Unit analisis (penting, tercantum di tiap tabel/figur). Dokumen ini memakai unit berbeda, perhatikan badge · Unit: … pada judul tabel dan subjudul/sumbu figur: (1) Pasien unik = orang, dihitung sekali (prevalensi, demografi, peta, mortalitas, Pareto, ekuitas); (2) Kunjungan/Klaim = per layanan, satu pasien bisa banyak (volume utilisasi, biaya, INA-CBG, komorbiditas); (3) Episode rawat inap = per perawatan inap (LOS, readmisi, ACSC).

Cara baca dokumen. Angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang (PSTV15) dari sampel reguler (rumah tangga 1%, ~2,59 juta peserta); angka sampel mentah dilaporkan terpisah. Definisi kunjungan hipertensi = kode ICD-10 I10-I15 di diagnosis masuk/primer/sekunder (SDX) di FKRTL ATAU diagnosis FKTP. Data klaim hanya menggambarkan populasi yang terlayani JKN, bukan prevalensi sejati di masyarakat (lihat Triangulasi Riskesdas/SKI dan Treatment Gap).

Peta Pilar (navigasi): Fondasi (kohort, definisi kasus, desain sampel, treatment gap) · A Beban dan Demografi · B FKTP (Layanan Primer dan Prolanis) · C FKRTL (Rujukan/RS, severity, LOS) · D Rujukan dan Konektivitas · E Geografi Member-Faskes · F Proses, Kontinuitas dan Outcome · G Komorbiditas Kardiometabolik · H Ekonomi · I Ekuitas · J Khusus Hipertensi (ACSC, komplikasi, kluster HT+DM, treatment gap) · K Triangulasi Riskesdas/SKI.

1 Layer 0 - Fondasi: kohort, definisi kasus, dan treatment gap

Fondasi · Alur Kohort (STROBE) · Definisi I10-I15 · Stratifikasi Diagnostik · Desain Sampel · Treatment Gap

Inti: Mendefinisikan populasi analisis (peserta sampel reguler dengan minimal 1 klaim diagnosis hipertensi I10-I15), stratifikasi diagnostik, dan kerangka treatment gap, pengingat bahwa klaim JKN hanya menangkap kasus yang sampai ke fasilitas dan terdiagnosis.
Sumber dan desain: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, schema reguler (sampel acak rumah tangga 1%, kerangka yang valid untuk tren temporal dan rate populasi). Identifikasi pasien via PSTV01; demografi via member-join (DISTINCT pid, snapshot terkini); bobot nasional PSTV15.

Tabel L0.1 - Alur Pembentukan Kohort (STROBE) · Unit: Pasien unik (sampel)
Sampel reguler BPJS 2015-2024; pasien unik mentah
Tahap Pasien (sampel mentah)
Peserta sampel reguler (denominator populasi) 2,590,751
Punya minimal 1 klaim FKRTL (semua sebab) 976,214
Pasien dengan minimal 1 klaim I10-I15 di FKRTL 125,244
Pasien dengan minimal 1 klaim I10-I15 di FKTP 199,816
KOHORT ANALISIS - minimal 1 klaim hipertensi (FKTP/FKRTL) 257,692
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

1.1 Definisi kasus dan ICD hipertensi

Definisi kasus hipertensi (I10-I15)

Kunjungan dihitung kunjungan hipertensi bila kode I10-I15 muncul di diagnosis masuk (FKL15A), primer (FKL17A), atau sekunder (SDX) di FKRTL, ATAU sebagai diagnosis FKTP (FKP14A/FKP15). ICD primer di reguler 3-karakter; SDX 4-karakter (cocok-prefiks I1[0-35]). Kelompok: I10 hipertensi esensial/primer, I11 penyakit jantung hipertensif, I12 penyakit ginjal hipertensif, I13 hipertensi jantung dan ginjal, I15 hipertensi sekunder. Indikator strict (untuk LOS/readmisi/ACSC) = I10-I15 di masuk atau primer (dirawat KARENA hipertensi).

Tabel L0.2 - Kamus ICD-10 Hipertensi · Unit: Klaim FKRTL (sampel)
Kode ICD-10 Nama diagnosis (dari FKL16A) Klaim FKRTL primer (sampel)
I11 Hypertensive heart disease without congestive heart failure 157,289
I15 Secondary hypertension, unspecified 45,102
I10 Essential primary hypertension 43,835
I12 Hypertensive renal disease without renal failure 4,099
I13 Hypertensive heart and renal disease, unspecified 2,286
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

1.2 Stratifikasi diagnostik (diagnosis paling spesifik per pasien)

Aturan stratifikasi

Tiap pasien diberi satu kelompok primer = kode hipertensi paling spesifik/berat yang pernah tercatat, prioritas: hipertensi jantung+ginjal (I13) > penyakit jantung hipertensif (I11) > penyakit ginjal hipertensif (I12) > hipertensi sekunder (I15) > hipertensi esensial (I10). I10 (esensial tanpa kerusakan organ) adalah dasar; I11-I13 menandakan kerusakan target-organ.

Tabel L0.3 - Distribusi Kelompok Diagnostik Primer · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Kelompok Diagnostik Primer Pasien (tertimbang) Pasien (sampel) Proporsi (%)
Hipertensi esensial/primer (I10) 16,659,148 176,544 71.6
Penyakit jantung hipertensif (I11) 4,213,690 50,838 18.1
Hipertensi sekunder (I15) 1,822,532 23,552 7.8
Hipertensi jantung + ginjal (I13) 322,353 3,871 1.4
Penyakit ginjal hipertensif (I12) 242,681 2,887 1.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Key takeaway L0: Kohort analisis mencakup 257,692 pasien sampel dengan diagnosis hipertensi (proyeksi 23,260,405 orang). Hipertensi esensial (I10) dominan (71.6%), namun 20.5% pasien sudah mengalami kerusakan target-organ (I11-I13: jantung/ginjal hipertensif), menandakan banyak kasus terdeteksi pada tahap lanjut, bukan dini.

1.3 Validasi desain sampel (mengapa reguler, bukan kohort penyakit)

Desain sampel

Analisis dibangun pada schema reguler, yaitu sampel acak rumah tangga 1% (~2,590,751 individu) yang kontinu lintas waktu sehingga valid untuk tren temporal dan rate populasi. Kohort penyakit terenrichment (mis. dm/tb) adalah draw individual yang disemai pada tahun-kerangka dan menghasilkan artefak tren, sehingga TIDAK dipakai sebagai sumbu waktu utama. Karena numerator (kasus hipertensi dalam reguler) dan denominator (seluruh peserta reguler) berasal dari kerangka yang sama, served-rate per 100.000 bersifat internal-konsisten.

1.4 Treatment gap - klaim hanya menangkap yang terdiagnosis dan terlayani

Keterbatasan utama (wajib diingat di seluruh dokumen). Angka served di bawah adalah kasus yang terdiagnosis, sampai ke fasilitas, dan diklaimkan ke JKN. Survei kesehatan nasional (Riskesdas/SKI) menunjukkan prevalensi hipertensi terukur jauh lebih tinggi, dan mayoritas penderita tidak menyadari kondisinya. Detail kuantitatif treatment gap (komunitas vs terlayani) ada di Pilar K - Triangulasi Riskesdas/SKI. Klaim TIDAK dapat mengestimasi prevalensi sejati.

2 Tabel 1 - Karakteristik Sampel (FKTP · FKRTL · Overall · Populasi Umum)

Karakteristik pasien hipertensi (FKTP, FKRTL, Overall = kohort I10-I15) dibandingkan populasi JKN umum (sample reguler). Angka = % per kolom (tertimbang). Menunjukkan siapa yang terlayani hipertensi relatif terhadap populasi umum.
Tabel 1 - Karakteristik Pasien Hipertensi vs Populasi JKN Umum · Unit: Pasien unik (tertimbang), % per kolom
FKTP n=199,816 · FKRTL n=125,244 · Overall n=257,692 · Populasi Umum n=2,590,751 (peserta sampel)
FKTP % FKRTL % Overall % Populasi Umum %
Jenis Kelamin
Perempuan 61.6 56.3 59.7 48.8
Laki-laki 38.4 43.7 40.3 51.2
Kelompok Usia
40-59 51.4 49.6 50.0 27.7
>=60 34.9 40.5 36.5 16.7
18-39 12.7 9.3 12.4 37.1
<18 1.0 0.6 1.0 18.5
Segmentasi (Membership)
PBI APBN 39.6 24.7 36.8 41.3
PPU 22.9 25.6 23.0 23.2
PBPU (Mandiri) 16.5 25.3 18.5 11.6
PBI APBD 13.4 12.3 13.2 20.1
Bukan Pekerja 7.5 12.2 8.5 3.9
Kelas Rawat
Kelas III 67.0 55.8 64.4 70.1
Kelas I 17.9 26.4 19.9 16.3
Kelas II 15.1 17.8 15.7 13.6
Pulau
Jawa 60.4 60.5 60.5 54.2
Sumatera 19.5 19.3 19.4 20.7
Sulawesi 8.5 8.1 8.4 7.6
Kalimantan 6.0 6.0 6.0 5.7
Bali-Nusra 4.4 4.5 4.4 5.4
Maluku-Papua 1.2 1.6 1.4 6.4
Kelompok Diagnostik
Hipertensi esensial/primer (I10) 69.2 58.1 71.6 -
Penyakit jantung hipertensif (I11) 19.7 29.3 18.1 -
Hipertensi sekunder (I15) 9.6 7.8 7.8 -
Hipertensi jantung + ginjal (I13) 0.9 2.8 1.4 -
Penyakit ginjal hipertensif (I12) 0.6 2.0 1.0 -
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Populasi Umum = sample reguler (semua peserta JKN); Overall = kohort hipertensi
Key takeaway (vs populasi umum): Pasien hipertensi sangat condong ke kelompok usia lanjut (>=60 tahun jauh lebih banyak dari populasi umum) dan sedikit lebih perempuan, sesuai epidemiologi hipertensi. Distribusi segmen menunjukkan bahwa yang terlayani relatif lebih banyak dari segmen mampu-bayar, sinyal awal ekuitas yang diuji formal di Pilar I.

3 Pilar A - Beban Penyakit dan Demografi

Pilar A · Prevalensi Terlayani · Insidensi · Demografi · Distribusi Geografis
Pertanyaan: Seberapa besar beban hipertensi yang terlayani JKN, bagaimana trennya, profil demografinya, dan sebarannya geografis. Karena dibangun pada reguler, tren ini adalah tren populasi yang valid (bukan artefak kohort).

3.1 Ukuran epidemiologi dasar (insidensi, prevalensi, kumulatif)

Definisi dan denominator

Prevalensi terlayani (tahunan) = pasien unik dengan minimal 1 klaim I10-I15 pada tahun tsb. · Insidensi terlayani = pasien dengan kontak hipertensi pertama pada tahun tsb (2015 left-censored). · Kumulatif teridentifikasi = akumulasi pasien unik. · Denominator rate = jumlah peserta JKN per tahun (BPJS/DJSN, akhir tahun). Rate per 100.000 peserta JKN.

Tabel A.1 - Ukuran Epidemiologi Hipertensi Terlayani JKN · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Tertimbang PSTV15; rate per 100.000 peserta JKN; 2015 left-censored
Tahun Kasus baru (tertimbang) Prevalen terlayani (tertimbang) Kumulatif teridentifikasi Insidensi /100k JKN Prevalensi /100k JKN YoY prevalensi
2015 2,461,556 2,461,556 2,461,556 1,570.0 1,570.0 -
2016 2,121,138 3,006,624 4,582,694 1,233.6 1,748.6 +11.4%
2017 2,630,174 4,153,364 7,212,867 1,399.2 2,209.5 +26.4%
2018 2,491,025 4,673,282 9,703,892 1,197.3 2,246.2 +1.7%
2019 2,441,584 5,166,771 12,145,476 1,089.3 2,305.1 +2.6%
2020 1,732,911 4,466,126 13,878,387 779.0 2,007.6 -12.9%
2021 1,803,518 4,547,695 15,681,905 765.1 1,929.3 -3.9%
2022 2,114,817 5,436,996 17,796,721 850.1 2,185.6 +13.3%
2023 2,559,656 6,617,018 20,356,377 957.6 2,475.4 +13.3%
2024 2,904,028 7,656,190 23,260,405 1,045.1 2,755.4 +11.3%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Denominator: peserta JKN akhir tahun (BPJS/DJSN)

3.2 Tren prevalensi dan insidensi terlayani

Sorotan tahun terbaru (2024). Prevalensi hipertensi terlayani 2755.4 per 100.000 peserta JKN (7,656,190 orang tertimbang), naik dari 1570/100k pada 2015. Tahun terbaru adalah yang paling lengkap dan relevan kebijakan.

3.2.1 Rate per 100k

3.2.2 Prevalen absolut per tahun

3.2.3 Per kelompok diagnostik

3.3 Prevalensi terlayani 2024 menurut kelompok diagnostik (tahun terbaru)

Tabel A.2 - Prevalensi Terlayani 2024 menurut Kelompok Diagnostik · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Tahun terbaru (paling relevan kebijakan); per 100.000 peserta JKN 2024
Kelompok Diagnostik Pasien 2024 (sampel) Prevalen 2024 (tertimbang) Prevalensi /100k JKN
Hipertensi esensial/primer (I10) 61,795 5,808,136 2,090.3
Penyakit jantung hipertensif (I11) 15,174 1,272,864 458.1
Hipertensi sekunder (I15) 5,803 460,570 165.8
Penyakit ginjal hipertensif (I12) 722 69,138 24.9
Hipertensi jantung + ginjal (I13) 522 45,482 16.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | per 100.000 peserta JKN 2024 (277,9 juta)

3.4 Validasi tren - kohort stabil

3.5 Distribusi geografis (provinsi tempat tinggal)

3.5.1 Per pulau

3.5.2 12 provinsi teratas

Tabel A.3 - 12 Provinsi dengan Beban Terlayani Tertinggi · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Rank Provinsi Pulau Pasien (tertimbang) Pasien (sampel) %
1 Jawa Barat Jawa 4,032,104 34,997 17.3
2 Jawa Timur Jawa 3,404,842 32,080 14.6
3 Jawa Tengah Jawa 3,375,307 36,623 14.5
4 DKI Jakarta Jawa 1,315,596 7,225 5.7
5 Sumatera Utara Sumatera 973,346 12,933 4.2
6 Banten Jawa 965,826 7,013 4.2
7 Sulawesi Selatan Sulawesi 823,801 10,165 3.5
8 Lampung Sumatera 604,714 7,118 2.6
9 Sumatera Selatan Sumatera 589,350 9,199 2.5
10 DI Yogyakarta Jawa 545,852 5,122 2.3
11 Sumatera Barat Sumatera 505,821 5,678 2.2
12 Riau Sumatera 493,530 6,424 2.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3.6 Struktur usia dan jenis kelamin (piramida)

Key takeaway A: Beban hipertensi terlayani tumbuh konsisten (prevalensi 1570 -> 2755.4/100k), dengan dip layanan 2020-21 (COVID). Karena dibangun pada sampel reguler kontinu, kenaikan ini adalah sinyal ekspansi cakupan dan deteksi, bukan artefak. Beban terkonsentrasi di Jawa dan didominasi usia lanjut serta sedikit lebih perempuan.

4 Pilar B - FKTP (Layanan Primer dan Prolanis)

Pilar B · Layanan Primer (FKTP/Kapitasi) · Pintu Masuk · Prolanis
Pertanyaan: Apa peran FKTP sebagai pintu masuk pengelolaan hipertensi. Hipertensi adalah kondisi unggulan Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) yang dirancang dikelola di tingkat primer.

4.1 Cakupan dan pintu masuk layanan

4.1.1 Pola pemakaian (FKTP/FKRTL/keduanya)

Tabel B.1 - Cakupan: FKTP saja vs FKRTL saja vs Keduanya · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Pola pemakaian Pasien (tertimbang) Pasien (sampel) %
FKTP saja 12,530,370 132,448 53.9
FKTP + FKRTL 5,388,524 67,368 23.2
FKRTL saja 5,341,511 57,876 23.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

4.1.2 Porsi FKTP dari seluruh kunjungan per tahun

Key takeaway B: Hipertensi adalah penyakit yang dikelola dominan di layanan primer: 53.9% pasien cukup tertangani di FKTP saja, dan 65% rata-rata kunjungan ada di FKTP, konsisten dengan desain Prolanis. Namun 23% pasien langsung ke FKRTL tanpa kontak FKTP, menandakan sebagian beban naik ke rujukan, sering setelah komplikasi.

5 Pilar C - FKRTL (Rujukan / Rumah Sakit)

Pilar C · RJTL vs RITL · Tipe RS · LOS · Severity · Krisis (IGD)
Pertanyaan: Karakter layanan rujukan hipertensi, intensitas per pasien, lama rawat, tingkat keparahan saat dirawat inap, dan kunjungan gawat darurat.

5.1 Intensitas utilisasi per pasien

Tabel C.1 - Intensitas Utilisasi per Pasien menurut Kelompok · Unit: Rata-rata per pasien
Kelompok Diagnostik Pasien (sampel) Rata2 kunjungan FKTP Rata2 FKRTL R.Jalan Rata2 FKRTL R.Inap Rata2 total % pernah rawat inap
Hipertensi esensial/primer (I10) 176544 3 1 0 4 17.1
Penyakit jantung hipertensif (I11) 50838 9 6 0 16 31.1
Hipertensi sekunder (I15) 23552 7 2 0 10 16.8
Hipertensi jantung + ginjal (I13) 3871 6 7 2 15 76.6
Penyakit ginjal hipertensif (I12) 2887 3 3 1 8 74.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.2 Lama rawat inap (LOS)

5.3 Tingkat keparahan rawat inap (FKL23) dan tempat layanan

5.3.1 Severity inap

Tabel C.4 - Keparahan Rawat Inap (FKL23) · Unit: Episode rawat inap
Keparahan Episode (sampel) Episode (tertimbang)
Ringan 20,636 1,692,947
Sedang 9,770 820,931
Berat 3,159 273,211
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.3.2 Tempat layanan per tahun

5.3.3 IGD/UGD per tahun

Tabel C.5 - Kunjungan Gawat Darurat (IGD/UGD) Hipertensi per Tahun · Unit: Kunjungan (tertimbang)
Kepemilikan faskes: Swasta 54%, Publik 46%, Lainnya 0%
Tahun Kunjungan IGD/UGD (sampel) Kunjungan IGD (tertimbang) % dari FKRTL
2015 1,030 105,451 3.9
2016 1,148 119,406 4.0
2017 1,731 174,747 3.5
2018 2,393 222,282 4.0
2019 2,561 261,338 3.7
2020 2,005 176,571 3.4
2021 1,754 150,759 2.6
2022 2,194 183,688 2.6
2023 2,637 216,880 2.4
2024 2,702 231,076 2.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | event IGD = proxy krisis/kegagalan kontrol rawat jalan
Key takeaway C: Mayoritas pasien hipertensi rawat jalan; 21.4% rata-rata pernah dirawat inap, dengan keparahan inap didominasi tingkat Sedang/Berat (krisis hipertensi atau komplikasi). LOS lebih panjang pada kelompok dengan kerusakan organ (jantung/ginjal hipertensif). Kunjungan IGD menandai kegagalan kontrol rawat jalan.

6 Pilar D - Rujukan dan Konektivitas Antar-Faskes

Pilar D · Gate FKTP-FKRTL · Tipe Perujuk · Geografi Rujukan
Pertanyaan: Bagaimana pasien berpindah antar fasilitas, apakah lewat gate primer, siapa perujuk, dan apakah rujukan menyeberang wilayah.

6.1 Tipe perujuk dan geografi rujukan

6.1.1 Tipe faskes perujuk

Tabel D.1 - Tipe Faskes Perujuk Rawat Inap Hipertensi · Unit: Episode discharge
Tipe faskes perujuk (rawat inap) Episode (sampel) %
Rumah Sakit 62,509 81.7
Puskesmas 8,120 10.6
Dokter Umum 2,855 3.7
Klinik Pratama 2,485 3.2
Klinik Utama 526 0.7
Apotik 13 0.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

6.1.2 Geografi rujukan

Key takeaway D: Rujukan hipertensi sangat lokal (94.3% dalam kabupaten sama). Pada 2018-2023 sebagian besar kunjungan FKRTL datang via rujukan FKTP, gate primer berfungsi. Rujuk-balik (FKRTL-FKTP) tidak terkode eksplisit sehingga tidak dianalisis.

7 Pilar E - Geografi Member - Faskes (Akses Spasial)

Pilar E · Tempat Tinggal vs Faskes Terdaftar · Luar-Kabupaten
Pertanyaan: Apakah peserta terdaftar di faskes dalam kabupatennya, dan di mana akses memaksa keluar daerah.
Tabel E.1 - Kesesuaian Tempat Tinggal - Faskes Terdaftar · Unit: Member
PSTV09/10 (tempat tinggal) vs PSTV13/14 (faskes terdaftar)
Indikator %
Faskes terdaftar dalam PROVINSI sama 94.5
Faskes terdaftar dalam KABUPATEN sama 86.6
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Key takeaway E: 86.6% peserta terdaftar di faskes dalam kabupatennya, akses primer relatif terjangkau untuk mayoritas. Provinsi dengan kesesuaian terendah (umumnya kawasan timur dan DKI) mencerminkan keterbatasan faskes lokal atau mobilitas antar-kota.

8 Pilar F - Proses, Kontinuitas, dan Outcome

Pilar F · Kontinuitas · Readmisi · Mortalitas
Inti mutu kronik: Hipertensi butuh kontak teratur seumur hidup. Pilar ini menilai kontinuitas (gap antar kunjungan), readmisi rawat inap, dan mortalitas (dengan kaveat under-capture). Catatan: kontrol tekanan darah TIDAK dapat diukur dari klaim (tidak ada nilai vital/lab).

8.1 Kontinuitas dan readmisi

8.1.1 Kontinuitas (gap antar-kunjungan)

Tabel F.1 - Kontinuitas dan Disengagement · Unit: Interval antar-kunjungan
Indikator Nilai
Median gap antar-kunjungan rawat jalan (hari) 31 hari
% interval kunjungan > 180 hari (disengagement) 11.6%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | disengagement = proxy putus dari perawatan rutin

8.1.2 Readmisi rawat inap

Tabel F.2 - Readmisi Rawat Inap Hipertensi · Unit: Episode discharge
Dari 39,150 episode discharge rawat inap (strict)
Indikator % dari discharge
Readmisi hipertensi <=30 hari 7.9%
Readmisi hipertensi <=90 hari 14.7%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

8.2 Mortalitas (interpretasi hati-hati)

Mortalitas under-captured. Dua sumber: (1) PSTV18 (tahun meninggal sistem kepesertaan), terisi terutama 2023-2024; (2) FKL14=3 (meninggal in-hospital) per tahun. Kematian di komunitas/luar RS tidak tertangkap penuh. Belum age-standardized, rate tinggi pada kelompok dengan kerusakan organ sebagian mencerminkan usia lanjut. SMR (mortality gap) butuh life-table, belum dihitung di edisi ini.

Tabel F.3 - Mortalitas (PSTV18) menurut Kelompok Diagnostik · Unit: Pasien - kematian (tertimbang)
Under-capture besar; belum age-standardized, kolom median usia untuk konteks
Kelompok Diagnostik Kematian (tertimbang) Total (tertimbang) Kematian/1.000 Median usia
Hipertensi jantung + ginjal (I13) 80,683 322,353 250.3 56
Penyakit ginjal hipertensif (I12) 48,754 242,681 200.9 53
Penyakit jantung hipertensif (I11) 257,924 4,213,690 61.2 56
Hipertensi sekunder (I15) 63,993 1,822,532 35.1 53
Hipertensi esensial/primer (I10) 499,361 16,659,148 30.0 54
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway F: Readmisi 30/90 hari (7.9%/14.7%) dan disengagement (gap >180 hari pada 11.6% interval) menandai tantangan retensi dalam perawatan kronik. Mortalitas tertinggi pada kelompok dengan kerusakan organ (usia lanjut). Kontrol tekanan darah, indikator mutu utama hipertensi, tidak dapat dinilai dari klaim.

9 Pilar G - Komorbiditas Kardiometabolik

Pilar G · Hipertensi - Penyakit Lain · Beban Komorbiditas · Belanja Fisik
Inti: Kohort memuat seluruh klaim pasien hipertensi, termasuk untuk penyakit lain. Hipertensi jarang berdiri sendiri, ia adalah pusat kluster kardiometabolik (diabetes, jantung, stroke, ginjal).

9.1 Profil komorbiditas

9.1.1 Komorbiditas tersering

9.1.2 Jumlah komorbiditas per pasien

9.1.3 Kunjungan hipertensi vs penyakit lain

9.2 Diagnosis penyakit lain tersering dan belanja

Tabel G.1 - Diagnosis Non-Hipertensi Tersering pada Pasien Hipertensi · Unit: Kunjungan (tertimbang)
ICD-3 Diagnosis (primer) Kunjungan (sampel) Tertimbang
N18 Other chronic renal failure 395,967 31,027,717
E11 Noninsulindependent diabetes mellitus wi 152,914 13,506,148
M54 Sciatica, thoracolumbar region 135,834 11,882,032
I50 Left ventricular failure 109,327 9,408,830
I25 Silent myocardial ischaemia 81,124 7,307,885
I64 Stroke, not specified as haemorrhage or 71,803 6,556,416
H25 Senile nuclear cataract 62,073 5,418,944
I63 Other cerebral infarction 49,399 4,604,792
J44 Other specified chronic obstructive pulm 42,704 3,864,681
H26 Traumatic cataract 38,559 3,439,300
M51 Schmorl's nodes 35,568 3,500,967
E10 Insulindependent diabetes mellitus witho 35,466 2,790,989
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | kode Z dikecualikan
Tabel G.2 - Belanja FKRTL: Klaim Hipertensi vs Penyakit Lain · Unit: Biaya klaim (tertimbang)
Pada pasien hipertensi yang sama, 2015-2024 kumulatif
Kategori Biaya FKRTL (Miliar Rp, tertimbang)
Klaim HIPERTENSI (I10-15) 54,951.4
Klaim PENYAKIT LAIN (pada pasien HT) 221,034.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | 1 Miliar = 1e9 Rp; total 2 kolom = belanja seluruh klaim FKRTL pasien HT
Key takeaway G: Hipertensi adalah jangkar kluster kardiometabolik: diabetes (17.5%), jantung iskemik (13%), gagal jantung dan stroke masing-masing ~11%. Belanja klaim untuk penyakit lain pasien HT (Rp 221,034.9 Miliar) jauh melampaui belanja hipertensi-spesifik (Rp 54,951.4 Miliar), karena komplikasi makrovaskular (jantung, stroke, ginjal) jauh lebih mahal. Ini menegaskan bahwa kontrol hipertensi dini adalah investasi pencegahan biaya hilir.

10 Pilar H - Ekonomi Kesehatan

Pilar H · Biaya Klaim FKRTL · Pendorong Biaya · Konsentrasi (Pareto) · INA-CBG
Pertanyaan: Berapa belanja JKN untuk hipertensi (klaim ber-kode I10-15), apa pendorongnya, dan seberapa terkonsentrasi. FKTP kapitasi dikecualikan (bukan fee-for-service).

10.1 Tren belanja dan konsentrasi

Sorotan tahun terbaru (2024). Belanja klaim FKRTL hipertensi 2024 = Rp 8,763.1 Miliar (132,296 klaim sampel). Belanja kumulatif 2015-2024 (klaim ber-kode I10-15) = Rp 48,916.1 Miliar.

10.1.1 Tren belanja per tahun

10.1.2 Pareto konsentrasi biaya

Tabel H.1 - Konsentrasi Biaya (Pareto) · Unit: Pasien - konsentrasi biaya
Total belanja FKRTL pasien hipertensi (seluruh klaim) = Rp48,916.1 Miliar kumulatif
Top % pasien (biaya tertinggi) % total belanja FKRTL
1 17.1
5 38.5
10 52.1
20 69.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

10.1.3 Biaya menurut kelompok dan setting

Tabel H.2 - Biaya menurut Kelompok Diagnostik dan Setting · Unit: Klaim (tertimbang)
Kelompok Setting Klaim (sampel) Total (Miliar Rp) Rata2/klaim (Rp) Median/klaim (Rp)
Hipertensi jantung + ginjal (I13) Rawat Inap 3,660 2324.73 6,430,711 4,488,550
Hipertensi jantung + ginjal (I13) Rawat Jalan 2,518 53.95 347,291 195,600
Penyakit jantung hipertensif (I11) Rawat Inap 10,099 3782.69 4,201,214 3,183,700
Penyakit jantung hipertensif (I11) Rawat Jalan 164,798 3105.21 214,573 192,100
Penyakit ginjal hipertensif (I12) Rawat Inap 7,343 3852.05 6,524,210 4,407,800
Penyakit ginjal hipertensif (I12) Rawat Jalan 5,922 349.22 614,959 762,195
Hipertensi sekunder (I15) Rawat Inap 1,957 542.60 3,354,944 2,566,300
Hipertensi sekunder (I15) Rawat Jalan 45,045 705.41 208,814 191,900
Hipertensi esensial/primer (I10) Rawat Inap 57,204 26925.19 5,227,802 3,542,700
Hipertensi esensial/primer (I10) Rawat Jalan 390,688 7275.07 218,023 190,400
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

10.2 Kelompok INA-CBG teratas

Tabel H.3 - 15 Kelompok INA-CBG Teratas (volume klaim) · Unit: Klaim FKRTL
Deskripsi INA-CBG Klaim (sampel) Total (Miliar Rp, tertimbang) Rata2/klaim (Rp)
Penyakit Kronis Kecil Lain-Lain 477,778 7,929.2 196,313
730 35,845 595.0 177,993
Penyakit Kronis Kecil Lainlain 15,091 258.4 193,587
Konsultasi Atau Pemeriksaan Lain-Lain 10,145 124.3 142,941
Hipertensi Ringan 9,559 1,723.4 2,168,334
Prosedur Therapi Fisik Dan Prosedur Kecil Muskuloskletal 8,420 82.7 123,735
Penyakit Kronis Besar Lain-Lain 6,494 142.1 278,281
Prosedur Dialisis 6,227 422.4 876,610
Prosedur Ekokardiografi 6,223 219.3 402,207
Prosedur Ultrasound Lain-Lain 5,394 243.9 576,875
Tumor Ginjal & Saluran Urin & Gagal Ginjal Sedang 3,725 1,296.7 4,375,207
Kegagalan Jantung Ringan 3,030 858.8 3,395,443
Penyakit Akut Kecil Lain-Lain 2,978 55.1 197,289
Other Digestive System Disorders 2,546 52.0 255,175
Penyakit Kencing Manis & Gangguan Nutrisi/ Metabolik Ringan 2,467 802.3 4,015,832
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway H: Belanja klaim FKRTL hipertensi tumbuh seiring volume dan mencapai Rp 8,763.1 Miliar pada 2024. Biaya sangat terkonsentrasi: top 10% pasien menyerap 52.1% belanja, target manajemen kasus. Rawat inap dan kelompok dengan kerusakan organ adalah pendorong biaya utama.

11 Pilar I - Ekuitas dan Representasi vs Populasi Umum

Pilar I · Segmen (SES) · Geografi · Representation Index · Served-Rate
Ekuitas akses adalah isu utama hipertensi. Stratifikasi: segmen (PBI vs Non-PBI), geografi (served-rate per provinsi), dan perbandingan terhadap populasi JKN umum (representation index).

11.1 Served-rate dan gradien SES

11.1.1 Served-rate per provinsi

11.1.2 Gradien SES (segmen)

11.1.3 Representation index

11.2 Utilisasi menurut segmen dan pulau

Tabel I.1 - Utilisasi menurut Segmen (PBI vs Non-PBI) · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Segmen Pasien (sampel) Pasien (tertimbang) Rata2 kunjungan/pasien % pernah rawat inap Median biaya/pasien (Rp)
Non-PBI 162,696 11,283,994 8 24.1 1,919,000
PBI (Disubsidi) 87,568 11,269,868 5 18.0 1,944,700
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | PBI = disubsidi; Non-PBI = PPU/PBPU/Bukan Pekerja
Tabel I.2 - Uji Beda Distribusi: Pasien HT vs Populasi Umum · Unit: sampel
chi-square (sampel mentah), n besar selalu signifikan, gunakan Cramer V untuk besaran efek
Karakteristik Cramer V p
Jenis Kelamin 0.048 <0,001
Kelompok Usia 0.256 <0,001
Segmentasi (Membership) 0.085 <0,001
Pulau 0.066 <0,001
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 I10-I15 | sampel reguler (rumah tangga 1%) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway I: Served-rate hipertensi sangat timpang antar-provinsi (rentang 1,614 - 12,813/100k), tertinggi di Yogyakarta/Sulut/DKI. Gradien SES menunjukkan inverse care law: segmen mandiri (PBPU) served-rate 119.6/1.000 vs PBI APBD 49/1.000. Karena hipertensi sangat under-diagnosed (lihat Pilar K), variasi geografis ini sebagian besar peta deteksi/akses, bukan peta risiko sejati.

12 Pilar J - Analisis Khusus Hipertensi

Pilar J · ACSC Avoidable Admissions (OECD) · Komplikasi Target-Organ · Kluster HT+DM · Catatan Kontrol TD
Analisis spesifik penyakit: rawat inap hipertensi yang seharusnya dapat dicegah (OECD ACSC), komplikasi hilir di antara pasien HT, kluster kardiometabolik HT+DM, dan batasan keras pengukuran kontrol tekanan darah.
Kontrol tekanan darah TIDAK dapat diukur (batasan keras). Indikator mutu paling penting untuk hipertensi adalah proporsi pasien dengan tekanan darah terkontrol (<140/90). Data klaim BPJS tidak memuat nilai vital (tekanan darah) maupun hasil lab, sehingga kontrol TD mustahil dihitung dari sumber ini. Triangulasi terhadap Riskesdas/SKI (Pilar K) memberi gambaran kontrol di tingkat komunitas, namun dengan definisi dan denominator yang berbeda.

12.1 Ambulatory Care Sensitive Conditions (ACSC) - rawat inap hipertensi yang dapat dicegah

Definisi ACSC hipertensi (OECD HCQI)
OECD mendefinisikan rawat inap hipertensi (I10-I11 sebagai diagnosis utama) sebagai kondisi sensitif-layanan-ambulatori: admisi ini sebagian besar dapat dicegah bila layanan primer mengelola tekanan darah dengan baik. Angka ACSC yang tinggi menandakan kelemahan kontrol di layanan primer, bukan sekadar beban penyakit.
Sorotan tahun terbaru (2024). Rawat inap hipertensi yang dapat dicegah (ACSC) 2024 = 299,063 admisi tertimbang (3,521 episode sampel). Kumulatif 2015-2024 = 2,222,740 admisi tertimbang.

12.1.1 Tren ACSC per tahun

12.1.2 ACSC per provinsi (akumulasi)

12.2 Komplikasi target-organ di antara pasien hipertensi

12.3 Kluster kardiometabolik HT + DM

Key takeaway J: Setiap tahun puluhan ribu admisi hipertensi dapat dicegah (ACSC 2024: 299,063 tertimbang), penanda langsung lemahnya kontrol di layanan primer dan target efisiensi terbesar. Kerusakan target-organ lazim di antara pasien terlayani, dan 23.4% pasien HT juga terkode diabetes (kluster kardiometabolik), menuntut layanan terintegrasi, bukan silo per penyakit. Kontrol tekanan darah, indikator mutu utama, tetap tidak terukur dari klaim.

13 Pilar K - Triangulasi Riskesdas/SKI: Prevalensi Komunitas vs Terlayani JKN

Pilar K · Treatment Gap Sejati · Cascade Komunitas (Riskesdas/SKI) · Awareness Gap · Choropleth Provinsi
Inti: Klaim JKN hanya menangkap yang terdiagnosis dan terlayani. Survei Riskesdas 2013/2018 dan SKI 2023 (ARC harmonized panel) mengukur prevalensi hipertensi sejati di masyarakat lewat pengukuran tekanan darah langsung, mengungkap treatment gap yang sebenarnya.
Definisi dan kaveat triangulasi
Prevalensi terukur (Riskesdas/SKI) = proporsi penduduk dewasa (>=18 tahun) dengan rata-rata tekanan darah sistolik >=140 atau diastolik >=90 mmHg, ATAU sedang minum obat antihipertensi (variabel final_hypertension_status, tertimbang weight_total). Terdiagnosis = pernah dinyatakan hipertensi oleh nakes. Kaveat: survei = terukur/self-report pada titik waktu; klaim JKN = terlayani-kumulatif dengan denominator peserta JKN, bukan seluruh penduduk. Definisi, denominator, dan sifat waktu berbeda, sehingga gap bersifat indikatif, bukan estimasi presisi. Sumber: ARC harmonized Data NCD 2013-2023.

13.1 Cascade hipertensi komunitas (Riskesdas 2013/2018, SKI 2023)

13.1.1 Prevalensi terukur dan awareness gap

13.1.2 Cascade di antara penderita (among HT)

Tabel K.1 - Cascade di Antara Penderita Hipertensi Terukur · Unit: % penderita HT terukur
Penduduk dewasa >=18 th, tertimbang nasional
Tahun survei Prevalensi terukur (%) Sadar/terdiagnosis (% penderita) Diobati (% penderita) Terkontrol (% penderita)
2013 28.5 33.1 10.4 2.3
2018 34.8 35.9 31.1 3.7
2023 32.1 27.0 22.5 4.3
Sumber: ARC harmonized Riskesdas 2013/2018 + SKI 2023

13.2 Prevalensi terukur menurut usia, jenis kelamin, dan kuintil kekayaan (SKI 2023)

13.3 Treatment gap nasional: komunitas terukur vs terdiagnosis vs terlayani JKN

Tabel K.2 - Treatment Gap Nasional Hipertensi (indikatif) · Unit: Pasien (proyeksi)
Komunitas terukur (SKI 2023) vs terdiagnosis vs terlayani JKN (klaim 2024)
Tahap Persen/Basis Perkiraan orang nasional
Prevalensi TERUKUR komunitas (SKI 2023) 32.1% dewasa 60,990,000
TERDIAGNOSIS (SKI 2023, self-report) 8.6% dewasa 16,340,000
TERLAYANI JKN 2024 (klaim I10-15) klaim peserta JKN 7,656,190
Penduduk dewasa diasumsikan ~190 juta. Denominator dan sifat waktu berbeda (terukur titik vs terlayani-tahunan JKN), gap INDIKATIF bukan presisi. Awareness gap SKI 2023: hanya 27% penderita sadar kondisinya.

13.4 Choropleth provinsi: prevalensi terukur komunitas vs served-rate JKN

Key takeaway K (triangulasi): SKI 2023 mengukur prevalensi hipertensi 32.1% pada dewasa (sekitar 60,990,000 orang nasional), tetapi hanya 8.6% terdiagnosis dan hanya 27% penderita yang sadar kondisinya. JKN melayani 7,656,190 pasien hipertensi pada 2024. Treatment gap sangat besar: mayoritas penderita di komunitas belum terjaring sistem, dan kontrol tekanan darah di komunitas hanya 4.3% di antara penderita. Prioritas kebijakan: skrining dan deteksi dini massal, bukan sekadar memperluas layanan kuratif. (Gap indikatif, denominator survei dan klaim berbeda.)

14 Keterbatasan dan langkah lanjut

Keterbatasan utama.
1. Klaim = populasi terlayani dan terdiagnosis, bukan prevalensi sejati (treatment gap besar, lihat Pilar K).
2. Kontrol tekanan darah TIDAK terukur dari klaim (tidak ada nilai vital/lab), indikator mutu utama hipertensi tak tersedia.
3. Mortalitas under-captured (PSTV18 terutama 2023-24; FKL14 hanya in-hospital); belum age-standardized; SMR belum dihitung.
4. Komorbiditas/komplikasi (FKL15A+SDX) adalah lower bound, coding sekunder sering tidak lengkap.
5. Data obat antihipertensi tidak tersedia, kepatuhan/PDC tak dapat dihitung (sebagian obat via kapitasi/Prolanis non-fee-for-service).
6. Triangulasi Riskesdas/SKI memakai definisi (terukur vs self-report vs klaim-terlayani) dan denominator berbeda, gap bersifat indikatif.

Belum termasuk edisi ini (fase lanjut): choropleth kabupaten/kota interaktif (skill indonesia-district-map), concentration index/Wagstaff formal, age-standardisasi mortalitas + SMR, model biaya GLM-Gamma, analisis kepatuhan obat (butuh data Non-Kapitasi/apotek), dan ITS/DiD kebijakan Prolanis/Posbindu.


Analisis sistem kesehatan berbasis data administratif agregat (Data Sampel BPJS Kesehatan) dan survei komunitas terharmonisasi (Riskesdas/SKI). ARC Institute - Health System Center, ARC2 CVD Institute.