Unit analisis (penting, tercantum di tiap tabel/figur). Dokumen ini memakai beberapa unit, perhatikan badge Unit: … pada judul: (1) Pasien unik = orang, dihitung sekali (prevalensi, demografi, peta, mortalitas, Pareto, ekuitas); (2) Kunjungan/Klaim = per layanan, satu pasien bisa banyak (volume utilisasi, biaya, INA-CBG, prosedur, komorbiditas); (3) Episode rawat inap = per perawatan inap (LOS, CFR).

Cara baca dokumen. Setiap angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang (PSTV15) dari sampel; angka sampel mentah dilaporkan terpisah bila relevan. Analisis dibangun pada sampel reguler (rumah tangga 1%), frame yang sahih untuk tren waktu dan rate populasi. Definisi kasus urolitiasis = kode ICD-10 N20/N21/N23 (batu), ditambah N13 (uropati obstruktif) sebagai komplikasi, di diagnosis masuk/primer/sekunder. Biaya memakai FKL48 (biaya verifikasi / dibayar BPJS), bukan FKL47 (tagihan provider). Cakupan biaya = klaim ber-kode urolitiasis. Data klaim hanya menggambarkan populasi yang terlayani, bukan prevalensi sejati.

Peta Pilar (navigasi): Fondasi (kohort, definisi kasus, definisi modalitas intervensi, treatment gap) - A Beban, Demografi, Geografi & Iklim, Lokasi Batu, Modalitas Intervensi (ESWL/URS/PCNL), Rekurensi, Obstruksi - B FKTP (Layanan Primer) - C FKRTL (Rujukan/RS, Setting/LOS/Kelas RS) - D Inter, Rujukan & Konektivitas - E Geografi Member-Faskes - F Proses & Outcome (Mortalitas, Obstruksi) - G Komorbiditas - H Ekonomi (FKL48, Pareto, INA-CBG) - I Ekuitas vs Populasi Umum.

289 /100kUrolitiasis terlayani JKN, 2024
804,173Pasien batu terlayani (tertimbang), 2024
Rp 20.0 TTotal belanja batu JKN, 2015-2024 (FKL48)
19.8%Pasien yang pernah dapat prosedur (ESWL/URS/PCNL)
1.4 xRasio served-rate laki-laki : perempuan

1 Layer 0 - Fondasi: kohort, definisi kasus, definisi modalitas, & treatment gap

Fondasi - Alur Kohort (STROBE) - Definisi Urolitiasis (N20/N21/N23/N13) - Definisi Modalitas Intervensi (INA-CBG) - Stratifikasi - Catatan Treatment Gap

Inti: Mendefinisikan populasi analisis (peserta sampel reguler dengan >=1 klaim diagnosis batu N20/N21/N23 atau uropati obstruktif N13), dan kerangka treatment gap, pengingat bahwa klaim JKN hanya menangkap kasus yang sampai ke fasilitas.
Sumber & desain: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024, schema reguler (sampel rumah tangga 1%, frame tak bias untuk tren & rate populasi); identifikasi pasien via PSTV01; bobot nasional PSTV15; biaya via FKL48 (terverifikasi); demografi via codebook resmi (PSTV05 jenis kelamin, PSTV08 segmentasi, PSTV07 kelas, PSTV09 provinsi tempat tinggal, PSTV18 tahun meninggal).

Tabel L0.1, Alur Pembentukan Kohort (STROBE) - Unit: Pasien unik (sampel)
Angka sampel mentah (pasien unik), sampel reguler BPJS 2015-2024
Tahap Pasien (sampel mentah)
Sampel reguler (peserta JKN tersampel) 2,590,751
Punya >=1 klaim FKRTL (semua sebab) 976,214
Pasien dengan >=1 diagnosis batu/obstruksi (N20/N21/N23/N13) di FKRTL 39,610
Pasien dengan >=1 prosedur intervensi batu (ESWL/URS/PCNL) 7,837
Pasien batu dengan >=1 kode N20/N21/N23/N13 di FKTP 15,831
KOHORT ANALISIS, urolitiasis (FKTP/FKRTL) 39,610
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

1.1 Definisi kasus & definisi modalitas intervensi (penting)

Bagaimana sebuah pasien disebut “kasus urolitiasis” dan bagaimana “intervensi” dideteksi

Kasus urolitiasis (batu saluran kemih) = kode ICD-10 N20 (batu ginjal/ureter), N21 (batu saluran kemih bawah, kandung kemih/uretra), atau N23 (kolik renal tak spesifik) muncul di diagnosis masuk (FKL15A), primer (FKL17A), sekunder (SDX), atau kode detail (FKL16/18). N13 (uropati obstruktif) ditambahkan sebagai penanda komplikasi obstruksi terkait batu. Diagnosis primer 3 digit, SDX prefix 4 digit. Lokasi batu (N20.0-N21.1) diambil dari kode 4 karakter (FKL16) bila tersedia.

Modalitas intervensi dideteksi via INA-CBG (FKL19A), bukan diagnosis. Prosedur batu muncul sebagai grup pembiayaan (INA-CBG): ESWL = ‘EXTRACORPOREAL SHOCKWAVE LITHOTRIPSY’ (litotripsi gelombang kejut non-invasif), Endoskopik/URS = prosedur ‘TRANSURETRA’ atau ‘ENDOSKOPI PADA SALURAN KEMIH’ (ureteroskopi), Bedah saluran atas (PCNL/terbuka) = prosedur ‘SALURAN URIN ATAS’; sisanya = konservatif/medikamentosa/diagnostik (analgesik, ekspulsi spontan, USG/CT). Tiap pasien diberi modalitas paling invasif yang pernah diterima.

Tabel L0.2, Distribusi Kelompok Diagnostik Batu - Unit: Pasien unik (tertimbang)
Tiap pasien diberi satu kelompok primer = lokasi/diagnosis paling spesifik: N20 (ginjal/ureter) > N21 (saluran bawah) > N23 (kolik) > N13 (obstruksi)
Kelompok Diagnostik Primer Pasien (tertimbang) Pasien (sampel) Proporsi (%)
Batu ginjal/ureter (N20) 1,655,527 20,272 50.2
Kolik renal tak spesifik (N23) 732,094 8,334 22.2
Lainnya 613,420 7,177 18.6
Batu saluran kemih bawah (N21) 203,756 2,549 6.2
Uropati obstruktif (N13) 95,581 1,278 2.9
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

1.2 Treatment gap & keterbatasan survei

Keterbatasan utama (wajib diingat di seluruh dokumen). Angka terlayani adalah kasus yang sampai ke fasilitas dan diklaimkan ke JKN. Prevalensi urolitiasis sejati di masyarakat lebih tinggi karena batu kecil sering asimtomatik atau keluar spontan tanpa kontak fasilitas. Survei nasional Indonesia (Riskesdas/SKI) tidak memiliki modul prevalensi batu saluran kemih yang andal (urolitiasis bukan indikator standar SKI), sehingga triangulasi prevalensi komunitas seperti pada CKD/diabetes tidak tersedia. Dokumen ini karena itu bersandar pada bukti geografi/iklim dan beban terlayani, bukan estimasi prevalensi sejati. Klaim TIDAK dapat mengestimasi prevalensi sejati.

Key takeaway Fondasi: Kohort analisis mencakup 39,610 pasien sampel dengan batu saluran kemih dan/atau uropati obstruktif; 7,837 di antaranya menerima prosedur intervensi (ESWL/URS/PCNL). Batu ginjal/ureter (N20) mendominasi (50.2%). Karena survei nasional tidak mengukur prevalensi batu, treatment gap tidak dapat dikuantifikasi langsung; bukti beban bersandar pada klaim terlayani dan pola geografi/iklim.

2 Pilar A - Beban Penyakit, Demografi, Geografi/Iklim, Lokasi Batu & Intervensi

Pilar A - Prevalensi & Insidensi Terlayani - Demografi - Geografi & Iklim - Lokasi Batu - MODALITAS INTERVENSI (ESWL/URS/PCNL) - Rekurensi - Obstruksi
Pertanyaan: Seberapa besar beban urolitiasis yang terlayani JKN, bagaimana trennya, profil demografi & sebaran geografis/iklim (hipotesis “stone belt” panas/dehidrasi), distribusi lokasi batu, dan gambaran lengkap layanan intervensi (ESWL vs endoskopik vs bedah saluran atas), rekurensi, serta beban obstruksi.

2.1 A.1 Ukuran epidemiologi dasar (prevalensi & insidensi terlayani)

Definisi & denominator

Prevalensi terlayani (tahunan) = pasien unik dengan >=1 klaim batu pada tahun tsb. - Insidensi terlayani = pasien dengan kontak pertama pada tahun tsb (2015 left-censored). - Denominator rate = jumlah peserta JKN per tahun (BPJS Kesehatan/DJSN), rate per 100.000 peserta JKN. Annotasi dip 2020-2021 = gangguan layanan masa COVID-19 (prosedur elektif batu sering ditunda).

Tabel 1.0, Ukuran Epidemiologi Urolitiasis Terlayani JKN - Unit: Pasien unik (tertimbang)
Tertimbang PSTV15; rate per 100.000 peserta JKN; 2015 left-censored
Tahun Prevalen terlayani (tertimbang) Kasus baru (tertimbang) Prevalensi /100k JKN Insidensi /100k JKN YoY prevalensi
2015 196,747 - (left-censored) 125.5 - (left-censored) -
2016 234,429 211,205 136.3 122.8 +8.6%
2017 343,620 293,559 182.8 156.2 +34.1%
2018 419,271 345,303 201.5 166.0 +10.2%
2019 461,378 355,571 205.8 158.6 +2.1%
2020 394,958 278,658 177.5 125.3 -13.8%
2021 362,500 258,400 153.8 109.6 -13.4%
2022 486,004 356,746 195.4 143.4 +27%
2023 647,435 445,512 242.2 166.7 +24%
2024 804,173 558,678 289.4 201.1 +19.5%
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Baris 2015 disorot = left-censored (insidensi overestimate).

Key takeaway A.1: Pada 2024, prevalensi urolitiasis terlayani 289.4 per 100.000 peserta JKN (804,173 pasien tertimbang). Beban terlayani naik konsisten 2015-2024 dengan dip pada 2020-2021 (penundaan prosedur elektif batu masa COVID-19), lalu pulih kuat. Karena analisis dibangun pada sampel reguler (household, frame tak bias), tren ini relatif dapat dipercaya; gunakan level 2024 sebagai angka cross-sectional terandal.

2.2 A.2 Demografi: struktur usia-jenis kelamin

2.3 A.3 Distribusi geografis (provinsi & pulau tempat tinggal)

2.3.1 Per Pulau

2.3.2 Per Provinsi (Top 12)

Tabel 1.3, 12 Provinsi dengan Beban Terlayani Tertinggi - Unit: Pasien unik (tertimbang)
Rank Provinsi Pulau Pasien (tertimbang) Pasien (sampel) %
1 Jawa Barat Jawa 543,403 4,919 16.5
2 Jawa Tengah Jawa 515,252 6,315 15.6
3 Jawa Timur Jawa 451,187 4,518 13.7
4 Sumatera Utara Sumatera 176,862 2,320 5.4
5 DKI Jakarta Jawa 175,937 1,113 5.3
6 Banten Jawa 150,384 1,170 4.6
7 Aceh Sumatera 115,777 1,146 3.5
8 Sulawesi Selatan Sulawesi 100,748 1,323 3.1
9 Lampung Sumatera 97,334 1,210 2.9
10 Bali Bali-Nusra 96,994 1,598 2.9
11 Riau Sumatera 90,789 1,227 2.8
12 Sumatera Selatan Sumatera 75,789 1,354 2.3
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

2.3.3 20 Kabupaten/Kota

Tabel 1.4, 20 Kabupaten/Kota dengan Beban Terlayani Tertinggi - Unit: Pasien unik (tertimbang)
Rank Kabupaten Provinsi Pasien (tertimbang) Pasien (sampel)
1 Kota Surabaya Jawa Timur 85,156 539
2 Kab. Bogor Jawa Barat 66,870 459
3 Kota Jakarta Utara DKI Jakarta 66,040 413
4 Kota Semarang Jawa Tengah 50,745 534
5 Kota Tangerang Banten 46,147 281
6 Kota Bekasi Jawa Barat 45,350 313
7 Kab. Bandung Jawa Barat 42,915 356
8 Kab. Bekasi Jawa Barat 42,437 294
9 Kota Depok Jawa Barat 41,148 256
10 Kab. Tangerang Banten 38,663 304
11 Kota Jakarta Timur DKI Jakarta 38,437 190
12 Kota Jakarta Pusat DKI Jakarta 37,722 259
13 Kab. Sidoarjo Jawa Timur 33,785 312
14 Kota Binjai Sumatera Utara 33,490 288
15 Kab. Banyumas Jawa Tengah 32,804 274
16 Kota Bandung Jawa Barat 30,554 284
17 Kab. Cirebon Jawa Barat 29,075 299
18 Kab. Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta 28,621 279
19 Kab. Sukabumi Jawa Barat 28,431 235
20 Kab. Toba Sumatera Utara 24,598 271
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | berdasarkan kabupaten/kota tempat tinggal (PSTV10)

2.4 A.3b Overlay iklim: hipotesis “stone belt” panas/dehidrasi

Mengapa iklim relevan untuk batu saluran kemih

Urolitiasis dikenal sebagai penyakit yang dipengaruhi suhu panas dan dehidrasi (literatur internasional “stone belt”): panas -> keringat -> urin pekat -> presipitasi kristal. Indonesia secara keseluruhan tropis, sehingga gradien antar-provinsi moderat dan harus dibaca hati-hati; zona iklim di sini adalah proksi kasar (pesisir panas, kering/semi-arid Nusa Tenggara, dataran sejuk, dll), bukan pengukuran suhu langsung. Karena tidak ada survei prevalensi batu, ini disajikan sebagai sinyal terlayani per 100k peserta JKN, bukan prevalensi sejati.

Tabel 1.5, Served-Rate Urolitiasis menurut Zona Iklim - Unit: pasien /100k peserta
Sinyal terlayani, bukan prevalensi sejati; zona iklim = proksi kasar
Zona iklim Jml provinsi Pasien (tertimbang) Peserta umum Served-rate /100k
Dataran sejuk 1 70,424.8 4,260,040 1,653
Metropolitan panas 1 175,937.4 13,227,118 1,330
Pesisir panas (kering) 1 90,789.2 7,053,427 1,287
Pesisir panas 14 927,067.6 78,351,926 1,183
Dataran campuran 4 1,660,227 146,395,352 1,134
Dataran lembap 5 161,020.5 17,092,017 942
Kering/semi-arid 2 111,729 12,446,848 898
Kepulauan panas 5 80,766.3 9,256,427 873
Campuran (dataran tinggi) 1 21,656.7 6,480,067 334
Tak diketahui 1 87 7,543,115 1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway iklim/geografi: Gradien served-rate antar zona iklim Indonesia moderat, konsisten dengan iklim tropis yang relatif seragam dan dengan keterbatasan bahwa served-rate juga mencerminkan akses fasilitas, bukan murni risiko batu. Zona kering/semi-arid (Nusa Tenggara) dan pesisir panas berada di kisaran atas, namun perbedaannya tidak setajam “stone belt” lintang tinggi. Interpretasi hati-hati: ini sinyal terlayani, bukan bukti kausal iklim. Geografi tetap relevan untuk perencanaan akses ESWL/URS (lihat Pilar C).

2.5 A.4 Lokasi batu (N20.0 ginjal - N21.1 uretra)

Lokasi batu dari kode 4 karakter

Lokasi diambil dari kode ICD-10 detail (FKL16): N20.0 batu ginjal, N20.1 batu ureter, N20.2 ginjal+ureter, N21.0 batu kandung kemih, N21.1 batu uretra, N23 kolik renal tak spesifik, N13 uropati obstruktif. Banyak klaim hanya memakai kode 3 digit (N20/N21) tanpa digit lokasi, sehingga kategori “tak spesifik” besar, ini keterbatasan koding.

Tabel 1.6, Distribusi Lokasi Batu (kode 4 karakter) - Unit: pasien unik
Lokasi paling spesifik per pasien dari FKL16
Lokasi batu (ICD-10) Pasien (sampel) Pasien (tertimbang) %
Batu ginjal (N20.0) 7,292 605,069 27.7
Kolik renal tak spesifik (N23) 7,072 624,232 26.9
Tak terklasifikasi 2,749 210,538 10.5
Batu ureter (N20.1) 2,535 211,695 9.6
Batu sal. atas tak spesifik (N20.9) 1,937 156,981 7.4
Uropati obstruktif (N13) 1,793 132,130 6.8
Batu kandung kemih (N21.0) 1,240 93,341 4.7
Batu sal. bawah lain (N21.x) 762 66,329 2.9
Batu ginjal+ureter (N20.2) 475 35,911 1.8
Batu uretra (N21.1) 446 39,399 1.7
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3 Pilar A (lanjutan) - INTERVENSI (pusat analisis bedah)

INTERVENSI - Modalitas (ESWL / Endoskopik-URS / Bedah saluran atas) - Tren Prosedur - Proporsi Mendapat Prosedur - Rekurensi - Obstruksi

3.1 A.5 Modalitas intervensi: ESWL vs URS vs bedah saluran atas

Tabel 1.6b, Modalitas Intervensi di antara Pasien yang Dioperasi - Unit: pasien unik
Modalitas paling invasif per pasien
Modalitas intervensi Pasien (sampel) Pasien (tertimbang) % dari yang dioperasi
Endoskopik/URS 4,457 380,320.2 55.6
Bedah saluran atas (PCNL/terbuka) 2,192 184,870.3 27
ESWL (litotripsi) 1,188 118,666.8 17.4
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway modalitas: Di antara pasien batu yang menerima prosedur, modalitas terbanyak adalah Endoskopik/URS (55.6%). ESWL (litotripsi non-invasif, lini pertama internasional untuk batu kecil-sedang) hanya 17.4% dari yang dioperasi, jauh di bawah negara dengan akses ESWL luas, mengindikasikan keterbatasan kapasitas ESWL sehingga banyak kasus naik ke prosedur endoskopik/bedah yang lebih invasif dan mahal. Hanya 19.8% dari seluruh pasien batu yang pernah dioperasi; mayoritas dikelola konservatif/medikamentosa.

3.2 A.6 Tren volume prosedur per tahun

3.2.1 Volume prosedur per tahun (per modalitas)

3.2.2 Total prosedur (tertimbang) per tahun

Tabel 1.6c, Volume Klaim Prosedur Batu per Tahun menurut Modalitas - Unit: klaim prosedur
Klaim prosedur per tahun; dip 2020-2021 = COVID-19
Tahun ESWL URS Bedah atas Total prosedur (sampel) Total prosedur (tertimbang)
2,015 0 0 0 0 -
2,016 0 0 0 0 -
2,017 210 423 318 951 80,104
2,018 383 568 327 1,278 115,114
2,019 480 689 321 1,490 148,225
2,020 543 763 276 1,582 126,250
2,021 597 866 320 1,783 133,749
2,022 951 1,107 336 2,394 211,837
2,023 1,175 1,543 425 3,143 282,298
2,024 1,183 1,946 454 3,583 313,846
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

3.3 A.7 Rekurensi (batu berulang)

Proksi rekurensi

Rekurensi dalam klaim diproksikan sebagai >=2 tahun kalender berbeda dengan klaim batu/prosedur aktif per pasien. Ini batas bawah (batu berulang dalam tahun yang sama tidak terhitung; kontak yang tidak diklaimkan juga tidak terlihat). Batu saluran kemih dikenal sangat rekuren (literatur: ~50% dalam 5-10 tahun), sehingga proksi ini menggambarkan beban kontak-ulang JKN, bukan rekurensi biologis sejati.

3.3.1 Distribusi tahun aktif per pasien

3.3.2 Ringkasan rekurensi

Tabel 1.7, Ringkasan Rekurensi Batu (proksi tahun aktif) - Unit: campuran
Rekurensi = >=2 tahun kalender berbeda dengan klaim batu/prosedur aktif
Indikator Nilai
Total pasien (sampel) 39,610
Pasien rekuren (>=2 tahun aktif) 8,865
Pasien rekuren (tertimbang) 711,795
% pasien rekuren 22.4%
Median tahun aktif 1
Maksimum tahun aktif 10
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional) | Batas bawah; rekurensi intra-tahun & kontak tak-klaim tidak terhitung.
Key takeaway rekurensi: 22.4% pasien batu punya >=2 tahun aktif (proksi rekurensi/kronisitas), dengan sebagian kecil aktif hingga 10 tahun, konsisten dengan sifat batu yang sangat rekuren. Ini berarti beban batu bukan kejadian sekali-jadi, melainkan kondisi berulang yang membutuhkan pencegahan sekunder (hidrasi, diet, manajemen metabolik) di layanan primer untuk menekan kontak-ulang dan prosedur mahal.

4 Pilar B - FKTP (Layanan Primer)

Pilar B - Beban di Layanan Primer (FKTP) - Cakupan Lintas-Level
Pertanyaan: Seberapa besar batu terlihat di FKTP (puskesmas/klinik primer), dan bagaimana sebaran pasien antara FKTP saja, FKRTL saja, atau keduanya. Batu yang dikelola di primer (kolik ringan, ekspulsi) idealnya mencegah eskalasi ke RS.

Tabel 2.1, Cakupan Lintas-Level Layanan - Unit: pasien unik
FKTP saja / FKRTL saja / keduanya
Cakupan level Pasien (sampel) Pasien (tertimbang) %
FKRTL saja 23,779 2,010,755.2 60.9
FKTP + FKRTL 15,831 1,289,622.9 39.1
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway B: Sebagian besar pasien batu muncul di FKRTL (rujukan), baik bersama FKTP maupun FKRTL saja (60.9%), sementara FKTP saja kecil. Pola ini wajar untuk batu simtomatik yang butuh pencitraan & prosedur, tetapi juga menunjukkan peran pencegahan sekunder di primer masih terbatas terlihat di klaim.

5 Pilar C - FKRTL (Rujukan/Rumah Sakit): Setting, LOS, Kelas RS

Pilar C - Setting (RJ vs RI) - Lama Rawat (LOS) - Kepemilikan - Kelas RS Pelaksana Prosedur
Pertanyaan: Bagaimana batu dilayani di rumah sakit, proporsi rawat jalan vs inap, lama rawat menurut kelompok diagnostik & kelas RS, kepemilikan RS, serta di kelas RS mana prosedur ESWL/URS/PCNL dilakukan (penanda konsentrasi kapasitas bedah urologi).

5.1 C.1 Setting layanan & lama rawat (LOS)

5.1.1 Rawat Jalan vs Inap

5.1.2 LOS menurut Kelompok

Tabel 3.1, Lama Rawat (LOS) menurut Kelompok Diagnostik - Unit: Episode rawat inap
LOS = tgl pulang - tgl masuk (FKL04-FKL03); episode inap dengan diagnosis batu
Kelompok Episode inap (sampel) Mean LOS (hari) Median LOS Q1 Q3
Batu ginjal/ureter (N20) 11,130 3.2 3.0 2.0 4.0
Batu saluran kemih bawah (N21) 2,511 3.4 3.0 2.0 4.0
Kolik renal tak spesifik (N23) 5,862 3.0 3.0 2.0 4.0
Uropati obstruktif (N13) 2,342 3.5 2.0 2.0 4.0
Lainnya 3,890 5.8 4.0 3.0 7.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.1.3 LOS menurut Kelas RS

Tabel 3.2, Lama Rawat (LOS) menurut Kelas RS - Unit: Episode rawat inap
Kelas RS Episode inap Mean LOS Median LOS
RS Kelas C 12,856 3.1 3.0
RS Kelas B 8,016 4.0 3.0
RS Kelas D 3,021 2.9 2.0
RS Kelas A 1,423 7.3 5.0
RS Khusus/Lain 419 2.7 2.0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.2 C.2 Kepemilikan RS & kelas RS pelaksana prosedur

5.2.1 Kepemilikan (Publik vs Swasta)

5.2.2 Kelas RS pelaksana prosedur

Tabel 3.3, Prosedur Batu menurut Kelas RS Pelaksana - Unit: klaim prosedur (sampel)
Konsentrasi kapasitas urologi per kelas RS
Kelas RS ESWL Endoskopik/URS Bedah saluran atas
RS Kelas C 2,458 3,866 1,048
RS Kelas B 2,303 2,877 1,240
RS Kelas A 548 556 313
RS Kelas D 178 519 132
RS Khusus/Lain 35 87 44
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

5.2.3 Beban IGD per tahun

Key takeaway C: Prosedur batu terkonsentrasi di RS kelas tertentu, menandakan kapasitas urologi (ESWL/endoskopi) terpusat dan tidak merata, sejalan dengan kebutuhan rujukan tinggi pada Pilar B. Kolik renal akut juga membebani IGD. Implikasi: perluasan kapasitas ESWL di RS rujukan regional dapat menggeser kasus dari prosedur invasif mahal dan menurunkan beban IGD.

6 Pilar D - Inter: Rujukan & Konektivitas

Pilar D - Tipe Perujuk - Geografi Rujukan (intra/antar-kab/antar-prov)
Pertanyaan: Dari mana pasien batu dirujuk, dan seberapa jauh (lintas kabupaten/provinsi) pasien harus berpindah untuk layanan, penanda akses geografis ke kapasitas urologi.

6.1 D.1 Tipe perujuk & geografi rujukan

6.1.1 Tipe perujuk (rawat inap)

6.1.2 Geografi rujukan rawat inap

Key takeaway D: Sebagian admisi batu melintasi batas kabupaten/provinsi (4.6% antar-kabupaten, 1.3% antar-provinsi), menandakan kapasitas urologi/ESWL belum tersedia merata sehingga pasien harus bepergian. Ini memperkuat argumen pemerataan kapasitas litotripsi regional.

7 Pilar E - Geografi Member-Faskes

Pilar E - Kesesuaian Geografi Member vs Faskes Terdaftar

Key takeaway E: Secara nasional 85.7% pasien batu memiliki faskes terdaftar di kabupaten yang sama dengan domisili (95.3% sama provinsi). Provinsi dengan kesesuaian rendah menandakan pasien harus mengakses layanan lintas wilayah, relevan untuk perencanaan distribusi kapasitas urologi.

8 Pilar F - Proses, Outcome & Mortalitas

Pilar F - Mortalitas In-Hospital - CFR Rawat Inap - Beban Obstruksi (N13)
Pertanyaan: Urolitiasis jarang fatal, tetapi obstruksi (N13) + infeksi dapat menjadi sepsis/gagal ginjal akut. Bagian ini melaporkan mortalitas (rendah, sebagai konteks) dan beban obstruksi.

8.1 F.1 Mortalitas & CFR

8.1.1 Kematian per tahun (in-hospital)

8.1.2 CFR & beban obstruksi

Outcome rawat inap batu

Case fatality rate (CFR) rawat inap batu = 1.12% (287 kematian dari 25,735 episode inap, sampel) - rendah, sesuai sifat penyakit jinak. Beban obstruksi (N13): 9.8% pasien batu (297,129 tertimbang) pernah ber-kode uropati obstruktif; obstruksi + infeksi adalah jalur menuju komplikasi serius (sepsis, gagal ginjal akut). Episode inap N13: 2,342 (sampel), median LOS 3.5 hari.

Key takeaway F: Mortalitas urolitiasis rendah (CFR rawat inap 1.12%), sesuai penyakit jinak; nilai klinis & ekonomi terletak pada mencegah obstruksi/infeksi dan prosedur berulang, bukan menurunkan mortalitas. 9.8% pasien pernah ber-kode obstruksi (N13), kelompok berisiko komplikasi yang patut dipantau lebih ketat.

9 Pilar G - Komorbiditas

Pilar G - Komorbiditas Utama (DM, HT, Gout, ISK, CKD, Obesitas) - Jumlah Penyerta
Pertanyaan: Kondisi metabolik (diabetes, gout/asam urat, obesitas, hipertensi) meningkatkan risiko batu; ISK & CKD adalah komplikasi/penyerta. Komorbiditas dipindai dari FKL15A + SDX (batas bawah).

9.1 G.1 Komorbiditas utama & jumlah penyerta

9.1.1 Komorbiditas utama

Tabel 7.1, Komorbiditas Utama Pasien Urolitiasis - Unit: pasien unik
Pemindaian FKL15A + SDX; batas bawah
Komorbiditas (ICD-10) Pasien (sampel) % pasien batu
Hipertensi (I10-15) 12,164 30.7
ISK (N30/N39) 9,956 25.1
Diabetes (E10-14) 6,034 15.2
Penyakit Ginjal Kronik (N17-19) 5,002 12.6
Penyakit Jantung Iskemik (I20-25) 4,819 12.2
Gout/asam urat (M10) 1,080 2.7
Obesitas (E65-66) 218 0.6
Hiperparatiroid (E21) 19 0
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

9.1.2 Jumlah komorbiditas per pasien

Key takeaway G: Komorbiditas metabolik lazim, terutama Hipertensi (I10-15) (30.7%) dan ISK (N30/N39) (25.1%). Kaitan batu dengan diabetes, gout, dan obesitas menggarisbawahi bahwa pencegahan batu beririsan dengan agenda kardiometabolik: manajemen metabolik di primer dapat menekan rekurensi batu sekaligus penyakit penyerta.

10 Pilar H - Ekonomi (Biaya FKL48, Pareto, INA-CBG)

Pilar H - Tren Biaya (FKL48 terverifikasi) - Biaya Prosedur vs Total - Komposisi - Biaya per Modalitas - Pareto - INA-CBG
Pertanyaan: Berapa belanja JKN untuk urolitiasis, bagaimana trennya, kontribusi prosedur (ESWL/URS/PCNL), konsentrasi biaya, dan grup INA-CBG termahal. Semua biaya = FKL48 (biaya verifikasi/dibayar BPJS), bukan FKL47 (tagihan provider).

10.1 H.1 Tren biaya: prosedur sebagai penggerak

10.1.1 Biaya prosedur vs total batu per tahun

Tabel 8.0, Belanja JKN Urolitiasis per Tahun (FKL48) - Unit: miliar Rupiah
Biaya verifikasi FKL48 tertimbang; prosedur sebagai sub-komponen total
Tahun Biaya prosedur (M) Total biaya batu (M) Klaim prosedur
2,015 - 824.6 0
2,016 - 1,118.6 0
2,017 620 1,356.3 951
2,018 845.2 1,730.2 1,278
2,019 1,038.2 2,005.8 1,490
2,020 824.6 1,566.1 1,582
2,021 871.3 1,596 1,783
2,022 1,390.2 2,454.3 2,394
2,023 1,850.2 3,453.5 3,143
2,024 2,046.9 3,857.9 3,583
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

10.1.2 Biaya per modalitas prosedur

Tabel 8.0b, Biaya per Klaim menurut Modalitas Prosedur (FKL48) - Unit: Rupiah
ESWL lebih hemat; bedah saluran atas termahal
Modalitas Klaim Mean biaya/klaim (Rp) Median biaya/klaim (Rp) Total (M, FKL48)
Endoskopik/URS 7,905 6,555,903 7,223,300 4,355.7
Bedah saluran atas 2,777 11,892,889 10,436,300 2,958.5
ESWL (litotripsi) 5,522 4,431,141 4,219,800 2,172.3
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

10.2 H.2 Komposisi & konsentrasi biaya

10.2.1 Biaya menurut kategori layanan

10.2.2 Konsentrasi biaya (Pareto)

10.2.3 12 INA-CBG biaya tertinggi

Tabel 8.1, 12 Grup INA-CBG dengan Belanja Tertinggi - Unit: Klaim & Rupiah (FKL48)
Total biaya verifikasi (FKL48) tertimbang, kumulatif 2015-2024
Rank INA-CBG (FKL19A) Klaim (sampel) Total biaya (M, FKL48) Mean biaya/klaim
1 PROSEDUR PADA URETRA DAN TRANSURETRA RINGAN 5,206 3,633.50 Rp8,226,985
2 EXTRACORPOREAL SHOCKWAVE LITHOTRIPSY (ESWL) PADA SALURAN KEMIH 5,410 2,128.96 Rp4,436,261
3 PROSEDUR SALURAN URIN ATAS RINGAN 2,091 1,872.07 Rp10,497,303
4 BATU URIN RINGAN 5,521 1,753.25 Rp3,884,098
5 PENYAKIT KRONIS KECIL LAIN-LAIN 62,201 1,116.51 Rp204,436
6 PROSEDUR SALURAN URIN ATAS SEDANG 598 956.50 Rp15,284,338
7 PROSEDUR ULTRASOUND LAIN-LAIN 18,829 880.15 Rp578,132
8 CT SCAN LAIN-LAIN 4,862 557.93 Rp1,318,232
9 PROSEDUR PADA URETRA DAN TRANSURETRA SEDANG 592 551.10 Rp11,710,697
10 599 410 419.35 Rp13,123,338
11 PROSEDUR KANDUNG KEMIH DAN SALURAN URIN BAWAH RINGAN 536 362.66 Rp8,192,489
12 631 1,174 280.28 Rp2,816,673
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)
Key takeaway H: Total belanja JKN untuk urolitiasis mencapai Rp 19963.3 miliar (2015-2024, FKL48), dengan Rp 9486.6 miliar untuk prosedur intervensi. Biaya terkonsentrasi: top 10% pasien termahal menanggung 52.8% belanja. Bedah saluran atas (PCNL/terbuka) jauh lebih mahal per klaim daripada ESWL, sehingga memperluas akses ESWL (lini pertama untuk batu kecil-sedang) berpotensi menghemat dengan menggeser kasus dari prosedur invasif.

11 Pilar I - Ekuitas & Representasi vs Populasi Umum

Pilar I - Tabel 1 vs Populasi Umum - Served-Rate per Provinsi/Iklim - Gradien Jenis Kelamin & Usia - Gradien SES (PBI vs Non-PBI)
Pertanyaan: Apakah populasi batu terlayani berbeda dari populasi umum JKN (usia, jenis kelamin, segmentasi), dan apakah akses (served-rate, akses prosedur) merata antar provinsi, jenis kelamin, usia, dan kelompok sosial-ekonomi.

11.1 I.1 Tabel 1 - Karakteristik vs Populasi Umum

Tabel 9.0, Karakteristik Pasien Urolitiasis vs Populasi Umum JKN - Unit: % kolom (tertimbang)
Distribusi tertimbang PSTV15; Populasi Umum = seluruh peserta sampel reguler
Kategori FKTP % FKRTL % Total batu % Populasi Umum %
Jenis Kelamin
Laki-laki 60.3 59.7 59.7 51.2
Perempuan 39.7 40.3 40.3 48.8
Kelompok Usia
40-59 50.2 46.1 46.1 27.7
18-39 30.3 29.0 29.0 37.1
>=60 17.8 22.6 22.6 16.7
<18 1.7 2.3 2.3 18.5
Segmentasi (Membership)
PPU 38.9 36.0 36.0 23.2
PBI APBN 20.8 23.6 23.6 41.3
PBPU (Mandiri) 23.4 22.0 22.0 11.6
PBI APBD 10.9 11.5 11.5 20.1
Bukan Pekerja 6.0 6.9 6.9 3.9
Kelas Rawat
Kelas III 49.6 50.5 50.5 70.1
Kelas I 27.2 26.4 26.4 16.3
Kelas II 23.2 23.1 23.1 13.6
Pulau
Jawa 59.6 57.8 57.8 54.2
Sumatera 20.6 21.4 21.4 20.7
Sulawesi 6.6 7.5 7.5 7.6
Bali-Nusra 7.3 6.3 6.3 5.4
Kalimantan 4.4 4.9 4.9 5.7
Maluku-Papua 1.6 2.0 2.0 6.4
Kelompok Diagnostik
Batu ginjal/ureter (N20) 82.3 50.2 50.2 -
Kolik renal tak spesifik (N23) 8.0 22.2 22.2 -
Lainnya - 18.6 18.6 -
Batu saluran kemih bawah (N21) 6.5 6.2 6.2 -
Uropati obstruktif (N13) 3.2 2.9 2.9 -
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

11.2 I.2 Served-rate & gradien akses

11.2.1 Served-rate per provinsi

11.2.2 Gradien jenis kelamin & usia

Tabel 9.1, Served-Rate menurut Jenis Kelamin & Usia - Unit: pasien /100k peserta
Kasus batu / peserta JKN per 100.000 dalam tiap kelompok
Dimensi Kelompok Pasien (tertimbang) Served-rate /100k
Jenis kelamin Laki-laki 1,971,187.6 1,273
Jenis kelamin Perempuan 1,329,190.4 902
Kelompok usia <18 76,089.7 136
Kelompok usia 18-39 956,551.4 854
Kelompok usia 40-59 1,520,877.2 1,816
Kelompok usia >=60 746,859.8 1,483
Sumber: Data Sampel BPJS Kesehatan 2015-2024 | ICD-10 N20+N21+N23 (link N13) | FKTP + FKRTL | biaya FKL48 (terverifikasi) | tertimbang PSTV15 (proyeksi nasional)

11.2.3 Gradien SES (PBI vs Non-PBI)

11.2.4 Akses prosedur menurut SES

Key takeaway I: Served-rate batu jauh lebih tinggi pada laki-laki (1273 vs 902 /100k perempuan) dan pada usia produktif/lansia, sesuai epidemiologi batu. Terdapat gradien sosial-ekonomi: segmen Non-PBI/PPU cenderung memiliki served-rate dan terutama akses prosedur lebih tinggi daripada PBI, mengindikasikan kemungkinan under-treatment pada kelompok disubsidi, prioritas pemerataan akses ESWL/URS.

12 Ringkasan Eksekutif & Keterbatasan

Ringkasan 2024 (Latest-Year) & Keterbatasan
Sorotan tahun terbaru (2024):
  • Beban terlayani: 804,173 pasien urolitiasis terlayani JKN (tertimbang), atau 289 per 100.000 peserta JKN, naik konsisten dari 2015 setelah pulih dari dip COVID-19.
  • Belanja: Rp 3857.9 miliar (FKL48 terverifikasi) pada 2024 saja; kumulatif 2015-2024 mencapai Rp 19963.3 miliar (~Rp 20.0 triliun), melewati ambang 1 triliun yang menjadikan batu beban NCD bedah signifikan, hampir seluruhnya unik-Indonesia (INA-only, tak ada padanan survei).
  • Intervensi: hanya 19.8% pasien menerima prosedur; di antaranya Endoskopik/URS mendominasi, sementara ESWL (lini pertama non-invasif) hanya 17.4%, sinyal keterbatasan kapasitas litotripsi.
  • Geografi/iklim: gradien served-rate antar zona iklim moderat (Indonesia uniform tropis); provinsi served-rate tertinggi = Bali (2,462 /100k). Sebagian admisi melintasi kabupaten/provinsi = friksi akses.
  • Rekurensi: 22.4% pasien punya >=2 tahun aktif (batu berulang), menekankan pentingnya pencegahan sekunder di primer.
Keterbatasan (wajib dibaca bersama setiap angka).
  • Terlayani, bukan prevalensi sejati. Klaim hanya menangkap kasus yang sampai ke fasilitas; batu kecil asimtomatik/keluar spontan tak terlihat. Tidak ada survei prevalensi batu nasional (Riskesdas/SKI), sehingga treatment gap tidak dapat dikuantifikasi.
  • Iklim sebagai proksi kasar. Zona iklim bukan pengukuran suhu langsung; served-rate juga mencerminkan akses fasilitas. Hipotesis “stone belt” dibaca hati-hati, bukan bukti kausal.
  • Modalitas & lokasi dari koding. Modalitas intervensi diturunkan dari INA-CBG (FKL19A) dan lokasi batu dari kode 4 karakter; klaim 3-digit tanpa detail menghasilkan kategori “tak spesifik” besar.
  • Biaya = FKL48 (terverifikasi/dibayar). Mencerminkan pembayaran BPJS atas klaim ber-kode urolitiasis (cakupan level-klaim, konsisten dengan sisi supply), bukan total biaya ekonomi pasien.
  • Akrual sampel. Tren tertimbang naik sebagian karena pertumbuhan kepesertaan JKN & akrual frame; gunakan kohort stabil & level 2024 untuk angka cross-sectional.
  • Rekurensi adalah batas bawah (proksi tahun-aktif; rekurensi intra-tahun & kontak tak-klaim tidak terhitung).
Implikasi kebijakan: Urolitiasis adalah beban bedah NCD unik-Indonesia (>Rp 1 triliun, tak terdeteksi survei) yang sebagian besar dapat dicegah berulang melalui hidrasi, diet, dan manajemen metabolik di layanan primer, serta dilayani lebih hemat melalui perluasan akses ESWL regional (menggeser kasus dari bedah saluran atas yang mahal). Pemerataan kapasitas litotripsi dan integrasi pencegahan batu ke dalam program kardiometabolik primer adalah dua ungkitan kebijakan utama.

Reproduksibilitas. Seluruh angka dihasilkan dari engine engine_urolithiasis.R (bundle uro_jkn_aggregates.rds) pada PostgreSQL bpjs_data schema reguler; render report_urolithiasis.Rmd (dev=svglite). Tabel pendamping tiap figur tersedia di outputs/urolithiasis_companion_tables.xlsx. Definisi kasus N20+N21+N23 (link N13); biaya FKL48; tertimbang PSTV15.