Multimorbiditas Kardiometabolik dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Tentang laporan ini
Laporan ini menelaah multimorbiditas kardiometabolik, yaitu keadaan ketika satu orang menanggung dua atau lebih penyakit kardiometabolik secara bersamaan, pada penduduk yang terlayani Jaminan Kesehatan Nasional. Enam kondisi dicakup: diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung iskemik, gagal jantung, stroke, dan penyakit ginjal kronik.
Analisis memakai Data Sampel BPJS Kesehatan 2015 sampai 2024, mencakup prevalensi terlayani, kondisi yang paling sering muncul bersamaan, urutan munculnya kondisi dan titik masuknya, admisi rawat inap yang sebenarnya dapat dicegah, biaya pelayanan, serta ekuitas antarwilayah dan segmen kepesertaan. Seluruh angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang dari sampel dan menggambarkan penduduk yang terlayani JKN, bukan prevalensi sebenarnya pada seluruh penduduk. Angka biaya adalah nilai klaim terverifikasi yang dibayar, bukan realisasi anggaran resmi.
Pertanyaan yang dijawab laporan ini
- Seberapa besar multimorbiditas kardiometabolik pada populasi terlayani JKN, dan bagaimana trennya?
- Kondisi mana yang paling sering muncul bersamaan?
- Kondisi mana yang menjadi titik masuk paling umum, dan bagaimana sekuens kondisi terbentuk dalam individu?
- Titik masuk mana yang menghasilkan admisi rawat inap yang dapat dicegah paling banyak?
- Berapa beban biaya, seberapa terkonsentrasi, dan bagaimana ekuitas serta geografinya?
Temuan utama
- Hampir separuh peserta kardiometabolik yang terlayani JKN bukan penderita penyakit tunggal: 47,7 persen memiliki dua kondisi atau lebih dan rata-rata membawa 1,77 kondisi per pasien, dengan proyeksi nasional kumulatif 17,99 juta pasien kardiometabolik selama 2015 sampai 2024.
- Pasangan kondisi yang paling sering muncul bersamaan adalah diabetes dan hipertensi (18,5 persen dari seluruh pasien kardiometabolik), diikuti hipertensi dengan stroke serta penyakit jantung iskemik dengan gagal jantung.
- Titik masuk menentukan beban di hilir. Pasien yang masuk melalui diabetes mengalami admisi yang dapat dicegah terbanyak, yaitu 1,46 admisi per pasien, dan progres tertinggi menuju multimorbiditas sebesar 56,9 persen, sehingga diabetes dan hipertensi yang tak terkendali menjadi sasaran pencegahan dengan ungkit terbesar.
- Biaya pelayanan kardiometabolik di rumah sakit mencapai Rp 218,6 triliun, dengan Rp 132,2 triliun di antaranya berupa admisi yang sebenarnya dapat dicegah.
- Belanja sangat terkonsentrasi: 1 persen pasien termahal menyerap 24,6 persen biaya, dan 10 persen teratas menyerap 62,0 persen dari total belanja.