Pilar ini menilai intervensi sistem, bukan obat: task shifting, task sharing, multi-month dispensing, dan digital health. Intervensi ini bekerja lewat cascade layanan, bukan lewat efikasi molekul. Karena itu keluarannya dibaca sebagai hasil layanan yang konkret: berapa banyak pasien tambahan yang terkontrol, berapa yang tidak lagi putus berobat, berapa komplikasi yang dicegah, dan berapa rupiah yang dihemat untuk anggaran JKN. Ringkasan teknis (efektivitas-biaya per tahun-hidup-sehat) ada di lapis bawah tiap halaman untuk keperluan telaah, bukan sebagai angka utama.
Intervensi penyampaian layanan non-obat berikut bersumber dari pemodelan sistem kesehatan AMHASS (lima pilar: skrining, rujukan PRB, task-shifting, multi-month dispensing, outreach) dan analisis terkait di Research Center. Daftar ini adalah peta jalan, tiap intervensi akan dimodelkan menjadi scorecard di pilar ini secara bertahap.
Memperluas jangkauan dan efektivitas skrining berkala untuk menemukan kasus yang belum terdiagnosis dan menariknya ke layanan (opsi penjaringan universal, satu-langkah, atau dua-langkah).
Memakai skor risiko diabetes Indonesia sebagai pra-penjaringan dua-langkah agar tes konfirmasi diarahkan ke yang berisiko tinggi, menaikkan temuan kasus per sumber daya skrining.
Memetakan skor risiko ke alur tindak lanjut berbeda menurut lokasi awal (Posbindu, Puskesmas, RS), termasuk rujukan dan rujuk-balik sesuai tingkat risiko.
Mengalihkan kunjungan rutin NCD dari dokter ke perawat atau kader terlatih untuk melipatgandakan kapasitas tindak lanjut tanpa menurunkan mutu.
Menstandarkan frekuensi dan mutu outreach Posbindu untuk deteksi kasus di komunitas dan retensi/refill obat agar menurunkan putus-berobat.
Menata ulang ambang rujukan dan rujuk-balik agar pasien dikelola di tingkat layanan yang tepat sesuai kapasitas, mempercepat stabilisasi di layanan primer.
Menaikkan tautan ke layanan agar temuan positif benar-benar menjadi diagnosis aktif dan memulai pengobatan, bukan hilang akibat tidak kembali.
Menyediakan kapasitas radiografi di seluruh Puskesmas agar diagnosis (mis. TB, pneumonia, trauma) tidak tertunda oleh rujukan ke fasilitas sekunder.
Menilai dampak penguatan sistem dari penyebaran fasilitas kateterisasi jantung terhadap akses dan ekuitas geografis layanan jantung intervensi.
Menganalisis aksesibilitas (transport, jarak, catchment) ke Puskesmas dan RS untuk menargetkan penguatan jejaring rujukan di wilayah yang kurang terlayani.
Memetakan kesenjangan staffing dan ketimpangan urban-rural tenaga kesehatan serta kaitannya dengan capaian layanan, untuk menargetkan redistribusi SDM.
Mengombinasikan 2-3 pilar layanan sebagai bundle kebijakan dengan dampak gabungan, biaya, dan budget impact, diperingkat menurut dampak, biaya, kelayakan, ekuitas, dan waktu.
Intervensi sistem mengubah banyak hal sekaligus: berapa banyak pasien yang tetap rutin berobat, yang penyakitnya terkontrol, dan yang putus berobat. Satu angka ringkas menyembunyikan cara kerjanya. Dengan menampilkan tiap langkah, dari proses ke hasil ke biaya, pembuat kebijakan bisa menilai sendiri di mana intervensi benar-benar bekerja.
Model ini menghitung manfaat untuk pasien yang sudah masuk perawatan. Ia belum memperhitungkan ketersediaan obat, kapasitas Puskesmas melayani, atau kesulitan mendaftarkan peserta. Jadi angka per-pasien adalah perkiraan terbaik bila intervensi benar-benar dijalankan, bukan jaminan jangkauan di lapangan.
Tiap intervensi dipasangkan dengan program yang sudah berjalan di JKN, misalnya Prolanis dan Program Rujuk Balik untuk pemberian obat beberapa bulan sekaligus. Dengan begitu hasil model menempel pada layanan yang benar-benar ada, bukan gagasan di atas kertas.
Setiap intervensi dihitung dengan model perjalanan pasien, diuji ketidakpastiannya lewat ribuan simulasi, diperiksa konsistensinya di tiap tahap, lalu dibandingkan dengan rujukan internasional bila tersedia. Semua hasil masih berstatus draft sampai ditelaah ekonom kesehatan; angka biaya jangan dikutip sebelum telaah selesai.