Unit analisis (tercantum di tiap tabel/figur). Tiga unit berbeda, perhatikan badge · Unit: …: (1) Pasien unik = orang, dihitung sekali (prevalensi, demografi, peta, ekuitas, Pareto); (2) Kunjungan/Klaim = per layanan (volume utilisasi, biaya, INA-CBG, komorbiditas); (3) Episode rawat inap/discharge = per perawatan inap (LOS, case-fatality, follow-up, readmisi).

Cara baca. Setiap angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang (PSTV15) dari sampel; angka sampel mentah dilaporkan terpisah. Dokumen dibangun pada sampel reguler (sampel rumah tangga 1%), sehingga tren dan rate populasi bersifat tak-bias terhadap konstruksi sampel. Klaim hanya menggambarkan populasi yang terlayani JKN, bukan prevalensi sejati (lihat Treatment Gap & Triangulasi Riskesdas).

Peta Pilar (navigasi): Fondasi (kohort, definisi kasus, validasi desain sampel, treatment gap) · A Beban & Demografi · B FKTP (Primer) · C FKRTL (Rujukan/RS, keparahan, LOS) · D Rujukan & Konektivitas · E Geografi Member↔︎Faskes · F Proses & Outcome (case-fatality, follow-up, rekurensi) · G Komorbiditas · H Ekonomi · I Ekuitas vs Populasi Umum · ★ Khusus Stroke (iskemik vs hemoragik, CFR per tipe & usia, reperfusi-proxy, rekurensi, sekuele I69) · ◆ Triangulasi Riskesdas (prevalensi komunitas vs terlayani JKN).

Ringkasan eksekutif (angka utama).
Kohort analisis: 48,412 pasien stroke akut (sampel mentah), proyeksi nasional kumulatif 4,508,102 pasien terlayani 2015–2024.
Tahun terkini 2024 (paling relevan kebijakan): 1,116,689 pasien stroke akut terlayani (≈ 401.9 per 100.000 peserta JKN); belanja klaim FKRTL 7,078.9 Miliar Rp; case-fatality rawat inap 14.3% (hemoragik 28.1% vs iskemik 12.3%).
Komposisi tipe: didominasi iskemik/infark (I63) dan stroke tak-spesifik (I64); hemoragik (I60–62) lebih kecil namun jauh lebih fatal.
Sekuele I69 (jembatan perawatan jangka panjang): 17,035 pasien sampel dengan klaim sekuele pasca-stroke.
Treatment gap (Triangulasi Riskesdas): prevalensi komunitas swalapor 10.9‰ (Riskesdas 2018) / 8.3‰ (SKI 2023) jauh di atas prevalensi-terlayani JKN, mengindikasikan beban besar yang tak tertangkap klaim.

1 Layer 0, Fondasi: kohort, definisi kasus & treatment gap

⓪ Fondasi · Alur Kohort (STROBE) · Definisi Kasus Stroke · Validasi Desain Sampel · Treatment Gap

Inti: mendefinisikan populasi analisis (peserta sampel reguler dengan ≥1 klaim diagnosis stroke akut I60–I64/G45), stratifikasi menurut tipe stroke, memvalidasi bahwa sampel reguler layak untuk tren/rate, dan menegaskan kerangka treatment gap.
Sumber & desain: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024, skema reguler (sampel rumah tangga ~1%); identifikasi pasien via PSTV01; demografi via member-join (codebook resmi: PSTV05 jenis kelamin, PSTV08 segmentasi, PSTV07 kelas, PSTV09/10 tempat tinggal, PSTV18 tahun meninggal); bobot nasional PSTV15.

Tabel L0.1 · Alur Pembentukan Kohort (STROBE) · Unit: Pasien unik (sampel)
Sampel reguler BPJS 2015–2024
Tahap Pasien (sampel mentah)
Peserta sampel reguler (rumah tangga) 2,590,751
Punya ≥1 klaim FKRTL (semua sebab) 976,214
Pasien dengan ≥1 klaim stroke akut di FKRTL 45,773
Pasien dengan ≥1 klaim stroke akut di FKTP 19,701
KOHORT ANALISIS, ≥1 klaim stroke akut (FKTP/FKRTL) 48,412
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Definisi kasus stroke (penting)

Stroke akut = kode ICD-10 I60 (perdarahan subaraknoid), I61 (perdarahan intraserebral), I62 (perdarahan intrakranial lain), I63 (infark serebral/iskemik), I64 (stroke tak-spesifik), atau G45 (TIA) yang muncul di diagnosis masuk/primer/sekunder (FKL15A/FKL17A/FKL16/FKL18/SDX) di FKRTL, atau di diagnosis FKTP (FKP14A/FKP15). Verifikasi field: FKL15A “diagnosis masuk” = diagnosis klinis sebenarnya; FKL17A “primer” sering kode Z09 follow-up, sehingga definisi memakai multi-field. Sekuele pasca-stroke (I69) dianalisis sebagai lapisan terpisah (Pilar Khusus), tidak dimasukkan ke prevalensi akut, karena merepresentasikan beban disabilitas kronik, bukan kejadian akut.

1.1 Validasi desain sampel, reguler layak untuk tren & rate

Mengapa reguler. Kohort penyakit (mental/tb/dm) adalah tarikan individual yang diperkaya dan disemai pada satu tahun frame, sehingga deret tahunannya artefak konstruksi. Sampel reguler adalah sampel rumah tangga 1% yang kontinu, sehingga tren tahunan, rate populasi, dan ekuitas tak-bias. Seluruh dokumen ini dibangun pada reguler.
Tabel L0.2 · Distribusi Tipe Stroke (klasifikasi terberat per pasien) · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Tipe Stroke (terberat per pasien) Pasien (tertimbang) Pasien (sampel) Proporsi (%)
Infark Serebral / Iskemik (I63) 2,244,706 23,983 49.8
Stroke tak-spesifik (I64) 1,405,460 15,051 31.2
Perdarahan Intraserebral (I61) 577,534 6,105 12.8
TIA / Serangan Iskemik Sesaat (G45) 129,156 1,551 2.9
Perdarahan Subaraknoid (I60) 82,274 959 1.8
Perdarahan Intrakranial lain (I62) 68,973 763 1.5
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | prioritas keparahan: I60 › I61 › I62 › I63 › I64 › G45

Key takeaway L0: Kohort mencakup 48,412 pasien stroke akut (sampel). Komposisi didominasi infark/iskemik (I63) dan stroke tak-spesifik (I64); hemoragik (I60–62) berproporsi lebih kecil namun, seperti ditunjukkan Pilar F, jauh lebih fatal. Proporsi I64 yang besar mencerminkan keterbatasan spesifisitas koding (banyak stroke tidak dikode tipe pasti tanpa neuroimaging terdokumentasi), sebuah temuan mutu data tersendiri.

1.2 Treatment gap, klaim hanya menangkap yang terlayani

Keterbatasan utama (berlaku di seluruh dokumen). Angka di bawah adalah kasus yang sampai ke fasilitas dan diklaimkan ke JKN. Prevalensi stroke sejati di masyarakat lebih tinggi: sebagian penderita meninggal sebelum mencapai RS, sebagian dirawat tanpa kode stroke spesifik, dan sebagian penyintas dikelola di rumah/komunitas tanpa klaim berulang. Klaim tidak mengestimasi prevalensi sejati. Triangulasi formal terhadap Riskesdas ada di bagian ◆.

2 Pilar A, Beban Penyakit & Demografi

① Pilar A · Prevalensi Terlayani · Insidensi · Demografi · Distribusi Geografis
Pertanyaan: Seberapa besar beban stroke yang terlayani JKN, bagaimana trennya (termasuk pandangan tahun-terkini 2024), profil demografi, dan sebaran geografis.

2.1 Ukuran epidemiologi dasar (insidensi, prevalensi, per 100k)

2.1.1 Per Tahun (rate /100k)

2.1.2 Tabel lengkap

Tabel A.1 · Ukuran Epidemiologi Stroke Terlayani JKN · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Tertimbang PSTV15; rate per 100.000 peserta JKN (denominator DJSN); 2015 left-censored
Tahun Kasus baru (tertimbang) Prevalen terlayani (tertimbang) Kumulatif teridentifikasi Insidensi /100k JKN Prevalensi /100k JKN YoY prevalensi
2015 407,452 407,453 407,452 259.9 259.9 -
2016 378,713 437,791 786,165 220.3 254.6 -2%
2017 403,568 523,826 1,189,733 214.7 278.7 +9.5%
2018 445,999 637,948 1,635,732 214.4 306.6 +10%
2019 433,830 662,971 2,069,562 193.5 295.8 -3.5%
2020 364,297 595,471 2,433,860 163.8 267.7 -9.5%
2021 327,663 543,603 2,761,523 139.0 230.6 -13.9%
2022 504,647 786,112 3,266,170 202.9 316.0 +37%
2023 583,442 944,665 3,849,612 218.3 353.4 +11.8%
2024 658,490 1,116,689 4,508,102 237.0 401.9 +13.7%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | baris 2024 disorot = tahun terkini paling relevan kebijakan

2.1.3 Tahun-Terkini 2024 (headline)

Key takeaway A (epidemiologi): Pada 2024 (tahun terkini) prevalensi stroke terlayani ≈ 401.9/100.000 peserta JKN dengan 1,116,689 pasien terlayani. Deret tahunan menunjukkan dip layanan 2020–21 (gangguan akses saat COVID-19) lalu pemulihan. Semua angka adalah terlayani, bukan prevalensi komunitas (lihat Triangulasi Riskesdas).

2.2 Validasi tren, kohort stabil

2.3 Tren prevalensi menurut tipe stroke

2.3.1 Total (kumulatif)

2.3.2 Per Tahun

2.4 Distribusi geografis (provinsi tempat tinggal)

2.4.1 Per Pulau

2.4.2 12 Provinsi teratas

Tabel A.3 · 12 Provinsi dengan Beban Stroke Terlayani Tertinggi · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Rank Provinsi Pulau Pasien (tertimbang) Pasien (sampel) %
1 Jawa Timur Jawa 809,262 7,777 18.0
2 Jawa Barat Jawa 794,847 6,960 17.6
3 Jawa Tengah Jawa 770,579 8,502 17.1
4 DKI Jakarta Jawa 249,978 1,345 5.5
5 Sumatera Utara Sumatera 205,088 2,536 4.5
6 Banten Jawa 159,367 1,193 3.5
7 Sulawesi Selatan Sulawesi 131,332 1,608 2.9
8 DI Yogyakarta Jawa 124,507 1,189 2.8
9 Lampung Sumatera 111,759 1,304 2.5
10 Aceh Sumatera 100,480 924 2.2
11 Sumatera Barat Sumatera 99,335 1,029 2.2
12 Sumatera Selatan Sumatera 85,306 1,346 1.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

2.4.3 20 Kabupaten/Kota teratas

Tabel A.4 · 20 Kabupaten/Kota dengan Beban Stroke Tertinggi · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Berdasarkan kabupaten/kota tempat tinggal (PSTV10)
Rank Kabupaten/Kota Provinsi Pasien (tertimbang) Pasien (sampel)
1 Kab. Bogor Jawa Barat 97,312 573
2 Kota Surabaya Jawa Timur 94,321 604
3 Kab. Bandung Jawa Barat 84,682 584
4 Kota Jakarta Utara DKI Jakarta 82,027 444
5 Kota Semarang Jawa Tengah 63,810 668
6 Kota Bandung Jawa Barat 55,613 451
7 Kota Bekasi Jawa Barat 54,711 355
8 Kab. Malang Jawa Timur 54,678 456
9 Kab. Klaten Jawa Tengah 52,614 484
10 Kota Jakarta Pusat DKI Jakarta 51,552 324
11 Kab. Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta 49,971 499
12 Kota Jakarta Timur DKI Jakarta 49,487 192
13 Kab. Sidoarjo Jawa Timur 48,068 370
14 Kota Depok Jawa Barat 45,118 309
15 Kab. Banyumas Jawa Tengah 44,739 383
16 Kota Binjai Sumatera Utara 44,488 339
17 Kota Tangerang Banten 42,960 232
18 Kota Jakarta Selatan DKI Jakarta 39,407 239
19 Kab. Bojonegoro Jawa Timur 38,260 282
20 Kab. Magelang Jawa Tengah 37,572 312
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

2.5 Struktur usia & jenis kelamin

Key takeaway A (geografi & demografi): Beban terlayani terkonsentrasi di Jawa dan provinsi padat; struktur usia bergeser ke ≥60 tahun sesuai stroke sebagai penyakit penuaan, dengan beban laki-laki yang menonjol pada usia menengah. Provinsi timur tampak kecil tertimbang sebagian karena populasi peserta lebih kecil, akses lebih terbatas (lihat Pilar I served-rate).

3 Tabel 1, Karakteristik Sampel (FKTP · FKRTL · Overall · Populasi Umum)

Karakteristik pasien stroke (FKTP, FKRTL, Overall) dibandingkan populasi JKN umum (Populasi Umum = sample reguler dedup member). Angka = % per kolom (tertimbang). “Tipe Stroke” kosong untuk Populasi Umum.
Tabel 1 · Karakteristik Pasien Stroke vs Populasi JKN Umum · Unit: Pasien unik (tertimbang), % per kolom
FKTP n=19,701 · FKRTL n=45,773 · Overall n=48,412 · Populasi Umum n=2,590,751 (peserta sampel)
FKTP % FKRTL % Overall % Populasi Umum %
Jenis Kelamin
Laki-laki 52.2 50.6 50.4 51.2
Perempuan 47.8 49.4 49.6 48.8
Kelompok Usia
45–59 41.6 37.8 37.6 -
60–69 29.9 28.9 28.9 -
≥70 16.9 21.3 21.2 8.4
<45 11.6 11.9 12.3 63.8
60-69 - - - 8.3
45-59 - - - 19.5
Segmentasi (Membership)
PBI APBN 30.9 30.6 31.3 41.3
PBPU (Mandiri) 23.4 22.6 22.4 11.6
Bukan Pekerja 16.6 17.8 17.5 3.9
PPU 15.5 15.1 15.2 23.2
PBI APBD 13.5 13.8 13.6 20.1
Kelas Rawat
Kelas III 59.9 58.3 58.8 70.1
Kelas I 25.7 26.8 26.3 16.3
Kelas II 14.4 14.9 14.9 13.6
Pulau
Jawa 65.8 65.6 65.3 54.2
Sumatera 17.4 17.7 17.8 20.7
Sulawesi 5.8 6.0 6.2 7.6
Kalimantan 5.0 5.3 5.4 5.7
Bali-Nusra 4.9 4.2 4.2 5.4
Maluku-Papua 1.0 1.2 1.2 6.4
Tipe Stroke
Iskemik (I63) 56.9 50.9 49.8 -
Tak-spesifik (I64) 25.1 30.2 31.2 -
Hemoragik (I60–62) 15.3 16.4 16.2 -
TIA (G45) 2.6 2.5 2.9 -
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Populasi Umum = sample reguler BPJS (semua peserta JKN)
Key takeaway Tabel 1: Dibanding populasi JKN umum, pasien stroke jauh lebih tua (terkonsentrasi ≥60 th), sedikit lebih banyak laki-laki, dan distribusi segmennya menunjukkan beban nyata pada PBI (lihat Pilar I untuk gradien SES served-rate). Mayoritas teridentifikasi di FKRTL (stroke akut adalah peristiwa rumah sakit), bukan FKTP.

4 Pilar B, FKTP (Layanan Primer)

② Pilar B · Layanan Primer (FKTP) · Diagnosis · Cakupan FKTP↔︎FKRTL
Pertanyaan: Apa peran FKTP pada stroke, sebagian besar sebagai pintu rujukan akut dan tempat kontrol/pemantauan pasca-stroke, dan seberapa besar cakupannya.

Tabel B.1 · Cakupan: FKTP saja vs FKRTL saja vs Keduanya · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Pola pemakaian layanan Pasien (tertimbang) Pasien (sampel) %
FKRTL saja 2,740,398 28,711 60.8
FKTP + FKRTL 1,541,478 17,062 34.2
FKTP saja 226,226 2,639 5.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Key takeaway B: Sebagian besar pasien stroke teridentifikasi melalui FKRTL (stroke akut langsung ke RS), dengan FKTP berperan terutama pada pemantauan/kontrol pasca-akut dan pintu rujukan. Proporsi pasien “FKRTL saja” yang besar menegaskan bahwa stroke akut adalah peristiwa rumah sakit, namun kontinuitas pasca-stroke di layanan primer (Pilar F) tetap krusial.

5 Pilar C, FKRTL (Rujukan / Rumah Sakit): Keparahan, LOS, Setting

③ Pilar C · RJTL vs RITL · Kelas RS · Lama Rawat (LOS) · Keparahan INA-CBG · IGD
Pertanyaan: Karakter layanan rujukan stroke, tingkat layanan, kelas fasilitas, lama rawat, keparahan menurut INA-CBG, dan intensitas per pasien.

Tabel C.1 · Lama Rawat Inap (LOS) menurut Tipe Stroke · Unit: Episode rawat inap
Tipe Stroke Episode rawat inap (sampel) Rata2 LOS (hari) Median LOS (IQR)
Perdarahan Subaraknoid (I60) 356 6.0 4 (2–8)
Perdarahan Intraserebral (I61) 2897 6.2 5 (2–8)
Perdarahan Intrakranial lain (I62) 371 6.3 5 (2.5–8)
Infark Serebral / Iskemik (I63) 13627 4.9 4 (3–6)
Stroke tak-spesifik (I64) 12490 4.7 4 (3–6)
TIA / Serangan Iskemik Sesaat (G45) 787 3.3 3 (2–4)
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | LOS = FKL04−FKL03, dibatasi 0–365 hari
Tabel C.2 · LOS menurut Kelas/Tipe Rumah Sakit · Unit: Episode rawat inap
Kelas/Tipe RS Episode (sampel) Rata2 LOS (hari) Median LOS (IQR)
RS Kelas C 14040 4.4 4 (3–5)
RS Kelas B 11129 5.4 5 (3–7)
RS Kelas D 2857 3.7 3 (2–5)
RS Kelas A 1651 7.7 6 (3–10)
RS Khusus 440 5.8 5 (3–7)
Lainnya/Missing 411 5.1 4 (4–6)
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.1 Keparahan stroke menurut INA-CBG (rawat inap)

Proxy keparahan dari INA-CBG

Kelompok INA-CBG stroke memuat tingkatan keparahan eksplisit (“kecederaan pembuluh darah otak dengan infark ringan/sedang/berat”). Ini dijadikan proxy keparahan klinis pada episode rawat inap. Klaim tanpa kelompok keparahan diberi label “Tidak tergrup”.

Tabel C.4 · Kunjungan Gawat Darurat (IGD/UGD) Stroke per Tahun · Unit: Kunjungan
Kepemilikan faskis: Swasta 54%, Publik 46%, Lainnya 0%
Tahun Kunjungan IGD/UGD (sampel) % dari FKRTL
2015 243 3.1
2016 236 2.3
2017 239 1.2
2018 415 1.6
2019 469 1.6
2020 301 1.1
2021 253 0.8
2022 308 0.8
2023 373 0.7
2024 322 0.5
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | IGD = pintu masuk stroke akut (time-is-brain)
Key takeaway C: Stroke adalah beban rawat inap: episode hemoragik (I60–62) cenderung LOS lebih panjang dan biaya lebih tinggi dibanding iskemik. Keparahan INA-CBG menunjukkan sebagian besar klaim pada tingkat ringan-sedang, dengan ekor “berat” yang mahal. Pintu IGD adalah jalur masuk akut, konsisten dengan prinsip time-is-brain.

6 Pilar D, Rujukan & Konektivitas Antar-Faskes

④ Pilar D · Gate FKTP→FKRTL · Tipe Perujuk · Geografi Rujukan
Pertanyaan: Bagaimana pasien stroke mencapai layanan rujukan, lewat gate primer atau langsung, siapa perujuknya, dan apakah rujukan menyeberang wilayah.

Tabel D.1 · Tipe Faskes Perujuk Rawat Inap Stroke · Unit: Episode
Tipe faskes perujuk (rawat inap) Episode (sampel) %
Rumah Sakit 31,579 83.3
Puskesmas 3,749 9.9
Dokter Umum 1,374 3.6
Klinik Pratama 1,114 2.9
Klinik Utama 73 0.2
Apotik 8 0.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Key takeaway D: Untuk stroke akut, jalur masuk sering langsung ke IGD RS (bukan gate FKTP), konsisten dengan kegawatan. Rujukan rawat inap mayoritas antar-RS dan sangat lokal (dalam kabupaten), menyiratkan kapasitas neurologi/CT-scan yang belum merata mendorong eskalasi internal RS, bukan rujukan lintas-wilayah.

7 Pilar E, Geografi Member ↔︎ Faskes (Akses Spasial)

⑤ Pilar E · Tempat Tinggal vs Faskes Terdaftar · Luar-Kabupaten
Pertanyaan: Apakah pasien stroke terdaftar di faskes dalam kabupatennya, dan di wilayah mana akses memaksa keluar daerah.
Tabel E.1 · Kesesuaian Tempat Tinggal ↔ Faskes Terdaftar · Unit: Member
PSTV09/10 (tempat tinggal) vs PSTV13/14 (faskes terdaftar)
Indikator %
Faskes terdaftar dalam PROVINSI sama 95.9
Faskes terdaftar dalam KABUPATEN sama 89.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Key takeaway E: Mayoritas peserta stroke terdaftar di faskes dalam kabupatennya, namun beberapa provinsi (terutama wilayah timur dan metropolitan) menunjukkan ketidaksesuaian lebih tinggi, sinyal keterbatasan kapasitas lokal untuk penanganan stroke akut yang time-sensitive.

8 Pilar F, Proses, Kontinuitas & Outcome

⑥ Pilar F · Case-Fatality Rawat Inap · Follow-up Pasca-Stroke · Rekurensi · Mortalitas
Inti mutu stroke. Case-fatality rawat inap (proxy mortalitas 30-hari, kerangka OECD HCQI), kontinuitas pasca-stroke (follow-up rawat jalan), dan stroke berulang. Detail per tipe & usia ada di Pilar Khusus Stroke.

Tabel F.1 · Kontinuitas Pasca-Stroke (Follow-up) · Unit: Episode discharge
Dari 30,528 episode rawat inap stroke
Indikator % discharge
Follow-up rawat jalan dalam 30 hari pasca-pulang 46.3%
Follow-up rawat jalan dalam 90 hari pasca-pulang 49.8%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | follow-up = kontak rawat jalan/FKTP setelah pulang

Mortalitas, interpretasi hati-hati. Case-fatality di sini = kematian in-hospital (FKL14=3), proxy konservatif untuk mortalitas 30-hari (kerangka OECD HCQI). Stroke dengan kematian pra-rumah sakit tidak tertangkap klaim, sehingga mortalitas sejati lebih tinggi. PSTV18 (tahun meninggal) hanya terisi tahun snapshot terbaru, sehingga belum dipakai sebagai rate tahunan.
Key takeaway F: Case-fatality rawat inap jauh lebih tinggi pada stroke hemoragik dibanding iskemik, sebuah validasi klinis internal. Kontinuitas pasca-stroke (follow-up rawat jalan) menunjukkan ruang perbaikan transisi rawat-inap ke rehabilitasi/kontrol, krusial untuk mencegah rekurensi (lihat Pilar Khusus).

9 Pilar G, Komorbiditas

⑦ Pilar G · Faktor Risiko & Komorbiditas (Hipertensi, Diabetes, AF, Dislipidemia)
Inti: Stroke adalah penyakit faktor-risiko. Komorbiditas dipindai di FKL15A dan SDX (sekunder) pada seluruh klaim pasien stroke, sehingga tertangkap lebih lengkap.

Key takeaway G: Hipertensi adalah komorbiditas dominan pada pasien stroke (penyebab utama yang dapat dimodifikasi), diikuti diabetes, jantung iskemik, dan fibrilasi atrium (faktor risiko stroke kardioembolik). Mayoritas pasien membawa ≥1 komorbiditas, menegaskan bahwa pencegahan stroke = pengendalian faktor risiko di layanan primer (hubungkan ke AMHASS/hipertensi-DM cascade).

10 Pilar H, Ekonomi Layanan Stroke

⑧ Pilar H · Biaya Klaim FKRTL · Biaya per Tipe · Konsentrasi (Pareto) · INA-CBG
Pertanyaan: Berapa belanja JKN untuk stroke, apa pendorongnya menurut tipe & setting, dan seberapa terkonsentrasi.

10.1 Belanja & pendorong biaya

10.1.1 Per Tahun

10.1.3 Konsentrasi (Pareto)

Tabel H.1 · Konsentrasi Biaya (Pareto) · Unit: Pasien, konsentrasi biaya
Total belanja FKRTL stroke ≈ Rp35412.4 Miliar (kumulatif)
Top % pasien (biaya tertinggi) % total belanja FKRTL
1 12.3
5 32.0
10 44.7
20 60.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Tabel H.2 · 15 Kelompok INA-CBG Teratas (volume klaim) · Unit: Klaim FKRTL
Deskripsi INA-CBG Klaim (sampel) Total (Miliar Rp, tertimbang) Rata2/klaim (Rp)
Penyakit Kronis Kecil Lain-Lain 171,676 3,057.2 196,656
Prosedur Therapi Fisik Dan Prosedur Kecil Muskuloskletal 34,597 376.9 124,520
Prosedur Rehabilitasi 16,608 226.5 160,418
730 7,488 120.9 174,002
Sistem Persarafan Pusat Akut 7,262 87.6 145,987
Penyakit Kronis Kecil Lainlain 5,314 99.6 191,563
Konsultasi Atau Pemeriksaan Lain-Lain 4,925 70.7 142,370
Kecederaan Pembuluh Darah Otak Dengan Infark Ringan 4,919 2,366.3 5,133,414
Kecederaan Pembuluh Darah Otak Dengan Infark Sedang 4,429 3,388.6 7,477,483
Kecederaan Pembuluh Darah Otak Non Spesifik & Penyumbatan Pre-Cerebral Tanpa Infark Ringan 3,044 946.6 3,695,474
Ct-Scan Kepala 2,823 279.4 1,059,131
Perdarahan Intra Kranial Bukan Traumatik Ringan 1,781 583.7 3,307,746
Kecederaan Pembuluh Darah Otak Dengan Infark Ringan 1,773 933.1 5,259,651
Penyakit Akut Kecil Lain-Lain 1,733 28.1 199,156
Kecederaan Pembuluh Darah Otak Dengan Infark Sedang 1,525 1,219.1 7,435,397
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway H: Belanja klaim FKRTL stroke ≈ Rp35,412.4 Miliar kumulatif. Biaya terkonsentrasi pada sebagian kecil pasien berat (Pareto), target manajemen kasus. Episode hemoragik dan rawat inap berat adalah pendorong biaya per-klaim utama, sementara volume iskemik mendorong total belanja.

11 Pilar I, Ekuitas vs Populasi Umum

⑨ Pilar I · Segmen (SES) · Geografi · Representasi vs Populasi Umum
Representation index = % terlayani stroke ÷ % populasi umum. Served-rate = pasien stroke per 100.000 peserta JKN (numerator & denominator sama-sama dari reguler). Breakdown jenis kelamin · usia · segmen · pulau.

Tabel I.1 · Uji Beda Distribusi: Pasien Stroke vs Populasi Umum · Unit: sampel
χ² (sampel mentah); n besar → selalu signifikan, gunakan Cramér’s V untuk besaran efek
Karakteristik Cramér V p
Jenis Kelamin 0.003 <0,001
Kelompok Usia 0.157 <0,001
Segmentasi (Membership) 0.097 <0,001
Pulau 0.042 <0,001
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway I: Pembandingan dengan populasi JKN umum menunjukkan served-rate stroke sangat timpang antar-provinsi (wilayah dengan kapasitas neurologi/CT-scan lebih baik menyerap lebih banyak kasus) dan gradien menurut segmen yang perlu dibaca bersama struktur usia. Ketimpangan spasial adalah sinyal akses ke layanan stroke akut yang belum merata, bukan semata beban penyakit.

12 ★ Pilar Khusus Stroke, Iskemik vs Hemoragik, CFR, Reperfusi, Rekurensi, Sekuele

★ Analisis Spesifik Stroke · Tipe × (Beban/LOS/Biaya/CFR) · CFR per Usia · Reperfusi-Proxy · Rekurensi · Sekuele I69
Pertanyaan: Karakter klinis yang membedakan stroke iskemik dan hemoragik, case-fatality menurut tipe dan usia (kerangka OECD HCQI), seberapa jauh layanan akut tertangkap klaim (reperfusi-proxy yang jujur), stroke berulang, dan beban disabilitas pasca-stroke (sekuele I69 sebagai jembatan ke perawatan jangka panjang).

12.1 Iskemik vs Hemoragik: beban, LOS, biaya, CFR

12.2 Case-fatality menurut tipe × usia (OECD HCQI framing)

Tabel SP.1 · Case-Fatality Rawat Inap Stroke per Tahun (incl. 2024) · Unit: Episode rawat inap
Kematian in-hospital (FKL14=3) / admisi stroke; proxy mortalitas 30-hari (OECD HCQI)
Tahun Admisi (sampel) CFR total (%) CFR hemoragik (%) CFR iskemik (%)
2017 2,925 14.0 30.5 9.1
2018 3,524 13.3 31.4 9.9
2019 3,557 17.0 34.9 12.9
2020 2,951 16.0 32.7 14.2
2021 2,531 16.4 31.6 11.8
2022 4,039 15.0 31.6 11.5
2023 5,136 14.9 30.9 12.4
2024 5,865 14.3 28.1 12.3
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | baris 2024 = tahun terkini

12.3 Reperfusi-proxy (jujur) & rekurensi

Reperfusi adalah proxy, bukan tindakan terverifikasi. Trombolisis (rt-PA) dan trombektomi mekanik tidak terkode sebagai prosedur eksplisit yang andal di sampel klaim ini. Kami melaporkan proxy konservatif: proporsi pasien iskemik rawat inap dengan kelompok INA-CBG “sistem persarafan pusat akut” dan klaim CT-scan kepala, sebagai indikasi jangkauan layanan stroke akut, BUKAN tingkat reperfusi sebenarnya. Reperfusi sejati hampir pasti lebih rendah.
Tabel SP.2 · Reperfusi-Proxy & Stroke Berulang · Unit: Pasien / episode
Reperfusi = PROXY jangkauan layanan akut (bukan tindakan terverifikasi); rekurensi = admisi inap berulang
Indikator Nilai
Pasien iskemik rawat inap dengan kelompok 'persarafan pusat akut' (proxy) 0.4% (n=69)
Pasien iskemik rawat inap dengan klaim CT-scan kepala (proxy) 0.0% (n=0)
Stroke berulang (≥2 admisi rawat inap, jeda >30 hari) 12.4% (n=3,080 dari 24,938)
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | trombolisis/trombektomi tidak terkode eksplisit, proxy konservatif

12.4 Sekuele pasca-stroke (I69), jembatan perawatan jangka panjang

Lapisan terpisah

I69 (sekuele penyakit serebrovaskular) merepresentasikan disabilitas kronik pasca-stroke (hemiparesis, afasia, gangguan kognitif), bukan kejadian akut. Lapisan ini tidak dimasukkan ke prevalensi stroke akut. Ia menandai kebutuhan rehabilitasi dan perawatan jangka panjang (LTC), area yang sering kurang dibiayai.

Tabel SP.3 · Beban Sekuele Pasca-Stroke (I69) · Unit: Pasien / klaim / biaya
Lapisan terpisah dari prevalensi akut; penanda kebutuhan rehabilitasi & LTC
Indikator Nilai
Pasien dengan klaim sekuele I69 (sampel) 17,035
Klaim I69 tertimbang (kumulatif) 11,415,334
Belanja FKRTL sekuele I69 (Miliar Rp, tertimbang) 5,073.9
Klaim rawat jalan I69 (sampel) 123,931
Klaim rawat inap I69 (sampel) 4,946
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 (sampel reguler/rumah tangga) | ICD-10 I60–I64, G45 akut; I69 sekuele | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway ★ Khusus Stroke: Stroke hemoragik konsisten lebih berat (LOS lebih panjang, biaya lebih tinggi, case-fatality berlipat) dibanding iskemik, dan CFR naik tajam dengan usia di tiap tipe, validasi klinis internal yang kuat. Reperfusi-proxy menunjukkan jangkauan layanan stroke akut masih terbatas (trombolisis/trombektomi sejati lebih rendah lagi). Sekuele I69 menandai populasi penyintas yang membutuhkan rehabilitasi dan perawatan jangka panjang, dimensi yang sering terlewat dalam pembiayaan stroke.

13 ◆ Triangulasi Riskesdas, Prevalensi Komunitas vs Terlayani JKN (Treatment Gap)

◆ Triangulasi · Prevalensi Stroke Komunitas (Riskesdas 2018 / SKI 2023) vs Served-Prevalence JKN
Pertanyaan: Seberapa besar jarak antara stroke yang diderita masyarakat (survei komunitas) dan stroke yang tertangkap layanan JKN. Ini adalah ukuran treatment gap yang dihitung langsung dari mikrodata Riskesdas/SKI ARC, bukan dikutip dari publikasi.
Caveat triangulasi (wajib dibaca). Prevalensi komunitas Riskesdas/SKI = swalapor stroke yang pernah didiagnosis dokter (Riskesdas 2018 var B10B25 pada responden ≈≥15 th; SKI 2023 var B24 seluruh responden). Served-prevalence JKN = pasien dengan klaim stroke. Ketiganya memakai definisi, denominator, dan rentang waktu berbeda (swalapor vs klaim; ≥15 th vs semua usia; titik-waktu vs kumulatif). Karena itu, jarak yang ditampilkan bersifat indikatif arah dan besaran kasar treatment gap, bukan estimasi gap presisi.

Key takeaway ◆ Triangulasi: Prevalensi stroke komunitas swalapor 10.9‰ (Riskesdas 2018) dan 8.3‰ (SKI 2023), jauh di atas served-prevalence JKN tahunan, mengindikasikan treatment gap besar: banyak penderita/penyintas stroke tidak menghasilkan klaim akut berulang (meninggal pra-RS, dirawat tanpa kode spesifik, atau dikelola di komunitas). Angka komunitas 2018 (≈10,9‰) konsisten dengan figur nasional Riskesdas, memperkuat validitas. Provinsi dengan prevalensi komunitas tinggi belum tentu memiliki served-rate JKN tinggi, menandai ketimpangan akses, bukan semata beban.

14 Keterbatasan & langkah lanjut

Keterbatasan utama.
(1) Klaim = populasi terlayani, bukan prevalensi sejati (treatment gap besar, lihat Triangulasi).
(2) Stroke tak-spesifik (I64) berproporsi besar, keterbatasan spesifisitas koding tanpa neuroimaging terdokumentasi, sehingga split iskemik/hemoragik adalah batas-bawah ketelitian.
(3) Mortalitas under-captured: case-fatality hanya in-hospital (FKL14=3); kematian pra-RS & komunitas tak tertangkap, sehingga CFR sebenarnya lebih tinggi.
(4) Reperfusi (trombolisis/trombektomi) tidak terkode eksplisit, hanya proxy konservatif; tingkat reperfusi sejati lebih rendah.
(5) Tidak ada data vitals/lab (tekanan darah, NIHSS, mRS), sehingga keparahan klinis & disabilitas memakai proxy INA-CBG / sekuele I69.
(6) Triangulasi Riskesdas memakai definisi/denominator berbeda (swalapor vs klaim, ≥15 th vs semua usia), gap bersifat indikatif.
(7) Data dibangun pada sampel reguler ~1%, daya statistik terbatas untuk subkelompok jarang (mis. I60 SAH, CFR per usia di provinsi kecil).

Langkah lanjut (fase berikutnya): choropleth kabupaten/kota interaktif (skill indonesia-district-map); penautan ke sisi supply (ARC2.6 Stroke Supply Side, GIS cathlab/stroke unit) untuk peta akses-kapasitas; age-standardisasi CFR; analisis door-to-needle bila data prosedur tersedia; integrasi sekuele I69 ke desain pembiayaan rehabilitasi/LTC; ekstensi triangulasi ke SKI 2023 tingkat provinsi.


Analisis sistem kesehatan berbasis data administratif agregat (Data Sampel BPJS Kesehatan) dan survei komunitas (Riskesdas/SKI). Seluruh angka populasi adalah proyeksi tertimbang dari sampel; klaim menggambarkan populasi terlayani, bukan prevalensi sejati.