Batu Saluran Kemih (Urolitiasis) dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Ringkasan
Laporan ini menggambarkan bagaimana pasien batu saluran kemih (urolitiasis) dilayani oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan 2015 sampai 2024. Cakupannya meliputi beban terlayani, biaya pelayanan, jenis intervensi, pola rekurensi (batu berulang), serta pemerataan akses antar wilayah dan segmen kepesertaan.
Seluruh angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang dari sampel dan menggambarkan populasi yang terlayani JKN, bukan prevalensi sejati di seluruh masyarakat. Karena tidak ada survei prevalensi batu nasional dan banyak batu kecil keluar spontan tanpa kontak fasilitas, angka terlayani merupakan batas bawah dari beban yang sebenarnya. Angka biaya adalah nilai klaim terverifikasi yang dibayarkan, bukan realisasi anggaran.
Pertanyaan yang dijawab laporan ini
- Berapa banyak pasien batu saluran kemih yang dilayani JKN, dan bagaimana tren bebannya dari tahun ke tahun?
- Berapa besar biaya yang ditanggung skema, dan bagaimana batu menjadi beban bedah penyakit tidak menular yang signifikan?
- Seberapa banyak pasien menerima prosedur, dan apakah kapasitas litotripsi (ESWL) sudah memadai?
- Seberapa berulang penyakit ini, dan apakah akses tersebar merata antar provinsi dan segmen kepesertaan?
Temuan utama
- Pada 2024 sekitar 804.173 pasien urolitiasis dilayani JKN (tertimbang), atau sekitar 289 per 100.000 peserta, naik konsisten sejak 2015 setelah pulih dari penurunan akibat COVID-19.
- Belanja batu mencapai sekitar Rp 3,86 triliun pada 2024 saja, dengan akumulasi 2015 sampai 2024 mencapai sekitar Rp 20,0 triliun, melewati ambang satu triliun yang menjadikannya beban bedah penyakit tidak menular yang besar.
- Hanya sekitar 19,8 persen pasien menerima prosedur; di antaranya pendekatan endoskopik mendominasi, sementara ESWL sebagai lini pertama non-invasif hanya 17,4 persen, menandakan keterbatasan kapasitas litotripsi.
- Sekitar 22,4 persen pasien memiliki dua tahun aktif atau lebih dengan klaim batu, sebuah proksi rekurensi yang menegaskan bahwa batu adalah kondisi berulang, bukan kejadian sekali jadi.
- Akses bervariasi antar wilayah: provinsi dengan served-rate tertinggi adalah Bali (sekitar 2.462 per 100.000), dan sebagian admisi melintasi batas kabupaten atau provinsi, menandakan adanya friksi akses.
- Beban ini sebagian besar dapat dicegah berulang melalui hidrasi, diet, dan manajemen metabolik di layanan primer, serta dilayani lebih hemat melalui perluasan akses ESWL regional.