Unit analisis (tercantum di tiap tabel/figur). Perhatikan badge Unit: … pada judul: (1) Peserta = orang, dihitung sekali (cakupan, demografi, prevalensi terlayani, biaya/peserta, ekuitas, multimorbiditas, mortalitas); (2) Kunjungan/Klaim = per layanan (volume utilisasi, diagnosis tersering, INA-CBG); (3) Episode rawat inap = per perawatan inap (geografi rujukan, CFR in-hospital).

Cara baca. Setiap angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang (PSTV15) dari sampel reguler BPJS, angka sampel mentah dilaporkan terpisah. Provinsi ditentukan dari tempat tinggal peserta (PSTV09), bukan lokasi pelayanan. Data klaim hanya menggambarkan populasi yang terlayani JKN, bukan seluruh penduduk.

Tentang. Telaah mendalam dan komparatif pemanfaatan JKN pada tiga provinsi terpadat di Jawa, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, yang bersama-sama menampung mayoritas peserta JKN nasional. Berbasis sampel reguler BPJS Kesehatan (rumah tangga, mewakili seluruh peserta), seluruh usia, didefinisikan menurut provinsi tempat tinggal. Membandingkan cakupan, demografi, utilisasi, pola penyakit, biaya, ekuitas (antarsegmen, kota-kabupaten, dan antarkabupaten dalam provinsi), geografi rujukan, dan mortalitas. Total kohort: 975,782 peserta sampel (tertimbang 138,132,862).

Peta pilar (navigasi): A Cakupan & demografi · B Utilisasi · C Pola penyakit (PTM, diagnosis, multimorbiditas) · D Biaya & konsentrasi · E Ekuitas (segmen, kota-desa, antarkabupaten) · F Geografi rujukan · G Mortalitas · H Benchmark & kesenjangan tata laksana.

1 Pilar A, Cakupan & Demografi

A · Peserta per Provinsi · Segmentasi (PBI/Non-PBI) · Kelas Rawat · Struktur Usia · Piramida
Pertanyaan: Berapa peserta JKN tiap provinsi, bagaimana komposisi segmen kepesertaan (subsidi vs mandiri/pekerja), kelas rawat yang dipilih, dan struktur usia penduduknya.

1.1 Peserta per provinsi

Tabel A.1: Peserta JKN per Provinsi · Unit: peserta
Provinsi Peserta (sampel) Peserta (tertimbang) % dari 3 provinsi
Jawa Barat 351,137 53,529,948 38.8
Jawa Timur 293,556 43,913,181 31.8
Jawa Tengah 331,089 40,689,733 29.5
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15

1.2 Segmentasi kepesertaan

Tabel A.2: Komposisi Segmen per Provinsi · Unit: peserta
Provinsi Segmen Peserta (tertimbang) %
Jawa Barat Non-PBI 15,391,661 47.8
Jawa Barat PBI (Disubsidi) 16,804,498 52.2
Jawa Tengah Non-PBI 10,969,133 40.8
Jawa Tengah PBI (Disubsidi) 15,912,839 59.2
Jawa Timur Non-PBI 10,253,263 36.8
Jawa Timur PBI (Disubsidi) 17,602,602 63.2
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15

1.3 Kelas rawat

Tabel A.3: Komposisi Kelas Rawat per Provinsi · Unit: peserta
Provinsi Kelas rawat Peserta (tertimbang) %
Jawa Barat Kelas I 7,890,588 24.5
Jawa Barat Kelas II 3,968,733 12.3
Jawa Barat Kelas III 20,323,802 63.2
Jawa Tengah Kelas I 2,991,811 11.1
Jawa Tengah Kelas II 5,230,041 19.5
Jawa Tengah Kelas III 18,652,546 69.4
Jawa Timur Kelas I 4,338,967 15.6
Jawa Timur Kelas II 3,427,840 12.3
Jawa Timur Kelas III 20,079,316 72.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15

1.4 Struktur usia

Tabel A.4: Struktur Usia per Provinsi · Unit: peserta
Provinsi Kelompok usia Peserta (tertimbang) %
Jawa Barat 0-4 908,194 2.8
Jawa Barat 5-14 4,151,544 12.9
Jawa Barat 15-44 16,395,046 50.9
Jawa Barat 45-59 6,222,163 19.3
Jawa Barat 60+ 4,519,689 14.0
Jawa Tengah 0-4 588,968 2.2
Jawa Tengah 5-14 3,040,043 11.3
Jawa Tengah 15-44 12,757,087 47.5
Jawa Tengah 45-59 5,408,404 20.1
Jawa Tengah 60+ 5,087,790 18.9
Jawa Timur 0-4 555,885 2.0
Jawa Timur 5-14 3,015,920 10.8
Jawa Timur 15-44 13,001,649 46.7
Jawa Timur 45-59 6,007,303 21.6
Jawa Timur 60+ 5,275,449 18.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15

1.5 Struktur usia peserta terdaftar (semua peserta)

Tambahan telaah dua-model. Struktur usia di atas dihitung dari peserta yang pernah berkunjung, sehingga dapat terdistorsi oleh pola kunjungan (lansia lebih sering berkunjung, anak muda yang hanya memakai FKTP juga banyak). Figur berikut menghitung struktur usia dari tabel kepesertaan (seluruh peserta terdaftar, usia pada tahun rujukan 2023), tidak tergantung pola kunjungan, sebagai struktur usia program yang sebenarnya.

Tabel A.4b: Struktur Usia, Pengunjung vs Seluruh Peserta Terdaftar (2023) · Unit: peserta
Provinsi Kelompok usia % berbasis pengunjung % berbasis peserta terdaftar
Jawa Barat 0-4 2.8 2.4
Jawa Barat 5-14 12.9 12.6
Jawa Barat 15-44 50.9 50.9
Jawa Barat 45-59 19.3 18.5
Jawa Barat 60+ 14.0 15.7
Jawa Tengah 0-4 2.2 2.2
Jawa Tengah 5-14 11.3 12.0
Jawa Tengah 15-44 47.5 47.0
Jawa Tengah 45-59 20.1 19.5
Jawa Tengah 60+ 18.9 19.3
Jawa Timur 0-4 2.0 2.0
Jawa Timur 5-14 10.8 11.4
Jawa Timur 15-44 46.7 45.7
Jawa Timur 45-59 21.6 21.1
Jawa Timur 60+ 18.9 19.8
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15 | basis pengunjung dapat melebih/kurang-wakilkan kelompok usia tertentu

1.6 Piramida usia-jenis kelamin

Inti cakupan & demografi: Jawa Barat menampung peserta JKN terbanyak, namun struktur usianya termuda; Jawa Tengah dan Jawa Timur lebih menua. Berdasarkan struktur usia seluruh peserta terdaftar (bukan hanya pengunjung), porsi 60+ adalah 15.7% (Jabar), 19.3% (Jateng), dan 19.8% (Jatim), selisih yang akan tercermin pada beban PTM, utilisasi, dan biaya per kapita. Ketiga provinsi sama-sama didominasi Kelas III dan porsi PBI yang besar, menandakan basis peserta bersubsidi yang luas, relevan untuk perencanaan kapitasi dan target Prolanis.

2 Pilar B, Utilisasi

B · Kunjungan per Kapita · Komposisi Tingkat Layanan · Tren Tahunan · Gradien Usia
Pertanyaan: Seberapa intensif peserta tiap provinsi memakai layanan JKN, bagaimana komposisinya antara primer (FKTP) dan rujukan (FKRTL rawat jalan/inap), trennya sepanjang 2015-2024, dan bagaimana gradiennya menurut usia.

2.1 Per kapita per provinsi

Tabel B.1: Utilisasi per Peserta yang Pernah Mengakses Layanan (kumulatif 10 tahun) · Unit: rata-rata per pengunjung
Provinsi FKTP/peserta RJ FKRTL/peserta RI FKRTL/peserta Total kunjungan/peserta % pernah rawat inap % pernah FKRTL
Jawa Barat 13.04 5.19 0.66 18.89 35.0 53.7
Jawa Tengah 15.76 5.95 0.72 22.43 37.6 53.3
Jawa Timur 15.08 5.14 0.67 20.89 35.7 52.2
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15 | penyebut = peserta yang pernah berkunjung; angka per SELURUH peserta terdaftar (laju utilisasi WHO) ada di Tabel B.3

2.2 Tren kunjungan tahunan

2.3 Tren menurut tingkat layanan

Tabel B.3: Kunjungan per Kapita per Tahun · Unit: kunjungan/peserta
Tahun Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur
2015 0.32 0.38 0.35
2016 0.46 0.53 0.44
2017 0.83 1.00 0.95
2018 1.00 1.29 1.11
2019 1.14 1.51 1.28
2020 0.93 1.30 1.16
2021 0.96 1.35 1.24
2022 1.32 1.70 1.51
2023 1.64 1.97 1.81
2024 1.96 2.18 2.06
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15 | kunjungan tahunan dibagi peserta tertimbang provinsi

2.4 Gradien usia

Tabel B.4: Utilisasi menurut Kelompok Usia per Provinsi · Unit: kunjungan/peserta
Provinsi Usia FKTP/peserta FKRTL/peserta Total/peserta % rawat inap
Jawa Barat 0-4 5.5 3.5 9.0 56.8
Jawa Barat 5-14 11.2 3.0 14.2 26.4
Jawa Barat 15-44 11.6 3.7 15.2 32.8
Jawa Barat 45-59 16.4 9.0 25.4 33.4
Jawa Barat 60+ 19.0 13.6 32.6 45.0
Jawa Tengah 0-4 5.4 3.7 9.0 56.0
Jawa Tengah 5-14 12.5 2.9 15.4 28.8
Jawa Tengah 15-44 13.1 3.7 16.9 35.6
Jawa Tengah 45-59 19.7 9.7 29.4 34.3
Jawa Tengah 60+ 23.8 14.6 38.4 48.2
Jawa Timur 0-4 4.9 3.0 7.9 60.2
Jawa Timur 5-14 11.8 2.4 14.3 28.3
Jawa Timur 15-44 12.9 3.4 16.3 33.7
Jawa Timur 45-59 18.8 8.4 27.1 32.1
Jawa Timur 60+ 21.6 12.4 34.0 43.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15
Inti utilisasi: Jawa Tengah memiliki intensitas utilisasi tertinggi per peserta yang berkunjung (~22 kunjungan vs ~19-21 lainnya), konsisten dengan struktur usianya yang lebih tua. Angka ini adalah per pengunjung, bukan per seluruh peserta terdaftar (laju utilisasi tahunan terhadap seluruh peserta jauh lebih rendah, lihat Tabel B.3). Volume tahunan menurun tajam pada 2020-2021 (pandemi) lalu pulih. Gradien usia sangat curam, peserta 60+ memakai layanan ~2x lipat usia produktif, sehingga provinsi yang lebih menua menghadapi tekanan permintaan layanan yang lebih besar.

3 Pilar C, Pola Penyakit

C · Diagnosis Tersering · Prevalensi Terlayani PTM · Gradien Usia & Jenis Kelamin · Multimorbiditas
Pertanyaan: Penyakit apa yang paling sering membawa peserta ke layanan JKN, seberapa besar prevalensi terlayani penyakit tidak menular (PTM) utama, bagaimana gradiennya menurut usia dan jenis kelamin, dan seberapa lazim multimorbiditas.

3.1 Diagnosis tersering

Tabel C.1: Diagnosis Tersering per Provinsi (kode + nama) · Unit: kunjungan
Provinsi ICD-10 Penyakit Kunjungan (sampel) Kunjungan (tertimbang)
Jawa Barat J06 Acute upper respiratory infection, unspecified 294,162 28,754,860
Jawa Barat J00 Acute nasopharyngitis [common cold] 152,387 15,578,289
Jawa Barat K30 Dyspepsia 124,918 13,362,935
Jawa Barat I10 Essential (primary) hypertension 126,119 13,330,692
Jawa Barat M79 Myalgia 119,423 12,788,945
Jawa Barat R50 Fever, unspecified 108,815 10,910,502
Jawa Barat K04 Pulpitis 90,017 9,876,681
Jawa Barat E11 Non-insulin-dependent diabetes mellitus with unspecified complications 88,039 9,766,507
Jawa Tengah J06 Acute upper respiratory infection, unspecified 267,991 18,923,230
Jawa Tengah E11 Non-insulin-dependent diabetes mellitus with unspecified complications 255,845 18,442,063
Jawa Tengah J00 Acute nasopharyngitis [common cold] 210,650 16,090,903
Jawa Tengah I10 Essential (primary) hypertension 169,169 13,371,584
Jawa Tengah M79 Myalgia 134,595 10,914,968
Jawa Tengah K30 Dyspepsia 93,529 7,258,632
Jawa Tengah R51 Headache 83,219 7,107,531
Jawa Tengah R50 Fever, unspecified 100,646 7,075,637
Jawa Timur J06 Acute upper respiratory infection, unspecified 231,967 19,228,483
Jawa Timur E11 Non-insulin-dependent diabetes mellitus with unspecified complications 168,710 14,720,006
Jawa Timur I10 Essential (primary) hypertension 143,303 13,839,384
Jawa Timur M79 Myalgia 120,326 12,431,673
Jawa Timur J00 Acute nasopharyngitis [common cold] 128,253 10,881,834
Jawa Timur K29 Gastritis, unspecified 84,630 8,710,146
Jawa Timur K04 Pulpitis 90,501 8,132,210
Jawa Timur R50 Fever, unspecified 78,853 7,331,003
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15

3.2 Prevalensi terlayani PTM

Tabel C.2: Prevalensi Terlayani PTM (basis pengunjung) per Provinsi · Unit: peserta
Provinsi Kondisi (PTM) Peserta (tertimbang) % pengunjung
Jawa Barat Diabetes 1,566,379 5.6
Jawa Tengah Diabetes 1,516,184 7.6
Jawa Timur Diabetes 1,778,972 8.1
Jawa Barat Gagal Jantung 888,530 3.3
Jawa Tengah Gagal Jantung 764,936 3.6
Jawa Timur Gagal Jantung 573,089 2.8
Jawa Barat Ginjal Kronik 448,359 1.6
Jawa Tengah Ginjal Kronik 381,677 1.8
Jawa Timur Ginjal Kronik 366,165 1.6
Jawa Barat Hipertensi 4,322,244 15.1
Jawa Tengah Hipertensi 3,560,567 15.6
Jawa Timur Hipertensi 3,647,767 15.8
Jawa Barat Jantung Iskemik 972,665 3.6
Jawa Tengah Jantung Iskemik 718,623 3.6
Jawa Timur Jantung Iskemik 691,579 3.4
Jawa Barat Kanker 480,389 2.0
Jawa Tengah Kanker 366,291 1.9
Jawa Timur Kanker 443,370 2.1
Jawa Barat Paru Kronik 1,564,490 6.3
Jawa Tengah Paru Kronik 1,338,902 6.6
Jawa Timur Paru Kronik 1,324,884 6.1
Jawa Barat Stroke 744,945 2.7
Jawa Tengah Stroke 700,917 3.2
Jawa Timur Stroke 740,396 3.3
Jawa Barat TB 1,345,530 4.8
Jawa Tengah TB 550,007 2.4
Jawa Timur TB 620,007 2.5
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15

3.3 Cakupan terhadap seluruh peserta (gap program)

Tambahan telaah dua-model (denominator yang jujur). Prevalensi terlayani di atas memakai peserta yang berkunjung sebagai penyebut. Untuk mengukur cakupan program JKN yang sebenarnya, penyebut yang tepat adalah seluruh peserta terdaftar (termasuk yang tak pernah berkunjung; hanya ~60-66% peserta yang pernah mengakses layanan). Dengan penyebut ini, cakupan terlayani hipertensi turun menjadi ~8% (dari ~13% di antara pengunjung). Inilah selisih yang relevan saat dibandingkan dengan prevalensi populasi survei.

Tabel C.2b: Cakupan Terlayani PTM, Dua Penyebut · Unit: peserta
Provinsi Kondisi (PTM) % di antara pengunjung % di antara seluruh peserta terdaftar
Jawa Barat Diabetes 4.9 2.9
Jawa Tengah Diabetes 5.6 3.7
Jawa Timur Diabetes 6.4 4.1
Jawa Barat Gagal Jantung 2.8 1.7
Jawa Tengah Gagal Jantung 2.8 1.9
Jawa Timur Gagal Jantung 2.1 1.3
Jawa Barat Ginjal Kronik 1.4 0.8
Jawa Tengah Ginjal Kronik 1.4 0.9
Jawa Timur Ginjal Kronik 1.3 0.8
Jawa Barat Hipertensi 13.4 8.1
Jawa Tengah Hipertensi 13.2 8.8
Jawa Timur Hipertensi 13.1 8.3
Jawa Barat Jantung Iskemik 3.0 1.8
Jawa Tengah Jantung Iskemik 2.7 1.8
Jawa Timur Jantung Iskemik 2.5 1.6
Jawa Barat Kanker 1.5 0.9
Jawa Tengah Kanker 1.4 0.9
Jawa Timur Kanker 1.6 1.0
Jawa Barat Paru Kronik 4.9 2.9
Jawa Tengah Paru Kronik 5.0 3.3
Jawa Timur Paru Kronik 4.8 3.0
Jawa Barat Stroke 2.3 1.4
Jawa Tengah Stroke 2.6 1.7
Jawa Timur Stroke 2.7 1.7
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15 | penyebut peserta = proyeksi tertimbang seluruh peserta terdaftar, termasuk yang tak pernah berkunjung

3.4 Gradien usia (PTM utama)

3.5 Gradien jenis kelamin

3.6 Multimorbiditas

Tabel C.5: Multimorbiditas per Provinsi · Unit: peserta
Provinsi Rerata jumlah PTM % multimorbiditas (>=2 PTM)
Jawa Barat 0.44 10.1
Jawa Tengah 0.46 11.1
Jawa Timur 0.45 10.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15
Inti pola penyakit: Beban terlayani didominasi ISPA akut dan hipertensi; di antara pengunjung, prevalensi terlayani hipertensi (~13%) dan diabetes adalah yang tertinggi di antara PTM dan naik tajam menurut usia. Namun terhadap seluruh peserta terdaftar, cakupan hipertensi hanya ~8% dan diabetes ~3-4%, menegaskan kesenjangan tata laksana yang besar (dibahas di Pilar H). Jawa Tengah & Jawa Timur menunjukkan prevalensi PTM dan multimorbiditas sedikit lebih tinggi, sejalan dengan populasinya yang lebih tua. Konsentrasi multimorbiditas pada ~11% peserta menandai sasaran prioritas Prolanis dan manajemen kronis terpadu.

4 Pilar D, Biaya & Konsentrasi

D · Belanja FKRTL Total · Biaya per Kapita · Tren · INA-CBG Tersering · Konsentrasi (Pareto/Lorenz/Gini)
Pertanyaan: Berapa belanja FKRTL JKN tiap provinsi, biaya per kapita, trennya, kelompok kasus (INA-CBG) termahal, dan seberapa terkonsentrasi biaya pada sebagian kecil pasien berbiaya tinggi.

4.1 Belanja & per kapita

Tabel D.1: Belanja FKRTL & Konsentrasi per Provinsi (kumulatif 2015-2024) · Unit: peserta/biaya
Provinsi Total FKRTL (miliar Rp) Biaya/pengguna FKRTL (Rp) % rawat inap Pangsa top-10% pasien (%) top-1% (%)
Jawa Barat 136,096 9,287,962 35.0 55.7 21.4
Jawa Tengah 111,528 9,534,663 37.6 53.7 19.1
Jawa Timur 103,897 9,284,381 35.7 53.4 18.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15 | biaya/pengguna FKRTL = rata-rata di antara peserta dengan biaya FKRTL (~39% peserta terdaftar); biaya per SELURUH peserta terdaftar di Tabel D.1b. Biaya FKTP kapitasi tak tampak per-klaim.

4.1.1 Biaya per kapita menurut penyebut

Tambahan telaah dua-model. Angka “biaya per peserta” sangat bergantung pada penyebut. Hanya ~39% peserta terdaftar yang memiliki biaya FKRTL (sisanya hanya FKTP-kapitasi atau tak berkunjung). Membagi total belanja dengan pengguna FKRTL menghasilkan ~9.3 juta Rp; dengan seluruh pengunjung ~4 juta Rp; dengan seluruh peserta terdaftar ~2.4-2.7 juta Rp (kumulatif 10 tahun). Selisih ~3.7x ini penting saat membandingkan antarprovinsi atau membuat pernyataan ekuitas.

Tabel D.1b: Biaya per Kapita menurut Penyebut · Unit: Rp/peserta
Provinsi Total FKRTL (miliar Rp) Per pengguna FKRTL (Rp) Per pengunjung (Rp) Per seluruh peserta (Rp) % peserta pernah berkunjung
Jawa Barat 136,096 9,287,962 4,227,037 2,542,434 60.1
Jawa Tengah 111,528 9,534,663 4,148,754 2,740,938 66.1
Jawa Timur 103,897 9,284,381 3,729,766 2,365,967 63.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15 | total dibagi pengguna FKRTL / pengunjung / seluruh peserta terdaftar

4.2 Tren belanja

4.3 INA-CBG tersering

4.4 Konsentrasi biaya (Lorenz & Gini)

Konsentrasi biaya

Pangsa top-x% pasien = porsi total belanja FKRTL yang diserap oleh x% pasien dengan biaya tertinggi. Kurva Lorenz memetakan pangsa kumulatif biaya terhadap pangsa kumulatif peserta; semakin cekung, semakin terkonsentrasi. Koefisien Gini biaya meringkas konsentrasi (0 = merata sempurna, 1 = sepenuhnya terkonsentrasi pada satu peserta).

Tabel D.4: Konsentrasi Biaya FKRTL per Provinsi · Unit: peserta x biaya
Provinsi Gini biaya FKRTL Pangsa top-10% (%) Pangsa top-1% (%)
Jawa Barat 0.685 55.7 21.4
Jawa Tengah 0.662 53.7 19.1
Jawa Timur 0.665 53.4 18.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15
Inti biaya: Belanja FKRTL terkonsentrasi tajam, ~10% pasien menyerap >53% biaya dan Gini biaya ~0.66-0.69 di ketiga provinsi. Jawa Barat menunjukkan konsentrasi tertinggi (top-10% 55.7%, Gini 0.685). Penyakit kronis (dialisis, penyakit kronis kecil) termasuk pembelanja terbesar, menandakan bahwa pengelolaan PTM hulu di layanan primer berpotensi besar mengurangi tekanan biaya rujukan.

5 Pilar E, Ekuitas

E · Segmen (SES) · Kota vs Kabupaten · Ketimpangan Antarkabupaten dalam Provinsi
Pertanyaan: Apakah pemanfaatan dan biaya merata antar-kelompok sosial-ekonomi (segmen kepesertaan), antara kota dan kabupaten, dan antar-kabupaten/kota di dalam tiap provinsi. Ketimpangan dalam-provinsi sering menjadi target intervensi yang lebih tepat daripada rerata provinsi.

5.1 Antarsegmen (SES)

Tabel E.1: Utilisasi & Biaya menurut Segmen (PBI vs Non-PBI) · Unit: peserta
Provinsi Segmen Rerata kunjungan % rawat inap Biaya/peserta (Rp)
Jawa Barat Non-PBI 20 38.8 10,530,388
Jawa Barat PBI (Disubsidi) 17 28.3 7,206,962
Jawa Tengah Non-PBI 24 41.2 11,045,390
Jawa Tengah PBI (Disubsidi) 20 30.6 7,662,920
Jawa Timur Non-PBI 22 40.8 10,522,014
Jawa Timur PBI (Disubsidi) 19 27.2 7,747,266
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15 | Non-PBI memakai & membelanjakan lebih banyak per kapita

5.2 Kota vs kabupaten

Tabel E.2: Utilisasi & Biaya Kota vs Kabupaten · Unit: peserta
Provinsi Wilayah Rerata kunjungan % rawat inap Biaya/peserta (Rp)
Jawa Barat Kabupaten 18 34.6 3,759,234
Jawa Barat Kota 21 36.4 5,931,696
Jawa Tengah Kabupaten 22 37.3 3,845,747
Jawa Tengah Kota 27 39.9 6,699,464
Jawa Timur Kabupaten 20 35.2 3,260,900
Jawa Timur Kota 27 38.2 5,978,944
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15

5.3 Ketimpangan antarkabupaten

Tabel E.3: Ketimpangan Antarkabupaten dalam Provinsi · rentang antar-kab/kota
Provinsi Jumlah kab/kota Kunjungan min Kunjungan maks Rasio maks:min Biaya/peserta min (Rp) Biaya/peserta maks (Rp)
Jawa Barat 27 15.0 24.9 1.7 6,875,300 12,951,763
Jawa Tengah 35 16.1 32.0 2.0 7,004,963 13,488,319
Jawa Timur 38 15.2 33.7 2.2 6,514,020 12,202,631
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15 | kab/kota dengan >=30 pasien sampel

Inti ekuitas: Ketimpangan antar-kabupaten/kota di dalam tiap provinsi (rasio utilisasi maks:min hingga 2.2x di Jawa Timur) sering lebih besar daripada selisih antarprovinsi. Peserta Non-PBI dan kota memakai dan membelanjakan lebih banyak per kapita daripada PBI dan kabupaten, pola yang konsisten dengan akses geografis dan kemampuan membayar selisih (naik kelas). Implikasinya, target intervensi pemerataan akses sebaiknya pada tingkat kabupaten/kota, bukan hanya provinsi.

6 Pilar F, Geografi Rujukan

F · Rawat Inap di Luar Provinsi Tempat Tinggal · Aliran Pasien Keluar Wilayah
Pertanyaan: Seberapa sering peserta harus dirawat inap di luar provinsi tempat tinggalnya, proksi untuk aliran pasien keluar wilayah dan ketimpangan distribusi RS rujukan.

Tabel F.1: Rawat Inap di Luar Provinsi Tempat Tinggal · Unit: episode rawat inap
Provinsi (tempat tinggal) Rawat inap (sampel) Dalam provinsi Luar provinsi % luar provinsi
Jawa Tengah 181,497 169,028 12,469 6.9
Jawa Timur 148,300 139,856 8,444 5.7
Jawa Barat 166,484 149,715 16,769 10.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15 | proksi aliran pasien keluar wilayah
Inti geografi rujukan: Jawa Barat menunjukkan proporsi rawat inap lintas provinsi tertinggi (~10%), konsisten dengan kedekatannya ke RS rujukan nasional di DKI Jakarta. Aliran keluar wilayah ini menambah beban perjalanan bagi peserta dan menandakan ruang untuk penguatan kapasitas RS rujukan regional (Permenkes 79/2014 tentang sistem rujukan).

7 Pilar G, Mortalitas

G · Mortalitas Kohort · CFR In-Hospital · Gradien Usia
Pertanyaan: Bagaimana pola mortalitas di antara peserta terlayani, baik kematian yang tercatat pada kohort maupun case-fatality rate (CFR) rawat inap, dan bagaimana gradiennya menurut usia.

7.1 CFR in-hospital & kohort

Tabel G.1: Mortalitas per Provinsi · Unit: episode rawat inap / peserta
Provinsi Rawat inap Meninggal in-hospital CFR in-hospital (%) Kematian kohort (%)
Jawa Tengah 181,497 6,147 3.39 6.06
Jawa Timur 148,300 5,371 3.62 6.14
Jawa Barat 166,484 4,323 2.60 4.50
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, sampel reguler (rumah tangga), penduduk 3 provinsi (PSTV09), tertimbang PSTV15 | CFR dari FKL14=3; kematian kohort dari tahun meninggal tercatat

7.2 Gradien usia

Inti mortalitas: CFR rawat inap (pembilang dibatasi episode inap) berkisar 2.6-3.6% (tertinggi Jawa Timur), lebih rendah ~0.2-0.3 pp dari hitungan awal yang sempat memasukkan kematian berkode rawat jalan. Kematian tercatat kohort meningkat tajam pada usia 60+, konsisten dengan struktur usia yang lebih tua di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Angka kematian kohort kini memakai tahun-meninggal maksimum lintas seluruh baris kepesertaan (memulihkan ~14% kematian yang sebelumnya hilang). Tetap undercount karena hanya menangkap kematian in-hospital atau yang tahun meninggalnya tercatat; mortalitas komunitas tidak tercakup.

8 Pilar H, Benchmark & Kesenjangan Tata Laksana

H · Pembanding SKI 2023 / BPS / WHO · Kesenjangan Deteksi & Tata Laksana
Pertanyaan: Bagaimana prevalensi terlayani JKN dibandingkan prevalensi populasi sebenarnya (survei), untuk memperkirakan kesenjangan deteksi dan tata laksana (treatment gap).
Tabel H.1: Prevalensi Terlayani JKN vs Pembanding Populasi · Unit: peserta vs penduduk
Indikator Terlayani JKN (3 provinsi) Pembanding populasi (SKI 2023 / BPS) Interpretasi (gap)
Hipertensi (cakupan terlayani) ~8% seluruh peserta terdaftar (~13% di antara pengunjung) Prevalensi terukur dewasa ~30%; hanya ~8.6% pernah didiagnosis dokter Cakupan ~8% vs prevalensi ~30% = sekitar tiga perempat penyandang belum terjangkau lewat klaim JKN
Diabetes (cakupan terlayani) ~3-4% seluruh peserta terdaftar (~5-6% pengunjung) Prevalensi nasional ~11.7% (Riskesdas/SKI) Cakupan jauh di bawah prevalensi terukur; banyak DM belum terjaring/terlayani
Penduduk 60+ (struktur usia) 15.7-19.8% peserta terdaftar Penduduk lansia nasional 11.75% (BPS 2023) Jateng/Jatim di atas rata-rata lansia nasional (menua)
Multimorbiditas (>=2 PTM) ~10-11% peserta pengunjung Meningkat tajam pada lansia (SKI 2023) Beban kronis terkonsentrasi, sasaran Prolanis
Sumber pembanding: SKI 2023 (Survei Kesehatan Indonesia), Riskesdas, BPS Statistik Penduduk Lanjut Usia 2023. Angka terlayani JKN dari analisis ini.
Inti benchmark: Cakupan terlayani JKN jauh di bawah prevalensi terukur populasi. Dengan penyebut yang tepat (seluruh peserta terdaftar), hipertensi hanya ~8% terlayani vs ~30% terukur (hanya ~8.6% terdiagnosis dokter menurut SKI 2023), menandai kesenjangan deteksi dan tata laksana yang sangat besar, sekitar tiga perempat penyandang belum terjangkau, terutama untuk PTM tanpa gejala. Memakai basis pengunjung (~13%) akan mengecilkan gap ini secara keliru. Penguatan skrining dan Prolanis di FKTP adalah ungkit utama untuk menutup gap ini.

9 Kerangka indikator & rujukan

Kerangka indikator

Cakupan/utilisasi/biaya: indikator pemanfaatan JKN mengikuti kerangka monitoring Universal Health Coverage (WHO/Bank Dunia) dan laporan BPJS Kesehatan. Ekuitas: dekomposisi antarsegmen, kota-desa, dan antar-kabupaten mengikuti pendekatan WHO Health Equity Assessment Toolkit (HEAT) dan konsentrasi biaya (Lorenz/Gini). Rujukan: sistem rujukan berjenjang Permenkes 001/2012 dan Permenkes 79/2014. PTM & Prolanis: Program Pengelolaan Penyakit Kronis BPJS, sasaran hipertensi & diabetes. Pembanding populasi: SKI 2023, Riskesdas, BPS Statistik Penduduk Lanjut Usia.

10 Keterbatasan

  1. Klaim = populasi terlayani, bukan beban penyakit atau populasi sejati; peserta yang tak pernah mengakses layanan tidak tertangkap.
  2. Provinsi = tempat tinggal peserta (PSTV09); pelayanan dapat terjadi di provinsi lain (lihat Pilar F), sehingga belanja per provinsi adalah belanja peserta-residen, bukan belanja faskes provinsi.
  3. Demografi berasal dari tabel kepesertaan (member-join), bukan per-klaim; biaya FKTP berbasis kapitasi sehingga belanja primer tidak tampak sebagai biaya per-klaim, belanja total sebenarnya lebih besar dari angka FKRTL di sini.
  4. Mortalitas in-hospital (FKL14=3) dan kematian kohort tercatat keduanya undercount; kematian komunitas tidak tercakup.
  5. Ketimpangan antar-kab dibatasi kab/kota dengan >=30 pasien sampel; kab/kota kecil dengan sampel tipis dieksklusi.
  6. Prevalensi terlayani PTM adalah proksi dari kode diagnosis klaim, bukan pengukuran klinis (tekanan darah, HbA1c), sehingga underestimasi kasus tak terdeteksi.

Telaah komparatif JKN tiga provinsi Jawa berbasis sampel reguler BPJS Kesehatan, tertimbang PSTV15. Seluruh angka menggambarkan populasi yang terlayani JKN, bukan seluruh penduduk. ARC1D Health Accessibility, Arc Research Center.