Kesehatan Maternal (KIA-Ibu) di Indonesia
Keselamatan ibu saat hamil dan bersalin bergantung pada dua hal sekaligus: apakah layanan benar-benar terpakai dan dibiayai, dan apakah sistem kesehatan punya kapasitas untuk merawat ibu ketika keadaan menjadi gawat. Topik kesehatan maternal ini ditinjau dari dua sisi yang saling melengkapi.
Analisis sisi permintaan membaca pola klaim dari Data Sampel BPJS Kesehatan 2015 sampai 2024: ibu yang terlayani, mode persalinan dan rasio sesar, antenatal dan nifas, morbiditas berat, biaya, kematian, dan keadilan akses. Analisis sisi pasokan membaca kapasitas sistem dengan kerangka enam pilar WHO: tenaga, fasilitas, obat, informasi, pembiayaan, dan tata kelola. Keduanya menggambarkan populasi yang terlayani JKN, bukan prevalensi sebenarnya di seluruh penduduk; layanan primer bidan dan Puskesmas sebagian besar dibiayai kapitasi sehingga tidak muncul sebagai klaim per layanan, dan angka kematian hanya mencakup kematian di rumah sakit, sehingga angka terlayani adalah batas bawah dari beban yang nyata.
Temuan utama
- Kohort analisis mencakup 523.092 ibu sampel, setara sekitar 15,5 juta ibu pada proyeksi nasional tertimbang, dengan mayoritas (38,8 persen) berada di kelompok persalinan dan antenatal normal dan sisanya membawa beban komplikasi.
- Rasio sesar di antara persalinan di rumah sakit naik tajam dari 49,5 persen pada 2015 menjadi sekitar 66 persen pada 2024, sejalan dengan tren nasional, dengan sebagian besar potensi pengurangan ada pada kelompok kehamilan term tunggal sefalik (Robson R1 sampai R4).
- Sesar jauh lebih mahal per episode daripada persalinan vaginal (rata-rata Rp 4,15 juta dibanding Rp 2,55 juta), sehingga bauran sesar yang tinggi menjadi pendorong biaya maternal yang utama.
- Beban morbiditas berat didominasi hipertensi dan preeklampsia, lalu perdarahan obstetrik dan sepsis nifas, mencerminkan tiga penyebab langsung kematian ibu yang paling utama.
- Kontinuitas layanan yang terekam JKN rendah: tercatat 287 kematian ibu di rumah sakit (batas bawah, bukan rasio kematian ibu nasional), dan ibu Non-PBI lebih sering menjalani sesar (62,4 persen) dibanding ibu PBI (56,6 persen), menandai gradien sosioekonomi.
- Dari sisi pasokan, garda depan maternal adalah bidan dengan kepadatan sekitar 119,6 per 100.000 penduduk, jauh lebih merata daripada dokter obstetri-ginekolog (Sp.OG) yang hanya 1,74 per 100.000 penduduk dan sangat terkonsentrasi.
- Kapasitas penyelamat nyawa belum merata: 37,7 persen kabupaten/kota tidak memiliki rumah sakit mampu PONEK dan 30,4 persen tidak memiliki bank darah rumah sakit, dua hal yang menentukan keselamatan ibu pada perdarahan dan eklampsia, sementara belanja JKN maternal mencapai sekitar Rp 10,8 triliun pada 2024.
Pilih analisis
Dua laporan tersedia untuk topik ini. Pilih sudut pandang yang ingin Anda telusuri.