Kanker di Indonesia
Kanker (neoplasma ganas) adalah penyebab kematian akibat penyakit tidak menular terbesar kedua di Indonesia. Berbeda dengan banyak penyakit lain yang dapat dikelola di layanan primer, kanker memerlukan rantai layanan tersier yang lengkap: diagnosis patologi, pencitraan, akses ke tiga modalitas terapi (kemoterapi, radioterapi, bedah), dan layanan paliatif.
Laporan ini menyajikan dua sisi yang saling melengkapi, berdasarkan Data Sampel BPJS Kesehatan 2015 hingga 2024. Sisi demand menelaah siapa yang terlayani dan bagaimana pola pemanfaatan serta beban biayanya dalam JKN. Sisi supply menelaah apakah sistem kesehatan memiliki tenaga, fasilitas, dan pembiayaan untuk memberikan layanan kanker, dan seberapa timpang sebarannya. Angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang yang menggambarkan populasi yang dilayani JKN, bukan prevalensi sebenarnya pada seluruh penduduk.
Temuan utama
- Pada periode 2015 sampai 2024 sekitar 2,9 juta peserta dengan kanker terlayani JKN (proyeksi nasional tertimbang), dengan prevalensi terlayani sekitar 231,8 per 100.000 peserta pada 2024.
- Beban terpusat pada kanker yang dapat dideteksi dini: kanker payudara (C50) mencakup sekitar 22,4 persen pasien, diikuti kolorektal (6,5 persen) dan serviks (6,2 persen), keduanya memiliki program skrining nasional.
- Kanker adalah pemicu biaya katastrofik: belanja FKRTL kanker mencapai sekitar Rp 34,8 triliun secara kumulatif, sekitar 4,79 persen dari total belanja rujukan JKN, dengan 10 persen pasien termahal menyerap sekitar 57,1 persen belanja.
- Tenaga onkologi sangat langka dan terpusat: hanya 129 dokter hematologi-onkologi medik dan 171 dokter onkologi radiasi di seluruh negeri, dan sekitar 90,9 persen kabupaten/kota tidak memiliki satu pun dokter hematologi-onkologi (koefisien Gini sebaran 0,952).
- Radioterapi adalah hambatan akses geografis paling kritis: hanya 136 rumah sakit (4,2 persen) menyediakan radioterapi, sekitar 1 unit per 2,1 juta penduduk, dan 84,4 persen kabupaten/kota sama sekali tidak memiliki akses radioterapi.
- Terdapat ketimpangan akses bertipe inverse-care: peserta mandiri terlayani jauh lebih tinggi daripada peserta termiskin, dan kapasitas layanan terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Pilih analisis
Laporan ini tersedia dalam dua bagian. Pilih bagian yang ingin Anda baca.
Analisis Demand (Klaim JKN)
Siapa yang terlayani, situs kanker dominan, bauran modalitas terapi, kanker anak, mortalitas, konsentrasi biaya, dan ekuitas akses dalam klaim JKN.
Buka analisis demand → SupplyAnalisis Supply (Sistem Kesehatan)
Apakah sistem memiliki tenaga onkologi, fasilitas radioterapi, obat esensial, dan pembiayaan untuk memberikan layanan kanker, ditelaah melalui enam pilar WHO dan skor AAQ.
Buka analisis supply →