4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)
Tabel C.4b: Lama Rawat menurut Subtipe Gagal Jantung · Unit: Episode rawat inap
Subtipe Episode (sampel) LOS rata-rata LOS median
GJ diastolik (I50.1) 758 5.1 4
GJ hipertensif (I11/I13) 3,413 5.3 4
GJ sistolik (I50.0) 6,629 5.0 4
GJ tak dirinci (I50.9) 13,051 4.3 4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

4.4 Kelas RS, kepemilikan & diagnosis

4.4.1 Kelas & kepemilikan RS

Tabel C.5b: Kepemilikan RS pada Rawat Inap Gagal Jantung · Unit: Episode
Kepemilikan RS Episode (sampel) Episode (tertimbang) %
Publik 13,525 1,181,089 54.8
Swasta 10,326 973,380 45.2
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

4.4.2 Diagnosis tersering (kode + nama)

Tabel C.6: 15 Diagnosis Masuk Tersering pada Klaim Gagal Jantung (kode + nama) · Unit: Klaim
ICD-10 Penyakit / kondisi Klaim (sampel) Klaim (tertimbang)
I50 Gagal jantung (heart failure) 187,370 16,533,418
I25 Penyakit jantung iskemik kronik 25,096 2,227,771
I11 Penyakit jantung hipertensif 21,267 1,855,732
E11 Diabetes melitus tipe 2 6,346 549,867
I51 (lihat ICD-10) 4,329 395,975
N18 Penyakit ginjal kronik 4,095 339,881
I20 Angina pektoris 3,489 276,843
I21 Infark miokard akut 3,125 244,847
R07 Nyeri tenggorokan & dada 2,441 189,072
R06 (lihat ICD-10) 2,161 209,446
J44 Penyakit paru obstruktif kronik lain 2,150 186,411
Z03 (lihat ICD-10) 1,725 143,283
I15 (lihat ICD-10) 1,691 103,950
I48 Fibrilasi & flutter atrium 1,644 122,601
I24 (lihat ICD-10) 1,581 143,245
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | diagnosis masuk FKL15A; I50 = gagal jantung, lainnya = kondisi utama dengan gagal jantung sebagai penyerta
Key takeaway Pilar C: Gagal jantung yang sampai ke FKRTL didominasi keparahan sedang-berat (FKL23) dengan LOS median 4 hari, dirawat di seluruh kelas RS. Diagnosis masuk tersering konsisten dengan rantai kardiometabolik (gagal jantung, hipertensi, penyakit jantung iskemik). Setiap episode rawat inap adalah peristiwa dekompensasi yang sebagian besar dapat dicegah melalui pengelolaan rawat jalan yang optimal.

5 Pilar D, Rujukan & Konektivitas

D Pilar D · Tipe Perujuk · Geografi Rujukan (lintas kab/prov) · Rujukan via FKTP
Pertanyaan: Bagaimana pasien gagal jantung mencapai RS, siapa perujuk utamanya, dan seberapa jauh pasien harus melintasi batas wilayah untuk mencapai rumah sakit, penting untuk perencanaan jaringan layanan kardiologi regional.

5.1 Tipe perujuk

5.2 Geografi rujukan (lintas wilayah)

Tabel D.2: Geografi Rujukan Rawat Inap Gagal Jantung · Unit: Episode rawat inap
Kategori Episode (sampel) %
Dalam kab/kota sama 23,558 94.3
Lintas kab/kota (dalam provinsi) 1,170 4.7
Lintas provinsi 258 1.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | perbandingan provinsi/kab faskes pelayan (FKL05/06) vs perujuk (FKL25/26)

5.3 Rujukan via FKTP per tahun

Key takeaway Pilar D: Sebagian besar pasien gagal jantung mencapai RS melalui RS lain dan Puskesmas sebagai perujuk; sebagai kondisi yang sering dekompensasi akut, banyak yang masuk langsung via IGD. Sekitar 5.7% episode memerlukan perpindahan lintas kab/kota atau provinsi, menegaskan perlunya layanan jantung yang lebih merata wilayah agar dekompensasi dapat ditangani lebih dekat dengan domisili.

6 Pilar E, Geografi Peserta-Faskes

E Pilar E · Kesesuaian Domisili Peserta dengan Faskes Terdaftar
Pertanyaan: Seberapa dekat faskes terdaftar peserta dengan domisilinya, proksi struktural keterjangkauan layanan dasar yang menjadi pintu pertama pemantauan gagal jantung.
Tabel E.1: Kesesuaian Geografis Peserta-Faskes Terdaftar · Unit: Peserta
Indikator %
Peserta dengan faskes terdaftar di provinsi domisili 94.5
Peserta dengan faskes terdaftar di kab/kota domisili 86.6
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | basis 15,674,893 peserta dengan data lengkap PSTV09/13
Key takeaway Pilar E: Mayoritas peserta JKN terdaftar pada faskes di kab/kota domisilinya (86.6%), sehingga pintu masuk layanan dasar relatif dekat. Tantangan pengelolaan gagal jantung bukan pada keterjangkauan faskes primer, melainkan pada kualitas pemantauan/titrasi GDMT di tingkat itu dan akses ke kardiolog/ekokardiografi untuk diagnosis subtipe yang tepat.

7 Pilar F, Proses & Luaran

F Pilar F · Fatalitas Rumah Sakit (CFR) · Mortalitas 30-hari · menurut Usia/Jenis Kelamin/Keparahan · Readmisi 30/90-hari · Mortalitas Semua-Sebab
Pertanyaan: Berapa proporsi pasien gagal jantung rawat inap yang meninggal di rumah sakit, bagaimana readmisi 30/90-hari (penanda ACSC unggulan untuk gagal jantung), kelompok mana yang paling berisiko. CFR/mortalitas in-hospital = batas bawah (kematian pasca-pulang tidak tertangkap).

7.1 Fatalitas rumah sakit (CFR)

7.1.1 CFR menurut usia

Tabel F.1: CFR Rawat Inap Gagal Jantung menurut Usia · Unit: Episode rawat inap
Kelompok usia Episode inap Kematian CFR (%)
<40 1,722 131 7.61
40-54 5,891 351 5.96
55-64 7,755 569 7.34
65-74 5,658 455 8.04
75+ 2,825 288 10.19
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | hanya kematian in-hospital FKL14=3, undercount kematian pasca-pulang

7.1.2 CFR menurut jenis kelamin & subtipe

Tabel F.1b: CFR menurut Jenis Kelamin · Unit: Episode rawat inap
Jenis kelamin Episode inap Kematian CFR (%)
Perempuan 10,389 833 8.02
Laki-laki 13,462 961 7.14
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)
Tabel F.1c: CFR menurut Subtipe Gagal Jantung · Unit: Episode rawat inap
Subtipe Episode inap Kematian CFR (%)
GJ diastolik (I50.1) 758 103 13.59
GJ hipertensif (I11/I13) 3,413 258 7.56
GJ sistolik (I50.0) 6,629 497 7.50
GJ tak dirinci (I50.9) 13,051 936 7.17
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

7.1.3 CFR menurut keparahan

7.2 Kematian in-hospital dalam 30 hari rawat (proksi indikator OECD)

Konteks: indikator mutu OECD untuk gagal jantung (dan mengapa angka ini hanya proksi)

OECD Health Care Quality Indicators menetapkan mortalitas 30-hari pasca-admisi gagal jantung dan readmisi gagal jantung sebagai indikator mutu sistem layanan jantung kronik. Indikator OECD baku bersifat berbasis admisi, lintas-setting (termasuk kematian setelah pulang melalui tautan registri kematian), dan distandarisasi umur-jenis kelamin. Angka pada laporan ini BUKAN indikator OECD itu: ia didekati sebagai kematian in-hospital (FKL14=3) pada episode dengan lama rawat <= 30 hari, sehingga hampir setara CFR in-hospital (kematian pasca-pulang tidak tertangkap, tanpa standarisasi umur-jenis kelamin). Karena itu angka ini tidak dapat dibandingkan langsung dengan angka OECD; ia adalah proksi berbasis klaim dan batas bawah, disajikan untuk konteks dan tren internal.

7.2.1 Mortalitas 30-hari menurut usia

Tabel F.3: Mortalitas 30-Hari In-Hospital Gagal Jantung menurut Usia · Unit: Episode rawat inap
Kelompok usia Episode inap Kematian <=30 hari Mortalitas 30-hari (%)
<40 1,722 130 7.55
40-54 5,891 349 5.92
55-64 7,755 564 7.27
65-74 5,658 450 7.95
75+ 2,825 285 10.09
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | proksi OECD: FKL14=3 & LOS<=30 hari; batas bawah (tanpa kematian pasca-pulang)
Tabel F.3b: Mortalitas 30-Hari menurut Jenis Kelamin · Unit: Episode rawat inap
Jenis kelamin Episode inap Kematian <=30 hari Mortalitas 30-hari (%)
Perempuan 10,389 821 7.90
Laki-laki 13,462 957 7.11
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

7.3 Tren fatalitas & readmisi (penanda ACSC gagal jantung)

7.3.1 CFR per tahun

7.3.2 Readmisi 30-hari menurut usia & tahun

Tabel F.5: Readmisi Rawat Inap Gagal Jantung (penanda ACSC) · Unit: Episode/pasien
Indikator %
Readmisi rawat inap 30 hari 7.2
Readmisi rawat inap 90 hari 14.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | basis 23,851 discharge inap; readmisi semua-sebab rawat inap
Tabel F.5b: Tren Readmisi 30-Hari per Tahun · Unit: Episode rawat inap
Tahun Discharge (sampel) Readmisi 30-hari (%)
2017 2,522 7.2
2018 3,012 7.8
2019 3,279 6.9
2020 2,623 6.6
2021 2,322 6.4
2022 3,052 7.9
2023 3,482 8.0
2024 3,559 6.6
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)
Tabel F.5c: Mortalitas Semua-Sebab Pasien Gagal Jantung (PSTV18) · Unit: Pasien
Indikator Nilai
Pasien gagal jantung (sampel) 42,877
Kematian tercatat (PSTV18, sampel) 12,552
Kematian (tertimbang) 1,083,901
Mortalitas kasar tercatat (%) 29.3%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | PSTV18 hanya terisi untuk tahun snapshot; undercount
Key takeaway Pilar F: Fatalitas rumah sakit gagal jantung tinggi: CFR keseluruhan 7.52% dan readmisi rawat inap 30-hari 7.2% (90-hari 14.0%). Readmisi adalah penanda ACSC unggulan untuk gagal jantung: setiap rawat inap ulang dekompensasi sebagian besar dapat dicegah melalui titrasi GDMT, edukasi mandiri (pembatasan garam/cairan, penimbangan harian), dan tindak lanjut layanan primer dalam 7-14 hari pasca-pulang. Fatalitas meningkat curam dengan usia dan keparahan. Sebagai konteks kasar, tolok ukur OECD 30-hari berbasis registri umumnya ~10% (mortalitas) dan ~20-25% (readmisi), namun perbandingan ketat memerlukan standarisasi yang tidak tersedia di sini. Angka ini adalah batas bawah karena kematian dan readmisi di luar JKN/pasca-pulang tidak tertangkap.

8 Pilar G, Komorbiditas

G Pilar G · Profil Komorbiditas Kardiometabolik · Jumlah Komorbiditas per Pasien
Pertanyaan: Penyakit penyerta apa yang membebani pasien gagal jantung, menggambarkan rantai hipertensi -> penyakit jantung iskemik -> gagal jantung, dan berapa banyak kondisi yang ditanggung tiap pasien, penting untuk pencegahan dan pengelolaan terpadu.

8.1 Profil komorbiditas

Tabel G.1: Komorbiditas Pasien Gagal Jantung · Unit: Pasien unik
Komorbiditas Pasien (sampel) % pasien gagal jantung
Hipertensi (I10-15) 31,122 72.6
Penyakit Jantung Iskemik (I20-25) 24,418 56.9
Diabetes (E10-14) 14,106 32.9
PPOK/Asma (J40-44) 9,281 21.6
Penyakit Ginjal Kronik (N17-19) 8,125 18.9
Dislipidemia (E78) 7,829 18.3
Stroke (I60-69) 7,312 17.1
Fibrilasi Atrium (I48) 4,499 10.5
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | scan FKL15A + SDX seluruh klaim pasien; scope any-claim

8.2 Jumlah komorbiditas per pasien

Key takeaway Pilar G: Pasien gagal jantung sangat multimorbid: hipertensi (72.6%), penyakit jantung iskemik (56.9%), dan diabetes (32.9%) mendominasi, menegaskan gagal jantung sebagai endpoint dari rantai kardiometabolik. Penyakit ginjal kronik dan fibrilasi atrium adalah komorbiditas penting yang mempersulit titrasi GDMT. Pencegahan harus menyasar hulu rantai (kendali tekanan darah, gula, lipid, dan revaskularisasi iskemik tepat waktu) untuk menahan kejadian gagal jantung.

9 Pilar H, Ekonomi

H Pilar H · Tren Biaya · per Usia · per Setting · per Pulau · Perawatan Intensif · INA-CBG · Pareto · Klaim Biaya Sangat Tinggi
Pertanyaan: Berapa besar belanja JKN untuk perawatan gagal jantung, bagaimana trennya, bagaimana terdistribusi menurut usia/setting/wilayah, dan seberapa terkonsentrasi belanja pada sedikit pasien (Pareto).

9.1 Tren biaya & per usia

9.1.1 Tren tahunan

Tabel H.1: Belanja FKRTL Gagal Jantung per Tahun · Unit: Klaim (biaya tertimbang)
Tahun Klaim (sampel) Total (triliun Rp) Biaya rata-rata/klaim (Rp) Median (Rp)
2017 20,262 2.666 1,326,405 188,200
2018 28,979 2.945 1,074,075 190,400
2019 36,357 3.057 958,465 190,400
2020 33,757 2.139 776,315 190,400
2021 36,496 2.409 763,094 190,400
2022 44,509 3.068 800,025 190,400
2023 50,683 4.150 924,452 196,100
2024 57,786 4.372 856,310 196,100
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | biaya = FKL48 (biaya verifikasi/terbayar)

9.1.2 Biaya per usia

Tabel H.2: Biaya Gagal Jantung menurut Kelompok Usia · Unit: Klaim
Kelompok usia Klaim (sampel) Biaya rata-rata (Rp) Total (miliar Rp)
<40 15,158 1,251,745 1,554
40-54 74,789 951,349 6,414
55-64 107,352 887,131 8,279
65-74 81,192 803,897 6,054
75+ 30,338 930,172 2,504
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

9.2 Biaya per setting, perawatan intensif & pulau

9.2.1 Setting & perawatan intensif

Tabel H.3: Biaya Gagal Jantung menurut Setting · Unit: Klaim
Setting layanan Klaim (sampel) Biaya rata-rata (Rp) Total (miliar Rp)
Rawat Inap 23,851 9,001,742 19,211
Rawat Jalan 284,978 225,100 5,595
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)
Tabel H.3b: Biaya Rawat Inap Gagal Jantung dengan vs tanpa Perawatan Intensif · Unit: Episode
Kelompok Episode (sampel) Biaya rata-rata (Rp) Total (miliar Rp)
Dengan perawatan intensif 145 74,950,877 1,104
Tanpa perawatan intensif 23,706 8,598,358 18,107
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | perawatan intensif via deskripsi INA-CBG (proksi, batas bawah)

9.2.2 Belanja per pulau

9.3 INA-CBG, Pareto & klaim biaya sangat tinggi

9.3.1 INA-CBG tertinggi

Tabel H.4: 12 INA-CBG dengan Klaim Gagal Jantung Terbanyak · Unit: Klaim
INA-CBG Klaim (sampel) Biaya rata-rata (Rp) Total (miliar Rp)
Penyakit Kronis Kecil Lain-Lain 233,675 198,597 4,067
Prosedur Ekokardiografi 12,501 398,656 450
Konsultasi Atau Pemeriksaan Lain-Lain 8,059 141,124 108
Penyakit Kronis Kecil Lainlain 7,791 196,090 147
Penyakit Kronis Besar Lain-Lain 3,881 281,119 85
Gagal Jantung Kongestif Dan Kondisi Jantung Lain-Lain 3,153 546,432 141
Kegagalan Jantung Ringan 2,736 3,333,641 778
Prosedur Dialisis 2,383 883,550 165
Prosedur Therapi Fisik Dan Prosedur Kecil Muskuloskletal 2,137 126,347 25
Kegagalan Jantung Sedang 1,498 4,183,575 618
Prosedur Ultrasound Lain-Lain 1,418 575,937 63
Prosedur Stress Testing 1,070 361,577 32
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

9.3.2 Konsentrasi biaya (Pareto) & klaim sangat tinggi

Tabel H.5: Ambang Klaim Gagal Jantung Biaya Sangat Tinggi · Unit: Klaim
Indikator Biaya (Rp)
Ambang klaim biaya tinggi (persentil 95) 4,129,200
Ambang klaim biaya sangat tinggi (persentil 99) 11,606,792
Klaim gagal jantung termahal (maks) 259,594,600
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | klaim mahal umumnya melibatkan perawatan intensif & rawat inap berulang
Key takeaway Pilar H: Belanja rumah sakit JKN untuk gagal jantung tumbuh tajam, total kumulatif ~Rp 24.8 triliun (2017-2024), mencapai Rp 4.37 triliun pada 2024 saja. Belanja terkonsentrasi: top 5.0%% pasien menyerap 44.0%% biaya, mencerminkan pasien dengan dekompensasi & rawat inap berulang. Lonjakan belanja menegaskan nilai ekonomi pencegahan dekompensasi (titrasi GDMT, tindak lanjut pasca-pulang) yang dapat menggeser belanja dari rawat inap berulang yang mahal ke pengelolaan rawat jalan yang jauh lebih murah.

10 Pilar I, Ekuitas vs Populasi Umum

I Pilar I · Laju Terlayani per Segmen (SES) · per Pulau · per Provinsi · per Usia · Kelas Rawat · Indeks Representasi
Pertanyaan: Apakah gagal jantung terlayani merata antarsegmen sosial-ekonomi, antarwilayah, dan antarjenis kelamin, atau mencerminkan pola akses (inverse-care-law).

10.1 Laju terlayani per segmen (SES) & pulau

10.1.1 Per segmen

Tabel I.1: Laju Gagal Jantung Terlayani menurut Segmen · Unit: Pasien per 100k peserta
Segmen Kelompok Terlayani (tertimbang) Peserta segmen (tertimbang) per 100k peserta
Bukan Pekerja Non-PBI 633,657 11,810,805 5,365
PBPU (Mandiri) Non-PBI 949,173 34,935,923 2,717
PBI APBN PBI (disubsidi) 1,093,064 124,622,388 877
PPU Non-PBI 595,344 70,083,930 850
PBI APBD PBI (disubsidi) 504,209 60,647,931 831
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | PBI vs Non-PBI = gradien SES

10.1.2 Per pulau

10.2 Laju per provinsi & usia

10.2.1 Per provinsi (20 tertinggi)

10.2.2 Per usia & kelas rawat

Tabel I.4: Laju Gagal Jantung Terlayani menurut Kelompok Usia · Unit: Pasien per 100k peserta usia
Kelompok usia Terlayani (tertimbang) Peserta usia (tertimbang) per 100k
<40 286,164 187,603,002 152
40-54 908,717 58,928,261 1,542
55-64 1,212,760 25,111,181 4,830
65-74 937,525 13,963,294 6,714
75+ 430,281 11,345,133 3,793
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | denominator usia diankor ke pertengahan periode (2019)
Tabel I.4b: Pasien Gagal Jantung menurut Kelas Rawat (proksi SES) · Unit: Pasien unik
Kelas rawat (hak peserta, PSTV07) Pasien (tertimbang) %
Kelas III 2,201,067 58.3
Kelas I 1,024,381 27.1
Kelas II 547,282 14.5
Tidak diketahui 2,717 0.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

10.3 Indeks representasi (jenis kelamin)

Tabel I.5: Indeks Representasi Jenis Kelamin (Gagal Jantung vs Populasi Umum) · Unit: Pasien
Jenis kelamin % pasien gagal jantung % populasi umum Indeks representasi
Laki-laki 49.40 51.20 0.96
Perempuan 50.60 48.80 1.04
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | indeks >1 = terwakili lebih dari proporsi populasinya
Key takeaway Pilar I: Laju gagal jantung terlayani timpang secara geografis: tinggi di provinsi dengan akses RS & kardiologi memadai, jauh lebih rendah di kawasan timur, pola yang konsisten dengan inverse-care-law (wilayah dengan beban faktor risiko tinggi justru terlayani rendah). Laju terlayani melonjak pada usia lanjut. Populasi sasaran prioritas: provinsi timur dan kelompok PBI di wilayah dengan beban tinggi namun terlayani rendah, di mana penguatan layanan primer untuk titrasi GDMT dan deteksi dini akan paling berdampak.

11 Gagal jantung-spesifik: Kaskade Pencegahan Dekompensasi, Readmisi & Perawatan Intensif

★ Bagian Khusus Gagal Jantung · Kaskade Pencegahan Dekompensasi · Intensitas Rawat Jalan · Rawat Inap Berulang · Dekompensasi INA-CBG · Perawatan Intensif · Sorotan 2024
Pertanyaan klinis-spesifik gagal jantung: Bagaimana kaskade pengelolaan gagal jantung, dari terlayani -> tindak lanjut rawat jalan berkelanjutan -> rawat inap dekompensasi -> rawat inap berulang? Seberapa besar beban dekompensasi berulang (penanda kegagalan pengelolaan rawat jalan)? Catatan: fraksi ejeksi, dosis GDMT, dan adherensi obat TIDAK tersedia dalam klaim FKRTL.

11.1 Kaskade pencegahan dekompensasi

11.1.1 Kaskade

Tabel X.1: Kaskade Pengelolaan Gagal Jantung · Unit: Pasien unik
Tahap kaskade Pasien (sampel) Pasien (tertimbang) % dari terlayani
Pasien gagal jantung terlayani (FKRTL) 42,877 3,775,447 100.0
Pernah kontak rawat jalan (RJ) 36,567 3,178,984 85.3
Tindak lanjut RJ berkelanjutan (>=2 kunjungan RJ) 24,723 2,145,097 57.7
Pernah rawat inap (dekompensasi) 16,532 1,504,291 38.6
Rawat inap berulang (>=2 episode inap, dekompensasi berulang) 4,081 361,125 9.5
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN)

11.1.2 Intensitas rawat jalan (kontinuitas)

11.1.3 Rawat inap berulang (dekompensasi berulang)

11.2 Dekompensasi INA-CBG & perawatan intensif

Profil dekompensasi & perawatan intensif (rawat inap gagal jantung, 2017-2024).
3.0% episode berpaket “kegagalan jantung berat” (INA-CBG)  |  0.6% dengan perawatan intensif (ICU/ICCU)  |  kateterisasi jantung 815 episode  |  alat (pacu jantung/CRT/ICD) 32 episode
Mayoritas rawat inap gagal jantung adalah dekompensasi yang dikelola secara farmakologis (diuretik, GDMT). Perawatan intensif dan alat jantung lanjut (CRT/ICD) jarang terkode, sebagian mencerminkan keterbatasan kapasitas dan sebagian keterbatasan deteksi berbasis deskripsi paket INA-CBG.

Cara baca angka prosedur (PENTING, batas bawah). Perawatan intensif/ICCU, kateterisasi, dan alat jantung (pacu jantung/CRT/ICD) di sini TIDAK berasal dari kode prosedur, melainkan diturunkan dari deskripsi paket INA-CBG (FKL19A) melalui pencocokan teks. Pendekatan ini hanya menangkap episode yang label paketnya secara eksplisit menyebut tindakan tersebut, sehingga menghitung-kurang (undercount). Untuk perawatan intensif dan alat jantung, interpretasi yang sahih terbatas pada pernyataan kualitatif (“jarang terkode pada deskripsi paket”), bukan estimasi laju sebenarnya.

11.2.1 Keparahan dekompensasi (INA-CBG kegagalan jantung)

11.2.2 CFR menurut perawatan intensif

Tabel X.3: CFR Rawat Inap Gagal Jantung menurut Perawatan Intensif · Unit: Episode rawat inap
Kelompok Episode inap Kematian CFR (%)
Dengan perawatan intensif (ICU/ICCU) 145 86 59.31
Tanpa perawatan intensif 23,706 1,708 7.20
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | episode dengan perawatan intensif = dekompensasi paling berat, CFR jauh lebih tinggi

11.2.3 Perawatan intensif per tahun

11.3 Sorotan 2024 (gagal jantung-spesifik)

Tabel X.5: Sorotan Gagal Jantung Tahun 2024 · Unit: campuran (lihat baris)
Indikator Nilai
Pasien gagal jantung terlayani (tertimbang) 1,148,907
Episode rawat inap (sampel) 3,559
CFR in-hospital (%) 6.52%
Readmisi 30-hari (%) 6.6%
Perawatan intensif (% episode) 0.8%
LOS rata-rata (hari) 4.4
Belanja FKRTL 2024 (triliun Rp) 4.37
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | tahun terkini, paling relevan kebijakan
Key takeaway bagian khusus gagal jantung: Kaskade menunjukkan 57.7% pasien mendapat tindak lanjut rawat jalan berkelanjutan (>=2 kunjungan), 38.6% pernah dirawat inap karena dekompensasi, dan 9.5% mengalami dekompensasi berulang (>=2 episode inap). Setiap rawat inap ulang sebagian besar dapat dicegah dengan titrasi GDMT yang optimal dan tindak lanjut dini pasca-pulang. Perawatan intensif dan alat jantung lanjut (CRT/ICD) jarang terkode, konsisten dengan keterbatasan kapasitas kardiologi lanjut dan keterbatasan deteksi berbasis deskripsi paket. Prioritas kebijakan: program manajemen gagal jantung berbasis layanan primer (klinik gagal jantung, kunjungan tindak lanjut 7-14 hari) untuk menekan readmisi.

12 Pilar S, Uji Sensitivitas Definisi Kasus

S Uji Sensitivitas · Jalur Diagnosis (FKL15A utama vs SDX vs Z09)
Pertanyaan: Seberapa sensitif temuan terhadap definisi kasus? Berapa banyak klaim dan kematian berasal dari gagal jantung sebagai diagnosis utama (FKL15A I50) versus hanya diagnosis sekunder (SDX/hipertensif), dan berapa yang dikeluarkan karena hanya membawa kode administratif Z09.
Tabel S.1: Sensitivitas Definisi Kasus Gagal Jantung menurut Jalur Diagnosis · Unit: Klaim/episode
Jalur definisi Klaim inap (sampel) Semua klaim (sampel) Kematian inap CFR inap (%)
FKL15A diagnosis utama (I50) 13,006 187,370 887 6.82
GJ via SDX/hipertensif saja (utama bukan I50) 10,845 121,459 907 8.36
Hanya Z09 administratif (dikeluarkan) 228 27,800 21 9.21
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | sampel reguler (rumah tangga ~1%) | gagal jantung I50 (+I11.0/I13 hipertensif) di FKL15A atau SDX | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional peserta JKN) | jalur utama (FKL15A I50) = definisi bersih; SDX/hipertensif menambah cakupan; Z09 dikeluarkan
Interpretasi sensitivitas. Definisi inti (gagal jantung sebagai diagnosis utama FKL15A I50) menangkap 187,370 klaim. Penambahan jalur SDX/hipertensif (gagal jantung sebagai diagnosis sekunder pada admisi dengan kondisi utama lain) menambah 121,459 klaim, mencerminkan bahwa gagal jantung sering menyertai admisi kardiometabolik lain. CFR pada jalur SDX cenderung berbeda karena kematian sering didorong oleh kondisi utama, bukan gagal jantung itu sendiri. Klaim dengan hanya kode administratif Z09 (27,800 klaim) dikeluarkan untuk menghindari penghitungan kunjungan kontrol administratif sebagai kasus aktif.

13 Indikator internasional, sumber data & keterbatasan

Penutup · Indikator Internasional · Sumber Data · Keterbatasan · Implikasi Kebijakan
Indikator gagal jantung yang dirujuk (dan keterhitungannya dari klaim)

OECD HCQI: mortalitas 30-hari pasca-admisi gagal jantung (didekati di sini sebagai CFR in-hospital <=30 hari, batas bawah, bukan age-sex-standardized) dan readmisi gagal jantung (dihitung di sini sebagai readmisi rawat inap 30/90-hari semua-sebab). ACSC / admisi yang dapat dicegah (OECD/AHRQ): gagal jantung adalah kondisi sensitif-layanan-ambulatori unggulan; readmisi dan rawat inap berulang adalah penanda kualitas pengelolaan rawat jalan. GDMT (ACC/AHA, ESC): ACEi/ARB/ARNI, beta-blocker, MRA, SGLT2i, tidak terukur langsung dari klaim FKRTL. Subtipe (HFrEF vs HFpEF): hanya didekati dari I50.0 vs I50.1, sering tak dirinci (I50.9); fraksi ejeksi tidak tersedia.

Keterbatasan utama. (1) Angka adalah beban terlayani (klaim FKRTL), bukan prevalensi gagal jantung nasional; kasus tahap awal/tak terdiagnosis dan yang dikelola di layanan primer tidak tertangkap.
(2) Adherensi & titrasi GDMT, fraksi ejeksi, dan dosis obat tidak terukur dari klaim.
(3) Perawatan intensif, kateterisasi, dan alat jantung diukur via deskripsi INA-CBG (proksi, batas bawah).
(4) Mortalitas in-hospital (FKL14=3) dan readmisi dalam JKN adalah batas bawah; kematian/readmisi pasca-pulang di luar JKN tidak tertangkap.
(5) I11.0/I13 (gagal jantung hipertensif) hanya teridentifikasi pada SDX 4-karakter karena FKL15A 3-karakter.
(6) Analisis berbasis pasien terbatas 2017-2024 (baris FKRTL 2015-2016 tanpa padanan kepesertaan).
(7) Sampel reguler = sampel rumah tangga ~1%, dengan ketidakpastian penimbangan pada estimasi sel kecil.
Implikasi kebijakan. Gagal jantung adalah endpoint mahal dari rantai kardiometabolik yang sebagian besar dapat dicegah. Tiga pengungkit: (1) pencegahan hulu, kendali hipertensi, diabetes, dan dislipidemia serta revaskularisasi iskemik tepat waktu untuk mencegah kejadian gagal jantung; (2) pengelolaan rawat jalan yang optimal, titrasi GDMT berbasis layanan primer, klinik gagal jantung, dan kunjungan tindak lanjut 7-14 hari pasca-pulang untuk menekan readmisi (penanda ACSC unggulan, saat ini 30-hari 7.2%); dan (3) pemerataan akses, penguatan kardiologi & ekokardiografi di provinsi terlayani-rendah. Belanja kumulatif ~Rp 24.8 triliun (2017-2024) yang terkonsentrasi pada dekompensasi berulang menegaskan nilai ekonomi pencegahan dekompensasi.
## Master xlsx ditulis: outputs/HF_JKN_tables.xlsx dengan 79 sheet

Sitasi & sumber. Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 (sampel reguler rumah tangga ~1%), PostgreSQL bpjs_data skema reguler. Definisi kasus ICD-10 I50 (+I11.0/I13 hipertensif) pada FKL15A/SDX. Biaya = FKL48 (biaya verifikasi/terbayar), tertimbang PSTV15. Denominator peserta JKN nasional = DJSN. Indikator mutu dirujuk dari OECD Health Care Quality Indicators, ACC/AHA & ESC Heart Failure Guidelines (GDMT), dan kerangka Ambulatory Care Sensitive Conditions (OECD/AHRQ). Dokumen dibangun dengan pipeline reprodusibel ARC (engine R -> bundle RDS -> render knitr; dev svglite). ARC2 CVD Institute, Arc Research Center.