Kesenjangan Kontak Layanan Primer
Tentang laporan ini
Banyak rawat inap di Indonesia sebenarnya dapat dicegah bila pasien terlibat lebih dulu dengan layanan primer. Laporan ini menelusuri kesenjangan kontak layanan primer: bagian dari rawat inap yang dapat dicegah yang justru muncul langsung di rumah sakit tanpa satu pun kontak layanan primer dalam setahun sebelumnya.
Analisis menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan 2015 sampai 2024. Episode rawat inap yang dapat dicegah ditentukan oleh 61 kode INA-ACSC hasil Delphi Indonesia, lalu disaring menjadi episode tanpa kontak layanan primer dalam jendela 365 hari sebelum masuk. Semua angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang dari sampel dan menggambarkan populasi yang terlayani JKN, bukan prevalensi sebenarnya di seluruh penduduk. Kontak layanan primer yang tidak terklaim tidak terlihat dalam data, sehingga angka tanpa kontak adalah batas atas dari tanpa kontak terklaim.
Temuan utama
- Sekitar 34,0 persen rawat inap yang dapat dicegah sepanjang 2015 sampai 2024 terjadi tanpa kontak layanan primer dalam setahun sebelumnya, dan pada 2024 pangsanya 31,1 persen.
- Kesenjangan keterlibatan ini bersifat lintas penyakit, bukan satu kondisi: sepertiga rawat inap yang dapat dicegah muncul langsung di rumah sakit tanpa kontak hulu lebih dulu.
- Tiga kondisi tanpa kontak teratas adalah pneumonia (J18), gagal jantung (I50), dan diabetes tipe 2 (E11), menandai kegagalan deteksi dan pemantauan rutin di hulu.
- Total belanja rawat inap tanpa kontak mencapai sekitar Rp 12,3 triliun sepanjang 2015 sampai 2024, dan sekitar Rp 2,2 triliun pada 2024 saja, dengan biaya rata-rata sekitar Rp 4,5 juta per admisi pada 2024.
- Terdapat gradien ekuitas yang tajam: peserta penerima bantuan iuran (PBI) memiliki pangsa tanpa kontak lebih tinggi (sekitar 37 persen) dibanding peserta non-PBI (sekitar 31 persen), dan rate per 100.000 berbeda jauh antarprovinsi dan antarpulau.
- Outcome cenderung lebih berat: admisi tanpa kontak lebih sering masuk lewat instalasi gawat darurat dengan case fatality yang sedikit lebih tinggi, dan sebagian pasien berulang kali masuk tanpa kontak sehingga menjadi target prioritas penjangkauan terstruktur.