Tentang laporan ini. Ini adalah analisis sisi pasokan
(kapasitas sistem kesehatan) untuk pneumonia dan infeksi saluran
pernapasan bawah (lower-respiratory infection, kode ICD-10 J12-J18) di
Indonesia. Pertanyaannya bukan “berapa banyak pasien yang terlayani”,
melainkan apakah sistem punya tenaga (dokter paru, dokter anak,
internis, intensivis), fasilitas (layanan paru, ICU/PICU/NICU dengan
kemampuan oksigen dan ventilator), obat, informasi, pembiayaan, dan tata
kelola untuk merawat pneumonia, dan seberapa timpang sebarannya secara
geografis. Pneumonia bersifat bimodal, menimpa terutama
balita (sebagian besar dapat dicegah vaksin PCV) dan lansia, dan
merupakan salah satu penyebab kematian dan rawat inap akut terbesar.
Kerangka: enam pilar sistem kesehatan WHO + sintesis
Ketersediaan, Keterjangkauan, Mutu
(Availability-Accessibility-Quality, AAQ). Pembiayaan dihitung
langsung dari klaim, tidak bergantung pada laporan sisi permintaan.
Peta pilar (WHO building blocks): 1 Penyediaan layanan
(RS layanan paru, anak, ICU/PICU/NICU) · 2 Tenaga kesehatan
(Sp.P, Sp.A, Sp.PD, intensivis) · 3 Sistem informasi · 4
Akses obat esensial (antibiotik, oksigen, vaksin PCV) · 5
Pembiayaan (belanja JKN pneumonia) · 6 Kepemimpinan & tata
kelola · diikuti Skor AAQ dan Keterbatasan data.
Ringkasan
eksekutif
0.516
Dokter Spesialis Paru (Sp.P) nasional = 0.516 per 100.000
penduduk (1 per 193,759 jiwa). Beban pneumonia berat bertumpu pada
internis & dokter anak, bukan tenaga paru khusus.
29.4%
Kabupaten/kota tanpa layanan paru/pulmonologi di RS.
Penatalaksanaan pneumonia berat praktis tergantung tenaga umum di luar
kota besar.
1,813
RS memiliki PICU (intensif anak) = 1,813 dari 3,275 RS (55.4%).
Pneumonia berat pada balita memerlukan dukungan ventilasi yang langka.
30.5%
Kabupaten/kota tanpa satu pun PICU. Anak dengan pneumonia berat
harus dirujuk jauh untuk perawatan intensif.
Rp 4.9 T
Belanja JKN untuk pneumonia (J12-J18) pada 2024 (proyeksi
nasional tertimbang); biaya rata-rata Rp 3.7 juta per episode.
Kumulatif 2015-2024 ~Rp 24.3 triliun.
Temuan inti. Kapasitas sisi pasokan untuk pneumonia di Indonesia
menunjukkan pola tenaga paru yang langka dan terkonsentrasi di Jawa
dan perkotaan, sementara kemampuan perawatan intensif (terutama
PICU untuk anak) timpang antarwilayah, dan beban pembiayaan tumbuh
cepat. Indonesia hanya memiliki 1,468 dokter spesialis paru
(0.516 per 100.000 penduduk, 1 per 193,759 jiwa), dengan 31.5%
kabupaten/kota tanpa dokter paru (Gini 0.712). Layanan paru rumah
sakit ada di 1,878 RS (57.3%) dan PICU hanya di 1,813 RS
(55.4%), dengan 30.5% kabupaten tanpa PICU. Pada saat yang sama,
belanja JKN untuk pneumonia mencapai Rp 4.9 triliun pada 2024,
jauh meningkat dari ~Rp 1.3 triliun pada 2015, dengan beban besar pada
balita dan lansia (bimodal). Pola ini menunjukkan sistem yang
membiayai perawatan pneumonia akut yang mahal di hilir sambil
kekurangan kapasitas hulu (imunisasi PCV, deteksi dini, dan tenaga
paru/intensif anak di daerah).
Fondasi: kerangka,
denominator, dan sumber data
Kerangka & denominator
Kerangka enam pilar sistem kesehatan WHO (penyediaan layanan,
tenaga kesehatan, sistem informasi, akses obat esensial, pembiayaan,
tata kelola). Denominator: proyeksi penduduk BPS 2025 (284,438,930 jiwa,
514 kabupaten/kota). Untuk konteks beban bimodal pneumonia, estimasi
penduduk balita (0-4 tahun) = 22,755,114 (8,0% penduduk) dan
lansia (>=65 tahun) ~18,488,530 (6,5% penduduk). Kepadatan
tenaga dilaporkan per 100.000 penduduk total (konvensi WHO untuk
spesialis) dan, untuk tenaga relevan, juga per 100.000 lansia
(ditandai).
Sumber: SDM = DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025
(headcount per faskes + izin praktik/SIP); fasilitas = SIRS 2025-10
(3,275 RS, kolom layanan 0/1); pembiayaan = Data Sampel BPJS reguler
2015-2024 (dihitung langsung: pneumonia = ICD-10 J12-J18 pada
FKL15A/SDX; biaya = FKL48 verifikasi, tertimbang PSTV15); tata kelola =
instrumen kebijakan kunci.
| Tabel 0: Pemetaan pilar ke sumber data & status ketersediaan |
| Pilar (building block) |
Sumber data utama |
Status |
| 1. Penyediaan layanan (fasilitas) |
SIRS Kemenkes 2025-10 (3.275 RS): layanan Paru, Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, ICU/PICU/NICU (proksi oksigen/ventilator) |
Kuantitatif (inti) |
| 2. Tenaga kesehatan (HRH) |
DREAMS/SI-SDMK 2025 (headcount + SIP per faskes): Sp.P, Sp.A, Sp.PD, intensivis; denominator BPS |
Kuantitatif (inti) |
| 3. Sistem informasi |
DREAMS, SIRS, SIHA/SITB respiratori, ASPAK (alat), SATUSEHAT, BPJS sebagai substrat |
Naratif + meta |
| 4. Akses obat esensial |
WHO EML x Fornas (antibiotik, oksigen medis, vaksin PCV/influenza); HTA Watchdog ARC |
Naratif + parsial |
| 5. Pembiayaan |
Klaim BPJS reguler 2015-2024 (pneumonia J12-J18), tertimbang |
Kuantitatif (inti) |
| 6. Tata kelola |
PNPK pneumonia, program imunisasi PCV, regulasi oksigen medis & ICU; kompilasi regulasi kunci |
Naratif |
| Senjang data dilaporkan jujur di tiap pilar; bukan ketiadaan masalah, melainkan ketiadaan data rutin terpilah. |
Pilar 1,
Penyediaan layanan (RS paru, anak, ICU/PICU/NICU)
① Penyediaan Layanan · Layanan Paru & Anak · ICU/PICU/NICU
(Oksigen-Ventilator) · Gurun Intensif per Kabupaten · Sebaran Pulau ·
Kepemilikan
Pertanyaan: Berapa rumah sakit yang menyediakan layanan paru,
kesehatan anak, penyakit dalam, dan kemampuan perawatan intensif
(ICU/PICU/NICU dengan ventilator) yang krusial untuk pneumonia berat,
dan seberapa banyak wilayah yang sama sekali tidak memilikinya.
Availability = jumlah unit; Accessibility = sebaran
kabupaten/provinsi (gurun intensif); Quality = ragam (paru
khusus, PICU/NICU, ventilator).

| Ketersediaan layanan pneumonia-relevan di RS , tabel data figur |
| Layanan |
RS menyediakan |
% dari total RS |
| Paru/Pulmonologi |
1,878 |
57.3 |
| Paru Infeksi |
676 |
20.6 |
| Penyakit dalam |
2,954 |
90.2 |
| Kesehatan anak |
2,992 |
91.4 |
| Radiologi |
2,833 |
86.5 |
| ICU (semua tipe) |
3,023 |
92.3 |
| ICU dengan ventilator |
2,640 |
80.6 |
| PICU (intensif anak) |
1,813 |
55.4 |
| NICU (intensif neonatus) |
2,577 |
78.7 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Inti Pilar 1. Kemampuan perawatan intensif relatif luas tetapi
tidak merata: 3,023 RS (92.3%) punya ICU dan 2,640 di
antaranya dengan ventilator, namun PICU (intensif anak) hanya 1,813
RS (55.4%), krusial karena pneumonia adalah pembunuh utama balita.
Layanan paru/pulmonologi khusus hanya di 1,878 RS (57.3%), jauh
lebih jarang daripada layanan penyakit dalam dan kesehatan anak umum,
sehingga penatalaksanaan pneumonia bertumpu pada internis dan dokter
anak umum. Catatan: kolom SIRS = layanan yang dideklarasikan RS,
bukan jumlah tempat tidur ICU, jumlah ventilator, atau kapasitas suplai
oksigen.
Kemampuan inti
perawatan pneumonia

| Kemampuan inti perawatan pneumonia di RS , tabel data figur |
| Kemampuan |
Tipe |
Jumlah RS |
% dari RS |
| ICU (semua tipe) |
Perawatan intensif |
3,023 |
92.3 |
| Layanan kesehatan anak |
Layanan klinis |
2,992 |
91.4 |
| Layanan penyakit dalam |
Layanan klinis |
2,954 |
90.2 |
| ICU dengan ventilator |
Perawatan intensif |
2,640 |
80.6 |
| NICU (intensif neonatus) |
Perawatan intensif |
2,577 |
78.7 |
| Layanan paru/pulmonologi |
Layanan klinis |
1,878 |
57.3 |
| PICU (intensif anak) |
Perawatan intensif |
1,813 |
55.4 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Cakupan kabupaten
(gurun intensif)
| Tabel 1.1: Cakupan Layanan menurut Kabupaten/Kota (gurun intensif & paru) · Unit: kabupaten (n=514) |
| Layanan |
Kab dgn layanan |
% kab |
% kab nihil |
% pop tercakup |
| ICU (semua tipe) |
453 |
88.1 |
11.9 |
96.8 |
| ICU dengan ventilator |
427 |
83.1 |
16.9 |
95.2 |
| PICU (intensif anak) |
357 |
69.5 |
30.5 |
88.5 |
| NICU (intensif neonatus) |
423 |
82.3 |
17.7 |
94.7 |
| Layanan Paru/Pulmonologi |
363 |
70.6 |
29.4 |
90.3 |
| Layanan Kesehatan Anak |
455 |
88.5 |
11.5 |
97.0 |
| Layanan Penyakit Dalam |
455 |
88.5 |
11.5 |
97.0 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) | SIRS = layanan dideklarasikan RS, bukan jumlah TT ICU/ventilator/kapasitas oksigen |

| Gurun layanan pneumonia per kabupaten , tabel data figur |
| Layanan |
% kab ada |
% kab nihil |
% pop tercakup |
| ICU (semua tipe) |
88.1 |
11.9 |
96.8 |
| ICU dengan ventilator |
83.1 |
16.9 |
95.2 |
| PICU (intensif anak) |
69.5 |
30.5 |
88.5 |
| NICU (intensif neonatus) |
82.3 |
17.7 |
94.7 |
| Layanan Paru/Pulmonologi |
70.6 |
29.4 |
90.3 |
| Layanan Kesehatan Anak |
88.5 |
11.5 |
97.0 |
| Layanan Penyakit Dalam |
88.5 |
11.5 |
97.0 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Sebaran pulau

| RS ICU & layanan paru per pulau , tabel data figur |
| Pulau |
RS ICU |
RS layanan paru |
% nasional ICU |
Penduduk |
ICU per 1 juta |
| Jawa |
1,588 |
1,050 |
53.6 |
158,079,150 |
10.1 |
| Sumatera |
671 |
429 |
22.7 |
62,259,500 |
10.8 |
| Sulawesi |
278 |
123 |
9.4 |
21,045,030 |
13.2 |
| Kalimantan |
189 |
121 |
6.4 |
17,951,350 |
10.5 |
| Bali-Nusra |
171 |
90 |
5.8 |
15,934,970 |
10.7 |
| Maluku-Papua |
64 |
29 |
2.2 |
9,168,930 |
7.0 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Per provinsi

| RS ICU & layanan paru per provinsi , tabel data figur |
| Provinsi |
Pulau |
Penduduk 2025 |
Total RS |
RS ICU |
RS paru |
ICU per 1 juta |
| JAWA TIMUR |
Jawa |
42,089,260 |
444 |
431 |
273 |
10.2 |
| JAWA BARAT |
Jawa |
50,758,990 |
436 |
419 |
282 |
8.2 |
| JAWA TENGAH |
Jawa |
38,233,920 |
366 |
353 |
226 |
9.2 |
| SUMATERA UTARA |
Sumatera |
15,785,840 |
207 |
185 |
156 |
11.7 |
| DKI JAKARTA |
Jawa |
10,677,990 |
195 |
176 |
136 |
16.5 |
| BANTEN |
Jawa |
12,537,440 |
135 |
130 |
92 |
10.4 |
| SULAWESI SELATAN |
Sulawesi |
9,563,130 |
126 |
114 |
60 |
11.9 |
| SUMATERA SELATAN |
Sumatera |
8,928,510 |
88 |
82 |
29 |
9.2 |
| DI YOGYAKARTA |
Jawa |
3,781,550 |
81 |
79 |
41 |
20.9 |
| BALI |
Bali-Nusra |
4,461,270 |
84 |
79 |
46 |
17.7 |
| RIAU |
Sumatera |
6,811,180 |
81 |
77 |
55 |
11.3 |
| SUMATERA BARAT |
Sumatera |
5,914,280 |
80 |
76 |
49 |
12.8 |
| LAMPUNG |
Sumatera |
9,522,900 |
82 |
76 |
34 |
8.0 |
| ACEH |
Sumatera |
5,625,960 |
85 |
74 |
56 |
13.2 |
| KALIMANTAN TIMUR |
Kalimantan |
4,267,610 |
72 |
64 |
39 |
15.0 |
| SULAWESI UTARA |
Sulawesi |
2,721,440 |
60 |
57 |
19 |
20.9 |
| NUSA TENGGARA TIMUR |
Bali-Nusra |
5,742,580 |
68 |
50 |
15 |
8.7 |
| KALIMANTAN BARAT |
Kalimantan |
5,766,020 |
58 |
48 |
25 |
8.3 |
| KALIMANTAN SELATAN |
Kalimantan |
4,323,340 |
52 |
45 |
37 |
10.4 |
| NUSA TENGGARA BARAT |
Bali-Nusra |
5,731,120 |
46 |
42 |
29 |
7.3 |
| SULAWESI TENGGARA |
Sulawesi |
2,836,760 |
40 |
40 |
12 |
14.1 |
| JAMBI |
Sumatera |
3,768,490 |
45 |
38 |
21 |
10.1 |
| SULAWESI TENGAH |
Sulawesi |
3,156,110 |
41 |
35 |
14 |
11.1 |
| KALIMANTAN TENGAH |
Kalimantan |
2,845,010 |
34 |
27 |
20 |
9.5 |
| BENGKULU |
Sumatera |
2,138,060 |
28 |
26 |
12 |
12.2 |
| KEPULAUAN BANGKA BELITUNG |
Sumatera |
1,550,820 |
29 |
26 |
12 |
16.8 |
| MALUKU |
Maluku-Papua |
1,970,560 |
29 |
24 |
15 |
12.2 |
| PAPUA BARAT |
Maluku-Papua |
1,224,090 |
25 |
22 |
7 |
18.0 |
| GORONTALO |
Sulawesi |
1,242,250 |
21 |
19 |
10 |
15.3 |
| MALUKU UTARA |
Maluku-Papua |
1,373,830 |
23 |
18 |
7 |
13.1 |
| SULAWESI BARAT |
Sulawesi |
1,525,340 |
16 |
13 |
8 |
8.5 |
| KEPULAUAN RIAU |
Sumatera |
2,213,460 |
13 |
11 |
5 |
5.0 |
| KALIMANTAN UTARA |
Kalimantan |
749,370 |
11 |
5 |
0 |
6.7 |
| PAPUA |
Maluku-Papua |
4,600,450 |
0 |
0 |
0 |
0.0 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Kepemilikan

| Kepemilikan RS dengan ICU , tabel data figur |
| Kepemilikan |
Jumlah RS |
% |
| SWASTA/LAINNYA |
869 |
28.7 |
| Pemkab |
576 |
19.1 |
| Perusahaan |
516 |
17.1 |
| Organisasi Sosial |
282 |
9.3 |
| Pemprop |
141 |
4.7 |
| Organisasi Islam |
118 |
3.9 |
| Pemkot |
117 |
3.9 |
| TNI AD |
74 |
2.4 |
| Perorangan |
68 |
2.2 |
| POLRI |
52 |
1.7 |
| Organisasi Katholik |
43 |
1.4 |
| Kemkes |
39 |
1.3 |
| Kementerian Lain |
34 |
1.1 |
| BUMN |
31 |
1.0 |
| Organisasi Protestan |
24 |
0.8 |
| TNI AL |
19 |
0.6 |
| TNI AU |
18 |
0.6 |
| Organisasi Budha |
1 |
0.0 |
| Organisasi Hindu |
1 |
0.0 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Senjang data fasilitas (penting). SIRS mencatat apakah RS
punya layanan paru, anak, atau ICU/PICU/NICU, tetapi tidak berapa
tempat tidur intensif, berapa ventilator, atau kapasitas suplai oksigen
(oxygen plant/concentrator) per RS, sehingga kapasitas riil untuk
pneumonia berat tidak dapat dihitung dan menjadi senjang utama,
terutama mengingat pelajaran pandemi COVID-19 tentang krisis oksigen.
Data jumlah ventilator dan oksigen sentral ada di sistem ASPAK (alat
kesehatan) yang tidak tercakup di SIRS. Maka kapasitas perawatan
pneumonia berat sesungguhnya bisa diukur lebih tepat dengan integrasi
ASPAK = langkah lanjut.
Pilar 2,
Tenaga kesehatan (Sp.P, Sp.A, Sp.PD, intensivis)
② Tenaga Kesehatan · Kepadatan per 100k · Gurun Tenaga · Konsentrasi
(Gini) · Jawa vs Luar Jawa · Kota vs Kabupaten
Pertanyaan: Apakah Indonesia punya tenaga untuk merawat
pneumonia, dokter paru, dokter anak (pneumonia balita), penyakit dalam,
intensivis, dan seberapa timpang sebarannya. Availability =
densitas nasional per 100k; Accessibility = sebaran & gurun
tenaga; Quality = bauran subspesialis & izin praktik.
Kepadatan tenaga
nasional
| Tabel 2.1: Tenaga Pneumonia-Relevan Nasional (2025) · Unit: tenaga (headcount + izin praktik) |
| Tenaga |
Headcount |
SIP |
per 100k pop |
per 1 juta pop |
per 100k lansia |
1 tenaga melayani (jiwa) |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
1,468 |
3,753 |
0.516 |
5.16 |
7.940 |
193,759 |
| Dokter Spesialis Anak (Sp.A) |
4,712 |
10,486 |
1.657 |
16.57 |
25.486 |
60,365 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
4,970 |
11,573 |
1.747 |
17.47 |
26.882 |
57,231 |
| Subspesialis Terapi Intensif (Intensive Care) |
249 |
502 |
0.088 |
0.88 |
1.347 |
1,142,325 |
| Dokter Spesialis Kedaruratan Medik (Sp.EM) |
65 |
109 |
0.023 |
0.23 |
0.352 |
4,375,984 |
| Subsp. Emergensi & Rawat Intensif Anak (ERIA) |
52 |
115 |
0.018 |
0.18 |
0.281 |
5,469,979 |
| Subspesialis Infeksi Paru |
38 |
59 |
0.013 |
0.13 |
0.206 |
7,485,235 |
| Subspesialis Respirologi |
39 |
76 |
0.014 |
0.14 |
0.211 |
7,293,306 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) | headcount = posisi per-faskes (bisa ganda); per 100k lansia atas estimasi 6,5% penduduk |


| Tenaga relatif terhadap penduduk vs lansia , tabel data figur |
| Tenaga |
Headcount |
Per 100k pop |
Per 100k lansia |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
1,468 |
0.516 |
7.9 |
| Dokter Spesialis Anak (Sp.A) |
4,712 |
1.657 |
25.5 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
4,970 |
1.747 |
26.9 |
| Subspesialis Terapi Intensif (Intensive Care) |
249 |
0.088 |
1.3 |
| Dokter Spesialis Kedaruratan Medik (Sp.EM) |
65 |
0.023 |
0.4 |
| Subsp. Emergensi & Rawat Intensif Anak (ERIA) |
52 |
0.018 |
0.3 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Inti Pilar 2. Indonesia hanya memiliki 1,468 dokter spesialis
paru (Sp.P) nasional, setara 0.516 per 100.000 penduduk atau
1 dokter paru per 193,759 penduduk, dan 31.5% kabupaten/kota
tidak punya dokter paru (Gini 0.712). Pneumonia berat karenanya
bertumpu pada dokter anak (4,712 Sp.A, 1.657/100k, untuk
pneumonia balita) dan penyakit dalam (4,970 Sp.PD, 1.747/100k,
untuk dewasa/lansia). Tenaga intensivis sangat langka (249
subspesialis terapi intensif, 0.088/100k), padahal pneumonia berat
membutuhkan dukungan ventilasi. Tidak ada subspesialis respirologi
anak terpisah dalam DREAMS; dokter anak umum menjadi tumpuan tata
laksana pneumonia anak.
Gurun tenaga &
konsentrasi
| Tabel 2.2: Cakupan & Konsentrasi Tenaga (gurun tenaga) · Unit: kabupaten (n=514) |
| Tenaga |
% kab ada |
% kab nihil |
% headcount di Jawa |
Gini antar-kab |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
68.5 |
31.5 |
53.9 |
0.712 |
| Dokter Spesialis Anak (Sp.A) |
92.8 |
7.2 |
59.4 |
0.708 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
93.4 |
6.6 |
56.5 |
0.681 |
| Subspesialis Terapi Intensif (Intensive Care) |
15.6 |
84.4 |
69.9 |
0.927 |
| Dokter Spesialis Kedaruratan Medik (Sp.EM) |
6.2 |
93.8 |
76.9 |
0.961 |
| Subsp. Emergensi & Rawat Intensif Anak (ERIA) |
5.4 |
94.6 |
61.5 |
0.963 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) | Jawa = ~56% populasi nasional sebagai pembanding |

| Cakupan & maldistribusi tenaga inti , tabel data figur |
| Tenaga |
% kab ada |
% kab nihil |
% pop tercakup |
Gini |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
68.5 |
31.5 |
86.1 |
0.712 |
| Dokter Spesialis Anak (Sp.A) |
92.8 |
7.2 |
96.2 |
0.708 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
93.4 |
6.6 |
96.8 |
0.681 |
| Subspesialis Terapi Intensif (Intensive Care) |
15.6 |
84.4 |
35.2 |
0.927 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Per provinsi (dokter
paru)

| Dokter paru per 100k per provinsi , tabel data figur |
| Provinsi |
Pulau |
Penduduk 2025 |
Dokter paru (hc) |
Per 100k |
| DKI JAKARTA |
Jawa |
10,677,990 |
165 |
1.545 |
| ACEH |
Sumatera |
5,625,960 |
70 |
1.244 |
| BALI |
Bali-Nusra |
4,461,270 |
45 |
1.009 |
| SUMATERA BARAT |
Sumatera |
5,914,280 |
57 |
0.964 |
| PAPUA BARAT |
Maluku-Papua |
1,224,090 |
11 |
0.899 |
| KALIMANTAN SELATAN |
Kalimantan |
4,323,340 |
37 |
0.856 |
| DI YOGYAKARTA |
Jawa |
3,781,550 |
31 |
0.820 |
| KALIMANTAN UTARA |
Kalimantan |
749,370 |
6 |
0.801 |
| SUMATERA UTARA |
Sumatera |
15,785,840 |
115 |
0.729 |
| KALIMANTAN TENGAH |
Kalimantan |
2,845,010 |
19 |
0.668 |
| RIAU |
Sumatera |
6,811,180 |
45 |
0.661 |
| BANTEN |
Jawa |
12,537,440 |
75 |
0.598 |
| MALUKU |
Maluku-Papua |
1,970,560 |
11 |
0.558 |
| SULAWESI SELATAN |
Sulawesi |
9,563,130 |
53 |
0.554 |
| KEPULAUAN RIAU |
Sumatera |
2,213,460 |
12 |
0.542 |
| KALIMANTAN TIMUR |
Kalimantan |
4,267,610 |
21 |
0.492 |
| JAWA TIMUR |
Jawa |
42,089,260 |
203 |
0.482 |
| BENGKULU |
Sumatera |
2,138,060 |
10 |
0.468 |
| KEPULAUAN BANGKA BELITUNG |
Sumatera |
1,550,820 |
7 |
0.451 |
| GORONTALO |
Sulawesi |
1,242,250 |
5 |
0.402 |
| JAMBI |
Sumatera |
3,768,490 |
15 |
0.398 |
| SULAWESI BARAT |
Sulawesi |
1,525,340 |
6 |
0.393 |
| JAWA BARAT |
Jawa |
50,758,990 |
190 |
0.374 |
| SULAWESI TENGGARA |
Sulawesi |
2,836,760 |
10 |
0.353 |
| JAWA TENGAH |
Jawa |
38,233,920 |
127 |
0.332 |
| NUSA TENGGARA BARAT |
Bali-Nusra |
5,731,120 |
18 |
0.314 |
| LAMPUNG |
Sumatera |
9,522,900 |
29 |
0.305 |
| SULAWESI UTARA |
Sulawesi |
2,721,440 |
8 |
0.294 |
| MALUKU UTARA |
Maluku-Papua |
1,373,830 |
4 |
0.291 |
| KALIMANTAN BARAT |
Kalimantan |
5,766,020 |
13 |
0.225 |
| SULAWESI TENGAH |
Sulawesi |
3,156,110 |
7 |
0.222 |
| NUSA TENGGARA TIMUR |
Bali-Nusra |
5,742,580 |
12 |
0.209 |
| SUMATERA SELATAN |
Sumatera |
8,928,510 |
18 |
0.202 |
| PAPUA |
Maluku-Papua |
4,600,450 |
0 |
0.000 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Per pulau

| Densitas tenaga inti per pulau , tabel data figur |
| Pulau |
Kader |
Penduduk |
Headcount |
Per 100k |
| Sumatera |
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
62,259,500 |
378 |
0.607 |
| Kalimantan |
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
17,951,350 |
96 |
0.535 |
| Jawa |
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
158,079,150 |
791 |
0.500 |
| Bali-Nusra |
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
15,934,970 |
75 |
0.471 |
| Sulawesi |
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
21,045,030 |
89 |
0.423 |
| Maluku-Papua |
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
9,168,930 |
26 |
0.284 |
| Jawa |
Dokter Spesialis Anak (Sp.A) |
158,079,150 |
2,798 |
1.770 |
| Bali-Nusra |
Dokter Spesialis Anak (Sp.A) |
15,934,970 |
277 |
1.738 |
| Sulawesi |
Dokter Spesialis Anak (Sp.A) |
21,045,030 |
331 |
1.573 |
| Kalimantan |
Dokter Spesialis Anak (Sp.A) |
17,951,350 |
274 |
1.526 |
| Sumatera |
Dokter Spesialis Anak (Sp.A) |
62,259,500 |
909 |
1.460 |
| Maluku-Papua |
Dokter Spesialis Anak (Sp.A) |
9,168,930 |
73 |
0.796 |
| Sulawesi |
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
21,045,030 |
432 |
2.053 |
| Bali-Nusra |
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
15,934,970 |
297 |
1.864 |
| Jawa |
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
158,079,150 |
2,807 |
1.776 |
| Sumatera |
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
62,259,500 |
1,020 |
1.638 |
| Kalimantan |
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
17,951,350 |
278 |
1.549 |
| Maluku-Papua |
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
9,168,930 |
79 |
0.862 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Kota vs
kabupaten

| Densitas tenaga: kota vs kabupaten , tabel data figur |
| Kader |
Wilayah |
Penduduk |
Headcount |
Per 100k |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
Kota |
60,748,210 |
833 |
1.371 |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
Kabupaten |
223,690,720 |
635 |
0.284 |
| Dokter Spesialis Anak (Sp.A) |
Kota |
60,748,210 |
2,735 |
4.502 |
| Dokter Spesialis Anak (Sp.A) |
Kabupaten |
223,690,720 |
1,977 |
0.884 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
Kota |
60,748,210 |
2,774 |
4.566 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
Kabupaten |
223,690,720 |
2,196 |
0.982 |
| Subspesialis Terapi Intensif (Intensive Care) |
Kota |
60,748,210 |
195 |
0.321 |
| Subspesialis Terapi Intensif (Intensive Care) |
Kabupaten |
223,690,720 |
54 |
0.024 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Konsentrasi Jawa
& headcount vs izin praktik


| Headcount vs SIP kader inti , tabel data figur |
| Kader |
Headcount |
SIP |
Rasio SIP/HC |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
1,468 |
3,753 |
2.560 |
| Dokter Spesialis Anak (Sp.A) |
4,712 |
10,486 |
2.230 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
4,970 |
11,573 |
2.330 |
| Subspesialis Terapi Intensif (Intensive Care) |
249 |
502 |
2.020 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Pilar 4, Akses obat
esensial & vaksin (pneumonia)
④ Akses Obat Esensial & Vaksin · Antibiotik, Oksigen Medis, Vaksin
PCV & Influenza
Pertanyaan: Apakah obat dan vaksin untuk pneumonia tersedia di
formularium dan layanan primer, dan apakah penggunaannya terpantau.
| Tabel 4.1: Obat & Vaksin Esensial Pneumonia dan Status Formularium/Program (ringkasan kualitatif) |
| Kelas / komoditas |
Contoh / peran pada pneumonia |
Status Fornas / program (umum) |
| Antibiotik lini pertama |
Amoksisilin, ampisilin; pneumonia komunitas anak & dewasa |
Di Fornas, tersedia LUAS hingga layanan primer |
| Antibiotik lini lanjut |
Seftriakson, levofloksasin, makrolid; pneumonia berat/atipik |
Di Fornas, sebagian tingkat RS |
| Oksigen medis |
Terapi suportif utama hipoksemia pneumonia |
Komoditas esensial; kapasitas oksigen plant/konsentrator senjang (pelajaran COVID-19) |
| Vaksin PCV (pneumokokus) |
Pencegahan pneumonia balita (hulu) |
Masuk program imunisasi nasional bertahap; cakupan belum merata |
| Vaksin influenza |
Pencegahan pneumonia lansia & risiko tinggi |
Belum jadi program nasional rutin (kelompok terbatas) |
| Kortikosteroid & suportif |
Deksametason; manajemen pneumonia berat tertentu |
Di Fornas, tersedia luas |
| Bronkodilator/nebulisasi |
Manajemen suportif distres napas |
Di Fornas, tersedia luas |
| Sumber: WHO EML, Fornas, program imunisasi nasional, HTA Watchdog ARC. Ringkasan kelas, bukan daftar item lengkap. |
Inti Pilar 4 (data terbatas). Antibiotik lini pertama
(amoksisilin) untuk pneumonia komunitas tersedia luas hingga layanan
primer, dan menjadi tumpuan tata laksana hulu. Namun dua komoditas
penentu hasil pada pneumonia berat menyimpan senjang: oksigen
medis, terapi suportif utama hipoksemia, yang kapasitas produksi dan
distribusinya terbukti rapuh saat lonjakan pandemi; dan vaksin
PCV, instrumen pencegahan pneumonia balita yang paling
cost-effective, yang baru diperluas bertahap dengan cakupan belum
merata. Vaksin influenza untuk lansia dan kelompok risiko belum
menjadi program rutin nasional. Senjang khas: tidak ada data
dispensing untuk menilai kesesuaian pemakaian antibiotik
(antimicrobial stewardship) maupun status vaksinasi yang tertaut ke
episode rawat inap dalam sampel JKN ini.
Pilar 5,
Pembiayaan (belanja JKN pneumonia)
⑤ Pembiayaan · Belanja JKN Pneumonia per Tahun · 2024 menurut Usia
(Bimodal), Jenis Kelamin, Segmen, Keparahan, Kode ICD, Geografi
Pertanyaan: Berapa besar dan bagaimana pola pembiayaan pneumonia,
dan siapa yang menanggung beban. Dihitung langsung dari klaim BPJS
(tertimbang PSTV15), tidak bergantung laporan sisi permintaan.
Availability = besar belanja; Accessibility = siapa
terbiayai (segmen/usia); Quality = orientasi (kuratif rawat inap
vs pencegahan hulu).

| Belanja pneumonia per tahun , tabel data figur |
| Tahun |
Belanja (M) |
Episode (sampel mentah) |
Biaya/episode (juta) |
Share rawat inap (%) |
| 2,015 |
1,321.9 |
2,131 |
5.760 |
53.7 |
| 2,016 |
1,366.3 |
2,545 |
5.470 |
39.9 |
| 2,017 |
1,749.1 |
5,919 |
2.950 |
30.2 |
| 2,018 |
1,630.9 |
6,684 |
2.740 |
29.7 |
| 2,019 |
1,956.7 |
8,124 |
2.960 |
32.8 |
| 2,020 |
1,720.1 |
6,297 |
3.370 |
36.5 |
| 2,021 |
1,840.8 |
8,495 |
2.820 |
29.5 |
| 2,022 |
2,877.1 |
12,760 |
3.340 |
36.1 |
| 2,023 |
4,960.1 |
16,977 |
4.100 |
39.8 |
| 2,024 |
4,916.8 |
18,173 |
3.670 |
35.3 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Inti Pilar 5. Belanja JKN untuk pneumonia tumbuh dari ~Rp 1.3
triliun (2015) menjadi Rp 4.9 triliun (2024), kumulatif ~Rp 24.3
triliun (2015-2024), dengan lonjakan tajam sejak 2022. Biaya rata-rata
Rp 3.7 juta per episode (2024) mencerminkan beratnya episode
rawat inap pneumonia. Beban bersifat bimodal, jatuh pada balita
dan lansia, namun puncak nominal pada usia 45-64 tahun, dan ditanggung
terutama oleh peserta PBI dan PBPU (mandiri). Pola ini
menegaskan sistem yang membiayai perawatan pneumonia akut yang mahal
di hilir sementara investasi hulu (imunisasi PCV pada balita,
vaksin influenza lansia, deteksi dini, kapasitas oksigen) belum sepadan,
ruang utama untuk efisiensi dan pencegahan.
Pilar 6, Kepemimpinan
& tata kelola
⑥ Tata Kelola · PNPK Pneumonia · Imunisasi PCV · Regulasi Oksigen Medis
& ICU · Senjang Kebijakan Hulu
Pertanyaan: Apakah kerangka kebijakan dan kelembagaan untuk
pneumonia memadai dan termutakhirkan, terutama untuk pencegahan hulu
(imunisasi) dan kesiapan oksigen.
| Tabel 6.1: Instrumen Tata Kelola Pneumonia · ringkasan kebijakan kunci |
| Instrumen |
Fokus |
Status |
| PNPK/PPK Pneumonia (PDPI, IDAI) |
Pedoman tata laksana pneumonia dewasa & anak |
Ada (organisasi profesi), integrasi nasional bervariasi |
| Program Imunisasi PCV (Permenkes imunisasi) |
Pencegahan pneumonia balita (hulu, paling cost-effective) |
Sudah nasional bertahap; cakupan & pemerataan masih senjang |
| MTBS/ISPA-Pneumonia balita (layanan primer) |
Deteksi dini & rujukan pneumonia balita di puskesmas |
Berlaku; mutu pelaksanaan bervariasi antardaerah |
| Regulasi oksigen medis & kesiapan (pasca-COVID) |
Kapasitas oksigen plant, distribusi, cadangan |
Penguatan pasca-pandemi; belum terstandar nasional menyeluruh |
| Standar ICU/PICU & ventilator (Permenkes pelayanan RS) |
Standar perawatan intensif untuk pneumonia berat |
Ada; pemerataan PICU antarwilayah senjang |
| Vaksin influenza lansia & kelompok risiko |
Pencegahan pneumonia lansia |
Belum menjadi program nasional rutin (senjang hulu) |
| Sumber: kompilasi regulasi kunci (PNPK/imunisasi/pelayanan RS). Korpus regulasi lengkap di ARC Indonesia Health Policy Review. |
Inti Pilar 6. Kerangka kebijakan untuk tata laksana pneumonia
ada (PNPK dewasa & anak, MTBS/ISPA di layanan primer, tarif
paket INA-CBG yang membuat rawat inap dapat diakses tanpa biaya langsung
pasien). Namun tiga senjang menonjol pada sisi hulu dan kesiapan: (1)
imunisasi PCV, instrumen pencegahan pneumonia balita paling
cost-effective, baru diperluas bertahap dengan cakupan belum merata;
(2) kesiapan oksigen medis, yang terbukti rapuh saat pandemi,
belum terstandar nasional menyeluruh; (3) vaksin influenza lansia
belum menjadi program rutin. Tata kelola masih berorientasi hilir
(membiayai rawat inap pneumonia) alih-alih mencegah kejadian dan
memperkuat kapasitas oksigen/intensif yang merata.
Skor AAQ, sintesis
kesiapan sistem
★ Ketersediaan, Keterjangkauan, Mutu (AAQ) menurut Pilar
| Skor AAQ Sistem Kesehatan Pneumonia Indonesia (2025) · sintesis enam pilar |
| Pilar |
Ketersediaan |
Keterjangkauan |
Mutu |
| 1 Layanan |
3,023 RS ICU (92.3%); PICU 1,813 RS (55.4%) |
30.5% kab tanpa PICU; 29.4% kab tanpa layanan paru |
Jumlah TT ICU/ventilator & kapasitas oksigen tak terdata (SIRS) |
| 2 Tenaga |
1,468 dokter paru (0.516/100k) |
31.5% kab tanpa dokter paru; Gini 0.71 |
Bertumpu Sp.A (4,712) & Sp.PD (4,970); intensivis langka (249) |
| 3 Informasi |
DREAMS, SIRS, ASPAK, surveilans ISPA aktif |
Data tenaga per kab tersedia |
Etiologi (J18 dominan), status PCV, jumlah ventilator/oksigen tak terpilah |
| 4 Obat & vaksin |
Antibiotik lini pertama luas; PCV nasional bertahap |
Oksigen medis & PCV belum merata |
Tak ada data dispensing/stewardship antibiotik |
| 5 Pembiayaan |
JKN biayai pneumonia ~Rp4.9 T (2024) |
Beban bimodal balita & lansia; PBI/PBPU; Rp3.7 juta/episode |
Orientasi hilir (rawat inap); investasi hulu (PCV/oksigen) tertinggal |
| 6 Tata kelola |
PNPK & MTBS ada; PCV program nasional |
Tarif paket INA-CBG bebas biaya langsung |
PCV/oksigen/influenza lansia belum terstandar merata |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Sintesis. Sistem kesehatan pneumonia Indonesia menampilkan pola
konsisten lintas pilar: kerangka layanan dan pembiayaan rawat inap
ada dan tumbuh besar, tetapi kapasitas riil (dokter paru, PICU,
intensivis, kapasitas oksigen) langka, terkonsentrasi di Jawa/perkotaan,
dan timpang antarwilayah, dengan orientasi ke perawatan akut
hilir yang mahal alih-alih pencegahan hulu. Tiga senjang struktural:
(1) tenaga paru/intensif anak nyaris tak ada di daerah (1,468
dokter paru, 31.5% kabupaten kosong; PICU 30.5% kabupaten kosong);
(2) pencegahan hulu belum sepadan (PCV belum merata, vaksin
influenza lansia belum rutin); (3) kesiapan oksigen & kapasitas
intensif tak terukur (data ventilator/oksigen di luar SIRS).
Penguatan perlu bergeser ke perluasan & pemerataan imunisasi PCV,
penguatan kapasitas oksigen dan PICU di luar Jawa, redistribusi dokter
paru & intensivis, serta surveilans etiologi dan stewardship
antibiotik.
Keterbatasan data
- DREAMS headcount = posisi per faskes (tenaga di lebih dari satu
faskes terhitung ganda); SIP = izin praktik, bukan tenaga aktif unik.
Tidak ada kader “respirologi anak” terpisah; dokter anak (Sp.A) dipakai
sebagai tenaga pneumonia anak.
- Layanan SIRS = layanan yang dideklarasikan RS, bukan jumlah tempat
tidur ICU/PICU, jumlah ventilator, atau kapasitas suplai oksigen; data
alat ada di ASPAK yang tidak tercakup di sini (senjang kapasitas,
terutama oksigen).
- Denominator pneumonia per kabupaten tidak tersedia; kepadatan
dilaporkan per 100.000 penduduk total, dengan headline per lansia
memakai estimasi share nasional (6,5%) dan balita (8,0%).
- Pembiayaan dihitung dari Data Sampel BPJS reguler tertimbang (FKL48
verifikasi); FKTP kapitasi (termasuk pneumonia balita di puskesmas)
tidak termasuk; angka adalah proyeksi nasional dari sampel.
- Etiologi pneumonia (virus/bakteri) sebagian besar tak terkode (J18
dominan); status vaksinasi PCV tidak tertaut ke episode rawat inap,
sehingga fraksi yang dapat dicegah vaksin tak dapat dihitung
langsung.
Analisis sisi pasokan sistem kesehatan untuk pneumonia dan
infeksi saluran pernapasan bawah di Indonesia. Pembiayaan dihitung
langsung dari klaim BPJS (tidak bergantung pada laporan sisi
permintaan). Seluruh kepadatan dinyatakan dengan denominator eksplisit;
senjang data dilaporkan terbuka. Counterpart manuscript: Research Center
ARC7, Infectious Disease Institute.