Konsentrasi Biaya Rawat Inap yang Dapat Dicegah dalam JKN
Ringkasan
Laporan ini menelaah belanja rawat inap untuk kondisi yang sebenarnya dapat dicegah, yaitu Potentially Preventable Hospitalisation atau Ambulatory Care Sensitive Conditions, di dalam Jaminan Kesehatan Nasional, menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan periode 2015 sampai 2024. Fokusnya adalah seberapa terkonsentrasi belanja ini pada sedikit episode termahal, kondisi mana yang mendominasi, dan di titik mana pencegahan di hulu paling efektif menahan biaya katastrofik.
Unit analisis adalah episode rawat inap di fasilitas rujukan lanjutan yang diagnosis masuknya termasuk dalam daftar 326 kondisi True ACSC yang dikurasi proyek ACSC ARC. Angka belanja adalah nilai klaim terverifikasi yang dibayarkan, diproyeksikan ke tingkat nasional dari skema reguler, sehingga menggambarkan beban yang ditanggung skema, bukan realisasi anggaran resmi maupun prevalensi seluruh penduduk.
Pertanyaan yang dijawab laporan ini
- Seberapa terkonsentrasi belanja rawat inap yang dapat dicegah di JKN, dan apakah konsentrasinya memburuk dari waktu ke waktu?
- Berapa porsi anggaran yang tersedot oleh episode dengan biaya tertinggi?
- Kondisi mana yang paling banyak menyumbang belanja, dan mana yang berbiaya per-admisi katastrofik meski volumenya kecil?
- Apakah konsentrasi ini didorong oleh penyakit kronik, dan di mana pencegahan marginal paling efektif?
Temuan kunci
- Belanja rawat inap yang dapat dicegah sangat terkonsentrasi: koefisien Gini biaya per-episode mencapai 0,43.
- Sepersepuluh episode termahal menyerap 37,0 persen seluruh anggaran kelompok ini, dan satu persen teratas saja menyerap 12,6 persen.
- Pada 2024, rawat inap yang dapat dicegah menyumbang 37,5 persen dari seluruh belanja rawat inap JKN.
- Konsentrasi didorong oleh kondisi kronik, yang menanggung 65,4 persen belanja kelompok ini, dipimpin penyakit jantung koroner yang sendirian mencapai 23,2 persen.
- Dua sumber konsentrasi berbeda: kondisi bervolume besar menumpuk belanja lewat jumlah kasus, sedangkan kondisi seperti penyakit jantung rematik dan stroke perdarahan menyedot belanja lewat biaya per-admisi yang tinggi.
- Belanja katastrofik ini bermuara pada kegagalan pengendalian penyakit kronik di layanan primer, sehingga rupiah pencegahan marginal paling efektif diarahkan ke titik masuk kardiometabolik berbiaya tinggi.