Kesehatan Anak di Indonesia
Kesehatan anak (usia 0 sampai 17 tahun) adalah fondasi kesehatan seumur hidup. Beban penyakit anak terpusat pada kondisi awal kehidupan (berat lahir rendah, asfiksia, sepsis neonatal) dan infeksi yang dapat dicegah (infeksi saluran napas, pneumonia, diare), banyak di antaranya menjadi sasaran imunisasi serta pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).
Laporan ini menyajikan dua sisi yang saling melengkapi, berdasarkan Data Sampel BPJS Kesehatan 2015 sampai 2024. Sisi demand menelaah siapa yang terlayani, pola pemanfaatan layanan primer dan rujukan, serta beban biayanya dalam JKN. Sisi supply menelaah apakah sistem kesehatan memiliki tenaga, fasilitas, dan pembiayaan untuk melayani anak, dan seberapa timpang sebarannya antarwilayah. Angka populasi adalah proyeksi nasional tertimbang yang menggambarkan populasi anak yang dilayani JKN, bukan prevalensi sebenarnya pada seluruh anak.
Temuan utama
- Jumlah anak terlayani JKN tumbuh pesat sepanjang 2015 sampai 2024, dengan penurunan tajam saat pandemi 2020 sampai 2021 lalu pulih melampaui tingkat pra-pandemi; beban terkonsentrasi pada balita dan anak usia sekolah.
- Hampir seluruh anak terlayani melewati layanan primer (FKTP), menandakan fungsi gatekeeping berjalan; pengecualian penting adalah bayi di bawah satu tahun yang dominan masuk lewat rawat inap, mencerminkan perawatan neonatal dan perinatal di rumah sakit.
- Sekitar 13,9 persen rawat inap anak tergolong dapat dicegah (kondisi sensitif layanan primer), terutama diare/dehidrasi dan pneumonia, yang merupakan sasaran langsung MTBS, rehidrasi oral, dan imunisasi.
- Belanja rujukan anak sangat terkonsentrasi: 1 persen anak termahal menyerap sekitar 23,2 persen belanja dan 10 persen teratas sekitar 52,8 persen, dengan total sekitar Rp 81,2 triliun secara kumulatif 2015 sampai 2024; biaya per kapita tertinggi pada bayi.
- Tenaga inti anak relatif kuat dibanding banyak tema lain: 4.712 dokter spesialis anak (5,58 per 100.000 anak; 7,2 persen kabupaten/kota tanpa spesialis anak, Gini 0,71), ditopang 272.050 bidan klinis dan 19.400 perawat anak.
- Senjang terbesar bukan pada layanan anak umum yang sudah luas (91,4 persen rumah sakit menyediakan layanan kesehatan anak), melainkan pada kapasitas neonatal dan intensif yang langka serta terpusat (hanya 539 rumah sakit menyediakan neonatologi, 16,5 persen), dengan pola akses yang lebih rendah di Indonesia Timur.
Pilih analisis
Laporan ini tersedia dalam dua bagian. Pilih bagian yang ingin Anda baca.
Analisis Demand (Klaim JKN)
Siapa yang terlayani, titik kontak pertama dan rujukan, profil penyakit primer dan rawat inap, kondisi sensitif layanan primer (ACSC), konsentrasi biaya, dan ekuitas akses dalam klaim JKN.
Buka analisis demand → SupplyAnalisis Supply (Sistem Kesehatan)
Apakah sistem memiliki tenaga spesialis anak, fasilitas neonatal dan intensif (NICU/PICU), obat dan imunisasi, serta pembiayaan untuk melayani anak, ditelaah melalui enam pilar WHO dan skor AAQ.
Buka analisis supply →