Unit analisis (penting, tercantum di tiap tabel/figur).
Dokumen ini memakai beberapa unit, perhatikan badge Unit: … pada
judul: (1) Pasien unik = orang, dihitung sekali (prevalensi,
demografi, peta, mortalitas, Pareto, ekuitas); (2)
Kunjungan/Klaim = per layanan, satu pasien bisa banyak (volume
utilisasi, biaya, INA-CBG, prosedur, komorbiditas); (3) Episode rawat
inap = per perawatan inap (LOS, CFR).
Cara baca
dokumen. Setiap angka populasi adalah proyeksi nasional
tertimbang (PSTV15) dari sampel; angka sampel mentah dilaporkan
terpisah bila relevan. Analisis dibangun pada sampel reguler (rumah
tangga 1%), frame yang sahih untuk tren waktu dan rate populasi.
Definisi kasus urolitiasis = kode ICD-10 N20/N21/N23 (batu),
ditambah N13 (uropati obstruktif) sebagai komplikasi, di
diagnosis masuk/primer/sekunder. Biaya memakai FKL48 (biaya
verifikasi / dibayar BPJS), bukan FKL47 (tagihan provider). Cakupan
biaya = klaim ber-kode urolitiasis. Data klaim hanya menggambarkan
populasi yang terlayani, bukan prevalensi sejati.
Peta Pilar (navigasi): Fondasi (kohort, definisi kasus,
definisi modalitas intervensi, treatment gap) - A Beban,
Demografi, Geografi & Iklim, Lokasi Batu, Modalitas Intervensi
(ESWL/URS/PCNL), Rekurensi, Obstruksi - B FKTP (Layanan Primer) -
C FKRTL (Rujukan/RS, Setting/LOS/Kelas RS) - D Inter,
Rujukan & Konektivitas - E Geografi Member-Faskes - F
Proses & Outcome (Mortalitas, Obstruksi) - G Komorbiditas -
H Ekonomi (FKL48, Pareto, INA-CBG) - I Ekuitas vs Populasi
Umum.
289 /100kUrolitiasis terlayani
JKN, 2024
804,173Pasien batu terlayani
(tertimbang), 2024
Rp 20.0 TTotal belanja batu JKN,
2015-2024 (FKL48)
19.8%Pasien yang pernah dapat
prosedur (ESWL/URS/PCNL)
1.4 xRasio served-rate laki-laki
: perempuan
Layer 0 - Fondasi:
kohort, definisi kasus, definisi modalitas, & treatment gap
Fondasi - Alur Kohort (STROBE) - Definisi Urolitiasis (N20/N21/N23/N13)
- Definisi Modalitas Intervensi (INA-CBG) - Stratifikasi - Catatan
Treatment Gap
Inti: Mendefinisikan populasi analisis (peserta sampel reguler
dengan >=1 klaim diagnosis batu N20/N21/N23 atau uropati obstruktif
N13), dan kerangka treatment gap, pengingat bahwa klaim JKN hanya
menangkap kasus yang sampai ke fasilitas.
Sumber &
desain: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, schema reguler
(sampel rumah tangga 1%, frame tak bias untuk tren & rate populasi);
identifikasi pasien via PSTV01; bobot nasional PSTV15; biaya via
FKL48 (terverifikasi); demografi via codebook resmi (PSTV05 jenis
kelamin, PSTV08 segmentasi, PSTV07 kelas, PSTV09 provinsi tempat
tinggal, PSTV18 tahun meninggal).
| Tabel L0.1, Alur Pembentukan Kohort (STROBE) - Unit: Pasien unik (sampel) |
| Angka sampel mentah (pasien unik), sampel reguler BPJS 2015-2024 |
| Tahap |
Pasien (sampel mentah) |
| Sampel reguler (peserta JKN tersampel) |
2,590,751 |
| Punya >=1 klaim FKRTL (semua sebab) |
976,214 |
| Pasien dengan >=1 diagnosis batu/obstruksi (N20/N21/N23/N13) di FKRTL |
39,610 |
| Pasien dengan >=1 prosedur intervensi batu (ESWL/URS/PCNL) |
7,837 |
| Pasien batu dengan >=1 kode N20/N21/N23/N13 di FKTP |
15,831 |
| KOHORT ANALISIS, urolitiasis (FKTP/FKRTL) |
39,610 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
Definisi kasus &
definisi modalitas intervensi (penting)
Bagaimana sebuah pasien disebut “kasus urolitiasis” dan bagaimana
“intervensi” dideteksi
Kasus urolitiasis (batu saluran kemih) = kode ICD-10
N20 (batu ginjal/ureter), N21 (batu saluran kemih bawah,
kandung kemih/uretra), atau N23 (kolik renal tak spesifik) muncul
di diagnosis masuk (FKL15A), primer (FKL17A), sekunder (SDX), atau kode
detail (FKL16/18). N13 (uropati obstruktif) ditambahkan sebagai
penanda komplikasi obstruksi terkait batu. Diagnosis primer 3 digit, SDX
prefix 4 digit. Lokasi batu (N20.0-N21.1) diambil dari kode 4
karakter (FKL16) bila tersedia.
Modalitas intervensi
dideteksi via INA-CBG (FKL19A), bukan diagnosis. Prosedur batu
muncul sebagai grup pembiayaan (INA-CBG): ESWL = ‘EXTRACORPOREAL
SHOCKWAVE LITHOTRIPSY’ (litotripsi gelombang kejut non-invasif),
Endoskopik/URS = prosedur ‘TRANSURETRA’ atau ‘ENDOSKOPI PADA
SALURAN KEMIH’ (ureteroskopi), Bedah saluran atas (PCNL/terbuka)
= prosedur ‘SALURAN URIN ATAS’; sisanya =
konservatif/medikamentosa/diagnostik (analgesik, ekspulsi
spontan, USG/CT). Tiap pasien diberi modalitas paling invasif yang
pernah diterima.
| Tabel L0.2, Distribusi Kelompok Diagnostik Batu - Unit: Pasien unik (tertimbang) |
| Tiap pasien diberi satu kelompok primer = lokasi/diagnosis paling spesifik: N20 (ginjal/ureter) > N21 (saluran bawah) > N23 (kolik) > N13 (obstruksi) |
| Kelompok Diagnostik Primer |
Pasien (tertimbang) |
Pasien (sampel) |
Proporsi (%) |
| Batu ginjal/ureter (N20) |
1,655,527 |
20,272 |
50.2 |
| Kolik renal tak spesifik (N23) |
732,094 |
8,334 |
22.2 |
| Lainnya |
613,420 |
7,177 |
18.6 |
| Batu saluran kemih bawah (N21) |
203,756 |
2,549 |
6.2 |
| Uropati obstruktif (N13) |
95,581 |
1,278 |
2.9 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |

Treatment gap &
keterbatasan survei
Keterbatasan utama (wajib diingat di seluruh dokumen). Angka
terlayani adalah kasus yang sampai ke fasilitas dan diklaimkan ke
JKN. Prevalensi urolitiasis sejati di masyarakat lebih tinggi karena
batu kecil sering asimtomatik atau keluar spontan tanpa kontak
fasilitas. Survei nasional Indonesia (Riskesdas/SKI) tidak memiliki
modul prevalensi batu saluran kemih yang andal (urolitiasis bukan
indikator standar SKI), sehingga triangulasi prevalensi komunitas
seperti pada CKD/diabetes tidak tersedia. Dokumen ini karena itu
bersandar pada bukti geografi/iklim dan beban terlayani, bukan
estimasi prevalensi sejati. Klaim TIDAK dapat mengestimasi prevalensi
sejati.
Key takeaway Fondasi: Kohort analisis mencakup 39,610 pasien
sampel dengan batu saluran kemih dan/atau uropati obstruktif;
7,837 di antaranya menerima prosedur intervensi (ESWL/URS/PCNL).
Batu ginjal/ureter (N20) mendominasi (50.2%). Karena survei nasional
tidak mengukur prevalensi batu, treatment gap tidak dapat dikuantifikasi
langsung; bukti beban bersandar pada klaim terlayani dan pola
geografi/iklim.
Pilar A - Beban
Penyakit, Demografi, Geografi/Iklim, Lokasi Batu & Intervensi
Pilar A - Prevalensi & Insidensi Terlayani - Demografi - Geografi
& Iklim - Lokasi Batu - MODALITAS INTERVENSI (ESWL/URS/PCNL) -
Rekurensi - Obstruksi
Pertanyaan: Seberapa besar beban urolitiasis yang terlayani JKN,
bagaimana trennya, profil demografi & sebaran geografis/iklim
(hipotesis “stone belt” panas/dehidrasi), distribusi lokasi batu, dan
gambaran lengkap layanan intervensi (ESWL vs endoskopik vs bedah
saluran atas), rekurensi, serta beban obstruksi.
A.1 Ukuran
epidemiologi dasar (prevalensi & insidensi terlayani)
Definisi & denominator
Prevalensi terlayani (tahunan) = pasien unik dengan >=1
klaim batu pada tahun tsb. - Insidensi terlayani = pasien dengan
kontak pertama pada tahun tsb (2015 left-censored). - Denominator
rate = jumlah peserta JKN per tahun (BPJS Kesehatan/DJSN), rate per
100.000 peserta JKN. Annotasi dip 2020-2021 = gangguan layanan masa
COVID-19 (prosedur elektif batu sering ditunda).
| Tabel 1.0, Ukuran Epidemiologi Urolitiasis Terlayani JKN - Unit: Pasien unik (tertimbang) |
| Tertimbang PSTV15; rate per 100.000 peserta JKN; 2015 left-censored |
| Tahun |
Prevalen terlayani (tertimbang) |
Kasus baru (tertimbang) |
Prevalensi /100k JKN |
Insidensi /100k JKN |
YoY prevalensi |
| 2015 |
196,747 |
- (left-censored) |
125.5 |
- (left-censored) |
- |
| 2016 |
234,429 |
211,205 |
136.3 |
122.8 |
+8.6% |
| 2017 |
343,620 |
293,559 |
182.8 |
156.2 |
+34.1% |
| 2018 |
419,271 |
345,303 |
201.5 |
166.0 |
+10.2% |
| 2019 |
461,378 |
355,571 |
205.8 |
158.6 |
+2.1% |
| 2020 |
394,958 |
278,658 |
177.5 |
125.3 |
-13.8% |
| 2021 |
362,500 |
258,400 |
153.8 |
109.6 |
-13.4% |
| 2022 |
486,004 |
356,746 |
195.4 |
143.4 |
+27% |
| 2023 |
647,435 |
445,512 |
242.2 |
166.7 |
+24% |
| 2024 |
804,173 |
558,678 |
289.4 |
201.1 |
+19.5% |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Baris 2015 disorot = left-censored (insidensi overestimate). |


Key takeaway A.1: Pada 2024, prevalensi urolitiasis
terlayani 289.4 per 100.000 peserta JKN (804,173 pasien
tertimbang). Beban terlayani naik konsisten 2015-2024 dengan dip pada
2020-2021 (penundaan prosedur elektif batu masa COVID-19), lalu
pulih kuat. Karena analisis dibangun pada sampel reguler (household,
frame tak bias), tren ini relatif dapat dipercaya; gunakan level 2024
sebagai angka cross-sectional terandal.
A.2 Demografi:
struktur usia-jenis kelamin

A.3 Distribusi geografis
(provinsi & pulau tempat tinggal)
Per Pulau

Per Provinsi (Top
12)
| Tabel 1.3, 12 Provinsi dengan Beban Terlayani Tertinggi - Unit: Pasien unik (tertimbang) |
| Rank |
Provinsi |
Pulau |
Pasien (tertimbang) |
Pasien (sampel) |
% |
| 1 |
Jawa Barat |
Jawa |
543,403 |
4,919 |
16.5 |
| 2 |
Jawa Tengah |
Jawa |
515,252 |
6,315 |
15.6 |
| 3 |
Jawa Timur |
Jawa |
451,187 |
4,518 |
13.7 |
| 4 |
Sumatera Utara |
Sumatera |
176,862 |
2,320 |
5.4 |
| 5 |
DKI Jakarta |
Jawa |
175,937 |
1,113 |
5.3 |
| 6 |
Banten |
Jawa |
150,384 |
1,170 |
4.6 |
| 7 |
Aceh |
Sumatera |
115,777 |
1,146 |
3.5 |
| 8 |
Sulawesi Selatan |
Sulawesi |
100,748 |
1,323 |
3.1 |
| 9 |
Lampung |
Sumatera |
97,334 |
1,210 |
2.9 |
| 10 |
Bali |
Bali-Nusra |
96,994 |
1,598 |
2.9 |
| 11 |
Riau |
Sumatera |
90,789 |
1,227 |
2.8 |
| 12 |
Sumatera Selatan |
Sumatera |
75,789 |
1,354 |
2.3 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
20
Kabupaten/Kota
| Tabel 1.4, 20 Kabupaten/Kota dengan Beban Terlayani Tertinggi - Unit: Pasien unik (tertimbang) |
| Rank |
Kabupaten |
Provinsi |
Pasien (tertimbang) |
Pasien (sampel) |
| 1 |
Kota Surabaya |
Jawa Timur |
85,156 |
539 |
| 2 |
Kab. Bogor |
Jawa Barat |
66,870 |
459 |
| 3 |
Kota Jakarta Utara |
DKI Jakarta |
66,040 |
413 |
| 4 |
Kota Semarang |
Jawa Tengah |
50,745 |
534 |
| 5 |
Kota Tangerang |
Banten |
46,147 |
281 |
| 6 |
Kota Bekasi |
Jawa Barat |
45,350 |
313 |
| 7 |
Kab. Bandung |
Jawa Barat |
42,915 |
356 |
| 8 |
Kab. Bekasi |
Jawa Barat |
42,437 |
294 |
| 9 |
Kota Depok |
Jawa Barat |
41,148 |
256 |
| 10 |
Kab. Tangerang |
Banten |
38,663 |
304 |
| 11 |
Kota Jakarta Timur |
DKI Jakarta |
38,437 |
190 |
| 12 |
Kota Jakarta Pusat |
DKI Jakarta |
37,722 |
259 |
| 13 |
Kab. Sidoarjo |
Jawa Timur |
33,785 |
312 |
| 14 |
Kota Binjai |
Sumatera Utara |
33,490 |
288 |
| 15 |
Kab. Banyumas |
Jawa Tengah |
32,804 |
274 |
| 16 |
Kota Bandung |
Jawa Barat |
30,554 |
284 |
| 17 |
Kab. Cirebon |
Jawa Barat |
29,075 |
299 |
| 18 |
Kab. Sleman |
Daerah Istimewa Yogyakarta |
28,621 |
279 |
| 19 |
Kab. Sukabumi |
Jawa Barat |
28,431 |
235 |
| 20 |
Kab. Toba |
Sumatera Utara |
24,598 |
271 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | berdasarkan kabupaten/kota tempat tinggal (PSTV10) |
A.3b Overlay iklim:
hipotesis “stone belt” panas/dehidrasi
Mengapa iklim relevan untuk batu saluran kemih
Urolitiasis dikenal sebagai penyakit yang dipengaruhi suhu panas
dan dehidrasi (literatur internasional “stone belt”): panas ->
keringat -> urin pekat -> presipitasi kristal. Indonesia secara
keseluruhan tropis, sehingga gradien antar-provinsi moderat dan harus
dibaca hati-hati; zona iklim di sini adalah proksi kasar
(pesisir panas, kering/semi-arid Nusa Tenggara, dataran sejuk, dll),
bukan pengukuran suhu langsung. Karena tidak ada survei prevalensi batu,
ini disajikan sebagai sinyal terlayani per 100k peserta JKN,
bukan prevalensi sejati.

| Tabel 1.5, Served-Rate Urolitiasis menurut Zona Iklim - Unit: pasien /100k peserta |
| Sinyal terlayani, bukan prevalensi sejati; zona iklim = proksi kasar |
| Zona iklim |
Jml provinsi |
Pasien (tertimbang) |
Peserta umum |
Served-rate /100k |
| Dataran sejuk |
1 |
70,424.8 |
4,260,040 |
1,653 |
| Metropolitan panas |
1 |
175,937.4 |
13,227,118 |
1,330 |
| Pesisir panas (kering) |
1 |
90,789.2 |
7,053,427 |
1,287 |
| Pesisir panas |
14 |
927,067.6 |
78,351,926 |
1,183 |
| Dataran campuran |
4 |
1,660,227 |
146,395,352 |
1,134 |
| Dataran lembap |
5 |
161,020.5 |
17,092,017 |
942 |
| Kering/semi-arid |
2 |
111,729 |
12,446,848 |
898 |
| Kepulauan panas |
5 |
80,766.3 |
9,256,427 |
873 |
| Campuran (dataran tinggi) |
1 |
21,656.7 |
6,480,067 |
334 |
| Tak diketahui |
1 |
87 |
7,543,115 |
1 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
Key takeaway iklim/geografi: Gradien served-rate antar zona iklim
Indonesia moderat, konsisten dengan iklim tropis yang relatif
seragam dan dengan keterbatasan bahwa served-rate juga mencerminkan
akses fasilitas, bukan murni risiko batu. Zona kering/semi-arid (Nusa
Tenggara) dan pesisir panas berada di kisaran atas, namun perbedaannya
tidak setajam “stone belt” lintang tinggi. Interpretasi hati-hati:
ini sinyal terlayani, bukan bukti kausal iklim. Geografi tetap
relevan untuk perencanaan akses ESWL/URS (lihat Pilar C).
A.4 Lokasi batu
(N20.0 ginjal - N21.1 uretra)
Lokasi batu dari kode 4 karakter
Lokasi diambil dari kode ICD-10 detail (FKL16): N20.0 batu
ginjal, N20.1 batu ureter, N20.2 ginjal+ureter,
N21.0 batu kandung kemih, N21.1 batu uretra, N23
kolik renal tak spesifik, N13 uropati obstruktif. Banyak klaim
hanya memakai kode 3 digit (N20/N21) tanpa digit lokasi, sehingga
kategori “tak spesifik” besar, ini keterbatasan koding.

| Tabel 1.6, Distribusi Lokasi Batu (kode 4 karakter) - Unit: pasien unik |
| Lokasi paling spesifik per pasien dari FKL16 |
| Lokasi batu (ICD-10) |
Pasien (sampel) |
Pasien (tertimbang) |
% |
| Batu ginjal (N20.0) |
7,292 |
605,069 |
27.7 |
| Kolik renal tak spesifik (N23) |
7,072 |
624,232 |
26.9 |
| Tak terklasifikasi |
2,749 |
210,538 |
10.5 |
| Batu ureter (N20.1) |
2,535 |
211,695 |
9.6 |
| Batu sal. atas tak spesifik (N20.9) |
1,937 |
156,981 |
7.4 |
| Uropati obstruktif (N13) |
1,793 |
132,130 |
6.8 |
| Batu kandung kemih (N21.0) |
1,240 |
93,341 |
4.7 |
| Batu sal. bawah lain (N21.x) |
762 |
66,329 |
2.9 |
| Batu ginjal+ureter (N20.2) |
475 |
35,911 |
1.8 |
| Batu uretra (N21.1) |
446 |
39,399 |
1.7 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
Pilar A (lanjutan) -
INTERVENSI (pusat analisis bedah)
INTERVENSI - Modalitas (ESWL / Endoskopik-URS / Bedah saluran atas) -
Tren Prosedur - Proporsi Mendapat Prosedur - Rekurensi - Obstruksi
A.5 Modalitas
intervensi: ESWL vs URS vs bedah saluran atas

| Tabel 1.6b, Modalitas Intervensi di antara Pasien yang Dioperasi - Unit: pasien unik |
| Modalitas paling invasif per pasien |
| Modalitas intervensi |
Pasien (sampel) |
Pasien (tertimbang) |
% dari yang dioperasi |
| Endoskopik/URS |
4,457 |
380,320.2 |
55.6 |
| Bedah saluran atas (PCNL/terbuka) |
2,192 |
184,870.3 |
27 |
| ESWL (litotripsi) |
1,188 |
118,666.8 |
17.4 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
Key takeaway modalitas: Di antara pasien batu yang menerima
prosedur, modalitas terbanyak adalah Endoskopik/URS (55.6%). ESWL
(litotripsi non-invasif, lini pertama internasional untuk batu
kecil-sedang) hanya 17.4% dari yang dioperasi, jauh di bawah negara
dengan akses ESWL luas, mengindikasikan keterbatasan kapasitas
ESWL sehingga banyak kasus naik ke prosedur endoskopik/bedah yang
lebih invasif dan mahal. Hanya 19.8% dari seluruh pasien batu yang
pernah dioperasi; mayoritas dikelola konservatif/medikamentosa.
A.6 Tren volume prosedur per
tahun
Volume prosedur per
tahun (per modalitas)

Total prosedur
(tertimbang) per tahun

| Tabel 1.6c, Volume Klaim Prosedur Batu per Tahun menurut Modalitas - Unit: klaim prosedur |
| Klaim prosedur per tahun; dip 2020-2021 = COVID-19 |
| Tahun |
ESWL |
URS |
Bedah atas |
Total prosedur (sampel) |
Total prosedur (tertimbang) |
| 2,015 |
0 |
0 |
0 |
0 |
- |
| 2,016 |
0 |
0 |
0 |
0 |
- |
| 2,017 |
210 |
423 |
318 |
951 |
80,104 |
| 2,018 |
383 |
568 |
327 |
1,278 |
115,114 |
| 2,019 |
480 |
689 |
321 |
1,490 |
148,225 |
| 2,020 |
543 |
763 |
276 |
1,582 |
126,250 |
| 2,021 |
597 |
866 |
320 |
1,783 |
133,749 |
| 2,022 |
951 |
1,107 |
336 |
2,394 |
211,837 |
| 2,023 |
1,175 |
1,543 |
425 |
3,143 |
282,298 |
| 2,024 |
1,183 |
1,946 |
454 |
3,583 |
313,846 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
A.7 Rekurensi (batu
berulang)
Proksi rekurensi
Rekurensi dalam klaim diproksikan sebagai >=2 tahun kalender
berbeda dengan klaim batu/prosedur aktif per pasien. Ini batas bawah
(batu berulang dalam tahun yang sama tidak terhitung; kontak yang tidak
diklaimkan juga tidak terlihat). Batu saluran kemih dikenal sangat
rekuren (literatur: ~50% dalam 5-10 tahun), sehingga proksi ini
menggambarkan beban kontak-ulang JKN, bukan rekurensi biologis
sejati.
Distribusi tahun
aktif per pasien

Ringkasan
rekurensi
| Tabel 1.7, Ringkasan Rekurensi Batu (proksi tahun aktif) - Unit: campuran |
| Rekurensi = >=2 tahun kalender berbeda dengan klaim batu/prosedur aktif |
| Indikator |
Nilai |
| Total pasien (sampel) |
39,610 |
| Pasien rekuren (>=2 tahun aktif) |
8,865 |
| Pasien rekuren (tertimbang) |
711,795 |
| % pasien rekuren |
22.4% |
| Median tahun aktif |
1 |
| Maksimum tahun aktif |
10 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Batas bawah; rekurensi intra-tahun & kontak tak-klaim tidak terhitung. |
Key takeaway rekurensi: 22.4% pasien batu punya >=2
tahun aktif (proksi rekurensi/kronisitas), dengan sebagian kecil aktif
hingga 10 tahun, konsisten dengan sifat batu yang sangat rekuren. Ini
berarti beban batu bukan kejadian sekali-jadi, melainkan kondisi
berulang yang membutuhkan pencegahan sekunder (hidrasi, diet,
manajemen metabolik) di layanan primer untuk menekan kontak-ulang dan
prosedur mahal.
Pilar B - FKTP (Layanan
Primer)
Pilar B - Beban di Layanan Primer (FKTP) - Cakupan Lintas-Level
Pertanyaan: Seberapa besar batu terlihat di FKTP
(puskesmas/klinik primer), dan bagaimana sebaran pasien antara FKTP
saja, FKRTL saja, atau keduanya. Batu yang dikelola di primer (kolik
ringan, ekspulsi) idealnya mencegah eskalasi ke RS.


| Tabel 2.1, Cakupan Lintas-Level Layanan - Unit: pasien unik |
| FKTP saja / FKRTL saja / keduanya |
| Cakupan level |
Pasien (sampel) |
Pasien (tertimbang) |
% |
| FKRTL saja |
23,779 |
2,010,755.2 |
60.9 |
| FKTP + FKRTL |
15,831 |
1,289,622.9 |
39.1 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
Key takeaway B: Sebagian besar pasien batu muncul di FKRTL
(rujukan), baik bersama FKTP maupun FKRTL saja (60.9%), sementara
FKTP saja kecil. Pola ini wajar untuk batu simtomatik yang butuh
pencitraan & prosedur, tetapi juga menunjukkan peran pencegahan
sekunder di primer masih terbatas terlihat di klaim.
Pilar C - FKRTL
(Rujukan/Rumah Sakit): Setting, LOS, Kelas RS
Pilar C - Setting (RJ vs RI) - Lama Rawat (LOS) - Kepemilikan - Kelas RS
Pelaksana Prosedur
Pertanyaan: Bagaimana batu dilayani di rumah sakit, proporsi
rawat jalan vs inap, lama rawat menurut kelompok diagnostik & kelas
RS, kepemilikan RS, serta di kelas RS mana prosedur ESWL/URS/PCNL
dilakukan (penanda konsentrasi kapasitas bedah urologi).
C.1 Setting layanan & lama
rawat (LOS)
Rawat Jalan vs
Inap

C.2 Kepemilikan RS & kelas
RS pelaksana prosedur
Kepemilikan (Publik
vs Swasta)

Kelas RS pelaksana
prosedur

| Tabel 3.3, Prosedur Batu menurut Kelas RS Pelaksana - Unit: klaim prosedur (sampel) |
| Konsentrasi kapasitas urologi per kelas RS |
| Kelas RS |
ESWL |
Endoskopik/URS |
Bedah saluran atas |
| RS Kelas C |
2,458 |
3,866 |
1,048 |
| RS Kelas B |
2,303 |
2,877 |
1,240 |
| RS Kelas A |
548 |
556 |
313 |
| RS Kelas D |
178 |
519 |
132 |
| RS Khusus/Lain |
35 |
87 |
44 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
Beban IGD per
tahun

Key takeaway C: Prosedur batu terkonsentrasi di RS kelas
tertentu, menandakan kapasitas urologi (ESWL/endoskopi) terpusat
dan tidak merata, sejalan dengan kebutuhan rujukan tinggi pada Pilar B.
Kolik renal akut juga membebani IGD. Implikasi: perluasan kapasitas
ESWL di RS rujukan regional dapat menggeser kasus dari prosedur
invasif mahal dan menurunkan beban IGD.
Pilar D - Inter:
Rujukan & Konektivitas
Pilar D - Tipe Perujuk - Geografi Rujukan (intra/antar-kab/antar-prov)
Pertanyaan: Dari mana pasien batu dirujuk, dan seberapa jauh
(lintas kabupaten/provinsi) pasien harus berpindah untuk layanan,
penanda akses geografis ke kapasitas urologi.
D.1 Tipe perujuk & geografi
rujukan
Tipe perujuk (rawat
inap)

Geografi rujukan
rawat inap

Key takeaway D: Sebagian admisi batu melintasi batas
kabupaten/provinsi (4.6% antar-kabupaten, 1.3% antar-provinsi),
menandakan kapasitas urologi/ESWL belum tersedia merata sehingga
pasien harus bepergian. Ini memperkuat argumen pemerataan kapasitas
litotripsi regional.
Pilar E - Geografi
Member-Faskes
Pilar E - Kesesuaian Geografi Member vs Faskes Terdaftar

Key takeaway E: Secara nasional 85.7% pasien batu memiliki
faskes terdaftar di kabupaten yang sama dengan domisili (95.3% sama
provinsi). Provinsi dengan kesesuaian rendah menandakan pasien harus
mengakses layanan lintas wilayah, relevan untuk perencanaan distribusi
kapasitas urologi.
Pilar F - Proses,
Outcome & Mortalitas
Pilar F - Mortalitas In-Hospital - CFR Rawat Inap - Beban Obstruksi
(N13)
Pertanyaan: Urolitiasis jarang fatal, tetapi obstruksi (N13) +
infeksi dapat menjadi sepsis/gagal ginjal akut. Bagian ini melaporkan
mortalitas (rendah, sebagai konteks) dan beban obstruksi.
F.1 Mortalitas & CFR
Kematian per tahun
(in-hospital)

CFR & beban
obstruksi
Outcome rawat inap batu
Case fatality rate (CFR) rawat inap batu = 1.12% (287 kematian
dari 25,735 episode inap, sampel) - rendah, sesuai sifat penyakit jinak.
Beban obstruksi (N13): 9.8% pasien batu (297,129 tertimbang)
pernah ber-kode uropati obstruktif; obstruksi + infeksi adalah jalur
menuju komplikasi serius (sepsis, gagal ginjal akut). Episode inap N13:
2,342 (sampel), median LOS 3.5 hari.
Key takeaway F: Mortalitas urolitiasis rendah (CFR rawat
inap 1.12%), sesuai penyakit jinak; nilai klinis & ekonomi terletak
pada mencegah obstruksi/infeksi dan prosedur berulang, bukan
menurunkan mortalitas. 9.8% pasien pernah ber-kode obstruksi
(N13), kelompok berisiko komplikasi yang patut dipantau lebih ketat.
Pilar G -
Komorbiditas
Pilar G - Komorbiditas Utama (DM, HT, Gout, ISK, CKD, Obesitas) - Jumlah
Penyerta
Pertanyaan: Kondisi metabolik (diabetes, gout/asam urat,
obesitas, hipertensi) meningkatkan risiko batu; ISK & CKD adalah
komplikasi/penyerta. Komorbiditas dipindai dari FKL15A + SDX (batas
bawah).
G.1 Komorbiditas utama &
jumlah penyerta
Komorbiditas
utama

| Tabel 7.1, Komorbiditas Utama Pasien Urolitiasis - Unit: pasien unik |
| Pemindaian FKL15A + SDX; batas bawah |
| Komorbiditas (ICD-10) |
Pasien (sampel) |
% pasien batu |
| Hipertensi (I10-15) |
12,164 |
30.7 |
| ISK (N30/N39) |
9,956 |
25.1 |
| Diabetes (E10-14) |
6,034 |
15.2 |
| Penyakit Ginjal Kronik (N17-19) |
5,002 |
12.6 |
| Penyakit Jantung Iskemik (I20-25) |
4,819 |
12.2 |
| Gout/asam urat (M10) |
1,080 |
2.7 |
| Obesitas (E65-66) |
218 |
0.6 |
| Hiperparatiroid (E21) |
19 |
0 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
Jumlah komorbiditas
per pasien

Key takeaway G: Komorbiditas metabolik lazim, terutama
Hipertensi (I10-15) (30.7%) dan ISK (N30/N39) (25.1%).
Kaitan batu dengan diabetes, gout, dan obesitas menggarisbawahi bahwa
pencegahan batu beririsan dengan agenda kardiometabolik:
manajemen metabolik di primer dapat menekan rekurensi batu sekaligus
penyakit penyerta.
Pilar H - Ekonomi
(Biaya FKL48, Pareto, INA-CBG)
Pilar H - Tren Biaya (FKL48 terverifikasi) - Biaya Prosedur vs Total -
Komposisi - Biaya per Modalitas - Pareto - INA-CBG
Pertanyaan: Berapa belanja JKN untuk urolitiasis, bagaimana
trennya, kontribusi prosedur (ESWL/URS/PCNL), konsentrasi biaya, dan
grup INA-CBG termahal. Semua biaya = FKL48 (biaya verifikasi/dibayar
BPJS), bukan FKL47 (tagihan provider).
H.1 Tren biaya: prosedur
sebagai penggerak
Biaya prosedur vs
total batu per tahun

| Tabel 8.0, Belanja JKN Urolitiasis per Tahun (FKL48) - Unit: miliar Rupiah |
| Biaya verifikasi FKL48 tertimbang; prosedur sebagai sub-komponen total |
| Tahun |
Biaya prosedur (M) |
Total biaya batu (M) |
Klaim prosedur |
| 2,015 |
- |
824.6 |
0 |
| 2,016 |
- |
1,118.6 |
0 |
| 2,017 |
620 |
1,356.3 |
951 |
| 2,018 |
845.2 |
1,730.2 |
1,278 |
| 2,019 |
1,038.2 |
2,005.8 |
1,490 |
| 2,020 |
824.6 |
1,566.1 |
1,582 |
| 2,021 |
871.3 |
1,596 |
1,783 |
| 2,022 |
1,390.2 |
2,454.3 |
2,394 |
| 2,023 |
1,850.2 |
3,453.5 |
3,143 |
| 2,024 |
2,046.9 |
3,857.9 |
3,583 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
Biaya per
modalitas prosedur

| Tabel 8.0b, Biaya per Klaim menurut Modalitas Prosedur (FKL48) - Unit: Rupiah |
| ESWL lebih hemat; bedah saluran atas termahal |
| Modalitas |
Klaim |
Mean biaya/klaim (Rp) |
Median biaya/klaim (Rp) |
Total (M, FKL48) |
| Endoskopik/URS |
7,905 |
6,555,903 |
7,223,300 |
4,355.7 |
| Bedah saluran atas |
2,777 |
11,892,889 |
10,436,300 |
2,958.5 |
| ESWL (litotripsi) |
5,522 |
4,431,141 |
4,219,800 |
2,172.3 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
H.2 Komposisi &
konsentrasi biaya
Konsentrasi biaya
(Pareto)

12 INA-CBG biaya
tertinggi
| Tabel 8.1, 12 Grup INA-CBG dengan Belanja Tertinggi - Unit: Klaim & Rupiah (FKL48) |
| Total biaya verifikasi (FKL48) tertimbang, kumulatif 2015-2024 |
| Rank |
INA-CBG (FKL19A) |
Klaim (sampel) |
Total biaya (M, FKL48) |
Mean biaya/klaim |
| 1 |
PROSEDUR PADA URETRA DAN TRANSURETRA RINGAN |
5,206 |
3,633.50 |
Rp8,226,985 |
| 2 |
EXTRACORPOREAL SHOCKWAVE LITHOTRIPSY (ESWL) PADA SALURAN KEMIH |
5,410 |
2,128.96 |
Rp4,436,261 |
| 3 |
PROSEDUR SALURAN URIN ATAS RINGAN |
2,091 |
1,872.07 |
Rp10,497,303 |
| 4 |
BATU URIN RINGAN |
5,521 |
1,753.25 |
Rp3,884,098 |
| 5 |
PENYAKIT KRONIS KECIL LAIN-LAIN |
62,201 |
1,116.51 |
Rp204,436 |
| 6 |
PROSEDUR SALURAN URIN ATAS SEDANG |
598 |
956.50 |
Rp15,284,338 |
| 7 |
PROSEDUR ULTRASOUND LAIN-LAIN |
18,829 |
880.15 |
Rp578,132 |
| 8 |
CT SCAN LAIN-LAIN |
4,862 |
557.93 |
Rp1,318,232 |
| 9 |
PROSEDUR PADA URETRA DAN TRANSURETRA SEDANG |
592 |
551.10 |
Rp11,710,697 |
| 10 |
599 |
410 |
419.35 |
Rp13,123,338 |
| 11 |
PROSEDUR KANDUNG KEMIH DAN SALURAN URIN BAWAH RINGAN |
536 |
362.66 |
Rp8,192,489 |
| 12 |
631 |
1,174 |
280.28 |
Rp2,816,673 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
Key takeaway H: Total belanja JKN untuk urolitiasis mencapai
Rp 19963.3 miliar (2015-2024, FKL48), dengan Rp 9486.6
miliar untuk prosedur intervensi. Biaya terkonsentrasi: top 10%
pasien termahal menanggung 52.8% belanja. Bedah saluran atas
(PCNL/terbuka) jauh lebih mahal per klaim daripada ESWL, sehingga
memperluas akses ESWL (lini pertama untuk batu kecil-sedang)
berpotensi menghemat dengan menggeser kasus dari prosedur invasif.
Pilar I - Ekuitas
& Representasi vs Populasi Umum
Pilar I - Tabel 1 vs Populasi Umum - Served-Rate per Provinsi/Iklim -
Gradien Jenis Kelamin & Usia - Gradien SES (PBI vs Non-PBI)
Pertanyaan: Apakah populasi batu terlayani berbeda dari populasi
umum JKN (usia, jenis kelamin, segmentasi), dan apakah akses
(served-rate, akses prosedur) merata antar provinsi, jenis kelamin,
usia, dan kelompok sosial-ekonomi.
I.1 Tabel 1 -
Karakteristik vs Populasi Umum
| Tabel 9.0, Karakteristik Pasien Urolitiasis vs Populasi Umum JKN - Unit: % kolom (tertimbang) |
| Distribusi tertimbang PSTV15; Populasi Umum = seluruh peserta sampel reguler |
| Kategori |
FKTP % |
FKRTL % |
Total batu % |
Populasi Umum % |
| Jenis Kelamin |
| Laki-laki |
60.3 |
59.7 |
59.7 |
51.2 |
| Perempuan |
39.7 |
40.3 |
40.3 |
48.8 |
| Kelompok Usia |
| 40-59 |
50.2 |
46.1 |
46.1 |
27.7 |
| 18-39 |
30.3 |
29.0 |
29.0 |
37.1 |
| >=60 |
17.8 |
22.6 |
22.6 |
16.7 |
| <18 |
1.7 |
2.3 |
2.3 |
18.5 |
| Segmentasi (Membership) |
| PPU |
38.9 |
36.0 |
36.0 |
23.2 |
| PBI APBN |
20.8 |
23.6 |
23.6 |
41.3 |
| PBPU (Mandiri) |
23.4 |
22.0 |
22.0 |
11.6 |
| PBI APBD |
10.9 |
11.5 |
11.5 |
20.1 |
| Bukan Pekerja |
6.0 |
6.9 |
6.9 |
3.9 |
| Kelas Rawat |
| Kelas III |
49.6 |
50.5 |
50.5 |
70.1 |
| Kelas I |
27.2 |
26.4 |
26.4 |
16.3 |
| Kelas II |
23.2 |
23.1 |
23.1 |
13.6 |
| Pulau |
| Jawa |
59.6 |
57.8 |
57.8 |
54.2 |
| Sumatera |
20.6 |
21.4 |
21.4 |
20.7 |
| Sulawesi |
6.6 |
7.5 |
7.5 |
7.6 |
| Bali-Nusra |
7.3 |
6.3 |
6.3 |
5.4 |
| Kalimantan |
4.4 |
4.9 |
4.9 |
5.7 |
| Maluku-Papua |
1.6 |
2.0 |
2.0 |
6.4 |
| Kelompok Diagnostik |
| Batu ginjal/ureter (N20) |
82.3 |
50.2 |
50.2 |
- |
| Kolik renal tak spesifik (N23) |
8.0 |
22.2 |
22.2 |
- |
| Lainnya |
- |
18.6 |
18.6 |
- |
| Batu saluran kemih bawah (N21) |
6.5 |
6.2 |
6.2 |
- |
| Uropati obstruktif (N13) |
3.2 |
2.9 |
2.9 |
- |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
I.2 Served-rate & gradien
akses
Served-rate per
provinsi

Gradien jenis
kelamin & usia

| Tabel 9.1, Served-Rate menurut Jenis Kelamin & Usia - Unit: pasien /100k peserta |
| Kasus batu / peserta JKN per 100.000 dalam tiap kelompok |
| Dimensi |
Kelompok |
Pasien (tertimbang) |
Served-rate /100k |
| Jenis kelamin |
Laki-laki |
1,971,187.6 |
1,273 |
| Jenis kelamin |
Perempuan |
1,329,190.4 |
902 |
| Kelompok usia |
<18 |
76,089.7 |
136 |
| Kelompok usia |
18-39 |
956,551.4 |
854 |
| Kelompok usia |
40-59 |
1,520,877.2 |
1,816 |
| Kelompok usia |
>=60 |
746,859.8 |
1,483 |
| Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) |
Gradien SES (PBI
vs Non-PBI)

Ringkasan Eksekutif
& Keterbatasan
Ringkasan 2024 (Latest-Year) & Keterbatasan
Sorotan tahun terbaru (2024):
-
Beban terlayani: 804,173 pasien urolitiasis terlayani JKN
(tertimbang), atau 289 per 100.000 peserta JKN, naik konsisten
dari 2015 setelah pulih dari dip COVID-19.
-
Belanja: Rp 3857.9 miliar (FKL48 terverifikasi) pada 2024 saja;
kumulatif 2015-2024 mencapai Rp 19963.3 miliar (~Rp 20.0
triliun), melewati ambang 1 triliun yang menjadikan batu beban NCD
bedah signifikan, hampir seluruhnya unik-Indonesia (INA-only, tak ada
padanan survei).
-
Intervensi: hanya 19.8% pasien menerima prosedur; di antaranya
Endoskopik/URS mendominasi, sementara ESWL (lini pertama non-invasif)
hanya 17.4%, sinyal keterbatasan kapasitas litotripsi.
-
Geografi/iklim: gradien served-rate antar zona iklim moderat
(Indonesia uniform tropis); provinsi served-rate tertinggi = Bali (2,462
/100k). Sebagian admisi melintasi kabupaten/provinsi = friksi akses.
-
Rekurensi: 22.4% pasien punya >=2 tahun aktif (batu berulang),
menekankan pentingnya pencegahan sekunder di primer.
Keterbatasan (wajib dibaca bersama setiap angka).
-
Terlayani, bukan prevalensi sejati. Klaim hanya menangkap kasus
yang sampai ke fasilitas; batu kecil asimtomatik/keluar spontan tak
terlihat. Tidak ada survei prevalensi batu nasional
(Riskesdas/SKI), sehingga treatment gap tidak dapat dikuantifikasi.
-
Iklim sebagai proksi kasar. Zona iklim bukan pengukuran suhu
langsung; served-rate juga mencerminkan akses fasilitas. Hipotesis
“stone belt” dibaca hati-hati, bukan bukti kausal.
-
Modalitas & lokasi dari koding. Modalitas intervensi
diturunkan dari INA-CBG (FKL19A) dan lokasi batu dari kode 4 karakter;
klaim 3-digit tanpa detail menghasilkan kategori “tak spesifik” besar.
-
Biaya = FKL48 (terverifikasi/dibayar). Mencerminkan pembayaran
BPJS atas klaim ber-kode urolitiasis (cakupan level-klaim, konsisten
dengan sisi supply), bukan total biaya ekonomi pasien.
-
Akrual sampel. Tren tertimbang naik sebagian karena pertumbuhan
kepesertaan JKN & akrual frame; gunakan kohort stabil & level
2024 untuk angka cross-sectional.
-
Rekurensi adalah batas bawah (proksi tahun-aktif; rekurensi
intra-tahun & kontak tak-klaim tidak terhitung).
Implikasi kebijakan: Urolitiasis adalah beban bedah NCD
unik-Indonesia (>Rp 1 triliun, tak terdeteksi survei) yang
sebagian besar dapat dicegah berulang melalui hidrasi, diet, dan
manajemen metabolik di layanan primer, serta dilayani lebih hemat
melalui perluasan akses ESWL regional (menggeser kasus dari bedah
saluran atas yang mahal). Pemerataan kapasitas litotripsi dan integrasi
pencegahan batu ke dalam program kardiometabolik primer adalah dua
ungkitan kebijakan utama.
Reproduksibilitas. Seluruh angka dihasilkan dari engine
engine_urolithiasis.R (bundle
uro_jkn_aggregates.rds) pada PostgreSQL
bpjs_data schema reguler; render
report_urolithiasis.Rmd (dev=svglite). Tabel pendamping
tiap figur tersedia di
outputs/urolithiasis_companion_tables.xlsx. Definisi kasus
N20+N21+N23 (link N13); biaya FKL48; tertimbang PSTV15.