Lintas Sektor (Beyond-PHC): Beban Rawat Inap JKN yang Berakar di Luar Sistem Kesehatan
Tentang laporan ini
Banyak rawat inap rumah sakit yang sebenarnya dapat dicegah tidak berasal dari kegagalan layanan kesehatan, melainkan dari masalah di luarnya: air yang tidak bersih, sanitasi yang buruk, imunisasi yang tidak lengkap, gizi yang kurang, dan vektor penyakit yang tidak terkendali. Laporan ini mengukur berapa besar beban dan biaya rawat inap JKN yang berakar pada determinan non-kesehatan tersebut, dan kementerian atau lembaga mana yang paling efektif menanganinya dari hulu.
Analisis memakai Data Sampel BPJS Kesehatan 2015 sampai 2024. Setiap klaim diatribusikan ke satu sektor determinan berdasarkan diagnosis primer agar tidak salah-atribusi. Semua angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang dan menggambarkan populasi yang dilayani JKN, bukan prevalensi sebenarnya di seluruh penduduk. Karena klaim hanya menangkap kasus yang sampai ke rumah sakit, angka di sini adalah batas bawah dari beban yang sesungguhnya.
Pertanyaan yang dijawab laporan ini
- Berapa beban dan biaya rawat inap JKN yang berakar pada determinan di luar sistem kesehatan?
- Sektor determinan mana, air dan sanitasi, imunisasi, gizi, atau vektor, yang paling besar?
- Di mana beban itu terkonsentrasi secara geografis, dan siapa yang paling terdampak?
- Kementerian atau lembaga mana yang dapat menurunkan beban ini melalui investasi hulu?
Temuan utama
- Kohort analisis mencakup 134.199 pasien sampel dengan 345.037 klaim berdiagnosis-primer determinan, di antaranya 102.691 admisi rawat inap.
- Secara kumulatif 2015 sampai 2024, biaya rawat inap yang dapat dicegah ini mencapai sekitar Rp 31,9 triliun (basis diagnosis primer yang konservatif), dengan total biaya rumah sakit sekitar Rp 41,5 triliun.
- Air, sanitasi, dan higiene (WASH) adalah sektor terbesar, sekitar Rp 19,9 triliun atau 47,9 persen dari total, sehingga hampir separuh beban berakar pada masalah air dan sanitasi, ranah PUPR dan Pemda, bukan rumah sakit.
- Tiga lini biaya teratas adalah batu saluran kemih (sekitar Rp 10,3 triliun), tuberkulosis (sekitar Rp 7,4 triliun), dan diare atau gastroenteritis (sekitar Rp 6,2 triliun); dua dari tiga teratas terkait air dan sanitasi.
- Biaya sangat terkonsentrasi: 52,4 persen biaya ditanggung oleh 10 persen pasien termahal, sebagian besar kasus kronis dan berulang.
- Beban balita tertinggi ada di sektor WASH (10,5 persen pasien adalah balita), sehingga investasi air bersih dan sanitasi sekaligus melindungi tumbuh-kembang anak dari diare dan stunting.