Unit analisis (penting, tercantum di tiap tabel/figur). Dokumen ini memakai 3 unit berbeda, perhatikan badge · Unit: …: (1) Pasien unik = orang, dihitung sekali (prevalensi, demografi, kaskade, mortalitas, Pareto, ekuitas); (2) Kunjungan/Klaim = per layanan (volume utilisasi, tipologi, biaya, INA-CBG, komorbiditas); (3) Episode rawat inap = per perawatan inap (LOS, CFR in-hospital).

Cara baca dokumen. Setiap angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang (PSTV15) dari data sampel; angka sampel mentah dilaporkan terpisah bila relevan. Definisi kunjungan TB = kode ICD-10 A15–A19 (TB aktif) di diagnosis masuk/primer/sekunder (penting: FKL15A “masuk” = diagnosis klinis sebenarnya; FKL17A “primer” sering kode Z09 follow-up). Sekuele TB (B90) serta kode skrining/kontak (Z20.1/R76.1/Z03) dikecualikan dari denominator TB-aktif (pasca-TB/penyaringan, bukan penyakit aktif). Data klaim hanya menggambarkan populasi yang terlayani & tercatat di JKN, bukan seluruh kasus TB nasional (banyak ditemukan/diobati lewat program TB publik non-JKN; lihat Treatment Gap).

Peta Pilar (navigasi): Fondasi (kohort, definisi, tipologi, treatment gap) · A Beban & Demografi · B FKTP (Layanan Primer) · C FKRTL (Rujukan/RS) · D Inter, Rujukan & Konektivitas · E Geografi Member↔︎Faskes · F Kaskade Pengobatan, LTFU, MDR-TB, TB-HIV & Outcome · G Komorbiditas (DM, HIV, PPOK) · H Ekonomi · I Ekuitas.

1 Layer 0, Fondasi: kohort, definisi kasus, & treatment gap

⓪ Fondasi · Alur Kohort (STROBE) · Definisi TB aktif (A15–A19) · Stratifikasi Anatomi/Keparahan · Treatment Gap

Inti: Mendefinisikan populasi analisis (peserta cohort TB dengan ≥1 klaim diagnosis TB aktif A15–A19), stratifikasi menurut bentuk klinis & keparahan, dan kerangka treatment gap, pengingat bahwa klaim JKN hanya menangkap TB yang sampai ke fasilitas dan diklaimkan ke JKN.
Sumber & desain: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024, cohort TB; identifikasi pasien via PSTV01; bobot nasional PSTV15; demografi via codebook resmi (PSTV05 jenis kelamin, PSTV08 segmentasi, PSTV07 kelas, PSTV09 provinsi tempat tinggal, PSTV18 tahun meninggal).

Tabel L0.1, Alur Pembentukan Kohort (STROBE) · Unit: Pasien unik (sampel)
Angka sampel mentah (pasien unik), cohort TB BPJS 2015–2024
Tahap Pasien (sampel mentah)
Cohort TB (peserta tersampel) 118,747
Punya ≥1 klaim FKRTL (semua sebab) 110,356
Pasien dengan ≥1 klaim TB aktif di FKRTL 98,930
Pasien dengan ≥1 klaim TB aktif di FKTP 87,088
KOHORT ANALISIS, ≥1 klaim TB aktif (FKTP/FKRTL) 118,220
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

1.1 Validasi desain sampel & cross-check ke sampel Reguler (KRITIS)

Desain sampel menentukan analisa apa yang sah. Verifikasi langsung ke database menunjukkan kohort TB adalah tarikan per-individu yang diperkaya (enriched), di-seed pada tahun frame 2019, bukan sampel rumah tangga. Buktinya: kohort TB hanya 1.03 individu/rumah tangga (vs 2.43 di reguler = sampel household sejati), dan hanya 1.9% individunya tumpang-tindih dengan reguler. Konsekuensi: per-tahun & kumulatif kohort TB terdistorsi oleh tahun-seed (2019 menyerap ~½ pasien; tahun lain truncated). Kohort TB sah sebagai potret CROSS-SECTIONAL kedalaman (kaskade, komorbiditas, biaya, ekuitas relatif) di sekitar 2019; tren temporal & rate populasi diambil dari REGULER (sampel household 1%, tak-bias, power lebih rendah).
Tabel L0.1b, Desain Sampel: Kohort TB (enriched, per-individu) vs Reguler (household) · Unit: Sampel
Properti Kohort TB Reguler (household 1%)
Individu 118,747 2,590,751
Rumah tangga (PSTV02) 114,948 1,065,281
Individu / rumah tangga 1.03 (≈per-individu) 2.43 (household penuh)
Tumpang-tindih dgn reguler 1.9% – (acuan)
Tahun seed (frame) 2019 kontinu
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Kohort TB = tarikan diperkaya per-individu, di-seed di tahun frame; Reguler = sampel acak 1% berbasis rumah tangga

Tabel L0.1c, Tren TB Terlayani TAK-BIAS dari Sampel Reguler · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Sampel household 1%, power lebih rendah tapi frame benar. INI tren yang sah untuk dibaca, bukan kurva kohort TB.
Tahun Pasien reguler (sampel) Pasien TB terlayani (tertimbang) YoY
2015 3,732 316,733
2016 4,351 346,300 +9.3%
2017 6,402 577,955 +66.9%
2018 6,921 643,231 +11.3%
2019 7,367 658,263 +2.3%
2020 5,523 493,866 -25%
2021 4,849 419,366 -15.1%
2022 7,145 632,925 +50.9%
2023 7,787 689,149 +8.9%
2024 8,168 711,765 +3.3%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway desain sampel: Sampel reguler menunjukkan TB terlayani naik mulus ke 2024 (dengan dip COVID 2020), kebalikan dari kurva kohort TB yang memuncak di 2019 lalu jatuh. Karena itu di dokumen ini: (1) semua angka per-tahun/kumulatif dari kohort TB dibaca sebagai potret kohort terlayani anchored ~2019, bukan tren; (2) tren temporal & served-rate populasi memakai reguler; (3) analisa rumah tangga (kontak TB) tidak mungkin dari kohort TB (anggota RT tak ditarik), butuh reguler.

1.2 Tabel 1, Karakteristik Sampel (FKTP · FKRTL · Overall · Populasi Umum)

Karakteristik pasien TB (FKTP, FKRTL, Overall = kohort TB) dibandingkan populasi JKN umum (Populasi Umum = sample reguler BPJS, ~2,6 juta peserta mewakili seluruh peserta JKN). Angka = % per kolom (tertimbang). “Kelompok Diagnostik” kosong (“,”) untuk Populasi Umum.
Tabel 1, Karakteristik Pasien TB vs Populasi JKN Umum · Unit: Pasien unik (tertimbang), % per kolom
FKTP n=87,088 · FKRTL n=98,930 · Overall n=118,220 · Populasi Umum n=2,590,751 (peserta sampel)
FKTP % FKRTL % Overall % Populasi Umum %
Jenis Kelamin
Laki-laki 54.4 55.8 55.2 51.2
Perempuan 45.6 44.2 44.8 48.8
Kelompok Usia
40–59 29.6 29.2 29.8 27.7
18–39 29.8 27.3 28.0 37.1
<18 24.0 23.8 23.0 18.5
≥60 16.6 19.7 19.3 16.7
Segmentasi (Membership)
PBPU (Mandiri) 27.4 29.7 28.2 11.6
PPU 27.6 27.6 26.9 23.2
PBI APBD 23.6 21.8 23.4 20.1
PBI APBN 18.0 16.7 17.5 41.3
Bukan Pekerja 3.5 4.2 4.0 3.9
Kelas Rawat
Kelas III 63.5 61.3 62.7 70.1
Kelas II 21.7 22.1 21.4 13.6
Kelas I 14.8 16.6 16.0 16.3
Pulau
Jawa 62.5 63.0 62.5 54.2
Sumatera 19.9 19.3 19.4 20.7
Sulawesi 7.2 7.5 7.7 7.6
Kalimantan 5.8 5.4 5.4 5.7
Bali-Nusra 2.9 2.8 3.0 5.4
Maluku-Papua 1.7 2.1 2.1 6.4
Kelompok Diagnostik
TB Paru terkonfirmasi (A15) 58.1 48.7 51.9
TB Paru klinis/tak terkonfirmasi (A16) 14.8 24.1 23.7
TB Ekstraparu lain (A18) 19.1 19.6 17.5
TB Milier / Diseminata (A19) 4.9 4.5 4.0
TB SSP / Meningitis (A17) 3.1 3.1 2.8
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Populasi Umum = sample reguler BPJS (semua peserta JKN); Overall = kohort TB; FKTP/FKRTL = pengguna layanan
Key takeaway (vs populasi umum): Pasien TB lebih laki-laki (55.2% vs 51.2% populasi umum, sesuai pola epidemiologi TB global), dan terkonsentrasi pada usia produktif. Distribusi segmen: PBI APBN (termiskin) 17.5% vs 41.3% populasi umum, pola ini diperdalam di Pilar I (Ekuitas) sebagai gradien akses. Geografis: Jawa 62.5% vs 54.2% populasi umum.

1.3 Stratifikasi diagnostik (bentuk TB paling berat per pasien)

Aturan stratifikasi

Tiap pasien diberi satu kelompok primer = bentuk TB aktif paling berat yang pernah tercatat, prioritas klinis: TB SSP/Meningitis (A17) › TB Milier/Diseminata (A19) › TB Ekstraparu lain (A18) › TB Paru terkonfirmasi bakteriologis (A15) › TB Paru klinis/tak terkonfirmasi (A16). Catatan: A15 (terkonfirmasi) vs A16 (klinis) membedakan TB dengan vs tanpa konfirmasi bakteriologis, proxy mutu diagnosis (lihat indikator konfirmasi di bawah).

Tabel L0.2, Distribusi Bentuk Klinis TB (paling berat per pasien) · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Kelompok Diagnostik Primer Pasien (tertimbang) Pasien (sampel) Proporsi (%)
TB Paru terkonfirmasi (A15) 486,222 41,443 51.9
TB Paru klinis/tak terkonfirmasi (A16) 222,093 16,176 23.7
TB Ekstraparu lain (A18) 164,438 43,737 17.5
TB Milier / Diseminata (A19) 37,942 10,594 4.0
TB SSP / Meningitis (A17) 26,700 6,270 2.8
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

1.4 Indikator konfirmasi bakteriologis (A15 vs A16)

Mengapa A15 vs A16 penting
A15 = TB paru terkonfirmasi bakteriologis (BTA/biakan/molekuler positif, mis. TCM/GeneXpert); A16 = TB paru klinis/tak terkonfirmasi (diagnosis tanpa konfirmasi lab). Proporsi konfirmasi bakteriologis adalah indikator mutu program TB yang dilacak WHO, naik seiring perluasan tes molekuler. Di sini dihitung sebagai proxy tingkat-pasien (di antara pasien TB paru, % yang bentuk terberatnya terkonfirmasi).
Konfirmasi bakteriologis (proxy): Di antara pasien TB paru dalam JKN, sekitar 68.6% terkode terkonfirmasi bakteriologis (A15) vs 31.4% klinis/tak terkonfirmasi (A16), proxy tingkat-pasien (klasifikasi bentuk terberat). Ini sejalan arah target WHO untuk menaikkan deteksi terkonfirmasi via tes molekuler, namun tergantung praktik koding klaim dan tidak setara dengan laporan konfirmasi program TB nasional.

1.5 Definisi kunjungan TB & tipologi koding

Bagaimana sebuah kunjungan disebut “kunjungan TB”

FKL15A “diagnosis masuk” = diagnosis klinis sebenarnya (mis. A15 TB paru), sedangkan FKL17A “diagnosis primer” sering berisi kode Z (Z09 “follow-up”, administratif) untuk kunjungan kontrol. Karena itu kunjungan dihitung kunjungan TB bila kode TB aktif (A15–A19) muncul di diagnosis masuk, primer, atau sekunder (SDX). Definisi ini menangkap kontrol pengobatan rutin (ber-primer Z09) dan TB sebagai komorbid pada kunjungan lain.

Treatment gap, klaim JKN ≠ seluruh kasus TB nasional. Sebagian besar penemuan & pengobatan TB di Indonesia berjalan lewat Program TB Nasional (Puskesmas, OAT program, SITB) yang tidak selalu menghasilkan klaim JKN fee-for-service (OAT lini-1 disediakan program, bukan diklaim). Akibatnya angka di dokumen ini adalah TB yang tercatat dalam klaim JKN, under-capture terhadap notifikasi nasional, dan jauh di bawah estimasi insidensi WHO (Indonesia ≈385/100.000/tahun, ≈1,09 juta kasus/tahun; GTBR 2024, ≈). Gunakan angka ini untuk memahami pola utilisasi, biaya, rujukan, dan ekuitas dalam JKN, bukan sebagai estimasi beban TB nasional.

Tabel L0.3, Triangulasi Treatment/Reporting Gap (ilustratif) · Unit: Pasien
TB terlayani-JKN vs estimasi insidensi WHO; angka tidak setara langsung (denominator & sumber berbeda)
Indikator Nilai (≈) Catatan
Estimasi insidensi TB (WHO GTBR 2024, nasional) ≈385 / 100.000 penduduk (≈1,09 juta kasus/th) Estimasi beban (semua sumber)
TB terlayani-baru JKN 2024 (tertimbang) 36,764 pasien baru (klaim JKN) Hanya yang menghasilkan klaim JKN, under-capture vs program TB nasional
Benchmark: WHO Global TB Report 2024 (estimasi, ≈). Klaim JKN tidak mencakup penemuan/pengobatan TB lewat program publik non-klaim → angka JKN bukan estimasi insidensi nasional.
Key takeaway L0: Kohort analisis mencakup 118,220 pasien sampel dengan diagnosis TB. TB Paru terkonfirmasi (A15) mendominasi beban tertimbang (51.9%), diikuti TB Paru klinis (A16) dan TB Ekstraparu (A18). Klaim JKN menangkap TB yang sampai ke layanan dan diklaimkan, under-capture terhadap notifikasi nasional & estimasi WHO; dokumen ini fokus pada pola dalam JKN, bukan estimasi beban nasional.

2 Pilar A, Beban Penyakit & Demografi

① Pilar A · Prevalensi/Insidensi Terlayani · Demografi · Distribusi Geografis
Pertanyaan: Seberapa besar beban TB yang terlayani JKN, bagaimana trennya (dengan hati-hati terhadap artefak sampel), profil demografi, dan sebaran geografis.

Peringatan interpretasi tren (sangat penting untuk kohort ini). Distribusi tahun kohort TB memuncak tajam pada 2019 lalu turun, pola ini didominasi konstruksi frame sampel TB (left-truncation + akrual + kemungkinan tahun anchor sampel), bukan dinamika insidensi TB sejati. Jangan tafsir kurva tahunan sebagai tren epidemiologis. Gunakan uji kohort stabil (di bawah) dan tafsir level cross-sectional, bukan kemiringan tren.

Tabel A.1, Pasien TB Terlayani per Tahun · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Tahun Pasien (sampel) Pasien (tertimbang) YoY
2015 2,288 25,274
2016 3,526 36,147 +43%
2017 6,078 59,363 +64.2%
2018 20,117 187,985 +216.7%
2019 94,146 795,635 +323.2%
2020 25,093 199,824 -74.9%
2021 10,802 67,730 -66.1%
2022 11,757 84,078 +24.1%
2023 5,091 36,117 -57%
2024 10,839 85,584 +137%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

2.1 Validasi tren, kohort stabil

Uji kohort stabil

Kohort stabil = pasien terobservasi sejak awal (kontak pertama ≤2016) dan masih aktif akhir periode (≥2023). Bila tren kohort tetap ini datar sementara keseluruhan memuncak, lonjakan keseluruhan didominasi konstruksi/akrual sampel, bukan epidemiologi.

2.2 Distribusi geografis (provinsi tempat tinggal)

Tabel A.2, 12 Provinsi dengan Beban TB Terlayani Tertinggi · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Rank Provinsi Pulau Pasien (tertimbang) %
1 Jawa Barat Jawa 235,534 25.1
2 Jawa Timur Jawa 104,859 11.2
3 Jawa Tengah Jawa 99,448 10.6
4 DKI Jakarta Jawa 80,162 8.6
5 Banten Jawa 58,856 6.3
6 Sumatera Utara Sumatera 52,793 5.6
7 Sulawesi Selatan Sulawesi 33,783 3.6
8 Aceh Sumatera 24,446 2.6
9 Sumatera Barat Sumatera 22,371 2.4
10 Sumatera Selatan Sumatera 20,911 2.2
11 Riau Sumatera 19,112 2.0
12 Lampung Sumatera 16,306 1.7
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

2.3 Struktur usia & jenis kelamin

Tabel A.3, 20 Kabupaten/Kota dengan Beban TB Terlayani Tertinggi · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Berdasarkan kabupaten/kota tempat tinggal (PSTV10)
Rank Kabupaten/Kota Provinsi Pasien (tertimbang) Pasien (sampel)
1 Kab. Bogor Jawa Barat 35,325 502
2 Kota Jakarta Utara DKI Jakarta 23,261 420
3 Kab. Bekasi Jawa Barat 19,146 368
4 Kota Jakarta Selatan DKI Jakarta 16,953 384
5 Kab. Bandung Jawa Barat 16,263 455
6 Kota Bandung Jawa Barat 15,865 421
7 Kab. Sukabumi Jawa Barat 14,760 457
8 Kota Tangerang Banten 14,337 365
9 Kota Jakarta Pusat DKI Jakarta 14,182 357
10 Kab. Tangerang Banten 14,029 351
11 Kota Jakarta Barat DKI Jakarta 13,291 380
12 Kota Binjai Sumatera Utara 13,001 414
13 Kota Surabaya Jawa Timur 12,849 393
14 Kota Bekasi Jawa Barat 12,660 377
15 Kota Jakarta Timur DKI Jakarta 12,294 364
16 Kab. Karawang Jawa Barat 11,872 363
17 Kota Depok Jawa Barat 11,606 359
18 Kota Bogor Jawa Barat 10,109 344
19 Kab. Cirebon Jawa Barat 10,034 433
20 Kota Tangerang Selatan Banten 9,902 343
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Choropleth kabupaten interaktif = langkah lanjut (skill indonesia-district-map)
Key takeaway A: Beban TB terlayani JKN terkonsentrasi pada usia produktif laki-laki dan di Jawa (populasi terbesar). Kurva tahunan kohort TB tidak boleh dibaca sebagai tren (puncak 2019 = tahun-seed; lihat Validasi Desain Sampel di Fondasi). Tren TB yang sah ada di Tabel L0.1c (dari reguler), naik mulus ke 2024 dengan dip COVID 2020. Pola spasial yang sah = served-rate per 100k dari reguler di Pilar I.

3 Pilar B, FKTP (Layanan Primer)

② Pilar B · Layanan Primer (FKTP) · Diagnosis · Cakupan FKTP↔︎FKRTL
Pertanyaan: Peran FKTP sebagai pintu masuk & tempat pengobatan TB, dan pola cakupan lintas-tingkat.

Tabel B.1, Cakupan: FKTP saja vs FKRTL saja vs Keduanya · Unit: Pasien unik (tertimbang)
Pola pemakaian layanan Pasien (tertimbang) Pasien (sampel) %
FKTP + FKRTL 525,775 67,798 56.1
FKRTL saja 251,565 31,132 26.8
FKTP saja 160,054 19,290 17.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway FKTP: 56.1% pasien TB memakai FKTP dan FKRTL (jalur diagnosis/rujukan khas TB), 26.8% hanya FKRTL (langsung ke RS / TB ekstraparu-berat), dan 17.1% hanya FKTP. Banyak pengobatan TB lini-1 berjalan via program (OAT non-klaim), sehingga FKTP klaim mungkin under-capture fase intensif di Puskesmas.

4 Pilar C, FKRTL (Rujukan / Rumah Sakit)

③ Pilar C · RJTL vs RITL · Tipe RS · LOS · Krisis (IGD)
Pertanyaan: Karakter layanan rujukan/RS untuk TB, intensitas, lama rawat menurut bentuk klinis & kelas RS, dan kunjungan gawat darurat.
Tabel C.1, Intensitas Utilisasi per Pasien menurut Bentuk Klinis · Unit: Rata-rata per pasien
Bentuk Klinis TB Pasien (sampel) Rata2 kunjungan FKTP Rata2 FKRTL R.Jalan Rata2 FKRTL R.Inap Rata2 total % pernah dirawat inap
TB Ekstraparu lain (A18) 43737 2 6 0 9 25.6
TB Paru terkonfirmasi (A15) 41443 3 3 0 7 38.4
TB Paru klinis/tak terkonfirmasi (A16) 16176 0 2 0 3 33.0
TB Milier / Diseminata (A19) 10594 3 5 0 9 38.5
TB SSP / Meningitis (A17) 6270 2 7 0 11 52.7
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Tabel C.2, Lama Rawat Inap TB (LOS) · Unit: Episode rawat inap
Bentuk Klinis TB Episode rawat inap (sampel) Rata2 LOS (hari) Median LOS (IQR)
TB SSP / Meningitis (A17) 2209 10.4 7 (4–13)
TB Milier / Diseminata (A19) 1609 5.9 5 (3–7)
TB Ekstraparu lain (A18) 7452 6.1 4 (2–7)
TB Paru terkonfirmasi (A15) 18015 5.4 4 (3–6)
TB Paru klinis/tak terkonfirmasi (A16) 21202 5.5 5 (3–7)
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | LOS = FKL04−FKL03, dibatasi 0–365 hari; definisi strict (TB di masuk/primer)
Tabel C.3, Lama Rawat Inap menurut Kelas/Tipe RS · Unit: Episode rawat inap
Kelas/Tipe RS Episode rawat inap (sampel) Rata2 LOS (hari) Median LOS (IQR)
RS Kelas C 25576 5.1 4 (3–6)
RS Kelas B 13953 6.4 5 (3–8)
RS Kelas D 6153 4.2 4 (3–5)
RS Kelas A 3551 11.4 8 (5–15)
RS Khusus 1223 4.9 4 (2–6)
Lainnya/Missing 31 4.6 4 (3–5)
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Tabel C.4, Kunjungan Gawat Darurat (IGD/UGD) pada Pasien TB · Unit: Kunjungan
Kepemilikan faskes: Publik 51%, Swasta 49%
Tahun Kunjungan IGD/UGD (sampel) % dari FKRTL
2015 91 1.1
2016 151 1.1
2017 290 1.1
2018 1,477 1.6
2019 4,874 1.7
2020 949 1.1
2021 362 1.0
2022 396 1.0
2023 144 0.9
2024 241 0.7
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | event akut = proxy keterlambatan/komplikasi
Key takeaway FKRTL: Rawat inap TB terkonsentrasi pada bentuk berat, TB SSP/Meningitis & Milier memiliki LOS terpanjang dan proporsi rawat inap tertinggi. Layanan FKRTL TB hampir seluruhnya di RS Umum (95.6%), RS Khusus (mis. RS Paru) 4.4%.

5 Pilar D, Inter: Rujukan & Konektivitas Antar-Faskes

④ Pilar D · Gate FKTP→FKRTL · Tipe Perujuk · Geografi Rujukan · Alur Tingkat
Pertanyaan: Bagaimana pasien TB berpindah antar fasilitas, lewat gate primer, siapa perujuk, dan apakah rujukan menyeberang kabupaten/provinsi.

Tabel D.1, Tipe Faskes Perujuk Rawat Inap TB · Unit: Episode
Tipe faskes perujuk (rawat inap) Episode (sampel) %
Rumah Sakit 169,376 82.9
Puskesmas 24,199 11.8
Klinik Pratama 5,651 2.8
Dokter Umum 3,605 1.8
Klinik Utama 1,463 0.7
Lainnya 31 0.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Key takeaway Inter: Pada 2018–2023, sebagian besar kunjungan FKRTL TB datang via rujukan FKTP (gate primer berfungsi). Rujukan rawat inap sangat lokal (mayoritas dalam kabupaten sama). Rujuk-balik (FKRTL→FKTP untuk lanjut OAT) tidak terkode eksplisit di klaim → tidak dianalisis.

6 Pilar E, Geografi Member ↔︎ Faskes (Akses Spasial)

⑤ Pilar E · Tempat Tinggal vs Faskes Terdaftar · Luar-Kabupaten
Pertanyaan: Apakah peserta TB terdaftar di faskes dalam kabupatennya, dan di mana akses memaksa keluar daerah.
Tabel E.1, Kesesuaian Tempat Tinggal ↔ Faskes Terdaftar · Unit: Member
PSTV09/10 (tempat tinggal) vs PSTV13/14 (faskes terdaftar)
Indikator %
Faskes terdaftar dalam PROVINSI sama 96.9
Faskes terdaftar dalam KABUPATEN sama 90.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

Key takeaway Geografi: 90.9% peserta TB terdaftar di faskes dalam kabupatennya. Provinsi dengan kesesuaian terendah menandai akses primer terbatas (faskes jarang / mobilitas antar-kota).

7 Pilar F, Kaskade Pengobatan, LTFU, MDR-TB, TB-HIV & Outcome

⑥ Pilar F · Durasi & Kontinuitas Pengobatan · Completion/LTFU proxy · MDR-TB · TB-HIV · Mortalitas
Inti mutu TB (kerangka WHO End TB). BPJS tidak memiliki field outcome pengobatan formal (sembuh/gagal/LTFU). Kami meng-infer dari kontinuitas & durasi klaim TB: durasi pengobatan (rentang kontak pertama→terakhir), completion proxy (engagement berkelanjutan ≥6 bulan), LTFU proxy (putus dini), share MDR/RR-TB (penanda resistansi U8x), TB-HIV ko-infeksi, dan outcome (mortalitas + hospitalisasi). Semua adalah proxy, lihat caveat.
Caveat kaskade (wajib). (1) BPJS tidak punya outcome pengobatan formal → completion/LTFU adalah proxy berbasis pola klaim, bukan outcome program TB.
(2) OAT lini-1 sering disediakan Program TB (non-klaim) → fase intensif/lanjutan bisa tak terlihat di klaim JKN, sehingga durasi klaim TB under-estimate durasi pengobatan sebenarnya.
(3) Pasien yang masuk di akhir periode data di-exclude dari completion proxy (right-censoring). Angka completion proxy di sini bukan treatment success rate WHO.

7.1 Durasi & kontinuitas pengobatan

7.2 Completion proxy (engagement berkelanjutan ≥6 bulan)

Tabel F.1, Completion Proxy menurut Segmen Kepesertaan · Unit: Pasien unik
Segmen Pasien eligible (sampel) Engagement ≥6 bln (%)
Non-PBI 65361 48.4
PBI (Disubsidi) 49844 43.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | proxy berbasis pola klaim TB; OAT program non-klaim dapat menurunkan angka
Completion/LTFU proxy: Hanya 46.6% pasien (eligible) menunjukkan engagement TB berkelanjutan ≥6 bulan di klaim JKN, dan 30.9% putus dini (<60 hari, ≤2 kontak), proxy LTFU. Hati-hati: ini sangat dipengaruhi OAT program non-klaim (banyak pasien lanjut pengobatan di Puskesmas tanpa klaim JKN), jadi angka rendah tidak otomatis berarti putus berobat klinis, tetapi pola putus dini layak ditindaklanjuti sebagai sinyal koordinasi JKN↔︎Program TB.

7.3 MDR / RR-TB (TB Resistan Obat)

Tabel F.2, Penanda Resistansi Obat (proxy bising, BUKAN RR/MDR-TB tervalidasi) · Unit: Pasien
Kode ICD resistansi antibiotik U8x (mis. U88/U89) muncul-bersama pada kunjungan TB. Kode resistansi bersifat suplementer & terisi tak-konsisten → angka ini batas-bawah yang BISING, bukan RR/MDR-TB tervalidasi. Mayoritas MDR-TB ditatalaksana lewat program PMDT (non-klaim JKN).
Indikator Nilai
Pasien dengan penanda resistansi (U8x), sampel 374
Pasien resistansi, tertimbang (proyeksi) 3,661
% dari kohort TB 0.39%
Pasien dengan klaim obat khusus (FKL44), sampel 47,842
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | U8x = penanda resistansi antibiotik (suplementer); FKL44 = obat khusus (sinyal lini-2). Kode TB-spesifik U82/U84.3 tidak muncul di data ini.
Tabel F.3, Biaya & Hospitalisasi: TB Resistan vs Sensitif · Unit: Pasien unik
Kelompok Pasien (sampel) Median biaya/pasien (Rp) Rata2 biaya/pasien (Rp) % pernah rawat inap
TB Resistan Obat (U8x) 374 10,558,600 16,302,734 75.1
TB Sensitif 117846 1,960,300 4,975,794 33.6
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Resistansi obat (proxy bising): Penanda resistansi antibiotik (U8x) muncul pada hanya 0.39% kohort TB-JKN (374 sampel), ini batas-bawah yang bising, bukan RR/MDR-TB tervalidasi: kode resistansi bersifat suplementer & terisi tak-konsisten, dan sebagian besar MDR-TB ditatalaksana lewat program PMDT (non-klaim JKN). Meski begitu, beban per-kasus pada yang tertangkap ekstrem: median biaya/pasien Rp10,558,600 (vs Rp1,960,300 TB sensitif, ~5.4×) dan 75.1% pernah rawat inap, beban biaya per kasus jauh lebih berat.

7.4 TB-HIV ko-infeksi

Tabel F.4, TB-HIV Ko-infeksi menurut Bentuk Klinis · Unit: Pasien unik
Keseluruhan 1.55% pasien TB punya klaim HIV (B20–24); proyeksi 14,517 pasien
Bentuk Klinis TB Pasien (sampel) % TB-HIV
TB SSP / Meningitis (A17) 6270 2.97
TB Milier / Diseminata (A19) 10594 1.97
TB Ekstraparu lain (A18) 43737 1.63
TB Paru terkonfirmasi (A15) 41443 1.56
TB Paru klinis/tak terkonfirmasi (A16) 16176 1.21
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | WHO TB/HIV collaborative indicator; under-capture mungkin (HIV terkode terpisah/program)
TB-HIV: 1.55% pasien TB-JKN memiliki klaim HIV ko-infeksi (B20–24), di bawah benchmark nasional ≈3% (estimasi WHO/Program TB Indonesia), kemungkinan under-capture karena HIV sering dikelola lewat program HIV/ART terpisah (rekam terpisah dari klaim TB). Pola Indonesia memang jauh lebih rendah daripada Afrika sub-Sahara, namun ko-infeksi menambah kompleksitas pengobatan dan layak skrining HIV rutin pada layanan TB (WHO collaborative TB/HIV).

7.5 Outcome: mortalitas & hospitalisasi

Mortalitas, interpretasi hati-hati. Dua sumber, keduanya under-captured:
(1) FKL14=3 (meninggal saat rawat inap), hanya kematian in-hospital;
(2) PSTV18 (tahun meninggal sistem kepesertaan) hanya terisi tahun snapshot (≈2023–24). Kematian TB di komunitas/setelah pulang tidak tertangkap penuh. CFR in-hospital di bawah valid sebagai proporsi episode rawat inap yang berakhir kematian, bukan CFR TB populasi.

Tabel F.5, Outcome: Hospitalisasi & Mortalitas (under-captured) · Unit: Pasien/Episode
Indikator Nilai
Pernah rawat inap (% kohort) 35.3%
Kematian in-hospital (FKL14=3, sampel, kumulatif) 3,611
Kematian via PSTV18 (snapshot ≈2023–24, sampel) 6,794
Crude % meninggal (PSTV18, snapshot) 5.75%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | mortalitas under-capture; bukan CFR TB populasi
Outcome: 35.3% pasien TB-JKN pernah dirawat inap. CFR in-hospital tertinggi pada TB SSP/Meningitis (20.6%) dan TB Milier (12.7%), konsisten dengan keparahan klinis kedua bentuk ini (validasi internal). Mortalitas keseluruhan under-captured (klaim tak menangkap kematian komunitas).

8 Pilar G, Komorbiditas (DM, HIV, PPOK, dll.)

Inti: Cohort ini memuat seluruh klaim pasien TB, termasuk kunjungan untuk penyakit lain. Komorbiditas kunci TB: Diabetes (TB-DM bidirectional, risiko relaps↑), HIV, PPOK/penyakit paru kronik, malnutrisi.

Key takeaway komorbiditas: Komorbiditas TB-JKN tersering: PPOK/Asma (J40–47) (24.6%), Diabetes (11.1%), TB-DM penting karena memperburuk outcome & menaikkan risiko relaps, dan HIV (2.4%). Catatan under-capture: meski sudah memindai diagnosis masuk + sekunder/SDX, DM 11.1% masih di bawah ~15–20% TB-DM yang dilaporkan studi ko-manajemen nasional Indonesia (≈20,8%), DM banyak dikelola di FKTP/klaim terpisah, jadi angka ini batas-bawah. Tetap menegaskan kebutuhan skrining DM & HIV terintegrasi pada layanan TB (collaborative care).

9 Pilar H, Ekonomi TB dalam JKN

⑧ Pilar H · Biaya Klaim FKRTL · Pendorong · Konsentrasi (Pareto) · INA-CBG
Pertanyaan: Berapa belanja JKN untuk layanan TB & komorbiditasnya, apa pendorongnya, dan seberapa terkonsentrasi. (FKTP kapitasi & OAT program dikecualikan, bukan fee-for-service klaim.)

Tabel H.1, Belanja FKRTL Pasien TB: Layanan TB vs Layanan Lain · Unit: Biaya klaim (tertimbang)
Pada pasien TB yang sama, 2015–2024 kumulatif
Kategori Biaya FKRTL (Miliar Rp, tertimbang, kumulatif)
Layanan TB 4,016.7
Layanan lain (komorbiditas/non-TB) 10,455.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Tabel H.2, Biaya menurut Bentuk Klinis & Setting · Unit: Klaim (tertimbang)
Bentuk Klinis Setting Klaim (sampel) Total (Miliar Rp) Rata2/klaim (Rp) Median/klaim (Rp)
TB SSP / Meningitis (A17) Rawat Inap 2,559 127.59 13,749,744 6,318,900
TB SSP / Meningitis (A17) Rawat Jalan 17,738 20.98 235,434 190,400
TB Milier / Diseminata (A19) Rawat Inap 1,942 31.68 4,852,432 3,084,600
TB Milier / Diseminata (A19) Rawat Jalan 24,165 25.55 210,221 186,800
TB Ekstraparu lain (A18) Rawat Inap 8,928 310.56 9,959,602 4,415,350
TB Ekstraparu lain (A18) Rawat Jalan 195,347 197.97 229,490 190,400
TB Paru terkonfirmasi (A15) Rawat Inap 19,894 994.38 5,118,129 4,336,500
TB Paru terkonfirmasi (A15) Rawat Jalan 149,982 356.59 203,768 186,300
TB Paru klinis/tak terkonfirmasi (A16) Rawat Inap 25,777 1455.99 5,342,888 4,551,400
TB Paru klinis/tak terkonfirmasi (A16) Rawat Jalan 189,660 495.43 204,402 185,500
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Tabel H.3, Konsentrasi Biaya (Pareto) · Unit: Pasien, konsentrasi biaya
Konsentrasi atas belanja layanan TB ≈ Rp4,016.7 Miliar (kumulatif); konsentrasi dihitung pada biaya klaim TB per pasien. Belanja semua-sebab pasien TB (TB + komorbid) ≈ Rp14,472 Miliar, lihat Tabel H.1.
Top % pasien (biaya tertinggi) % total belanja FKRTL
1 14.5
5 34.2
10 47.4
20 64.7
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Tabel H.4, 15 Kelompok INA-CBG Teratas (volume klaim) · Unit: Klaim FKRTL
Deskripsi INA-CBG Klaim (sampel) Total (Miliar Rp, tertimbang) Rata2/klaim (Rp)
Penyakit Kronis Kecil Lain-Lain 457,517 867.9 197,985
Penyakit Kronis Besar Lain-Lain 25,008 33.2 274,652
Konsultasi Atau Pemeriksaan Lain-Lain 21,087 27.8 139,135
Peradangan Dan Infeksi Pernafasan Ringan 21,060 961.4 4,496,546
Penyakit Kronis Kecil Lainlain 9,948 21.4 200,748
Perawatan Luka 8,351 7.0 197,397
Peradangan Dan Infeksi Pernafasan Sedang 7,225 385.0 5,613,409
Prosedur Therapi Fisik Dan Prosedur Kecil Muskuloskletal 6,293 4.6 129,370
Prosedur Terapi Saluran Pernafasan 6,237 23.6 319,547
Penyakit Akut Kecil Lain-Lain 4,491 5.6 191,756
Prosedur Ultrasound Lain-Lain 3,825 14.3 574,077
Prosedur Rehabilitasi 3,783 3.3 171,677
Kontak Pelayanan Kesehatan Lain-Lain 3,642 6.8 126,623
Paru Akut 3,083 6.0 251,585
Prosedur Uji Fungsi Paru 2,820 12.3 461,685
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway H: Belanja FKRTL untuk pasien TB lebih besar pada layanan lain/komorbiditas (Rp10,455.1 M) daripada layanan TB itu sendiri (Rp4,016.7 M), karena pasien TB sering punya beban penyakit lain. Biaya sangat terkonsentrasi (top 10% pasien = 47.4% belanja), didorong rawat inap berat & TB resistan obat (Pilar F).

10 Pilar I, Ekuitas & Representasi vs Populasi Umum

⑨ Pilar I · Segmen (SES) · Geografi · Representasi vs Populasi JKN Umum
TB adalah penyakit kemiskinan, gradien akses & representasi sangat relevan kebijakan. Stratifikasi: segmen (PBI vs Non-PBI), geografi (served-rate per provinsi), dan perbandingan terhadap populasi JKN umum (representation index, served-rate, gradien SES).

Served-rate di bawah dihitung seluruhnya dari sampel reguler (numerator pasien TB DAN denominator peserta, satu frame household) → konsisten secara internal. Versi sebelumnya (numerator kohort-enriched ÷ denominator reguler) bias karena dua tarikan berbeda; tidak dipakai sebagai angka utama.

Tabel I.1, Uji Beda Distribusi: Pasien TB vs Populasi Umum · Unit: sampel
χ² (sampel mentah); n besar → selalu signifikan, gunakan Cramér’s V untuk besaran efek
Karakteristik Cramér V p
Jenis Kelamin 0.013 <0,001
Kelompok Usia 0.030 <0,001
Segmentasi (Membership) 0.086 <0,001
Pulau 0.051 <0,001
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015–2024 | ICD-10 A15–A19 (TB aktif) | FKTP + FKRTL | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway Ekuitas (dikonfirmasi via reguler): Dihitung seluruhnya dari sampel reguler (konsisten internal), served-rate TB-JKN tetap menunjukkan gradien sosial-ekonomi terbalik dari beban epidemiologis: segmen PBI APBD (PBI (disubsidi)) terendah (9.75/1.000) padahal TB adalah penyakit kemiskinan, sementara PBPU (Mandiri) tertinggi (28.3/1.000, ~2.9×). Temuan ini robust: muncul di perhitungan kohort maupun reguler. Ini bukan berarti yang miskin lebih sehat, melainkan sinyal akses & penemuan kasus TB lewat JKN lebih rendah pada segmen termiskin (banyak ditemukan/diobati lewat program publik non-klaim, atau tidak terjangkau). Spasial: served-rate tertinggi di provinsi Jawa-urban (DKI/Jabar), terendah di Indonesia Timur/Bali, under-detection JKN di wilayah dengan akses faskes terbatas. Implikasi: perkuat integrasi JKN↔︎Program TB & penemuan kasus pro-poor.

11 Keterbatasan & langkah lanjut

Keterbatasan utama. (1) Klaim JKN = TB yang terlayani & diklaimkan, BUKAN seluruh kasus TB nasional, OAT lini-1 & banyak layanan TB berjalan lewat Program TB publik (non-klaim), sehingga JKN under-capture besar terhadap notifikasi nasional. (2) Tidak ada outcome pengobatan formal di BPJS → completion/LTFU adalah proxy berbasis pola klaim, bukan treatment success WHO. (3) Kohort TB adalah tarikan enriched per-individu yang di-seed tahun 2019 (1,03 individu/RT, overlap 1,9% dgn reguler), per-tahun & kumulatifnya artefak konstruksi sampel, bukan epidemiologi; tren & rate populasi diambil dari reguler (lihat Validasi Desain Sampel). Kohort ini tidak bisa untuk analisa rumah-tangga/kontak TB (anggota RT tak ditarik). (4) MDR-TB & TB-HIV under-capture (banyak ditatalaksana lewat program PMDT/HIV non-klaim). (5) Mortalitas under-captured (PSTV18 snapshot; FKL14 hanya in-hospital). (6) Data obat terbatas → adherence OAT (PDC) tak dihitung. (7) Durasi klaim TB under-estimate durasi pengobatan sebenarnya (fase lanjutan via Puskesmas non-klaim).

Belum tercakup dalam analisis ini (fase lanjut): linkage JKN↔︎SITB/notifikasi program TB (untuk treatment outcome sejati), choropleth kabupaten interaktif (skill indonesia-district-map), model biaya GLM-Gamma & catastrophic cost TB, analisis TB-DM bidirectional mendalam, age-standardized mortality/SMR, dan integrasi dengan model transmisi ARC7.3/7.4 (BPJS cost → parameter biaya per kasus).


Analisis sistem kesehatan berbasis data administratif klaim JKN agregat. Angka menggambarkan populasi TB yang terlayani & tercatat dalam JKN, bukan estimasi beban TB nasional. Untuk estimasi nasional, rujuk WHO Global TB Report & Laporan Program TB Nasional (Kemenkes/SITB).