Cara membaca dokumen ini. Setiap angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang (PSTV15) dari Data Sampel BPJS; angka sampel mentah dilaporkan terpisah bila relevan. Definisi kasus HIV = kode ICD-10 B20-B24 (AIDS) atau Z21 (status HIV asimtomatik) di diagnosis masuk/primer/sekunder (FKL15A/17A/16/18/SDX) di FKRTL, atau FKP15 di FKTP. Data klaim menggambarkan populasi yang terlayani JKN, bukan prevalensi komunitas sejati.

Empat keterbatasan yang membingkai SELURUH dokumen. (1) ARV gratis & vertikal. Obat antiretroviral (ARV) disediakan program vertikal pemerintah secara gratis dan sebagian besar di luar paket INA-CBG, mirip OAT pada TB. Klaim JKN karena itu under-capture biaya obat HIV: angka biaya di sini = biaya layanan yang terlihat (perawatan infeksi oportunistik, komplikasi, rawat inap, komorbid), bukan total biaya program HIV. (2) Tanpa CD4/viral load. Klaim tidak memuat CD4 maupun viral load, sehingga supresi virologis dan stadium imunologis tak dapat dinilai. “Retensi” di sini adalah proxy keterlibatan layanan, bukan retensi ART tervalidasi. (3) Populasi terlayani, bukan prevalensi komunitas. HIV terkonsentrasi pada populasi kunci yang under-surveyed; banyak ODHIV tak terdiagnosis atau dilayani di luar JKN. Angka = beban terlayani. (4) Lower bound. Ko-infeksi, komorbid, infeksi oportunistik, dan mortalitas dipindai dari kode dx + SDX dan under-recorded, sehingga semuanya adalah batas bawah.

1 Ringkasan Eksekutif

Ringkasan Eksekutif - Beban HIV terlayani JKN 2015-2024, sindemik TB-HIV, kontinuitas, mortalitas, biaya terlihat, dan ekuitas

Interpretasi naratif (DeepSeek, dari facts-pack terverifikasi)

Analisis data klaim BPJS Kesehatan tahun 2015-2024 menunjukkan bahwa beban HIV terlayani di JKN terus meningkat secara signifikan, dengan jumlah pasien terlayani pada tahun 2024 mencapai 135.806 jiwa (bobot) atau 1.428 pasien dalam sampel. Dominasi subkelompok diagnostik B20 (HIV dengan penyakit infeksi atau parasit) yang mencapai 88,4% dari seluruh pasien mengindikasikan bahwa sebagian besar pasien baru terdiagnosis pada stadium lanjut dengan infeksi oportunistik yang sudah manifes. Tren peningkatan jumlah pasien baru yang konsisten, dari 25.018 jiwa pada tahun 2016 menjadi 62.720 jiwa pada tahun 2024, menandakan perluasan cakupan diagnosis dan akses layanan, namun juga mengisyaratkan masih tingginya angka diagnosis terlambat.

Ko-infeksi TB-HIV muncul sebagai sindemik kunci dengan proporsi 24% dari seluruh pasien HIV. Pasien dengan ko-infeksi TB-HIV memiliki angka kematian kasar sebesar 16,74%, lebih tinggi dibandingkan pasien HIV tanpa TB tercatat yang sebesar 12,3%. Biaya perawatan pasien TB-HIV juga jauh lebih besar, dengan median biaya mencapai Rp9.770.350 dibandingkan Rp4.378.400 pada pasien HIV tanpa TB. Hal ini menegaskan bahwa TB-HIV merupakan beban ganda yang memerlukan integrasi layanan yang lebih erat.

Kontinuitas layanan masih menjadi tantangan serius. Hanya 34,8% pasien yang menunjukkan retensi keterlibatan layanan dalam 12 bulan, sementara 41,1% pasien terindikasi mengalami disengagement dini. Angka ini merupakan proxy keterlibatan layanan, bukan retensi ART tervalidasi, karena data CD4 dan viral load tidak tersedia dalam klaim. Pasien dengan subkelompok B20 memiliki retensi lebih tinggi (38,3%) dibandingkan subkelompok lain, namun secara keseluruhan angka ini masih rendah dan mengkhawatirkan.

Mortalitas tercatat sebesar 13,26% dari seluruh pasien, dengan 571 kematian terjadi di rumah sakit. Angka ini merupakan batas bawah karena kematian di luar rumah sakit sebagian besar tidak tercatat. Angka kematian di rumah sakit pada tahun 2024 mencapai 66 kasus, menunjukkan bahwa kematian akibat HIV masih terjadi secara bermakna meskipun ARV tersedia gratis. Hal ini mengindikasikan diagnosis terlambat dan kegagalan retensi sebagai faktor utama.

Belanja layanan HIV yang terlihat di klaim FKRTL JKN pada tahun terbaru (2024) sebesar Rp484,7 miliar (proyeksi nasional; raw in-sample Rp6,7 miliar). Perlu dicatat bahwa biaya ini under-capture biaya obat ARV karena ARV disediakan melalui program vertikal pemerintah di luar paket INA-CBG. Konsentrasi biaya sangat timpang, di mana 20% pasien termahal menyumbang 67,8% dari total belanja terlihat, menunjukkan bahwa sebagian besar biaya terserap untuk perawatan kasus berat dengan komplikasi.

Ketimpangan geografis dan segmentasi juga terlihat jelas. Layanan terkonsentrasi di Pulau Jawa (61,6% pasien), sementara served rate per 100k penduduk tertinggi justru di DKI Jakarta dan Kepulauan Riau (masing-masing 363,9 per 100k). Pasien dari segmen PBPU (Mandiri) memiliki served rate tertinggi (293,2 per 100k), sementara PBI APBN memiliki served rate terendah (88,7 per 100k), mengindikasikan adanya hambatan akses bagi kelompok sosial ekonomi rendah.

Implikasi kebijakan tingkat tinggi meliputi perlunya penguatan deteksi dini melalui skrining terintegrasi di FKTP, penguatan integrasi layanan TB-HIV, pengembangan sistem monitoring retensi berbasis data klaim, serta intervensi afirmatif untuk meningkatkan akses di luar Pulau Jawa dan pada segmen PBI. Tanpa intervensi terstruktur, tren peningkatan beban terlayani dan biaya perawatan kasus lanjut akan terus berlanjut.

Figur RE.1. Empat sinyal kunci dari mesin analisis R atas data klaim nyata: tren pasien terlayani, served-rate per 100.000 peserta, komposisi subkelompok diagnostik, dan ko-infeksi TB per subkelompok.
Tabel RE.1 - Angka Utama (headline)
Semua angka berasal dari mesin R atas data klaim BPJS; lihat facts-pack
Indikator Nilai
Pasien HIV terlayani (sampel, 2015-2024) 4.413
Anggota sampel reguler (penyebut) 2.590.751
Subkelompok dominan B20 (88.4%)
Ko-infeksi TB-HIV (keseluruhan) 24% (n=950)
Proxy retensi 12 bulan 34.8%
Mortalitas kasar (batas bawah) 13.26% (585 wafat)
Pasien terlayani 2024 1.428
Pasien baru 2024 615
Belanja FKRTL terlihat 2024 (proyeksi nasional) Rp484.7 miliar
Belanja FKRTL terlihat 2024 (raw in-sample) Rp6.7 miliar
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

2 Layer 0 - Fondasi: kohort & definisi kasus

Fondasi - Alur Kohort (STROBE) - Definisi B20-24/Z21 - Stratifikasi diagnostik
Inti: mendefinisikan populasi analisis (anggota sampel reguler BPJS dengan minimal satu klaim ber-kode HIV B20-24/Z21) dan stratifikasi diagnostik. Klaim hanya menangkap kasus yang sampai ke fasilitas JKN; ini adalah beban terlayani, bukan prevalensi komunitas.
Tabel L0.1 - Alur Pembentukan Kohort (STROBE) - Unit: Pasien unik (sampel)
Angka sampel mentah (pasien unik), sampel reguler BPJS 2015-2024
Tahap Pasien (sampel mentah)
Anggota sampel reguler (penyebut populasi) 2,590,751
Pasien dengan >=1 klaim HIV di FKRTL 3,874
Pasien dengan >=1 klaim HIV di FKTP 2,213
KOHORT ANALISIS - >=1 klaim HIV (FKTP/FKRTL) 4,413
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Tabel L0.2 - Stratifikasi Diagnostik HIV - Unit: Pasien unik (tertimbang)
Subkelompok berdasarkan kode terberat/terspesifik per pasien
Subkelompok diagnostik Tertimbang Sampel mentah % (tertimbang)
HIV dengan penyakit infeksi/parasit (B20) 335,111 3,917 88.4
AIDS tak spesifik (B24) 18,339 236 4.8
Status HIV asimtomatik (Z21) 10,465 78 2.8
HIV dengan kondisi lain (B23) 8,268 101 2.2
HIV dengan penyakit lain tertentu (B22) 4,607 53 1.2
HIV dengan neoplasma ganas (B21) 2,443 28 0.6
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3 Pilar A: Beban, Tren, dan Demografi

Pilar A - Beban terlayani, tren 2015-2024, served-rate, insiden, usia-jenis kelamin, geografi

Interpretasi naratif (DeepSeek, dari facts-pack terverifikasi)

Beban HIV terlayani di JKN menunjukkan peningkatan yang konsisten dari tahun 2015 hingga 2024. Jumlah pasien terlayani (tertimbang) meningkat dari 29.986 pada tahun 2015 menjadi 135.806 pada tahun 2024, dengan peningkatan paling tajam terjadi setelah tahun 2021. Served-rate per 100.000 penduduk meningkat dari 28,3 pada tahun 2021 menjadi 45 pada tahun 2024. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa mekanisme: perluasan cakupan JKN, peningkatan kesadaran dan akses layanan HIV, serta kemungkinan peningkatan insiden HIV di komunitas. Namun, perlu diingat bahwa angka ini adalah populasi terlayani, bukan prevalensi komunitas sebenarnya.

Subkelompok diagnostik B20 (HIV dengan penyakit infeksi/parasit) mendominasi secara absolut, mencakup 88,4% dari total pasien (tertimbang 335.110 dari 379.232). Dominasi ini sangat mencolok dan mengindikasikan bahwa sebagian besar pasien HIV yang terlayani di JKN baru terdiagnosis pada stadium lanjut ketika sudah muncul infeksi oportunistik. Subkelompok lainnya memiliki proporsi jauh lebih kecil: B24 (AIDS tak spesifik) 4,8%, Z21 (HIV asimtomatik) 2,8%, B23 (HIV dengan kondisi lain) 2,2%, B22 (HIV dengan penyakit lain tertentu) 1,2%, dan B21 (HIV dengan neoplasma ganas) 0,6%. Pada tahun 2024, pola ini konsisten dengan B20 mencapai 122.449 pasien tertimbang dari total 135.806.

Insiden pasien baru menunjukkan tren meningkat, terutama setelah tahun 2021. Jumlah pasien baru tertimbang pada tahun 2024 mencapai 62.720, tertinggi sepanjang periode, meningkat dari 25.017 pada tahun 2016. Lonjakan insiden baru pada tahun 2022 (47.935) dan 2024 (62.720) patut diwaspadai. Mekanisme yang mungkin mendorong peningkatan ini meliputi: perluasan skrining HIV di fasilitas kesehatan, peningkatan akses layanan pasca-pandemi COVID-19, dan kemungkinan peningkatan transmisi di komunitas.

Distribusi usia-jenis kelamin menunjukkan bahwa HIV terlayani didominasi oleh laki-laki usia produktif. Laki-laki usia 18-39 tahun merupakan kelompok terbesar (42,2%), diikuti laki-laki usia 40-59 tahun (20,3%), dan perempuan usia 18-39 tahun (19,4%). Proporsi laki-laki keseluruhan mencapai 67,8%, sementara perempuan 32,2%. Kelompok usia <18 tahun hanya 5%, dan ≥60 tahun 3,8%. Dominasi laki-laki muda ini konsisten dengan pola epidemi HIV terkonsentrasi di Indonesia yang menargetkan populasi kunci seperti lelaki seks lelaki (LSL) dan pengguna narkoba suntik (PENASUN).

Secara geografis, beban terlayani terkonsentrasi di Pulau Jawa yang mencakup 61,6% pasien, dengan provinsi terbanyak adalah Jawa Timur (17,1%), Jawa Barat (16,5%), DKI Jakarta (12,7%), dan Jawa Tengah (9,8%). Di luar Jawa, Sumatera Utara (4,3%), Papua (4,2%), dan Banten (4%) juga memiliki beban signifikan. Served-rate tertinggi justru ditemukan di DKI Jakarta (363,9 per 100.000) dan Kepulauan Riau (363,9 per 100.000), diikuti Papua (245,8 per 100.000), Bali (230,6 per 100.000), dan Kalimantan Utara (214,2 per 100.000). Tingginya served-rate di provinsi-provinsi ini kemungkinan terkait dengan konsentrasi populasi kunci, akses layanan yang lebih baik, dan kemungkinan under-reporting di provinsi lain.

Tabel A.1 - Beban terlayani, served-rate, & pasien baru per tahun - Unit: Pasien unik
Pasien terlayani, rate per 100.000 peserta, dan pasien baru (insiden terlayani)
Tahun Sampel Tertimbang per 100k Baru (sampel) Baru (tertimbang)
2015 357 29,986 - - -
2016 424 33,317 - 332 25,018
2017 558 48,096 - 393 32,134
2018 723 64,863 - 445 40,536
2019 814 74,428 - 422 35,448
2020 815 74,135 - 389 33,766
2021 856 74,120 28.3 384 26,144
2022 1,052 96,029 34.6 529 47,935
2023 1,223 113,363 39.0 547 45,545
2024 1,428 135,806 45.0 615 62,720
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Tabel A.2 - Distribusi usia x jenis kelamin - Unit: Pasien unik (tertimbang)
Kelompok usia Jenis kelamin Tertimbang %
18–39 Laki-laki 157,838 42.2
40–59 Laki-laki 76,123 20.3
18–39 Perempuan 72,671 19.4
40–59 Perempuan 34,792 9.3
<18 Laki-laki 10,729 2.9
≥60 Laki-laki 8,901 2.4
<18 Perempuan 8,059 2.2
≥60 Perempuan 5,190 1.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3.1 Geografi

3.1.1 Provinsi (beban)

3.1.2 Provinsi (served-rate per 100k)

3.1.3 Pulau

Tabel A.3 - 15 provinsi teratas (beban terlayani) - Unit: Pasien unik
Provinsi Pulau Sampel Tertimbang %
Jawa Timur Jawa 635 64,736 17.1
Jawa Barat Jawa 545 62,746 16.5
DKI Jakarta Jawa 212 48,127 12.7
Jawa Tengah Jawa 424 37,351 9.8
Sumatera Utara Sumatera 221 16,174 4.3
Papua Maluku-Papua 416 15,929 4.2
Banten Jawa 100 15,130 4.0
Nusa Tenggara Timur Bali-Nusra 177 9,198 2.4
Bali Bali-Nusra 147 9,087 2.4
Kepulauan Riau Sumatera 87 8,406 2.2
Sulawesi Selatan Sulawesi 138 7,713 2.0
Lampung Sumatera 81 6,491 1.7
Sumatera Barat Sumatera 65 6,115 1.6
Kalimantan Barat Kalimantan 72 5,946 1.6
Kalimantan Timur Kalimantan 84 5,673 1.5
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

4 Pilar B/C: Pemanfaatan dan Pola Layanan

Pilar B/C - Utilisasi FKTP vs FKRTL, laju kunjungan, LOS, setting RS, kepemilikan, cakupan, rujukan

Tabel B.1 - Volume kunjungan per tahun & tingkat layanan - Unit: Kunjungan/klaim (tertimbang)
Tahun FKRTL Rawat Inap FKRTL Rawat Jalan FKTP (Primer)
2015 28,155 75,382 10,437
2016 19,475 114,891 22,939
2017 30,624 196,101 39,156
2018 37,904 294,296 75,825
2019 34,175 429,300 154,640
2020 26,503 419,053 169,179
2021 22,071 360,251 192,662
2022 39,593 433,971 225,191
2023 55,786 519,041 288,770
2024 32,941 519,837 351,444
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Tabel B.2 - Laju pemanfaatan per subkelompok - Unit: Pasien unik
Subkelompok Pasien (sampel) Rerata FKTP Rerata R.Jalan Rerata R.Inap Rerata total % pernah inap
HIV dengan penyakit infeksi/parasit (B20) 3917 3.6 8.6 0.94 13.1 56.2
AIDS tak spesifik (B24) 236 1.5 1.4 0.31 3.2 28.4
HIV dengan kondisi lain (B23) 101 1.2 2.5 0.52 4.2 43.6
Status HIV asimtomatik (Z21) 78 1.7 0.5 0.36 2.6 32.1
HIV dengan penyakit lain tertentu (B22) 53 0.1 0.8 0.87 1.8 83.0
HIV dengan neoplasma ganas (B21) 28 0.6 0.6 0.18 1.4 17.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Tabel B.3 - LOS rawat inap menurut subkelompok - Unit: Episode rawat inap
Subkelompok n inap Rerata Median Q1 Q3
HIV dengan penyakit infeksi/parasit (B20) 2597 6.3 5.0 3.0 8.0
HIV dengan neoplasma ganas (B21) 9 4.7 5.0 2.0 5.0
HIV dengan penyakit lain tertentu (B22) 130 8.7 6.0 4.0 11.0
HIV dengan kondisi lain (B23) 88 5.7 4.5 3.0 7.0
AIDS tak spesifik (B24) 164 5.8 5.0 3.0 8.0
Status HIV asimtomatik (Z21) 21 4.4 4.0 2.0 6.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

4.1 Setting & kepemilikan layanan

4.1.1 Tempat layanan (RS)

4.1.2 Kepemilikan

4.1.3 Cakupan FKTP + FKRTL

Tabel B.4 - LOS menurut kelas rumah sakit - Unit: Episode rawat inap
Kelas RS n inap Rerata Median Q1 Q3
RS Kelas C 1331 5.5 4.0 3.0 7.0
RS Kelas B 1005 6.8 5.0 4.0 8.0
RS Kelas A 393 9.1 7.0 4.0 12.0
RS Kelas D 226 4.8 4.0 3.0 6.0
RS Khusus 51 6.6 5.0 3.0 8.0
Lainnya/Missing 3 5.0 5.0 3.0 7.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

4.2 Rujukan & konektivitas

4.2.1 Tipe perujuk

4.2.2 Geografi rujukan

Tabel D.1 - Alur tingkat layanan pasien HIV - Unit: Pasien unik (sampel)
Indikator Pasien (sampel)
Pasien total 4,413
Pernah FKTP 2,213
Pernah rawat jalan FKRTL 2,867
Pernah rawat inap FKRTL 2,386
Hanya FKTP 539
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5 Pilar F1: Kontinuitas dan Retensi (proxy)

Pilar F1 - Durasi keterlibatan, proxy retensi 12 bulan, disengagement dini/LTFU
Penting. Tanpa CD4/viral load di klaim, “retensi” di sini adalah proxy keterlibatan layanan (lama rentang kontak HIV), bukan retensi ART tervalidasi. HIV memerlukan terapi seumur hidup, sehingga keterlibatan layanan yang terjaga adalah analog terdekat yang terlihat di klaim.

Interpretasi naratif (DeepSeek, dari facts-pack terverifikasi)

Kontinuitas layanan HIV di JKN masih sangat rendah dan menjadi tantangan utama. Median durasi keterlibatan layanan hanya 42 hari, dengan rentang interkuartil 4-496 hari. Rata-rata jumlah kontak per pasien adalah 11, namun median hanya 3 kontak. Sebanyak 18,2% pasien hanya memiliki kontak tunggal (satu kali kunjungan), dan 44,5% memiliki kontak kurang dari 180 hari. Hanya 20,5% pasien yang memiliki kontak lebih dari 2 tahun. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien putus kontak dengan layanan dalam waktu singkat setelah diagnosis.

Proxy retensi 12 bulan menunjukkan bahwa hanya 34,8% pasien yang memenuhi kriteria retensi (masih memiliki kontak layanan setelah 12 bulan sejak kontak pertama). Angka ini sangat rendah dan perlu diinterpretasikan dengan hati-hati karena merupakan proxy keterlibatan layanan, bukan retensi ART tervalidasi. Data CD4 dan viral load tidak tersedia, sehingga tidak dapat menilai supresi virologis atau keberhasilan terapi. Retensi bervariasi antar subkelompok: B20 memiliki retensi tertinggi (38,3%), diikuti Z21 (14,5%), B24 (10,6%), B23 (9,3%), B21 (8,9%), dan B22 (3,3%). Rendahnya retensi pada subkelompok non-B20 mungkin mencerminkan kasus yang lebih ringan atau diagnosis dini yang tidak memerlukan kunjungan lanjutan, namun juga bisa berarti putus kontak.

Retensi lebih rendah pada segmen PBI (30,8%) dibandingkan non-PBI (38,7%). Kesenjangan ini mengindikasikan hambatan akses pada kelompok miskin, seperti biaya transportasi, kehilangan pendapatan saat berkunjung, atau stigma. Tren retensi per tahun menunjukkan penurunan dari 41,8% pada tahun 2016 menjadi 30,2% pada tahun 2023, dengan penurunan tajam pada tahun 2021 (23,5%) yang mungkin terkait pandemi COVID-19. Data tahun 2024 tidak dapat diinterpretasikan karena hanya 4 pasien yang memenuhi kriteria eligibilitas.

Proxy disengagement dini (putus kontak awal) menunjukkan bahwa 41,1% pasien mengalami putus kontak dalam 180 hari pertama sejak kontak pertama. Angka ini sangat mengkhawatirkan karena putus kontak dini berarti pasien tidak mendapatkan terapi ARV yang adekuat, berisiko mengalami perkembangan penyakit, dan berpotensi menularkan HIV ke pasangan. Mekanisme yang mendorong disengagement dini meliputi: diagnosis terlambat dengan kondisi sudah kritis, kurangnya konseling dan dukungan kepatuhan, stigma, hambatan geografis dan ekonomi, serta lemahnya sistem penjangkauan (outreach) dan pelacakan (tracing) pasien yang putus kontak.

Tabel F1.1 - Proxy retensi & disengagement - Unit: Pasien unik (eligible)
Indikator Nilai
Pasien eligible (>=365 hari potensi follow-up) 3.802 (sampel)
Retensi proxy 12 bulan 34.8% (n=1.257)
Disengagement dini / proxy LTFU 41.1% (n=1.645)
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Proxy keterlibatan layanan, BUKAN retensi ART tervalidasi
Tabel F1.2 - Proxy retensi menurut subkelompok diagnostik - Unit: Pasien eligible
Subkelompok Eligible (sampel) % retensi (proxy)
HIV dengan penyakit infeksi/parasit (B20) 3376 38.3
AIDS tak spesifik (B24) 208 10.6
HIV dengan kondisi lain (B23) 83 9.3
Status HIV asimtomatik (Z21) 59 14.5
HIV dengan penyakit lain tertentu (B22) 48 3.3
HIV dengan neoplasma ganas (B21) 28 8.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

6 Pilar F2: Sindemik Ko-infeksi TB-HIV

Pilar F2 - Ko-infeksi TB-HIV: proporsi, tren, perbedaan mortalitas & biaya
Ko-infeksi TB-HIV (HIV dengan kode TB A15-19 di field dx mana pun/SDX) adalah indikator sindemik kunci di Indonesia. Angka ini adalah batas bawah (under-recorded). Scope: tabel kunjungan HIV.

Tabel F2.1 - Mortalitas & biaya: TB-HIV vs HIV tanpa TB - Unit: Pasien unik
Mortalitas & biaya = batas bawah; biaya = layanan terlihat (ARV gratis di luar klaim)
Kelompok Pasien (sampel) Wafat Mortalitas % % pernah inap Median biaya Rerata biaya
HIV + TB ko-infeksi 950 159 16.74 74.40 9,770,350 17,711,055
HIV tanpa TB tercatat 3463 426 12.30 48.50 4,378,400 9,241,388
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

7 Pilar F3: Infeksi Oportunistik dan Komorbid

Pilar F3 - Panel infeksi oportunistik, jumlah OI/pasien, komorbid kronis, split kunjungan HIV vs lain

Interpretasi naratif (DeepSeek, dari facts-pack terverifikasi)

Infeksi oportunistik (OI) merupakan penanda penting diagnosis terlambat dan imunosupresi lanjut pada pasien HIV. Panel OI yang terdeteksi menunjukkan bahwa tuberkulosis adalah OI paling umum, ditemukan pada 29,6% pasien (1.305 dari 4.413). Angka ini lebih tinggi dari proporsi ko-infeksi TB-HIV (24%) karena mencakup semua diagnosis TB di seluruh klaim, tidak terbatas pada kunjungan HIV. OI lainnya yang signifikan meliputi anemia (19%), diare/gastroenteritis (12,5%), pneumonia/PCP (11,9%), kandidiasis (6,4%), wasting/HIV cachexia (3,2%), toksoplasmosis (2,2%), herpes (0,6%), sitomegalovirus (0,5%), dan kriptokokosis (0%). Semua angka ini adalah batas bawah karena under-recording di klaim.

Jumlah OI per pasien menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki setidaknya satu OI. Hanya 38,2% pasien yang tidak memiliki OI tercatat, sementara 30,1% memiliki satu OI, 15,3% memiliki dua OI, dan 16,4% memiliki tiga OI atau lebih. Semakin banyak jumlah OI, semakin parah imunosupresi dan semakin tinggi risiko mortalitas. Pola ini konsisten dengan dominasi subkelompok B20 yang mencakup pasien dengan infeksi oportunistik aktif.

Komorbid kronis juga ditemukan pada sebagian pasien HIV, meskipun proporsinya lebih rendah dibandingkan OI. Hipertensi tercatat pada 9,1% pasien, diabetes pada 5,9%, gangguan jiwa pada 4,2%, gangguan ginjal pada 4,2%, kanker pada 3,4%, hepatitis virus pada 2,9%, penyakit jantung iskemik pada 2,9%, dan IMS lain pada 2,3%. Komorbid kronis ini memerlukan penanganan terintegrasi dan menambah kompleksitas serta biaya perawatan.

Analisis kunjungan menunjukkan bahwa proporsi kunjungan dengan diagnosis HIV versus diagnosis lain bervariasi per tahun. Pada tahun 2024, kunjungan dengan diagnosis HIV (tertimbang 552.778) sedikit lebih tinggi dibandingkan kunjungan dengan diagnosis lain (477.699). Bab diagnosis lain yang paling umum meliputi faktor/kontak layanan (17,2%), infeksi lain (11,8%), saraf/indera (11,7%), muskuloskeletal/cedera (7,5%), genitourinari (6,9%), pencernaan (6,1%), kardiovaskular (6%), neoplasma/darah (5,3%), pernapasan (5,2%), dan endokrin/metabolik (5,1%). Pola ini menunjukkan bahwa pasien HIV tidak hanya datang untuk layanan HIV, tetapi juga untuk berbagai kondisi lain yang mungkin terkait atau tidak terkait langsung dengan HIV.

Tabel F3.1 - Panel infeksi oportunistik - Unit: Pasien unik (sampel)
Batas bawah; dipindai diagnosis masuk + sekunder (SDX)
Infeksi oportunistik Pasien (sampel) % dari pasien HIV
Tuberkulosis (A15–19) 1305 29.6
Anemia (D60–64) 840 19.0
Diare/gastroenteritis (A09) 553 12.5
Pneumonia/PCP (J12–18/B59) 523 11.9
Kandidiasis (B37) 283 6.4
Wasting/HIV cachexia (R64/B22) 141 3.2
Toksoplasmosis (B58) 97 2.2
Herpes (B00) 27 0.6
Sitomegalovirus (B25) 20 0.5
Kriptokokosis (B45) 2 0.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

8 Pilar F4: Luaran dan Mortalitas

Pilar F4 - Mortalitas keseluruhan, kematian dalam-RS per tahun & subkelompok, hospitalisasi
Mortalitas = batas bawah. Kematian dari PSTV18 (tahun wafat) dan status pulang FKL14=3 (wafat di RS); kematian di luar RS sebagian besar tak tercatat.

Tabel F4.1 - Ringkasan luaran & mortalitas - Unit: Pasien unik
Mortalitas under-captured = batas bawah
Indikator Nilai
Pasien HIV (sampel) 4.413
Wafat (tahun wafat PSTV18, sampel) 585
Mortalitas kasar 13.26% (batas bawah)
Kematian dalam RS (FKL14=3, sampel) 571
Pernah dirawat inap 50.3% (n=2.386)
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

9 Pilar H: Ekonomi (biaya layanan terlihat)

Pilar H - Biaya layanan terlihat: total, per tahun/subkelompok/setting, INA-CBG, konsentrasi Pareto
ARV gratis & vertikal. Obat ARV disediakan program vertikal gratis, sebagian besar di luar paket INA-CBG. Angka biaya di sini adalah biaya layanan HIV yang terlihat di klaim JKN (rawat OI/komplikasi/komorbid/inap), bukan total biaya program HIV; biaya obat HIV under-captured.

Interpretasi naratif (DeepSeek, dari facts-pack terverifikasi)

Belanja layanan HIV yang terlihat di klaim FKRTL JKN pada tahun terbaru (2024) mencapai Rp484,7 miliar (proyeksi nasional tertimbang PSTV15; raw in-sample Rp6,7 miliar). Perlu dicatat bahwa angka ini under-capture biaya obat ARV karena ARV disediakan melalui program vertikal pemerintah di luar paket INA-CBG. Biaya yang terlihat di klaim terutama mencakup perawatan infeksi oportunistik, komplikasi, rawat inap, dan komorbid, bukan obat ARV itu sendiri.

Biaya per tahun menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, dari Rp199,6 miliar pada tahun 2015 menjadi Rp484,7 miliar pada tahun 2024. Puncak biaya terjadi pada tahun 2023 (Rp820,6 miliar), yang kemudian menurun pada tahun 2024. Fluktuasi biaya ini perlu diinterpretasi dengan hati-hati karena dapat dipengaruhi oleh perubahan kebijakan tarif, perubahan pola klaim, atau perubahan komposisi kasus.

Biaya sangat bervariasi antar subkelompok dan setting layanan. Rawat inap mendominasi biaya, terutama pada pasien B20 yang memiliki total biaya rawat inap Rp2.826,39 miliar dengan rata-rata biaya per klaim Rp9.400.880. Pasien B22 memiliki rata-rata biaya rawat inap tertinggi (Rp12.513.285), diikuti pasien B21 (Rp13.467.827). Biaya rawat jalan relatif rendah, dengan rata-rata berkisar antara Rp208.891 hingga Rp422.101 per klaim.

Konsentrasi biaya sangat timpang. Sepuluh persen pasien termahal menyumbang 48,4% dari total belanja terlihat, dan 20% pasien termahal menyumbang 67,8%. Pola Pareto ini menunjukkan bahwa sebagian besar biaya terserap untuk perawatan sejumlah kecil pasien dengan kasus berat, kemungkinan besar pasien dengan komplikasi multipel atau ko-infeksi TB. Intervensi untuk mengurangi biaya harus difokuskan pada pencegahan komplikasi pada kelompok risiko tinggi ini.

Belanja FKRTL 2024 ~ Rp484.7 Miliar (proyeksi nasional, sampel ~1% PSTV15; raw in-sample Rp6.7 Miliar). Biaya headline = tahun terbaru saja (bukan kumulatif lintas tahun). Biaya ARV TIDAK termasuk (program vertikal/gratis, di luar INA-CBG).

Tabel H.1 - 12 grup INA-CBG teratas (pasien HIV) - Unit: Klaim
Berdasarkan jumlah klaim; biaya = layanan terlihat
Grup INA-CBG Klaim Total (miliar Rp) Rerata/klaim (Rp)
PENYAKIT KRONIS KECIL LAIN-LAIN 23,875 542.39 221,092
KONSULTASI ATAU PEMERIKSAAN LAIN-LAIN 4,457 69.96 150,533
INFEKSI VIRUS HIV 1,401 23.73 239,426
730 1,311 37.27 245,762
INFEKSI HIV RINGAN 1,037 921.51 9,031,149
INFEKSI HIV SEDANG 773 1,022.29 13,145,341
PENYAKIT KRONIS KECIL LAINLAIN 654 15.45 228,223
INFEKSI HIV BERAT 360 542.86 16,839,477
720 280 6.63 259,397
KONTAK PELAYANAN KESEHATAN LAIN-LAIN 261 2.15 134,907
16 235 98.52 4,038,073
MEDICAL CHECK-UP 217 2.02 121,398
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Tabel H.2 - Belanja layanan terlihat per tahun (raw in-sample & proyeksi) - Unit: Klaim & total
Headline = tahun terbaru saja; per tahun memuat raw in-sample DAN proyeksi nasional tertimbang (tanpa kumulatif lintas tahun)
Tahun Klaim Raw in-sample (miliar Rp) Proyeksi nasional (miliar Rp) Rerata (Rp) Median (Rp)
2015 1,018 1.8 199.6 1,762,998 361,800
2016 1,449 1.9 178.8 1,332,059 192,200
2017 2,421 3.7 398.1 1,541,340 183,500
2018 3,379 5.1 475.8 1,495,704 183,500
2019 4,284 5.4 478.3 1,253,512 184,900
2020 4,335 3.8 319.5 884,094 183,500
2021 4,409 3.5 259.1 797,848 183,500
2022 5,189 5.2 493.6 1,003,247 183,500
2023 5,862 6.7 820.6 1,146,934 196,100
2024 5,889 6.7 484.7 1,135,573 196,100
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

10 Pilar I: Ekuitas dan Representasi

Pilar I - Segmen PBI/non-PBI, pulau, gradien SES served-rate, indeks representasi, karakteristik sampel

Tabel I.1 - Ekuitas menurut segmen PBI/non-PBI - Unit: Pasien unik
Segmen Pasien (sampel) Tertimbang Rerata kunjungan % pernah inap Median biaya (Rp)
Missing 43 4,929 1.3 0.0 NA
Non-PBI 2778 203,288 13.8 53.1 6,036,700
PBI (Disubsidi) 1592 171,014 9.1 57.3 4,718,000
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Tabel 1 - Karakteristik Pasien HIV vs Populasi JKN Umum - Unit: Pasien unik (tertimbang), % per kolom
FKTP n=2.213 - FKRTL n=3.874 - Overall n=4.413 - Populasi Umum n=2.590.751 (sampel)
FKTP % FKRTL % Overall % Populasi Umum %
Jenis Kelamin
Laki-laki 67.0 67.4 67.8 51.2
Perempuan 33.0 32.6 32.2 48.8
Kelompok Usia
18–39 66.5 61.2 61.6 37.1
40–59 25.3 30.8 29.6 27.7
<18 5.5 4.7 5.0 18.5
≥60 2.7 3.3 3.8 16.7
Segmentasi (Membership)
PBI APBN 27.6 29.4 29.5 41.3
PBPU (Mandiri) 26.6 28.1 27.4 11.6
PPU 29.7 25.1 25.9 23.2
PBI APBD 15.5 16.4 16.2 20.1
Bukan Pekerja 0.7 1.0 1.0 3.9
Kelas Rawat
Kelas III 68.6 67.3 66.8 70.1
Kelas II 15.0 17.5 17.1 13.6
Kelas I 16.4 15.1 16.1 16.3
Pulau
Jawa 67.2 62.3 62.4 54.2
Sumatera 13.6 14.2 14.9 20.7
Maluku-Papua 3.8 6.6 6.4 6.4
Bali-Nusra 4.8 5.8 5.7 5.4
Kalimantan 5.8 5.6 5.4 5.7
Sulawesi 4.8 5.4 5.2 7.6
Kelompok Diagnostik
HIV dengan penyakit infeksi/parasit (B20) 93.3 89.6 88.4 -
AIDS tak spesifik (B24) 3.1 4.2 4.8 -
Status HIV asimtomatik (Z21) 1.9 2.1 2.8 -
HIV dengan kondisi lain (B23) 1.1 2.2 2.2 -
HIV dengan penyakit lain tertentu (B22) 0.1 1.4 1.2 -
HIV dengan neoplasma ganas (B21) 0.5 0.6 0.6 -
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Populasi Umum = sampel reguler BPJS (semua peserta JKN)

11 Tahun Terkini - Sorotan 2024

Sorotan 2024 - Relevansi terkini untuk pembuat kebijakan
Tabel 2024.1 - Angka kunci tahun terkini (2024)
Tahun terlengkap; biaya = layanan terlihat (ARV gratis di luar klaim)
Indikator 2024
Pasien HIV terlayani (sampel) 1.428
Pasien terlayani (tertimbang) 135.806
Pasien baru terlayani (sampel) 615
Pasien baru (tertimbang) 62.720
Pasien terlihat di FKTP (sampel) 3.618
Klaim FKRTL berbiaya 5.889
Biaya layanan terlihat Rp484.7 miliar
Kematian dalam RS (sampel) 66
TB-HIV baru tercatat (sampel) 128
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 B20-B24 (AIDS) + Z21 | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

12 Poin Kunci Kebijakan

Poin Kunci Kebijakan - Sintesis untuk pengambil keputusan

13 Keterbatasan & Catatan Metodologis

Keterbatasan utama. (1) Klaim = populasi terlayani JKN, bukan prevalensi komunitas; HIV terkonsentrasi pada populasi kunci yang under-surveyed dan banyak dilayani di luar JKN. (2) ARV gratis & vertikal sebagian besar di luar INA-CBG, sehingga biaya obat HIV under-captured; angka biaya = layanan terlihat saja. (3) Tanpa CD4/viral load: supresi virologis dan keberhasilan ART tak dapat dinilai; “retensi” = proxy keterlibatan layanan. (4) Ko-infeksi/komorbid/OI/mortalitas = batas bawah (under-recorded; dipindai dx + SDX). (5) Mortalitas under-captured (PSTV18 + FKL14=3 in-hospital saja). (6) Riskesdas/SKI lemah untuk HIV (populasi kunci under-surveyed), sehingga tidak dilakukan triangulasi prevalensi komunitas.

Pembagian peran penulisan. Seluruh ANGKA, tabel, dan figur dalam dokumen ini berasal dari mesin analisis R atas data klaim nyata BPJS Kesehatan (skema reguler, tertimbang PSTV15); angka di-ekspor ke sebuah facts-pack. INTERPRETASI NARATIF (Ringkasan Eksekutif, interpretasi tiap pilar, dan Poin Kunci Kebijakan, ditandai badge “Interpretasi naratif”) ditulis oleh model bahasa DeepSeek HANYA dari facts-pack tersebut; setiap angka yang dikutip telah diverifikasi ulang terhadap facts-pack. Model tidak menambahkan statistik apa pun di luar facts-pack.


Analisis sistem kesehatan berbasis data administratif agregat (Data Sampel BPJS Kesehatan). Angka oleh mesin R; interpretasi naratif oleh DeepSeek dari facts-pack terverifikasi. ARC Institute - Health System Center.