Telaah Mendalam JKN di Tiga Provinsi Jawa: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur
Tentang laporan ini
Laporan ini menelaah dan membandingkan pemanfaatan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada tiga provinsi terpadat di Pulau Jawa, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, yang bersama-sama menampung mayoritas peserta JKN nasional.
Analisis menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan untuk periode 2015 sampai 2024, dari sampel reguler berbasis rumah tangga yang mewakili seluruh peserta, mencakup semua usia, dan didefinisikan menurut provinsi tempat tinggal. Laporan membandingkan cakupan dan demografi, utilisasi layanan, pola penyakit, biaya dan konsentrasinya, ekuitas, geografi rujukan, serta mortalitas. Seluruh angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang dan menggambarkan populasi yang terlayani JKN, bukan prevalensi sebenarnya pada seluruh penduduk. Cakupan penyakit tidak menular yang terukur dari klaim merupakan batas bawah dari beban penyakit yang sesungguhnya, karena sebagian besar kasus belum terdiagnosis.
Pertanyaan yang dijawab laporan ini
- Bagaimana perbandingan cakupan, demografi, dan utilisasi JKN antara Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur?
- Berapa besar kesenjangan antara prevalensi penyakit tidak menular dan cakupan yang benar-benar terlayani lewat klaim JKN?
- Berapa belanja layanan dan seberapa terkonsentrasi biaya pada sebagian kecil pasien?
- Seberapa setara akses antarsegmen kepesertaan, antara kota dan kabupaten, dan antarkabupaten?
Temuan utama
- Ketiga provinsi Jawa, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, bersama-sama menampung mayoritas peserta JKN nasional, sehingga pola pemanfaatannya menjadi penentu besar bagi kinerja JKN secara keseluruhan.
- Untuk penyakit tidak menular utama, cakupan yang terlayani lewat klaim hanya sekitar 8 persen peserta terdaftar, sementara prevalensi terukur pada orang dewasa mencapai sekitar 30 persen, sehingga sekitar tiga perempat penyandang belum terjangkau lewat klaim JKN.
- Hanya sekitar 8,6 persen orang dewasa yang pernah didiagnosis dokter, menandakan deteksi penyakit tidak menular yang masih sangat terlambat di tingkat layanan.
- Struktur usia peserta mencerminkan populasi yang menua, dengan penduduk lansia nasional sekitar 11,75 persen pada 2023, yang menambah tekanan kebutuhan layanan ke depan.
- Belanja layanan terkonsentrasi tinggi, dengan sebagian kecil pasien menyerap porsi besar total biaya FKRTL, terlihat dari kurva Lorenz dan koefisien Gini biaya.
- Akses bervariasi tajam antarsegmen kepesertaan, antara kota dan kabupaten, serta antarkabupaten, mengikuti pola ketimpangan yang konsisten dengan kesenjangan akses.