Tentang laporan ini. Ini adalah analisis sisi pasokan (kapasitas sistem kesehatan) untuk tuberkulosis (TB, kode ICD-10 A15-A19) di Indonesia. Pertanyaannya bukan “berapa banyak pasien yang terlayani”, melainkan apakah sistem punya tenaga (dokter paru, internis, analis laboratorium operator TCM/GeneXpert, mikrobiolog), fasilitas (layanan paru, ruang isolasi airborne untuk pengendalian penularan, laboratorium molekuler), obat, informasi, pembiayaan, dan tata kelola untuk mendiagnosis dan mengobati TB, dan seberapa timpang sebarannya secara geografis. Indonesia adalah penyumbang beban TB terbesar kedua di dunia (WHO), dengan estimasi ~1,09 juta kasus insiden per tahun. Kerangka: enam pilar sistem kesehatan WHO + sintesis Ketersediaan, Keterjangkauan, Mutu (Availability-Accessibility-Quality, AAQ). Pembiayaan dihitung langsung dari klaim, tidak bergantung pada laporan sisi permintaan (lihat ARC7.5 untuk sisi permintaan).

Peta pilar (WHO building blocks): 1 Penyediaan layanan (RS layanan paru, isolasi airborne, lab molekuler) · 2 Tenaga kesehatan (Sp.P, Sp.PD, analis lab/TCM, mikrobiolog) · 3 Sistem informasi (SITB, DREAMS, SIRS) · 4 Akses obat esensial (OAT program vertikal, gratis) · 5 Pembiayaan (belanja JKN layanan TB) · 6 Kepemimpinan & tata kelola (Perpres TB, End TB Strategy) · diikuti Skor AAQ dan Keterbatasan data.

1 Ringkasan eksekutif

0.516
Dokter Spesialis Paru (Sp.P) nasional = 0.516 per 100.000 penduduk (1 per 193,759 jiwa, 1 untuk tiap 746 kasus TB insiden). Beban TB bertumpu pada internis & dokter umum, bukan tenaga paru khusus.
71.4%
Kabupaten/kota tanpa ruang isolasi airborne (tekanan negatif) di RS, infrastruktur inti pengendalian penularan TB. Hanya 240 dari 3,275 RS (7.3%) memilikinya.
37.9%
Kabupaten/kota tanpa laboratorium mikrobiologi (proksi kapasitas TCM/GeneXpert). Diagnosis molekuler TB terpusat; sebagian besar daerah bergantung mikroskopis BTA.
96
Hanya 96 RS (2.9%) punya kapabilitas TB lengkap (klinis paru/dalam + lab molekuler + isolasi airborne). Sistem rujukan TB resisten obat sangat terkonsentrasi.
Rp 1.9 T
Belanja JKN untuk LAYANAN TB (A15-A19) pada 2024 (proyeksi nasional tertimbang). Obat anti-TB (OAT) GRATIS via program vertikal, jadi angka ini tidak termasuk biaya obat. Kumulatif 2015-2024 ~Rp 12.7 triliun.
Temuan inti. Kapasitas sisi pasokan TB di Indonesia, negara beban TB terbesar kedua dunia, menunjukkan pola tenaga paru langka dan terkonsentrasi di Jawa dan perkotaan, infrastruktur pengendalian penularan (isolasi airborne) sangat jarang, dan diagnostik molekuler terpusat, sementara obat ditanggung jalur terpisah. Indonesia hanya memiliki 1,468 dokter spesialis paru (0.516 per 100.000 penduduk; 1 per 193,759 jiwa; hanya 1.341 per 1.000 kasus TB), dengan 31.5% kabupaten/kota tanpa dokter paru (Gini 0.712). Ruang isolasi airborne (tekanan negatif) hanya ada di 240 RS (7.3%), dengan 71.4% kabupaten tanpa satu pun, padahal isolasi airborne adalah inti pengendalian infeksi TB. Laboratorium mikrobiologi (proksi kapasitas TCM/GeneXpert) ada di 1,092 RS, dengan 37.9% kabupaten tanpa. Belanja JKN untuk layanan TB mencapai Rp 1.9 triliun (2024), namun ini bukan biaya obat TB, karena OAT disuplai gratis program vertikal P2TB/Global Fund. Hanya 30.8% episode rawat inap TB paru terkonfirmasi bakteriologis (A15), menandai diagnosis yang masih banyak klinis. Pola ini menunjukkan sistem yang kuat di pengobatan rawat jalan terdesentralisasi (DOTS + OAT gratis) tetapi lemah di kapasitas diagnostik molekuler merata dan pengendalian penularan, dua titik lemah menuju target eliminasi TB 2030.

2 Fondasi: kerangka, denominator, dan sumber data

Kerangka & denominator

Kerangka enam pilar sistem kesehatan WHO (penyediaan layanan, tenaga kesehatan, sistem informasi, akses obat esensial, pembiayaan, tata kelola). Denominator penduduk: proyeksi BPS 2025 (284,438,930 jiwa, 514 kabupaten/kota). Denominator beban: estimasi 1,095,090 kasus TB insiden per tahun (insidensi 385/100.000, WHO Global TB Report 2023, Indonesia peringkat kedua dunia). Kepadatan tenaga dilaporkan per 100.000 penduduk total (konvensi WHO untuk spesialis) dan, untuk tenaga relevan, juga per 1.000 kasus TB (ditandai), agar terlihat beban TB per tenaga.
Sumber: SDM = DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025 (headcount per faskes + izin praktik/SIP); fasilitas = SIRS 2025-10 (3,275 RS, kolom layanan 0/1); pembiayaan = Data Sampel BPJS reguler 2015-2024 (dihitung langsung: TB = ICD-10 A15-A19 pada FKL15A/SDX; biaya = FKL48 verifikasi, tertimbang PSTV15); tata kelola = instrumen kebijakan kunci (Perpres 67/2021 TB, Permenkes, Strategi Nasional TB).

Tabel 0: Pemetaan pilar ke sumber data & status ketersediaan
Pilar (building block) Sumber data utama Status
1. Penyediaan layanan (fasilitas) SIRS Kemenkes 2025-10 (3.275 RS): layanan Paru, Paru Infeksi, Penyakit Dalam, isolasi airborne (tekanan negatif), lab mikrobiologi/molekuler (proksi TCM) Kuantitatif (inti)
2. Tenaga kesehatan (HRH) DREAMS/SI-SDMK 2025 (headcount + SIP per faskes): Sp.P, Sp.PD, analis lab (operator TCM), mikrobiolog, Sp.PK, radiolog; denominator BPS + beban WHO Kuantitatif (inti)
3. Sistem informasi SITB (registri TB nasional), DREAMS, SIRS, ASPAK (alat), SATUSEHAT, BPJS sebagai substrat Naratif + meta
4. Akses obat esensial OAT (program vertikal P2TB / Global Fund, gratis) di luar klaim JKN; WHO EML x Fornas (OAT lini 1 & 2, regimen MDR-TB) Naratif + parsial
5. Pembiayaan Klaim BPJS reguler 2015-2024 (LAYANAN TB A15-A19, bukan obat), tertimbang Kuantitatif (inti)
6. Tata kelola Perpres 67/2021 Penanggulangan TB, Strategi Nasional Eliminasi TB 2030, PNPK TB, End TB Strategy WHO; kompilasi regulasi kunci Naratif
Senjang data dilaporkan jujur di tiap pilar; bukan ketiadaan masalah, melainkan ketiadaan data rutin terpilah.

3 Pilar 1, Penyediaan layanan (RS paru, isolasi airborne, lab molekuler)

① Penyediaan Layanan · Layanan Paru & TB · Isolasi Airborne (Pengendalian Penularan) · Lab Molekuler (TCM) · Gurun Layanan per Kabupaten · Sebaran Pulau · Kepemilikan
Pertanyaan: Berapa rumah sakit yang menyediakan layanan paru/TB, ruang isolasi airborne (tekanan negatif) yang krusial untuk mencegah penularan TB di fasilitas, dan kapasitas laboratorium molekuler (TCM/GeneXpert) untuk diagnosis cepat, dan seberapa banyak wilayah yang sama sekali tidak memilikinya. Availability = jumlah unit; Accessibility = sebaran kabupaten/provinsi (gurun layanan); Quality = ragam (isolasi airborne, lab molekuler, kapabilitas lengkap).

Ketersediaan layanan TB-relevan di RS, tabel data figur
Layanan RS menyediakan % dari total RS
Paru/Pulmonologi 1,878 57.3
Paru Infeksi (TB) 676 20.6
Penyakit dalam 2,954 90.2
Infeksi & penyakit tropis 582 17.8
Radiologi (rontgen toraks) 2,833 86.5
Isolasi airborne (tekanan negatif) 240 7.3
Isolasi (semua tipe) 2,766 84.5
Lab mikrobiologi (proksi TCM) 992 30.3
Mikrobiologi klinik 255 7.8
Kapabilitas klinis TB (paru/dalam + radiologi) 2,752 84.0
Kapabilitas TB lengkap (klinis+lab+isolasi) 96 2.9
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)
Inti Pilar 1. Layanan klinis untuk TB relatif tersedia (penyakit dalam 90.2%, paru 57.3%, radiologi 86.5%), tetapi dua kapasitas TB-spesifik sangat jarang: ruang isolasi airborne (tekanan negatif) hanya di 240 RS (7.3%), padahal isolasi airborne adalah inti pencegahan penularan TB di fasilitas (terutama TB resisten obat); dan laboratorium mikrobiologi (proksi TCM/GeneXpert) hanya di 1,092 RS (33.3%). Hanya 96 RS (2.9%) menggabungkan ketiganya (klinis + lab molekuler + isolasi airborne) sebagai kapabilitas TB lengkap, basis rujukan TB-RO yang sangat terkonsentrasi. Catatan: kolom SIRS = layanan dideklarasikan RS, bukan jumlah kamar isolasi, jumlah alat TCM, atau jumlah tempat tidur; data alat ada di ASPAK/SITB yang terpisah.

3.1 Kemampuan inti perawatan TB

Kemampuan inti perawatan TB di RS, tabel data figur
Kemampuan Tipe Jumlah RS % dari RS
Layanan penyakit dalam Layanan klinis umum 2,954 90.2
Radiologi (rontgen) Layanan klinis umum 2,833 86.5
Isolasi (semua tipe) Layanan klinis umum 2,766 84.5
Layanan paru/pulmonologi Layanan klinis umum 1,878 57.3
Lab mikrobiologi (TCM) Kapasitas TB-spesifik 1,092 33.3
Layanan paru infeksi (TB) Kapasitas TB-spesifik 676 20.6
Isolasi airborne (tekanan negatif) Kapasitas TB-spesifik 240 7.3
Kapabilitas TB lengkap Kapasitas TB-spesifik 96 2.9
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)

3.2 Cakupan kabupaten (gurun layanan)

Tabel 1.1: Cakupan Layanan TB menurut Kabupaten/Kota (gurun isolasi, lab & paru) · Unit: kabupaten (n=514)
Layanan Kab dgn layanan % kab % kab nihil % pop tercakup
Isolasi airborne (tekanan negatif) 147 28.6 71.4 44.9
Lab mikrobiologi (proksi TCM) 319 62.1 37.9 83.3
Layanan Paru/Pulmonologi 363 70.6 29.4 90.3
Layanan Paru Infeksi (TB) 230 44.7 55.3 71.4
Kapabilitas klinis TB 449 87.4 12.6 96.6
Kapabilitas TB lengkap 66 12.8 87.2 24.7
Layanan Penyakit Dalam 455 88.5 11.5 97.0
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) | SIRS = layanan dideklarasikan RS, bukan jumlah kamar isolasi/alat TCM/TT

Gurun layanan TB per kabupaten, tabel data figur
Layanan % kab ada % kab nihil % pop tercakup
Isolasi airborne (tekanan negatif) 28.6 71.4 44.9
Lab mikrobiologi (proksi TCM) 62.1 37.9 83.3
Layanan Paru/Pulmonologi 70.6 29.4 90.3
Layanan Paru Infeksi (TB) 44.7 55.3 71.4
Kapabilitas klinis TB 87.4 12.6 96.6
Kapabilitas TB lengkap 12.8 87.2 24.7
Layanan Penyakit Dalam 88.5 11.5 97.0
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)

3.3 Sebaran pulau

RS isolasi airborne, lab & paru per pulau, tabel data figur
Pulau RS isolasi airborne RS lab mikrobiologi RS layanan paru % nasional isolasi Penduduk Isolasi per 1 juta
Jawa 98 576 1,050 43.2 158,079,150 0.620
Sumatera 42 207 429 18.5 62,259,500 0.670
Kalimantan 35 75 121 15.4 17,951,350 1.950
Sulawesi 26 101 123 11.5 21,045,030 1.240
Bali-Nusra 22 75 90 9.7 15,934,970 1.380
Maluku-Papua 4 31 29 1.8 9,168,930 0.440
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)

3.4 Per provinsi

RS isolasi airborne, lab & paru per provinsi, tabel data figur
Provinsi Pulau Penduduk 2025 Total RS RS isolasi airborne RS lab mikrobiologi RS paru Isolasi per 1 juta
JAWA TIMUR Jawa 42,089,260 444 25 146 273 0.590
DKI JAKARTA Jawa 10,677,990 195 24 74 136 2.250
JAWA BARAT Jawa 50,758,990 436 19 159 282 0.370
KALIMANTAN TIMUR Kalimantan 4,267,610 72 19 27 39 4.450
JAWA TENGAH Jawa 38,233,920 366 17 126 226 0.440
NUSA TENGGARA TIMUR Bali-Nusra 5,742,580 68 11 27 15 1.920
DI YOGYAKARTA Jawa 3,781,550 81 9 26 41 2.380
SULAWESI UTARA Sulawesi 2,721,440 60 9 15 19 3.310
SULAWESI SELATAN Sulawesi 9,563,130 126 9 51 60 0.940
SUMATERA UTARA Sumatera 15,785,840 207 8 62 156 0.510
KALIMANTAN SELATAN Kalimantan 4,323,340 52 8 13 37 1.850
BALI Bali-Nusra 4,461,270 84 7 32 46 1.570
RIAU Sumatera 6,811,180 81 6 22 55 0.880
JAMBI Sumatera 3,768,490 45 6 13 21 1.590
LAMPUNG Sumatera 9,522,900 82 5 21 34 0.530
SULAWESI TENGGARA Sulawesi 2,836,760 40 5 14 12 1.760
ACEH Sumatera 5,625,960 85 4 22 56 0.710
KEPULAUAN RIAU Sumatera 2,213,460 13 4 1 5 1.810
BANTEN Jawa 12,537,440 135 4 45 92 0.320
NUSA TENGGARA BARAT Bali-Nusra 5,731,120 46 4 16 29 0.700
KALIMANTAN TENGAH Kalimantan 2,845,010 34 4 9 20 1.410
SUMATERA BARAT Sumatera 5,914,280 80 3 20 49 0.510
SUMATERA SELATAN Sumatera 8,928,510 88 3 28 29 0.340
BENGKULU Sumatera 2,138,060 28 2 10 12 0.940
KALIMANTAN BARAT Kalimantan 5,766,020 58 2 25 25 0.350
KALIMANTAN UTARA Kalimantan 749,370 11 2 1 0 2.670
SULAWESI TENGAH Sulawesi 3,156,110 41 2 11 14 0.630
MALUKU Maluku-Papua 1,970,560 29 2 11 15 1.010
PAPUA BARAT Maluku-Papua 1,224,090 25 2 10 7 1.630
KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Sumatera 1,550,820 29 1 8 12 0.640
GORONTALO Sulawesi 1,242,250 21 1 6 10 0.800
SULAWESI BARAT Sulawesi 1,525,340 16 0 4 8 0.000
MALUKU UTARA Maluku-Papua 1,373,830 23 0 10 7 0.000
PAPUA Maluku-Papua 4,600,450 0 0 0 0 0.000
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)

3.5 Kepemilikan

Kepemilikan RS isolasi airborne, tabel data figur
Kepemilikan Jumlah RS %
Pemkab 52 21.7
SWASTA/LAINNYA 48 20.0
Perusahaan 42 17.5
Organisasi Sosial 23 9.6
Pemprop 18 7.5
Organisasi Islam 8 3.3
TNI AD 8 3.3
POLRI 7 2.9
Kemkes 6 2.5
Pemkot 5 2.1
Perorangan 5 2.1
Organisasi Katholik 4 1.7
BUMN 3 1.2
Kementerian Lain 3 1.2
Organisasi Protestan 3 1.2
TNI AL 2 0.8
TNI AU 2 0.8
Organisasi Budha 1 0.4
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)
Senjang data fasilitas (penting). SIRS mencatat apakah RS punya layanan paru, isolasi airborne, atau lab mikrobiologi, tetapi tidak berapa kamar isolasi tekanan negatif, berapa alat TCM/GeneXpert, berapa modul/kartrid, atau berapa tempat tidur TB per RS, sehingga kapasitas riil diagnostik dan isolasi tidak dapat dihitung. Jaringan TCM/GeneXpert sesungguhnya juga mencakup puskesmas dan laboratorium rujukan di luar RS (dikelola program TB dalam SITB), yang tidak tertangkap SIRS. Maka angka isolasi airborne dan lab di sini adalah batas bawah kapasitas RS; integrasi data SITB + ASPAK akan memberi gambaran jaringan diagnostik TB yang lebih lengkap.

4 Pilar 2, Tenaga kesehatan (Sp.P, Sp.PD, analis lab/TCM, mikrobiolog)

② Tenaga Kesehatan · Kepadatan per 100k & per Kasus TB · Gurun Tenaga · Konsentrasi (Gini) · Jawa vs Luar Jawa · Kota vs Kabupaten
Pertanyaan: Apakah Indonesia punya tenaga untuk mendiagnosis & mengobati TB, dokter paru, internis, analis laboratorium (operator TCM/GeneXpert), mikrobiolog, dan seberapa timpang sebarannya. Availability = densitas nasional per 100k & per 1.000 kasus TB; Accessibility = sebaran & gurun tenaga; Quality = bauran subspesialis & izin praktik.

4.1 Kepadatan tenaga nasional

Tabel 2.1: Tenaga TB-Relevan Nasional (2025) · Unit: tenaga (headcount + izin praktik)
Tenaga Headcount SIP per 100k pop per 1 juta pop per 1.000 kasus TB 1 tenaga melayani (jiwa)
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) 1,468 3,753 0.516 5.16 1.341 193,759
Subspesialis Infeksi Paru 38 59 0.013 0.13 0.035 7,485,235
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) 4,970 11,573 1.747 17.47 4.538 57,231
Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) 65,842 72,321 23.148 231.48 60.125 4,320
Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) 330 553 0.116 1.16 0.301 861,936
Dokter Spesialis Patologi Klinik (Sp.PK) 2,078 4,851 0.731 7.31 1.898 136,881
Subsp. Infeksi & Penyakit Tropik (Sp.PD-KPTI) 42 77 0.015 0.15 0.038 6,772,355
Subspesialis Pulmonologi 46 86 0.016 0.16 0.042 6,183,455
Subspesialis Penyakit Infeksi 30 57 0.011 0.11 0.027 9,481,298
Dokter Spesialis Radiologi (Sp.Rad) 2,057 5,370 0.723 7.23 1.878 138,279
Mikrobiolog Kesehatan 42 53 0.015 0.15 0.038 6,772,355
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) | headcount = posisi per-faskes (bisa ganda); per 1.000 kasus TB atas estimasi ~1,09 juta kasus insiden/tahun (WHO)

Tenaga relatif terhadap penduduk vs beban TB, tabel data figur
Tenaga Headcount Per 100k pop Per 1.000 kasus TB Kasus TB per tenaga
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) 1,468 0.5 1.3 746
Subspesialis Infeksi Paru 38 0.0 0.0 28,818
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) 4,970 1.7 4.5 220
Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) 65,842 23.1 60.1 17
Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) 330 0.1 0.3 3,318
Dokter Spesialis Patologi Klinik (Sp.PK) 2,078 0.7 1.9 527
Dokter Spesialis Radiologi (Sp.Rad) 2,057 0.7 1.9 532
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)
Inti Pilar 2. Indonesia hanya memiliki 1,468 dokter spesialis paru (Sp.P) nasional, setara 0.516 per 100.000 penduduk atau hanya 1.341 per 1.000 kasus TB (1 dokter paru untuk tiap 746 kasus TB insiden), dan 31.5% kabupaten/kota tanpa dokter paru (Gini 0.712). Diagnosis & pengobatan TB karenanya bertumpu pada penyakit dalam (4,970 Sp.PD, 1.747/100k) dan dokter umum di layanan primer. Yang melimpah adalah analis laboratorium (65,842 Ahli Teknologi Lab Medik, 23.148/100k), tenaga yang mengoperasikan TCM/GeneXpert dan mikroskop BTA, sehingga keterbatasan diagnostik molekuler bukan pada operator melainkan pada alat & jejaring lab (lihat Pilar 1). Sebaliknya mikrobiolog klinik (Sp.MK) sangat langka (330 saja, 73.7% kabupaten kosong) dan subspesialis infeksi paru nyaris tak ada (38), padahal mereka kunci tata laksana TB resisten obat.

4.2 Gurun tenaga & konsentrasi

Tabel 2.2: Cakupan & Konsentrasi Tenaga (gurun tenaga) · Unit: kabupaten (n=514)
Tenaga % kab ada % kab nihil % headcount di Jawa Gini antar-kab
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) 68.5 31.5 53.9 0.712
Subspesialis Infeksi Paru 4.7 95.3 50.0 0.965
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) 93.4 6.6 56.5 0.681
Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) 100.0 0.0 48.9 0.543
Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) 26.3 73.7 61.8 0.870
Dokter Spesialis Patologi Klinik (Sp.PK) 87.7 12.3 54.1 0.660
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) | Jawa = ~56% populasi nasional sebagai pembanding

Cakupan & maldistribusi tenaga inti, tabel data figur
Tenaga % kab ada % kab nihil % pop tercakup Gini
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) 68.5 31.5 86.1 0.712
Subspesialis Infeksi Paru 4.7 95.3 10.8 0.965
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) 93.4 6.6 96.8 0.681
Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) 26.3 73.7 44.0 0.870
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)

4.3 Per provinsi (dokter paru)

Dokter paru per 100k per provinsi, tabel data figur
Provinsi Pulau Penduduk 2025 Dokter paru (hc) Per 100k
DKI JAKARTA Jawa 10,677,990 165 1.545
ACEH Sumatera 5,625,960 70 1.244
BALI Bali-Nusra 4,461,270 45 1.009
SUMATERA BARAT Sumatera 5,914,280 57 0.964
PAPUA BARAT Maluku-Papua 1,224,090 11 0.899
KALIMANTAN SELATAN Kalimantan 4,323,340 37 0.856
DI YOGYAKARTA Jawa 3,781,550 31 0.820
KALIMANTAN UTARA Kalimantan 749,370 6 0.801
SUMATERA UTARA Sumatera 15,785,840 115 0.729
KALIMANTAN TENGAH Kalimantan 2,845,010 19 0.668
RIAU Sumatera 6,811,180 45 0.661
BANTEN Jawa 12,537,440 75 0.598
MALUKU Maluku-Papua 1,970,560 11 0.558
SULAWESI SELATAN Sulawesi 9,563,130 53 0.554
KEPULAUAN RIAU Sumatera 2,213,460 12 0.542
KALIMANTAN TIMUR Kalimantan 4,267,610 21 0.492
JAWA TIMUR Jawa 42,089,260 203 0.482
BENGKULU Sumatera 2,138,060 10 0.468
KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Sumatera 1,550,820 7 0.451
GORONTALO Sulawesi 1,242,250 5 0.402
JAMBI Sumatera 3,768,490 15 0.398
SULAWESI BARAT Sulawesi 1,525,340 6 0.393
JAWA BARAT Jawa 50,758,990 190 0.374
SULAWESI TENGGARA Sulawesi 2,836,760 10 0.353
JAWA TENGAH Jawa 38,233,920 127 0.332
NUSA TENGGARA BARAT Bali-Nusra 5,731,120 18 0.314
LAMPUNG Sumatera 9,522,900 29 0.305
SULAWESI UTARA Sulawesi 2,721,440 8 0.294
MALUKU UTARA Maluku-Papua 1,373,830 4 0.291
KALIMANTAN BARAT Kalimantan 5,766,020 13 0.225
SULAWESI TENGAH Sulawesi 3,156,110 7 0.222
NUSA TENGGARA TIMUR Bali-Nusra 5,742,580 12 0.209
SUMATERA SELATAN Sumatera 8,928,510 18 0.202
PAPUA Maluku-Papua 4,600,450 0 0.000
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)

4.4 Per pulau

Densitas tenaga inti per pulau, tabel data figur
Pulau Kader Penduduk Headcount Per 100k
Sumatera Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) 62,259,500 378 0.6
Kalimantan Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) 17,951,350 96 0.5
Jawa Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) 158,079,150 791 0.5
Bali-Nusra Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) 15,934,970 75 0.5
Sulawesi Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) 21,045,030 89 0.4
Maluku-Papua Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) 9,168,930 26 0.3
Sulawesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) 21,045,030 432 2.1
Bali-Nusra Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) 15,934,970 297 1.9
Jawa Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) 158,079,150 2,807 1.8
Sumatera Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) 62,259,500 1,020 1.6
Kalimantan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) 17,951,350 278 1.5
Maluku-Papua Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) 9,168,930 79 0.9
Bali-Nusra Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) 15,934,970 5,164 32.4
Kalimantan Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) 17,951,350 5,523 30.8
Sulawesi Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) 21,045,030 6,217 29.5
Maluku-Papua Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) 9,168,930 2,390 26.1
Sumatera Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) 62,259,500 13,226 21.2
Jawa Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) 158,079,150 32,183 20.4
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)

4.5 Kota vs kabupaten

Densitas tenaga: kota vs kabupaten, tabel data figur
Kader Wilayah Penduduk Headcount Per 100k
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) Kota 60,748,210 833 1.4
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) Kabupaten 223,690,720 635 0.3
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) Kota 60,748,210 2,774 4.6
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) Kabupaten 223,690,720 2,196 1.0
Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) Kota 60,748,210 27,667 45.5
Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) Kabupaten 223,690,720 38,175 17.1
Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) Kota 60,748,210 214 0.4
Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) Kabupaten 223,690,720 116 0.1
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)

4.6 Konsentrasi Jawa & headcount vs izin praktik

Headcount vs SIP kader inti TB, tabel data figur
Kader Headcount SIP Rasio SIP/HC
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) 1,468 3,753 2.560
Subspesialis Infeksi Paru 38 59 1.550
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) 4,970 11,573 2.330
Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) 65,842 72,321 1.100
Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) 330 553 1.680
Dokter Spesialis Patologi Klinik (Sp.PK) 2,078 4,851 2.330
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)

5 Pilar 3, Sistem informasi (SITB, DREAMS, SIRS)

③ Sistem Informasi · Registri TB Nasional (SITB) · Izin Praktik · Senjang Data Alat (TCM/Isolasi)
Pertanyaan: Seberapa lengkap pencatatan tenaga, layanan, alat (TCM/isolasi), dan surveilans TB yang mendukung perencanaan layanan dan pelacakan kaskade TB.
Tabel 3.1: Registrasi/Izin Praktik (SIP) vs Headcount · proksi kelengkapan pencatatan
Tenaga Headcount SIP Rasio SIP:headcount
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) 1,468 3,753 2.56
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) 4,970 11,573 2.33
Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) 65,842 72,321 1.10
Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) 330 553 1.68
Dokter Spesialis Patologi Klinik (Sp.PK) 2,078 4,851 2.33
Dokter Spesialis Radiologi (Sp.Rad) 2,057 5,370 2.61
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) | rasio SIP:headcount >1 lazim karena 1 nakes bisa beberapa SIP/lokasi praktik
Substrat sistem informasi yang ada
Beberapa sistem berfungsi dan menjadi tulang punggung perencanaan TB: SITB (Sistem Informasi Tuberkulosis), registri kasus TB nasional yang melacak notifikasi, kaskade pengobatan, hasil, dan jejaring laboratorium TCM, DREAMS/SI-SDMK (registrasi tenaga per faskes), SIRS (registrasi RS + layanan), ASPAK (registri alat kesehatan termasuk TCM/GeneXpert & kamar isolasi, tidak tercakup di SIRS), SATUSEHAT (interoperabilitas EHR), dan klaim BPJS (utilisasi & biaya layanan). SITB adalah aset surveilans TB terkuat dan menjadi acuan capaian notifikasi (case finding) nasional.
Senjang sistem informasi. (1) Data jumlah alat TCM/GeneXpert, kartrid, dan kamar isolasi airborne per fasilitas tidak terpublikasi rutin dari SIRS (ada di ASPAK/SITB terpisah), sehingga kapasitas diagnostik & isolasi riil tak dapat dihitung dari sumber ini.
(2) Kaskade TB (notifikasi, mulai pengobatan, keberhasilan, putus berobat) berada di SITB, bukan di klaim JKN, sehingga hasil pengobatan tak tertaut ke biaya layanan.
(3) Status resistansi obat (TB-RO/MDR-TB) dan hasil uji kepekaan obat terkode tidak konsisten di klaim (lihat Pilar 5); pelacakan akurat memerlukan integrasi SITB.
(4) Sebagian besar perawatan TB berlangsung di layanan primer (puskesmas, DPM) yang tidak terlihat di klaim FKRTL. Perencanaan karenanya perlu menggabungkan SITB + DREAMS + SIRS + klaim.

6 Pilar 4, Akses obat esensial (OAT, program vertikal)

④ Akses Obat Esensial · OAT Lini 1 & 2 · Regimen MDR-TB · Program Vertikal Gratis · Senjang Penangkapan Biaya JKN
Pertanyaan: Apakah obat anti-TB (OAT) tersedia, dan bagaimana mekanisme pasokannya berbeda dari obat penyakit lain (sehingga klaim JKN tidak menangkap biayanya).
Tabel 4.1: Obat & Komoditas Esensial TB dan Mekanisme Pasokan (ringkasan kualitatif)
Kelas / komoditas Contoh / peran pada TB Status pasokan & formularium
OAT lini pertama (KDT) Rifampisin, isoniazid, pirazinamid, etambutol (FDC); TB sensitif obat Program vertikal P2TB (gratis); didistribusikan via Kemenkes/Global Fund, BUKAN beli mandiri RS
OAT anak Formulasi pediatrik FDC; TB anak Program vertikal (gratis); tersedia hingga layanan primer
OAT lini kedua (MDR-TB) Bedaquiline, levofloksasin, linezolid, sikloserin; regimen TB resisten obat Program vertikal khusus (gratis); regimen oral baru (BPaLM) diperluas bertahap di fasilitas rujukan TB-RO
Reagen & kartrid TCM/GeneXpert Diagnosis molekuler cepat + deteksi resistansi rifampisin Disuplai program TB (jaringan SITB); ketersediaan kartrid jadi pembatas operasional
Obat suportif & komorbiditas Antiretroviral (TB-HIV), obat DM (TB-DM), kortikosteroid Sebagian via JKN (komorbiditas), sebagian program (ARV)
Vaksin BCG Pencegahan TB berat pada bayi (hulu) Program imunisasi nasional rutin; cakupan relatif tinggi
Sumber: WHO EML, Fornas, Program Nasional Penanggulangan TB (P2TB), Global Fund, HTA Watchdog ARC. OAT bukan komoditas beli mandiri JKN.
Inti Pilar 4, mengapa biaya JKN bukan biaya obat TB. Tidak seperti hampir semua penyakit lain, obat anti-tuberkulosis (OAT) disuplai oleh program vertikal nasional (P2TB Kemenkes, didanai APBN + Global Fund) secara GRATIS ke pasien, melalui jejaring pelaporan SITB, bukan dibeli rumah sakit atau ditagihkan ke JKN. Akibatnya, klaim BPJS untuk TB hampir tidak menangkap biaya obat TB, angka pembiayaan pada Pilar 5 mencerminkan biaya LAYANAN TB non-obat (rawat inap, diagnostik, penanganan komplikasi/komorbiditas), bukan total biaya program TB. Total biaya pasokan obat TB yang sesungguhnya (OAT lini 1, regimen MDR-TB, kartrid TCM) terletak di anggaran program TB dan hibah Global Fund, di luar lingkup sampel klaim ini. Implikasi kebijakan: keberlanjutan pembiayaan TB sangat bergantung pada anggaran program & hibah donor, dan transisi dari pendanaan Global Fund ke pendanaan domestik adalah risiko struktural utama menuju eliminasi TB 2030.

7 Pilar 5, Pembiayaan (belanja JKN layanan TB)

⑤ Pembiayaan · Belanja JKN Layanan TB per Tahun · 2024 menurut Usia, Jenis Kelamin, Segmen, Keparahan, Kode ICD, Geografi
Pertanyaan: Berapa besar dan bagaimana pola pembiayaan LAYANAN TB (bukan obat), dan siapa yang menanggung beban. Dihitung langsung dari klaim BPJS (tertimbang PSTV15). Availability = besar belanja; Accessibility = siapa terbiayai (segmen/usia); Quality = orientasi (rawat inap vs deteksi/diagnosis).
Penting, lingkup biaya. Seluruh angka pada pilar ini adalah biaya LAYANAN TB (FKRTL, non-obat). Obat anti-TB (OAT) GRATIS via program vertikal (lihat Pilar 4) sehingga tidak termasuk di sini. Angka ini undercapture total biaya program TB.

Belanja layanan TB per tahun, tabel data figur
Tahun Belanja layanan (M) Episode (sampel mentah) Biaya/episode (juta) Share rawat inap (%)
2,015 482.1 7,356 0.680 8.200
2,016 513.6 10,332 0.550 6.100
2,017 1,196.2 21,085 0.580 6.800
2,018 1,415.6 23,232 0.610 6.900
2,019 1,451.5 25,202 0.590 6.800
2,020 1,014.1 17,970 0.560 7.000
2,021 953.7 16,654 0.620 5.800
2,022 1,519.3 24,246 0.710 8.300
2,023 2,191.2 28,799 0.850 8.900
2,024 1,935.5 29,455 0.730 8.500
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)
Inti Pilar 5. Belanja JKN untuk LAYANAN TB tumbuh dari ~Rp 0.5 triliun (2015) menjadi Rp 1.9 triliun (2024), kumulatif ~Rp 12.7 triliun (2015-2024). Biaya rata-rata Rp 0.7 juta per episode layanan (2024), relatif rendah karena TB ditatalaksana mayoritas rawat jalan (share rawat inap hanya 8.5%) dengan obat ditanggung program. Beban jatuh pada usia produktif & lansia, ditanggung terutama oleh segmen PBI dan PBPU (mandiri), menegaskan TB sebagai penyakit kemiskinan. Hanya 30.8% episode TB paru terkonfirmasi bakteriologis (A15 vs total A15+A16), menandai diagnosis yang masih banyak klinis, ruang utama penguatan diagnostik molekuler (Pilar 1). Penting: angka ini bukan biaya obat TB; total biaya program TB jauh lebih besar dan bergantung anggaran vertikal + hibah.

7.5 Komorbiditas & konfirmasi (mutu diagnostik)

Indikator mutu & komorbiditas TB 2024, tabel data figur
Indikator % episode TB 2024
Konfirmasi bakteriologis (A15/(A15+A16)) 30.8
TB-DM ter-koding (SDX E10-E14) 8.0
TB-HIV ter-koding (SDX B20-B24) 0.8
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)

8 Pilar 6, Kepemimpinan & tata kelola (Perpres TB, End TB Strategy)

⑥ Tata Kelola · Perpres 67/2021 TB · Strategi Nasional Eliminasi TB 2030 · End TB Strategy WHO · Pendanaan Vertikal & Transisi Global Fund
Pertanyaan: Apakah kerangka kebijakan dan kelembagaan untuk TB memadai dan termutakhirkan, terutama untuk eliminasi 2030 dan keberlanjutan pendanaan.
Tabel 6.1: Instrumen Tata Kelola TB · ringkasan kebijakan kunci
Instrumen Fokus Status
Perpres 67/2021 Penanggulangan TB Komitmen lintas-sektor, target eliminasi TB 2030, kepemimpinan presiden Berlaku; menjadi payung Strategi Nasional TB
Strategi Nasional Eliminasi TB 2020-2024 / lanjutan Roadmap penemuan kasus, pengobatan, pencegahan, TB-RO Berlaku; capaian notifikasi & keberhasilan masih di bawah target
PNPK / Pedoman Nasional Penanggulangan TB Standar diagnosis (TCM sebagai entry point), pengobatan, TB-RO Ada; pergeseran ke diagnosis molekuler & regimen oral MDR (BPaLM)
Program imunisasi BCG (Permenkes imunisasi) Pencegahan TB berat pada bayi (hulu) Program nasional rutin; cakupan relatif tinggi
OAT program vertikal (P2TB) + Global Fund Pasokan obat TB gratis, jejaring SITB Berjalan; risiko keberlanjutan saat transisi dari hibah ke pendanaan domestik
Integrasi TB-JKN & SPM daerah Layanan TB dalam JKN + Standar Pelayanan Minimal kab/kota Berlaku; obat tetap vertikal, layanan via JKN; koordinasi data SITB-BPJS senjang
Sumber: kompilasi regulasi kunci (Perpres 67/2021, Strategi Nasional TB, PNPK, End TB Strategy WHO). Korpus regulasi lengkap di ARC Indonesia Health Policy Review.
Inti Pilar 6. Kerangka kebijakan TB Indonesia kuat di tingkat komitmen: Perpres 67/2021 menempatkan eliminasi TB 2030 sebagai prioritas presiden lintas-sektor, didukung Strategi Nasional TB, PNPK yang sudah menjadikan TCM sebagai entry point diagnosis, dan pasokan OAT gratis via program vertikal yang menjamin akses obat tanpa hambatan biaya. Namun tiga senjang struktural menonjol: (1) keberlanjutan pendanaan, pasokan OAT, kartrid TCM, dan regimen MDR-TB masih bertumpu pada hibah Global Fund, sehingga transisi ke pendanaan domestik adalah risiko utama; (2) pemerataan kapasitas diagnostik & isolasi, kebijakan TCM-as-entry-point belum diimbangi sebaran alat & ruang isolasi airborne yang merata (Pilar 1); (3) koordinasi data SITB-BPJS, kaskade TB (SITB) dan biaya layanan (JKN) belum terintegrasi, menyulitkan tata kelola berbasis hasil. Tata kelola perlu bergeser dari komitmen ke pemerataan kapasitas diagnostik molekuler, pengendalian penularan, dan kemandirian pembiayaan.

9 Skor AAQ, sintesis kesiapan sistem

★ Ketersediaan, Keterjangkauan, Mutu (AAQ) menurut Pilar
Skor AAQ Sistem Kesehatan TB Indonesia (2025) · sintesis enam pilar
Pilar Ketersediaan Keterjangkauan Mutu
1 Layanan Isolasi airborne 240 RS (7.3%); lab mikrobiologi 1,092 RS (33.3%) 71.4% kab tanpa isolasi airborne; 37.9% kab tanpa lab mikrobiologi Kapabilitas TB lengkap hanya 96 RS (2.9%); jumlah alat/kamar tak terdata
2 Tenaga 1,468 dokter paru (0.516/100k; 1.341/1.000 kasus TB) 31.5% kab tanpa dokter paru; Gini 0.71 Bertumpu Sp.PD (4,970) & dokter umum; mikrobiolog (330) & subsp infeksi paru (38) langka
3 Informasi SITB (registri TB), DREAMS, SIRS, ASPAK Notifikasi & kaskade di SITB; tenaga per kab tersedia Jumlah alat TCM/kamar isolasi & kaskade-biaya tak terintegrasi
4 Obat & vaksin OAT lini 1 & 2 (MDR) GRATIS via program vertikal; BCG rutin Akses obat tanpa hambatan biaya pasien Keberlanjutan bergantung Global Fund; risiko transisi pendanaan
5 Pembiayaan JKN biayai LAYANAN TB ~Rp1.9 T (2024); obat di luar JKN Beban usia produktif & lansia; PBI/PBPU; Rp0.7 juta/episode Konfirmasi bakteriologis hanya 30.8%; biaya obat tak tertangkap JKN
6 Tata kelola Perpres 67/2021 & Strategi Nasional TB; target eliminasi 2030 Komitmen presiden lintas-sektor; SPM daerah Pemerataan diagnostik/isolasi & kemandirian pembiayaan belum tercapai
Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15)
Sintesis. Sistem kesehatan TB Indonesia, untuk negara beban TB terbesar kedua dunia, menampilkan pola yang khas: akses obat & komitmen kebijakan kuat (OAT gratis program vertikal, Perpres eliminasi 2030, TCM sebagai entry point), tetapi kapasitas diagnostik molekuler dan pengendalian penularan langka dan timpang, dan pendanaan obat bergantung hibah. Tiga senjang struktural: (1) infrastruktur pengendalian penularan nyaris tak ada di daerah (isolasi airborne hanya 240 RS, 71.4% kabupaten kosong); (2) diagnostik molekuler terpusat (lab mikrobiologi 1,092 RS, 37.9% kabupaten tanpa; konfirmasi bakteriologis hanya 30.8%); (3) tenaga paru langka & terkonsentrasi di Jawa/perkotaan (1,468 dokter paru, 31.5% kabupaten kosong, hanya 1.341/1.000 kasus TB). Penguatan perlu bergeser ke pemerataan jejaring TCM/GeneXpert dan ruang isolasi airborne di luar Jawa, redistribusi tenaga paru/mikrobiolog, integrasi data SITB-BPJS, dan kemandirian pembiayaan OAT menjelang berakhirnya dukungan hibah.

10 Keterbatasan data

  1. DREAMS headcount = posisi per faskes (tenaga di lebih dari satu faskes terhitung ganda); SIP = izin praktik, bukan tenaga aktif unik. Analis laboratorium dipakai sebagai proksi operator TCM/GeneXpert (tidak semua analis mengoperasikan TCM).
  2. Layanan SIRS = layanan yang dideklarasikan RS, bukan jumlah kamar isolasi tekanan negatif, jumlah alat TCM/GeneXpert, kartrid, atau jumlah tempat tidur TB; data alat ada di ASPAK/SITB yang tidak tercakup di sini (senjang kapasitas). Lab mikrobiologi adalah proksi kapasitas molekuler, bukan konfirmasi alat TCM aktif.
  3. Jejaring TCM/GeneXpert dan layanan TB sesungguhnya juga mencakup puskesmas, DPM, dan lab rujukan di luar RS (dikelola program TB via SITB), yang tidak tertangkap SIRS. Angka fasilitas di sini adalah batas bawah kapasitas RS.
  4. Denominator beban TB per kabupaten tidak tersedia; per 1.000 kasus TB memakai estimasi insidensi nasional WHO (~385/100k) diterapkan ke penduduk, bukan kasus aktual per kab.
  5. Pembiayaan dihitung dari Data Sampel BPJS reguler tertimbang (FKL48 verifikasi); FKTP kapitasi (sebagian besar layanan TB rawat jalan di puskesmas) tidak termasuk; dan terutama OAT (obat anti-TB) GRATIS via program vertikal sehingga biaya obat TB TIDAK tertangkap, angka = biaya layanan TB non-obat, undercapture total biaya program.
  6. Konfirmasi bakteriologis (A15/(A15+A16)) dan komorbiditas TB-DM/TB-HIV dari klaim adalah batas bawah; status TB-RO/MDR tidak terkode konsisten di klaim, pelacakan akurat memerlukan SITB.

Analisis sisi pasokan sistem kesehatan untuk tuberkulosis di Indonesia. Pembiayaan dihitung langsung dari klaim BPJS (tidak bergantung pada laporan sisi permintaan, lihat ARC7.5 untuk sisi permintaan); biaya obat anti-TB (OAT) tidak tertangkap karena disuplai program vertikal gratis. Seluruh kepadatan dinyatakan dengan denominator eksplisit; senjang data dilaporkan terbuka. Counterpart manuscript: Research Center ARC7, Infectious Disease Institute.