Tentang laporan ini. Ini adalah analisis sisi pasokan
(kapasitas sistem kesehatan) untuk tuberkulosis (TB, kode ICD-10
A15-A19) di Indonesia. Pertanyaannya bukan “berapa banyak pasien yang
terlayani”, melainkan apakah sistem punya tenaga (dokter paru,
internis, analis laboratorium operator TCM/GeneXpert, mikrobiolog),
fasilitas (layanan paru, ruang isolasi airborne untuk pengendalian
penularan, laboratorium molekuler), obat, informasi, pembiayaan, dan
tata kelola untuk mendiagnosis dan mengobati TB, dan seberapa timpang
sebarannya secara geografis. Indonesia adalah penyumbang beban TB
terbesar kedua di dunia (WHO), dengan estimasi ~1,09 juta
kasus insiden per tahun. Kerangka: enam pilar sistem kesehatan
WHO + sintesis Ketersediaan, Keterjangkauan, Mutu
(Availability-Accessibility-Quality, AAQ). Pembiayaan dihitung
langsung dari klaim, tidak bergantung pada laporan sisi permintaan
(lihat ARC7.5 untuk sisi permintaan).
Peta pilar (WHO building blocks): 1 Penyediaan layanan
(RS layanan paru, isolasi airborne, lab molekuler) · 2 Tenaga
kesehatan (Sp.P, Sp.PD, analis lab/TCM, mikrobiolog) · 3 Sistem
informasi (SITB, DREAMS, SIRS) · 4 Akses obat esensial (OAT
program vertikal, gratis) · 5 Pembiayaan (belanja JKN layanan TB)
· 6 Kepemimpinan & tata kelola (Perpres TB, End TB Strategy)
· diikuti Skor AAQ dan Keterbatasan data.
Ringkasan
eksekutif
0.516
Dokter Spesialis Paru (Sp.P) nasional = 0.516 per 100.000
penduduk (1 per 193,759 jiwa, 1 untuk tiap 746 kasus TB insiden).
Beban TB bertumpu pada internis & dokter umum, bukan tenaga paru
khusus.
71.4%
Kabupaten/kota tanpa ruang isolasi airborne (tekanan negatif) di
RS, infrastruktur inti pengendalian penularan TB. Hanya 240 dari 3,275
RS (7.3%) memilikinya.
37.9%
Kabupaten/kota tanpa laboratorium mikrobiologi (proksi kapasitas
TCM/GeneXpert). Diagnosis molekuler TB terpusat; sebagian besar daerah
bergantung mikroskopis BTA.
96
Hanya 96 RS (2.9%) punya kapabilitas TB lengkap (klinis
paru/dalam + lab molekuler + isolasi airborne). Sistem rujukan TB
resisten obat sangat terkonsentrasi.
Rp 1.9 T
Belanja JKN untuk LAYANAN TB (A15-A19) pada 2024 (proyeksi
nasional tertimbang). Obat anti-TB (OAT) GRATIS via program vertikal,
jadi angka ini tidak termasuk biaya obat. Kumulatif 2015-2024 ~Rp
12.7 triliun.
Temuan inti. Kapasitas sisi pasokan TB di Indonesia, negara beban
TB terbesar kedua dunia, menunjukkan pola tenaga paru langka dan
terkonsentrasi di Jawa dan perkotaan, infrastruktur pengendalian
penularan (isolasi airborne) sangat jarang, dan diagnostik
molekuler terpusat, sementara obat ditanggung jalur terpisah.
Indonesia hanya memiliki 1,468 dokter spesialis paru (0.516 per
100.000 penduduk; 1 per 193,759 jiwa; hanya 1.341 per 1.000 kasus TB),
dengan 31.5% kabupaten/kota tanpa dokter paru (Gini 0.712). Ruang
isolasi airborne (tekanan negatif) hanya ada di 240 RS
(7.3%), dengan 71.4% kabupaten tanpa satu pun, padahal isolasi
airborne adalah inti pengendalian infeksi TB. Laboratorium mikrobiologi
(proksi kapasitas TCM/GeneXpert) ada di 1,092 RS, dengan 37.9%
kabupaten tanpa. Belanja JKN untuk layanan TB mencapai Rp 1.9 triliun
(2024), namun ini bukan biaya obat TB, karena OAT disuplai
gratis program vertikal P2TB/Global Fund. Hanya 30.8% episode rawat
inap TB paru terkonfirmasi bakteriologis (A15), menandai diagnosis
yang masih banyak klinis. Pola ini menunjukkan sistem yang kuat di
pengobatan rawat jalan terdesentralisasi (DOTS + OAT gratis) tetapi
lemah di kapasitas diagnostik molekuler merata dan pengendalian
penularan, dua titik lemah menuju target eliminasi TB 2030.
Fondasi: kerangka,
denominator, dan sumber data
Kerangka & denominator
Kerangka enam pilar sistem kesehatan WHO (penyediaan layanan,
tenaga kesehatan, sistem informasi, akses obat esensial, pembiayaan,
tata kelola). Denominator penduduk: proyeksi BPS 2025 (284,438,930 jiwa,
514 kabupaten/kota). Denominator beban: estimasi 1,095,090 kasus TB
insiden per tahun (insidensi 385/100.000, WHO Global TB Report 2023,
Indonesia peringkat kedua dunia). Kepadatan tenaga dilaporkan per
100.000 penduduk total (konvensi WHO untuk spesialis) dan, untuk tenaga
relevan, juga per 1.000 kasus TB (ditandai), agar terlihat beban
TB per tenaga.
Sumber: SDM = DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025
(headcount per faskes + izin praktik/SIP); fasilitas = SIRS 2025-10
(3,275 RS, kolom layanan 0/1); pembiayaan = Data Sampel BPJS reguler
2015-2024 (dihitung langsung: TB = ICD-10 A15-A19 pada FKL15A/SDX; biaya
= FKL48 verifikasi, tertimbang PSTV15); tata kelola = instrumen
kebijakan kunci (Perpres 67/2021 TB, Permenkes, Strategi Nasional
TB).
| Tabel 0: Pemetaan pilar ke sumber data & status ketersediaan |
| Pilar (building block) |
Sumber data utama |
Status |
| 1. Penyediaan layanan (fasilitas) |
SIRS Kemenkes 2025-10 (3.275 RS): layanan Paru, Paru Infeksi, Penyakit Dalam, isolasi airborne (tekanan negatif), lab mikrobiologi/molekuler (proksi TCM) |
Kuantitatif (inti) |
| 2. Tenaga kesehatan (HRH) |
DREAMS/SI-SDMK 2025 (headcount + SIP per faskes): Sp.P, Sp.PD, analis lab (operator TCM), mikrobiolog, Sp.PK, radiolog; denominator BPS + beban WHO |
Kuantitatif (inti) |
| 3. Sistem informasi |
SITB (registri TB nasional), DREAMS, SIRS, ASPAK (alat), SATUSEHAT, BPJS sebagai substrat |
Naratif + meta |
| 4. Akses obat esensial |
OAT (program vertikal P2TB / Global Fund, gratis) di luar klaim JKN; WHO EML x Fornas (OAT lini 1 & 2, regimen MDR-TB) |
Naratif + parsial |
| 5. Pembiayaan |
Klaim BPJS reguler 2015-2024 (LAYANAN TB A15-A19, bukan obat), tertimbang |
Kuantitatif (inti) |
| 6. Tata kelola |
Perpres 67/2021 Penanggulangan TB, Strategi Nasional Eliminasi TB 2030, PNPK TB, End TB Strategy WHO; kompilasi regulasi kunci |
Naratif |
| Senjang data dilaporkan jujur di tiap pilar; bukan ketiadaan masalah, melainkan ketiadaan data rutin terpilah. |
Pilar 1,
Penyediaan layanan (RS paru, isolasi airborne, lab molekuler)
① Penyediaan Layanan · Layanan Paru & TB · Isolasi Airborne
(Pengendalian Penularan) · Lab Molekuler (TCM) · Gurun Layanan per
Kabupaten · Sebaran Pulau · Kepemilikan
Pertanyaan: Berapa rumah sakit yang menyediakan layanan paru/TB,
ruang isolasi airborne (tekanan negatif) yang krusial untuk mencegah
penularan TB di fasilitas, dan kapasitas laboratorium molekuler
(TCM/GeneXpert) untuk diagnosis cepat, dan seberapa banyak wilayah yang
sama sekali tidak memilikinya. Availability = jumlah unit;
Accessibility = sebaran kabupaten/provinsi (gurun layanan);
Quality = ragam (isolasi airborne, lab molekuler, kapabilitas
lengkap).

| Ketersediaan layanan TB-relevan di RS, tabel data figur |
| Layanan |
RS menyediakan |
% dari total RS |
| Paru/Pulmonologi |
1,878 |
57.3 |
| Paru Infeksi (TB) |
676 |
20.6 |
| Penyakit dalam |
2,954 |
90.2 |
| Infeksi & penyakit tropis |
582 |
17.8 |
| Radiologi (rontgen toraks) |
2,833 |
86.5 |
| Isolasi airborne (tekanan negatif) |
240 |
7.3 |
| Isolasi (semua tipe) |
2,766 |
84.5 |
| Lab mikrobiologi (proksi TCM) |
992 |
30.3 |
| Mikrobiologi klinik |
255 |
7.8 |
| Kapabilitas klinis TB (paru/dalam + radiologi) |
2,752 |
84.0 |
| Kapabilitas TB lengkap (klinis+lab+isolasi) |
96 |
2.9 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Inti Pilar 1. Layanan klinis untuk TB relatif tersedia
(penyakit dalam 90.2%, paru 57.3%, radiologi 86.5%), tetapi dua
kapasitas TB-spesifik sangat jarang: ruang isolasi airborne
(tekanan negatif) hanya di 240 RS (7.3%), padahal isolasi
airborne adalah inti pencegahan penularan TB di fasilitas (terutama TB
resisten obat); dan laboratorium mikrobiologi (proksi
TCM/GeneXpert) hanya di 1,092 RS (33.3%). Hanya 96 RS (2.9%)
menggabungkan ketiganya (klinis + lab molekuler + isolasi airborne)
sebagai kapabilitas TB lengkap, basis rujukan TB-RO yang sangat
terkonsentrasi. Catatan: kolom SIRS = layanan dideklarasikan RS,
bukan jumlah kamar isolasi, jumlah alat TCM, atau jumlah tempat tidur;
data alat ada di ASPAK/SITB yang terpisah.
Kemampuan inti
perawatan TB

| Kemampuan inti perawatan TB di RS, tabel data figur |
| Kemampuan |
Tipe |
Jumlah RS |
% dari RS |
| Layanan penyakit dalam |
Layanan klinis umum |
2,954 |
90.2 |
| Radiologi (rontgen) |
Layanan klinis umum |
2,833 |
86.5 |
| Isolasi (semua tipe) |
Layanan klinis umum |
2,766 |
84.5 |
| Layanan paru/pulmonologi |
Layanan klinis umum |
1,878 |
57.3 |
| Lab mikrobiologi (TCM) |
Kapasitas TB-spesifik |
1,092 |
33.3 |
| Layanan paru infeksi (TB) |
Kapasitas TB-spesifik |
676 |
20.6 |
| Isolasi airborne (tekanan negatif) |
Kapasitas TB-spesifik |
240 |
7.3 |
| Kapabilitas TB lengkap |
Kapasitas TB-spesifik |
96 |
2.9 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Cakupan kabupaten
(gurun layanan)
| Tabel 1.1: Cakupan Layanan TB menurut Kabupaten/Kota (gurun isolasi, lab & paru) · Unit: kabupaten (n=514) |
| Layanan |
Kab dgn layanan |
% kab |
% kab nihil |
% pop tercakup |
| Isolasi airborne (tekanan negatif) |
147 |
28.6 |
71.4 |
44.9 |
| Lab mikrobiologi (proksi TCM) |
319 |
62.1 |
37.9 |
83.3 |
| Layanan Paru/Pulmonologi |
363 |
70.6 |
29.4 |
90.3 |
| Layanan Paru Infeksi (TB) |
230 |
44.7 |
55.3 |
71.4 |
| Kapabilitas klinis TB |
449 |
87.4 |
12.6 |
96.6 |
| Kapabilitas TB lengkap |
66 |
12.8 |
87.2 |
24.7 |
| Layanan Penyakit Dalam |
455 |
88.5 |
11.5 |
97.0 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) | SIRS = layanan dideklarasikan RS, bukan jumlah kamar isolasi/alat TCM/TT |

| Gurun layanan TB per kabupaten, tabel data figur |
| Layanan |
% kab ada |
% kab nihil |
% pop tercakup |
| Isolasi airborne (tekanan negatif) |
28.6 |
71.4 |
44.9 |
| Lab mikrobiologi (proksi TCM) |
62.1 |
37.9 |
83.3 |
| Layanan Paru/Pulmonologi |
70.6 |
29.4 |
90.3 |
| Layanan Paru Infeksi (TB) |
44.7 |
55.3 |
71.4 |
| Kapabilitas klinis TB |
87.4 |
12.6 |
96.6 |
| Kapabilitas TB lengkap |
12.8 |
87.2 |
24.7 |
| Layanan Penyakit Dalam |
88.5 |
11.5 |
97.0 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Sebaran pulau

| RS isolasi airborne, lab & paru per pulau, tabel data figur |
| Pulau |
RS isolasi airborne |
RS lab mikrobiologi |
RS layanan paru |
% nasional isolasi |
Penduduk |
Isolasi per 1 juta |
| Jawa |
98 |
576 |
1,050 |
43.2 |
158,079,150 |
0.620 |
| Sumatera |
42 |
207 |
429 |
18.5 |
62,259,500 |
0.670 |
| Kalimantan |
35 |
75 |
121 |
15.4 |
17,951,350 |
1.950 |
| Sulawesi |
26 |
101 |
123 |
11.5 |
21,045,030 |
1.240 |
| Bali-Nusra |
22 |
75 |
90 |
9.7 |
15,934,970 |
1.380 |
| Maluku-Papua |
4 |
31 |
29 |
1.8 |
9,168,930 |
0.440 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Per provinsi

| RS isolasi airborne, lab & paru per provinsi, tabel data figur |
| Provinsi |
Pulau |
Penduduk 2025 |
Total RS |
RS isolasi airborne |
RS lab mikrobiologi |
RS paru |
Isolasi per 1 juta |
| JAWA TIMUR |
Jawa |
42,089,260 |
444 |
25 |
146 |
273 |
0.590 |
| DKI JAKARTA |
Jawa |
10,677,990 |
195 |
24 |
74 |
136 |
2.250 |
| JAWA BARAT |
Jawa |
50,758,990 |
436 |
19 |
159 |
282 |
0.370 |
| KALIMANTAN TIMUR |
Kalimantan |
4,267,610 |
72 |
19 |
27 |
39 |
4.450 |
| JAWA TENGAH |
Jawa |
38,233,920 |
366 |
17 |
126 |
226 |
0.440 |
| NUSA TENGGARA TIMUR |
Bali-Nusra |
5,742,580 |
68 |
11 |
27 |
15 |
1.920 |
| DI YOGYAKARTA |
Jawa |
3,781,550 |
81 |
9 |
26 |
41 |
2.380 |
| SULAWESI UTARA |
Sulawesi |
2,721,440 |
60 |
9 |
15 |
19 |
3.310 |
| SULAWESI SELATAN |
Sulawesi |
9,563,130 |
126 |
9 |
51 |
60 |
0.940 |
| SUMATERA UTARA |
Sumatera |
15,785,840 |
207 |
8 |
62 |
156 |
0.510 |
| KALIMANTAN SELATAN |
Kalimantan |
4,323,340 |
52 |
8 |
13 |
37 |
1.850 |
| BALI |
Bali-Nusra |
4,461,270 |
84 |
7 |
32 |
46 |
1.570 |
| RIAU |
Sumatera |
6,811,180 |
81 |
6 |
22 |
55 |
0.880 |
| JAMBI |
Sumatera |
3,768,490 |
45 |
6 |
13 |
21 |
1.590 |
| LAMPUNG |
Sumatera |
9,522,900 |
82 |
5 |
21 |
34 |
0.530 |
| SULAWESI TENGGARA |
Sulawesi |
2,836,760 |
40 |
5 |
14 |
12 |
1.760 |
| ACEH |
Sumatera |
5,625,960 |
85 |
4 |
22 |
56 |
0.710 |
| KEPULAUAN RIAU |
Sumatera |
2,213,460 |
13 |
4 |
1 |
5 |
1.810 |
| BANTEN |
Jawa |
12,537,440 |
135 |
4 |
45 |
92 |
0.320 |
| NUSA TENGGARA BARAT |
Bali-Nusra |
5,731,120 |
46 |
4 |
16 |
29 |
0.700 |
| KALIMANTAN TENGAH |
Kalimantan |
2,845,010 |
34 |
4 |
9 |
20 |
1.410 |
| SUMATERA BARAT |
Sumatera |
5,914,280 |
80 |
3 |
20 |
49 |
0.510 |
| SUMATERA SELATAN |
Sumatera |
8,928,510 |
88 |
3 |
28 |
29 |
0.340 |
| BENGKULU |
Sumatera |
2,138,060 |
28 |
2 |
10 |
12 |
0.940 |
| KALIMANTAN BARAT |
Kalimantan |
5,766,020 |
58 |
2 |
25 |
25 |
0.350 |
| KALIMANTAN UTARA |
Kalimantan |
749,370 |
11 |
2 |
1 |
0 |
2.670 |
| SULAWESI TENGAH |
Sulawesi |
3,156,110 |
41 |
2 |
11 |
14 |
0.630 |
| MALUKU |
Maluku-Papua |
1,970,560 |
29 |
2 |
11 |
15 |
1.010 |
| PAPUA BARAT |
Maluku-Papua |
1,224,090 |
25 |
2 |
10 |
7 |
1.630 |
| KEPULAUAN BANGKA BELITUNG |
Sumatera |
1,550,820 |
29 |
1 |
8 |
12 |
0.640 |
| GORONTALO |
Sulawesi |
1,242,250 |
21 |
1 |
6 |
10 |
0.800 |
| SULAWESI BARAT |
Sulawesi |
1,525,340 |
16 |
0 |
4 |
8 |
0.000 |
| MALUKU UTARA |
Maluku-Papua |
1,373,830 |
23 |
0 |
10 |
7 |
0.000 |
| PAPUA |
Maluku-Papua |
4,600,450 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0.000 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Kepemilikan

| Kepemilikan RS isolasi airborne, tabel data figur |
| Kepemilikan |
Jumlah RS |
% |
| Pemkab |
52 |
21.7 |
| SWASTA/LAINNYA |
48 |
20.0 |
| Perusahaan |
42 |
17.5 |
| Organisasi Sosial |
23 |
9.6 |
| Pemprop |
18 |
7.5 |
| Organisasi Islam |
8 |
3.3 |
| TNI AD |
8 |
3.3 |
| POLRI |
7 |
2.9 |
| Kemkes |
6 |
2.5 |
| Pemkot |
5 |
2.1 |
| Perorangan |
5 |
2.1 |
| Organisasi Katholik |
4 |
1.7 |
| BUMN |
3 |
1.2 |
| Kementerian Lain |
3 |
1.2 |
| Organisasi Protestan |
3 |
1.2 |
| TNI AL |
2 |
0.8 |
| TNI AU |
2 |
0.8 |
| Organisasi Budha |
1 |
0.4 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Senjang data fasilitas (penting). SIRS mencatat apakah RS
punya layanan paru, isolasi airborne, atau lab mikrobiologi, tetapi
tidak berapa kamar isolasi tekanan negatif, berapa alat
TCM/GeneXpert, berapa modul/kartrid, atau berapa tempat tidur TB per
RS, sehingga kapasitas riil diagnostik dan isolasi tidak dapat
dihitung. Jaringan TCM/GeneXpert sesungguhnya juga mencakup
puskesmas dan laboratorium rujukan di luar RS (dikelola program TB dalam
SITB), yang tidak tertangkap SIRS. Maka angka isolasi airborne dan lab
di sini adalah batas bawah kapasitas RS; integrasi data SITB +
ASPAK akan memberi gambaran jaringan diagnostik TB yang lebih lengkap.
Pilar 2,
Tenaga kesehatan (Sp.P, Sp.PD, analis lab/TCM, mikrobiolog)
② Tenaga Kesehatan · Kepadatan per 100k & per Kasus TB · Gurun
Tenaga · Konsentrasi (Gini) · Jawa vs Luar Jawa · Kota vs Kabupaten
Pertanyaan: Apakah Indonesia punya tenaga untuk mendiagnosis
& mengobati TB, dokter paru, internis, analis laboratorium (operator
TCM/GeneXpert), mikrobiolog, dan seberapa timpang sebarannya.
Availability = densitas nasional per 100k & per 1.000 kasus
TB; Accessibility = sebaran & gurun tenaga; Quality =
bauran subspesialis & izin praktik.
Kepadatan tenaga
nasional
| Tabel 2.1: Tenaga TB-Relevan Nasional (2025) · Unit: tenaga (headcount + izin praktik) |
| Tenaga |
Headcount |
SIP |
per 100k pop |
per 1 juta pop |
per 1.000 kasus TB |
1 tenaga melayani (jiwa) |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
1,468 |
3,753 |
0.516 |
5.16 |
1.341 |
193,759 |
| Subspesialis Infeksi Paru |
38 |
59 |
0.013 |
0.13 |
0.035 |
7,485,235 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
4,970 |
11,573 |
1.747 |
17.47 |
4.538 |
57,231 |
| Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) |
65,842 |
72,321 |
23.148 |
231.48 |
60.125 |
4,320 |
| Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) |
330 |
553 |
0.116 |
1.16 |
0.301 |
861,936 |
| Dokter Spesialis Patologi Klinik (Sp.PK) |
2,078 |
4,851 |
0.731 |
7.31 |
1.898 |
136,881 |
| Subsp. Infeksi & Penyakit Tropik (Sp.PD-KPTI) |
42 |
77 |
0.015 |
0.15 |
0.038 |
6,772,355 |
| Subspesialis Pulmonologi |
46 |
86 |
0.016 |
0.16 |
0.042 |
6,183,455 |
| Subspesialis Penyakit Infeksi |
30 |
57 |
0.011 |
0.11 |
0.027 |
9,481,298 |
| Dokter Spesialis Radiologi (Sp.Rad) |
2,057 |
5,370 |
0.723 |
7.23 |
1.878 |
138,279 |
| Mikrobiolog Kesehatan |
42 |
53 |
0.015 |
0.15 |
0.038 |
6,772,355 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) | headcount = posisi per-faskes (bisa ganda); per 1.000 kasus TB atas estimasi ~1,09 juta kasus insiden/tahun (WHO) |


| Tenaga relatif terhadap penduduk vs beban TB, tabel data figur |
| Tenaga |
Headcount |
Per 100k pop |
Per 1.000 kasus TB |
Kasus TB per tenaga |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
1,468 |
0.5 |
1.3 |
746 |
| Subspesialis Infeksi Paru |
38 |
0.0 |
0.0 |
28,818 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
4,970 |
1.7 |
4.5 |
220 |
| Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) |
65,842 |
23.1 |
60.1 |
17 |
| Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) |
330 |
0.1 |
0.3 |
3,318 |
| Dokter Spesialis Patologi Klinik (Sp.PK) |
2,078 |
0.7 |
1.9 |
527 |
| Dokter Spesialis Radiologi (Sp.Rad) |
2,057 |
0.7 |
1.9 |
532 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Inti Pilar 2. Indonesia hanya memiliki 1,468 dokter spesialis
paru (Sp.P) nasional, setara 0.516 per 100.000 penduduk atau
hanya 1.341 per 1.000 kasus TB (1 dokter paru untuk tiap 746
kasus TB insiden), dan 31.5% kabupaten/kota tanpa dokter paru
(Gini 0.712). Diagnosis & pengobatan TB karenanya bertumpu pada
penyakit dalam (4,970 Sp.PD, 1.747/100k) dan dokter umum di
layanan primer. Yang melimpah adalah analis laboratorium (65,842
Ahli Teknologi Lab Medik, 23.148/100k), tenaga yang mengoperasikan
TCM/GeneXpert dan mikroskop BTA, sehingga keterbatasan diagnostik
molekuler bukan pada operator melainkan pada alat & jejaring
lab (lihat Pilar 1). Sebaliknya mikrobiolog klinik (Sp.MK)
sangat langka (330 saja, 73.7% kabupaten kosong) dan subspesialis
infeksi paru nyaris tak ada (38), padahal mereka kunci tata laksana
TB resisten obat.
Gurun tenaga &
konsentrasi
| Tabel 2.2: Cakupan & Konsentrasi Tenaga (gurun tenaga) · Unit: kabupaten (n=514) |
| Tenaga |
% kab ada |
% kab nihil |
% headcount di Jawa |
Gini antar-kab |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
68.5 |
31.5 |
53.9 |
0.712 |
| Subspesialis Infeksi Paru |
4.7 |
95.3 |
50.0 |
0.965 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
93.4 |
6.6 |
56.5 |
0.681 |
| Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) |
100.0 |
0.0 |
48.9 |
0.543 |
| Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) |
26.3 |
73.7 |
61.8 |
0.870 |
| Dokter Spesialis Patologi Klinik (Sp.PK) |
87.7 |
12.3 |
54.1 |
0.660 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) | Jawa = ~56% populasi nasional sebagai pembanding |

| Cakupan & maldistribusi tenaga inti, tabel data figur |
| Tenaga |
% kab ada |
% kab nihil |
% pop tercakup |
Gini |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
68.5 |
31.5 |
86.1 |
0.712 |
| Subspesialis Infeksi Paru |
4.7 |
95.3 |
10.8 |
0.965 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
93.4 |
6.6 |
96.8 |
0.681 |
| Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) |
26.3 |
73.7 |
44.0 |
0.870 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Per provinsi (dokter
paru)

| Dokter paru per 100k per provinsi, tabel data figur |
| Provinsi |
Pulau |
Penduduk 2025 |
Dokter paru (hc) |
Per 100k |
| DKI JAKARTA |
Jawa |
10,677,990 |
165 |
1.545 |
| ACEH |
Sumatera |
5,625,960 |
70 |
1.244 |
| BALI |
Bali-Nusra |
4,461,270 |
45 |
1.009 |
| SUMATERA BARAT |
Sumatera |
5,914,280 |
57 |
0.964 |
| PAPUA BARAT |
Maluku-Papua |
1,224,090 |
11 |
0.899 |
| KALIMANTAN SELATAN |
Kalimantan |
4,323,340 |
37 |
0.856 |
| DI YOGYAKARTA |
Jawa |
3,781,550 |
31 |
0.820 |
| KALIMANTAN UTARA |
Kalimantan |
749,370 |
6 |
0.801 |
| SUMATERA UTARA |
Sumatera |
15,785,840 |
115 |
0.729 |
| KALIMANTAN TENGAH |
Kalimantan |
2,845,010 |
19 |
0.668 |
| RIAU |
Sumatera |
6,811,180 |
45 |
0.661 |
| BANTEN |
Jawa |
12,537,440 |
75 |
0.598 |
| MALUKU |
Maluku-Papua |
1,970,560 |
11 |
0.558 |
| SULAWESI SELATAN |
Sulawesi |
9,563,130 |
53 |
0.554 |
| KEPULAUAN RIAU |
Sumatera |
2,213,460 |
12 |
0.542 |
| KALIMANTAN TIMUR |
Kalimantan |
4,267,610 |
21 |
0.492 |
| JAWA TIMUR |
Jawa |
42,089,260 |
203 |
0.482 |
| BENGKULU |
Sumatera |
2,138,060 |
10 |
0.468 |
| KEPULAUAN BANGKA BELITUNG |
Sumatera |
1,550,820 |
7 |
0.451 |
| GORONTALO |
Sulawesi |
1,242,250 |
5 |
0.402 |
| JAMBI |
Sumatera |
3,768,490 |
15 |
0.398 |
| SULAWESI BARAT |
Sulawesi |
1,525,340 |
6 |
0.393 |
| JAWA BARAT |
Jawa |
50,758,990 |
190 |
0.374 |
| SULAWESI TENGGARA |
Sulawesi |
2,836,760 |
10 |
0.353 |
| JAWA TENGAH |
Jawa |
38,233,920 |
127 |
0.332 |
| NUSA TENGGARA BARAT |
Bali-Nusra |
5,731,120 |
18 |
0.314 |
| LAMPUNG |
Sumatera |
9,522,900 |
29 |
0.305 |
| SULAWESI UTARA |
Sulawesi |
2,721,440 |
8 |
0.294 |
| MALUKU UTARA |
Maluku-Papua |
1,373,830 |
4 |
0.291 |
| KALIMANTAN BARAT |
Kalimantan |
5,766,020 |
13 |
0.225 |
| SULAWESI TENGAH |
Sulawesi |
3,156,110 |
7 |
0.222 |
| NUSA TENGGARA TIMUR |
Bali-Nusra |
5,742,580 |
12 |
0.209 |
| SUMATERA SELATAN |
Sumatera |
8,928,510 |
18 |
0.202 |
| PAPUA |
Maluku-Papua |
4,600,450 |
0 |
0.000 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Per pulau

| Densitas tenaga inti per pulau, tabel data figur |
| Pulau |
Kader |
Penduduk |
Headcount |
Per 100k |
| Sumatera |
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
62,259,500 |
378 |
0.6 |
| Kalimantan |
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
17,951,350 |
96 |
0.5 |
| Jawa |
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
158,079,150 |
791 |
0.5 |
| Bali-Nusra |
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
15,934,970 |
75 |
0.5 |
| Sulawesi |
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
21,045,030 |
89 |
0.4 |
| Maluku-Papua |
Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
9,168,930 |
26 |
0.3 |
| Sulawesi |
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
21,045,030 |
432 |
2.1 |
| Bali-Nusra |
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
15,934,970 |
297 |
1.9 |
| Jawa |
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
158,079,150 |
2,807 |
1.8 |
| Sumatera |
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
62,259,500 |
1,020 |
1.6 |
| Kalimantan |
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
17,951,350 |
278 |
1.5 |
| Maluku-Papua |
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
9,168,930 |
79 |
0.9 |
| Bali-Nusra |
Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) |
15,934,970 |
5,164 |
32.4 |
| Kalimantan |
Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) |
17,951,350 |
5,523 |
30.8 |
| Sulawesi |
Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) |
21,045,030 |
6,217 |
29.5 |
| Maluku-Papua |
Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) |
9,168,930 |
2,390 |
26.1 |
| Sumatera |
Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) |
62,259,500 |
13,226 |
21.2 |
| Jawa |
Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) |
158,079,150 |
32,183 |
20.4 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Kota vs
kabupaten

| Densitas tenaga: kota vs kabupaten, tabel data figur |
| Kader |
Wilayah |
Penduduk |
Headcount |
Per 100k |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
Kota |
60,748,210 |
833 |
1.4 |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
Kabupaten |
223,690,720 |
635 |
0.3 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
Kota |
60,748,210 |
2,774 |
4.6 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
Kabupaten |
223,690,720 |
2,196 |
1.0 |
| Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) |
Kota |
60,748,210 |
27,667 |
45.5 |
| Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) |
Kabupaten |
223,690,720 |
38,175 |
17.1 |
| Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) |
Kota |
60,748,210 |
214 |
0.4 |
| Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) |
Kabupaten |
223,690,720 |
116 |
0.1 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Konsentrasi Jawa
& headcount vs izin praktik


| Headcount vs SIP kader inti TB, tabel data figur |
| Kader |
Headcount |
SIP |
Rasio SIP/HC |
| Dokter Spesialis Paru-Pulmonologi (Sp.P) |
1,468 |
3,753 |
2.560 |
| Subspesialis Infeksi Paru |
38 |
59 |
1.550 |
| Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) |
4,970 |
11,573 |
2.330 |
| Ahli Teknologi Lab Medik / Analis (operator TCM) |
65,842 |
72,321 |
1.100 |
| Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) |
330 |
553 |
1.680 |
| Dokter Spesialis Patologi Klinik (Sp.PK) |
2,078 |
4,851 |
2.330 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Pilar 4, Akses obat
esensial (OAT, program vertikal)
④ Akses Obat Esensial · OAT Lini 1 & 2 · Regimen MDR-TB · Program
Vertikal Gratis · Senjang Penangkapan Biaya JKN
Pertanyaan: Apakah obat anti-TB (OAT) tersedia, dan bagaimana
mekanisme pasokannya berbeda dari obat penyakit lain (sehingga klaim JKN
tidak menangkap biayanya).
| Tabel 4.1: Obat & Komoditas Esensial TB dan Mekanisme Pasokan (ringkasan kualitatif) |
| Kelas / komoditas |
Contoh / peran pada TB |
Status pasokan & formularium |
| OAT lini pertama (KDT) |
Rifampisin, isoniazid, pirazinamid, etambutol (FDC); TB sensitif obat |
Program vertikal P2TB (gratis); didistribusikan via Kemenkes/Global Fund, BUKAN beli mandiri RS |
| OAT anak |
Formulasi pediatrik FDC; TB anak |
Program vertikal (gratis); tersedia hingga layanan primer |
| OAT lini kedua (MDR-TB) |
Bedaquiline, levofloksasin, linezolid, sikloserin; regimen TB resisten obat |
Program vertikal khusus (gratis); regimen oral baru (BPaLM) diperluas bertahap di fasilitas rujukan TB-RO |
| Reagen & kartrid TCM/GeneXpert |
Diagnosis molekuler cepat + deteksi resistansi rifampisin |
Disuplai program TB (jaringan SITB); ketersediaan kartrid jadi pembatas operasional |
| Obat suportif & komorbiditas |
Antiretroviral (TB-HIV), obat DM (TB-DM), kortikosteroid |
Sebagian via JKN (komorbiditas), sebagian program (ARV) |
| Vaksin BCG |
Pencegahan TB berat pada bayi (hulu) |
Program imunisasi nasional rutin; cakupan relatif tinggi |
| Sumber: WHO EML, Fornas, Program Nasional Penanggulangan TB (P2TB), Global Fund, HTA Watchdog ARC. OAT bukan komoditas beli mandiri JKN. |
Inti Pilar 4, mengapa biaya JKN bukan biaya obat TB. Tidak
seperti hampir semua penyakit lain, obat anti-tuberkulosis (OAT)
disuplai oleh program vertikal nasional (P2TB Kemenkes, didanai APBN +
Global Fund) secara GRATIS ke pasien, melalui jejaring pelaporan
SITB, bukan dibeli rumah sakit atau ditagihkan ke JKN. Akibatnya,
klaim BPJS untuk TB hampir tidak menangkap biaya obat TB, angka
pembiayaan pada Pilar 5 mencerminkan biaya LAYANAN TB non-obat
(rawat inap, diagnostik, penanganan komplikasi/komorbiditas), bukan
total biaya program TB. Total biaya pasokan obat TB yang sesungguhnya
(OAT lini 1, regimen MDR-TB, kartrid TCM) terletak di anggaran program
TB dan hibah Global Fund, di luar lingkup sampel klaim ini. Implikasi
kebijakan: keberlanjutan pembiayaan TB sangat bergantung pada
anggaran program & hibah donor, dan transisi dari pendanaan
Global Fund ke pendanaan domestik adalah risiko struktural utama menuju
eliminasi TB 2030.
Pilar 5,
Pembiayaan (belanja JKN layanan TB)
⑤ Pembiayaan · Belanja JKN Layanan TB per Tahun · 2024 menurut Usia,
Jenis Kelamin, Segmen, Keparahan, Kode ICD, Geografi
Pertanyaan: Berapa besar dan bagaimana pola pembiayaan LAYANAN TB
(bukan obat), dan siapa yang menanggung beban. Dihitung langsung dari
klaim BPJS (tertimbang PSTV15). Availability = besar belanja;
Accessibility = siapa terbiayai (segmen/usia); Quality =
orientasi (rawat inap vs deteksi/diagnosis).
Penting, lingkup biaya. Seluruh angka pada pilar ini adalah
biaya LAYANAN TB (FKRTL, non-obat). Obat anti-TB (OAT) GRATIS via
program vertikal (lihat Pilar 4) sehingga tidak termasuk di sini.
Angka ini undercapture total biaya program TB.

| Belanja layanan TB per tahun, tabel data figur |
| Tahun |
Belanja layanan (M) |
Episode (sampel mentah) |
Biaya/episode (juta) |
Share rawat inap (%) |
| 2,015 |
482.1 |
7,356 |
0.680 |
8.200 |
| 2,016 |
513.6 |
10,332 |
0.550 |
6.100 |
| 2,017 |
1,196.2 |
21,085 |
0.580 |
6.800 |
| 2,018 |
1,415.6 |
23,232 |
0.610 |
6.900 |
| 2,019 |
1,451.5 |
25,202 |
0.590 |
6.800 |
| 2,020 |
1,014.1 |
17,970 |
0.560 |
7.000 |
| 2,021 |
953.7 |
16,654 |
0.620 |
5.800 |
| 2,022 |
1,519.3 |
24,246 |
0.710 |
8.300 |
| 2,023 |
2,191.2 |
28,799 |
0.850 |
8.900 |
| 2,024 |
1,935.5 |
29,455 |
0.730 |
8.500 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Inti Pilar 5. Belanja JKN untuk LAYANAN TB tumbuh dari ~Rp 0.5
triliun (2015) menjadi Rp 1.9 triliun (2024), kumulatif ~Rp 12.7
triliun (2015-2024). Biaya rata-rata Rp 0.7 juta per episode
layanan (2024), relatif rendah karena TB ditatalaksana mayoritas
rawat jalan (share rawat inap hanya 8.5%) dengan obat ditanggung
program. Beban jatuh pada usia produktif & lansia, ditanggung
terutama oleh segmen PBI dan PBPU (mandiri), menegaskan TB
sebagai penyakit kemiskinan. Hanya 30.8% episode TB paru
terkonfirmasi bakteriologis (A15 vs total A15+A16), menandai
diagnosis yang masih banyak klinis, ruang utama penguatan diagnostik
molekuler (Pilar 1). Penting: angka ini bukan biaya obat TB;
total biaya program TB jauh lebih besar dan bergantung anggaran vertikal
+ hibah.
Komorbiditas &
konfirmasi (mutu diagnostik)

| Indikator mutu & komorbiditas TB 2024, tabel data figur |
| Indikator |
% episode TB 2024 |
| Konfirmasi bakteriologis (A15/(A15+A16)) |
30.8 |
| TB-DM ter-koding (SDX E10-E14) |
8.0 |
| TB-HIV ter-koding (SDX B20-B24) |
0.8 |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Pilar 6, Kepemimpinan
& tata kelola (Perpres TB, End TB Strategy)
⑥ Tata Kelola · Perpres 67/2021 TB · Strategi Nasional Eliminasi TB 2030
· End TB Strategy WHO · Pendanaan Vertikal & Transisi Global Fund
Pertanyaan: Apakah kerangka kebijakan dan kelembagaan untuk TB
memadai dan termutakhirkan, terutama untuk eliminasi 2030 dan
keberlanjutan pendanaan.
| Tabel 6.1: Instrumen Tata Kelola TB · ringkasan kebijakan kunci |
| Instrumen |
Fokus |
Status |
| Perpres 67/2021 Penanggulangan TB |
Komitmen lintas-sektor, target eliminasi TB 2030, kepemimpinan presiden |
Berlaku; menjadi payung Strategi Nasional TB |
| Strategi Nasional Eliminasi TB 2020-2024 / lanjutan |
Roadmap penemuan kasus, pengobatan, pencegahan, TB-RO |
Berlaku; capaian notifikasi & keberhasilan masih di bawah target |
| PNPK / Pedoman Nasional Penanggulangan TB |
Standar diagnosis (TCM sebagai entry point), pengobatan, TB-RO |
Ada; pergeseran ke diagnosis molekuler & regimen oral MDR (BPaLM) |
| Program imunisasi BCG (Permenkes imunisasi) |
Pencegahan TB berat pada bayi (hulu) |
Program nasional rutin; cakupan relatif tinggi |
| OAT program vertikal (P2TB) + Global Fund |
Pasokan obat TB gratis, jejaring SITB |
Berjalan; risiko keberlanjutan saat transisi dari hibah ke pendanaan domestik |
| Integrasi TB-JKN & SPM daerah |
Layanan TB dalam JKN + Standar Pelayanan Minimal kab/kota |
Berlaku; obat tetap vertikal, layanan via JKN; koordinasi data SITB-BPJS senjang |
| Sumber: kompilasi regulasi kunci (Perpres 67/2021, Strategi Nasional TB, PNPK, End TB Strategy WHO). Korpus regulasi lengkap di ARC Indonesia Health Policy Review. |
Inti Pilar 6. Kerangka kebijakan TB Indonesia kuat di tingkat
komitmen: Perpres 67/2021 menempatkan eliminasi TB 2030
sebagai prioritas presiden lintas-sektor, didukung Strategi Nasional TB,
PNPK yang sudah menjadikan TCM sebagai entry point diagnosis, dan
pasokan OAT gratis via program vertikal yang menjamin akses obat tanpa
hambatan biaya. Namun tiga senjang struktural menonjol: (1)
keberlanjutan pendanaan, pasokan OAT, kartrid TCM, dan regimen
MDR-TB masih bertumpu pada hibah Global Fund, sehingga transisi
ke pendanaan domestik adalah risiko utama; (2) pemerataan kapasitas
diagnostik & isolasi, kebijakan TCM-as-entry-point belum
diimbangi sebaran alat & ruang isolasi airborne yang merata (Pilar
1); (3) koordinasi data SITB-BPJS, kaskade TB (SITB) dan biaya
layanan (JKN) belum terintegrasi, menyulitkan tata kelola berbasis
hasil. Tata kelola perlu bergeser dari komitmen ke pemerataan
kapasitas diagnostik molekuler, pengendalian penularan, dan kemandirian
pembiayaan.
Skor AAQ, sintesis
kesiapan sistem
★ Ketersediaan, Keterjangkauan, Mutu (AAQ) menurut Pilar
| Skor AAQ Sistem Kesehatan TB Indonesia (2025) · sintesis enam pilar |
| Pilar |
Ketersediaan |
Keterjangkauan |
Mutu |
| 1 Layanan |
Isolasi airborne 240 RS (7.3%); lab mikrobiologi 1,092 RS (33.3%) |
71.4% kab tanpa isolasi airborne; 37.9% kab tanpa lab mikrobiologi |
Kapabilitas TB lengkap hanya 96 RS (2.9%); jumlah alat/kamar tak terdata |
| 2 Tenaga |
1,468 dokter paru (0.516/100k; 1.341/1.000 kasus TB) |
31.5% kab tanpa dokter paru; Gini 0.71 |
Bertumpu Sp.PD (4,970) & dokter umum; mikrobiolog (330) & subsp infeksi paru (38) langka |
| 3 Informasi |
SITB (registri TB), DREAMS, SIRS, ASPAK |
Notifikasi & kaskade di SITB; tenaga per kab tersedia |
Jumlah alat TCM/kamar isolasi & kaskade-biaya tak terintegrasi |
| 4 Obat & vaksin |
OAT lini 1 & 2 (MDR) GRATIS via program vertikal; BCG rutin |
Akses obat tanpa hambatan biaya pasien |
Keberlanjutan bergantung Global Fund; risiko transisi pendanaan |
| 5 Pembiayaan |
JKN biayai LAYANAN TB ~Rp1.9 T (2024); obat di luar JKN |
Beban usia produktif & lansia; PBI/PBPU; Rp0.7 juta/episode |
Konfirmasi bakteriologis hanya 30.8%; biaya obat tak tertangkap JKN |
| 6 Tata kelola |
Perpres 67/2021 & Strategi Nasional TB; target eliminasi 2030 |
Komitmen presiden lintas-sektor; SPM daerah |
Pemerataan diagnostik/isolasi & kemandirian pembiayaan belum tercapai |
| Sumber: DREAMS/SI-SDMK Kemenkes 2025, SIRS 2025-10, BPS proyeksi penduduk 2025, Data Sampel BPJS 2015-2024 (tertimbang PSTV15) |
Sintesis. Sistem kesehatan TB Indonesia, untuk negara beban TB
terbesar kedua dunia, menampilkan pola yang khas: akses obat &
komitmen kebijakan kuat (OAT gratis program vertikal, Perpres
eliminasi 2030, TCM sebagai entry point), tetapi kapasitas diagnostik
molekuler dan pengendalian penularan langka dan timpang, dan
pendanaan obat bergantung hibah. Tiga senjang struktural: (1)
infrastruktur pengendalian penularan nyaris tak ada di daerah
(isolasi airborne hanya 240 RS, 71.4% kabupaten kosong); (2)
diagnostik molekuler terpusat (lab mikrobiologi 1,092 RS, 37.9%
kabupaten tanpa; konfirmasi bakteriologis hanya 30.8%); (3) tenaga
paru langka & terkonsentrasi di Jawa/perkotaan (1,468 dokter
paru, 31.5% kabupaten kosong, hanya 1.341/1.000 kasus TB). Penguatan
perlu bergeser ke pemerataan jejaring TCM/GeneXpert dan ruang isolasi
airborne di luar Jawa, redistribusi tenaga paru/mikrobiolog, integrasi
data SITB-BPJS, dan kemandirian pembiayaan OAT menjelang berakhirnya
dukungan hibah.
Keterbatasan data
- DREAMS headcount = posisi per faskes (tenaga di lebih dari satu
faskes terhitung ganda); SIP = izin praktik, bukan tenaga aktif unik.
Analis laboratorium dipakai sebagai proksi operator TCM/GeneXpert (tidak
semua analis mengoperasikan TCM).
- Layanan SIRS = layanan yang dideklarasikan RS, bukan jumlah kamar
isolasi tekanan negatif, jumlah alat TCM/GeneXpert, kartrid, atau jumlah
tempat tidur TB; data alat ada di ASPAK/SITB yang tidak tercakup di sini
(senjang kapasitas). Lab mikrobiologi adalah proksi kapasitas molekuler,
bukan konfirmasi alat TCM aktif.
- Jejaring TCM/GeneXpert dan layanan TB sesungguhnya juga mencakup
puskesmas, DPM, dan lab rujukan di luar RS (dikelola program TB via
SITB), yang tidak tertangkap SIRS. Angka fasilitas di sini adalah batas
bawah kapasitas RS.
- Denominator beban TB per kabupaten tidak tersedia; per 1.000 kasus
TB memakai estimasi insidensi nasional WHO (~385/100k) diterapkan ke
penduduk, bukan kasus aktual per kab.
- Pembiayaan dihitung dari Data Sampel BPJS reguler tertimbang (FKL48
verifikasi); FKTP kapitasi (sebagian besar layanan TB rawat jalan di
puskesmas) tidak termasuk; dan terutama OAT (obat anti-TB) GRATIS via
program vertikal sehingga biaya obat TB TIDAK tertangkap, angka = biaya
layanan TB non-obat, undercapture total biaya program.
- Konfirmasi bakteriologis (A15/(A15+A16)) dan komorbiditas
TB-DM/TB-HIV dari klaim adalah batas bawah; status TB-RO/MDR tidak
terkode konsisten di klaim, pelacakan akurat memerlukan SITB.
Analisis sisi pasokan sistem kesehatan untuk tuberkulosis di
Indonesia. Pembiayaan dihitung langsung dari klaim BPJS (tidak
bergantung pada laporan sisi permintaan, lihat ARC7.5 untuk sisi
permintaan); biaya obat anti-TB (OAT) tidak tertangkap karena disuplai
program vertikal gratis. Seluruh kepadatan dinyatakan dengan denominator
eksplisit; senjang data dilaporkan terbuka. Counterpart manuscript:
Research Center ARC7, Infectious Disease Institute.